Minggu, 25 Januari 2015

Membuka "Halte Biru"



Halte Biru
Afrilia Utami 
Penerbit Silalatu
Kuningan, Jawa Barat

    Sebuah buku yang mungil, secara fisik, segalanya tertata baik; mungil jadi indah lewat pesan yang dibawanya: kami penerbit dari kota kecil; afrilia utami? ia dari tasikmalaya, sebuah kota tempat bermukim penyair kenamaan acep zamzam noor. "menitis jiwa bahasa" ke afrilia utami. besar, mungil itu dari sudut wacana dunia: small is beautiful, kata schumacher dan bukunya, kecil itu indah, adalah buku yang sangat terkenal.


    jadi "kecil" adalah "mungil". foto af juga di sini mungil: anak anak, smp, tapi pujian seorang di belakang buku, bode riswandi, penyair, akademisi, bilang, af anak-anak tapi mengapa puisinya begitu dewasa. lama aku berkata begini di fbnya: af dirimu itu idealis, jarang kukenal orang seusiamu suka gie, suka pram, suka afrizal (mereka yang diberinya nama khusus di judul puisi); jadi, dunia bahasa yang mengikat warganya, pada ikatan ikatan kokoh spirit, jiwa keindahan bahasa dalam hal ini ciptaan sastra (puisi).

   ada satu hal yang menggodaku, kalau aku membaca buku, benar benar menggodaku sejak lama. adalah: mengapa lain, tulisan itu, saat mereka terpasang di komputer, saat mereka terpasang di fb, dan saat mereka terpasang jadi buku. nah pengalaman ini, yang sungguh sungguh miterius. di buku, setelah jadi buku, kualitas tulisan naik berlipat lipat. apa yang kita sangka biasa tahu tahu, rupanya, kualitasnya begitu baik. belum bisa aku memecahkan misteri mengapa hal itu terjadi. 

    sangat kebetulan ada dua bahan, yang melekat di buku halte biru ini, yang bisa mengatakan kemungkinan apa yang kita alami. misal kita membaca komentar acep zamzam noor, aku tertarik untuk mengujikan pendapatnya pada puisi kedua di buku ini. 

    Acep: "afrilia utami masih sangat muda, namun keakrabannya dengan bahasa, khususnya bahasa puisi, sepertinya sudah berlangsung lama. jika ada hal hal yang perlu diperhatikan, secara khusus, menurut saya terutama dalam hal menimbang serta menakar kata kata agar puisinya tidak kelebihan gula atau kekurangan garam."

   nah itu, yang kurasakan saat, misalnya, membaca puisi kedua di antologi halte biru ini, atau saat membaca puisi-puisinya di FB dulu, dari seluruh baris puisi rumput kertas, terasa olehku apa yang dikatakan acep pada dua kata yaitu "guntur" dan "ideologi". tapi sisanya, seluruh puisi rumput kertas bekerja seperti apa yang dikatakan oleh endorsmen kedua di belakang buku afrilia ini. yaitu, kata kata duddy rs, budayawan, penggerak sastra siswa tasikmalaya.

duddy,

"nada dan bunyi sangat ditentukan oleh pilihan kata. artinya, kemampuan menghayati dan memaknai kata sangat menentukan keberhasilan puisi. antologi puisi halte biru, karya penyair muda wanita tasikmalaya, afrilia utami, hadir pada saat yang tepat. menandai angkatan penyair belia yang sarat irama kata dan makna yang segar."

  kurasakan, kata kata dudy di baris baris selain, guntur dan ideologi, di puisi keduanya ini. sejenak saya ingin melihat apa yang telah dinyatakan itu, karena bagiku hal itu penting.

   kalaulah bahasa itu gema dari pengalaman kehidupan, maka rumput kertas itu gema yang matang sebagai bahasa, gema yang tertata indah sebagai cara puisi ditulis. ia indah sebab tanda berhasil menjadi tubuhnya - jadi puisi, dan lihatlah namanya sudah memainkan hidup ke dalam tanda: rumput kertas, dua dunia yang begitu rupa secara tanda. suatu kematangan dari cara mengalurkan kehidupan luar ke kehidupan bahasa, telah wujud lewat dua kata korelasional dengan metafor yang banyak arah ini.

    kita menghadapi jukstaposisi ekstrem dari dunia rumput dan dunia kertas, bentuk yang begitu jauh tapi didekatkan oleh si penyair. ia suatu godaan, dan kita meminta janji yang menggoda seperti itu pada isi. puisi ini, datang dengan janji yang ia tunaikan dengan baik - kecuali mungkin pada kata guntur dan ideologi yang kita hendak lihat juga. tapi, dua kata itu, seolah tenggelam pada baris baris afrilia utami. tenggelam, seraya masih menyisakan kesempurnaan bentuk. maafkan, kita pembaca, begitu rindu pada kesempurnaan bahasa, seperti nyamannya baris baris di bait-bait afrilia. 

