Rabu, 28 Januari 2015

Abdul Hadi WM.


salah seorang penyair terbesar setelah angkatan 45salah seorang penyair terbesar setelah angkatan 45*yang dibayangkan Jurnal

  Dari banyak sajak-sajak kita, sajak sajak abdul hadi termasuk yang paling saya sukai oleh cara pembentukan metafor dalam sajak. saya suka karena di sajak sajak abdul hadi, kita melihat kepenuhan emosi yang sangat berhasil diolah lewat dunia kiasan dalam puisi. misalnya "ke mana lagi kita akan menghindar dan mengambang?", adalah pembentukan tanda yang begitu lembut, membuat kita ikut langsung bersama, berada dalam baris sajak yang memukau itu - tergantung pada angin. saya hanya memohon diberikan kekuatan, kesehatan, serta kesempatan lewat semangat terus-menerus, semoga tak lama lagi jurnal ini bisa keluar dengan cetakan satu demi satu, memfokuskan diri kepada satu jurnal satu penyair/sastrawan, di samping serial yang membawakan beberapa penyair dalam volume volume cetakannya. mengapa begini? sebagian karena, atau lebih utama disebabkan oleh, cara saya melakukan kepenulisan di dalam sastra. saya mencintai kata, pembentukan kiasan, cinta yang membuat saya begitu jauh mengikutinya. sehingga tak mungkin kalau tanpa satu serial utuh tentang seorang penyair/sastrawan, andai ia saya terbitkan. seperti sekarang ini, saya telah menuliskan, rupanya, tak terasa begitu panjang misal nugroho suksmanto, helena adriany, afrilia utami, erry amanda, lia amalia sulaksmi, agi dari malaysia, abdul hadi, sutardji, afrizal, nirwan, saut, mijilnya gieb, ahmad, atau Djazlam Zainal dari malaysia. satu buku utuh, cetakan jurnal utuh, telah berhasil saya terbitkan dengan cara seperti ini. adalah buku/cetakan jurnal, saat tao diisap mim, buku esai tentang dato kemala. itu yang ingin saya kerjakan terus-menerus. dengan begitu kita sebagai penulis sastra mendapatkan kepuasan karena telah bergaul dengan objek tulisan yang meluas tanpa batas. sambil berharap juga, mudah mudahan begitulah cara jurnal ini membawakan pengarang ke panggung sastra kita, dengan melihat dan menghayatinya berlama-lama.

0 komentar:

Posting Komentar