"Etimologi bukanlah jawaban"Bersandar dengan asal kata? Akar kata akan kembali ke pertanyaan yang tiada jawabnya: siapa yang mengajari manusia berbahasa. Pertanyaan ini dengan sendirinya membawa keniscayaan: siapa manusia pertama dan di mana ia? Seandainya saya tidak tahu bahasa Yunani, akan selamanya bahasa itu gelap bagi diri, sebab yang terang hanyalah bahasa Indonesia karena ia bahasa ibu, tempat kita dilahirkan. Kecuali kita mempelajarinya.
Ada lokusnya, ada kegelapan yang tak mungkin bisa ditembus tanpa suatu pengajaran. Ilmu pengetahuan menemui kegelapan di sini, tak bisa menunjukkan siapa manusia pertama di bumi dan bagaimana cara ia belajar bahasa. Ruang dan waktu kita pendek, tapi dari ruang dan waktu yang pendek itu, ada kemasukakalan, bahwa diri dilahirkan oleh orang tua, bahwa orang tua mempunyai orang tua, dan orang tuanya juga mempunyai orang tuanya lagi, terus sampai ke belakang sampai kita tidak tahu lagi. Yang kita tahu bahwa ada asal dan asal itu harus pasti, seperti pastinya diri kita sendiri, di mana dan oleh siapa kita itu lahir, yang mampu menjawab bahasa apa yang kita pakai kini dan mengapa kita bisa berbahasa itu.
Tidak ada lagi, kecuali yang tersisa adalah bahasa dari kitab-kitab samawi, yang begitu penuh jawaban pada setiap yang kini kita tanyakan. Bahwa kita itu dilahirkan dari Adam dan Hawa, dan bahwa DIa Pencipta yang mengajari kita pandai berbicara dan berbahasa.
Saya membaca sajak dan sajak ini sajak Rimbaud, atau sajak ini sajak Sutardji, atau bahasa ini milik Homer dan begitulah seterusnya: ada nama penyairnya, atau ada nama pujangganya. Bisa jadi pujangga ini bersembuni di balik istana, atau paling mungkin seperti cerita rakyat, si anu sepotong mengapungkan, si anu sepotong lagi mengapungkan sehingga terbinalah cerita rakyat yang kita kenali kini. Tapi toh si anu kedudukannya sama dengan pujangga yang sembunyi di balik dinding-dinding istana. Pasti mereka itu, bahasa ini, walau orangnya tak kelihatan, bukan dihasilkan oleh misalnya burung atau tanam-tanamkan. Harus ada manusianya, yang mungkin saja di waktu dan ruang yang telah terputus, berbekal bahasa seadanya tapi menyimpan daya bahasa di badannya, melakukan onomatopi dari alam ini.
Sekali lagi kita kembali: apakah mungkin ada model selain model ini? bahwa di luar pengajaran manusia kuasa berbahasa dan di luar kesinambungan tiba-tiba masing-masing kita meloncat dari planet antah berantah.
Sungguh jiwa bahasa saya tidak bisa dipuaskan bahwa penyair itu berasal dari poet dari Inggris atau poete dari Perancis - atau Jerman. Atau dari Yunani, atau mungkin dari Cina atau India - bahkan dari Sumeria. Pendek kata kebudayaan-kebudayaan tua dan sudah lama hidup di muka dunia ini. Saya juga tak puas bahwa ia berasal dari bahasa Arab asy-syuara. Sebab semua ini akan memasuki lingkaran dari etimologinya lagi: bahasa Arab adalah manusia dan manusia ini, walau terkurung di balik-balik padang pasir, toh mengalami perhubungan dengan orang-orang lain, dengan bangsa dan negeri lain, seperti bangsa Yunani itu, begitu kerap berjalan-jalan ke daerah timur. atau sebaliknya.
Apakah pikiran saya bisa dibantu oleh ini: kita ganti nama/kata penyair jadi nama/kata Musa (manusia). nah musa, dari mana datangnya musa dan siapa pencipta musa? maka kita kembali lagi mulur ke belakang, melingkar-lingkar dan akhirnya makin kabur sebelum terjerumus ke jurang kekaburan sempurna: sekali lagi, tak ada ilmu pengetahuan yang kuasa menjangkau pasti dan persis durasi waktu miliaran tahun ke belakang itu. Hanya gejala saja yang ada dan apakah bahasa bukan gejala? Bahasa langit adalah gejala dari suatu masa, tapi begitu memenuhi hasrat keinginan tahu kita.
Tanpa kitab kitab itu kita akan terus berada dalam kegelapan ala filsuf alam di zaman Yunani. Dari mana dunia ini? dari matahari. Dari bintang dan sebagainya. Gelap dan yang berkuasa adalah fantasi: dunia diatur dewa-dewa. Akhirnya yang tetap menyala adalah maha misteri yang memang tak mungkin bisa ditembus tanpa suatu pemberitahuan. Kitab-kitab itulah sebuah pengumuman. Kitab quran, kitab injil, kitab taurat dan kitab zabur. terus naik sampai ke risalah-risalah, sampai ke Adam. memang ajaib seperti roh di dalam badan kita ini: fantastik: bagaimana mungkin orang bisa meloncat dari surga dengan cara terjun bebas, jatuh ke bumi. (aih, kita telah mengandaikan surga itu di tempat yang tinggi, bukan di dalam dunia ini misalnya di benua sana sebelum mereka diceraikan oleh es dan sebagainya, dalam skala waktu jutaan tahun di belakang kita itu.)
"Perbudakan, Kebebasan, Ketakutan
*Nabi Musa
Dalam keadaan seperti itu kita membaca kitab suci, bahwa betapa pun absurd kenyataannya (serta pernyataannya), kita percaya bahwa ia bahasa yang datang dari langit untuk manusia, untuk alam semesta. Atau kita kadang-kadang ragu tapi maju terus melihat isinya begitu masuk di akal, suatu panduan menyeluruh yang pandangan-pandanganya dengan mudah bisa kita temukan pada pandangan-pandangan ilmu pengetahuan. Misalnya tentang perbudakan dan kebebasan, tentang betapa ia harus diperjuangkan dan kita yang dihinggapi ketakutan memperjuangkannya. Sebuah nama, identitas tentang kepenyairan, rupanya telah jauh melampaui ruang waktu yang dihentikan oleh asal kata, misalanya penyair atau para penyair, bahwa identitas ini tak bisa kita hentikan di suatu daerah karena kebetulan daerah itu awal mula tumbuhnya tradisi membuat sajak.
Karena ingin tahu bukan oleh yang lain, saya menjadikan kitab suci sebagai lampu untuk memandangi dunia termasuk, memandangi ilmu pengetahuan yang intinya adalah manusia berpikir, memikirkan apa saja tanpa suatu angan-angan lain kecuali berpikir. Seperti kini kita begitu memikirkan objek yang satu ini adalah puisi. Baru kita sadari mengapa puisi bukan prosa, mengapa puisi bukan cerpen atau novel misalnya, karena ia terhubung langsung dengan identitas itu - "penyair", yang di kitab ini disebut juga oleh H.B. Jassin "para penyair", dari kata "asy-syuara". tetapi para penyair ini menjadi para sastrawan, akhirnya bergerak menjadi para manusia, para alam semesta, dan, akhirnya, para ada alias ada itu sendiri, yang rupanya disebutNya para penyair.
Kemarin atau bulan-bulan terakhir ini kita telah menulis dengan nama "para penyair", "penyair", tapi belum mendapatkan posisi yang dapat menjadi tonggak bagi pemikiran fundamental yang kita inginkan. Kita telah mengambil ke sana ke mari, tapi kini kita mencoba bergerak dari "para penyair" itu sendiri dan mulai menemukan suatu pengelihatan baru, yang kita bayangkan lewat sebuah struktur kepemaknaan, bahwa kehadiran suatu puisi misalnya, atau kini, kehadiran suatu surat, seperti puisi itu, membawakan baris-barisnya, atau seperti surat kini, membawakan ayat-ayatnya. atau, ya, seperti ilmu pengetahuan di mana dirinya disebut sains karena berjalan di tubuh "surat dan ayat"-nya juga yakni konsep, teori, dan metode bagaimana konsep dan teori itu mampu menangani objek ilmu. Ada sistem di tiap kehadiran ada itu.
Bergerak di tubuh "para penyair", sebagai bahasa skriptural, kitab suci yang datang dari langit, ayunan tanda yang berkesinambungan, naik dari bawah ke atas, dari al quran ke alkitab, dari taurat ke zabur, tempat di mana rupanya, "penyair" sudah ada turun dari langit bukan dominasi negeri bangsa dari pandangan akar kata. Kita dapati "para penyair" hanya memuat beberapa saja kata "penyair" di belakang tubuhnya, sisanya, ia meregang dengan rentangan sepanjang 227 "syair".
