*Heisenberg
Anggap saja nama tulisan saya ini parodi dari "Melolong Bersama Serigala", tulisan Capra di bukunya Kearifan Tak Biasa. Itu juga sudah saya lepaskan pengulangan dari kata "serigala". Entahlah saya begitu: terus-menerus dikuasai oleh rasa paling maksimal dari kehadiran sebuah bahasa, dan saya menganggap jauh lebih kuat "melolong bersama serigala" daripada "melolong bersama serigala-serigala". Pasti bukan karena saya lebih tertarik pada Heseinberg dari Khishnamurti, dua orang tokoh yang sedang direnungi oleh Capra dalam tulisannya.
Saya mengenal Heisenberg dari buku-buku Capra dan kukira bijak sekali kita menyebutkan dari siapa kita mengenal ide karena jasa ia yang mengantarkan kita kepada sebuah bahasa. Ada kutipan di buku Capra itu yang begitu saya senangi, dan justru karena senang maka buku yang disebutkan Fritjof Capra ini saya cari - saya menemukannya di dunia internet, tulisan Heisenberg, buku terbitan PENGUIN BOOKS, Physics and Philosophy. Saya baca cepat buku 200-an halaman ini, mengalami rasa bahasanya, tahu bahwa mengapa ia disebut "fisika" & "filsafat" oleh Heisenberg. Kita di buku ini melihat lagi filsafat Yunani seperti heisenberg melihatnya dan sambil melihatnya ia berbicara tentang ilmunya, yakni fisika dalam perspektif fisika dari dunia kecil yakni atom.
Nah kini fisika itu bertemu dengan filsafat, sama-sama hendak mencari dan merenungi dunia. Fisika mencari dunia lewat jalan dunia objek yakni atom, ke balik dunia yang begitu kecil seperti bahasa, adalah sastra, merenungi dunia yang maha luas dengan peristiwa-peristiwanya tapi akhirnya mengecil juga, ke balik di setiap tujuan dari makna dunia ini. tujuan yang hendak diraih sastra ini yang bertemu dengan fisika itu, bahwa mengapa kita manusia begini? mengapa dunia ini begini? kalau dirumuskan lewat ilmu heisenberg, mengapa partikel-partikel atomik ini berlaku begitu tak terduga seperti kita di dunia manusia juga.
Selalu saya senang menemukan, atau bertemu, dengan sumbernya langsung seperti senangnya hati saat sumber itu dialihkan ke bahasa kita ini. Tapi bila ia mungkin kita capai, kita ingin mengalaminya langsung, dari sumber bahasa yang kita anggap mengerti. Usia kita tak lagi cukup untuk mengerti seluruh bahasa yang mungkin sumber pertama dari suatu bahasa yang tidak kita kenali. Saya senang berada pada kutipan ini, pikiran Heisenberg yang pertama kali saya temukan di buku Capra.
"During the months following these discussions an intensive study of all questions concerning the interpretation of quantum theory in Copenhagen finally led to a complete and, as many physicists believe, satisfactory clarification of the situation. But it was not a solution which one could easily accept. I remember discussions with Bohr which went through many hours till very late at night and ended almost in despair; and when at the end of the discussion I went alone for a walk in the neighboring park I repeated to myself again and again the question: Can nature possibly be as absurd as it seemed to us in these atomic experiments?"
Anggap saja nama tulisan saya ini parodi dari "Melolong Bersama Serigala", tulisan Capra di bukunya Kearifan Tak Biasa. Itu juga sudah saya lepaskan pengulangan dari kata "serigala". Entahlah saya begitu: terus-menerus dikuasai oleh rasa paling maksimal dari kehadiran sebuah bahasa, dan saya menganggap jauh lebih kuat "melolong bersama serigala" daripada "melolong bersama serigala-serigala". Pasti bukan karena saya lebih tertarik pada Heseinberg dari Khishnamurti, dua orang tokoh yang sedang direnungi oleh Capra dalam tulisannya.
Saya mengenal Heisenberg dari buku-buku Capra dan kukira bijak sekali kita menyebutkan dari siapa kita mengenal ide karena jasa ia yang mengantarkan kita kepada sebuah bahasa. Ada kutipan di buku Capra itu yang begitu saya senangi, dan justru karena senang maka buku yang disebutkan Fritjof Capra ini saya cari - saya menemukannya di dunia internet, tulisan Heisenberg, buku terbitan PENGUIN BOOKS, Physics and Philosophy. Saya baca cepat buku 200-an halaman ini, mengalami rasa bahasanya, tahu bahwa mengapa ia disebut "fisika" & "filsafat" oleh Heisenberg. Kita di buku ini melihat lagi filsafat Yunani seperti heisenberg melihatnya dan sambil melihatnya ia berbicara tentang ilmunya, yakni fisika dalam perspektif fisika dari dunia kecil yakni atom.
Nah kini fisika itu bertemu dengan filsafat, sama-sama hendak mencari dan merenungi dunia. Fisika mencari dunia lewat jalan dunia objek yakni atom, ke balik dunia yang begitu kecil seperti bahasa, adalah sastra, merenungi dunia yang maha luas dengan peristiwa-peristiwanya tapi akhirnya mengecil juga, ke balik di setiap tujuan dari makna dunia ini. tujuan yang hendak diraih sastra ini yang bertemu dengan fisika itu, bahwa mengapa kita manusia begini? mengapa dunia ini begini? kalau dirumuskan lewat ilmu heisenberg, mengapa partikel-partikel atomik ini berlaku begitu tak terduga seperti kita di dunia manusia juga.
Selalu saya senang menemukan, atau bertemu, dengan sumbernya langsung seperti senangnya hati saat sumber itu dialihkan ke bahasa kita ini. Tapi bila ia mungkin kita capai, kita ingin mengalaminya langsung, dari sumber bahasa yang kita anggap mengerti. Usia kita tak lagi cukup untuk mengerti seluruh bahasa yang mungkin sumber pertama dari suatu bahasa yang tidak kita kenali. Saya senang berada pada kutipan ini, pikiran Heisenberg yang pertama kali saya temukan di buku Capra.
"During the months following these discussions an intensive study of all questions concerning the interpretation of quantum theory in Copenhagen finally led to a complete and, as many physicists believe, satisfactory clarification of the situation. But it was not a solution which one could easily accept. I remember discussions with Bohr which went through many hours till very late at night and ended almost in despair; and when at the end of the discussion I went alone for a walk in the neighboring park I repeated to myself again and again the question: Can nature possibly be as absurd as it seemed to us in these atomic experiments?"
0 komentar:
Posting Komentar