aku juga nulis novel dan cerpen. di maya ini saja. JamuSaat aku memandang ke rumah ibadah itu, pikiran tentang sebuah cungkup menguasaiku kembali. kejadian mengerikan yang menimpa keluarga itu masih menyisakan kilasan-kilasan yang timbul-tenggelam. Kukira tiap kejadian adalah cungkup. Semacam tudung yang dibuka dan segala peristiwa akhirnya menemukan gerak dan hukumnya. Seperti rumah ibadah itu adalah cungkup bagi hati manusia. Atau seperti peristiwa tragis yang menimpa sang lelaki tua dengan perempuannya, adalah cungkup yang terbuka bagi hati manusia mencari jalannya sendiri. Dan dengan cara yang sama, dunia adalah cungkup bagi isinya. Seperti dunia itu sendiri adalah cungkup bagi tuhannya.Cungkup itu bentuknya enak dipandang, walau dilihat dari kejauahan nampak bukan rumah untuk orang menyembah tuhan. Dia lebih mirip rumah yang didandani untuk tempat tinggal. Bentuknya mungil dan sisi-sisinya adalah anyaman bambu dan kayu sebagai penopang. Terbuka setengahnya sehingga angin leluasa berlarian di sana. Malam itu aku melihat pusaran angin masuk ke sana, berputar hendak mengangkat cungkup itu. Cungkup itu tiba-tiba terbalut oleh gema kata yang menjadi jaring laba-laba menutupi tiap sudut bambu, kayu, atap dan undakannya yang terbuat dari bata merah, di mana jaring laba-laba itu terangkat pelan-pelan naik ke langit. Melewati lapisan-lapisan langit. Di tiap belahan bumi mata yang awas dapat melihatnya mengambang lalu, pelan-pelan mengangkat tubuhnya melayang, naik terus, sehingga tubuh yang terangkat itu harus melindungi dirinya agar tidak terpecah, tercabik oleh kekuatan yang ingin menariknya kembali ke bumi. Aku jadi heran sendiri. Belum pernah kusaksikan kekuatan yang begitu besar membawa sebuah cungkup naik sangat jauh. Biasanya adalah cungkup yang retak. Sering kulihat retakan yang jatuh. Kuamati apa yang membuatnya retak. Mataku menemukan warna merah kehitaman. Bentuknya lembek dan dingin seperti daging yang membusuk. Kadang potongan daging seperti itu seolah ingin masuk ke teropongku. Seakan ia melayang bukan oleh karena keinginanku untuk melihatnya, tapi daging itu sendiri ingin memperlihatkan isi tubuhnya. Bulu-bulunya terlihat jelas dalam teropongku. Bulu-bulu kasar yang membalut seperti tubuh anjing yang terbalut bulu. Atau tubuh babi yang berbalut bulu. Aku lelah memandang daging yang berbulu ini. Kutepiskan daging berbulu itu dan segera teropongku mencari daging yang tak berbulu. Tapi dalam pecahan yang retakannya berjatuhan nyaris tak kutemukan apa yang kucari. Aku amat tertarik dengan cungkup yang tak henti-hentinya naik itu. Teropongku masuk ke dalam rumah ibadah. Dari tempatku berdiri aku menyaksikan pinggul seorang manusia yang dibalut oleh pakaian putih bersih. Hari sudah agak malam saat teropongku menyentuh pinggul di balik pakaiannya. Malam itu di seputar jembatan itu sepi. Segera aku tahu bahwa yang di dalam cungkup itu adalah seorang wanita. Aku mencari-cari posisi agar dapat memandang wajahnya. Pastilah sebuah wajah yang bersih dengan sinar mata yang teduh. Lama posisi itu kudapatkan. Sampai aku dari balik teropong bisa menemukan sebuah wajah yang kucari. Dari bentuk tubuhnya aku sudah menduga bahwa wanita itu adalah perempuan penjual jamu. Tapi aku tidak yakin karena sejak anak menembak ketapel dengan burungnya, dia sudah menghilang ke balik tikungan yang jalannya melingkar, naik dengan batu-batu kecil yang membuat tonjolan di sepanjang jalan. Kukira dia sudah pergi. Tapi ternyata aku salah. Perempuan penjual jamu itu mengangkat tangan dan wajahnya, kemudian tubuhnya berguncang dengan hebat menahan tangis yang hendak meledak. Aku menunggu momen itu seolah aku sendirilah yang mengangkat tangan itu. Apa yang dipinta oleh seorang penjual jamu. Beberapa kali aku melihatnya berhenti di bawah jendelaku. Seseorang ingin meminum jamu dan penjual jamu membuatkan jamu untuk orang itu. Dari atas jendela kamarku, aku melihat wajah perempuan penjual jamu itu. Seorang perempuan berusia kurang dari 35 tahun. Ia penjual jamu yang tak biasanya. Wajahnya begitu bersih dan cahaya wajahnya seolah berpindah ke jamunya, menjadi cairan campuran yang bersinar dengan rupa-rupa warna. Saat cairan itu memasuki tubuh lelaki tetanggaku yang meminumnya, kusaksikan lelaki itu perlahan-lahan berubah warna mukanya. Tadinya matahari membakar wajah lelaki itu sehingga nyaris hitam. Tapi kini warna hitam itu perlahan-lahan berubah menjadi terang. Lelaki peminum itu memasuki tengah malam. Ia tergelak sendiri di tengah kawan-kawannya, lalu