   aku berhenti mengetik untuk membaca seluruh puisi rumput kertas ini, sambil terus memasang sebagai sirine kata kata acep, ia yang kuhormati karena perhitungannya pada kata, termasuk yang begitu rupa rasanya di antara para penyair kita itu. yang terjadi saat membaca rumput kertas ini, keterpesonaan pada, lagi lagi kualitas simbolik dari baris baris puisi ini. aku segera berada, dengan cara berdiri lama di depan "guntur" dan "ideologi", ingin merasakannya dalam kelengkapan makna serta keseimbangan bunyi kata, musiknya juga, tanda juga serta pesan yang hendak dikirimkan oleh si puisi. 

    lama, dan pelan pelan saya mulai mengungsi: jangan jangan saya yang keliru: bukan ideologi dan guntur ini, kata kata acep yang memang kurasakan juga saat membaca puisi puisi afrilia di fb-nya (bukan di buku ini). ia juga masih merangkak kita baca. bukunya baru saja melompat ke tangan, setelah menempuh perjalanan. ini juga kurasakan aneh: bagaimana kata, ajaib, bisa dibawa oleh entah pesawat entah mobil. pendek kata, kata, bahasa, yang abstrak itu, bisa dibawa oleh benda konkret adalah alat transportasi. 

aku bergerak ke luar dari teks, tetapi, aku masih di buku halte biru, jadi aku masih di dalam teks karena kukira, seluruh buku itu telah menjadi, suatu kehadiran termasuk, kehadiran nama yang kini aku nikmati dalam kerangka membaca puisi kedua antologi halte biru ini. asmanyah timutiah, komunitas cermin tasikmalaya, membuat komentar seperti ini untuk afrilia.

"afrilia utami yang belia. orang orang yang tidak kenal afrilia mungkin tidak akan membayangkan bahwa pada usianya yang di bawah 17 tahun ia akan menulis tentang soal soal sosial, politik, ekonomi, budaya dll. lumrahnya, abg lebih banyak berkutat tentang kecengengan rasa, cinta dan benci yang sentimentil, tapi tidak bagi afril, sejak duduk di smp, tulisan afril begitu lincah merambah ke sana ke mari, juga sampai memasuki zaman zaman pergolakan penting masa lalu...." kukira opini ini benar manakala kita menghayati kembali rumput kertas itu.

sebuah buku memang perayaan dan sebaiknya perayaan memang dibuat lewat penerimaan kata yang baik juga. tapi kata yang baik akan terasa jadi trik dagang andai bahasa di dalam buku tidak baik. inilah gerakan kita: berhati hati membaca afrilia, atau buku lain andai kita menulis. tapi sungguh, rumput kertas ini menggoda rasa bahasaku oleh kuatnya empasan emosi serta terbentuknya pikiran ke dalam bahasa puisi.

jadi ada beban pada diriku sendiri sebagai pembaca: menyusuri sendiri efek yang ditimbulkan oleh bacaan. sungguh kita ingin ke sini karena mengapa ia membawa rasa nikmat bahasa? mengapa ia menjadi kanal bagi ketidakpuasan kita pada hidup di luar? bagaimana puisi mengerjakannya secara medium puisi? inilah yang kita kerjakan sore ini: menghayati tanda, lalu mencoba menuliskan penghayatan itu: diri yang diisap oleh puisi, diri yang musti membayarnya lewat rasa cinta yang tercetus mengejar keindahan puisi. apakah ada yang lain, idealitas selain ini saat kita bergaul dengan bahasa sastra?


"sekali aku ingin jadi rumput"

kita mulai menyadari ada yang dimainkan oleh penyair saat kita membaca puisi, permainan yang menghanyutkan oleh penyair memainkan emosi dirinya, pikirannya, ke objek pengganti adalah kata, kata dulu, belum bahasa, karena elemen pokok dari bahasa itu, adalah kata. berlapis lapis permainan puisi rumput kertas ini, yang kita rasakan. darimana kita mulai? apakah akan mulai dari dipakainya "sekali" untuk sepanjang hidup manusia yang kini mengalihkan diri ke bahasa? muncul pertanyaan, nah buah permainan bahasa itu sudah dimulai. mengapa sekali? mengapa tidak dua kali? 

ada apa dengan dipakainya kata sekali di sini? 

sekali itu terasa seolah, sebuah akan, akan berpisah. sekali saja, aku ingin berjumpa denganmu. atau sekali saja katakan lagi maksud hatimu, wahai rumput kertas - mengapa rumput kertas? menumpuk permainan itu dan akan semakin menumpuk oleh cara indahnya puisi ini dibentukkan oleh afrilia. belum lagi kita mulai menimbang nimbang bahasa pertama rumput kertas ini sudah mengisap kita: "sekali aku ingin jadi rumput". aku itu bukanlah aku kertas tapi aku manusia. mengapa ia ingin jadi rumput? sekali pula. apakah rumput dalam tata letak kehidupan manusia yang luas, kaki mengijak bumi dan di sana ada rumput. 

