Minggu, 25 Januari 2015

1, tercelanya bahasa


socrates & al-ghazali 

--- "abid itu berkata: 'jikalau aku pindahkan masjidku ke pohon kayu itu, maka tenanglah aku berjinakkan hati, dengan burung itu."

"orang yang empunya cerita itu meneruskan ceritanya: 'orang abid itu lalu berbuat demikian. maka Allah Ta'ala menurunkan wahyu kepada nabi zaman itu: 'katakanlah kepada abid anu, bahwa engkau telah berjinakkan hati dengan makhluk. sesungguhnya akan Aku turunkan engkau kepada tingkat, yang tiada akan engkau capai untuk selama-lamanya, dengan sesuatu dari amalan engkau'." ---



saat membaca kembali ihya' al ghazali, tiba-tiba segala sastra dunia menjadi "kecil", tepian-tepian makna-makna jauh bahasa saja, kecuali bahasa yang penuh "iman dari kanan". makna dekat bahasa itulah ihya', sebuah bahasa yang menembus sampai dekat sekali. kita disuguhi oleh bahasa dalam kehakikian yang paripurna, akan hakikat hidup yang telah tak lagi bisa diukur dengan bahasa apa pun. oleh sebab dua sumber ihya, yaitu kitab suci dan sunnah nabi. misalnya bahasa di mana nabi dawud diminta pergi ke sebuah bukit lebanon, tempat ke-14 orang wali Allah yang hidup di mata air. kisah ini mirip sekali dengan saat nabi musa diminta berguru dengan khidir.

   begitulah tampaknya, sebelum kita menarik semuanya kembali ke dalam tafsir

  sekali lagi musa diminta bertemu dengan "khidir" dan itulah saat ia sholat bersama tujuhpuluh ribu orang bani israil - dulu israil namanya. minta hujan karena sudah 7 tahun tidak hujan. gagal dan kata Tuhan: musa kamu berdoa bersama orang orang keji di belakangmu. bila kamu mau hujan temui hambaku namanya barakh. soalnya kini, adakah orang orang suci seperti orang suci masa lalu di negeri palestina kini, bung Djazlam Zainal, yang bisa melantak israil itu. tapi kita tetap simpati saja, ada tidak ada orang suci. kita simpati karena israil itu "kuat" sedang lawannya kini kekurangan. tapi mari kita petik satu kisah ini, masih dari ihya'. bahwa ada seorang abid, ahli ibadah, yang serupa zarathustra puluhan tahun berdiam dalam hutan, lalu datang burung dan ia suka sekali dengan burung itu, ia hidup dengan burung itu. lalu turun wahyu kepada nabi di zaman itu, di zaman kisah ini terjadi, kataNya: sampaikan kepada ahli ibadahmu itu, bahwa engkau telah berjinak hati dengan mahluk (serupa kita berjinak hati dengan puisi jugakah kisah ini?).

bagaimana dengan bahasa yang datang dari kanan? mahlukkah ia walau dari kanan? toh burung itu mahluk dan ia mahluk yang netral: bentuknya yang lucu dan suaranya yang merdu. wah bahasa, begitu halus dan samar, tapi perlu kita ingat baik-baik bagi pebahasa yang sungguh-sungguh inginkan bahasa). sampaikan karena itu engkau tiada akan memperoleh apa-apa. abid ahli ibadah itu, diturunkan tingkatnya, ke bawah, ia tak bisa naik untuk selama-lamanya. begitulah bahasa langit bila dilawankan dengan bahasa bumi, tempat orang seperti socrates mesti belajar dari buku buku seperti buku ihya' ini. socrates itu hebat, sayang ia tak mengenal ghazali. lalu, mengapa kita tak mengenal, tak hendak mengenal, kitab kitab kita sendiri?

andai kita mengenal kitab kita sendiri, apa yang kita dapatkan? berdiam di sini serupa berdiam dalam kitab kitab dunia juga: berdiam dalam banyak arah tempat kita bisa memilih dan memutus. boleh jadi kita tak memutuskan karena didorong terus oleh gelombang dari bahasa, yang salah satunya adalah "cemburu". bahwa Dia itu adalah paling cemburu, saat kita "melupakannya", Dia begitu cemburu kepada manusia. keadaan ini yang membuat kita takjub: cemburu itu menuntut ego yang luar biasa besar. didudukkan kepada keseimbangan, maka keseimbangan telah lenyap, habis dimakan oleh cemburu.

