Sabtu, 24 Januari 2015

Novel Tangga


 ---  Bulan tak kunjung datang. Matahari juga. Tak juga menimbulkan bunyi. Sedang aku ingin sekali mendengar bunyi bulan dan bunyi matahari. Seperti kemarin aku mendengar bunyi sungai di anak sungai. Kini siang hari. Aku kembali ke anak sungai itu. Duduk mencangkung di sana. Kudengar kembali suara air. Gemuruhnya datang dari pintu air di depanku. Kalau tidak ada pintu air itu, anak sungai itu pun diam seperti matahari dan bulan. Tak ada bunyi. Airnya tetap bersahaja, mengalir entah kemana.   ----


        Aku tidak menyadari bahwa sambil menunggu di tepi jendelaku itu, aku telah menuliskan sesuatu. Kubaca tulisanku sendiri pelan-pelan. Kuresapkan seolah tulisan itu adalah kisah hidupku sendiri. Kadang aku keluar rumah dan duduk di dekat pintu air di dekat rumahku. Pintu air itu mengatur arus air anak sungai itu. Pintu air itu terbentang menjadi jembatan dan orang-orang melalui jembatan pintu air. Setelah kematian ayah, aku sering menyimak bunyi air yang jatuh dari gundukan dan bentangan batu. Kudengar bunyi anak sungai itu. Bunyi itu ada ketika aku mendengarnya. Ia melekat di otakku seolah kesadaran melekat pada tubuhnya. Kalau pikiranku melayang ke tempat lain, bunyi itu pun pergi. Seakan pejalan kaki yang meninggalkan jejaknya sendiri. Yang tersisa dalam otakku hanya kenangan bunyi. Air berputar di jatuhnya air. Aku melihat botol aqua ukuran sedang ikut berputar. Botol aqua itu pun ada saat aku memandangnya. Saat aku melihat ke arah kumbang, botol aqua itu hanya tinggal kenangan. Begitulah aku memikirkan Tuhan. Saat aku berpikir tuhan ada tapi saat aku berpaling Tuhan menghilang. Aku duduk mencangkung di tepi anak sungai. Punggungku mandi matahari. Matahari pagi memanasi tubuhku dengan lembut. Saat aku memikirkan hal lain lagi, panas matahari itu juga pergi. Seolah matahari itu menelan sinarnya kembali. Sekarang aku berpikir, apakah aku akan menyimak suara air. Menghayati deburnya. Bagaimana kalau bunyi yang merambat cepat itu kupenggal, pasti susunannya yang tak berjeda pun lenyap. Yang tinggal hanya setitik bunyi. Seakan sisa air yang jatuh ke batu di malam hari.

        Aku masuk ke pusar bunyi. Aku tenggelam dalam diri. Anak sungai mengalir. Capung dan burung terbang di atasnya. Tapi aku tak melihatnya. Kuperhatikan bunyi air sungai. Apa yang kudengar? Komposisi nada dengan irama yang sama. Aku mencoba membandingnya dengan tubuh manusia. Aku ingat sebuah cerita tentang lelaki yang kehilangan ibunya. Aku membacanya setahun yang lalu dan aku suka cerita itu. Kukenang ibuku yang sudah meninggal, kata lelaki itu. Tubuh ibu dibaringkan untuk dimandikan. Wajahnya tenang sekali. Seolah bukan wajah orang mati. Ibuku seolah tertidur. Orang-orang di seputar ibuku yang terbujur, sibuk menarik-narik kain ibu, memiringkannya. Kakak perempuanku menyiramkan air dengan tembok air yang sudah tua. Aku ingat tembok itu berumur lebih empat puluh tahun. Tapi batok kayu itu masih kuat meski nampak sangat tua. Itulah tembok air yang dibawa kakakku dari rumah orang tuaku. Tembok air itu dibawa oleh ibuku saat ia pindah dari desanya, mengikuti suaminya ketika anak-anaknya belum ada. Jelas aku bisa membedakan antara tangan dan kaki, suara dan suasana, saat ikut memandikan jenazah ibu. Tapi bunyi air itu tetap tinggal bunyi. Aku tidak bisa menguraikannya. Aku bisa melihat buku-buku tanganku sendiri. Aku bisa mengurai lekuk dan tonjolan buku tanganku. Juga warnanya. Kalau di antara jaringan daging itu ada yang membusuk, aku juga bisa melihatnya dan mencium baunya.

