
seorang pembaca saifullah berkata, "keren sandalnya." ya kukira memang keren bahasa saifullah s ini. keren sandalnya juga. keren sandalnya.
Semua lalu terlihat jadi sama
Pertanyaan yang sama bisa kita arahkan ke dua keadaan yang saling membalik, yaitu kepada hidup dan kepada bahasa: keduanya membawa kita ke mana?
Seperti banyak penyair Saifullah S juga tak terhindarkan untuk menjawabnya, dan kalau kita berpaling kepada produksi dari bahasa-bahasa masa lalu, orang juga telah lama mengarungi pertanyaan-pertanyaan seperti ini, membawanya ke arah mereka sendiri dan selalu kita melihat sebuah ruang, dari ruang yang kita lihat, membawakan kepada perenungan atas hidup lewat bahasa, yang pada gilirannya bahasa itu juga menjadi perenungan kita di samping isi yang dicatat oleh bahasa itu.
Segalanya akhirnya tergantung kepada sudut pandang saat kita memandangi dan andai kita mendengar orang agama berbicara, maka tiap kejadian pedih di muka bumi mereka letakkan kepada teguran Tuhan atas laku kita, bahwa ada yang salah pada hidup kita bersama dan kesalahan itu diingatkanNya dengan cara mendatangkan bencana. Bencana apa saja, berupa kejadian-kejadian alam yang besar dan mengiris hati kita itu, adalah teguran dariNya yang sedang membuat pengingat dengan keras. Andai kita berpaling kepada ilmu pengetahuan, laku alam itu mungkin bisa dijelaskan dari keadaan azalinya yang mungkin telah kita campuri, sehingga ia tidak lagi sebagaimana semestinya.
Atau bagaimana sukar juga kita menjawabnya.
Dunia begitu berkait, saling terkait dan ia bukanlah mengambil tempo dari masa yang sebentar - kadang menunjuk kepada ribuan, bahkan jutaan tahu ke belakang. hendak apa pikiran kita dengan waktu begitu lamanya. Kadang-kadang pikiran kita menjangkau penjelasan yang dekat-dekat dan kita lalu mengerti bahwa bencana itu datang dari ulah kita sendiri - tapi bagaimana mau mengertinya saat ia benar-benar sampai dan menimpa kepada diri. akhirnya orang memindahkan segala pengertian dan tidak tahunya, kepada bahasa tempat mereka mencurahkan isi hatinya.
Curahan itu yang kini kita baca sebagai ekspresi dari kebudayaan, walau isinya atau sebenarnya isinya, dunia yang jauh lebih menggetarkan dari apa yang dicatat oleh bahasa. Rasanya ringkih betul bahasa mencatat dunia yang begitu menggetarkan bernama bencana itu. Tapi hanya bahasa inilah yang kita miliki dan selalu kita melihatnya sebagai dunia tegangan, ruang di mana kejadian di luar melimpah ke dalam dan dalam ini yang akhirnya membelah kita, lewat separuh masih terngiang pada kejadiannya yang nyata, sedang sisanya lagi, kita berpusat pada bahasa, semata bahasa saja. Seolah-olah ada yang hendak ditahan oleh bahasa itu, agar apa yang telah terjadi di luar itu, kini dibentukkan secara lain dan sejenak kita terhisap pada cara lain sebelum akhirnya keluar lagi, merenungi fakta-faktanya secara langsung. Begitulah bahasa itu menimbulkan tegangan, membawa kita kepada dua ruang yang saling mengingatkan satu dengan yang lain.
Bukanlah kita melakukan langkah membesar-besarkan sebuah bahasa atau mengecil-ngecilkan sebuah bahasa andai kita terus mendekatkan mereka satu dengan yang lain. Barangkali hanya melihatnya mereka sebagai ada saja. Selalu mengharukan melihat tiap keberadaan ada di bumi ini. Kamu ada di sana aku ada di sini, dan baik kamu dan aku sama sama ada di bumi yang satu ini. Kamu berbuat itu dan aku berbuat ini. dan kamu dengan aku kadang tidak mengerti dengan jelas mengapa kita tiba tiba ada dan melakukan apa yang telah kita lakukan. Lalu pelan pelan kita mulai mengarah kepada dunia atau hidup yang luas, bahwa kita di dalamnya dengan segala hal yang rupanya tidak semua bisa kita kendalikan. bahkan tidak bisa kita kendalikan, karena kita ada di ruang yang begitu besar sehingga tak lagi terasa perbuatan kita menggandakan peristiwa lain di sana.