kita lalu mengalami fana itu: diri menghilang di dalam diriNya dan inilah yang ia kehendaki pada puncakNya.

banyak orang tersesat di sini tapi kita tidak. sebab diri akan selalu mengambil jarak sambil merenungi kemungkinan imajinatif yang begitu spekulatif. mudah mengerti tercelanya dunia saat keadaan puncak yakni cemburu yang mesti dihadirkan. gerak ekstrem dari tercelanya dunia kita letakkan ke sini, walau dalam segenap totalitas ia bukanlah gerak ekstrem karena dunia itu memerlukan tangan-tangan pengolahnya yang adalah hasratNya juga, dengan membuat lapisan lapisan dari paling bawah hingga puncak, akibat dari cemburu: manusia sufi-nya bersatu ke dalam diriNya, menghilang dan habis di sini.

begitu samar saat bunyi burung itu kini mencampakkan amal ibadah seorang ahli ibadah. ia serupa kisah dari jepang itu: ahli ibadah mendadak suatu ketika disingkapkan, lewat gerak ekstrem dari nafsu badaniah yang kini bangkit dan menyerbunya dari dalam. sang sufi dari jepang ini pun hancur lebur, kembali jadi badaniah lagi. perbatasan perbatasan seperti ini, tepian tepian atasnya bukanlah untuk dunia yang biasa, dan tapi dengan begitu, apakah ia lalu akan serta merta menjadi dunia biasa bagi bahasa yang sedang atau ingin bergerak ke sini?

kita mengamati segala gerak bahasa dunia yang mengalir ke sini, lewat diri yang lenyap kita lalu tahu bahwa bahasa, walau dunia sepakat mengatakan ia bagian dari puncak puncak bahasa dunia, bisa saja tidak mencapai puncak karena kepuncakan itu adalah hilangnya nafsu di dalam bahasa. sebuah bahasa kita hitung dari sini: kemampuannya menghilangkan diri, dengan jalan mentransformasikan dirinya menjadi, bukan bunyi burung dunia lagi tapi bunyi burung gaib alias bunyiNya, yang kini terdengar - bukan bunyi dunia yang kita kenali. sebab diri telah habis, telah tak lagi eksis.

seandainya tidak ada rasul muhammad tapi ada kitab suci al quran, maka buku ini sempurna akan menghilang. tak ada petunjuk yang bisa mengkonfirmasikan ketinggian, kedalaman, serta kehalusan ajaran-ajarannya. untuk melihat dunia yang amat halus ini, kini kita pindahkan dengan mengambil salah satu contoh paling ekstrem yang pernah ada, yakni manifesto komunis itu: ada ajarannya tapi menghilang negara yang menyebabkan manifes semacam itu lahir/dilahirkan. maka apakah yang akan kita lihat dari nilai-nilai kemanusiaan yang hendak diraih oleh manifes itu? tidak ada karena nilai kapitalisme yang hendak ia berontaki itu tidak juga pernah ada. alhasil manifes itu jadi kitab yang sungguh absurd: tak ada acuan dari mana segenap pemberontakannya itu diambil. tapi rasul muhammad itu ada sehingga kita bisa mengkonfirmasikan setiap apa yang dimuatkan oleh kitab suci al quran ini.

dari sinilah kita mulai akan memikirkan bahasa dari burung yang telah menyebabkan abid sang ahli ibadah itu, tercampak tak bisa naik selama-lamanya, karena ia bukan bertujukan kepadaNya tapi berkhidmat kepada mahlukNya: bunyi burung dan burung, yang amat ia sukai. sedang Ia tak pernah inginkan ada saingan, pun atau justru, saingan dari mahluk yang Ia ciptakan sendiri.

tentu saja kita takakan bisa menghindar kepada medium lagi, sebab medium inilah yang berfungsi sebagai mediasi antara kita dan pun diriNya. atau kita itu bukan kita tapi diriNya? sehingga oleh sebab ini kita tak lagi memerlukan medium, karena saat meloncat dalam keadaan puncak, kita lebur, fana di Dia. hallaj itu masih memakaikan medium yakni perasaannya, saat berseru dalam ekstase: akulah Tuhan.