bergaya memeluk tiang listrik sambil berkata, foto model, katanya sambil membuka celananya dan memperlihatkan kelaminnya. Orang-orang di seputarnya tertawa dan berkata ai asyiknya burung foto model kita. Sebuah burung yang kecil tapi berkekuatan besar. Cobalah perlihatkan kekuatannya agar kami menjadi yakin. Lelaki berwajah hitam itu tertawa senang. Baik akan kuperlihatkan kekuatan burungku. Kamu baru tahu kekuatannya apabila aku telah memperlihatkannya. Kalau aku belum memperlihatkannya pastilah kamu tidak menjadi yakin bahwa burungku ini mempunyai kekuatan yang besar sekali.Ia mengucapkan sekali lagi kata-kata foto model. Lalu melepas celananya dan bajunya dan begitulah ia memeluk tiang listrik. Sejenak kemudian tubuhnya seperti manusia tanpa tulang, lunglai sambil tangannya terus memeluk tiang, seolah tiang listrik itu adalah tubuh istrinya yang dibiarkannya sepi, tak jauh dari tempatnya mabuk di malam hari. Tetapi pagi itu setelah meminum jamu, lelaki itu berubah sama sekali. Kelakuannya di malam hari tidak ada bekasnya lagi. Berganti menjadi seorang yang seolah memakai kopiah setelah terminum air sang penjual jamu. Ia menyeberang jembatan itu dengan langkah yang mantap. Semantap saat ia berlari-lari kecil menuju rumah ibadah itu, dan menggulung kedua saku bajunya, membasuh muka dan tangannya, dengan keran air yang ada di dekat undakan.Entah mengapa aku merasa sang penjual jamu tahu, bahwa aku sering memandang wajahnya. Saat ia duduk mengaduk dan mencampur jamu, aku merasa dia tahu bahwa aku memperhatikannya dari balik kamarku. Tetapi aku merasa malu karena dia tidak pernah memperlihatkan bahwa dia tahu. Asyik saja dia dengan pekerjaannya. Tapi aku yakin dia tahu bahwa aku sedang mengamati segala gerak geriknya. Mari diminum jamu segarnya, katanya kepada lelaki yang berwajah hitam itu. Dapat membuat tubuh kita segar sehingga sehat untuk berjalan-jalan. Tak baik juga di dalam kamar sendirian, bukan?Aku merasa malu saat diam-diam aku mencari-cari buah dada sang penjual jamu, yang kulihat dari kebayanya merupakan dua gundukan yang sedang. Aku memutar gerigi teropongku dan ingin kupandang apa yang di balik gundukan. Saat sang penjual jamu menunduk untuk mengambil uang recehan di balik keranjang, aku melihat dua gunung kembar itu rata. Ke mana buah dada sang penjual jamu, bisikku. Mengapa dada itu adalah sebuah kulit yang kuning tapi tak memiliki tonjolan daging. Aku merasa pasti ada tonjolan buah dada di luar kebaya. Seperti aku yakin tak ada suatu pun yang mengganjalnya sehingga menjadi dua tonjolan buah dada. Tapi di balik dalamnya aku mencari-cari tapi tak ada yang kutemukan. Hanya sebidang kulit kuning dan bersih tanpa bulu bulu halus sedikitpun. Tak ada suatu titik hitam yang bisa kulihat di sana. Bagaimana ini, kataku. Kemana buah dada sang penjual jamu. Usaha pencarian itu kuhentikan, saat aku merasa yakin memang tidak ada tonjolan yang kucari. Aku kira tonjolan buah dada seperti batu yang memancarkan air. Dari sana orang bisa meminum air. Dari air orang bisa meminum hidupnya. Lalu aku berdiam diri, duduk termenung di ranjangku sendiri. Besi-besi ranjangku telah menemaniku hampir sepanjang usiaku. Seperti besi pada umumnya, dia diam dan tak pernah mengusikku yang ingin ketenangan.Tapi pagi itu besiku kucengkram sisi-sisinya. Kucengkram ia dengan kuat dan aku berkata, kau tahu, aku tak menemukannya. Seolah semua yang kupandang tak nampak nyata. Seakan ilusi. Kini aku mencengkram tubuhmu ingin tahu apakah kamu juga ilusi. Tapi terasa tanganku mencengkram sesuatu yang keras. Dia sebenarnya besi sebagaimana hidupku ini.Perempuan penjual jamu di sana masih tepakur dalam doa. Dari matanya keluar butiran air yang berkilauan. Butiran air yang membasuh semua dosa manusia. Aku mencari-cari dosaku di antara air mata yang berkilauan itu. Tak kutemukan. Mungkinkah dosaku nyelip di antara butiran air milik orang lain. Aku tak begitu yakin. Wahai sang penjual jamu, kamu begitu ahli dalam berdoa dan sekarang izinkanlah saya bertanya, ke manakah air mataku dalam tumpukan dosa yang menjadi air matamu itu. Mengapa dosaku tidak ada di butiran air matamu. Seharusnya saya melihatnya ada di sana. Tapi yang kulihat selalu dosa air mata orang lain. Mungkinkah dosaku sudah tidak berbentuk air mata lagi alias aku sudah menjadi orang yang tak terampuni. Sehingga jejaknya sebagai air mata saja tuhan enggan membuatnya.Tapi biarlah. Lagi pula ide dosa itu hanyalah instingku. Aku sendiri tidak yakin tentang dosa itu. Apalagi dosa yang diwakili air