TUHAN HIDUP KEMBALI"Pusat Makna Dalam Puisi?"Kembali ke persepsi lagi, kita kini digoda oleh keyakinan - keyakinan ilmu sastra, bahwa ada pusat dari suatu bahasa, pusat makna dan kita memang, kadang merasakan apa yang dianggap pusat makna ini.
Di mana letaknya, kalau memang ada pusat makna itu? bagaimana cara ia, pusat ini, atau puisi itu, menyebarkan kuasanya, (pusat maknanya), ke pinggiran-pinggirannya? mengapa kunang-kunang itu menyimpulkan dirinya? seolah-olah ia hendak menggenggam pusat makna yang telah ia sebar lewat permainan penuh mungkin dari tiap apa yang ia citrakan - mengapa begitu? apa yang sedang bekerja di 'pusat makna kunang kunang'? Kita dibayang-bayangi oleh permainan persepsi dalam perspektifnya itu lagi.
Tetapi kita sedang membaca jejak "kunang-kunang" yang sedang kita buat tak stabil: ia jadi tanda juga, lewat persepsi dari suatu perspektif sehingga apa yang melayap senyap di malam hari, kata, dari kerumunan benda dan objek objek sedunia, menjadi tanda adalah seolah "kunang-kunang", sehingga ruang puisi kunang-kunang ini menyediakan diri untuk pengelihatan pada "kunang-kunang lain".
Lewat perumusan di atas itu kita mencobakan, membaca persepsi yang diletakkan kunang kunang sebagai dunia tanda yang mudah sekali tergelincir sehingga seolah ini tapi itu, sebelum ia muncul lewat seakan membantah dunia tergelincirnya sendiri - muncul di akhir puisi, dan apakah kini kita akan membawakan bahasa diskursif penyairnya untuk melihat bagaimana cara ia mengerjakan ideologi puisi itu saat menjadi ciptaan, sebagai puisi - puisi kunang kunang? ada bahan yang agak representatif untuk melihatnya, muasal dunia menarik yang dibuat menggelincir sehingga kita, pembaca, boleh jadi sukar menangkap "center"nya, puisi kunang kunang ini.
Begitu? atau tidak demikian karena kita telah mendapatkan kode permainan si penyair, atau sedang meletakkan diri ke cara "baru" untuk mengerti dunia puisi. Cara bahwa tak ada pusat makna karena setiap bait, bahkan sebaris puisi, memiliki keindahan dari kemurnian maknanya sendiri, yang benar memang tengah bersatu melipatkan makna diri mereka tapi bukan dalam, kerangka makna tunggal, center yang sudah jadi anggapan dunia ilmu sastra pada galibnya itu.
Alhasil makna bisa saja, oleh pembaca, merebah di baris awalnya, atau di bait tengahnya bahkan di hanya nama puisi saja. Segalanya terpulang kepada pembaca. tapi benarkah ini? tidakkah si penyair, berjuang dari garis dalam merapikan tiap apa yang ia persepsikan dan kini persepsi itu menjadi organisasi citra di dalam puisi.
Nirwan Dewanto
KUNANG-KUNANG
Dengan sisa bara aku mendaki ke arah urat nadimu, ke puncak
urat nadimu, di mana akan kutemukan kembali sebutir telur
malam yang pernah melahirkanku.
Baraku biru, begitu biru, sehingga sebatang sungai meninggikan
sayapnya ke arahku dan berkata, 'terbanglah seperti aku sebab
kau adalah kembaranku', tapi segera aku tahu ia tak bermata,
maka ia lupa siapa bundanya.
Kubuang semua pakaianku agar badai debu bulan
menggulungku ke sebentang cermin di mana kau akan tahu bahwa aku
remaja, masih juga remaja, agar aku mampu mencintaimu.
Kulupakan namaku ketika jutaan bulir padi mengepungku dan
berseru, 'kau salah satu dari kami sebab parasmu pucat pasi', dan
tiba-tiba aku menjadi tua sebab kami harus menghapus rasa
laparmu.
Panggil aku sesukamu agar kau tak terlampau kenyang,
panggilah aku, misalnya, punuk lembu jika aku cukup suci, atau batu
gerinjam jika aku hampir mati, atau kembang api jika aku tak
sengaja mengenyangkanmu, mengejangkanmu.
Meninggi, terus meninggi, aku pun sadar akan merah darah yang
selalu menarikku ke bawah, lebih ke bawah lagi, merah seluas
laut yang akhirnya merampas terang dariku sehingga aku tak
sanggup memandangmu.
Baiklah, sudah kaureguk berbulir-bulir baraku mahabiru, maka
ijinkanlah aku jadi buta dan bahagia, agar tak lagi aku mampu
membedakan urat nadimu dari sang sungai yang selalu cemburu
padaku.
Di arus ganda mengambang aku mencari puncakmu, tapi aku
hanya sampai ke palungmu, di mana sebutir jantung hitam
legam atau merah padam segera membenturku, meremukkanku,
menyerakkanku ke ufuk terjauh setelah ia berkata, 'kau bukan
anakku.'
Menatap ke cermin kau tak akan sanggup lagi mencintaiku, sebab
aku adalah kami, zarah atau zurrah tak terbilang jumlah, yang
membubuhkan fajar terlalu lekas ke alis matamu.