Ia bentuk, permainan bahasa yang penuh makna, tempat Ia berlaku sebagai Penyair, bermain dengan bahasanya, meletakkan "penutup" ke "awal", membawa "awal" ke "akhir", menjadi "penutup", yang menyimpulkan. semua itu adalah tanda. tapi tanda yang begitu simbolik menceritakan wajah ada, termasuk wajah kita di dalamnya.
"kemerdekaan dan kebebasan : tanah airmata bahasa"
Apabila ilmu pengetahuan kelak datang melalui buku "kontrak sosial", membuat pasase indah tentang perbudakan dan manusia yang terantai sebagai budak oleh nasib, maka itulah pembukaan dari para penyair sebagai tanda: buku puisi maha besar ini tiba tiba menghadirkan manusia primordial di masa lalu: kisah musa dan firaun, sebagai tanda yang begitu kaya dan kekayaan tanda itu meresap ke pikiran pikiran mulia para ilmuwan (kenanglah: mengapa bukan "para ilmuwan" tapi "para penyair" yang Ia sematkan ke juru kata sebagai penerang dunia ini? ada massage halus dan teramat dalam di sini); sebuah tanda, dunia perlambangan yang menjadi tonggak akan ambiguitas hati lewat dua kata yakni kata iman dan kata ingkar, oposisi baik buruk, biner oposisi yang kita tolak seraya menyanjung lawannya, gerak jiwa kaya serta merdeka, yang menjadi pesan di awal surat para penyair ini.
Adalah adanya firaun sebagai lambang kekafiran dan adanya musa juru bicara kecahayaan. tapi di atas semua itu ada yang begitu manusiawi: musa yang gentar dan memanjatkan doa agar diberi kekuatan olehNya. inti di awal itu menunjuk ke kondisi yang begitu penuh airmata akan diri manusia yakni kita kita ini: perbudakan firaun atas kaumnya sendiri, perbudakan yang akan dibukakan selubungnya agar menjadi kemerdekaan, karena kebebasan itu berhubungan langsung dengan manusia yang hadir untuk menunaikan fungsinya mengolah tanda. tanda apa itu? lagi lagi begitu fundamental jawabnya: bumi tempat segenap harus ditumbuhkan, bukan oleh manusia yang terantai sebagai budak tapi oleh manusia yang merdeka dan penuh kebebasan mengelola "tanah airmata" di bumi ini.
"Awal itu rupanya mengatakan ideal puisi: bukan semata manusia pemikir yang bermenung tapi manusia gagah perkasa walau hati diliputi takut adalah (modelnya) seperti nabi musa". jadi puisi di sini begitu paripurna - ia mengatasi konsep pemikiran yang datang kemudian: mereduksi hakikat dirinya sendiri, dengan cara menyempit sebagai manusia yang bermenung gaya plato dan karena itu ia menolaknya (meletakkan para penyair ke tingkatan bawah saja dalam tata idealitas bahasanya).
Takaran
lihatlah para penyair begitu mulia mengajari para kritikus bekerja
"sempurnakanlah takarandan janganlah merugikan orangtimbanglah dengan timbanganyang benar dan jujur
janganlah merugikan orang"
Dengan sangat hati-hati kita kini bergerak, melihat persamaan di atas perbedaan yang kemudian menunjukkan awalnya lagi, persamaan. betapa miripnya kitab suci dengan kitab puisi, bahwa keduanya mengandung daya pesona, akan hal-hal yang kita tidak ketahui. oleh ini mereka memendamkan misteri, rahasia-rahasia tersamar yang diletakkan ke dalam bahasa, dan, inilah persamaannya.
Perbedaan mewujud dalam daya imajinasi serta metafora yang menjadi ikatan-ikatan pada kitab suci, tapi tidak pada puisi, atau pada puisi imajinasi dan metafor itu, bisa bekerja sejauh ada dunia objek-objek yang mereka pelajari lewat jalan metafor. Ke sinilah imajinasi: mengarahkan, mempersepsikan, apa yang sudah ada. Mereka tak kuasa membentuk apa yang belum ada, atau ada tapi di luar jangkauan kepengetahuan puisi. metafornya belum ada. sebaliknya metafor itu menghuni di setiap kujur tubuh imajinasi dalam kitab puisi yang maha besar ini.
Ia yang rupanya menciptakan jaringan di antara manusia, benda-benda, serta bahasa yang mengikat, menyambungkan keduanya. Ia yang rupanya menciptakan bahasa itu di mula awalnya, suatu imajinasi maha sempurna, tak terjangkau dengan para jenius paling jenius sekali pun, di tanah tradisional kita ini. tanah pikiran dan objek-objek. tanah bahasa, yang terus, melakukan persamaan dengan kitab suci, adalah tafsir. kita menafsirkan bagaimana menugal agar sawah jadi kenyataan: padi tumbuh di atasnya, menguning, di kirim orang desa yang matanya kosong dan hatinya hampa, tangan mereka putus asa, jiwa diletakkan pada tangan itu. Seperti sajak Taufiq Ismail, tangan anak anak kecil yang lugu, membawa bunga. "Untuk kakak yang mati pagi tadi", katanya. Tapi di sini, tangan kontong karena harapan telah hilang. Ini, untukmu, wahai orang orang di kota, padi padi persembahan kami untuk bekal kalian bersantap siang dan malam.
The Outside and the Inside
Sebuah masa menghilang ke dalam bahasa, bahasa menghilang ke dalam tulisan. Tulisan menghilang juga tapi muncul lagi ke permukaan kertas, pada sebuah buku. Kertas inilah tempat sebuah masa lalu yang menghilang ke dalam tulisan, tapi tulisan menghilang, sebelum muncul lagi ke permukaan kertas, tempat penanda itu ditanamkan, terbaring sebagai visual sampai ke mata kita, mata yang menghilang ke dalam jiwa.
Apakah masih ada permukaan penanda dan hamparan kertas di buku of grammatology ini? Mengapa semua menghilang, tenggelam, melampaui penandanya, menghilang, hidup di dalam jiwa. Derridanya telah tiada saat ia mengutip seorang dari suatu masa yang jauh, yang ia sandingkan dengan Saussure.
"Lets us recall the Aristotelian definition: 'spoken words are the symbols of mental experience and written words are the symbols of spoken words.' Saussure: 'Language and writing are two distinct systems of signs; the second exists for the sole purpose of representing the first'." Itulah sebuah "dunia dalam" bahasa, pikiran-pikiran indah dalam dunia tapi ke sini, adakah dahaga kita itu terpuasi?
Kita ingin tahu mengapa "dalam bahasa" serupa itu ada dan siapa yang menanamnya? Mekarnya dalam jaringan tempat dunia ada saling berkorelasi - kata, bahasa, itulah tuan manusia yang paling melata melayani tiap hasrat diri, diri filsuf, diri politikus, diri seniman, diri tukang-tukang sayur dengan punggung bungkuk karena beban, lambang ketegaran - atau kesengsaraan? - hidup manusia.
"Cogito aliiim, kita hanya memiliki seorang ibu cogito aliiim."
Aku akan menunggu Awan-Awan Bertemu
Alangkah nyatanya Albert Camus di suatu masa, tapi kini, ia di mana? Ia seolah kita dulu: tiada tapi kini kita ada. Ada di sini, sedang mengetik seperti adanya ilusi gambar di depan mata kita bersama ini: pengarang novel orang asing, berpose dengan anaknya. Atau bukan anaknya? Tapi begitu nyata kedua orang itu masih anak-anak, senyata Camus yang sudah dewasa. Semua itu kini tidak lagi ada yang nyata kecuali jejaknya.
Kalau suatu ketika terjadi hal yang fantastik dan buku-buku dibakar sehingga yang tertinggal mungkin dari puing-puing hanyalah tepian-tepian halaman, maka orang yang datang kemudian kehilangan jejak membaca alinea yang memukau ini. Siapa yang menuliskannya kata orang-orang di masa depan itu saling pandang. tak seorang pun yang datang memberi tahu, membawa pengumuman akan masa lalu, dalam hal ini masa lalu dari novel yang tinggal helai-helainya saja. Yakni suatu halaman sisa tentang "awan-awan bertemu."
