Minggu, 25 Januari 2015

TAHU


Kuasa 
  Tak pernah terjadi ada tanpa bentuk, bahwa setiap kehadiran ada mengandaikan bentuknya. (atau bentukNya?). Tetapi di dalam bentuk ini ada isinya. (atau isiNya?). Cermin yang dibawa ke dalam jiwa menghasilkan teori cermin (Lacan), tapi cermin di dalam kitab samawi membuat dunia jadi tampak berputar: Kami tarik bayang-bayang, artinya: siang sudah ditunggu oleh malam harinya. (atau malam hariNya?). Terasa ia hadir terus karena kata-kataNya: tidakkah semua ada ini pantulan belaka dari wajahKU jua. Tetapi bayangan apa yang menggoda hati ini dari dalam puisi? dari dalam bahasa: sastra, bentuk-bentuk yang indah itu. 

   Adalah "tanda".

   Pohon kering pun kuasa menjadi bayang-bayang, tanda, tempat si aku dalam novel merenungi hidupnya lewat pohon kering yang kini telah (seolah) menjadi kaca. Kita mengalami betapa rapuh kata itu: ia mudah tergelincir ke sana ke mari, tapi pada saat yang sama betapa kuat ia mengikat setiap apa yang kita sebut ada ini.

  Terbata-bata diri mengumpulkan semua yang ada lagi, gemetar di tiap titik bertemu dan mengalami sebagai gerak paling halus dan samar. Di depan "pembeda" kita kini bercermin, mengalami bayang-bayang itu lewat tanda yang mewujud jadi bahasa.

   Tiadakah kau lihat Tuhanmu
Bagaimana Ia menghamparkan bayangan?
   Jika Ia menghendaki, niscaya
   (bayangan itu) tiada berkisar
   dari tempatnya.
Kemudian kami jadikan matahari
   sebagai penunjuk baginya.

Kemudian Kami tarik (bayangan) itu
   ke arah Kami dengan tarikan
         perlahan-lahan.

Ialah yang menjadikan malam sebagai
                sandang bagimu,
       Dan tidur untuk beristirahat.
Ia jadikan siang hari bangun berusaha.

0 komentar:

Posting Komentar