(2006)
Puisi "kunang-kunang" memperlihatkan gejala bahasa dekat sekaligus pada saat yang sama jauh. Tiap kata di sana diintensifkan dan pengintensifan itu memakai tehnik "dekat sekaligus jauh". barangkali bukan tehnik, lebih tepat program berbahasa di mana sintaksisnya biasa saja, tapi semantis makna yang dihasilnya berada dalam tegangan "dekat tapi (men)jauh". Kita mengalami kehadiran kata yang kita kenali, tapi pada saat yang sama, kata yang kita kenali dengan baik itu membawa kita men-jauh, mengabur. Cara berbahasa seperti itu datang dari persepsi penyair pada kehakikatan berbahasa, khususnya bahasa bermedium puisi, tapi manakala kita keluar dari bahasa (puisi), maka kita akan bertemu pada persepsi penyair akan relasi kehidupan dalam perspektif pikiran, bahwa penyairnya memikirkan dunia lewat cara tertentu. Pastilah mula-mula kita akan terkesima akan cara kata dipakai di dalam puisi, yang lain dari cara kata yang pernah dipakai dalam dunia kepuisian kita (baca esai jsth: "membaca mundur dan membaca maju").
Membaca esai penyair bukanlah sebuah jaminan karena kemungkinan ide di luar, di benak penyair, bisa saja tidak sampai saat bahasa mulai bekerja dari dalam, bahwa puisi dengan begini seolah tubuh sebagai struktur: unit-unitnya bekerja sendiri dari dalam, mandiri seperti kerja jantung yang, unik jantung ini. ia bekerja begitu mandiri tanpa kita minta. Ia sebuah otomatis dalam tubuh bahkan tanpa pernah kita menyadarinya. seperti jantung itu pula rupanya: pusat dari dalam puisi memompakan darah makna via kata, ke segenap tepian tepiannya untuk diisapnya kembali. sebuah struktur dengan unit unit dalam tubuh seolah unit unit dalam puisi, menopang tubuh di luar agar tak rubuh, menopang tubuh di dalam agar bahasa kuasa terus tegak berdiri - apakah tubuh suatu saat seolah penis mati? layu seperti puisi: lemes dari cara kata digerakkan - pada seluruhnya? atau pada bagian bagian tertentu seakan alat vital manusia: lemes bila sudah terpakai, tapi ia unik: tenggelam tak kelihatan di dalam badan. suatu perbandingan bisa kita tarik terus untuk menyegarkan pandangan atas bahasa.
Segalanya berpusat pada kata, dunia moderen sebagai hasil dari dunia gelap tapi telah tercerahkan, sampai lewat kata juga, sampai kadang, kita berpikir apakah kata, bahasa itu, adalah pikiran karena saat kita berpikir, bahasa, kata, itu berimpit sehingga tidak jelas lagi mana pikiran dan mana bahasa. seolah berimpitnya penanda dalam puisi dengan maknanya, sampai kita mengambil jarak merenggang dan mulai tahu, bahwa penanda itu seolah batang tubuh kita juga, bisa terkubur (misal tidur), tapi tidak jiwanya - tidak petandanya). Kunang kunang itu juga, suatu sentuhan dari sebuah olahan: si penyair merenungi dunia yang disebutkan sebagai sebuah tata, yang teratur, tapi lalu membeku rutin karena keteraturan, yang di bawah arus sungai terdalam dari keteraturan ini adalah pengetahuan yang telah digenggam oleh tangan, bahwa memang begitulah kenyataan.
Sekali terpegang hulunya hilirnya dengan mudah bisa kita ketahui. apakah hulu ini pusat makna dalam puisi? pusat yang menyebarkan karena kuasa di tangannya kamu dapat ini dan aku - kamu yang lain di line puisi, dapat itu. dan apa yang dapat itu atas jasa pengetahuan-kekuasaan si aku pusat, sehingga hidup seolah begitu tertib: tak lagi ada passion, diri bangun untuk masuk ke dalam line-tubuh-manusia agar pagi ini bisa dapat sebantal roti, untuk sarapan pagi. rutin kamu dapat kulkas satu aku dapat kulkas satu juga.
Tak ada gelombang yang bisa kita tebak lagi, suatu sempal, bagi kemungkinan free will kata untuk bermain, bergerak membalik atau mengajak, kata yang lain tiba tiba melakukan salto yang tiada terduga sama sekali. persis terbalik dari gerak yang dibayangkan ini, begitulah kunang kunang bermain, meretas apa yang rutin dalam bahasa oleh ideologi si penyair, membawa kabur dengan cara menempelkan ke pundak apa yang tampak jelas, diberi beban abstrak sehingga yang jelas tadi kini mulai menjadi bayang bayang, terpental dari dalam puisi ia menjadi pemikiran dalam dunia ini, yang hinggap di kenyataan hidup, yang telah tertaklukkan oleh birokrasi kelewat besar sehingga manusia manusia massa terpintal di dalamnya, kecuali sedikit dari mereka, meregang dan mulai bergerak ke linenya sendiri. dari sini mereka menembak, dari dalam pikirannya dan kini, dari dalam puisi.
Agar apa yang tampak telah digenggam oleh tangan itu, berantakan lagi. indah dunia yang tak pasti itu, sebab darinya kebenaran kecil kecilan bisa menjadi seolah mungilnya kunang kunang di malam sunyi, dari setiap hidup manusia yang sedang merenungi senyap dan sunyinya dunia juga - ia yang jauh dari kebenaran, dari kepastian, dari yang tunggal, yang memang tak ada itu, karena tiap apa yang benar berlaku pada konteksnya sendiri.
0 komentar:
Posting Komentar