Minggu, 25 Januari 2015

Saksi



       Aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna

  "Apakah dunia cerita pendek kita telah mengubah arahnya? Kompas pernah mempertaruhkan ruang cerpen konvensional, saat menurunkan beberapa cerita pendek yang amat pendek sapardi djoko damono. di sastra maya, orang juga membuat cerita pendek-pendek tapi demikian indah."


     Dua cerita pendek yang kita perbandingkan ini memang tak juga kunjung kuasa melepaskan diri dari dunia acuan. Relasi bahasa ciptaan dengan dunia di luar dirinya itu memang aneh: di satu pihak kata itu telah terlanjur jadi bahasa, sedang bahasa ciptaan telah terlanjur jadi bahasa fiksi, cerita, yang memakaikan bahasa yang khusus itu, tempat di mana pengarang punya ruang untuk membuat sebuah dunia yang mungkin, walau kemungkinannya bisa saja menjauh dari dunia sehari-hari (seperti di cerita "saksi", atau bergerak menjadi "dunia panggilan" dalam cerita "berumah di atas halimun dunia").

     Rasa senang berdiam di kedua cerita itu, mekar dari sejumlah alasan dan alasan dari apa yang kita sebut generasi, bahwa betapa jauh penyair pemilik perahu kertas dengan dia yang baru saja membuat buku puisi halte biru. Apakah alasan keberlanjutan semacam itu tidak penting? Bagaimana pun orang akan pergi dan seperti kepergian harimau (dia tak lagi masuk hutan), tapi akan segera meninggal, toh mahluk cantik itu masih juga menyumbanggkan kepergiannya lewat ibarat: harimau meninggalkan belangnya - dan sapardi: meninggalkan penerusnya. Adalah antara lain, seperti penulis rini widya atau kini, afrilia utami - ini dari jurusan sastra maya sebagai sebuah medium yang kita geluti.

saksisaksi Tetapi pasti dari kehadiran cerita itu sendiri, sosok bahasa, tempat kita mungkin menikmatinya atau menolaknya (memakaikan tanda petik). Lagi-lagi oleh sejumlah alasan, yang kini ingin kita masuki saja langsung dengan menuliskannya. Apakah tidak kaget kalau tiba-tiba segala cita rasa kita akan kenyataan, dihentak oleh "saksi" ini? (cerita Sapardi yang bisa kita baca di buku cerpennya, pengarang telah mati), sebuah dunia di mana fungsi kehidupan, tampak telah dicampur oleh pengarang. sehingga terbentukalah sebuah dunia yang aneh, baru dari ukuran kenyataan sehari-hari kita.

     Atau "berumah halimun dunia", cerita pendek afrilia utami, yang tampaknya adalah bagian dari upaya perempuan ini menuliskan novelnya. betapa kita mengalami rasa bahasa saat nama cerita itu, mengasingkan kita ke atas - ke halimun dunia, yang diterangkan sebagai "rumah". kita pikirkan, apakah itu, "berumah di halimun dunia"? seolah olah hendak naik ke langit tapi halimun, benda bumi itu, juga rumah, menarik kita kembali dan memang ia: di sana "dunia" juga rupanya, dari jebakan pindah yang mula mula kita bayangkan - pindah, bergerak ke langit.

buku puisi afrilia utamibuku puisi afrilia utami Suara itu sampai juga, saat bahasa, wakil dari manusia itu, hendak menjangkau dalam upayanya melepaskan diri kesumpekan hidup, dengan memanggilNya. begitu rupa panggilan itu, memperlihatkan sekaligus begitu rupa sumpek dalam dunia itu, sehingga suara itu terasa seolah oase orang bumi yang hendak naik ke langitNya, tapi toh tertahan juga di dalam dunia. Aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna. tiba-tiba panggilan seperti ini, jadi wajah orang bumi yang sudah tidak tahan lagi. saat di mana-mana kita "terusir dari dunia", sampai ia ingin mengungsi dalam dunia lain, pada saat itulah panggilan kepadaNya begitu kuat gemanya.