tahu kita: aku bukan semut yang mudah kau injak; tahu kita; kami bukan rumput kering yang bisa kau bakari; tahu apa lagi kita akan duduk soalnya, tanda lewat aku yang mengalihkan diri - bahasa keren teori, mendefamiliarisasi dirinya jadi rumput, dengan sentuhan darurat pula (sekali itu).


dunia tanda

puisi rumput kertas adalah riwayat aku manusia di luar, yang meletakkan dirinya dalam barisan korban bukan ikut dalam barisan kaum, katanya, buih proklamasi terjuntai di bibirmu. sekali saja aku ingin merasakan derita dari pedihnya orang kecil itu. sekali saja. agar dari dalam rumput itu kami kuasa menembak tepat ke jantungmu. sejenak kita berpikir begini, oleh datangnya dunia supra - katakanlah dunia politik yang mendadak menyelundup masuk ke dalam isi, kita, mulai menyadari puisi mengambil jalan bercabang: pada dasarnya rumput kertas adalah puisi individual, akan kesunyian si aku lirik tapi seraya itu ia membawa masuk latar hidup.

 jadi peluru itu batal dilepaskan secara langsung, hanya mengendap saja dan kita mulai menimbang cara puisi ini meretakkan tubuhnya, ke diri sendiri, ke latar tempat ia hidup, yang harus kita bayangkan dengan menarik tiap peristiwa dari kemungkinannya peristiwa itu dibawa masuk ke dalam puisi - gedung parlemen misalnya, yang ikut secara, tapi berhasil walau bukan tema pokok puisi, ke dalam merapat bersama sunyinya hidup si aku lirik sampai ia, menarik, hendak menghilang dengan cara membuat pasif diri jadi rumput. tapi ada kertas di sana, yang bisa dijadikan papan aktif untuk menulis takdir diri secara lain.

takdir secara lain itu juga yang berselang-seling, menjadi nada dari bunyi puisi puisi afrilia di halte biru ini. takdir secara lain, itulah kalimat terakhir kita tadi malam, sebelum lelah mengambil tubuh ini, membawanya ke takdir tubuh lain lagi (tidur, bukan sedang menulis), atau saat ini ketika kita bangun, rupanya ada persamaan dua opini di belakang buku afrilia itu, yang kemarin, belum kita lihat tapi kini tampak kesamaan ucapan acep dan bode riswandi.

adalah suatu kebahagiaan pengarang memiliki ruang panjang, justru musuh terbesar pengarang yang diminta masuk ke ruang pendek dari tiap kemungkinan kata yang hendak diperjalankannya (saya mengambil frasa ini dari kisah mikraj, bahwa tubuh rasul itu diperjalankan) dan kini memiliki kesamaan dengan dunia bahasa: bahwa tubuh kata diperjalankan dalam bahasa, setelah ia mengarungi perjalanannya di luar dalam rupa-rupa korelasi benda dan peristiwanya.

endorsmen yang menarik karena di sana, ada kejujuran dari mereka yang menulis. adalah suatu kenyamanan bagi pembaca saat tulisan atas suatu bacaan, tidak membuta tapi membawakan dirinya ke arah dunia yang sungguh ia rasakan. seperti yang dirasakan acep dan kini rupanya, dirasakan pula oleh bode, bahwa, letusan-letusan dalam afrilia itu, agak berhati-hati karena ia sedang berhadapan dengan medium puisi.

saya kutip kata-kata terakhir bode,

"barangkali untuk lebih memantapkan jejak kepenyairan ke depan, afrilia harus mulai berani meluangkan waktu lebih banyak lagi untuk menjinakkan imajinasinya, biar lebih meledak sublimasi katanya ketimbang etetikanya.

nah lihat "kata" lagi seperti pendapat acep di atas itu. kata yang saya, sekali lagi, kita rasakan saat di fb afrilia. tapi aneh mengapa semua kata yang "diminta agar waspada" itu telah menghilang? ke mana dia? mengapa di buku puisi ini, kata, justru godaan paling besar membaca afrilia.

penasaran atas pandangan lain, atau pandangan saya sendiri saat di fb, kita bergerak keluar masuk dan mulai mengamati sungguh-sungguh soal kata ini. ada kita temukan satu kata, misalnya, di sajak af untuk pram. (unik cara ia melepaskan, nah, kata itu untuk nama sebuah sajak: kertas lipat untuk pram. atau bagaimana cara afrilia membalikkan dunia nyata dalam hubungan dengan hujan, membuatnya terbalik sehingga naiklah hujan itu ke langit lagi. "gerimis yang naik ke atas", katanya. semua ini menenggelamkan, lagi-lagi (kemarin guntur dan revolusi), kini globalisasi, tenggelam dibawa arus kata yang menggoda. sebagai puisi, bentuk, apa yang dikatakan tentang kata itu, walau satu kata dan walau diri telah dibawa hanyut, sangat layak untuk dipertimbangkan karena bagaimana pun juga puisi adalah keutuhan bentuk, yang tak menolerir pun satu kata menyimpang dari irama utamanya.