"Aku kemudian sering berpikir, seandainya aku disuruh hidup di sebuah pohon kering, tanpa kesibukan lain selain memandang awan-awan di langit di atas kepalaku, sedikit demi sedikit aku akan terbiasa di situ. Aku akan menunggu burung-burung lewat atau awan-awan bertemu, seperti halnya di sini aku menunggu dasi-dasi aneh pembelaku, atau seperti di dunia lain, aku bersabar sampai hari Sabtu untuk meremas tubuh Marie. Padahal, kalau dipikirkan baik-baik, aku tidak berada dalam sebuah pohon kering. Ada yang lebih sengsara daripada aku. Lagi pula, itu merupakan gagasan ibu: ia sering mengulanginya, bahwa pada akhirnya kita terbiasa pada apa saja." (Dikutip dari novel Albert Camus, Orang Asing.)
Akar
The Teacher is God wahai abdul hadi dan albert (camus); fendi kachonk
Kurasakan gerak bahasa ini seolah-olah gerak akar itu: di kedalamannya, ia mengisap di sana sini dan ia mengembang ke sini. Demi menumbuhkan dirinya sebagai pokok yang kuat, ke pokok-pokok kuat yang lain. Atau kalau saya bergerak ke setengah langit, maka atas itu terhenti pada awan dan rupanya, atau ia juga, bukan hanya penyair abdul hadi yang mengharukan saat menggerakkan awan sebagai representasi kita manusia, pada puisinya yang, lagi-lagi a teeuw misreading karena menanyakan, ombak sebelumnya mana? suatu gerak oleh tata bahasa yang berhubungan dengan sebab. Tapi puisi adalah imajinasi: ia begitu kuasa, seolah akar, mendorong sebuah imaji melenting keluar sehingga mengatasi ilmu linguistik.
Tak perlu, oleh ini, bertanya mana ombak sebelumnya karena dua kata, ombak itulah, lah itu adalah gema dari ombak di pantai hati fendi kachong saat ia kanak: itulah ombak nyata yang begerak ke dalam puisi seperti kini, ombak yang berayun sedih di hati si religius albert camus yang begitu perih menggerakkan bahasa lewat aktivitas dari sebatang pohon kering, tempat nasibnya ia tambatkan d isana sebagai sebuah analogi. aku akan menunggu awan-awan bertemu, katanya seperti kata abdul hadi: pada awan kita bertahan, dari bumi yang mau menarik kita kembali. pada camus: pengadilan yang pasti membawa fatal itu: badan terpenggal oleh besi bernama yang akan dijatuhkan ke leher, atau leher yang akan diberi dasi aneh yang lain adalah: tiang gantungan.
Itulah buah dari akar baik-buruk yang lain: dunia yang tidak ia mengerti seperti kita juga, tak kunjung percaya lima letupan pistol itu mengantarnya ke pintu kesengsaraan. apa lagi? tapi di sana, climakus sang pendaki berkata seperti kita di sini juga berkata: the teacher is God wahai Abdul Hadi dan Albert (Camus). Kau faham, Fendi Kachonk?
Di ruang ini, itu terserahku, afrilia utami
Kudengarkan bahasa itu, yang membuat hatiku haru saat mengenangnya dalam perspektif suara abdul hadi serta camus yang meminjamkan hatinya untuk meursault. "Tidakkah kalian tahu Aku menghalau awan-awan agar mereka bertemu?" demi munumbuhkan bumi mati oleh awan kelak menjadi hujan. seperti pertemuan ibu bapa kita dulu itu: asam di gunung garam di lautan dan berjumpalah hudan serta camus, di sana, diana, di sini juga tempat kau di sana bersama camus dan aku di sini bersama diriku sendiri, menghayati betapa haru mendengarkan Tuhan berbicara kepada manusia. aku juga manusia jadi tuhan itu bercakap-cakap kepadaku juga. Jadi untukku juga kata kata itu: aku halau awan agar mereka jadi hujan dan aku tumbuhkan tanam-tanaman agar dimakan oleh hudan; camus: kau tahu? ah kau tak pernah tahu, albert.
(sayu merasakan ibu camus saat menyapa anaknya, rieux dengan nama kecilnya. albert, katanya, kita rawat tarrow di sini.)
tarrow mati di ranjang mereka.
Tapi ini kisah lain walau masih begitu terkait dengan gerak penafsiran dalam perspektif akar. begitu nyata camus itu, begitu nyata bahasanya. senyata bahasa awan abdul hadi yang begitu aku suka di bait pertamanya. tapi Dia? nyatakah dia dalam ketiadaanNya? kucari kau kucari kucari Kau entah di mana. (sajak sutardji cari). aku juga mencarinya seperti banyak orang mencarinya. teman kami kierkegaard juga mencarinya dan aku senang saat ia berkata dalam the journal: the teacher is God, katanya. tapi god begitu tak terjangkau. apa oleh ini akhirnya kita kembali ke dunia konkret lagi? dunia awan awan bertemu serta dunia pada awan kita bersandar.
pada awan kita bersandar
dari bumi yang mau menarik kita
kembali dan angin yang ingin
mematahkan
Apakah seperti ini sajak abdul hadi? aku kutip di luar ingatan dan kukira tidak seperti itu bentuknya. tapi untuk siapakah sajak itu? untuk pembaca, bukan? dan aku salah satu pembaca di antara pembaca yang ramai. jadi untukku juga dan aku teringat seorang penyair dari tasikmalaya yang berkata (di) hari kematian kita. di ruang ini, katanya, itu terserahku. akulah yang menarik diriku melalui jembatan dari kayu api hidupku sendiri. oh, afrilia utami, dikau yang belia sudah semampu itu berucap dalam puisi. kau tahu, itu tema tema para pujangga dunia, dalam kualitas dewa dewa kesenian, afrilia utami.
"Agung dalam dirinya sendiri"
Ta-Sin-Mim.
Mengapa God menguraikan (prosa), mengapa Ia menyimpan uraiannya (puisi), inilah yang kupikirkan dengan bahan bahasa dari sana sini, misal dua awan dari pengarang belahan dunia ini. di bayang-bayangi bahasa afrilia utami (di) hari kematian kita (af puisimu ini indah sekali, kataku. kata afrilia: itu setelah membaca novel kayu api, gu. aku diam saja dan terus kunikmati puisi yang nyaris tak percaya bisa lahir dari orang orang sastra maya, puisi indah sedalam itu), aku melihat mereka bekerja dalam suatu prinsip: prosa itu bergerak ke cerita dan akibatnya, dunia benda-benda ia perikan tanpa tanda. sedang puisi justru memerikan tanda pada setiap objek yang ia sentuh. Atau seperti bahasa langit itu, kadang begitu terang ucapannya seolah pengarang novel, tapi begitu rupa ia mengundurkan diri ke dalam tanda sehingga para penyair haruslah cemburu padaNya. Ialah yang maha penyair, maha pencipta, agung dalam setiap apa yang ia ciptakan.
2 Inilah ayat-ayat Kitab (Al-Quran)
Yang memberi penerangan
Apakah puisi dan apakah prosa?
Jadi prosa itu adalah penerangan. tapi ini: ta sin mim, sempurna adalah puisi. semua yang kita tulis telah dengan sendirinya, diletakkan pada tanda kurung karena kenyataannya, semua itu adalah tanda tanya yang justru membuat kita bergerak untuk menulis. sekali lagi begitu terang afrilia utami seterang fendi kachonk. atau abdul hadir senyata albert camus. tapi Dia? roh kita yang ajaib itu masih juga di bawah otoritas makna puisi sutardji kalau berhadapan padaNya. walau habislah sudah alif ba ta fendi dan afrilia, tak juga kami kuasa menjangkau diriMu, kata afrilia, dengan amat mengharukan: kami memanggilmu, Tuhanku yang sempurna.
Ayat-ayat yang memberi "penerangan", jelas seakan prosa yang menerangkan dirinya, tetapi "penerangan" itu bergerak kembali ke asalnya karena ia didahului oleh "Ta-Sin-MIm". Jadi, puisi. Jadi, puisi adalah prosa yang menyimpan dirinya, dan puisi ini menggelar prosa itu kembali manakala apa yang ia simpan mulai ia keluarkan lagi sebagai "penerangan" ( inilah ayat-ayat al alquran. yang memberi penerangan.) Kata bergerak melampaui dirinya sendiri - Muhammad bukan penyair, tak layak baginya bersyair. sebaliknya "ia berhikmah (surat yasin), bagian dari Ia yang memakaikan kata "penerangan" dengan bahasa: surat kami yang nyata. prosa lagi, sebelum awalnya kembali jadi puisi: yasin. atau kalau kita kembalikan ke mulanya maka bertemu lagi kita dengan prosa dalam bentuk yang sangat tegas: inilah kitab kami, tanpa suatu keraguan pun padanya (baqarah). prosa, terang benderang. sebelum prosa itu menggelar dirinya ia terlipat dalam alif lam mim, jadi puisi.
