Senin, 26 Januari 2015

1. KRITIK sastra


KETIDAKPASTIAN BAHASAKETIDAKPASTIAN BAHASA1 Uncertainty Principle

    Prinsip Ketidakpastian adalah sebuah nama yang memiliki kemiripan dengan relativitas, memiliki kesamaan pula dengan misalnya pernyataan bahwa bahasa puisi adalah paradoks. Mereka sama-sama memiliki ukuran, dan, kalau baik Einstein atau Heisenberg memiliki “matematis”, demikian juga dengan Cleanth Brooks yang dikutip Culler (Strcturalist Poetics, hal. 162), puisi, memiliki “paradoks” untuk mengucapkan dirinya sendiri: “The language of poetry is the language of paradox.” Seolah-olah paradoks itu sebuah kesalahan, atau ketakterhitungan, ketakterukuran, dalam dunia ilmu, sebelum kita tahu ia adalah kebenaran lewat sudut pandang, darimana kita memiliki persepsi atasnya. Perspektif bahwa dunia itu pada dasarnya satu tapi sedang memecah-mecah dirinya, mulai lagi.ALIIMALIIM

    Baik fisika maupun bahasa, (sastra sebagai salah satu produknya), bukanlah paradoks dipandang dari satu jurusan, (perspektif) bahwa mata kita sedang bekerja dari dua arah yang berbeda. Mata Sartre tampak nyata sedang memandangi dalam pikirannya tubuh Camus dan apa yang nyata itulah bahasa (seperti fisika dikendalikan oleh hukum matematis yang sama, angka pada fisika, abjad pada bahasa). Kalimat Sartre ini dibentuk oleh alfabet, tidak bisa melewati hukum subjek dan objek serta predikat. Bahwa seseorang subjek sedang memikirkan objek – subjek yang lain, dengan predikat yang disandangnya adalah rasa ingin tahu dengan rasa senyap di hati. Kami memikirkan sedang apa ia dan kami tahu ia sejak itu membisu, adalah gabungan subjek objek predikat dalam bentukan kalimat yang dipakai subjek, dipakai Jean-Paul Sartre dalam tulisannya mengenang Albert Camus yang telah pergi (meninggal mendadak karena kecelakaan mobil).

"What is he going to do?"
“He and I had quarreled.”

“Apa yang sedang dilakukannya saat ini?”
“Kami memang sedang bertengkar.”

    Lihatlah subjek itu, bekerja dengan objek lewat predikat yang mengikat mereka. Itulah hukum kepastian tapi menjadi ketidakpastian saat ia keluar dari tata bahasa, bergerak ke maknanya. Seperti jalan fisika juga, yang diikat oleh hukum kepastian saat mereka mendayakan matematis ke dalam, misalnya persamaan Einstein yang terkenal itu. Persamaan yang sama dengan 2 + 2 = 4, penambahan yang sama pastinya dengan hukum bahasa, subjek pergi ke objek dengan bayang-bayang predikat di antara mereka.

    Dari dunia maya kita baru saja menemukan cara seseorang mengatakan prinsip ketidakpastian Heisenberg, seperti dari dunia maya juga kita menemukan tulisan Warner Heisenberg, Physics and Philosophy.


2 Aliim

   Adalah Budi Yanto yang kita temukan di “Sridianti.com” – edukasi teknologi dan informasi, yang membuat prinsip ketidakpastian itu jadi terbayangkan lewat penggambarannya, walau tanpa penggambaran ini, atau lewat jalan lain, seperti jalan yang terus kita coba jelajahi ini, prinsip ketidakpastian itu bekerja di dalam satuan-satuan apa saja. Jadi, tidak harus lewat jalan fisika, atau jalan fisika ini yang kita lihat memiliki persamaan saat benda itu dibuat mengecil, atau saat kelak, tiap kata kita buat mundur sehingga yang tersisa hanyalah titik, dan titik ini juga sekali lagi kita buat mundur, membuat sebuah dunia sempurna sebagai dunia yang menghilang pada bahasa, sub atomic pada dunia fisika.