tapi sungguhkah, globalisasi, atau guntur dan revolusi, itu dalam pengelihatan seperti yang diminta waspada kepada penyair? saya beruntung punya ruang panjang, serta waktu yang panjang. ada satu lagi keberuntungan saya itu: kita tengah menghadapi buku yang bisa dengan cepat dibolak balik, dari apa yang kita hadapi selama ini - buku maya, yang kalah cepat membaliknya dengan tangan yang nyata.

nikmat dari keberuntungan yang seolah durian runtuh dari langit itu kini yang kita bayar, tak lain dengan cara menulis luas saat menghadapi buku puisi atau karya sastra. mengelaborasinya seraya menikmatinya, mengujikan tiap kata seperti yang kini saya lakukan dengan sampel rumput kertas dan kertas lipat untuk pram, atau kertas lipat untuk gie. ya, mengapa tidak sebuah puisi untuk am itu kita lihat pula. sampel bisa meluas karena bentuk tulisan kita yang luas itu juga.

*globalisasi
kertas lipat untuk pram, kembali ke rumput kertas.



2. Makalah Untuk Peluncuran Buku Puisi

gerimis yang naik ke atas (anak ajaib dalam permainan tanda) 

"kata diperjalankan di bahasa"

menumpang pada peristiwa historis mik'raj, mengeluarkan satu kata darinya, "diperjalankan", itulah yang kita cobakan dengan puisi, bahwa kata diperjalankan penyairnya dalam bahasa. persamaan ini tak terlalu jauh meleset manakala kita menghayati tubuh dan jiwa rasul, yang diperjalankan dan melihat ke kanan atau ke kiri, naik ke atas dan turun lagi ke bumi dengan serentang makna di tangannya (pokok makna itulah sholat yang kini kita jalani lima kali sehari). seperti penyair juga yang bergerak dari ujung ke ujung melihat kebaikan dan keburukan dunia ini.
mula-mula memandang ke kanan dan ke kiri (ke kiri tempat orang orang diazab) dan ke kanan mereka yang mendapat ganjaran surga itu), adalah suatu gerak inti pada puisi, gerak dari peristiwa kata di dalam bahasa, yang memiliki watak menaruh dan mencabut harapan.
kata tampak begitu putus asa seolah ia di kiri, sebelum kita tahu keputusasaan kata itu kelak bergerak ke kanan, di sebuah lubang tempat sholat sebagai inti itu kita letakkan - tepatnya penyairnya meletakkan suatu makna di lubang tengah ini.
meletakkan?
ya dengan watak kata yang diperjalankan, dengan penuh benturan ke kanan dan ke kiri itu. naik tipis seolah roh yang akan keluar dari tubuh, makna dari suatu benturan bahasa tempat mukimnya kata putus asa dan kata penuh asa, dari ujung ke ujung puisi membina dirinya, sehari semalam berjalan dari bumi naik ke langit turun lagi ke bumi - ia memandang mandang, mata rasul jadi mata penyair dan dunia batin rasul jadi dunia batin penyair - tetapi dalam bentukan: habis sudah ya allah alif ba ta afriia utamimu ini, belum juga sebatas ya allah. (mengambil baris dari penyair sutardji calzoum bachri, di bukunya o amuk kapak).
puisi itu gerak manusia sembahyang
ada hening di sholat itu, ada kabur juga, sebuah penyulingan terjadi di sholat itu, peluruhan daya-daya manusia demi menghilangnya diri dengan hasil akhir diam-nya segenap daya daya diri, suatu upaya yang tampak terjadi dengan intensitas sama besar pada puisi, ruang di mana penyairnya bergerak ke kiri dan ke kanan dalam bentukan kata iman dan kata ingkar, melakukan benturan atas tiap kata sehingga keheningan itu jadi mungkin. andai konsentrasinya buyar maka datang pengingat seperti gerak sirine yang dilepas oleh acep zamzan noor atau bode riswandi bahwa diri harus tegak lurus kembali dan tapi di soal tegak lurus kembali ini, yang kita masih cobakan, pada buku puisi halte biru ini bahwa sungguhkah ia begitu?
kini saya melihat sholat pertama adalah rumput kertas, suatu paduan dari gerak putus asa dan harapan yang telah kita deskripsikan di atas itu, mengalaminya sebagai sentuhan bahasa ke dalam puisi, isi puisi, adalah bertemu pada kata putus asa dalam bentukan empat baris sekaligus harapan yang mengapung darinya. tapi kita segera menyadari empat baris awal dari rumput kertas tidak cukup, harus naik dari ujung ke ujung dan itu artinya sosok dari rumput kertas yang musti kita hadapi.