Puisi?
prosa?
Bukankah Ia sendiri sudah berkata: ini bukan kitab puisi dan tak layak bagi rasul bersyair? Adalah suatu kemungkinan lapisan bahwa kitab seolah diri: berlabirin dalam dirinya sendiri (ini tubuh luarku dan aku tahu; dan ini, tubuh dalamku aku separuh tahu: alat masa kini kuasa memosisikan di mana letak jantung: tapi, letak roh akan abadi seperti puisi: tak terjangkau oleh kepemahaman manusia). tafsir, dalam lapisan lapisan bahasanya yang berlipat lipat ke dalam makna dan lipatan terang adalah prosa: hukum kami jelas: tapi tiap hukum yang jelas itu akan selalu disudahi, misalnya: kalian boleh menghabisi nyawa yang telah menghabisi nyawa kalian. tapi, memafkan lebih jauh dari pada membalas. ikhlas tawwakal adalah pangkat yang paling mulia. tafsir, dari suatu penerangan yang bergerak ke arah puisi berat: ihklas, tawakal, sabar - dari wajahNya yang begitu rupa memperlihatkan sebongkah kesabaran manakala orang ingin meraihNya: ia mundur ke dalam dekat bernama: aku lebih dekat dari urat lehermu (suatu proklamasi prosa), tapi di mana? ia melipat lagi dirinya ke dalam kesempurnaan puisi: di mana? itulah: di mana? kita tak tahu karena katanya: aku hidup dalam hatimu yang kita tak tahu letak andai kita terus bergerak dalam fasilitas ilmu pengetahuan: ingin memastikan lewat tradisi dunia indera dari suatu yang telah mengatasi indra.
Saya seorang yang negatif, kata Afrizal buru-buru meraih belahan sisinya.
Terasa runtuh otak dan jiwa kita mana kala kita menghayati bagaimana pra kehidupan itu dimulai lewat permainan bahasa dengan spasi bergaya derrida yang demikian sempurna: ia bukan semata permainan, ruang di mana bahasa ditempati oleh kata yang mungkin terasa kosong dari kemungkinan makna produktif selain pengisi rasa sunyi mereka yang suka filsafat, di ruang filsafat bahasa mutakhir masa kini - tapi permainan bahasa yang memiliki daya menjadi nyata. adalah realitas turunnya adam dan hawa dari surga setelah diberi sentuhan bahasa sin qua non: jangan kau dekati pohon ini; berdiamlah di surga ini. akan kuturunkan manusia itu ke dunia. dua hal yang berkontradiksi satu sama lain - kalau culler mengutip seorang pendeta di bukunya bahwa puisi adalah bahasa paradoks, maka kita sedang menemui bahasa paradoks yang paling primordial lewat permainan bahasa bagaimana cara manusia itu menjadi khalifah di bumi ini. adam turun dan maaf telah diberikan, tapi mengiang ultimatum itu:
Turunlah, kelak kalian akan berbelah dua: belahan buruk dan belahan baik.
Kita belum hadir, tapi puisi dalam bentuk prosa telah begitu awal dihadirkan lewat tubuh nenek moyang kita itu. spasi, kata derrida, permainan penundaan akan suatu kemungkinan makna dari serangkaian penanda. itulah dia spasi bergaya surga. kita ragu? itulah dia bongkahan pikiran seluas dunia: bila tak kita raih ia, kegelapan sempurna akan melata di setiap kujur dunia ini, gaya filsafat alam yunani dulu: jangan jangan pencipta dunia ini adalah air. hanya kitab itu ruang sisa untuk kita. pikiran pelan pelan menepi, untuk kehadiran iman, kepercayaan bahwa betapa pun absurd dan fantastiknya realitas beyond realitas ini, hati yang imanlah lagi yang masih jadi milik diri. kita maju di sini, di batas tak sudah sudahnya kaget, tapi mesti percaya.
Jangan bawa bawa langit kalau bermain bahasa, suatu pikiran yang menganakronistik dirinya sendiri: apakah langit bukan bahasa? mengapa karl marx boleh meramal dan gagal total, langit tak boleh meramal dan setiap hipotesanya jadi kenyataan tunggal dengan tafsir sebagai gandanya tiap manusia yang melihat bahasa. adakah ruang, dari tiap ada menghindar dari hipotesanya itu? turunlah, kalian kelak berbuah dua: buruk belahan dan baik belahan. saya seorang yang negatif, kata afrizal buru buru meraih belahan sisinya.
Akar
9 Januari 2015 pukul 14:09
Suatu sentuhan dari kiri kita hayati sebagai buah dariNya juga lewat pengelihatan yang sudah kita alurkan ke tempat paling primordial dari kesetiapan ada ini. bahasa itu yang membimbing kita atau kalau memakaikan ungkapan yang dipakai kierkegaard dalam "fhilosophical fragments", The Teacher is God, dan Guru ini datang pada kita lewat "bahasa" adalah kitab-kitab samawi. adalah penyair, di antara kita manusia yang berbahasa, begitu rupa memakaikan kata seolah ia hendak mengimplementasikan setiap juntaian ayat terang setelah semisal alif lam mim diayunkan. Kata dibawa begitu rupa sebagai tanda, menjauh dari kata yang diintensifkan sebagai properti pembuat cerita pada novel misalnya.
Sebaliknya pada puisi, tanda yang menjadi orientasi kata. kita mengalami tanda dan cerita mengambang di sela selanya sebagai daerah imaji yang kita imajinasikan. sebab puisi tidak menceritakannya. tapi prosa menceritakannya. novel camus itu, bercerita tentang buahNya yang datang dari kiri, seperti buah dari kanan yang menjadi hiasan tanda pada dunia puisi abdul hadi. Dan seperti telah kita katakan: kedua pengarang dunia ini bertemu pada awan sebagai daerah langit, setidaknya daerah yang menjauh dari bumi seperti yang dikerjakan oleh sebuah cerita afrilia utami itu: "berumah di halimun dunia", seolah-olah hendak ke balik awan adalah langit, sebelum semangat itu rupanya berada di bumi juga dari setiap kata yang dipakai sebagai hasil kombinasi.
Apakah yang disadari oleh albert camus dan abdul hadi saat memakaikan kata awan pada karya ciptaan mereka?
Di remang angin senja kita kini memikirkan, akan sifat dan kehakikian awan yang adalah poros hujan, berpikir apakah albert camus atau abdul hadi, saat mengerahkan diri mereka ke bahasa sastra (puisi tergantung pada angin) dan albert camus, novel orang asing; apakah mereka dengan sadar berwacana diam-diam akan sifat "awan" yang dihalau oleh Tuhan agar menjadi hujan untuk menumbuhkan bumi yang mati. Awan dan angin lalu jadi tentara Tuhan dalam dunia ini. Untuk apa? bukan untuk demi suatu keindahan alam raya dalam hal ini hiasan cakrawala. tapi untuk kita manusia di bawah awan ini, agar kehidupan dapat terus berlangsung karena tangan Tuhan yang tak kelihatan menghalau awan.
Apakah bukan puisi yang kita rindukan, kata-kata, bahwa, "Kamilah menghalau awan agar jadi hujan di hidupmu." Kita berpikir ke sini, ke sebelum puisi kedua yang indah-indah dibuat oleh orang bumi, bahwa Dia yang Tiada itu telah menjadi maha penyair, maha bahasa, maha keindahan dengan segala sifat kata yang menjadi penanda bagi JamalNya. betapa imajinatif dan metaforiknya, kamilah yang menghalau awan di cakrawala untuk kehidupanmu. kita diajarkan berimajinasi, alangkah indah tangan yang tak kelihatan itu lewat sebuah kontras: kekuasaan menghalau kaum demonstran dengan pentungan, oto water kanon dan tameng pada seluruh tubuh. belum juga kaum demonstran yang bernyali itu ikut.
Tapi ini awan, lebih halus dari badan manusia, kuasa dihalau seolah sapi pulang ke kandang oleh si pengembala sapi. sapi pulang ke kandang dengan tertib, untuk beristirahat di kandangnya. awan yang dihalau untuk bekerja: mereka mengumpul, lalu jadi hujan yang turun ke bumi. hujanlah rahmat seperti bahasa adalah hikmat (hikmah, kata salah satu kata di surat yasin di awalnya.) al quran ini hikmah. bahasa puisi yang baik baik ini juga, turunan dari hikmah. diciptakan untuk kita manusia sebagai makanan rohani agar makanan fisiki di tubuh ini seimbang.
