Rabu, 28 Januari 2015

3. KRITIK sastra


Permainan Pleasure-Displeasure 

   "Sesuai yang kita inginkan, yah"

   Manusia bergayut dengan waktu, dengan ruang, atau, ruang, waktu, yang bergayut dengan manusia? Bagaimana ruang dan waktu itu saling seolah tubuh dan roh manusia. apakah ada waktu, tanpa ada ruang? di "ruang" apa waktu itu mekar dan menjalar? dan ke mana ia mekar menjalar? siapa di dalam waktu yang berjalan seperti itu - mekar menjalar? apakah ada ruang tanpa waktu? ruang apa yang tak memiliki luas dan panjang? berputar seperti ini akan melemparkan kita kepada sepenuhnya "ketiadaan yang kita tak mengerti", andai waktu dan ruang itu adalah langkah awal kita memprovokasi kehadiranNya, yang tak beruang dan tak berwaktu. 

    Syukurlan Nietzsche dan Afrilia Utami bukan Tuhan sehingga kedua orang ini memerlukan ruang dan memerlukan waktu, bernama negasi sebagai ruang dan waktu dari sebuah kata yang sedang kita orientasikan, bahwa di kata "negasi" - pergi ke gua, tak ingin lagi di kota, masuk ke hutan, itu adalah jalan menolak waktu tapi pada saat yang sama memasuki waktu yang lain, sehingga kata negasi ini dengan cepat mesti diberikan pelampung, bahwa bukanlah ia menolak, tapi ia ingin mengambil waktu dan ruang yang lain. ruang dan waktu kota ditolak, tapi pada saat yang sama atau seketika, kata tolak beralih jadi kata menerima - ruang dan waktu di dalam hutan diterima sebagai sebuah kemungkinan. di baliknya ada motif itu. apakah motif ini yang disebut oleh kant dengan pleasure, dengan kota adalah ruang dan waktu displeasure bagi afrilia atau nietzsche. faktanya zarathustra pergi ke kota(nya) kembali. bagaimana dengan rumah kayu? apa yang dilakukan aku fakta afrilia yang sedang mengembang dengan cara menyamar, jadi aku-fiksi dalam cerita rumah kayu yang mengharukan itu.

   Saya tertarik dengan kalimat "sesuai yang kita inginkan, yah", dan mencobakannya dengan kalimat kalimat yang bergerak di zarathustra. dari sini kita melihat motif mengapa "hutan-gua" menjadi pilihan. jadi ada sugesti di "sesuai yang kita inginkan, yah". maka sugesti itu akan selalu terhubung kepada imajinasi, bahwa kita mengimajinasikan tapi bahasa memandu imajinasi kita dari dalam. rumah kayu ini, begitu menggoda imajinasi, akan mengapa harus mengajak ayahnya masuk ke dalam hutan. kita lalu membayangkan apa yang terjadi pada hidup mereka, seraya terus juga mewaspadi, apakah hutan yang dimaksudkan oleh rumah kayu atau zarathustra.


   Rumah Kayu, Gua, dan The Bounded Text 

      Interteks

   Tetapi dengan begitu manusia bergayut dengan bahasa, bahasa juga yang kuasa membuat kita terkurung, walau pada saat itu kita juga pada dasarnya sedang melepaskan. Esai Kristeva misalnya (buku desire in language), mengurung manusia dalam (nama esainya) "the bounded text". jadi bahasa, atau cerita, entah itu sebuah novel, cerita pendek atau puisi, dibatasi oleh dirinya sendiri bernama "text", yang mengisikan dalam dirinya ruang-ruang dunia yang pernah sampai kepadanya - ingatan, kenangan masa lalu, atau harapan ke masa depan, termasuk segala macam afirmasi dan permainan negasi. Kita pun lalu terlibat "permutasi", menyusun ulang kembali, apa yang pernah dan telah sampai itu. Persis di "permutasi" ini juga kristeva bergayun dengan intertekstualitasnya sebagai sebuah teori dari banyak teori dalam semiotik, bahwa tiap tanda mampu diisi ulang dan teks, menyiapkan ruang untuk permainan penyusunan ulang itu.

    Barangkali "ideologeme" adalah keyakinan, terdalam seorang pengarang, jiwanya, saat ia mengambil ruang mengucapkannya, katakanlah ruang cerita di dalam sastra, tempat permutasi dari itu bermain. Tetapi adalah ruang ini juga yang menjadi "ruang", sebuah kata, yang tak pernah kedap pada dirinya. dalam bayangan teori kristeva ia sebuah ruang intertektualitas. ada bahasa, ada cerita, sebuah ruang yang diisikan, sebuah ruang terberi tempat di mana pengarang memainkan "setiap bagian yang pernah dan telah sampai itu", sebuah ucapan ke dalam, mengisikan ruang yang saling itu. "in the space of given text, several utterances, taken from other text, intersect, and neutralize one another."