tercelanya dunia

bukanlah ghazali yang membawa kita kepada pengertian bahwa dunia itu tercela, tapi Dia sendiri dalam banyak firmannya. hanya jasa ghazali itu, lewat caranya menulis yang unik, memperlihatkan dari kombinasi ayat dan hadis, sehingga kita mengerti mengapa dunia itu disebut tercela.

telah kita katakan di atas itu, dunia tercela karena potensinya yang memutus jalur perhubungan kita dan Dia, sedang Dia itu maha cemburu. Ia tak inginkan kita ini sejenak pun berpaling ke hati yang lain. prof ismail penerjemah ihya' ini ke bahasa kita, memberikan catatan kaki tentang tercelanya dunia, yang menurut saya kurang tepat, kurang seperti yang dikehendaki oleh ghazali sendiri. yaitu bahwa dunia itu tercela kalau kita sampai tenggelam ke dalamnya.

mudah membayangkan, apa arti kita tenggelam ke dalam dunia. dunia praktis sehari hari yang kita gumuli telah tak lagi dipandu oleh ajaran ajaran, sehingga yang ada adalah sifat liar, sifat hewan, sehingga dikatakan bahwa dunia itu akan memperlihatkan gigi gigi anjingya, menggigit kita di sepanjang jalan. tapi bukan ini saja. andai kita mampu melepaskan diri dari godaan dunia, dengan cara meletakkan diri ke dalam ajaran atau panduan, dunia masih akan tercela juga. oleh apa? oleh sifat Dia yang tak inginkan kita sedetik pun berpaling ke arah yang lain.

inilah penjelas mengapa abid yang justru diceritakan oleh ghazali itu tidak bisa naik lagi. sikapnya berjinak hati kepada dunia, bukan kepadaNya, telah memutus jalan itu. sampai di sini kita akan bertemu dengan sifat bahasa/sastra, artinya keadaan ini mempunya implikasi langsung kepada bidang kita ini.

kalau bunyi burung saja sudah sampai kepada kesimpulan, bahwa itu adalah tanda dari hati mahluk ke hati mahluk yang lain, maka segalanya kini jadi runtuh. kitab kitab tinggi tagore, rumi, kitab siapa saja, kini ikut jadi runtuh. sebab bukankah bunyi mahluk yang sedang kita dengar dari puisi puisi yang tinggi itu?

cemburu

sifatNya yang cemburu itu membuat ruang tak bisa berbagi, dan haruslah kita membayangkan kecemburuan itu adalah ruang total di antara kita dan Dia. taruhlah ruang itu ada, di dalam karya sastra. kasidah cinta rumi misalnya, suatu ruang yang ia sebutkan sebagai Sahabat (huruf kapital di baris: "siapa pula di dunia ini seperti Sahabat kita?), tapi toh "ruang Sahabat" ini pun meski berbagi, dengan ruang-ruang lain dan itulah dunia bukan Dia. kita lalu mudah mengerti, meminjam cerita abid tadi, si ahli ibadah, bahwa ruang total seperti itu jadi tak mungkin. akibatnya rumi yang mulia juga jadi ikut runtuh. tagore juga runtuh. sang nabi juga ikut runtuh. sebab pada kenyataannya, tak ada bahasa yang kuat bertahan di ruang yang bersifat totalistik seperti itu. lalu seperti apa seharusnya? puisi dengan cita rasa langit di negeri kita, ada walau jumlahnya mungkin tak banyak. kalau kita mengikuti tulisan tulisan yang memberikan evaluasi terhadap bahasa bahasa ini, kita tak menemukan kecuali sifat tulisan yang umum, tulisan yang tak menguraikan dengan rinci, kecuali bahwa ia itu bersifat umum tadi: bahwa puisi sutardji, atau abdul hadi, atau senior mereka semisal hamzah fansuri, itu adalah puisi puisi yang bersifat kesufian. tapi tak pernah, karya karya itu dihadap-hadapkan dengan cara memikirkannya secara radikal seperti yang sedang kita lakukan ini.

sebab amat tidak memadai hanya mengatakan, walau lewat analisa yang logis dari kebenaran esai esai itu, bahwa bahasa bahasa begitu memiliki nilai transendensi. tak cukup karena oleh adanya realitas ketinggian dari lapisan-lapisan, oleh adanya sifat pencemburu yang membuat kita bisa menghitung tinggi dan rendahnya mutu sebuah puisi atau sastra.