mata oleh sebuah doa. Bisa jadi air mata hanyalah mekanisme biasa dari fungsi mata. Aku merasa tenang dengan pikiran ini. Tetapi pikiran tentang dosa itu kembali. Hidup adalah kepastian dan kepastian adalah tuhan. Masa tuhan tak memastikan dosa seseorang. Dosamu sudah pasti dan airmata itu bukanlah airmata biasa. Kamu sudah benar bahwa air mata adalah pembasuh dosa. Bahwa dosamu tak ada di air mata itu, itu berarti kamu sendiri yang harus membasuh dosamu dengan air matamu.Aku tersentak dari balik teropongku, saat kulihat mata sang penjual jamu menjadi kilat menyambar ke dalam mataku. Aku merasa teropongku menjadi panas. Benda yang sudah bertahun-tahun setia menjadi kawanku ini mendadak dialiri api. Aku jadi terkenang kembali pohon yang buahnya kuambil di dalam mimpi. Aku berpikir bahwa selama ini rupanya aku telah memegang pohon dalam bentuk teropong. Teropong yang kupakai menjadi jembatan untuk melihat dunia luar. Bisa dikatakan aku hanya memakai teropongku untuk melihat seluruh kehidupan. Kehidupan mendekat kepadaku melalui teropong. Kehidupan menjauh dariku melalui teropong. Kini sebuah mata memasuki diriku melalui teropongku. Tanganku sudah tidak kuat lagi menahan panas yang mengalir dari teropong. Aku sudah hendak melepaskannya, ketika aku merasakan hawa segar memasuki tubuhku perlahan-lahan. Seolah tubuhku dimasukkan ke dalam sebuah danau yang dingin di malam hari. Seperti dulu aku terlena dengan kesegaran danau yang datang melalui teropongku. Aku tersentak ketika dari kedua lensa teropongku kudengar suara penjual jamu. Suara yang amat perlahan tapi menembus ke dalam jiwaku. Pecah di sana sebagai rekaman yang tidak mungkin kulupakan. Seakan aku mendengar tuhan sendiri yang berkata-kata. Janganlah takut. Hidupmu bahagia walau kau nampak menderita.Perempuan penjual jamu itu menyudahi doanya. Dari tempat rumah ibadah itu, dipisahkan jembatan dan sebatang anak sungai, ia memandang ke arahku melalui kaca jendela. Ia tersenyum kepadaku, seakan begitu yakin bahwa aku pun pada saat yang sama sedang memandangnya. Dari balik teropong, tanpa kusadari, aku telah tersenyum membalas senyum sang perempuan penjual jamu.Aku tidak tahu mengapa aku merasa begitu hampa. Desakan untuk mengeluarkan air mata begitu besar, tapi aku menahannya dan kukenang ayah dan ibu yang telah meninggal. Kenangan kepada ayah dan terutama kepada ibuku, yang aku tak tahu bentuk dan rupanya selain yang digambarkan ayah secara abstrak, bahwa ibu adalah seorang perempuan yang cantik, telah membuatku begitu pilu. Mungkin kalau ada ibu hidupku tidak akan begini. Sejenak aku merenungi kata begini yang tiba-tiba saja keluar dari pikiranku. Rasanya aku belum pernah menyatakannya atau memikirkannya. Kukira hidupku normal saja walau sepanjang hidupku aku sendirian saja di dalam rumahku yang besar. Banyak yang kulakukan di dalam rumahku, yang satu pun tidak mempunyai kaitan dan sangkut paut dengan orang di luar. Apakah aku membutuhkan orang lain? Ya kalau pengertiannya aku tidak bisa mencukupi kebutuhanku sendiri. Tapi transaksiku dengan orang lain yang kubutuhkan tidak pernah secara langsung. Selalu melalui tali dari jembatanku itu. Aku berteriak dari atas jendela kamarku kalau aku membutuhkan sesuatu. Dan di kompleks rumah kami banyak sekali penjual sayur keliling yang siap menerima pesananku dari atas tali. Apa yang kuperlukan naik melalui tali ke atas jendelaku. Dari tali yang sama uangnya mereka dapatkan saat tali diturunkan.Kadang wanita penjual sayur tertawa saat ada seseorang lewat dan menegur caranya berdagang denganku. Iya, katanya, ini saya dapat uang dari langit, tapi dia yang di balik kaca dapat sayurannya dari bumi. Aku juga tersenyum. Jadi hidupku yang begini serupa itulah. Hidup yang wajar seperti kelahiran dan kematian: kita lahir sendiri dan kelak mati sendiri. Selalu dalam kelahiran dan kematian seorang tak bisa masuk. Karena itu wajar pula kalau dalam hidup pun kita menjalaninya sendiri saja.Aku tak menemukan jawaban dari kata begini yang telah kulontarkan secara tidak sengaja. Mungkin aku begitu rindu pada ibuku, pikirku, sehingga berpikir seandainya ibu ada hidupku tidak akan begitu sendirian, tapi bersama ibu dan ayahku. Tapi sering juga kubaca cerita hidup dengan kedua orang tua malah tidak baik. Hidup kita seolah neraka karena kedua orang tua ingin semuanya dalam keadaan teratur. Terutama sang anak harus menghormati kedua orang tuanya. Aku memikirkan hubungan dengan ayahku, hanya ayahku, karena aku tidak memiliki seorang pun selain lelaki