Soalnya lagi-lagi: Dia itu bukanlah manusia seperti Abdul Hadi atau Albert Camus, yang ada dan memang ada (albert camus pernah ada, tapi kini ia telah kembali ke awalnya lagi: tiada). Ia menjadi soal karena bagaimana mungkin kitab suci itu bisa dilahirkan? Tetapi ini karena tradisi kita yang material: kata itu adalah nama bagi sesuatu. bahasa ini agar kita bisa tersambung kepada sesuatu. relasi yang saling menghidupkan. Tapi lihatlah, selalu ada objeknya terlebih dahulu. sedang Dia mencipta, seperti disimulasikan oleh Satre dalam being and nothingness saat "menghilangkan pierre": pierre menunggu di sebuah kafe, mengalami kehadiran ketiadaan. tapi ada kafenya, ada kawan pierre yang, walau tak muncul, adanya ada di tempat lain. Sedang yang kita hadapi ini, adalah kesempurnaan Tiada yang memang Ada dalam Ketiadaannya. betapa memesona dan sekaligus, memabukkan ketiadaan yang sedang kita hadapi ini. Pikiran berhenti, iman pun mulai karena darimana pun kita hendak menjangkaunya selagi masih mengorientasikan pada bukti fisik ada, selama itu pula kita takkan bertemu denganNya.
Mabuk ringan oleh pukau yang begitu menakjubkan: segala yang ada ini awalnya tiada, bahkan Dia sendiri akan selamanya abadi sebagai tiada, kita kini beralih ke ada yang konkret, karena tak kuasa juga kita selamanya ada dalam kekaburan yang tak berperi semacam itu. Maka kita kembali ke abdul hadi dan albert camus lagi. mengapa albert camus, harus disandingkan dengan abdul hadi? adakah alasannya? bahwa mereka berdua berucap pikiran yang sempurna dibalut oleh perasaan, memang begitu adanya. tapi kita hendak membuat kontras dari buah dari sisi ganda ultimatumnya saat adam dan hawa turun ke dunia. buah yang datang dan tumbuh dari kanan, bersama buah yang datang dan kembang dari arah kiri. tapi toh mereka adalah buah nyata dari hipotesa sin qua non itu: ada di bumi sebagai kenyataan yang memainkan diri dalam irama oposisi biner, begitu tampak di awalnya, sebelum tafsir bekerja dan kita mulai menghitung semuanya lewat lapisan lapisan dari tiap ia yang mungkin.
Tergantung Pada Langit
*betapa
Kalau novel itu adalah cerita, maka cerita dalam novel atau cerita itu, telah diisap oleh puisi dan kita bisa melihatnya lewat imajinasi, bahwa di balik kata kata penyair abdul hadi, ada jejak kemanusiaan yang kita bayangkan, lewat penanda-penanda yang ia mainkan. tergantung pada angin itu, bisa kita letakkan dalam lima letusan pistol yang ditembakkan oleh meursault ke tubuh arab lawannya. tubuh itu telah jatuh lewat letusan yang pertama, tapi mengapa empat letusan lagi dilesakkannya ke tubuh yang jatuh? jawabnya, tergantung pada angin alias tergantung pada nasib, bahwa begitulah nasib si aku dalam novel orang asing itu. nasib dirinya yang absurd, aneh, berlaku tidak sebagaimana kebanyakan orang. apakah ia membuat perangai itu? kukira kita harus meletakkannya pada genetik tubuh dan jiwa si aku. tapi siapakah si aku ini kalau bukan ia adalah roh albert camus yang menuliskannya? ia kini adalah imaji, novel, tapi sebelumnya, imaji atau novel ini ada dalam kepala sang novelisnya. jadi tergantung pada angin, khususnya kata angin, itu suatu cerita dengan arahnya, di antaranya, gerak gerik manusia di dalam dunia. sungguh saya bertanya-tanya, gerak hati yang oleh Ia sendiri yang memberi hati gemar bertanya-tanya, kata yang Ia ciptakan sendiri, yang begitu ajaib untuk kita pikirkan, pertanyaannya, adalah: apakah bahasa ciptaan itu belum dimuatkan di dalam kitab lauh mahfuz? atau kitab itu hanya memuat realitas pertama yakni manusianya, tapi tidak ciptaannya. bahasa adalah ciptaan, dan dalam hal ini, ciptaan dalam bentuk novel serta puisi. nah kedua ciptaan ini, novel dan puisi, apakah juga telah dimuat di dalam kitab ganjil itu?
Sebenarnya, ada yang memang halus di sini, bahwa kita manusia itu demikian nyata, ia kenyataan yang tak terbantahkan, sebuah realitas. tetapi pikiran itu tidak nyata, ia di "dalam", sebelum apa yang di dalam, halus, tidak nyata, itu mengambil bentuknya serupa Ia-Yang-Batin mengambil wujudnya juga jadi Ia-Yang-Zhahir (al hadid). jadi ada dua kenyataan dalam hal ini, kenyataan yang tampak dan kenyataan yang tidak tampak. tapi akhirnya yang tidak tampak jadi tampak. sehingga kenyataan yang batin itu kini jadi kenyataan yang fisik, yang lahir. ia jadi tahu, ia jadi ada. apakah ada dan tahu ini di luar kepengetahuanNya yang merekam segalanya di kitab lauh mahfuz itu? kukira ia merekam segalanya, karena sepanjang yang Ia beberkan sendiri, kitab itu memuat awal hingga akhir dunia, memuat kejadian bahkan sebelum kejadiannya itu ada, termasuk memuat kata "angin" yang dipakai abdul hadi dan serangkai kalimat tempat albert camus memikirkan, dan akhirnya menuliskan, agar si aku menembakkan empat tembakannya lagi, tembakan yang seperti ketukan dan empat ketukan yang mengantarkan aku ke pintu kesengsaraan, kata novel itu. indah sekali bahasa albert camus itu. ia mewakili segenap penderitaan orang di bumi, bahwa setiap mereka yang sengsara, mendapat obat yang keluar dari dalam bahasa, dalam hal ini bahasa novel.
Akar
10 Januari 2015 pukul 6:56
Aku panas dalam apimu"matahari yang ingin mematahkan"
"Betapa patuh hati bahasa penyair abdul hadi pada Tuhannya membuat kita jadi haru, wajah penuh airmatamengenang albert camus
Tetapi puisi adalah paradoks, sedang novel tidak kecuali bagian-bagian dari novel, seperti kisah lima tembakan pistol, itu tampak begitu menyerupai puisi yang mengisap keseluruhan tubuh ceritanya kembali. Ia serupa "penerangan" yang diisap kembali oleh "ta-sin-mim". sementara itu, "angin" pada puisi "tergantung pada angin", segera menemui awan-nya dan kita ingat kembali kata-kataNya "tidakkah kamu tahu Aku yang menghalau awan sehingga mereka menggumpal", lewat gerak "angin" yang kini digerakkan juga oleh penyair abdul hadi ke arah lain, arah dari berlapis lapisnya kata kata: kami mengerahkan angin menghalau awan agar ia jadi hujan. dan hujan itu adalah, hujan bahasa puisi pada abdul hadi, atau hujan bahasa novel pada orang asing albert camus.
Betapa indah puisi abdul hadi ini, saat ia menjenguk ke cakrawala dan membawa dirinya memetik "Awan Tuhan" itu dan menyematkannya dengan sepenuh kata iman pada bentukan "awan-nasib-berupa-hujan-untuk-kita-manusia-ke-dalam: pada awan kita bertahan. jadi pada nasib kita bertahan. atau diungkapkan dengan lain perkataan: pada Tuhan kita bertahan di dalam nasibNya ini. itulah kata iman yang keliwat patuh pada tuhannya.
Jadi abdul hadi atau aku lirik yang diminta oleh penyair agar mewakili dirinya mengucapkan, bahwa ia bergantung pada tuhan dari, "bumi yang mau menarik
Kita kembali", dan kita terkenang kata kata al ghazali dalam kitab Ihya: kau tahu? bumi itu dunia ialah serupa gigi gigi anjing.
olehnya kita harus semuanya ikut ke dalam barisan penyair abdul hadi: naik ke langit serupa baris cerita afrilia utami berumah di halimun dunia, serupa baris abdul hadi, bertahan pada awan, lewat gerak menghalau awan bahasa ini. tapi, lihat paradoks itu muncul kembali menunggu kita, oleh gerakan si penyair: dan matahari yang ingin mematahkan.
Tapi kata afrilia utami: "aku memanggilmu Tuhanku yang sempurna".