       Saya terkenang sebuah puisi kita saat hendak memulai kalimat ini, puisi ("dapatkau nyeberangkan sungai ke negeri asal"), begitu bunyi puisi yang juga hadir sebagai bahasa yang menghentak karena daya baliknya; kini: dapatkau membayangkan bagaimana jadinya, kalau kehidupan nyata kita dibuat terbalik dengan sebuah fenomena: pagi ini aku menyaksikan anjing itu sarapan: ia makan kursi. Kita ada di dalam bahasa dan itu adalah imaji kursi dan imaji anjing yang tengah bekerja - memakan; tapi kita ada di alam nyata: anjing di luar yang kita kenal, kursi di luar tempat kau dan aku duduk duduk lepuk di sore hari yang rawan.

saat penyair bergerak ke prosasaat penyair bergerak ke prosa "Dapatkau" membelokkan kenyataan jadi bahasa? jadi ciptaan sastra bernama cerita pendek. sapardi dapat, dan saat tadi, lewat permainan atau metode masuk ke dalam ceritanya, ikut merekayasa cerita saksi ini dari dalam, kita mengalami hal itu memang mungkin. Jadi, dapat. tapi kita kini pembaca dan seperti penulis, diri dipenuhi dengan dunia yang kita kenali dengan baik. tak ada: anjing makan kursi. tapi seraya ia tak ada, seraya itu pula ia menjadi dunia bahasa yang menggoda. paling jauh anjing itu menggigit-gigit ujung kursi, dan itu bukan memakan seperti yang kita kenali: kemarin saya makan siang dengannya lahap sekali. tandas tiap goreng gorengan di meja kami. memakai frasa putu wijaya yang lucu: dikunci pula makan siang kami itu dengan semangkuk kupi - demikian kata putu wijaya, teman pak sapardi yang berabsurd-absurd dengan ceritanya ini.

    Upaya menjadikan anjing itu (seolah manusia) tidaklah main-main: sapardi mengerahkan kata dan ia menemukan "sarapan". Betapapun dunia jauh itu hendak kita dekatkan agar dapat kita pandangi, seraya terus menjaga jarak agar ia tetap menjadi karya seni. Kita terkejut melihat anjing yang kita tahu siapa dia itu: ialah tanda dari manusia yang, bila tak terlalu meleset ketahuan kita itu, adalah diri, nafsu yang difigurasi oleh seorang penulis cerita.

     Dengan kata "sarapan" itu apakah kita kini mulai mengalami kenyaman dengan kata "anjing" yang justru oleh sapardi sedang dipakai untuk menunjukkan siapa yang duduk di kursi itu. Jangan pernah kita melupakan kode diam diam dari dalam cerita ini: upacara, yang membawa kita kepada hidup nyata, bahwa kursi itu, walau ia imaji, tak bisa sedemikian menjadi sebuah keasingan - walau cerita ini begitu mengasingkan lewat permainan anjing, kursi, dan manusia.

     Ada jejak yang terus disebar oleh sapardi di saksi-nya ini. bukankah anjing itu sarapan? sapardi membawa kata ini (species) untuk/agar anjing itu bisa bermigrasi (jadi kita manusia) tapi lihatlah hasilnya: ia makan kursi, anjing itu kembali lagi: bukan manusia tapi kursi itu melontarkan anjing itu lagi: jadi manusia. Dunia tampak mengerikan oleh masuknya kata ini ke tengah kata manusia dan kursi-nya serta saksi-nya: anjing (entah kapan mahluk mulia ini jadi makian: anjing loe; atau, anjing saja.

      tapi jejaknya masih tertinggal di dalam cerita: lamat-lamat kita mulai merasakan lewat kaca yang dipertunjukkan seorang pengarang, tempat kita bercermin bahwa begitulah diri, bila tak pandai duduk di kursi (akan dimakan anjing). itulah pesannya: kita memakan kursi tapi sebenarnya kita memakan diri kita sendiri: akan dimakan anjing. mengerikan cerita sapardi ini. 

0 komentar:

Posting Komentar