rumput kertas rupanya adalah suara yang berbelah dua, bukan suara dominan di mana si individu dalam puisi, memasukkan begitu saja dengan semena-mena dunia politik parlemen ke tubuhnya, tapi tubuhnya justru, di antaranya, dibangun oleh rasa putus asa atau kekecewaan yang sangat besar, seperti kekecewaan kita bersama juga, di ruang publik melihat kehidupan publik dalam skala supra itu.
inilah nada dasar dari rumput kertas, yang berbagi dengan nada dasar dari si aku lirik ini.
ia menghilang demi keluar dari gumpalan kekecewaan, sekaligus ia mengajak merenungkan dari arah kanan akan kiri yang mengecewakan itu, dua dunia yang ia bawa khusuk ke satuan bahasa dan tanda-lah yang menjadi pengalurnya. apa yang istimewa pada afrilia utami di buku halte biru ini, tanda sebagai kiasan badan aku lirik itu dimainkan lewat wacana insting (ia tak terdidik amat dalam wacana ketandaan), af itu, tapi intuisi dan bacaannya langsung pada karya sastra kreatif telah mampu mewujudkannya, jadi si aku lirik yang melakukan gerak sembahyang lewat tanda yang mengalur pada bahasanya (pada metafora yang ia bentukkan nyaris sepanjang buku puisi halte biru ini).
aku penyair menghilang ke dalam aku lirik, aku lirik menghilang ke dalam aku objek-objek, persis seperti kita sholat, diri menghilang ke suatu bahasa yang tak terkatakan, oleh ia tak terkatakan, maka satuan puisi memerlukan dunia konkret agar yang abstrak itu kini mewujud - kita mengalami itu kini. mula mula lewat jukstaposisi bentuk yang saling melimpahi (rumput dan kertas), tapi bentuk ini suatu oase bagi, inti yang bekerja di bawah itu, gumpalan kekecewaan massa negeri saat, betapa genit dunia parlemen memainkan satu kata: studi banding, atau mulut mulut buaya, kata puisi ini, menjajakan guntur dari meledaknya kata kata tapi kosong tindakan; semua itu terjadi dalam lanskap katedral, hal yang menarik afrilia bukan orang kolot yang hanya mau dan ingin berucap masjidnya saja, ia seolah danarto dulu yang merapatkan masjidgereja dalam prosa prosanya, suatu kematangan jiwa yang menakjubkan manakala kita sadar bahwa af itu, baru usia 18-an tahun, tapi kita tak boleh lupa guru spiritualnya gie dan pram itu, jejak jejak afrizal malna dalam sastra indonesia. ya kita kedatangan anak muda ajaib dalam permainan tanda di dunia puisi. bagaimana saya menghayati, misalnya, gerimis yang dibalikkan ke atas oleh anak muda afrilia ini. gerimis yang naik ke atas, katanya, sedang kita tahu belaka gerimis adalah air yang jatuh ke bawah itu, misalnya.
penyair sembahyang dengan bahasanya, menghilang ke yang tak terbahasakan, tapi di puisi, penghilangan itu meniscayakan hidupnya objek, tempat si aku lirik itu menghilang. dan penghilangan dalam pengertian metafor tanda ini, begitu konsisten dimainkan dalam halte biru, sebuah program bahasa yang bukan datang dari wacana (discourse), tapi dari intuisi penyair yang didiik oleh ciptaan langsung sebagai wacana. tentu saja, oleh buah derita jiwanya juga. anak sekecil itu, kata iwan fals dalam lagunya yang mengharukan.
rumput kertas
sekali aku ingin jadi rumput
merentangkan embun yang digeluti musim
berusaha tumbuh sendiri tanpa pupuk
melukiskan warna hijau pada tanah hitam

ikan ikan kertas memenuhi tubuhnya
menggeletakkan kata kata di atas katedral
yang memenuhi lapaknya dengan guntur
dari mulut buaya yang suka bicara ideologi

aku sering mereguk lepas kesunyian yang begitu mahir
dipuja orang-orang sana-sini dengan lidah terjulur
sambil patah-patah menyusun bait bait proklamasi
yang hilang dari apriori, yang hilang dari nafasnya -
bangsa ini berpuluh tahun mengekang tangan setan
tapi kakinya sering dipinjam untuk studi banding, -
ke lautan yang menenggelamkan martabatnya.

ya, rumput yang tumbuh di atas ikan kertas
aku ingin duduk menempati satu kursi kertas
membiarkan rumput rumput tumbuh
sebagaimana kertas yang sepi adanya.
seperti kita
                                          2013