Ia mengucapkan dari jalur cerita pendek seperti kelak, albert camus mengucapkannya dari jalur orang asing sebagai sebuah novel. matahari itu ingin mematahkan, kata abdul hadi, dan si aku tokoh novel orang asing, memang menunjuk matahari penyebab lima letusan pistol yang ditarik oleh jarinya. lima ketukan kesengsaraan yang disebabkan oleh,
"matahari yang ingin mematahkan".
betapa indah abdul hadi itu. bahasanya penuh kata iman yang membuat airmata kita basah. "bertahan"
*aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna *ngateeek nangkeee kerbai jadi laaaaa*aku ke rumahmu, ke kamarmu, kamu tak ada di situ
Andai kita melepaskan satu kata dari dalam sajak, mengambil "bertahan" dan meletakkan segalanya ke dalam bentukan "tanda" seperti kataNya di kitabnya itu, "tidakkah kau lihat segalanya ini adalah tanda kehadiran diriKu?", maka "bertahan" sebagai sebuah kata yang dipakai penyair dalam bentuk: pada awan kita bertahan, tiba tiba meluas mengatasi dirinya sebagai sebuah kata yang hanya terpasang, hanya milik, puisi penyair abdul hadi. tapi tanda membuat ia keluar dari dalam puisi, terbuka ke segala arah dari tiap arah yang ingin, menumpang ke dalam kata "bertahan". Andai lajur pemikiran tanda seperti ini, oleh sifat tanda juga, bisa diterima sebagai jalan bahasa, maka setiap bahasa, segera menyemplung ke dalam kata "bertahan", yang kini bukan semata milik, atau duduk, dengan sangat indah sebagai lambang nasib manusia pada tergantung pada angin.
Dan, "ta sin mim", itu keluar darinya, bergerak ke ayat kedua adalah "kitab ini sebagai penerangan" bagi dunia, bagi hidup, bagi apa saja sebagai ada dalam dunia termasuk adanya realitas pengarang dulu dan pengarang masa kini - untuk mengambil contoh paling mutakhir, pengarang afrilia utami dari jalur sastra maya, dan pengarang pemenang nobel albert camus dari jalur sastra dunia.
Aneh?
Apakah yang aneh kalau pada kenyataannya kedua orang itu, memang ada dan memang hadir dalam dunia (albert camus sempat ada, tapi kini ia telah ada dalam paripurna: tiada, adanya di ketiadaan persis pierre yang menumbuhkan nothingness pada dirinya sendiri: ada kesanggupan manusia itu rupanya bermain kuasiNya dengan jalan menghilangkan yang ada, menjadi tiada walau sangatlah terbatas: tangan penyair bukan tangan penyihir: afrilia utami tak mampu memindahkan dunia yang ia alami, sempurna berdiam di, berumah di halimun dunia, tempat ia bertahan seperti albert camus meminta meursault membayangkan pohon kering, tempat ia sebagai sebuah imajinasi, juga bertahan, di pohon kering yang ia bayangkan.
Ada seorang aku lirik yang mengalami ketiadaan juga, saat sebuah puisi fendi kachonk mencari ke dalam kamar di sebuah rumah, si aku berucap amat mengharukan: aku ke rumahmu, masuk ke kamarmu, tapi kamu tiada. ia ini juga bertahan dengan cara, bahasa puisi sebagai ruang bagi betapa menekannya ia yang tak hadir itu: permainan presence to absence, mulai dari dalam bahasa, dengan cikal bakal hidup nyata manusia juga. bertahan, kita manusia, dari gempuran hidup yang dikerahkan oleh abdul hadi, bergerak dari nasib ke angin, dengan isian harapan adalah awan, bergayut di awan yang kalau kalau, kata lagu daerah itu, tak jadi hujan lebat jadi rintik lumayanlah.
Ngateeek nangkeeee, Tuhanku, kerbai jadi laaaa.
Ang Jasman
Kupu-Kupu
*terbuat dari apa badan kupu kupu yang cantik itu"*terbuat dari apa bahasa yang penuh keindahan ini?
"tiba-tiba tubuhku terlontar dengan sayap mengepak
menerbangkan diriku yang terpana takjub.aku mengapung. seribu warna-warni bunga riuh mengundangkumenyuguhkan seribu putik mengandung madu mempertemukan dengan sesamaku dan saling mencintaioh, semesta, terima kasih untuk hariku."
Itulah sebuah puisi yang baru kita temukan di sebuah fb, secara tak sengaja, dan kita melihat seorang kawan lama memindahkan dirinya, dia lelaki seperti kita juga atau, dia manusia seperti kita juga tapi kini, bergerak - bertahankan ia saat melontarkan diri ke dalam bahasa dengan cara, mengasingkan badan jadi mungil yang indah adalah kupu-kupu. kupu kupu ang jasman yang indah, dari suatu mahluk mungil yang berjuang, bertahan demi cita cita mulai untuk pandangan mata manusia: ia yang cantik mengepak ngepak di udara seperti para penyair: mereka yang memiliki hikmah dan mulai mengubah hidup nyata ke dalam kenyataan lain, hidupnya realitas kebahasaan dalam medium yang terpilih adalah puisi dan novel, atau cerpen pada afrilia utami itu, cerita yang sepanjang milik sapardi djoko damono juga, saksi, tak lebih dari enam alinea tapi begitu indah seolah keindahan kupu-kupu ang jasman, yang lembut mengepak ngepak di udara; sungguh tak ubah seolah para seniman kata: mengepak ngepakkan diri ke dalam, di dalam bahasa.
" perguliran 'matahari yang ingin mematahkan' "
*patahkah kupu-kupu oleh matahari?*
af? gu? mu kali ya. kita. kami. manusia.
Kosakata tumbuh dalam bahasa puisi, lewat tubuh vokabuleri yang seolah tangga, tak mungkin kita lampaui apa bila tak ingin kena kutuk: berlaku tak adil pada tangga yang tak kita injak demi tubuh naik ke atas. penyair merawat bahasanya lewat organisme betapa hidup kata tak boleh terlalu jauh dari hidup induk awalnya. awalnya adalah nasib dan nasib ini telah diserahkan pada representasinya, ialah "angin", yang niscaya membawakan "awan" pada dirinya. awan meniscayakan pula matahari karena apakah jadinya bumi tanpa turunan itu: matahari langit mengapung jadi awan, yang kelah kena sentuh predikat lewat (kata) hujan, langit ke bumi dan di bulatan kue donatnya diletakkan nasib sebagai sebuah permainan dalam bahasa puisi penyair.
Tapi kini, "matahari yang ingin mematahkan" kita cobakan seolah kata "bertahan" itu, kita keluarkan dari kotak puisi agar ia sampai di kotak novel dan cerpen, untuk kita kembalikan ke kotak awalnya lagi adalah puisi. lihat, dua tokoh aku, aku meuersault dan aku prosaik yang tanpa nama pada cerita berumah di halimun dunia (namanya siapa aku ini, af? gu? mu kali ya, dari kamu atau kita yang mengalami hidup nyata dan kini tengah memindahkan diri ke dalam hidup bahasa. representasi, sebuah wakil diri, bahasa itu atau cerita ini. pohon itu atau halimun ini.
Meretas perbandingan sastra, jarak di antara para pengarang
*ngateeek kubeees ibung nangke jadi laaaaa
*cara bertahan lewat ironi layu
Melihat, menyimak, perbandingan perbandingan di masa lalu, wisdom wisdom di masa lampau, dari pengarang yang kita tidak tahu namanya. kukira kubis itu karena ia putih, mulus, maka diserupakan gadis yang ingin dicari si aku. tapi bila tak ada gadis nangke jadi laaa - bila tak ada kubees jadi la nangkeee, katanya. dan nangka adalah buah bergetah. orang makan nangka kita kena getahnya. kukira ini yang diinginkan oleh lagu ibung ibung itu. tapi kerbai. apakakah kerbai? aku belum mau melihat kamus, masih mencobakan kenikmatan dari misteri kata, mengecap keindahan, betapa keindahan itu sama saja walau ia disampaikan oleh medium berbeda, pun, disampaikan oleh orang dusun atau orang kota. orang negeri maju atau orang negeri baru tumbuh seperti kita ini. tidakkah: di mataNya semua kita ini sama saja, atas mana klaim perbandingan sastra itu harus kita retas.