itu. Kubayangkan dengan jelas wajah ayah dan kedekatan hubungan kami yang aneh. Seorang lelaki dengan sorot mata yang keras hati dan selalu memikirkan hidup ini. Hari hari akhirnya dia begitu kerasnya memikirkan tuhan. Aku tahu walau dia tidak pernah membicarakannya padaku, tuhan saja yang ada dalam pikirannya. Aku tidak bisa berkata ayah tidak percaya kepada tuhan. Dia tidak pernah beribadah seperti orang lain yang lazim. Mungkin lebih tepat dikatakan: ayahku mencari tuhan dengan caranya sendiri. Aku yakin di saat-saat terakhir ayah sudah frustasi soal tuhan ini. Sering dia naik ke atas atap sendirian dan berbicara seperti ditujukan kepada dirinya sendiri. Kalau kau muncul di langit aku akan menembakmu tuhan. Tapi kau tak pernah muncul. Aku hampir menyadari caraku menghubungimu ini salah. Tapi biarlah. Sebenarnya peluruku ini bukanlah untuk menembakmu dalam arti nyatanya. Hanya semacam sebuah ketukan agar kau mendengar panggilanku. Kalau kau bukakan pintu pun hanya satu hal yang hendak kutanyakan. Yakni di mana istriku kini dan mengapa kau mengambilnya dariku. Selebihnya tidak ada yang perlu kuketahui lagi. Begitulah kalimat-kalimat pendek itu diucapkan ayah berulang-ulang. Langit seolah mendengarkan kata-kata ayahku ini. Tapi tidak pernah mengeluarkan jawaban apapun atas pertanyaannya.Di atas pun tidak kudengar gerakan ayah lagi. Lalu kudengar ayah menangis. Tidak lama kemudian ayah tertawa dan berseru ke langit. Baiklah kalau kamu tetap tidak mau menjawab. Sekarang lebih baik peluru ini kugunakan dengan sebenarnya. Kini aku menembakmu bukan untuk meminta dibukakan pintu. Tapi dalam tembakan fungsi sebuah senapan. Lalu kudengar senapan itu meletus. Burung-burung yang hinggap di atas rumah kami kaget dan berterbangan mendengar letusan yang memecah keheningan malam.Itulah saat pertama kalinya peluru dari senapan ayahku benar-benar meletus ke arah langit. Hanya satu letusan yang ditembakkan. Esoknya ayah kutemukan begitu letih di atas ranjangnya. Ayah memandangku dan tangannya menggapai lemah ke kepalaku. Satu pun tak ada kata-kata ayah yang keluar dari mulutnya. Ia menunjuk ke peti hitam yang nampaknya sudah disiapkan, dengan matanya. Aku belum pernah melihat peti hitam itu. Apakah peti itu untukku, kataku. Apakah peti itu harus kubuka kelak. Ayah mengangguk. Kupandangi wajah ayah yang sudah nampak begitu letih. Mata ayah terus melekat kepada mataku. Lalu pelan-pelan kehilangan dayanya dan mata ayah terkatup, bersama tangannya yang terlepas dari genggamanku. Aku membungkus tubuh ayah dengan selimut, benda peninggalan ibuku. Itulah satu-satunya benda yang dibawa ibuku dari rumah orang tuanya. Yang lainnya pakaian dan segala macam jenis barang-barang milik ibu tidak ada lagi di rumah ini. Sudah ayah bakar, kata ayah suatu ketika saat aku menanyakan soal kegemaran ibu. Dan dalam suatu pesannya yang disampaikan ayah secara bercanda, ia ingin mati dengan tubuh diselimuti oleh selimut ibu. Agar ayah tidak menjadi dingin di sana kelak, kata ayah sambil tertawa kepadaku. Aku berkata iya ayah, kelak kalau ayah mati akan kuselimuti dengan selimut ibu ini.Semalaman aku menggali ubin di bawah ranjang ayah, dalam upayaku menguburkan tubuh ayah sesuai permintaanya sendiri. Aku berpikir tubuhku sendiri akan terkubur seperti ini saat kedua tanganku menggali.Aku baru menyadari bahwa sebenarnya saat aku memandangi sang penjual jamu, ternyata aku seolah sedang memandangi ibuku. Aneh mengapa aku lambat sekali menangkapnya. Pantas setiap pagi aku setia menunggu di atas rumahku dan memandang ke balik jendela. Dari sana mataku kuarahkan ke awal jembatan, tempat di mana sang penjual jamu memulai langkah pertamanya untuk masuk ke kompleks kami. Tiap langkah penjual jamu di atas jembatan itu kuperhatikan dengan kedua mataku. Kadang aku ingin penjual jamu terjatuh di sana dan aku melompat dari kamarku untuk menariknya keluar dari anak sungai. Sering juga aku berharap sang penjual jamu lama-lama berhenti di bawah jendela rumahku. Agar ia melayani semua langganannya di sana saja. Sehingga aku bisa berlama-lama memandangnya yang bekerja menjual jamu. Aku sendiri berkali-kali menemukan alasan untuk menahannya melalui keinginan untuk meminum jamu sebagai sebuah kegemaran. Tapi tiap keinginan itu muncul bersama itu pula bayangan kebiasaan yang tidak aku sukai melumpuhkanku. Aku tidak pernah mengenal jamu seumur hidupku. Karena itu sukar sekali bagiku untuk meminumnya. Bahkan sekalipun dalam taraf mencoba.Karena itu aku tidak mempunyai cukup alasan untuk menahannya