Minggu, 25 Januari 2015

"Saya seorang yang negatif"



" Afrilia Utami : Aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna"" Afrilia Utami : Aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna" Pernyataan Kreatif Afrizal Malna dengan Surat Penyair; melihat gerak kata dalam puisi, membayangkan kata "negatif" Afrizal serta bagian-bagian terakhir Surat Penyair. Seolah-olah Afrizal melakukan afirmasi, atau kalau kita proyeksikan ke puisi pada umumnya, kata itu yang mengafirmasi, seakan-akan membenarkan, apa yang menjadi butir-butir pernyataan kitab suci. Mengiang "ayat peringatan" saat saya mengintrodusir "kata iman" dan "kata ingkar", ikatan-ikatan kata dalam bahasa, yang punya hubungan langsung dengan posisi penyair dengan bahasanya.



    Andai kini saya menurunkan bagian-bagian Surat Penyair dari Bacaan Mulia yang disusun oleh H.B. Jassin, bisalah disebut diri sedang nostalgia karena kenyataannya, H.B. Jassin orang pertama yang menjadi korban kepenafsiran, karena apa yang ditafsirkan berhubungan langsung dengan ciptaan pengarang dalam kerangka "kata iman" dan "kata ingkar" (cerita pendek Ki Panji Kusmin, "Langit Makin Mendung"), bahwa Kritikus terhukum karena ia mati-matian membela kebebasan imajinasi, rupanya, keputusan ini, kebebasan imajinatif itu, berada dalam kerangka "kata ingkar". Atau dalam kata-kata Afrizal, adalah "negatif dalam bentuk 'layar hitam' yang terbentang setiap kali ia menulis puisi, yang ingin ia upayakan menjadi positif". (Afrizal Malna, di buku puisinya "Kalung Untuk Teman").

    Surat Penyair (H.B Jassin, Bacaan Mulia, 224 - 227)

   224       Dan para penyair,
            Mereka diikuti orang-orang tersesat.

   225   Tiadakah kau lihat, bahwa mereka
              mengembara di setiap lembah,

    226  Dan bahwa mereka mengatakan
            Apa yang tiada mereka kerjakan?

    227    Kecuali (penyair) yang beriman
                    dan beramal saleh,
          Banyak mengingat Allah, dan hanya
               membela diri sesudah dizalimi.
          Mereka yang zalim akan mengetahui,
            Bagaimana jadinya kesudahannya.


Berikut kutipan terpotong-potong agar tersambung apa yang menjadi inti tulisan Afrizal yang ia beri nama "Rasionalisasi Atas Pengalaman Kreatif. Layar hitam, kata, dan sel-sel peradaban".

    "Saya seorang negatif. Saya berusaha mencari untuk mengenali dari mana datangnya layar hitam yang membentang setiap saya menulis puisi, bagaimana bisa menjadikannya lebih positif."

   "Dalam kenyataannya, layar hitam itu tidak semata-mata sebuah dasar penciptaan. Ia lebih merupakan sebuah perspektif penciptaan, sebuah persepsi yang membentuk saya menjadi seorang negatif. Yaitu persepsi mengenai kegelapan. Kegelapan yang juga saya temukan banyak mewarnai puisi-puisi Indonesia pada umumnya. Suatu persepsi yang terluka, sakit, tidak bahagia. Puisi-puisi yang muram, sinis pada keadaan dan diri sendiri. Tanpa saya sadari sebelumnya, saya sudah menjadi anak asuh dari keadaan serupa ini."

   Selalu menarik melihat pengarang jujur dengan dirinya, yang berarti jujur dengan bahasanya, semenarik penyair dan puisinya yang kita hubungkan dengan Surat Penyair itu, bahwa surat itu diam-diam telah jadi lampu kepenyairan. Seperti "persepsi" yang disebutkan Afrizal itu lampu yang bekerja dalam dunia puisi, dan tapi tidak hanya semata "puisi" yang terkena lampu dari dua arah ini: lampu dari bahasa skriptural dan lampu dari dalam badan manusia. Sebab kalau kita membina suatu konteks bahasa, maka bagian-bagian terakhir yang telah kita petikkan itu berhubungan langsung dengan bagian-bagian sebelumnya. Agar terbina suatu kerangka pemikiran yang memang niscaya itu, kini kita kutipkan lagi Surat Penyair yang menjadi sambungan tak terputus dari pengumuman akan posisi penyair.