(rumput) (kertas)

kata menghilang, atau kegiatan menghilang, itu membawa kita kepada tingkatan di mana aku penyair sungguh-sungguh telah menghilang karena roh kesadarannya telah berpindah ke dunia aku lirik, dan adalah watak aku lirik seperti aku penyair yang tak sanggup berdiam sendirian, sehingga ia pun akhirnya menghilang ke dalam objek-objek yang disapanya. kita membaca kegiatan penyapaan objek itu sebagai peristiwa dalam bahasa, tempat si aku lirik membagikan dirinya, dengan cara menghilang menjadi objek. tapi tak selamanya, atau penghilangan ini adalah dunia timbul tenggelam. karena pada kenyataannya, pun di dunia objek itu si aku lirik masih meninggalkan jejak napasnya.

di dalam puisi, peristiwa terciptanya rumput kertas adalah peristiwa pertama menghilangnya aku lirik. di sini kita tak jumpai aku lirik itu, sebuah bentukan ekstrem yang didekatkan, sehingga korelasional kata ini membawa makna ambigu pada dirinya. rumput, tapi kertas. kertas, tapi rumput, dan tak seorang pun yang berdiam di sini. kelak, si aku lirik itu baru muncul lagi, setelah mengabarkan bahwa dirinya telah berlaih jadi tanda.

"bahasa belia"

rumput itu hijau, enak bagi mata dan menghidupkan ternak di atasnya. kertas itu seolah jiwa kosong putih bersih minta diisi, tapi juga sebuah halaman halaman semacam marginalia, tepian buku, yang sunyi sepi - ada ia di sana, sendirian, senyap dunianya, sepi. bahkan pada banyak kasus berdebu karena tak suatu tangan lagi yang menjamahnya. tetapi darimana paduan dua kata ini? ia datang dari sembahyang penyair. tapi si penyair telah menghilang, maka ia datang dari aku lirik yang mendistrubisikan jiwanya berbelah dua. 

ini jiwaku ambil sepotong jadilah rumput. ini jiwaku ambil sepotong jadilah kertas. 

digabung, begitu ambigu maknanya. aku lirik belum hadir, atau kehadirannya menyamar dalam bentukan rumput dan kertas. 

ke mana gadis belia itu, afrilia? 

tak lagi berpaut gadis belia itu dengan rumput kertasnya. rohnya telah berpindah dan rumput kertas adalah roh yang baru. puisi ditarik oleh roh yang baru ini, oleh rumput kertas; sekali ia dihadirkan, kedatangannya tak lagi tertahan: isi niscaya menjelajahinya, sebagai pecahan pecahan tanda induk adalah rumput (dan) kertas. si aku lirik terpaksa muncul kalau tidak ingin rumput kertasnya, layu mati sebelum berkembang menjelajahi dunia senyap sepinya.


orang politik bisa belajar dari aku lirik
*sekali aku ingin jadi rumput

saat kita sembahyang emosi kita menumpuk pada pikiran, atau pikiran kita menumpuk pada emosi, jiwa kita utuh penuh menjurus ke Dia yang tak terbahasakan, Dia yang mati-matian di kejar oleh para penyair dan hidup di dalam puisi, tempat si penyair berpindah jadi aku lirik dan aku lirik inilah aku penyair yang aktif mengejar Tuhannya, yang mungkin tengah turun ke bawah mengejar Kebenarannya - misal dunia parlemen yang tertuduh di bawah bayang-bayang Kebenaran adalah cita rasa bersama dalam hidup.
andai kata hanya ada satu aktivitas saja maka dunia dominasi telah menjadi dunia yang justru hendak ditarik oleh Kebenaran itu sendiri. bahkan Dia menyerahkan sebagaian kekuasannya kepada tiap mahluknya lewat hukum yang bekerja sebagai dunia eksistensi mahluk, kekuasaan terbatas yang sebenarnya, pada pengelihatan terakhir kelak rupanya bagian dari misteri maha besar karena saat kita tahu, bahwa diri aku itu hanya atom hanyut saja dari totalitas kegaibanNya yang menjadi eksistensi setiap ada.
tapi puisi mengambil ruang demokrasi terbatas ini, lirik tak tunggal, tapi lirik yang berbagi peran kepada objeknya. lirik yang mengikuti teori bahasa, lingusitik yang berkata aku subjek aku objek dan aku predikat.

itulah si aku lirik yang terapung di rumput kertas, dia yang ditarik oleh demokrasi setiap permainan sebentang sintaksis subjek objek predikat demi semantis dirinya sebagai ada yang membagikan dirinya. aku lirik yang menghilang dalam jukstaposisi (rumput dan kertas) kini muncul lagi.