di bawah jendela kamarku. Bukankah dia sang perempuan penjual jamu, bukan perempuan yang menjual jasa kata-kata. Aku kembali mengarahkan teropongku ke arah rumah ibadah itu. Tapi sang penjual jamu sudah tidak ada lagi di sana. aku yakin malam telah membawanya pulang ke rumahnya.Aku mulai memikirkan sang penjual jamu. Sebuah pikiran melayang ke otakku dan segera kutepiskan. Aku mencoba mengingat-ngingat detil yang lain. Lalu ingat seseorang pernah menggodanya di bawah jendela kamarku dan dia berkata, untuk mencari uang sendiri saja. Aku sudah agak lupa wajah orang itu. Tapi kata-kata dan jawaban sang penjual jamu teringat kembali olehku. Saya belum bersuami, kata perempuan penjual jamu. Aku senang dengan ingatanku ini. Lalu aku pergi ke ranjangku dan sejenak aku berbaring di sana.Mataku menatap ke langit-langit rumahku. Sebuah bentangan papan dengan warna kuning papan. Seputaran rumahku seolah mendadak diliputi keheningan dari bunyi-bunyi malam yang masuk ke kamarku. Sudah lewat tengah malam. Dan aku tidak begitu menyukai keheningan yang terlalu padat dengan perasaan. Tapi itulah yang kuderita sepanjang malam dari tahun-tahun hidupku: keheningan yang menakutkan. Seolah kita sungguh tak ada daya. Cobalah berpikir seandainya ada seorang pembunuh yang ingin membunuh diri kita di tengah malam seperti itu. Pembunuh masuk mendobrak pintu dan tahu-tahu sudah berdiri di hadapan kita. Apa yang bisa kita lakukan.Tapi sebenarnya bukan soal seorang pembunuh yang akan memasuk ke kamar ini yang benar-benar menakutkan. Tapi adalah kekosongan dari hidup yang itu-itu juga. Tidak ada gerak lain selain menjalani hidup yang itu-itu juga. Sering di malam sunyi aku termenung sendiri, apakah makna hidupku ini. Aku mencoba mengaitkannya kepada suatu tujuan. Tapi hidupku sendiri tidak ada tujuan. Kucoba mengaitkannya kepada suatu pola hubungan, hidupku sendiri tidak pernah berhubungan dengan orang lain. Lalu apa artinya hidupku ini. Perasaan itu begitu terasa saat di malam-malam sunyi. Seandainya tidur bisa menjadi penyelesaian, soalnya mungkin akan lebih mudah. Kita tidur dan masalahnya selesai. Kita menjalani hidup besoknya lagi. Tapi aku sukar sekali tidur. Bisa dikatakan aku jarang tidur. Kadang-kadang tidur bagiku sebuah rahmat yang diberikan alam. Semacam mukjizat atau semacam solidaritas sesama alam terhadap anasir-anasir tubuhku. Mungkin kawan-kawan tubuhku sesama tanah itu merasa kasihan dengan kawannya yang menjadi tubuhku. Dan mereka beramai-ramai menekan seluruh organ-organ tubuhku agar tertidur. Jiwaku masih hendak terjaga. Tapi tubuhku telah memejamkan mata.Begitulah mataku terbelalak tak pernah tidur. Pikiranku melompat dari papan kuning itu, bergerak ke pembunuh dan bergerak ke perempuan penjual jamu. Lalu aku teringat ibuku. Kubayangkan ibuku adalah penjual jamu itu. Atau penjual jamu itu adalah ibuku. Begitulah kedua perempuan yang tak nampak nyata itu memenuhi seluruh pikiranku. Berganti-ganti menjadi tubuh yang serupa dan tubuh yang tak sama.Aku segera ke kamar ayah dan entah mengapa aku kini ingin melihat kotak hitam yang ayah tinggalkan. Aku telah mengubur ayah dengan baik di bawah ubin di bawah ranjang ayah. Tapi aku belum pernah membuka kotak hitam yang ia tinggalkan. Kukira ayah telah mati dan untuk apa lagi aku membukanya. Kukira bukan karena isinya yang membuatku berjalan pelan-pelan ke kamar ayah, tapi karena aku tidak tahu lagi harus mengerjakan apa lagi. Semua sudut-sudut rumahku sudah kuteliti satu demi satu. Lemari yang setinggi tiang utama rumahku sudah kupanjati dan tiap ruangnya yang kecil sudah kuamati.Ruang-ruang itu terdiri dari kotak-kotak kecil untuk menaruh bukuku dan buku ayah. Tidak ada buku baru di sana. Semua dibeli oleh ayah. Kadang aku menetap di dalam salah satu kotak di sana. kuamati buku-buku di dalam kotak itu. Lama aku termenung di dalam kotak itu. Aku baru menyadari bahwa ternyata buku itu seolah bermata dan mata itu sedang mengawasi diriku. Kuusir mata itu dengan mengulurkan tangan meraih buku yang berwarna merah dan amat tebal itu. Tanganku membuka secara acak saja. Karena sudah berkali-kali sebenarnya aku menamatkannya. Lalu aku bertemu dengan halaman yang menjadi kesayanganku. Aku membacanya pelan-pelan untuk diriku sendiri. Jiwa-jiwa yang berdosa akan kembali penuh penyesalan. Jiwa-jiwa yang berdosa akan kembali penuh penyesalan, kataku menggumamkannya berulang-ulang. Aku menekan tangkai pintu kamar ayah dan mendorongnya perlahan-lahan. Sambil terus mengingat kata-kata dari kitab itu tadi. Apakah