Ngateeeek nangkeeee kerbai jadi laaaaa
Betapa aku mengerti tekanan dari jadi laaaa - ia putus asa, ia kehilangan harapan, tapi dari tidak sama sekali, jadilah yang ada dan jadi laaaa, tiba tiba menggemakan hidup modern bersama kita ini juga. itulah dilema manusia rasional, yang hendak dipunahkan dengan jalan, pengarang telah mati, logos telah kita campakkan. segala langit hendak dibuang oleh orang orang itu. sampai diri tak punya dasar lagi, tenggelam ke dalam jurang kehampaan padahal nining nining kita dulu, yang mungkin mengarang ibung ibung, tahu cara bertahan dalam keadaan paling tersudut pun, lewat ironi layu itu: ngateeeek nangke kerbai jadi laaaa. tak ada kayu rotan pun jadi ibung ibung.
Akar
10 Januari 2015 pukul 11:48
"aku ke rumahmu. aku ke kamarmu. tapi kamu tidak ada di situ."
fendi kachonk dalam salah satu puisinya yang amat indah.
Albert Camus, Afrilia Utami, Abdul Hadi
*matahari yang ingin mematahkan
"Aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna. Mengitari ruang yang dipaksa menghadapi sunyi sendirian. Dan kilau hati masih memberi cinta pada usianya. Dekapan-Mu ini dekapanku pada diri dari-Mu. Lelapkan aku. Lelapkan segala sakit dan perih di dalam tubuh. Sebab aku damai dengan-Mu." (Dikutip dari cerita afrilia utami di fbnya: "rumah di atas halimun dunia".)
"Aku kemudian sering berpikir, seandainya aku disuruh hidup di sebuah pohon kering, tanpa kesibukan lain selain memandang awan-awan di langit di atas kepalaku, sedikit demi sedikit aku akan terbiasa di situ. Aku akan menunggu burung-burung lewat atau awan-awan bertemu, seperti halnya di sini aku menunggu dasi-dasi aneh pembelaku, atau seperti di dunia lain, aku bersabar sampai hari Sabtu untuk meremas tubuh Marie. Padahal, kalau dipikirkan baik-baik, aku tidak berada dalam sebuah pohon kering. Ada yang lebih sengsara daripada aku. Lagi pula, itu merupakan gagasan ibu: ia sering mengulanginya, bahwa pada akhirnya kita terbiasa pada apa saja." (Dikutip dari novel
Albert Camus, Orang Asing.)
"Rindu, devaluasi raning"
The end of the book and the beginning of writing
Di fbnya Raning menulis sebuah cerita dengan bahasa yang ia letakkan ke dalam tanda kurung. Saya turunkan separuh apa yang dikurung oleh raning.
(Sehelai daun Jati jatuh di pangkuan. Entah dari mana angin membawanya. Di sini tidak ada Jati. Sepanjang mata memandang hanya hamparan pasir, laut, karang, camar, dan nyiur. ..)
Rindu? Ya rindu itu yang kita sisihkan dari separuh cerita raning, karena kita yakin rindu itu yang justru harus hidup, imanen dalam bahasa tanpa ia harus mengatakannya, meletakkan kata "rindu", ke bahasa, terasa seperti apa yang disebut oleh Derrida di of grammatology itu: devaluasi, kata yang ia letakkan di tulisannya, The end of the book and the beginning of writing, yang kita pakai secara terbatas, pada batasnya adalah "rindu" sebagai kata yang telah mengalami penurunan nilai dari isinya saat diletakkan ke dalam, "sehelai daun jati jatuh di pangkuan...", kalimat yang begitu simbolik dan terasa indah merasakan getaran-getarannya.
Kita cobakan dalam bentukannya yang baru.
(Sehelai daun Jati jatuh di pangkuan. Entah dari mana angin membawanya. Di sini tidak ada Jati. Sepanjang mata memandang hanya hamparan pasir, laut, karang, camar, dan nyiur.
Huruf-huruf berkilau di kujur daun, uarkan aroma manis harapan, asin penantian, anyir kesepian. Kupandangi daun jati hatiku.)
Jadi bahasa-bahasa itu seperti daun jati hati manusia juga. Kini kita bergerak ke daun jati, dari hati bahasa yang lain. Mengamati gerakan-gerakan kata di dalam cerita albert camus dan afrilia utami.
Mereka ingin melarikan diri, albert camus ke sebatang pohon kering - yang ia imajinasikan, afrilia utami membangun sebuah rumah - rumah di halimun dunia, katanya.
Kita ingat lagi kata-kataNya itu: selembar daun jatuh Aku pun tahu. seorang pengarang telah menjatuhkan daun jati, entah dari mana, katanya, tahu tahu telah di pangkuannya. ke sanalah, ke daun jati itu, kesunyian aku dalam ceritanya dialihkannya. jatuh ke pangkuan. Kata memang jatuh dari hati manusia, sebuah lingkaran dari benda jatuh ke kata, dan kini kita melihat kata itu bergerak menjadi cerita. Terbalikkah gerakan afrilia utami ini dengan albert camus?
Ada yang terasa abadi di cerita afrilia, saat si aku memanggil. aku memanggilmu, tuhanku yang sempurna. itulah buah dari kata iman. tapi apakah kata ingkar yang sedang digerakkan oleh camus lewat gerakan melepaskan diri, dengan jalan memandangi langit. aku akan melihat ke langit sebab tahu di sana ada awan awan akan bertemu. persis seperti gerakan afrilia: ia eskape, dan langit juga yag menjadi arah, dari orang bumi, manakala hidup di bumi telah begitu sesaknya. ada matahari di langit itu, dilagukan penyair dalam puisinya.
katanya, matahari yang ingin mematahkan.
mematahkan apa? kita bergerak ke prosa lebih dahulu.
"juga" di awal "rumah di halimun dunia" afrilia itu mirip "lah" dalam bentukan puisi abdul hadi, yang di"tolak" oleh teeuw: mana ombak sebelumnya karena memang linguistik mengharuskan begitu: "juga" itu juga: mana ketukan sebelumnya? "aku juga mengetuk dan mencari sepertimu." tahu-tahu cerita sudah dimulai tapi kita tidak menolaknya, karena otoritas imajinasi, sebuah pantulan dari gema dunia luar yang memungkinkan, "lah" atau "juga" tiba tiba bergerak ke dalam, merobek jala linguistik. Ketukan itu telah lama dimulai orang, jauh sebelum bahasa diciptakan, di luar, tapi di dalam, pra bahasa adalah pikiran, saat orang penyair atau orang sastrawan bermenung menung gaya chairil membentukkan dunia luar ke dalam bahasa, ciptaan belum terjadi tapi di sinilah letak "lah" dan "juga", diketukkan manusia ke dalam jiwanya, siap untuk dibawa masuk ke dalam bahasa, ke cerita.
Menikmati bahasa terpenggal, khususnya bahasa novel orang asing, telah secara tidak sadar adalah buah dari permainan di mana "penerangan" itu kembali lagi, terlipat dalam "ta sin mim". kita jadi asing pada apa saja karena, kisah dari musa dengan firaun, ada di dalam ta sin mim dan ia belum menguraikan dirinya. ta sin mim bahkan bergerak mundur, ke kitab induknya lagi adalah lauh mahfuz.
Itulah suatu perbandingan tempat kita mengisap orang asing, kita kembalikan ke induknya lagi: ia, totalitas novel, jadi seolah rahasia sama yang takkan terbuka oleh terkunci rapat di dalam lauh mahfuznya - tapi bocor sedikit lewat kilas dari jejak tiap kata yang mundur lagi ke belakang, mengisahkan mengapa si aku harus membayangkan hidup di pohon kering. ada yang hendak kita uji di sini, adalah tesis bahwa bahasa sastra, itu adalah pikiran yang diliputi oleh perasaan. pengarang berpikir dan perasaan ikut: soal seni lalu, bagaimana memindahkan ke dalam bentuk, organisme, di antara pikiran yang dibaluri oleh perasaan, dan kalimat juga yang menjadi jejaknya pada novel atau baris sajak pada puisi. ini yang hendak kita lihat dengan membandingkan gaya afrilia dan gaya albert camus. lewat bayang bayang kata bertahan dalam bentukan ia yang naik ke awan pada puisi abdul hadi.
Kalau puisi mengejar musik, irama kata, ujung huruf bertemu ujung huruf sehingga tercipta aliran dari gelombang kata, menimbulkan bunyi dan rasa bahasa indah di hati, maka dapat dengan cepat kita mengatakan, bahwa novel orang asing itu adalah puisi, seperti puisi juga bentukan dari setiap bahasa afrilia utami, rumah di atas halimun dunia, yang, lebih dari camus, selalu menyimpan fakta ke dalam balutan kata yang puitik - tidak menguraikan, atau apa yang ia uraikan, ia lipat sekaligus dengan teka teki yang musti kita baca lewat arah tanda dari kalimat di depan mata. lihatlah mana peristiwanya bentukan kalimat indah ini?: aku juga mengetuk dan mencari sepertimu, bentukan kalimat yang kurang lazim digerakkan oleh para cerpenis kita, apa lagi terayun di awal sehingga ia mirip sekali dengan ketukan puisi yang puitik itu. sampai kalimat alinea awal itu berakhir peristiwa terisap seolah "pada awan kita bertahan":
"jika hidup memanglah pencarian, dibalik daratan yang ditutupi halimun dunia."
