Minggu, 25 Januari 2015

"a treatise of human poetry"

 
"Persepsi" saya kini mengarah ketiga hal, ke anak muda muhammad kurniadi asmi, mengalami kembali dua ayat yang ia tunjuk, mengalami juga david hume yang menulis "a treatise of human nature", yang sedang saya apresiasi lewat bentukan nama tulisan saya ini, serta sapardi dan chairil anwar lewat dua puisi mereka yang sedang saya lihat, bersama bahasa david hume dan bahasa al quran, khususnya surat ar raman, ayat yang dibawakan oleh muhammad kurniadi asmi. entahlah, saya merasa melihat muhammad seperti saya melihat diri sendiri, agak 20 tahun lampau: muda dan ingin sekali menjadi pengarang. (apakah kini saya sudah berhasil jadi pengarang? begitu misteri kata ini seperti hidup ini juga: penuh dengan risalah tentang manusia dengan jiwanya - watak-wataknya.)


   Pikiran di ujung "rima bergantung pada suku kata" menunjuk kepada bahasa bisa diperbandingan (puisi itu maksudnya), dan perbandingan itu kuasa meluas ke mana saja, tak musti terikat kepada ilmu puisi, atau ilmu lain kita bawa masuk untuk melihat puisi sebagai objek. bukan pula ilmu, hanya pikiran biasa saja tentang hidup dan dunia ini.

   Hume kukira seperti sapardi, atau saya yang telah membawa hume seperti saya yang membawa sapardi: isi bahasa mereka, saya persepsikan lewat kehendak kita sendiri, membawanya ke sana ke mari. Kalau Sapardi meletakkan "terdengar" sebagai bahasa awal bukan, katakanlah induk dari "terdengar" ini adalah "pikiran/perasaan", idea-idea, maka begitu juga hume menjadikan "persepsi" yang ia belah ke dalam "impression" serta "ideas". All the persepsions", kata hume, "I shall call impressions and ideas."

    Di impresi itu ia letakkan sensasi, pasi, dan emosi. 

   Indah david hume merumuskan apa yang ia sebut dengan ideas itu. kehadirannya sebagai sebuah pengertian mengingatkan kita kepada kenyataan puisi juga, suatu bayangan yang samar samar dalam jiwa. "by ideas I mean the faint images of these in thinking and reasoning," kata hume di bagian "of the origin of our ideas".

   Padahal "persepsi" itu keadaannya sama dengan "terdengar", bahwa mereka tergantung oleh pikiran/perasaan, atau jiwa manusia. Tanpa jiwa tak mungkin ada persepsi, atau kita mendengar bunyi bahkan suara apa yang sedang kita persepsikan. saya kurang tahu mengapa gemar melingkar-lingkar seperti ini. mungkin kalau harus dicari nalarnya, semacam ingin membuktikan bahwa tiap titik itu bertemu, atau tiap titik yang bertemu datang dari titik yang satu. 

   "selalu saya menyebutkan jasa hb jassin kalau ada kesempatan, ruang saya menulis, oleh nostalgia padanya dan substansi juga"

   Hanya itu saja yang saya ambil dari hume, sebuah kotak katakanlah prinsip pengikat. selanjutnya saya lebih betah menjelajahi jiwa saya sendiri bersama bahan bahan yang saya baca. seperti tadi saya membaca surat dari dua ayat yang dibawakan oleh muhammad kurniadi asmi, yang saya baca dari terjemahan resmi tapi seperti kataku pada muhammad kurniadi asmi, aku lebih suka terjemahan hb jassin. pasti oleh bahasanya. jassin menangani bahasa kitab suci dengan bahasa indonesia yang cermat, bening dan indah. ia hadirkan dalam format puisi sehingga setiap baris terasa meresam ke dalam jiwa. tapi ada juga alasan lain, semacam nostalgia romantik saya kepada jassin: ia begitu besar jasanya saat menerima saya pertama kali jadi pengarang puluhan tahun silam. maka setiap ada ruang, selalu saya sebutkan jassin, sebagaian oleh memang substansi, sisanya kenangan akan jasa jasanya. ya semacam menjaga kesinambungan pemikiran agar tidak terputus.

  bacaan mulia
terjemahan h.b jassin
penerbit djambatan

ayat 24
Kepunyaan-Nya bahtera-bahtera
Berlayar tinggi lintas lautan,
laksana gunung menjulang

ayat 37
Bila langit pecah terbelah
kemerah-merahan seperti bunga mawar
Yang merah laksana minyai berkilauan,

ayat 38
Maka karunia manakah dari Tuhanmu
Yang kamu (jin) dan kamu (manusia)
d u s t a k a n ?



   Khususnya ayat 24 itu yang ingin saya ambil, bahtera-bahtera, oleh sifat bahtera ini kita rasakan sekali persamaannya dengan sifat bahasa. katakanlah prologue itu, memuat bahtera-bahtera dalam hal ini memuat kata, yang tampak seakan kapal membawakan isinya adalah pengertian. seolah bahtera agak menyimpang: kapal tak mungkin membawa bahasa tapi manusia, benda benda. tapi andai ia kita pindahkan dengan cara mempersepsikan bahwa manusia itu kata, objek benda itu kata, maka bahtera sempurna kembali lagi: kapal memuat kata seperti puisi memuat kata.

    Kata itu berlayar, terikat seperti tiang tali dan kemudi kapal, mengalir menemui ujung barisnya, turun dan mengalir ke ujung baitnya. begitulah satu demi satu bait berlayar seperti bahtera di samudera, berlayar ke tujuannya.

0 komentar:

Posting Komentar