jiwaku berdosa, kataku pada diriku sendiri. Apakah aku akan kembali penuh penyesalan. Kukira aku tidak berdosa dan kukira aku akan kembali penuh kebahagiaan. Tapi kembali ke mana. Ibu telah mati dan ayah telah mati. Di manakah mereka kini. Aku tidak tahu. Bayangan ada hari lain di balik hari ini begitu jauh dariku. Sukar sekali aku membayangkan ada hari semacam itu. Karena sukarnya aku tidak ingin membayangkannya dan lebih baik aku tidak memikirkannya. Jadi tidak bisa aku disebut tidak percaya. Yang benar adalah aku tidak mau memikirkan dan membayangkannya. Tapi aku telah memikirkannya. Bahkan bisa dikatakan aku telah memikirkannya sepanjang usia.Di depan kotak hitam itu aku kembali teringat ayahku. Lalu ibuku. Demikianlah kedua orang itu datang dan pergi dalam pikiranku. Ayah kukenang sebagai lelaki yang sunyi dan keras hati. Hidupnya sepi sampai mati. Kenanganku padanya berhenti saat tangannya terkulai dari genggamanku. Ibu kukenang tanpa bentuk. Hanya gagasan ibu di kepalaku, sebagai seorang perempuan tanpa aku tahu bagaimana wujudnya. Aku mencoba meletakkannya sebagai perempuan penjual jamu. Setidaknya dengan begitu ada bayangan yang bisa kukenang. Wajah penjual jamu itu hadir bertukar-tukar rupa dengan wajah ayahku. Lalu terakhir aku melihat wajahku sendiri di tengah wajah ayah dan wajah perempuan penjual jamu. Mataku menjadi mata penjual jamu sebelah kanan. Mata kiriku menjadi mata ayah di sebelah kiri. Lalu tubuhku terbelah dua satu menjadi tubuh ayah dan satu lagi menjadi tubuh penjual jamu. Dan serupa penjual jamu, tubuhku di kanan itu rata tak memiliki buah dada.Ada rasa malas yang aneh saat aku berdiri di depan kotak hitam peninggalan ayah. Kotak itu adalah peti peninggalan ayah dan nampak tidak terkunci. Karena ayah tidak pernah mengatakan ada kunci untuk membukanya. Jadi aku tinggal menunduk dan membuka kotak itu dari genggamannya yang terbuat dari besi kecil hitam yang dibengkokkan. Pastilah ayah menaruh sesuatu yang penting di kotak hitam itu. Sesuatu yang mungkin berkait dengan diriku. Mungkinkah ayah meninggalkan riwayat dirinya dan ibuku di dalamnya. Kalau begitu aku bisa tahu tentang ibu. Ibu sungguh menjadi misteri besarku selama ini. Ia hadir dalam hidupku tapi tidak pernah menampakkan dirinya. Tentu saja dia telah mati. Tapi setidaknya jejaknya yang membuat aku bisa menghidupkan dirinya dalam kenangan. Jejaknya pun tak pernah kutemukan. Mungkin akan kutemukan seandainya aku membuka kotak hitam ini. Tapi aku berpikir apa perlunya lagi aku mengetahui riwayat ibu. Toh ibu telah mati dan seandainya di dalam kotak ini ada benar-benar riwayat ibuku, rasanya riwayat itu juga tidak akan banyak gunanya bagiku untuk menjalani hidupku.Hasrat untuk membuka kotak itu hilang seketika. Kurasakan jiwaku seolah menganga dengan lubang api yang sunyi. Aku ingin membakar harapanku dan biarlah harapanku terbakar di sana. aku bisa terbakar di dalam lubang api atau terbakar di luar lubang api. Keduanya tidak akan banyak mengandung perbedaan dan biarkan saja jiwaku menganga tanpa aku harus menutupnya.Aku keluar dari kamar ayah dan berjalan ke tepi jendela. Di sana aku duduk termenung menunggu perempuan penjual jamuku.Di depan jendela itu, aku memikirkan hubunganku dengan ibu seolah hubunganku dengan tuhanku. Aku hampir yakin ayah menyimpan sesuatu tentang ibu di kotak itu. Aku tinggal membuka kotak itu dan misteri akan terpecahkan. Seperti misteri tuhan akan terpecahkan saat kita melihat wajah tuhan. Aku berpikir misteri menarik karena kandungan tanda tanyanya. Tubuh seorang perempuan menarik karena dibalut oleh busananya. Waktu tubuh kehilangan busananya saat itupula tubuh kehilangan misterinya dan perempuan itu pun jadi tidak menarik lagi. Begitu juga ibu. Begitu juga tuhanku. Begitu juga aku. Mungkinkan aku tidak membuka kotak itu karena aku inginkan ibu tetap jadi misteri bagiku. Sehingga aku tetap hidup dengan misteri tentang ibuku. Biarlah ibu menjadi daya tarik bagiku dalam misterinya. Kalau misteri ibu terbuka siapa tahu ibu jadi tidak menarik lagi. Padahal misterilah yang membuatku bisa bertahan hidup. Tanpa misteri ibu mungkin aku sudah kehilangan alasan untuk hidup. Apalagi yang akan kulakukan kalau hidup tanpa misteri. Hidupku begitu kering dan hanya misteri itu lah yang membuatku bisa bermain-main. Aku bisa memasukinya dan berlama-lama di sana. Membayangkan ibu dalam banyak versinya. Memikirkannya di tiap saat hidupku. Dengan begitu aku jadi hidup. Seperti juga dengan tuhan. Tuhan jadi menarik karena kita tidak