"sekali aku ingin jadi rumput"

katanya, dan kita pertama menguji sebaris ini lewat konsistensi alur pikiran di tulisan ini, yakni apakah telah terjadi konsentrasi seperti perumpamaan manusia sembahyang dalam dunia ini, pada rumput kertas dengan ciri, emosi yang diptik dengan pikirannya. emosi yang adalah empasan perasaan atas latar hidup itu yang kini kita baca lewat dunia metafor tanda, atau kiasan yang lain. adalah mengharukan melihat orang bermain, menolak kenyataan, lewat dunia pengalih, menghilangkan diri ke bentukan tanda, realitas baru tempat rumput mengambil dirinya. 

emosi masuk di situ, sebab aku itu ingin bersatu dengan alam atau di daerah lain, aku itu ingin bersatu dengan Tuhan maka rumput itu bagian dari upaya ia ingin bersatu dengan yang baik, Tuhan, dengan yang benar, Kebenaran dari cita rasa sosial yang telah menghilang (ingat kegenitan parlemen lewat studi banding yang nyinyir itu, tapi toh diambil juga, dilaksanakan, maka hiduplah ia ke dalam jiwa aku lirik seperti hidupnya ia di jiwa diskursif manusia kita bersama. lewat rupa rupa bentuk penolakan oleh emosi dan kini, bentuk itu jadi rumput dengan banyak arti: diinjak seperti rumput; jadi makanan ternak agar orang kota bisa terus hidup. emosi membuat kita haru dan si lirik belia ini telah memenuhi janjinya: ia begitu emosional atas masalah supra negara dan masalah dunia jiwa individunya. sampai ia berucap kiasan lewat gerak ganda: sekali aku ingin jadi rumput.

mula mula kita membaca "sekali aku ingin menjadi rumput" adalah pelepasan, dari manusia di luar yang kini melepaskan diri jadi manusia bahasa dan si aku bahasa ini juga seperti si aku nyata mendapat tekanan juga: ia tertekan seperti kita tertekan dan karena itu ia ingin melepaskan diri dari tekanan itu. lewat kata sekali dan lewat rumput yang ia bayangkan, akan mengurangi tekanannya, karena bayangan alam yang tenang. indah padang rumput dengan bulir airmatanya di pagi hari. sayu jiwa kita memandangi alam ilahi yang tak pernah bisa kita ciptakan ini. getir kita melihat tangan kuasa tiba tiba mencabut dengan membakar hutan tempat "si aku rumput ini berdiam". 

maka emosi dalam puisi itu kita baca dari sini: sejauh mana aku penyair itu kuasa membentukan dunia tanda yang paling merintih seperti sekali aku ingin jadi rumput ini. aku itu mengharukan, baik ucapannya sebagai aku yang ingin jadi rumput maupun asosiasi dari rumput sebagai objeknya langsung: rumput itu mengharukan karena ia begitu sunyi senyap dalam dirinya sendiri. puisi memang sebuah kegiatan imaji tempat imajinasi bermain, tetapi barisnya harus tangguh sebagai dunia tanda agar imajinasi itu bukanlah anakronistik pada baris puisi. baris itu ada, dan ia memang membawa kita oleh fasilitas dirinya sebagai kenyataan di luar diri.


"puisi itu menyuling" 
"tak kucipta semua ini sia-sia"
*sekali aku ingin jadi rumput

kalau puisi seolah orang sholat, maka ia mengandaikan pergerakan, dari suatu surat, kita pergi ke satu ayat ke ayat lainnya. seperti puisi itu, bergerak dari satu baris ke baris lainnya. ia mengembang, dari suatu daerah awal, pergi menjelajahi tiap kemungkinan, ke mana daerah awal itu tadi kini. katakanlah kita mengambil pergerakan satu surat yang berbunyi: tak kami ciptakan semua ini sia-sia, dan kalau kita berhenti di ide ini, maka "sesekali aku ingin jadi rumput", seolah gerakan putus asa dari seseorang yang ingin pasif saja - rumput, di kota, diinjak; rumput, di hutan, tak berguna dalam kerelasian manusia. jadi si aku ingin pasif, mekar segar di hutan. maka rasanya tertunai kata kata itu: tak kuciptakan semua ini sia sia, karena toh rumput itu juga ada gunanya. tapi kalau guna ini kita proyeksikan ke guna bersama manusia, maka manusia yang mengubah dirinya jadi rumput, adalah manusia yang telah melarikan diri dari tanggung jawab sosialnya. puisi kembali ambigu. ia menempuh daerah tanda yang luar biasa banyak arahnya. untuk satu arti, inilah keberhasilan afrilia utami bermain tanda dalam puisi.