Kecuali pada kejadiannya langsung, misal saya haus dan mengambil gelas yang berisi air, saya minum air dan dahaga dari haus pun hilang. Betapa kecil fakta minum air dari gelas yang ada di dekat tubuh kita, saat dikeluarkan lagi ke gelombang kenyataan yang tiada terkira-kira. Seolah kejadian kita minum dari segelas air itu tidak ada. Atau begitu yang kita rasakan karena, lagi lagi, begitu besar kejadian di luar diri yakni kehidupan luas lebar yang tampak tak ada tepi tepinya ini. Ditempatkan ke dunia sebesar-besar itu, kita lalu tahu bahwa diri kehilangan ukuran, apa yang kita sangka peristiwa besar lalu terangkat jadi titik tiada saja dari pandangan atas, pandangan jauh, tempat di mana apa yang dibawah hanyalah geliat dari titik titik yang saling memperlihatkan diri belaka, tanpa imbuhan lagi ataukah ia itu besar atau kecil. Semuanya jadi tampak sama, tidak berbeda satu dengan yang lain.
Cara berpikir seperti itu yang membuat saya tidak pernah sungkan mendekatkan bahasa sifullah s misalnya dengan bahasa sapardi djoko damono, bahkan dengan bahasa albert camus - dia yang saya sebut-sebut terus karena sedang membuat bukunya, agar ia terus diingatan hati saya ini. sebab ketiga orang ini mencatat hal-hal tentang bencana itu dengan cara mereka sendiri. adalah tidak masuk akal orang tidak bisa melihat siapa albert camus, siapa sapardi djoko damono dan kini, siapa pula saifullah s.
Ketiganya berbeda tapi isi bahasa mereka sama dalam pesan; ketiga bahasa mereka juga berbeda dalam pencapian. tapi di atas perbedaan yang kita tahu itu ada satu yang mengikat mereka, yakni catatan tentang bencana itu sendiri, dan pada kesamaan ini kita bergerak, tanpa rikuh atau takut disebutkan melakukan pembesaran oleh alasan yang telah kita katakan itu. lagi pula selalu pikiran saya itu positif begini: kalau mimpi jangan di bubungan rumah, bahkan jangan di awan, tapi ke langit tinggi. sebab mimpi ke langit tak teraih setidaknya bisa sampai ke langit pertama, sebab langit itu juga adalah realitas lapisan lapisan yang banyaknya kita tidak tahu. Saya perlu mengatakan hal hal seperti ini agar kita bisa melihat sisi sisi positifnya, bukan sinisme yang datang dari dunia negatif.
Pertanyaan yang sama bisa kita arahkan ke dua keadaan yang saling membalik, yaitu kepada hidup dan kepada bahasa: keduanya membawa kita ke mana?
Seperti banyak penyair Saifullah S juga tak terhindarkan untuk menjawabnya, dan kalau kita berpaling kepada produksi dari bahasa-bahasa masa lalu, orang juga telah lama mengarungi pertanyaan-pertanyaan seperti ini, membawanya ke arah mereka sendiri dan selalu kita melihat sebuah ruang, dari ruang yang kita lihat, membawakan kepada perenungan atas hidup lewat bahasa, yang pada gilirannya bahasa itu juga menjadi perenungan kita di samping isi yang dicatat oleh bahasa itu.
Segalanya akhirnya tergantung kepada sudut pandang saat kita memandangi dan andai kita mendengar orang agama berbicara, maka tiap kejadian pedih di muka bumi mereka letakkan kepada teguran Tuhan atas laku kita, bahwa ada yang salah pada hidup kita bersama dan kesalahan itu diingatkanNya dengan cara mendatangkan bencana. Bencana apa saja, berupa kejadian-kejadian alam yang besar dan mengiris hati kita itu, adalah teguran dariNya yang sedang membuat pengingat dengan keras. Andai kita berpaling kepada ilmu pengetahuan, laku alam itu mungkin bisa dijelaskan dari keadaan azalinya yang mungkin telah kita campuri, sehingga ia tidak lagi sebagaimana semestinya.
Atau bagaimana sukar juga kita menjawabnya.
Dunia begitu berkait, saling terkait dan ia bukanlah mengambil tempo dari masa yang sebentar - kadang menunjuk kepada ribuan, bahkan jutaan tahu ke belakang. hendak apa pikiran kita dengan waktu begitu lamanya. Kadang-kadang pikiran kita menjangkau penjelasan yang dekat-dekat dan kita lalu mengerti bahwa bencana itu datang dari ulah kita sendiri - tapi bagaimana mau mengertinya saat ia benar-benar sampai dan menimpa kepada diri. akhirnya orang memindahkan segala pengertian dan tidak tahunya, kepada bahasa tempat mereka mencurahkan isi hatinya.
