bukan apa arti sastra, tapi apa arti sastra dalam ada iniMulai dari dukaMu abadiRima yang bergantung pada suku kata bisa kita temukan di semua puisi, bahkan di prosa, dengan harapannya sendiri-sendiri, lewat pengulangan dengan bunyi yang menuntun kita kepada arti, tapi bunyi ini yang menimbulkan irama yang teratur.
Naik turun, kata sutan takdir di bukunya, "puisi lama", bergantung pada pengulangan kalau dari buku lama kita pergi ke buku lama yang lain, adalah prinsip kritik sastra richards. Kedua orang yang bertemu dalam satu pengertian karena memang hanya itu objek yang dipandangi serta dihayati - ciptaan ciptaan sastra.
Itulah musik dalam puisi, datang dari irama yang disediakan oleh tekanan pada suku katanya - meter itu. Musik dari sudut bunyi, belum musik dari sudut arti atau pengertian luas saat si puisi kita letakkan ke dunia sebagai gejala dari ada.
Mereka itu (richards, "princi
ples of literary criticism"):
"depend upon repetition".
(lihat begitu sederhana "ilmu yang ilmiah" itu, "hanya" sebuah pernyataan yang dikeluarkan dari lautan objek yang berisi kata sebagai ciptaan sastra/puisi).
Tapi apakah yang diharapkan oleh irama dalam tekanan suku kata? Pertama suku kata ini bukanlah penyair termenung akan memilih, dari banyak kata lalu memasang, ke balam barisnya seperti baris awal puisi prolugue sapardi, melainkan terjadi begitu saja, oleh rasa bahasa sang penyair.
Belum pernah saya benar-benar punya waktu untuk menghadapi satu buku puisi yang benar-benar saya inginkan, padahal waktu saya begitu melimpahnya.
masih terdengar sampai di sini
dukaMu abadi
Maka kita melihat kata dalam pengertian susunan belahannya, bermain persamaan yang membuat irama itu terjadi. tapi ingin apa mereka? apa harapannya dengan terbentuknya rima yang, sekali lagi, dihasilkan oleh tekanan pada suku kata? Kita bisa melihat dua baris itu, memecahnya ke suku-suku katanya, melihat kesamaan.
"Masih" dalam "ma" yang terhubung pada "ngar" di "terdengar". disambut oleh "sampai", dua belahan yang sama: sam dan pai. i yang terjuntai sendirian, ditunggu oleh "di sini", hidup lagi suku itu pada "duka" di "ka", lalu di "abadi" pada "a" dan "ba".
Begitulah mereka teratur, dari suatu susunan suku kata yang bekerja di setiap kata penopang baris puisi yang memulai "nyanyi sunyi kedua" ini - dukamu abadi.
Tetapi apakah yang diharapkan sapardi di sana? di sini di dua baris ini? kita lalu keluar dari ilmu bunyi dan mulai merambah ilmu arti (tema puisi sapardi).
Gantilah struktur itu dengan struktur yang baru dengan cara mengeluarkan "terdengar" dan memasukkan "ada". iramanya paling berkurang sedikit, tak banyak. tapi artinya mungkin telah rusak. sebab terdengar bukan ada. ada lebih luas sedang terdengar lebih khusus.
masih ada sampai di sini
dukamu abadi
Memang "ada" mengandung "terdengar", bahkan terus terdengar. tapi ada tidak menunjuk langsung ke masa lalu, seperti yang ditunjuk oleh terdengar dalam hubungan suara. itulah permainan sintaksis dalam sajak, yang membawa akibat pada semantis sajak.
Tapi kita tidak ingin ke sini, melainkan merenungi bunyi secara lebih luas. apakah keteraturan dan apakah bunyi itu, dalam bentukan ada lewat gejala bahasa khusus yakni puisi.