   Surat Penyair (H.B Jassin, Bacaan Mulia, 217 - 223)

   217         Dan tawakallah kepada Yang
             Maha Perkasa, Yang Maha Penyayang

    218   Yang melihatmu sedang sendiri.
                     (dalam bersalat),

    219   Dan (melihat) gerak-gerikmu
                di tengah orang bersujud.

    220  Sungguh, Ialah Yang Maha Mendengar,
                     Yang Maha Tahu,

    221  Apakah kepadamu 'kan kuberitakan,
                Kepada siapa syaitan turun?

    222  Mereka turun atas setiap pendusta
                   yang penuh dosa

    223  Mereka sampaikan apa yang
                   mereka dengar,
          Tapi kebanyakan mereka adalah
                     p e n d u s t a


      Kita telah tahu dengan baik kutipan-kutipan imperatif dari kitab suci itu, kini yang menarik adalah melihat manusia yang bereaksi (langsung tak langsung) padanya. Adalah manusia penyair sebagaimana manusia apa adanya, salah satu yang bereaksi dan izinkan saya membuat detil dari satu alinea yang dibuat Afrizal Malna yang begitu terkait dengan pokok soal kita ini. Menjadikan puisi seperti taken for granted sebuah gejala alam yakni batu di puncak bukit, maka batu penuh putus asa yang direnungi oleh oleh Bertolt Brecht dalam bentuk Hymne kepada Tuhan pada akhirnya, sama-sama batu yang dibalikkan oleh Afrilia Utami dalam puisinya "Gerimis yang Naik ke Atas". Sesama benda di alam, apakah mereka akan jadi pualam, bergantung pada "tangan tak kelihatan" di balik batu. Batu, ya, batu untuk suatu upaya menembus, apa yang difrasakan secara memikat oleh Afrizal Malna,

       "Kegelapan dari layar hitam setiap ia menulis puisi".

    Alinea pembuka dari "Rasionalisasi Atas Pengalaman Kreatif" yang memuat kalimat berani itu berbunyi:

        "Saya seorang negatif", bagaimana agar "lebih positif."

   17 baris kalimat dibentangkan Afrizal Malna untuk menyokong pernyataannya, 17 baris kalimat tambang bagi manusia apabila ia hendak menjadikan sastra sebagai usaha manusia paripurna lewat jalan puisi, atau kalau kita ingin kembalikan ke "dua batu puisi" kita itu, detail yang kini sedang saya tuliskan dari alinea Afrizal, operasi bagi penyair di dalam saat menulis puisi, panduan bagi kita pembaca puisi untuk mengenali, adakah suatu pergerakan kata dari "negatif" ke "positif", atau dalam perspektif yang saya bentukkan, perguliran, dari perbenturan "kata iman" dan "kata ingkar" dalam bahasa.

   17 baris yang mengeluarkan beberapa kata yang menjadi ciri dari kebudayaan, yaitu 1) negatif, 2) layar hitam, 3) positif, 4, menulis puisi, 5) moral borjuasi, 6) perjalanan panjang untuk keluar dari layar hitam, 7) selalu berulang, 8) aneh kalau berpuisi hanya menggotong layar hitam, 9) manusia bertanya, 10) apakah ini dasar dari penciptaan, 11) meletakkan sesuatu di layar hitam lebih menggairahkan, dan agar tersambung sehingga membentuk keutuhan, baik kita tambahkan saja detail-detail yang ditulis oleh penyair, sehingga angka itu bergerak, 12) perspektif penciptaan, 13 persepsi atas kehidupan yakni kegelapan yang datang dari kebudayaan luas, terakhir, agar 'mengunci' peta di hadapan kita, 14) "tanpa saya sadari sebelumnya, saya sudah menjadi anak asuh dari keadaan yang melingkupi saya."

    Melintasi poin-poin itu penyair menulis dan memakaikan kata "cari" serta "kenal", dua kata yang akan mengalur ke kata "tahu" yang amat legenda.