Pelukis Baka

dalam bentukan totalistik seperti itu segala bahasa, yang kita ringkas lewat temanya, akan menyerah sebagai bahasa yang pecah ke bukan Dia tapi wajahNya yang lain. adalah mahluk. segala bahasa yang tinggi mengerjakan dirinya lewat retorikanya, menikung di jalan dunia walau untuk mencapaiNya. tapi justru di sini: kecemburuan yang maha hebat itu, telah dikatakan memotong jalurnya. kita pun kehilangan akses karena akses itu kini diputus.

dalam kata-kata seorang sufi besar saat membahasa bab uzlah, keadaan terputus ini bukanlah jam tapi selewatan hati manusia - bukanlah sampiran tapi isi - sekejap diri teringat yang lain, kata abdul kadir jailani, maka sekejap itulah dirimu telah batal. sedang yang kita hadapi adalah bahasa, yang terus menerus mencurahkan dirinya kepada sampiran untuk merengkuh isinya.

tak ada yang menyangsikan "rahasia penciptaan", empat baris empat baris seuntai omar kayam itu bahasa penuh cahaya Ketuhanan, tapi lihat ia terus menerus membelok, turun ke dunia saat naik ke langit."Meski tampan wajahku dan indah warna kulitku,Pipi bagai bunga tulip, bentuk tubuh pohon saru,Namun tak jelas kenapa Pelukis Baka meriasku demikianUntuk tampil di bedeng pertunjukan dunia yang berdebu."

ketotalan itu tak mengizinkan para pujangga untuk memainkan dirinya di sela seperti dimainkannya tubuh sendiri serta dunia oleh kayam. "meski tampan wajahku..." telah mengambil ruangNya, dan karena itu pemusatan dari sebuah upaya uzlah itu, telah dengan sendirinya batal. sebab diri diminta memusat hanya padaNya semata, bukan yang lain.

kita melihat upaya omar kayam untuk membawa tubuh keluar dari nafsu tubuh, dengan cara melarikan tubuh itu sebagai bayang-bayang benda - apakah kita akan bernafsu dengan tubuh-benda ini? "pipi bagai bunga tulip" dan "bentuk tubuh pohon saru". tapi itu tidak cukup. dalam satu arti ia bisa kita pandangi sebagai nafsu diri yang telah dikalahkan, lewat jalan diri yang dibawa ke benda. tapi di arti yang lain, penyerahan total yang diminta kepada manusia itu, telah membuat penghilangan diri-nafsu ini jatuh kepada sia-sia. apalagi andai bahasa, walau dalam cita rasa kesufian, kelangitan, tak sedekat dengan bahasa dari rahasia penciptaan omar kayam ini.

bahkan andai ia lebih dekat lagi, dengan cara memulai penyebutan Dia di baris awal bukan di baris tengah (dari empat seuntai dari bentuk yang dipilih omar kayam), maka baris baris sesudahnya, adalah menjauh juga dari baris Ia yang kini sudah begitu "dekat" ("2: begitu berat Ia mulai penciptaan diriku,").

sekalipun sifat penjauahan di empat seuntai keduanya ini agak lain. bila di atas ada upaya "pembendaan", maka di "2" ini apa yang benda itu dikeluarkan lagi, ke arah resah diri dan resah ini, tentulah makin men-jauhkan kembali apa yang sudah dekat itu. itulah sebabnya, dalam paradigma seperti ini, akan kita katakan bahwa mutu bahasa kayam di nomor 2 ini kalah baris barisnya dengan baris awal dirinya."Begitu berat Ia mulai penciptaan diriku,Dengan memberiku hidup cuma menambah resah bagiku;Kita mesti pergi selagi belum juga tahu pastiBuat apa lahir, hidup, berlalu."

