afrilia utami
Sehujan Berdua
1.
Sayang, aku tak suka puitis. Tapi inilah bahasa hatiku yang keluar dengan liar ingin menuju pintu masuk hatimu. Mataku tertahan di lantai terbawah langit, di tempat yang sama aku menemukanmu dalam buku. Kau hidup menjadi imajinasi yang nyata. Menarik-narik jariku, menarik lagi isi kepalaku, untuk mengukirmu di atas hegemoni emosiku.
Cintaku bukan cinta biasa. Aku bisa membangkitkan kematian, aku bisa mematikan kehidupan. Seperti Tuhan, selama aku ingin mengenal cinta lebih dalam. Seperti kedalaman mercusuar di pelabuhan, ia menyoroti tiap mata, tiap matamu, tiap mataku. Seperti mata Tuhan. Membikin lampu menerangi hati yang tersembunyi dibalik bajunya.
Di dalam pikiran ada mutiara-mutiara kecil yang ingin dilepas tapi tak bisa. Hilanglah semua emas, tapi janganlah kau. Hilanglah semua saham, tapi jangan kau. Hilanglah keinginanku, tapi jangan kau. Hilanglah semua rinduku, tapi jangan kau. Hilanglah aku, tapi juga denganmu. Kita hilang bersama ke dalam cerobong di musim dingin. Es-es putih meleleh di pipimu, menjadi serutan air yang membeku di atas bibir sungai yang kita buat dengan darah dari jantung kita.
Apa kau bersedia mati bersamaku? Saat cinta bertandang, ia melepas usia suka dan dukacitanya. Aku ingin melipat tubuhmu, memasukkan ke dalam pena. Pena yang akan kutuliskan di halaman syurga. Yang aku bentuk adalah kenangan yang melepas kita pada kematian, keabadian. Tak lagi ada lara hinggap. Kita abadi, membebaskan keinginan cinta kita, menemui Tuhan yang kita jaga dalam cinta selama ini. Maukah semati denganku? Secinta? Sehujan berdua.
Sehujan Berdua -2
16 Februari 2014 pukul 6:10
Bagaimana jadinya apabila aku bisa merubah wujudku. Jadi semauku. Menyelundup ke masa lalu. Ya, aku ingin menemukan mesin waktu sekaligus pengubah wujud. Agar aku bisa masuk ke pintu-pintu momentum yang indah saja.
Kita duduk, di ketinggian. Daratan rendah dari mata langit. Kita membangun api unggun menjadi kamar, bukan tenda, di antara ribuan pinus. Tapi api unggun. Apabila gelisah terlalu menekan daun-daun yang jatuh dari tangkainya. Mari, kita buat mereka tumbuh lagi dari tanah.
Aku menyusup ke pori-porimu, masuk dan bermutasi dengan DNA. Aku ingin mengkloning cinta agar ia mudah diatur. Di ketinggian ini, aku melihat wujud cinta. Saat kelangkang langit terbuka, bola mata yang bertukar ruang. Ada bayangan tergelincir masuk. Dihayati mendalam oleh dada yang rela menanam kerelaannya.
Jika aku sakit, jangan marah karena nanti aku bisa tambah parah. Kalau aku parah, aku tak akan punya kesempatan lagi untuk menyirami tanaman-tanaman yang tumbuh dari taman hati kita. Daun yang jatuh dari tangkainya, jangan dibiarkan telanjang kedinginan merenungi nasib langit. Aku ingin api unggun jadi abadi menemaninya. Agar ia tak dingin, tak sedingin api unggun yang mati kemarin.
Sehujan Berdua -3
18 Februari 2014 pukul 3:48
Mengapa tahun tak mau bilang kalau ia berubah tiba-tiba? Kenapa detik ke abad suka berbisik. Suka menggelitik. Lama kita ditampung di dalam, bereaksi dengan angka-angka yang terus bertambah panjang.
Entah esok hari? Lusa? Minggu? Pekan? Atau kali akhir waktu bisa kita prediksikan. Aku ingin kau duduk, sebangku dan sejajar denganku. Keluarkan kisah-kisah yang indah dari lambungmu, dari hatimu, dan dari jantungmu, ya mulutmu.
Buang saja apa yang tak memberi kita kesenangan, jagalah apa yang buat kita menyenangi waktu. Mensyukuri segala permukaan hidup. Aku gemgami tanganmu, sedatar dengan dadaku. Memenuhi segala kata yang buat anak-anak kita mengalami bahagia.
Di sinilah letak kita, Sayangku.
sekedar mengakrabi bahasa sehujan berdua
bagian 1 sehujan berdua itu menarik dan setiap yang menarik selalu datang dari ucapan yang keluar dari dalam bahasa. ucapan sehujan berdua itu dimulai dengan menidakkan, tapi sekaligus mengiyakan. puitis ditidakkan, tapi sayang diadakan. ini agak lain dengan novel indarvis inda itu, yang bertutur lembut sejak dari awal. sehujan berdua itu seolah hujan yang telah ia kuasai: sehujan, katanya, begitu pendek se itu mengikat air hujan. bahasa jadi ringkas, ia meringkas alam. tapi ia meringkas jiwanya sendiri juga. ia menghadap-hadapkan.