  Afrizal Malna:

    "Saya berusaha untuk mencari dari mana datangnya layar hitam yang membentang setiap saya menulis puisi."

     Jangan pernah kita melupakan lanjutan dari kalimat si penyair: "bagaimana bisa menjadikannya lebih positif."

    Sekedar menghidupkan latar jiwa kepenyairan yang sedang didiskursifkan oleh penyair, kita mengapungkan agar kerangka tulisan ini lebih cepat terbayang, apakah nyanyian brecht yang penuh panah api tapi amat indah itu, adalah bagian dari layar hitam dari dunia aktivitas negatif dalam bahasa, adalah saat brecht menusuki langit lewat tumbak tajam yang kemudian, ternyata digerakkan terbalik oleh Afrilia lewat doa airmata yang bergerak ke langit (gerimis yang naik ke langit), tapi yang naik ke langit adalah hujatan tajam penuh "kegelapan", suatu peristiwa di bumi yang tak kunjung kita mengerti.

    Brecht,

    "Nun di gelap lembah, orang orang lapar sekarat. kau perlihatkan roti padanya, tapi kaubiarkan mereka mati. sedang kau bertahta abadi. tak tersentuh. gemilang dan keji di atas rencana abadi."

    siapakah "dia" dalam puisi, meminjam afrizal, negatif gelap ini? "dia" - dia penguasa di bumi atau dia penguasa di langit? kita boleh kembali ke judul puisi ini. Brecht, "hymne kepada Tuhan." Lihat Tuhan bukan kuasinya, "tuhan-tuhan kecil" di bumi, mereka yang di sakunya penuh kuasa tapi kata afrilia utami: di sakuku kulipat sunyi-sunyi kecil" dari hatinya sendiri. bukan hati massa atau massa juga yang diteriakkan lewat jerit tanpa suara oleh penyair pemilik buku puisi halte biru ini, menjadikan puisi sebagai tanda yang mengambil tubuhnya sendiri sebagai representasi orang ramai: aku.

     Seraya berdiam di "cari" dan "kenal" Afrizal, sebuah jauh di dalam jiwa penyair, saya ingin menambahkan lagi argumentasi "batu-puisi" itu, yang mungkin saja terasa alamiah sehingga seolah-olah kurang kena apabila dipindahkan ke dalam puisi, yang tampak berjauhan dari segala segi, tapi saat kita memakaikan "mencari" dan "mengenali", maka dunia puisi yang tadinya jauh kini mendekat satu dengan yang lain. mereka tak lebih dari pengalaman, suatu peristiwa dalam bahasa yang kita sebutkan kebudayaan.

     Memang benar hymne kepada tuhan adalah derita massal, sedang gerimis yang naik ke langit adalah pengakuan individual. tampak jauh dan lagi pula satu datang dari bahasa yang telah teruji oleh dunia, brecht itu, sedang gerimis yang naik ke langit karya orang yang baru saja membuat buku puisi, afrilia utami ini. tapi andai kita mengambil dari dalam dan mengeluarkan satu kata kunci, maka mereka berdua bertemu pada hakikat "harapan" yang dimiliki oleh setiap orang. "gerimis yang naik ke langit", pada badannya yang paling dalam, adalah suatu doa yang bekerja dalam bentuk hymne kepada tuhan juga. lagi pula peristiwa kata di dalam kedua puisi, masih bisa kita keluarkan untuk mengambil suatu persamaan akan nasib manusia di bumi, yang dirumuskan oleh penyair afrizal sebagai gerak negatif dalam bahasa. justru dari sini kita bisa melihat celah dari karakteristik bahasa brecht dan afrilia, saat isi puisi itu kita gelar dan mulai menangkap apa yang terkandung di dalam dunia penanda di dalam puisi.