    Jadi teks menyiapakan ruang - adalah sebuah cerita, sebuah struktur, sub-sub ruang yang disikan oleh segala macam ucapan, yang sedang bersilangan, saling memotong, menetralkan satu sama lain, ya mengkomposisikan ulang segala yang pernah dan telah, atau yang dibayangkan akan itu. (penuis) pengantar buku kristeva itu, leon S Reoudiez, berkata atau melakukan "bounded text" juga alias memagari tiap diksi di dalam buku, memagari pengertian apakah interteks yang sedang kita katakan ini, lewat kata penegas bahwa "intertextualite", adalah kata dalam bahasa prancis yang diproduksikan oleh kristeva, miliknya sebagai sebuah pengertian, walau pengertian ini diambil, dengan cara menyiapkan untuk dirinya sendiri, dari orang sebelumnya.

    Tapi kita melihat atau ruang semacam itu, yang tak kedap tadi. Kini ruang teks sebagai ciptaan, terlontar kembali ke alam raya atau ruang waktu di mana seseorang hidup, yang mulai mengalami apa yang disebut kristeva sebagai interteks dalam tiap kenangannya pada waktu dan ruang yang sampai, pernah sampai, atau kelak yang akan ia bayangkan. ruang yang saling melontarkan diri - kadang ia kita isap dari dalam ciptaan sastra, kadang terlontar lagi dan sebuah bunyi alam, lanskap langit, menjadi ruang bagi dunia interteks yang lain. tak kita kecilkan apa yang telah diproduksikan oleh kristeva lewat kata "intertektualite" itu, tapi bahwa ia, hanyalah kata, yang tak kedap, kuasa mengisolasi, karena ia adalah pengalaman hidup bersama - kata itu menajdi representasi, pengucap bagi jiwa kita yang menyentuh dan disentuh oleh dunia luar - alam, dunia dalam, teks, ciptaan.

   Apakah hanya sudut pandang pencerita yang membuat ruang "rumah kayu" berbeda dengan ruang "prolog", bahwa rumah kayu langsung di buka oleh si aku sedang prolog ada seorang narator yang hanya bisa kita lihat lewat dunia penanda, apa maksudnya, adalah si zarathustra yang masuk ke dalam rimba dan sampai ke guanya. Ia bermain netral sekali, melakukan perenungan dan mengambil segalanya ke dalam dirinya. Ruang ruang yang diambil itu dikerjakan lewat tanda, sebaliknya rumah kayu bergerak langsung masuk ke masalah yang sedang dihadapinya sendiri. di awal kita tidak melihat permainan tanda yang begitu tegas dikerjakan oleh nietzsche, bahwa dunia luas lebar ia bawa, atau dalam kata kata kristeva tadi, ia isikan, jadi ruang sendiri bernama danau, rumahnya, serta kehendak zarathustra pergi mengembara - ruang itu rupanya sesak juga, ia membutuhkan pelebaran ruang (dan waktu), dengan cara menegasikan ruang halamannya untuk memasuki ruang dari halaman lain lagi.

    Kalimat awal afrilia utami itu, seolah-olah mengisap seluruh biografi tokohnya dengan begitu cepat membawakan kisah itu lewat kata "sekarang", ruang bagi dirinya membuat seluruh masalahnya. permainan yang begitu cepat, kita langsung dibawa masuk, ke dalam kata "sekarang", tapi pada saat yang sama lewat fasilitas imajinasi kita dilemparkan langsung dari "sekarang", ke arah masa lalu dari kedua tokoh yang dibangun oleh afrilia lewat ayah dan anak, yang tiba tiba dihadirkan.

   "Sekarang, kita berdua pindah ke hutan. Sesuai apa yang kita inginkan, Yah."



"Dua jenis Tanda"

*pembaca yang masuk ke dalam cerita

   Tapi mungkin kita keliru kalau awal dari "Rumah Kayu" itu "tanda" tak hadir, justru lewat "rumah kayu", tanda menggoda persepsi kita karena bukankah galibnya rumah ia dibuat dari kayu, sehingga nama cerita ini, tidak serta merta membawa kita ke dalam hutan. di sini kita diisolasikan, dalam dunia batas yang mungkin. bisa saja rumah kayu itu adalah rumah rutin yang normal. jadi masih ada kota (baca: masih ada peradaban modern), kalau hendak kita bawakan ke wacana tradisi-modern, nama cerita afrilia itu. begitu kalimat pertama terayun kita mulai dibawa segera, pindah dari dalam kota ke dalam hutan. ada tanda di sini seperti di zarathustra itu. Tanda, suatu godaan yang paling menarik dari pengucapan sastra, sepanjang tanda itu, merasuk ke dalam cerita sebagai dunia yang hidup sebagai kisah.

