Minggu, 25 Januari 2015

"Being and Doing"


      "Freedom"


  Dari sebuah sudut pandang kita lalu tahu bahwa tidak ada yang pasif, kecuali bahwa ia aktif bergerak dan akan gerakan ini, kita juga mengerti bahwa setiap kata apa saja bisa masuk, menjadi orientasi dan setiap orientasi akan selalu ditentukan oleh perspesi dari perspektif mana kita memandanginya. Lepas dari langit kita akan mencari orientasi kita sendiri, jadi terlibat dengan permainan, dan lihatlah mula-mula, telah keluar sebuah kata yakni permainan, bahwa seseorang bermain dalam dunia lewat dirinya sendiri, tanpa mengikutsertakan langit sehingga corak bahasa yang ia bawa bermain pun lain dengan misalnya kita membawakan langit sebagai alat untuk bermain.



    Di ujung bab "being and doing: freedom", seseorang bermain tanpa langit dan ia menulis - atau ia berkata? - ia merekatkan gabungan visual, bunyi (yang kita baca dalam hati), serta pengertian yang mengapung sebagai akibatnya. "someone will say, 'I did not ask to be born'." Sebuah bahasa yang pasti kontras andai kita bawa perspektif langit, yang mungkin akan berkata - atau ia tuliskan? - "Terima kasih Tuhan aku telah dilahirkan ke dalam dunia, akan kujadikan hidupku ini dengan berbuat baik kepadaMu sebagai wujud syukur terima kasihku." Bukannya malah berkata: "Saya tidak minta untuk dilahirkan", ruang bahasa di mana ia kelak bermain, "Maka akan kuisikan hidupku dengan memainkan kebebasanku. Begitulah aku jadi mewujud, dengan kebebasanku di dalam permainanku." Andai kritik sastra mau bertolak dari sini, atau, apa yang bisa diraih oleh kritik sastra andai ia mengacu lewat keberadaan seseorang atau manusia di dalam dunia.

   Selalu ada gunanya mengambil besaran-besaran karena besaran-besaran itu memang mengalur ke hal yang sama, seperti pertanyaan tentang "kita tidak minta dilahirkan", atau, "kita begitu saja telah ada di dalam dunia". Besaran yang bisa mendorong apa yang kita pikirkan, tanpa harus memasuki detail di mana besaran ini keluar. Ia menjadi seolah anak sungai dan kita berada di lautan, dengan anak sungai sendiri yang kita pelihara akan lewat mana ia mengalir. Kita anak sungai itu, kuasa membelok andai ada hambatan di depan, atau memang ingin membelok walau di depan lurus-lurus saja. Kita anak sungai yang akan mengalur ke lautan. Kita, bagian dari dia atau mereka, anak-anak sungai yang setia berjalan di alur dengan tubuh yang tak mungkin menempuh arah lain kecuali lautan.

   Bahwa anak sungai adalah air seperti anak sungai di mana saja, dengan tekanan mungkin warna serta baunya, tapi mereka adalah air, dengan sumber yang mengalir entah darimana saja. Orang boleh saja membeda-bedakannya, untuk menikmatinya saja atau mungkin mengevaluasinya, tapi apa pun penilaian dari usaha membeda-bedakan itu, bahwa hakikat anak sungai adalah air, tak akan pernah berubah. Paling-paling warnanya mungkin jadi merah karena terlalu banyak yang dilemparkan ke sana, sehingga warna anak sungai - rasanya baunya juga - tidak lagi seperti anak sungai yang kita kenal, tapi akhirnya hakikat dirinya tetap: air yang bernama anak sungai.

    Tak pernah ada yang kuat sendirian, selalu setiap ada (anak sungai ini bagian dari ada), dapat ditarik dengan persamaan, seperti anak sungai ini kita telah samakan dengan jiwa manusia, sehingga anak sungai kini menjadi anak jiwa, tempat di mana anak-anak jiwa ini seperti anak-anak sungai itu, akan mengalir ke lautan sehingga anak-anak jiwa menjadi lautan jiwa. Seperti anak sungai itu, yang kini menjadi lautan air. Atau seperti anak jiwa ini, menjadi lautan jiwa. Atau seperti anak sungai itu, menjadi lautan air. Begitu terus berjatuhan tanpa ada akhirnya, perbedaan akan ditunggui oleh persamaan, untuk ditarik kembali menjadi perbedaan, sebelum mereka mengalur kembali ke dalam persamaan. Andai permainan anak sungai-anak jiwa ini kita formulasikan dengan membawa pikiran yang sudah terbentuk (di antaranya, tapi akan sama saja yang lama atau yang baru, tiap pengertian ini), maka kritik sastra menjadi kritik jiwa, atau kritik jiwa menjadi kritik sastra (sama saja, hendak dengan apa saja ia kita sebutkan), ia akan mengambil ruang visual lagi (bunyinya ia kita sebutkan dalam hati), sebuah pengertian yang tertulis:

   "Criticism is endeavour to discriminate between experiences and to evaluate them."

0 komentar:

Posting Komentar