Curahan itu yang kini kita baca sebagai ekspresi dari kebudayaan, walau isinya atau sebenarnya isinya, dunia yang jauh lebih menggetarkan dari apa yang dicatat oleh bahasa. Rasanya ringkih betul bahasa mencatat dunia yang begitu menggetarkan bernama bencana itu. Tapi hanya bahasa inilah yang kita miliki dan selalu kita melihatnya sebagai dunia tegangan, ruang di mana kejadian di luar melimpah ke dalam dan dalam ini yang akhirnya membelah kita, lewat separuh masih terngiang pada kejadiannya yang nyata, sedang sisanya lagi, kita berpusat pada bahasa, semata bahasa saja. Seolah-olah ada yang hendak ditahan oleh bahasa itu, agar apa yang telah terjadi di luar itu, kini dibentukkan secara lain dan sejenak kita terhisap pada cara lain sebelum akhirnya keluar lagi, merenungi fakta-faktanya secara langsung. Begitulah bahasa itu menimbulkan tegangan, membawa kita kepada dua ruang yang saling mengingatkan satu dengan yang lain.
Bukanlah kita melakukan langkah membesar-besarkan sebuah bahasa atau mengecil-ngecilkan sebuah bahasa andai kita terus mendekatkan mereka satu dengan yang lain. Barangkali hanya melihatnya mereka sebagai ada saja. Selalu mengharukan melihat tiap keberadaan ada di bumi ini. Kamu ada di sana aku ada di sini, dan baik kamu dan aku sama sama ada di bumi yang satu ini. Kamu berbuat itu dan aku berbuat ini. dan kamu dengan aku kadang tidak mengerti dengan jelas mengapa kita tiba tiba ada dan melakukan apa yang telah kita lakukan. Lalu pelan pelan kita mulai mengarah kepada dunia atau hidup yang luas, bahwa kita di dalamnya dengan segala hal yang rupanya tidak semua bisa kita kendalikan. bahkan tidak bisa kita kendalikan, karena kita ada di ruang yang begitu besar sehingga tak lagi terasa perbuatan kita menggandakan peristiwa lain di sana.
Kecuali pada kejadiannya langsung, misal saya haus dan mengambil gelas yang berisi air, saya minum air dan dahaga dari haus pun hilang. Betapa kecil fakta minum air dari gelas yang ada di dekat tubuh kita, saat dikeluarkan lagi ke gelombang kenyataan yang tiada terkira-kira. Seolah kejadian kita minum dari segelas air itu tidak ada. Atau begitu yang kita rasakan karena, lagi lagi, begitu besar kejadian di luar diri yakni kehidupan luas lebar yang tampak tak ada tepi tepinya ini. Ditempatkan ke dunia sebesar-besar itu, kita lalu tahu bahwa diri kehilangan ukuran, apa yang kita sangka peristiwa besar lalu terangkat jadi titik tiada saja dari pandangan atas, pandangan jauh, tempat di mana apa yang dibawah hanyalah geliat dari titik titik yang saling memperlihatkan diri belaka, tanpa imbuhan lagi ataukah ia itu besar atau kecil. Semuanya jadi tampak sama, tidak berbeda satu dengan yang lain.
Cara berpikir seperti itu yang membuat saya tidak pernah sungkan mendekatkan bahasa sifullah s misalnya dengan bahasa sapardi djoko damono, bahkan dengan bahasa albert camus - dia yang saya sebut-sebut terus karena sedang membuat bukunya, agar ia terus diingatan hati saya ini. sebab ketiga orang ini mencatat hal-hal tentang bencana itu dengan cara mereka sendiri. adalah tidak masuk akal orang tidak bisa melihat siapa albert camus, siapa sapardi djoko damono dan kini, siapa pula saifullah s.
Ketiganya berbeda tapi isi bahasa mereka sama dalam pesan; ketiga bahasa mereka juga berbeda dalam pencapian. tapi di atas perbedaan yang kita tahu itu ada satu yang mengikat mereka, yakni catatan tentang bencana itu sendiri, dan pada kesamaan ini kita bergerak, tanpa rikuh atau takut disebutkan melakukan pembesaran oleh alasan yang telah kita katakan itu. lagi pula selalu pikiran saya itu positif begini: kalau mimpi jangan di bubungan rumah, bahkan jangan di awan, tapi ke langit tinggi. sebab mimpi ke langit tak teraih setidaknya bisa sampai ke langit pertama, sebab langit itu juga adalah realitas lapisan lapisan yang banyaknya kita tidak tahu. Saya perlu mengatakan hal hal seperti ini agar kita bisa melihat sisi sisi positifnya, bukan sinisme yang datang dari dunia negatif.
0 komentar:
Posting Komentar