Senin, 26 Januari 2015

Jika Aku Menjelma Tangkai

afrilia utami, pemilik suara indah dalam puisi itu. jika aku menjelma tangkai, katanya.afrilia utami, pemilik suara indah dalam puisi itu. jika aku menjelma tangkai, katanya.

25 Oktober 2013 pukul 17:48

Seandainya saya bergerak menyambung, dari suatu perhubungan sebelum dan sesudah, maka keadaan after dari suatu before yang saya alami menunjukkan betapa kuat imaji yang disarankan afrilia sesaat ia menunjukkan keadaan sebelum "isi" dari puisinya. yang saya maksud posisi kata "tiap hujan" itu, betapa saya terkagum melihat situasi lapangan adalah perasaan seseorang dalam bahasa ini, bahwa ia itu mengalami suatu kejadian dan kejadian itu ia abstraksikan dalam bentuk bentuk simbolik, bahwa di suatu taman tapi taman itu begitu cepat menukar dirinya jadi dada manusia, artinya pergerakan ini hendak mengatakan, bahwa dunia fisik itu akhirnya berhenti juga di dunia feeling adalah perasaan - dan dada, tempat memuat segala jenis dan bentuk kecamuk jiwa kita manusia itu.

lagi lagi dunia "italic" afrilia itu hendak mengatakan sesuatu, bahwa kecamuk yang bermain di perasaan hatinya itu - di taman jiwanya yang kini lebih konkret lagi, di dadanya, itu memainkan anak-anak tanda dengan cara menggerakkan apa yang abstrak jadi sedikit konkret. itulah suatu nyala yang disebutkan dengan amat indah: sepercik bunga api serta opositnya adalah titik hujan. jadi ini ada semacam kobaran perasaan yang diredakan lewat dunia yang kita mesti bayangkan teduh, dingin, bahwa nyala di perasaan itu kini diberi bentuk air - dada itu kini mungkin jadi danau yang teduh, tempat bunga api tak jadi menjadi percikan logam yang menembak kening meursault, tapi mendinginkan dia-kita yang telah kepanasan oleh soal dan ihwal apa saja dalam hidup ini.

di sanalah saya melihat sebuah onggokan fakta kejadian, semacam sample oleh ini adalah semanusia bukan segenap manusia tapi soal yang dibawanya, tentulah pula mengikat segenap manusia bukan hanya semanusia saja - manusia dalam bahasa afrilia ini. bahwa kita menghadapi lautan fakta segenap manusia yang terlibat dalam peristiwanya dan kita ingat lagi gerak ilmu itu, yang harus menertibkan peristiwa sebanyak itu, dengan cara menarik yang konkret, mengabstrasikannya, dan itulah saya kira kata itu: hujan, yang diberi bentuk tiap. sehingga tiap hujan ini menjadi, katakanlah konsep bagi diri untuk mengerti kejadian di satuan satuan manusia di bumi. hujan itu begitu simbolik: ia membawa kita hanyut, ia menghanyutkan tubuh dan mematikan tubuh - banjir besar misalnya; ia juga menumbuhkan tubuh oleh ia kuasa menyirami tanah yang mati jadi hidup kembali.

maka hujan di sini dipakai sebagai tanda dan tanda ini dipakai, sekali lagi untuk menuliskan riwayat segenap manusia yang telah diabstraksikan jadi hujan itu - tiap hujan, kini dicatat jadi mata-pena yang mengalirkan nasib manusia. tapi aliran itu tak berupa oleh nasib itu memang tak teramalkan. sebab ia itu, adalah muara tak bernama. jadi kita mendapatkan kepenuhan dari dalam puisi dari sudut hitungan tanda, bahwa puisi itu adalah gerak tanda dan tanda yang dimainkan di baris baris awal ini begitu luar biasanya.

Sepercik Api, Titik Hujan

lihatlah taman di dadaku
bermain sepercik bunga api
dengan titik hujan

Tiap hujan kualirkan mata-pena menuju hilir yang tak bernama muara. Mengambil tali layang-layang dan menarik langit lebih dekat. Agar gerimis lebih jadi hujan di telapak tangan.

kita membaca teori bahasa dari rusia itu, tentang ihwal bahasa mengasingkan dan apa yang diasingkan itu, adalah dunia benda benda yang tengah terlibat dalam peristiwanya. sesuatu yang akrab kini tiba tiba jadi asing. air itu kita akrabi, juga pena alat kita menulis, muara, hilir, semua kita akrabi - kita kenal, tapi begitu sudah dikonstruksikan, dunia tanda telah membawanya ke arah asing. terjadilah apa yang dikatakan oleh teori modern itu - defamiliarisasi, dalam baris baris afrilia ini.
kalaulah baris ini kita andaikan benar, bahwa ia suatu kondisi kemanusiaan yang dibentukkan lewat tanda, tanda yang sedemikian halus sampai kita nyaris tidak mengetahui artinya, sebuah dunia lambang, perlambangan hidup ini,

"Tiap hujan kualirkan mata-pena menuju hilir yang tak bernama muara."

maka apa yang menarik, baris yang sedemikian tergelincir ini bukan berhenti, tapi dibuat makin miring sehingga ia tambah tergelincir lagi.