puisi itu menyuling
"tak kuciptakan semua ini sia-sia
*merentangkan embun yang digeluti musim

kata kata di kitab suci itu, akan selalu diiringi oleh ide ini: bagi mereka yang pandai menangkap apa arti ciptaanku, dan di situlah adanya aku, sebagai tanda, yang hadir di setiap ciptaan yang tak diciptakan sia sia itu. dengan kelengkapan ide ini kita kembali ke rumput kertas yang begitu simbolik ini. bahwa awalnya terbaca ia seakan pasif, tapi apa yang pasif itu telah dibukakan lewat pergerakan adalah baris kedua rumput kertas. rupanya ia ingin jadi rumput, untuk "merentangkan embun" agar musim bisa bergaul dengannya - "digeluti musim". maka patahlah kesan atau sugesti dari familiarnya rumput di dunia manusia itu. rupanya pergerakan di sini ada maknanya: ingin menumbuhkan. ada pesannya: ingin menghidupkan. bisa kita katakan bahwa ada pembersihan diri di sini, dari gerak aku penyair yang membayangkan dirinya jadi rumput saja, tapi menumbuhkan yang lain, lewat dirinya aku yang jadi aku embun. inilah proses penyulingan, si aku membersihkan diri dengan kembali ke kemurniannya - ke alam, di alam proses penyulingan itu tidak berhenti tapi bergerak, lewat gerakan wajar: rumput, embun, musim.


3. Makalah Untuk Peluncuran Buku Puisi



empat ruang dan empat waktu 

   hipotesa

apakah kebenaran imajinatif bisa kita hipotesakan? bahwa imajinasi kini menempati ruang dalam puisi, jadi bukan fakta di luar, tapi oleh sifat gerakannya, memancing kita untuk bertanya tentang kemungkinan sebab dari suatu peristiwa itu terjadi, dari hipotesa yang kini umumkan dan kini kita carikan pembuktiannya.

ada sebuah fakta puisi yakni rumput kertas yang berisikan empat bait dan setiap bait ditempati oleh kata yang bergerak membentuk peristiwa, atau kalau kita tarik keluar maka ia kini meluas menjadi: ada satu buku puisi yang dihuni oleh sejumlah puisi, di mana bait yang mengandung peristiwa itu terjadi sebuku puisi, di puisi puisi. seandainya peristiwa ini kita keluarkan dari dalam bahasa, maka ia adalah kenyataan, katakanlah kenyataan dari peristiwa di luar. ada peristiwa di luar dalam keadaan kacau balau dan kini menuntut pikiran teoritik untuk merapikannya, dengan jalan mengumumkan hipotesa terlebih dahulu, agar dari sini kita bisa mencari pembuktiannya. lalu apa yang bisa kita hipotesakan? darimana? kegiatan pikiran ini menarik saya saat terus membuat persamaan bahwa roh di dalam badan membuat peristiwa nyata di luar. tapi roh di bahasa juga membuat peristiwa nyata dalam bahasa.



"Aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna" 

*anak ajaib dalam sastra indonesia 

jadi halte biru itu metafora: 1. tempat airmata. 2. tempat harapan dari dalam bahasa. 3. agar orang berdiam di dalamnya, 4. sebelum melanjutkan lagi perjalanannya. 5. tapi halte biru juga tempat, di mana seseorang berhenti dan mulai merenungi tiap tepi dari halaman halaman hidupnya. indah metafora halte biru itu. ia kabar yang datang dari dunia modern: kita berhenti di halte, menunggu di halte untuk pergi menjangkau langit yang biru - harapan. jangan manusia kehilangan harapan, jangan berputus asa. kata afrilia utami: ini halte biru mari kita bersama diam di dalamnya. indah anak ajaib ini memainkan tanda sebagai sebuah kegiatan berpuisi. nyaris sepenuh buku halte biru tanda yang ia mainkan. dalam bentuk metafor puisi. lihat gerimis ini ia naikkan ke atas. apa yang jatuh selalu diangkatnya lagi ke atas. ke Tuhannya. maka kemarin ia berseru dengan amat mengharukan. aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna, di sela cerita saksi sapardi djoko damono itu.

"fenomenologi husserl itu ke sini, tapi ia tak cukup jeli membaca bahan dalam dunia" 

inti hidup itu menyuling. inilah prinsip universal, membersihkan agar dapat sarinya. dari suatu benda jatuh yang ingin naik lagi ke langit. puisi, bersama aktivitas kebudayaan yang membentuk peradaban lainnya, ikut dalam gerakan menyuling itu: ia membersihkan manusia dari dalam, agar roh paling inti itu muncul. pada saat itulah, sebenarnya bukan penyatuan. saya hingga hari ini menolak konsep penyatuan. bukan kita yang bersatu kepada tuhan tapi tuhan dalam diri itu yang memperlihatkan dirinya setelah disuling oleh penyair. puisi puisi afrilia utami, keunggulannya di sini: ia kata iman yang telah mengatasi kata ingkar. cahaya keluar dari dalamnya. roh yang pernah ditiupkannya itu kembali lagi ke dirinya. itulah inti puisi, sehingga ia bening, begitu mengharukan, begitu membuat damai membacanya walau untuk sampai ke sini kata putih harus dibenturkan dengan kata hitam dalam bahasa. sebenarnya fenomonologi husserl itu ke sini. tapi tampaknya ia tak cukup jeli membaca bahan dalam dunia ini.


0 komentar:

Posting Komentar