Konsep dalam puisi
"terdengar"
"dukaMu"
Seperti jalannya ilmu (pengetahuan) yang memerlukan keniscayaan konsep untuk sampai ke puncaknya, teori, agar dunia kacau-balau itu dimengerti, lewat setiap yang centang prenang dikonsolidasikan ke suatu pengertian, konsep itu, begitu juga rupanya jalannya puisi dalam pengertian ciptaan seorang penyair; ia juga membawakan ciri dari watak ilmu dengan jalan mengonsolidasikan kenyataan lewat kata yang ia pilih, yang dirasakannya, (tapi penyairnya tidak menyadarinya saat ia menuliskannya), kuasa menjadi poros bagi suatu pengertian.
seperti jalannya setiap kehadiran ekspresi jiwa manusia, ia selalu bisa kita pandangi dari setiap sudut yang ingin kita apriorikan pada cita rasa bahasa kita sendiri.
Apakah yang sedang diceritakan oleh sajak prologue, adalah suatu ikatan pada kenyataan dunia dalam belahan baik dan buruk. tekanan pada buah buruk yang membuat "duka" dengan suaranya - 'terdengar', itu kini menjadi konsep atau teori bagi sebuah kehadiran puisi saat dirinya mengikat dunia ini.
Secara tematik "prologue" adalah pengalaman si aku lirik yang mengalami kesedihan, seolah-olah ia membawa segenap kesedihan dalam dirinya saat muncul lewat kesedihan yang berjalan dalam sejarah, (ladang qain dan bukit golgota).
Itulah, inilah, sebuah jejak, dari suatu kesedihan purba saat ideologi langit itu wujud ke bumi.
kebenaran dari apa yang menjadi ultimatum langit, saat si adam dan si hawa turun, tak lama menjadi kenyataan.
Kenyataan itu yang dicatat oleh si aku lirik (menyekap beribu kata, katanya, yang capai menyusun huruf, katanya), itulah, inilah temanya.
Kita mengalami kesedihan imajinatif membaca tema ini, tapi kita merasakan kesedihan bahasa saat mulai memasuki baris baris puisi sapardi. tegangan imajinasi, kini mewadah ke dalam baris baris puisi, tempat kita meletakkan segala pengelihatan sejauh yang kita ingin.
Sajak, bisa didekati dari pintu manapun saat kita memasukinya.
Kita kini ingin menguji konsep dan teori dalam puisi lewat jalan puisi itu, jadi, dari dalam, "bukan terutama dari luar". Dengan mengeluarkan dua konsep dan teori yakni "terdengar" serta "duka" yang menjadi jejakNya dalam dunia, yang dicatat oleh si aku lirik dan lewat dua konsep dan teori ini ia bermain, memainkan prologue-nya, ke sepenuh puisi di dalam buku dukamu abadi. tetapi sebelumnya, memainkannya ke dirinya sendiri - di tiga bait puisi prologue.
*pengalaman mata saat memandangi bunyi
Menjadi suatu pengalaman yang menakjubkan saat sapardi tanpa sengaja, telah mengubah fungsi indera pembacanya lewat kata "terdengar" yang kini bukan saja sampai lewat indera telinga sebagai bunyi, tapi indera mata juga karena kita kini, diantar oleh bunyi yang "memperdengarkan" dirinya, mulai memandangi apa yang terdengar itu lewat mata bukan lewat telinga lagi. bahasa kita memang tidak mengenal sekuen waktu seperti masa lalu adalah pasten dan masa kini presen. bahasa kita hanya menyediakan "masih" yang mengikat kedua masa itu, masa lalu dan masa kini. dan gema dari ikatan yang kita dengar itu, menjadi sugesti kepada mata kita untuk memandangi masa lalu dan masa kini, dan itulah saat penyair, tanpa ia sadari, telah mengubah posisi terdengar-oleh-telinga jadi -terlihat-oleh mata. "masih terdengar sampai di sini", itulah peralihan telinga ke mata karena di isi "terdengar" itu ada sugesti yang tak bisa hanya dikerjakan oleh telinga, tapi harus diambil alih oleh mata, agar apa yang terdengar itu bisa terlihat. dan kita memang melihatnya di mana-mana, "dukaMu abadi" itu. dua baris ini sebenarnya, sedang memetik ibunya sendiri sesaat ia bekerja dari dalam lewat bentukan kata "terdengar" sebagai prologue/pembukaan kitab puisi. ia meminta agar ibunya turun langsung, dengan cara memetik nama ibunya adalah "dukaMu abadi". sebab sampai di sini, ia memang masih mendengar dan melihatnya.
