Membaca (cerita) Afrilia Utami & Sapardi Djoko Damono
Kadang kita melihat lewat "telinga" bukan dengan "mata". Mata kita tak kuasa memandang, tapi telinga kita sanggup mendengar bunyi, mengapung lewat telinga diam sebagai "kesaksian". Apakah kita mendengar, "kutipan" penyair Abdul Hadi kemarin?
"Alastu bi rabbikum? Qalu bala syahidna..."
Ingin kita keluarkan kata itu dan memang kini kita telah mengeluarkannya: kesaksian, bukan? Cerita pendek yang amat panjang di negeri kita itu mengandalkan kata ini juga untuk menopang kisahnya. Kritikus Adinan bukan dipanggil sebagai "tersangka" tapi, tampaknya, "saksi" yang diberi beban tergantung: di batas tersangka dan di batas saksi. Untuk apa si Kritikus dipanggil ke gedung pengadilan? Apa statusnya? Tersangka atau Saksi? Sebuah bunyi sepeda ontel suatu ketika mampir di halaman rumah sang Kritikus, mendadak saja: "Kamu di panggil ke pengadilan!"
Itulah dokumen sosial-budayanya, sampai kepada kita lewat seni sebagai perspektif dalam hidup ini. Dan, inilah dokumen langitnya: kata saksi itu rupanya sebuah pengakuan, fondasi, akar yang mengabarkan lain-lainnya; kelak, adalah turunan belaka dari kata Saksi yang meluncur dari Langit ke Bumi.
"Aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna."
Sungguh kita mencintai Sapardi, (dari dalam dukaMu abadi), keluar tiap kata yang penuh iman ke langit. Rasanya bahasa Sapardi, salah satu bahasa terbaik yang pernah dilahirkan di negeri kita, untuk mengantarkan tubuh yang terbaring di ranjangnya naik ke cakralawa - sampai ke diriNya. Di saksi ini pun ada panggilan semacam itu, tapi lamat-lamat. Ketukannya sudah tak lagi sama. Ia tampak bukan, seperti bahasa darimana kini kita membuatnya jadi dekat: "Aku juga mengetuk dan mencari sepertimu..".
"Ketukan" - sang penyair telah berbelok ke ruang dan pintu lain.
Apa oleh di sana ada afrizal malna dan ia memberikan "ke-saksi-an", Afrizal yang berlari-lari kecil membawakan silam itu? - "sitti nurbaya berlari-lari" kecil seperti Sapardi kini: berlari-lari kecil menuju Tuhannya lagi. Ada Afrilia di sana dengan tangannya, mantab memegang "ke-Saksi-an": "jika hidup memanglah pencarian, di balik daratan yang ditutupi halimun dunia", katanya, "Aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna", katanya.
Jadi ada perbedaan seandainya kita hanya membaca dengan, kita ikut mengetikkan sebuah karangan. Baru saja tanganku seolah kedua tangan Sapardi: aku mengetik "Saksi", menikmati saksi dari "dalam" karena, bukankah aku yang mengetiknya bukan sapardi kini? Saat membaca cerita afrilia aku tidak di sana karena, ia hanya kupindahkan, dari medium tempat di mana salah seorang pengarang indonesia dari generasinya yang paling mutakhir, menulis. Kupindahkan saja cerita afrilia. Kupikirkan apakah ada rahasia bahasa di kedua metode yang kutemukan secara tidak sengaja ini - dalam hubungan dengan tiap keindahan di dua cerita yang memikatku.
Sambil kudengar suara azan kuamati jiwaku malas, untuk bergerak dari ketikan mengikuti panggilan itu: mestinya kita pergi sembahyang bukan? bukan malah mengetik karena begitulah alurnya. tapi itulah dan maafkan, dua cerita ini, yang kita baca sambil berbaring dan yang kita ketikkan sambil berbaring juga, telah membawa rasa malas untuk bangkit.
Jadi,"saksi"kanlah, kemalasan jiwa yang mungkin konyol ini: mestinya kita sembahyang bukan? bagaimana ini, bila sudah menulis kita enggan, pergi ke mana-mana kecuali tetap berbaring, atau duduk, membaca dan melihat dari dalam tiap tulisan, yang kita baca.