Kita abaikan saja kaidah bahasa itu: afrilia menulis di balik dalam bentukan dibalik, jarak yang musti dispasikan itu, sebab kaidah penting tapi makna yang jauh lebih penting lagi.
Apakah maknanya? ia eksit, ia keluar dari dunia, melesat dan membangun rumah di atas halimun dunia. apakah maknanya? ketukan itulah yang rupanya menyimpan segenap peristiwa sehingga sifatnya puisi ketimbang prosa.
Kita menghadapi bentuk baru, lewat cerpen yang tidak biasa (biasanya enam halaman kertas folio atau dua halaman spasi rapat. tapi ini hanya "enam baris" bernas dalam bahasa saja.
Akar
10 Januari 2015 pukul 18:17
Bahasa Albert Camus begitu bening: seolah-olah di hadapan air yang jernih, kita bisa berkaca, memandang ke air dan tampaklah wajah, ruang di mana jiwa mungkin saja bertemu karena katarsis membaca Meursault yang digambarkan sebagai tokoh "yang berjalan alamiah", apa adanya, dingin, dan mungkin begitu menggemaskan bagi Marie (kekasih Meursault). Tapi kita sedang berada "di pohon keringnya", tempat di mana novel mendeskripsikan pikiran dan jiwanya dengan tenang. Apa yang ditarik Afrilia Utami ke dunia peristiwa yang disimpan di "ketukan" dan "mencari" (indah sekali paduan "ketukan" dan "mencari" ini, tidak ada pada bagian Orang Asing yang kita kutip. Sebaliknya, segalanya jelas, bening dan sederhana.
Mungkin bagian tersukar bagi saya bukanlah mencari dengan jalan menghayati perbedaan kedua bahasa, merenungi tiap kemungkinan yang muncul dari balik bahasa - katakanlah makna yang tersimpan dan tersembunyi darinya, tapi menjelaskan ke hadapan pembaca, lagi-lagi, mengapa harus dilakukan perbandingan semacam ini. Menyelinap di "mengapa harus" itu kepantasan, mengingat jarak dari kedua pengarang ini begitu berbeda.
Kita telah menjawab ini, sambil ingin menambahkan, membuat penegas, bahwa di samping ciptaan kita telah samakan dengan manusia biasa karena memang karangan itu, pecahan langsung dari manusianya, maka pada titik mereka manusia biasa, tentulah perbandingan diam-diam dari jarak yang jauh, bisa kita lakukan. Kita membandingkan orang dalam kamar kita sendiri (baca: dalam ruang bahasa kita sendiri, tulisan ini).
Tapi di luar itu barangkali dari sifat kedua bahasa: Afrilia yang memuja Tuhannya, memenuhi sekujur tubuh ceritanya dengan panggilan iman, sebaliknya Albert Camus ateis keras kapala, bahkan hingga detik akhir dari tokoh Meursault itu sampai. Ia tetap pada pendiriannya tentang tuhan, bahwa ia tak percaya kepada tuhan dan ia menolak diberkati oleh pendeta yang sedih dan putus asa karena gagal memohonkan ampunan untuknya. (tokoh ini diancam hukuman mati, batas dari tepi hidup yang membuat orang akan berhitung dengan masak masak akan keyakinannya. sebaliknya, meursault tak berkedip: ia kokoh dengan pendiriannya bahwa dirinya tak percaya kepada tuhan.
Kontras itu barangkali yang paling mendekati hasrat kita melakukan perbandingan, dibayang-bayangi oleh upaya bertahun-tahun membuat sastra maya menjadi sarana penciptaan sastra yang didengar oleh banyak pihak juga. tapi ini sekunder dibanding alasan pertama adalah keindahan bahasa dalam bentukan kata iman lawan kata ingkar. Seandainya kita berada bukan di medium sastra maya, dan seandainya pula kita bertemu dengan sastra yang memesona diri ini, maka sastra itulah yang akan kita bawa ke muka saat bertemu dengan sastra dunia para pemenang nobel itu.
Mengalami dua bahasa dan mengisapnya, adalah menghayati jiwa kita yang harus dipecah dan meratakannya ke dalam bahasa yang sedang kita alami. Mengikuti bagaimana albert camus mengambil alih ketukan dan mencari (afrilia utami, menyimpan peristiwanya dalam bentukan kalimat ini: "Aku juga mengetuk dan mencari sepertimu, jika hidup memanglah pencarian, dibalik daratan yang ditutupi halimun dunia." Itu yang persis dibukakan oleh novel orang asing. Apa yang diketuk, apa yang dicari, apa yang menjadi persoalan di rumah di atas halimun dunia, setidaknya di awalnya, adalah jejalah manusianya yang mengalami, di luar, tapi pengalaman itu dilipatnya, di dalam; tampaknya ia hanya mengizinkan kita menikmati:
"Aku juga mengetuk dan mencari sepertimu."
"Ketukan" yang berbunyi dari lima letupan pistol, yang kini membawa akibat dan jalan-jalan agar si aku "bertahan" (ingat kata abdul hadi: pada awan kita bertahan; dan kini albert camus, bertahan dengan "mencari" akibat "ketukan" yang 'disembunyikan' oleh afrilia: hidupnya dengan membayangkan, ia yang berada di pohon kering. di sanalah ia mencari kemungkinan dari derita akibat tubuh arab jatuh oleh lima letusan pistolnya. sebab apa kamu ini menembak sebenarnya, kata pak hakim, dengan wajah dan suara tampak tolol, meursault menunjuk apa yang baru saja ditunjuk oleh fendi kachonk lewat garis edar:
"Karena matahari."
Inilah langgam keabsurdan Meursault.
Dan matahari sebagai akibat inilah yang ada di pohon kering yang ia bayangkan. Dan Tuhan? ke mana tuhan di saat saat genting begitu? camus lain dengan afrilia: ia bertahan di dahan yang dulu pernah dipuja orang orang purba: sebatang pohon. di sanalah ia berucap mengharukan dan tapi, langit juga yang ia pandangi.
"Aku kemudian sering berpikir, seandainya aku disuruh hidup di sebuah pohon kering, tanpa kesibukan lain selain memandang awan-awan di langit di atas kepalaku, sedikit demi sedikit aku akan terbiasa di situ. Aku akan menunggu burung-burung lewat atau awan-awan bertemu, seperti halnya di sini aku menunggu dasi-dasi aneh pembelaku, atau seperti di dunia lain, aku bersabar sampai hari Sabtu untuk meremas tubuh Marie. Padahal, kalau dipikirkan baik-baik, aku tidak berada dalam sebuah pohon kering. Ada yang lebih sengsara daripada aku. Lagi pula, itu merupakan gagasan ibu: ia sering mengulanginya, bahwa pada akhirnya kita terbiasa pada apa saja." (Dikutip dari novel Albert Camus, Orang Asing.)
1. "Aku akan menunggu burung-burung lewat atau awan-awan bertemu, seperti halnya di sini aku menunggu dasi-dasi aneh pembelaku, atau seperti di dunia lain, aku bersabar sampai hari Sabtu untuk meremas tubuh Marie. Padahal, kalau dipikirkan baik-baik, aku tidak berada dalam sebuah pohon kering. Ada yang lebih sengsara daripada aku. Lagi pula, itu merupakan gagasan ibu: ia sering mengulanginya, bahwa pada akhirnya kita terbiasa pada apa saja."
2. "Aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna. Mengitari ruang yang dipaksa menghadapi sunyi sendirian. Dan kilau hati masih memberi cinta pada usianya. Dekapan-Mu ini dekapanku pada diri dari-Mu. Lelapkan aku. Lelapkan segala sakit dan perih di dalam tubuh. Sebab aku damai dengan-Mu.
Taman cantik, rimbun bunga-bunga berputar, semua menari, semua mengarang nyanyian yang dikucurkan langit ke bumi. Aku diam menikmati semua, biar angin bawakan aku sayap, agar bisa terbang tinggi. Temui kekasihku yang digiring badai, ditenggelamkan banjir, dibakar kobaran api musim kemarau, diawetkan musim hujan, dan diabadikan di museum-museum antariksa."
0 komentar:
Posting Komentar