    Mereka berdua kini berada dalam keadaan yang kecil sekali, kekecilan yang akhirnya membawakan ketidakpastian, dunia relative kalau dalam istilah Einstein, paradoks pada cleant brooks. Atau kalau kita kini keluar dari bahasa sastra dan bahasa fisika, memasuki bahasa scriptural, maka lima buah kata ditempatkan alam keadaan paradoks dengan setiap kata ditarik oleh kontradiksinya sendiri. Yakni kata awal dan kata akhir, kata zhahir dan kata batin. Serta sebuah kata yang melintasi mereka (kita yang diberi pengetahuan sedikit), untuk kelak diisapnya lagi, lewat Ialah yang Maha tahu – alim, bahwa dunia “besar” dan dunia “kecil” yang kita ketahui itu hanyalah sedikit saja.

   Bahasa ilmu pengetahuan (Einsteins: relative; Heisenberg: prinsip ketidakpastian; Brooks: bahasa puisi adalah paradoks). Bahasa kitab suci: tidak ada yang pasti kecuali kepastian diriku karena kami, selembar daun jatuh, sebesar bahkan lebih kecil dari zarrah (atom pun) kami tahu - alim. 

    Budi Yanto,

     Prinsip Ketidakpastian Heisenberg

    Fitur lain yang unik untuk mekanika kuantum adalah prinsip ketidakpastian. Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menyatakan bahwa tidak mungkin untuk menentukan secara simultan baik posisi dan kecepatan partikel. Misalnya, Pendeteksian terhadap elektron, akan dilakukan dengan cara interaksi dengan foton cahaya. Karena foton dan elektron memiliki energi yang hampir sama, setiap upaya untuk menemukan sebuah elektron dengan foton tentunya akan menabrak elektron, sehingga akan muncul ketidakpastian tentang di mana elektron berada (lihat Gambar di bawah). Kita tidak perlu khawatir tentang prinsip ketidakpastian untuk benda sehari-hari karena mereka memiliki massa yang besar. Jika Anda sedang mencari sesuatu dengan senter, foton yang berasal dari senter tidak akan menyebabkan hal yang Anda cari akan bergerak. Hal ini tidak terjadi dengan partikel yang berukuran atomik, para ilmuwan terkemuka telah pemahaman baru tentang bagaimana untuk membayangkan lokasi elektron dalam atom.


3 Jauh & Dekat

   Itulah dia jauh dan dekat. Hal hal yang tampak berbeda rupanya diikat oleh prinsip yang sama. Ia mulai kelihatan, tampak, saat hal-hal tehnis (ilmu) mulai dilepaskan. Mata kita menjadi senter dan kalimat Sartre itu tidak berubah. Juga kalimat Nietzsche ini tetap di tempatnya, jelas terbaca: "The will to Truth...What strange, perplexing, questionable questions!" Pendek kata orang ingin tahu, walau ia "jauh" (opositnya "dekat"), walau ia "Kecil" (opositnya "besar").Tetapi apakah yang dibawakan oleh kalimat "dekat" ini (penandanya terbaca dengan jelas: the will to Truth, ia bukan t tapi kapital, artinya suatu orientasi akan Kebenaran bukan kebenaran - nah ia oleh itu mungkin Tuhan, atau ke bawahnya, Keabadian yang tapi rupanya fana ini). Segera penanda Truth ini menghilang, menjadi kecil seolah elektron yang dipandangi oleh Heisenberg di bawah mikroskop itu.


   "Betapa kita tak berdaya, tidak tahu, atas segala fenomena besar kecil yang amat menakjubkan ini"

   Mata senter kita seolah-olah melihat kapur yang amat terkenal itu, jatuh berserakan dan mata ini terus melihatnya, ke arah yang paling tak terbagi lagi, tempat kapur penanda ini kini sempurna menghilang sebagai kapur petanda.

    Ia adalah sepotong kapur yang diam, sebelum digerakkan tangan yang menulis membuat kapur itu jadi serpihan-serpihan debu sehingga ke serpihannya yang paling kecil, tak terbagi dan karena itu ia disebut atom. Dan di dalam atom ada atom lagi yaitu partikel-partikel pendukung atom seumpaman electron itu.