saat burung dan bunyi burung itu kita pikirkan baik-baik, maka ia membawa implikasi kepada setiap apa yang kita senangi, apa yang menjadi pusat manusia hidup dalam dunia. kalau burung dan bunyi burung itu saja telah dianggap "merampas" perhatian manusia dariNya, maka apa lagi yang tersisa untuk manusia? ruang lalu terisa begitu ketat menekan. para pujangga itu, tak lagi bisa memuja dunia dari segi keindahan, atau dari jurusan mana pun dunia itu hendak kita pandangi. sebab memandangi dunia, adalah berjinak hati dengan dunia. dan jinak hati dengan dunia ini, membuat Ia cemburu. omar khayam, yang membawakan "penciptaan", bahkan menyebutNya dengan Pelukis Baqa, juga mengambil jalan menikung di ruang pemujaannya.

"meski tampan wajahku dan indah warna kulitku", ini sudah pengalih dari Dia karena telah bergerak ke arah dirinya sendiri. "meski tampan wajahku dan indah warna kulitku" jadi sama dengan burung dan merdunya bunyi burung, tempat sang abid berjinak hati dan akhirnya terenggut tak bisa naik lagi. rasanya akan selalu diriNya akan dihidupkan ke dalam bentuk-bentuk, sebagian oleh kebingunan oleh diriNya yang tiada berwujud dan manusia mesti, saat hendak menghubunginya, melalui bentuk. apakah itu bentuk luar seperti burung, atau bahkan "tanah" sekali pun yang menjadi baris awal di rubayat omar khayam. semua adalah bentuk di bawah, tapi bentuk di bawah inilah jalan para pujangga untuk naik ke atas. tapi Atas tampaknya tak mengizinkan jalan semacam itu.

Ia ingin, kita sepenuh hati padaNya. dua puluh empat jam, kita menghadap kepadaNya bukan yang lain. inilah konsekwensi, implikasi dari kisah yang dibawakan ghazali di bukunya ihya'. ihya sendiri, di akhir bukunya (di buku 7 dan 8 itu), memuat sepenuh diri tentang dia-manusia yang tak boleh tergoda pada dunia. dunia itu tercela (kita ingat plato, yang memuja dunia idea karena dunia bawah itu profan yang harus terus dibersihkan lewat idea) dan karena tercela, bukan dalam dunia tempat para abid tapi di diriNya.

kaum pujangga lewat seninya, yang memang diniatkan untuk ini, adalah kaum abid juga karena mereka itu dengan bahasa, lewat medium kata, mencurahkan sepenuh jiwa dan raga untuk menghubungiNya.alih-alih memuja, atau memujanya lewat jalan metafora, rubayat itu terus menerus "memuji" dunia lewat membaguskan tubuhnya sendiri (sebagai lambang kebagusan fisik manusia). lihat itu, "pipi bagai bunga tulip, bentuk tubuh pohon saru", tapi ini juga adalah cinta-diri, bukan cinta padaNya yang tak boleh sejenak pun kita berjinak hati, pun atau apa lagi, berjinak hati pada tubuh kita sendiri.

jadi bagaimana kita ini?

menyebut-nyebutNya terus lewat jalan apa, kaum abid itu oleh Dia tak ada bentukNya. dia Tiada dan bagaimana Yang Tiada kuasa dihubungi oleh kita yang-ada. dengan jalan apa saat kita mematikan dunia bisa berkontak denganNya. tiap bahasa adalah bentuk dan tiap bentuk adalah bagian dari dunia. Dia sendiri, tak terbahasakan, bukan? "Akulah yang awal dan akulah yang akhir", kataNya, tapi tahukah, ini juga bentuk bukan Dia. ini bahasa, bukan? kita ingat filsuf w itu, yang terkenal dalam permainan bahasa, yang berkata, yang tak lagi bisa dimasuki jangan dimasuki. Dia tak bisa dimasuki oleh tiada sarana yang bisa kita pakai untuk memasukinya, oleh perasaan kita, yang paling tersembunyi pun, yang paling samar, tersedia kosakata adalah bahasa untuk menyebutnya. kita dendam rindu, kita kasyaf dan tersingkap dan kita masuk karena tirai telah terlepas (allah kata hallaj, aku ini), semua itu adalah bahasa bukan yang lain.

0 komentar:

Posting Komentar