   Sebagai pengarang afrilia sering memainkan dunia batas begitu, sebuah sugesti yang terhisap kembali oleh awal dari pengertian kita kepada dunia, seperti berumah di halimun dunia, yang serta merta membawa kita ke arah jauh, bukan di dalam dunia ini lagi, tapi rumah dan halimun, adalah penarik rumah yang tampak ingin dipindahkan dari bumi ke langit, bahwa itu kisah bumi juga, tapi dengan begitu bumi telah disentuh, katakanlah, disublimasikan, sehingga ia tak sepenuhnya bumi/objek/benda yang mungkin bisa banal, keras dan kasar, tapi telah mendapatkan penghalusan dengan sentuhan di atas halimun dunia, suatu cara mengatakan kita pindah, dari bumi ke tempat lain mungkin langit, kosong dan sepi dan karena itu kurang beracun, ketimbang racun bumi seperti kini langit dibentukkan secara mendatar horisontal lewat langit yang mengendap bernama hutan. selalu ada upaya tepi untuk pindah, dari kekinian ke keakanan, tapi alam tak kuasa, mengizinkan kita mengungsi andai di bumi banyak racun. kita, manusia, nasibny memang di bumi. tapi kita, manusia, kuasa menegasikan bumi dengan jalan, (hanya) memanipulasinya saja. antara lain lewat hutan yang kini menggerakkan rumah kayu ke dalamnya itu.


"Pembaca yang masuk ke dalam cerita"

   Dua jenis tanda yang kita hayati, atau saya maksudkan itu, adalah bentuk dari kepenuhan emosi di dalam dua cerita ini. prolog itu mengayunkan emosinya dengan kendali tanda juga, seperti rumah kayu, tapi kita mengalami dua bentuk dari jenis perasaan yang berbeda satu dengan yang lain. ke sini saya kini bergerak, mengalaminya dengan cara, melebur diri agar masuk menghayati kedua jenis dari bentuk emosi dalam sastra ini. meneliti emosi yang dimunculkan oleh prolog dan rumah kayu, itulah yang kini sedang terjadi dan hendak saya ungkapkan. Dengan jalan begini pembaca mulai mengaktifkan dirinya, tak lagi membuat jarak tapi telah pindah, dari luar ke dalam. apakah kita kini bisa disebut sebagai pembaca, yang telah mengubah dirinya menjadi dalam, dalam pengertian, kita lalu hidup di dalam cerita itu.

   Kita ingat wacana sartre yang dibawakan dalam bukunya apakah sastra, tentang kata di dalam bahasa. penyair di dalam kata, atau di luar bahasa, dan dengan cara kita sendiri, kita ingin menghayati langsung kemungkinan dalam dan luar dalam posisi diri sebagai pembaca. apakah saya adalah kata, atau saya adalah bahasa - jadi bukan manusia lagi, atau manusia itu sesungguhnya adalah kata, adalah bahasa, yang kini sedang mentransformasikan dirinya, mengubah segala kebudayaan diri sebagai personal mandiri, demi masuk menjadi kata di prolog zarathustra, atau rumah kayu. atau saya adalah bahasa, lebih luas dari kata yakni pengertian, atau saya hanyalah satu saja, kata, dengan pengertian tertentu yang kini sedang berusaha menyelinap masuk ke dalam cerita.

    Menempatkan diri sebagai "yah-ayah", selaku pembaca saya menghilang dan muncul menjadi ayah di sana, di dalam cerita afrilia utami rumah kayu, dan mulai memikirkan, betapa ganjil karena kenyataannya, diri bukanlah aku-ayah dalam cerita yang mengenal biografi dari dirinya sendiri, yang berkolerasi dengan si aku yang mengajak ayahnya, nah keluar lagi saya sebagai pembaca dan kini dengan tekanan penuh diri pembaca menghilang lagi dan menjelma jadi ayah, yang sedang dipasifkan oleh si aku karena si aku, yang sedang mengaktifkan diri lewat caranya melakukan solitaire, mengajak ayahnya masuk ke dalam hutan. saya berubah jadi ayah itu, memegang tangan si aku dan bertanya, "mengapa kita masuk ke dalam hutan, nak". tapi lalu terdiam sendiri, karena ayunan kata "mengapa" segera membocorkan riwayat kami mengapa harus masuk ke dalam hutan. ia jadi begini: kami telah menolak wacana kota, karena asapnya, atau karena kekurangan bening di dalam jiwa, jadi kami kini masuk ke dalam hutan, berdua untuk membuat rumah kayu kami sendiri.

   Keluar masuk saja kerjaan saya bahkan dengan nyata saat saya yang telah bergerak dari aku di dalam cerita sebagai ayah di rumah kayu, bergerak jadi pembaca lagi adalah saya yang kini melakukan lompatan demi menyeberang, masih terlihat pembelahan dari saya aku pembaca dan aku saya ayah dalam cerita, tak terasa batas yang mengapung itu kini saya derita juga, saat melompat keluar masih saya lihat aku yang pergi itu meninggalkan jejak senyum di wajah si anak, aku anak yang keheranan melihat ayahnya mendadak meloncat dari rumah kayu mereka, pindah ke prolog dan mata si anak masih lekat di punggung aku-saya yang lagi terbelah: satu matanya memandangi si anak sedang matanya yang lain telah dijempat, atau tepatnya, sedang mengubah diri jadi narator dalam prolog zarathustra.

0 komentar:

Posting Komentar