      Tapi bunyi itu, apa yang akan kuuraikan? Aku hanya mampu menikmati suaranya. Ia sampai kepadaku sebagai suara yang berdebur. Seolah simpul nasib yang tak bisa diukur. Aku sudah berusaha memenggalnya tapi tak bisa. Pikiranku membayangkan rentetan air itu jatuh satu-satu. Tetapi gagal. Kecepatannya membuat konsentrasiku selalu buyar. Sambungan air itu seolah curah hujan. Membentuk bunyi jatuhnya air di anak sungai.

     Aku menghentikan upayaku. Botol aqua itu tenggelam dan kini muncul di depanku. Berhenti tertahan batu. Botol yang tinggal tubuhnya. Pantatnya bolong dan kepala botol itu penuh dengan bekas sayatan. Aku berpikir seseorang telah menganiaya botol itu. Pasti seorang lelaki. Mungkin dia kesal dengan hidupnya di malam hati. Perasaannya meluap pada botol akua itu. Lelaki memang sering kesal dengan diri sendiri. Seolah alam yang marah karena laku manusia. Tapi alam pula yang sering jadi sasaran kemarahannya. Tetanggaku seorang lelaki berperawakan sedang yang senang mengurung diri, dan sering menjadikan udara sebagai sasaran. Lelaki itu selalu berteriak-teriak di waktu malam. Tetanggaku yang lain kaget tapi lama-lama jadi biasa. Bahkan kalau lagi senggang, mereka menjadikan teriakan lelaki itu sebagai hiburan. Mereka menikmati saat lelaki itu berteriak sekerasnya. Saat lelaki itu meninju udara atau menusuk bulan dengan pisaunya.
Sama-sama bunyi, pikirku. Tapi bunyi yang dikeluarkan lelaki itu mengandung peristiwa. Sedang bunyi sungai itu tidak berperistiwa kecuali air yang bersahaja. Lelaki itu memiliki tubuh dengan roman yang menyimpan gamang. Sedang anak sungai itu hanya air. Coba kalau ada tangan dan kaki air. Kepala dan badan air. Pastilah bunyi itu akan menimbulkan suara lain. Mungkin suara seperti lelaki dewasa yang kecewa dengan hidupnya.

      Kini aku yakin, kalau air mempunyai tubuh seperti manusia, pasti tak akan mengeluarkan bunyi yang sama. Air bisa berteriak dan meninju udara. Menegakkan dirinya membawa lempengan air. Kami memang air, tapi kami air yang sama dengan kamu. Kami tidak lirih lagi tapi mulai terlibat frustasi. Sungai-sungai keluar dari arusnya dan kini menjelma menjadi manusia air. Lihatlah sungai yang telah mengubah dirinya menjadi manusia air. Dasar kami kini mengering, tapi kami manusia air berjalan seolah manusia dengan anggota tubuhnya. Titik-titik air kami menjelma tangan air dan kaki air. Kami pun menjadi kepala air dan badan air. Sebuah dasar lain lagi mengering dan kini berjalan ke tempat yang sama. Mereka bertemu dan saling menyemburkan diri. Itulah senggama manusia air. Aku tersenyum sendiri memikirkan manusia air itu. Pelan-pelan air-air itu pulang ke dalam dirinya. Yang tenang dan diam dalam arusnya.