Sehujan Berdua
1.
Sayang, aku tak suka puitis. Tapi inilah bahasa hatiku yang keluar dengan liar ingin menuju pintu masuk hatimu. Mataku tertahan di lantai terbawah langit, di tempat yang sama aku menemukanmu dalam buku. Kau hidup menjadi imajinasi yang nyata. Menarik-narik jariku, menarik lagi isi kepalaku, untuk mengukirmu di atas hegemoni emosiku.
Cintaku bukan cinta biasa. Aku bisa membangkitkan kematian, aku bisa mematikan kehidupan. Seperti Tuhan, selama aku ingin mengenal cinta lebih dalam. Seperti kedalaman mercusuar di pelabuhan, ia menyoroti tiap mata, tiap matamu, tiap mataku. Seperti mata Tuhan. Membikin lampu menerangi hati yang tersembunyi dibalik bajunya.
Di dalam pikiran ada mutiara-mutiara kecil yang ingin dilepas tapi tak bisa. Hilanglah semua emas, tapi janganlah kau. Hilanglah semua saham, tapi jangan kau. Hilanglah keinginanku, tapi jangan kau. Hilanglah semua rinduku, tapi jangan kau. Hilanglah aku, tapi juga denganmu. Kita hilang bersama ke dalam cerobong di musim dingin. Es-es putih meleleh di pipimu, menjadi serutan air yang membeku di atas bibir sungai yang kita buat dengan darah dari jantung kita.
Apa kau bersedia mati bersamaku? Saat cinta bertandang, ia melepas usia suka dan dukacitanya. Aku ingin melipat tubuhmu, memasukkan ke dalam pena. Pena yang akan kutuliskan di halaman syurga. Yang aku bentuk adalah kenangan yang melepas kita pada kematian, keabadian. Tak lagi ada lara hinggap. Kita abadi, membebaskan keinginan cinta kita, menemui Tuhan yang kita jaga dalam cinta selama ini. Maukah semati denganku? Secinta? Sehujan berdua.
Sehujan Berdua -2
16 Februari 2014 pukul 6:10
Bagaimana jadinya apabila aku bisa merubah wujudku. Jadi semauku. Menyelundup ke masa lalu. Ya, aku ingin menemukan mesin waktu sekaligus pengubah wujud. Agar aku bisa masuk ke pintu-pintu momentum yang indah saja.
Kita duduk, di ketinggian. Daratan rendah dari mata langit. Kita membangun api unggun menjadi kamar, bukan tenda, di antara ribuan pinus. Tapi api unggun. Apabila gelisah terlalu menekan daun-daun yang jatuh dari tangkainya. Mari, kita buat mereka tumbuh lagi dari tanah.
Aku menyusup ke pori-porimu, masuk dan bermutasi dengan DNA. Aku ingin mengkloning cinta agar ia mudah diatur. Di ketinggian ini, aku melihat wujud cinta. Saat kelangkang langit terbuka, bola mata yang bertukar ruang. Ada bayangan tergelincir masuk. Dihayati mendalam oleh dada yang rela menanam kerelaannya.
Jika aku sakit, jangan marah karena nanti aku bisa tambah parah. Kalau aku parah, aku tak akan punya kesempatan lagi untuk menyirami tanaman-tanaman yang tumbuh dari taman hati kita. Daun yang jatuh dari tangkainya, jangan dibiarkan telanjang kedinginan merenungi nasib langit. Aku ingin api unggun jadi abadi menemaninya. Agar ia tak dingin, tak sedingin api unggun yang mati kemarin.
Sehujan Berdua -3
18 Februari 2014 pukul 3:48
Mengapa tahun tak mau bilang kalau ia berubah tiba-tiba? Kenapa detik ke abad suka berbisik. Suka menggelitik. Lama kita ditampung di dalam, bereaksi dengan angka-angka yang terus bertambah panjang.
Entah esok hari? Lusa? Minggu? Pekan? Atau kali akhir waktu bisa kita prediksikan. Aku ingin kau duduk, sebangku dan sejajar denganku. Keluarkan kisah-kisah yang indah dari lambungmu, dari hatimu, dan dari jantungmu, ya mulutmu.
Buang saja apa yang tak memberi kita kesenangan, jagalah apa yang buat kita menyenangi waktu. Mensyukuri segala permukaan hidup. Aku gemgami tanganmu, sedatar dengan dadaku. Memenuhi segala kata yang buat anak-anak kita mengalami bahagia.
Di sinilah letak kita, Sayangku.
sekedar mengakrabi bahasa sehujan berdua
bagian 1 sehujan berdua itu menarik dan setiap yang menarik selalu datang dari ucapan yang keluar dari dalam bahasa. ucapan sehujan berdua itu dimulai dengan menidakkan, tapi sekaligus mengiyakan. puitis ditidakkan, tapi sayang diadakan. ini agak lain dengan novel indarvis inda itu, yang bertutur lembut sejak dari awal. sehujan berdua itu seolah hujan yang telah ia kuasai: sehujan, katanya, begitu pendek se itu mengikat air hujan. bahasa jadi ringkas, ia meringkas alam. tapi ia meringkas jiwanya sendiri juga. ia menghadap-hadapkan.
0 komentar:
Posting Komentar