"Mengambil tali layang-layang dan menarik langit lebih dekat."

tak ada ilmu atau tak ada pikiran yang bekerja tanpa paradigmanya, bahwa paradigmanya dibangun lewat epistemologi dengan arah bumi atau arah langit, maka keadaan dunia kepengetahuan itu akan memperlihatkan dirinya sebagai suatu kejelasan di dalam hitungan tanda. bahwa "langit" adalah tempat berdiam sang Maha - Tuhan itu, atau kadang disapakan orang yang datang dari bumi sebagai Logos itu. Logos ini adalah suatu besaran akan cara pikiran mengikat dunia, bahwa tak ada dunia yang tak berikatan dan pikiran logos inilah yang sanggup mengumpulkan kembali dunia antah berantah berupa mitos di masa lalu, menertibkannya sehingga ia jadi kita mengerti lebih baik.

tapi logos ini tak naik, hanya mangapung saja ke/di bumi. ia jadi subjek yang mandiri dengan kemerdekaannya. ia mandiri bergerak dan walau ia tahu bahwa gerakannya tak kuasa, dengan kemerdekaannya, mengatasi maut mati, tapi dalam lingkarang pikiran ia logos yang mandiri. ia bebas dari ikatan langit dan kalau cara ini kita operasikan ke dalam baris kedua afrilia, maka langit sebagai tanda tampak mengecil - itu hanya langit wawasan manusia bumi, yang mungkin kalau dikonkretkan, itu sebuah institusi tempat di mana kaum sekolah belajar akan alam dan dengan kepengetahuan akan alam ia tampak kuasa menyelamatkan nasib manusia - katakanlah nasib dari perasaan aku bahasa ini, rupanya, adalah isi dari cerita orang berperang.

jadi ada yang luka di perasaan manusia di baris pertama itu. dan institusi rumah sakit itulah, dengan segenap otak dan alat, yang sangguh mengobati dan menyembuhkan luka itu. tapi ia terbatas sekali, hanya luka tubuh; hanya harapan bumi. langitnya rendah. tapi inilah paradigmanya. ia mirip novel camus sampar itu, di mana langit harapan, yang ditarik lebih dekat, hanyalah upaya sekumpulan orang orang gila terhadap kemanusiaan.

andai paradigmanya kita ubah, maka langit membeyond segala harapan bumi dan bertemulah kita kepada langit di atas metafisika, tempat di mana orang mati juga, tapi mereka mati dengan harapan oleh iman yang menyala di dada mereka.

saya berpegang dengan paradigma semacam ini, walau tak saya sebutkan surat dan ayatnya oleh diri tahu kita ini kafiran, tapi kita berpegang ke paradigma ini, tempat di mana langit afrilia ini bersandar.

25 Oktober 2013 pukul 22:07

"hujan di telapak tangan"

"menarik langit lebih dekat", untuk suatu harapan yang didambakan, atau gaya dalam dunia formal orang berdoa, itu suatu kabar dari keberhasilan bukan main dalam perspektif puisi sebagai pengucapan dalam bahasa. keadaan manusia berdoa dengan cara melepaskan tubuhnya jadi "layang-layang", dan cara "layang-layang" ini diucapkan, sepenuhnya telah dibentukkan dalam sifat dunia tanda dalam puisi ("mengambil tali layang-layang).

jadi doa yang abstrak alamatnya itu, telah dibuat konkret dengan memakaikan medium (langit sebagai tanda serta layang-layang sebagai tanda). seakan-akan kita melihat dunia batin yang memanjangkan tubuhnya, dengan cara meminjam dunia anak-anak bermain adalah "layang-layang", sehingga diri naik ke langit tapi agar sampai, "langit" itu ditarik ke bawah, sehingga diri-layang-layang itu mendekati langit yang turun. tapi kata "layang-layang" itu sendiri adalah sebuah ganda makna (tubuh sebagai layang-layang, yang goyang di udara; tubuh sebagai layang-layang, yang mekar dan memanjang ke udara), itulah ketidaktunggalan tubuh yang diumpamakan sebagai layang-layang.

jadi baris baris afrilia ini, bukan main menggerakkan tubuh itu, ke dalam dunia kiasan dengan "langit" sebagai arahnya.


terasa baris-baris afrilia utami itu tak dibuat lewat permainan akal sadar, tapi semacam diri yang terbius dan kata-kata melompat saja mengambil alurnya. seolah-olah sang penyair, mengalami trance dan keadaan ketidaksadaran itu, membuat kata seolah lepas saja dari tubuhnya. akan sukar bukan main, memainkan kata dalam keadaan yang sehalus itu, dengan dunia abstrak dibuat maju mundur, jadi konkret, untuk pecah lagi ke dunia abstrak, dunia yang tak nyata, kalau hanya mengandalkan akal semata. sebab akal itu berpikir, berhenti dan mengamati, memikirkan. tapi tidak perasaan, yang meletus dan mulai mengambil alih pikiran lewat mekarnya pecahan pecahan perasaan ke bahasa, lewat kata.

kita lalu bertemu dengan misteri kata di dalam puisi, bahwa kata-kata, sebelum menjadi organisme dalam bahasa telah mewujud sebagai organisme dalam jiwa manusia, tapi masih dalam keadaan yang tak terikat, semacam pecahan pecahan ingatan dan kenangan yang timbul tenggelam, lepas di sana sini.

keadaan trance puisi ini membuat saya tertarik untuk sekali lagi memasuki dunia perbandingan yang dalam hal ini dunia orang berzikir - boleh berzikir - tapi bukan berdoa, dengan cara apa saja, orang tenggelam dalam lautan zikir dan Tuhan yang dibayangkan tenggelam dalam lautan abstrak yang nyata. Nyata oleh dunia jiwa kita itu ada dalam ruang yakni alam semesta ini: kita tenggelam tapi ketertenggelaman kita masih di dalam dunia. tapi di dalam dunia itu orang mati-matian bukan membayangkan (tahap awal), tapi kemudian mengalami, merasakan Tuhan yang tetap bersembunyi. itulah saya kira mengapa kata, begitu licin dan sukar dipegang di baris baris afrilia utami***

0 komentar:

Posting Komentar