tahu wajahnya. Justru kalau kita tahu wajahnya tuhan jadi tidak menarik lagi. Mungkinkah ayah sudah sampai ke pemikiran yang aku pikirkan ini: sia sia mencari misteri tuhan, atau biarkan tuhan tetap berada dalam misteri. Karena kesadaran ini ayah lalu kehilangan alasan untuk mencari misteri tuhan lagi dan karena itu dia merasa tidak ada gunanya ia hidup lagi. Toh misteri tuhan baginya tidak akan terpecahkan. Lagipula memang dia tidak hendak memecahkannya. Paradoks ini membuat ayah berkesimpulan untuk apalagikah dia terus hidup. Ayah telah kehilangan alasannya untuk hidup lebih lama lagi dan karena itu dia memilih mati. Jadi kematian ayah itu alami atau dia mengakhiri hidupnya sendiri. Dengan apa. bisa apa saja. Ayah akrab dengan ragam penyebab kematian melalui racun. Pikiran ini membuatku memikirkan kembali saat ayah naik ke atap sendirian dan menembakkan senapannya. Sekali itulah ayah menembakkan senapannya. Kuingat-ingat kembali apa yang dikatakan ayah malam itu dan kuhubung-hubungkan dengan pikiran yang tiba-tiba seolah mencerahkan diriku. Ayah berkata dia akan memakai senapanya dengan sebenarnya fungsi senapan bukan sebagai mainan selama ini: tak menembakkan senapannya kecuali untuk bergaya-gaya. Tapi kini ia menembakkan senapannya dan memang senapan itu meletus. Untuk apa. untuk karena tuhan tak pernah mau membukakan pintunya. Maka kini ayah menembaknya. Dengan menembak ayah telah kehilangan kemauan untuk menjadikan tuhan sebagai daya tarik yang mempunyai misteri baginya. Jadi kini ayah memperlakukan tuhan sebagai bukan misteri lagi tapi sebagai sesuatu yang harus dihadapi dengan tembakan. Mungkin aku bisa menarik garis-garis halus yang melingkupi pikiran dan tindakan ayah. Termasuk tindakan fatal yang diambilnya kemudian: mengakhiri hidupnya sendiri. Bisa jadi ayah menempuh jalan fatal karena sudah sampai di batas kekuatan. Semua orang punya batasnya. Tapi lalu bagaimana dengan ibu. Tidakkah ayah malam itu membisikkan ke mana istriku. Artinya ayah sendiri tidak tahu tentang ibu. Ibu bagaimana dan kemana. Mungkinkah ibu bagi ayah seperti ibu bagiku. Menarik kerena misterinya. Aku berpikir sebuah kemungkinan lagi: mungkinkah dalam usahanya membayangkan tuhan yang tak terjangkau, ayah lalu kemudian menghadirkan ibu sebagai seseorang yang bisa ia kenang. Sehingga tuhan yang tak terjangkau seolah menjadi ibu. Jadi ibu bagi ayah sebagai simbol kehadiran tuhan bagi dirinya. Jadi ayah membayangkan tuhan sebagai seorang perempuan yang telah melahirkan dirinya dalam peran sebagai seorang ibu. Karena itu ayah mencampurkan pencarian tuhan dengan kehadiran seorang ibu. Jadi kalau ayah berbicara tentang tuhan ia pun sebenarnya berbicara tentang ibu. Sebaliknya kalau ayah sedang bicara tentang ibu sebenarnya pada saat yang sama ayah sedang membayangkan seorang tuhan secara personal yakni ibu.Aku mencoba menarik persamaan jalan pikiran ayah dan sikapnya, dengan jalan pemikiran dan sikapku sendiri tentang tuhan dan ibu bagi ayah, tentang tuhan, ibu dan penjual jamu bagiku. Mungkinkah diam-diam aku pun mengidap persamaan dengan ayahku dalam hal itu.Bagaimanapun tuhan memang tak terjangkau tangan dan karena itu lebih mudah mendekatinya melalui alam benda yang personal yakni manusia. Yaitu ibu bagi ayah dan ibu bagiku.Aku memikirkan satu hal lagi: sungguhkah ayah mengakhiri hidupnya karena misteri ini? Karena tuhan tak terpecahkan lalu dia mengakhiri hidupnya karena untuk apalagi dia hidup. Atau karena tuhan tak terpecahkan lalu dia memilih untuk tak percaya pada tuhan. atau bagaimana. Satu-satunya penyebab kematian ayah adalah ia telah sampai kepada batas terakhir dari daya tahannya sebagai manusia.Aku memegang kesimpulan ini saat kurasakan dari ujung jembatan itu matahari pelan-pelan menampakkan dirinya. Sinarnya merambat naik melalui alam benda yang ada di sana. Mulai-mula atap-atap rumah itu seolah keluar dari balik gelap dan pelan-pelan menampakkan genting-genting dirinya. Lalu kayu-kayu rumahnya. Lalu jalan-jalan di mana rumah itu berada. Begitu juga jembatan itu dan anak sungai itu. Sungai itu tadinya hanya sebentang arus hitam, seolah mahluk bernyawa yang hitam dan diam. Mengalir tanpa suara dan tanpa tujuan. Lalu kemudian pelan-pelan kita bisa memandang riaknya. Kudengar suaranya mengalir, suara yang sudah sangat dekat dengan diriku. Suara air sungai yang pelan penuh misteri sebagai sungai yang sunyi. Seperti diriku ini. Lalu kulihat jembatan itu juga pelan-pelan menampakkan dirinya. Jembatan sebagai tali tempat orang