"Saksi"kan ya saksikan keanehan bahasa yang keluar dari badan manusia. saksikanlah badan yang kata ikbal, mungkin pantas diganjar frasa pujangga itu: kita membaca sastra - saya piuhkan dikit dari Ikbal (:kitab Quran), dengan cahaya dunia (saya piuhkan lagi kata kata Ikbal: Yunani).
Apakah dunia kekuasaan yang kita kenali kini telah berdiam di dalam "saksi"? Itulah resiko kekuasaan metafor - dan rasanya itulah pula keunggulan cerita pendek sapardi djoko damono saksi. Pengarangnya adalah penyair, rasanya agak leluasa juga saat kita mengikutinya dari dalam: diri menjadi pengarang, 'mengimpitkan tubuh ke permainan aku, anjing, kursi - ikut bukan saja hanya melihat tapi membuat - karena sudah di dalam. metafor memang kerajaan bahasa, atas kuasanya pula saya bisa menulis dengan cara, melakukan pergerakan dan kini berdiam di dalam - kadang menggeser si aku, kadang menggeser si kursi. sedang anjing di sana itu (ia mengeram dalam tubuh; ulutnya di dalam hati kita itulah), tak saya geser karena oleh anjing ini yang membuat relasi kami jadi mungkin. anjing makan kursi dan aku makan anjing melewati kursi. aku ini kursi apa anjing? aku ini anjing apa kursi? aku ini siapa sih? kata afrilia: tuhanku aku sempurna mencintai dirimu yang sempurna tuhanku. kami bertiga berkedip mata kiri kepada gadis ini. iya deh. aku duduk dulu di kursi ini ya. saat ingin duduk aku (ter)jatuh karena anjing itu telah makan kursiku. pantatku sakit karena jatuh itu. tak tinggi bahasa kalau begini (saja), ia harus ada penjungkit agar anjing, kursi, dan aku-anjing-aku-kursi ini bisa naik: mereka telah naik lewat metafor ironikal yang dimainkan sang penyair. kebetulan afrilia datang membawa tuhannya. jadi kami, di pagi hari itu, selamat semua. aih sapardi, ceritamu ini. ada pula anjing makan kursi. tegelak (pak) sapardi di sana. ah bisa aja kamu hudan katanya. hehe, kata afrilia ikut tegelak juga. gu bahasa kita buat bahagia ya gu. yo af. hehe.
Kadang kita melihat lewat "telinga" bukan dengan "mata". Mata kita tak kuasa memandang, tapi telinga kita sanggup mendengar bunyi, mengapung lewat telinga diam sebagai "kesaksian". Apakah kita mendengar, "kutipan" penyair Abdul Hadi kemarin?
"Alastu bi rabbikum? Qalu bala syahidna..."
Ingin kita keluarkan kata itu dan memang kini kita telah mengeluarkannya: kesaksian, bukan? Cerita pendek yang amat panjang di negeri kita itu mengandalkan kata ini juga untuk menopang kisahnya. Kritikus Adinan bukan dipanggil sebagai "tersangka" tapi, tampaknya, "saksi" yang diberi beban tergantung: di batas tersangka dan di batas saksi. Untuk apa si Kritikus dipanggil ke gedung pengadilan? Apa statusnya? Tersangka atau Saksi? Sebuah bunyi sepeda ontel suatu ketika mampir di halaman rumah sang Kritikus, mendadak saja: "Kamu di panggil ke pengadilan!"
Itulah dokumen sosial-budayanya, sampai kepada kita lewat seni sebagai perspektif dalam hidup ini. Dan, inilah dokumen langitnya: kata saksi itu rupanya sebuah pengakuan, fondasi, akar yang mengabarkan lain-lainnya; kelak, adalah turunan belaka dari kata Saksi yang meluncur dari Langit ke Bumi.
"Aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna."
Sungguh kita mencintai Sapardi, (dari dalam dukaMu abadi), keluar tiap kata yang penuh iman ke langit. Rasanya bahasa Sapardi, salah satu bahasa terbaik yang pernah dilahirkan di negeri kita, untuk mengantarkan tubuh yang terbaring di ranjangnya naik ke cakralawa - sampai ke diriNya. Di saksi ini pun ada panggilan semacam itu, tapi lamat-lamat. Ketukannya sudah tak lagi sama. Ia tampak bukan, seperti bahasa darimana kini kita membuatnya jadi dekat: "Aku juga mengetuk dan mencari sepertimu..".
"Ketukan" - sang penyair telah berbelok ke ruang dan pintu lain.