Tetapi bagaimana "terdengar" itu kuasa melimpah dan "menghentikan" waktu, itulah suatu takjub yang lain lagi, yang dilakukan oleh sifat kata dalam puisi. sebab "masih terdengar sampai di sini, dukaMu abadi", adalah "prologue" bagi malam yang ia hentikan jalannya. begitu indah sifat "terdengar" sebagai penghenti dunia: dunia bahasa meminta kita untuk tidak maju dulu, tapi berhenti, melakukan kontemplasi karena begitu penting berita dukaMu abadi yang sedang dibawakan oleh tangan penyair. oleh ia penting, atau oleh ia genting?, maka malam sunyi memang menjadi waktu yang sempurna bagi nurani manusia untuk mendengar, serta melihat, apa yang terdengar itu, dengan cara menghentikan waktunya sendiri. tapi sebelumnya, dunia telah diminta berhenti dulu oleh penyair. "malam pun sesaat terhenti", katanya, "sewaktu dingin pun terdiam". kita memang harus berhenti di sini, mengamat-ngamati, menghayati kata yang begitu memukau menukar-nukar arti dan maknanya. ia melimpah lewat permainan meter suku kata, membina irama tapi di balik irama ini, berjalan ide yang membuat manusia terus menyimaknya.
Kalau teeuw mau melihat masterpiece kata dalam bahasa indonesia, maka pada pendapat saya sebenarnya di sapardi ini, bukan di kawanku dan aku chairil anwar, seperti yang dilakukan oleh teeuw di bukunya tergantung pada kata. maka teeuw pada dasarnya telah misreading pada puisi puisi kita. tapi ia tetap penting. kawanku dan aku chairil itu tak mampu mencapai kebeningan sapardi di prologue. pemberontakan bahasa yang dikagumi teeuw pada sajak kawanku dan aku chairil, pada akhirnya akan dihadang oleh sejauh mana ia kuasa membawakan arti dan maknanya. bukan semata mematahkan konvensi berbahasa. apalagi yang dipatahkan hanya bahasa indonesia yang memang bukan bahasa puisi itu.
(sesaat) malam terhenti
(sewaktu) dingin terdiam
Lihatlah betapa kecil sarana yang dipakai gagasan besar yang didukung oleh kata. hanya permainan bentuk kata lewat "se" saja. tapi bukan main main untuk mencapai tingkatan seperti ini. tingkatan yang datang dari rasa berbahasa, yang memang dimiliki oleh para penyair.
Tema memang sama tapi kita bisa menguji tema itu lewat besarnya isi, apakah isi yang besar itu melingkupi setiap gejala ada atau gejala adanya sendiri. Kita melihat begitu kuat "terdengar" berpasangan dengan "dukaMu abadi". Ia serta merta mengikat tema dari kesepian yang sama di "kawanku dan aku". Maka bisakah kita memunculkan sebuah pendapat, bahwa ikatan tema prologue jauh lebih luas dan lebar dari ikatan kawanku dan aku, dan, yang hendak kita uji kini, bagaimana ia di dalam, saat tema itu berjalan sebagai kata pada bahasa, bentuk yang khusus itu, puisi. selalu bahasa bisa diperbandingkan tanpa melihat atau terpukau pada mitos apa pun, termasuk mitos penyairnya; mungkin saja labelnya terlalu besar diberikan masyarakatnya padanya.
0 komentar:
Posting Komentar