menyeberang. Semuanya bersiap pagi itu dalam persiapan memasuki kehidupan yang baru.Tapi aku tetap tak melihat perempuan penjual jamu yang kutunggu. Satu demi satu orang-orang disitu menyusur hidupnya hari itu dan satu demi satu para pemain kartu itu menampakkan dirinya di tepian sungai itu. Tapi tuhanku penjual jamu belum juga nampak di sana. Dalam kerinduan dan dalam harapanku kubayangkan tuhanku berjalan melalui jembatan itu dan dari sini dalam kerinduan yang sangat aku ingin melambai memanggilnya: oi tuhanku aku di sini menunggumu. Aku lelah dalam menunggu, yang mulai kurasakan sebagai permainan, tapi aku tahu aku bukan menyerah. Aku sungguh-sungguh hanya lelah. Entahlah mengapa pagi itu aku benar-benar mengharapkan tuhanku penjual jamu melintas di atas jembatan. Mungkin karena gelombang pertanyaan dan jawaban yang tak kutemukan. Lalu aku berpikir untuk pertama kalinya dalam hidupku menyeberangi jembatan itu kembali, mencari tuhanku penjual jamu. Tapi hendak kemana ia kucari. Aku tidak tahu di mana ia tinggal dan aku juga tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Lagi pula aku memikirkan jangan-jangan seandainya ada seseorang yang bisa menuntunku ke sana, aku pun akan disergap oleh rasa putus asa yang aneh seperti saat aku menghadapi kotak hitam yang ditinggalkan oleh ayah. Atau seperti aku menghadapi misteri ibu dan misteri tuhan itu sendiri. Lagi pula aku kini telah memindahkan tuhan kepada personifikasi sang perempuan penjual jamu. Yang seandainya aku mengetahui persis siapa dan mengapa dirinya kelak akhirnya aku jadi bosan karena dirinya tidak lagi dilingkupi misteri seperti tuhan yang telah berhasil kusibak mistrinya. Sekali kita bisa menguak misteri tentang sesuatu maka ia pastilah tidak akan menjadi teka-teki lagi dan segera sesuatu yang telah kehilangan misteri akan membawa rasa bosan dalam hati. Tetapi aku mempunyai kebutuhan lain dan itu bukan misteri. Kebutuhan akan tubuh dalam percumbuan dan kemesraan. Dalam kemanjaan dan kesedihan. Dalam bahagia dan tawa putus asa. Mungkin kebutuhan terakhir inilah yang membuatku tetap mengharapkan kedatangan tuhanku sang perempuan penjual jamu. Tapi dia belum datang juga. Jembatan itu rebah telentang menunggu langkah-langkahnya menyururi tubuhnya. Jembatan yang telah tanpa sadar kubayangkan sebagai badan tuhan yang mengharapkan orang-orang berjalan di atas tubuhnya dan merengkuhnya. Atau kubayangkan diriku sendiri sebagai jembatan itu. Di mana tuhanku melangkah perlahan-lahan di atas badanku dan merengkuhku. Atau berhenti di atas tubuhku. Apa sajalah yang penting ada pergerakan, tidak berhenti dan mati seperti sekarang ini. Segala gerak seolah menjauh dan makin jauh. Menempuh alam sunyinya masing-masing. Seolah puncak gunung yang lama tidak dijamah manusia, atau bahkan memang tak pernah ada manusia yang pernah menjamah puncak gunung. Sehingga sang gunung menjadi sepi sendiri di lerengnya dan di puncaknya. Aku seolah telah menjadi gunung yang melambung ke puncak gunung. Di mana batu-batunya tumbuh sendiri tanpa pernah dijamah. Lalu memecah sendiri karena telah sampai pada batas tumbuh. Semua bayangan dan imajinasi itu berselang-seling menghinggapi otak dan jiwaku. Dalam putaran yang cepat secepat para pemain kartu di tepian sungai itu menebak kartu lawan mainnya. Atau air sungai itu yang berganti-ganti menukarkan dirinya dalam iringan air yang mengalir sepanjang arusnya. Tapi yang kutunggu belum juga tiba. Sampai seorang penjual sayur keliling mengingatkanku bahwa hari itu aku memesan daging dan pucuk ubi untuk makan siangku nanti.Seutas tali kuturunkan dan kudengar suara: daging dan sayurannya masih baru semua seperti biasa. Lalu kurasakan tali yang kupegang dengan satu tanganku, sambil satu tanganku lainnya tetap memegang teropong yang kuarahkan ke sepanjang jembatan, menjadi berat dan pelan-pelan tali itu kutarik naik sampai bungkusan dari plastik warna hitam itu sampai kepadaku. Menampakkan dirinya sebagai nyawa baru yang akan terus menghidupkan nyawaku kini. Lalu aku menurunkan tali kembali di mana ujung tali membawa uang yang harus kubayar untuk membeli nyawaku siang itu. Perempuan penjual jamuku belum juga kulihat tubuh dan jiwanya.Kini aku jadi tahu kelelahan ayah menunggu seperti aku tahu kelelahanku kini menunggu. Ayah sudah melampaui daya tahannya dan karena itu dia mengakhiri hidupnya. Jadi letusan senapan satu kali itu bukanlah serangan kepada tuhan tapi tanda bahwa dia akan datang. Karena misteri tuhan tak kan pernah terpecahkan.
0 komentar:
Posting Komentar