      Aku membalik dan kini tubuhku yang telanjang ditelan matahari. Kumanjakan tubuhku dengan matahari. Mobil penjual roti lewat dan mengayun pelan-pelan melalui gundukan di tengah jalan. Sopirnya tersenyum memandangku. Dan aku memandang matahari. Matahari itu menusuk mataku dan aku tak kuat memandangnya. Kupicingkan mataku dan kututup mataku dengan kedua tanganku. Aku mengharapkan bunyi dari matahari itu. Seperti aku mendengar bunyi dari sungai itu. Bagaimanakah bunyi matahari. Bagaimanakah bunyi bulan di malam hari. Kupejamkan mataku dan pikiranku terpusat kepada matahari. Pikiranku berlari mengejar matahari lebih cepat daripada cahaya. Langsung sampai padanya. Tapi tak kudengar bunyi apapun. Aku ingin mendengar suara kamu, seperti aku mendengar suara sungai itu. 

    Tetap tiada bunyi. Baiklah kalau kamu tidak mau bernyanyi. Tapi menjelmalah sebagai manusia sebagaimana sungai itu telah menjadi manusia. Mengapa tidak menjadi matahari manusia. Dimana aku dapat bersenang-senang melihatnya. Tariklah bulan dan suruh dia bersinar di siang hari. Suruhlah dia keluar dan jangan sembunyi lagi. Wahai bulan dan matahari, datanglah kalian padaku. Berdiamlah di kedua tanganku. Tanganku memang tidak terlalu kuat tapi cukuplah untuk menampung kalian, duhai warga bintang. Mari kita main-main sebentar. Senangkan aku yang lagi kehilangan bulan hidupku. Jadilah matahari dan bulanku. Sejenak saja tak apa. Yang penting kita bermain bersama. Matahari itu merambat naik dan mengirimkan panasnya. Seseorang menegurku dalam kalimat berulang-ulang. Apakah malam sudah berganti siang, Tuan. Apakah penismu sudah bosan menusuk bulan. Aku nyaris tak mendengarnya. Aku asyik meminta matahari itu agar mengeluarkan bulan dan agar mereka mengeluarkan bunyi seperti yang kuimpikan semalam.

      Bulan tak kunjung datang. Matahari juga. Tak juga menimbulkan bunyi. Sedang aku ingin sekali mendengar bunyi bulan dan bunyi matahari. Seperti kemarin aku mendengar bunyi sungai di anak sungai. Kini siang hari. Aku kembali ke anak sungai itu. Duduk mencangkung di sana. Kudengar kembali suara air. Gemuruhnya datang dari pintu air di depanku. Kalau tidak ada pintu air itu, anak sungai itu pun diam seperti matahari dan bulan. Tak ada bunyi. Airnya tetap bersahaja, mengalir entah kemana.

    Aku memusat dengan pikiran ini. Sudah lama sekali aku mendengar bunyi air yang jatuh di pintu air. Membentuk gemuruh air. Sampai ke telingaku kalau aku membuka pintu rumahku. Bunyi air yang jatuh itu naik ke atas rumahku. Memenuhi seluruh ruang rumahku. Aku merasa aneh dengan pikiran ini. Sesama benda mati, air itu dan batu pasir rumahku. Tapi mengapa yang satunya tak berbunyi, sedang lainnya bersiul sepanjang hari. Kecuali musim kemarau, anak sungai itu menghentikan bunyinya. Kadang kusandingkan bunyi air yang naik ke rumahku itu. Kuajak mereka duduk bersama. Lihat, kataku kepada dinding batu itu. Yang catnya kuberi warna putih. Tapi kini telah kusam kekuningan. Kau dengar suara air? Tembok batu itu diam. Seperti matahari dan bulan, tak menjawabku. Berdiri kokoh di tempatnya. Sebuah batu dari bangunan tua yang mengancam. Kalau gempa, dinding itu pasti dengan senang hati merubuhkan dirinya. Menimpa kepalaku. Mungkin dia kesal, puluhan tahun melindungiku dari panas matahari. Lelah berdiri, pasti kalau ada kesempatan dia akan membunuhku. Tapi bisa juga sebaliknya: dinding itu diam-diam mencintai tuannya. Mungkin dia kasihan melihatku. Dalam diam, bisa saja dia berpikir, kalaulah saya seperti kamu. Akan kutemani hari-harimu. Agar sepi di hati sedikit terkurangi.