    Kita kembali ke Afrizal Malna lagi, bahwa pernyataan kreatifnya itu pada dasarnya bisa kita letakkan pada Hoplla Chairil Anwar dan Kredo Puisi Sutardji Calzoum Bachri. Adalah kehendak Chairil untuk mengorek kata dan apa yang dikorek-korek itu (sang penyair melamun berjalan-jalan merenungi seleksi demi kombinasi kata), mewujud ke dalam permainan dari kata yang paling memukau adalah thesa adalah kebenaran, adalah kata; kata yang hendak dibebaskan agar ia memiliki daya kratifnya sendiri, demi menemukan hakikat kebenaran kata (kredo puisi), Afrizal yang datang belakangan mengambil gerak dari dinamik kata itu dan mulai melihat ke dalam, ke bentuk genetik dirinya sebagai manusia penyair, merumuskannya sebagai gerak ganda dari "mencari" dan "mengenali" dirinya sendiri, tapi diri, kata penyair, adalah "anak asuh luas kebudayaan tempat di mana hoplla dan kredoa puisi juga berada. Sebuah gerak yang dikendalikan oleh rasa ingin tahu (ingat Aristoteles: mata kita gemar memandang mandang pun walau dalam posisi pikiran yang iseng).

   Apakah kata?

   Pertanyaan ini maju, ia menjadi "apakah bahasa"? dan sekali lagi ia bergerak maju sebelum berhenti, "apakah pikiran" tanpa media bahasa sebagai alatnya. pikiran, bahasa, itu suatu gejala yang paling unik mana kala kita merenungi tak suatu ada-benda-objek-peristiwa pun yang kuasa lolos darinya. kebenaran, yang hendak diorientasikan dengan jalan mencari dan mengenalinya, rupanya berada di sela-sela semua itu tapi sebagai pusat acuan. negatif adalah kabar dari permainan dari tiap ada-unsur dalam dunia - cepat ia digamit oleh unsur pasangannya adalah positif.

    Olehnya kita cepat pula tahu bahwa retorika sang penyair, "saya seorang negatif", adalah seolah keping dari dunia petanda di mana penandanya adalah bahasa, kata, pengindentitas tiap apa saja yang kemudian menimbulkan peristiwa dan pelan pelan kata kebenaran - syukur kalau bisa dipastikan, menjadi momok bagi manusia bahasa, atau manusia pada umumnya.

     di sini kita bertemu lagi dengan apa yang sedang ditampi penyair: gerak negatif hendak ia jadikan positif, pada kedua puisi itu, bahwa negativitas pada brecht tampak sedang ditampi oleh positifnya kata yang melakukan pengasingan dari doa ke gerimis dan langit sebagai arah mengafirmasi bahwa itu bukan tangis tapi doa anak manusia; roti yang basi atau busuk, yang tak pernah kau berikan kepada mulut kami itu, dengan cepat pula menyamar mengubah dirinya jadi ucapan penyair - temannya di tasik menyebutnya, gadis belia dalam puisi indonesia masa kini: ya, gurun, aku berjalan dari gurun ke gurun.

    "aku berjalan dari gurun-gurun ke gurun" dengan segera mengubah dirinya, "kami berjalan dari nirharapan ke nirharapan".

    sebab, kau telah mengambil roti dari mulut kami ini."

   kau berkuasa di kerajaanmu abadi.

    Negatif, walau ada belaian angin positif dari gerak air mata yang dibalikan oleh penyair: ia tak jatuh ke bumi - merinding, kata rini widya sumardi saat membaca gerimis yang naik ke langit; tapi toh dalam besaran berita yang menjadi pokok berita itu, meminjam pembukaan novel sampar, adalah sampar itu sendiri yang tengah melanda nasib dunia bernama: gurun pada afrilia; roti busuk pada brecht yang tak kunjung kau berikan ke mulut kami itu.

     lagi lagi kita melihat wajah dari frasa negatif afrizal; berulang-ulang, kata penyair dan memang begitu dunia: ia dibangun di atas, kata Berger, "tumpukan piramida kurban manusia." negatif lagi. kita musti menghela semua ini ke arah positif, bisik si penyair pembuat siti nurbaya berlari lari di latar sejatah sastra kita. negatif dari dunia masa lalu masih hendak dipanggilnya juga, ke sini, agar hidup lagi dalam rumah gadang perempuan berambut panjang. positifkah gerak "melunakkan" masa kini dengan memanggil perempuan yang ternegatifkan di masa lalu?

0 komentar:

Posting Komentar