Apa oleh di sana ada afrizal malna dan ia memberikan "ke-saksi-an", Afrizal yang berlari-lari kecil membawakan silam itu? - "sitti nurbaya berlari-lari" kecil seperti Sapardi kini: berlari-lari kecil menuju Tuhannya lagi. Ada Afrilia di sana dengan tangannya, mantab memegang "ke-Saksi-an": "jika hidup memanglah pencarian, di balik daratan yang ditutupi halimun dunia", katanya, "Aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna", katanya.
Jadi ada perbedaan seandainya kita hanya membaca dengan, kita ikut mengetikkan sebuah karangan. Baru saja tanganku seolah kedua tangan Sapardi: aku mengetik "Saksi", menikmati saksi dari "dalam" karena, bukankah aku yang mengetiknya bukan sapardi kini? Saat membaca cerita afrilia aku tidak di sana karena, ia hanya kupindahkan, dari medium tempat di mana salah seorang pengarang indonesia dari generasinya yang paling mutakhir, menulis. Kupindahkan saja cerita afrilia. Kupikirkan apakah ada rahasia bahasa di kedua metode yang kutemukan secara tidak sengaja ini - dalam hubungan dengan tiap keindahan di dua cerita yang memikatku.
Sambil kudengar suara azan kuamati jiwaku malas, untuk bergerak dari ketikan mengikuti panggilan itu: mestinya kita pergi sembahyang bukan? bukan malah mengetik karena begitulah alurnya. tapi itulah dan maafkan, dua cerita ini, yang kita baca sambil berbaring dan yang kita ketikkan sambil berbaring juga, telah membawa rasa malas untuk bangkit.
Jadi,"saksi"kanlah, kemalasan jiwa yang mungkin konyol ini: mestinya kita sembahyang bukan? bagaimana ini, bila sudah menulis kita enggan, pergi ke mana-mana kecuali tetap berbaring, atau duduk, membaca dan melihat dari dalam tiap tulisan, yang kita baca.
"Saksi"kan ya saksikan keanehan bahasa yang keluar dari badan manusia. saksikanlah badan yang kata ikbal, mungkin pantas diganjar frasa pujangga itu: kita membaca sastra - saya piuhkan dikit dari Ikbal (:kitab Quran), dengan cahaya dunia (saya piuhkan lagi kata kata Ikbal: Yunani).
Apakah dunia kekuasaan yang kita kenali kini telah berdiam di dalam "saksi"? Itulah resiko kekuasaan metafor - dan rasanya itulah pula keunggulan cerita pendek sapardi djoko damono saksi. Pengarangnya adalah penyair, rasanya agak leluasa juga saat kita mengikutinya dari dalam: diri menjadi pengarang, 'mengimpitkan tubuh ke permainan aku, anjing, kursi - ikut bukan saja hanya melihat tapi membuat - karena sudah di dalam. metafor memang kerajaan bahasa, atas kuasanya pula saya bisa menulis dengan cara, melakukan pergerakan dan kini berdiam di dalam - kadang menggeser si aku, kadang menggeser si kursi. sedang anjing di sana itu (ia mengeram dalam tubuh; ulutnya di dalam hati kita itulah), tak saya geser karena oleh anjing ini yang membuat relasi kami jadi mungkin. anjing makan kursi dan aku makan anjing melewati kursi. aku ini kursi apa anjing? aku ini anjing apa kursi? aku ini siapa sih? kata afrilia: tuhanku aku sempurna mencintai dirimu yang sempurna tuhanku. kami bertiga berkedip mata kiri kepada gadis ini. iya deh. aku duduk dulu di kursi ini ya. saat ingin duduk aku (ter)jatuh karena anjing itu telah makan kursiku. pantatku sakit karena jatuh itu. tak tinggi bahasa kalau begini (saja), ia harus ada penjungkit agar anjing, kursi, dan aku-anjing-aku-kursi ini bisa naik: mereka telah naik lewat metafor ironikal yang dimainkan sang penyair. kebetulan afrilia datang membawa tuhannya. jadi kami, di pagi hari itu, selamat semua. aih sapardi, ceritamu ini. ada pula anjing makan kursi. tegelak (pak) sapardi di sana. ah bisa aja kamu hudan katanya. hehe, kata afrilia ikut tegelak juga. gu bahasa kita buat bahagia ya gu. yo af. hehe.
0 komentar:
Posting Komentar