     Kadang saat aku mengetik di meja kayu, yang kurekatkan dengan dinding kamarku, aku merasa tembok itu seolah lelaki yang berdiri tegak memandangku. Tidak berkata-kata, tapi memandangku. Seolah tidak menyetujui apa yang kukerjakan. Tahukah dia apa yang kukerjakan? Mungkin kalau dia tahu, dia benar-benar tidak setuju. Sebab aku sering memperlakukan dirinya sebagai musuhku. Aku menyesalinya sebagai tembok penjara yang mengurungku. Membuatku tak bisa keluar. Tapi benarkah aku tak bisa keluar? Rasanya tidak adil menyalahkan dinding-dinding rumahku. Toh mereka terbuka kapan saja kalau aku mau keluar atau masuk dari sisinya. Mereka menutup kalau aku menutupnya. Mengunci kalau aku menguncinya. Mereka pasif seperti dinding-dinding rumah di mana saja. Tapi entahlah mengapa, aku tetap menyalahkan mereka. Seolah mereka benar-benar telah membuatku tidak bisa keluar. Seolah aku seorang pesakitan dimana dinding-dinding rumahku bukan saja berfungsi sebagai pembatasku dengan dunia luar. Tapi telah mengunci dan memenjarakanku dalam ruang-ruang kamarnya. Rumah ini besar. Dua lantai dengan empat kamar besar. Tiga kamar mandi. Dan satu ruang tamu yang lebar. Di bawah tangga kayu yang melingkar terdapat gudang. Di sanalah tempat aku menaruh barang-barang yang sudah tidak berguna. Sering saat aku menaiki tangga menuju kamar atas rumahku.

     Aku merasa anak-anak tangga seolah menjerit menahan kaki dan tubuhku. Seolah manusia yang kesakitan. Pernah larut malam menjelang pagi. Saat suara-suara malam mencapai puncaknya, salah satu anak tangga kayu itu seolah manusia menangis. Sampai kakiku tidak bergerak lagi. Lama aku berdiri di kakiku sendiri. Lelah berdiri aku berpegang ke dinding batu rumahku. Kusandarkan kepalaku ke dinding. Kupejamkan mataku dan kudengar dengan jelas isak tangga kayu di bawah kakiku. Mengapa kamu menangis, kataku. Anak tangga kayu itu diam. Tapi tetap menangis. Akhirnya aku pun berhenti bertanya dan berdiam diri. Sampai tangis anak tangga kayu itu berhenti sendiri. Aku berpikir mungkin dia lelah dengan tangisnya. Tapi ada apa sebenarnya? Mengapa dia harus menangis? Apakah dia lelah mengusung tubuhku? Kalau iya aku bisa melompatinya. Tidak menginjak tubuhnya lagi. Bila perlu aku merenovasi tangga menuju kamar atas. Aku akan membuka kayu anak-anak tangga satu demi satu. Khusus kayu anak tangga yang kini di bawah kakiku, aku bisa menyimpannya di samping ranjangku. Bila perlu kubuatkan sebuah peti, tempat aku menaruhnya sepanjang hari dan dia bisa tidur di atas peti. Istirahat dari perannya sebagai bagian dari anak tangga. Seperti aku istirahat dari peranku sebagai bagian dari manusia. Tapi besoknya anak tangga itu seperti anak-anak tangga yang lain: diam dan tenang saat aku menginjakkan kakiku ke tubuh mereka. Akhirnya pikiran untuk merenovasi tangga itu hanya tinggal rencana.

0 komentar:

Posting Komentar