    Apa jadinya kini andai ia kita proyeksikan ke badan kita sendiri, yang padat tapi rupanya, oleh cara kapur penanda badan ini bekerja, kita bertemu dengan jela-jela alias kekosongan, dan sebuah ilmu fisika lain yakni fisika atom asyariah kini mulai bekerja dan hasilnya sama juga dengan atom-atom “yunani” ini, bahwa dunia menghilang dan di dalam kemenghilangan dunia ini segala “electron” bergerak serentak dalam gerakan menyeluruh terikat satu sama lain tapi pada saat yang sama, bukanlah dunia sebab akibat karena penyebabnya saja yang berkuasa mutlak atasnya. Bukan sebab ilmu marx maka lahir komunisme tapi karena Ia yang menghendaki kaum ini ada dalam dunia, contoh ekstrem dan terapan dari pandangan keserbamahatuhanan ini.


    "Saat persamaannya didekatkan, kita tak lagi memerlukan matamatis-bahasa"

   Seolah-olah kita melihat ada akal sehat di tubuh penanda, kapur besar adalah manusia ini, sebelum pada saat yang sama ia adalah, hanyalah, kumparan kumparan atomik di kedalaman, tempat mata orang fisika memandangi, sunyi merenungi mengapa laku elektron begitu tak teramalkan, elektron yang tak pasti seperti pusat ukuran, tempat einstein berdiri menguku juga, dipengaruhi oleh relativitas. kita lalu tahu, persis di sini, segala titik itu jadi bertemu dengan cara menghilangan matematis-bahasa-paradosknya, bahwa diri hanyalah elektron-elektron yang tidak tahu, diliputi oleh relativias dalam irama ketidakpastian. segalanya jadi paradoks: seolah ada akal sehat dan memang benar, akal sehat ini yang menarik langkahku menjemput kata kata the Truth nietzsche tadi, sebelum tahu tahu, jauh di kedalaman semua ini diam diam ada tangan tak kelihatan yang sedang bekerja, menata semuanya tanpa diikat oleh hukum sebab akibat yang sering kita mengerti itu.


"Rahasia dari surat besi : Alim"

    *Tangan siapa yang kuat membuat kapal ia yang akan berlayar, jalan-jalan ke negeri negeri yang jauh, termasuk jalan jalan ke luar angkasa, atau jalan jalan ke dalam hati seperti para peziarah kebahasaan itu, dan semua itu memerlukan besi, sehingga besi ini berubah jadi tanda yakni "besi". Inilah rahasia diletakkan kepada kata tahu, ujung salah satu ayat dari surat besi ini, bahwa ia alamat ilmu pengetahuan serta sekaligus kerendahan hati, karena ilmu kita, seperti kata sutardji, walau habislah sudah alif bataku ini, tak juga sampai sebatas allah akan apa yang aku tahu.

    Dalam prinsip di tangan kita telah ada tiga pengucapan yakni dunia ini relatif, dunia ini berada dalam ketidakpastian, dunia ini ada dalam keadaan paradoks - pengucapan lain dari relatif dan ketidak pastian, pengucapan yang bekerja secara khusus di bawah 'ilmu'nya masing-masing tapi mereka diikat, terikat oleh prinsip utamanya bahwa apa yang mereka lihat itu bukanlah sebuah dunia kepastian dari segala arah orang memandanginya, tapi sangat bergantung darimana ia berdiri, dan karena itu relatif, tidak pasti, atau paradoks lewat setiap kontradiksi yang akan menariknya.

    Bahwa semua itu dilipat olehNya lewat namanya adalah alim (al hadid ayat 3 ). besi, nama surat ini, seolah adalah tanda yang mengabarkan bahwa ikatan-ikatan ketidakpastian itu memang akan kokoh di tempatnya. seperti kokohnya pula Ia yang mengikat semua ciptaanNya ini. bahwa besi itu sebuah lambang dari kekokohan ikatan. atau lambang dari kehendak, jiwa dan hati dari setiap ada yang membesi, tak bisa berpaling, dari ikatan yang mengikat mereka. maka salah satu rahasia tersamar dari surat al hadid adalah, bahwa diam diam ia mengajarkan iman kepada hati manusia, bahwa diri terikat kepada ikatan yang menjadi hukum dunia, bahwa tiap ada tidak bisa berpaling dariNya, karena diikat, terikat, oleh hukumNya yakni besi sebagai ikatan yang mengikat setiap adaNya.

0 komentar:

Posting Komentar