serangkaian tunggu di antara tema-tema sastra dunia "Beyond Good and Evil""kaki paz di bayang helena"
"The poet Wallace Stevens puts it beautifully when he says that poetry should ‘make the visible a little hard to see’.”
Bertemunya ada dalam ikatan-ikatan, di titiknya. Seandainya kita melihat dunia anak-anak yang melompat-lompat riang, maka serupa itu pula aktivitas huruf-huruf yang membentuk kata: mereka seolah anak-anak yang melompat riang. Kerumitan sederhana mereka bertemu dalam suatu persamaan: tubuh anak-anak begitu nyata, seolah penanda, sedangkan kehalusan jiwanya bisa kita perbandingan dengan betapa halusnya petanda yang tak terlihat. Realitas yang sederhana karena sudah hadir, tapi rumit membayangkan bagaimana terciptanya. Gejala-gejala yang membuat kita melihat, betapa samanya tiap ada dalam dunia ini, walau mereka kelihatan berbeda.
Sekumpulan penanda hinggap di bahasa Nietzsche. Kita temukan dalam “Beyond Good and Evil”, dunia ikatan yang kini telah membawa nadanya yang lain: dunia riang itu telah ditukar, dengan kesedihan yang datang dari riwayat pembagian peran di masa lalu. Atau masih di masa kini?
Nietzsche : (234) “Stupidity in the kitchen; woman as cook; the terrible thoughtlessness with which the feeding of the family and the master of house is managed! Women does not understand what food means, and she insists on being cook!”
Tetapi marilah kita membayangkan apa yang bertukar itu kembali lagi, dalam bentuknya yang lain. Dunia “memasak di dapur” kini bergerak menjadi kegiatan menanak kata, yang diletakkan dalam suatu titik yang bertemu juga, dunia yang meluas.
Bahan-bahan kini telah mengubah dirinya – tangan yang menanak nasi, atau memanggang roti, kini mengolah huruf-huruf yang menjadi puisi pada Helena : “Arah”-nya yang kita bawa bermain dengan puisi Octavio Paz, “Di sini”. Atau, Afrilia Utami, "tangannya" merenungi kesedihan dunia dan mulai memungutinya untuk dibawa masuk ke dalam cerita yang dibentuk begitu simbolik : “Rumah Di Atas Halimun Dunia”, yang kita hadap-hadapkan dalam semangat bermain yang sama dengan cerita penyair Sapardi Djoko Damono : “Saksi”, kisah yang diceritakan untuk penyair Afrizal Malna itu
Begitulah “ada” itu selalu menukar-nukar letak dirinya, dalam kerangka diri sebagai titik yang bertemu dalam dunia ini. Sedang Nugroho Suksmanto bermain dengan novelnya sendiri, novel Lauh Mahfuz, menjangkau ke segenap arah-arah yang mungkin yang datang dari dunia novel.
Apa yang kita saksikan lewat fenomena dunia yang bermain-main, tempat tiap titik “ada” bertemu menjadi satu kembali?
Sebagai salah satu unsur pokok yang dijadikan alat bermain, apakah “kata” menyadari dirinya? Bahwa ia itu makhluk yang sadar, kuasa mekar jadi bahasa, tapi apakah yang mengikatnya? Ada ikatan dalam dunia ini, yang tak kelihatan tapi kuasa menyatukan semua bentuk-bentuk ada. Tapi apa? Ada yang misterius di dalam bahasa, kuasa mengikat kata jadi pengertian, jadi makna. Siapakah ia ini, ia yang mengikat kata jadi pengertian, seperti kita di (dunia) luar, diikat pengertian, mampu memahami ia di dalam.
“Buta” sebagai “kata” adalah keterangan akan “mata”, dia yang kuasa memandang (yang tengah dipandangi begitu jauhnya sehingga ia jadi halus tak terlihat). Tapi kini tidak bisa memandang, karena buta. Tidak bisa mengenal “warna”, karena buta.
“Di luar” kita “melihat” ia yang buta, tapi “di dalam”, kita “melihat-dengan-pikiran”, melihat-lihat pikiran, membayangkan ia yang buta. Sebab ia yang buta di luar kini sudah menjadi ia yang buta di dalam, yang kita bayangkan, bukan kita lihat lagi. Atau, yang kita lihat tapi ia yang buta tidak ada, hanya kita bayangkan.
Keadaan khusus di dalam bahasa (puisi), bisa bergerak menjadi keadaan umum, fenomena kehidupan yang kita alami. Keadaan di bumi tiba-tiba terterobos ke langit yang tinggi, dan semua itu dibawakan oleh bahan: “arah” serta “di sini”. Mata dan kaki orang bumi kini mendadak jadi mata dan kaki orang langit, dari orang bumi yang memandang ke langit.
Tiba-tiba kata buta terangkat, dan ruang pun bergerak jadi “di sini” dan “di sana”, mendorong “arah” “buta-warna” itu naik, “ke atas”, ke atas.
Tampaknya “di sana” kita tidak buta tapi melihatNya.
Warna-warna dari alur air yang kita pandangi, “di sini”, lewat “arah” yang telah kita balikkan, mata yang telah melihat lagi. Kaki yang berjalan di antara rindang daun surga serta tajamnya duri dari buah pohon kuldi.
Seseorang by insting telah bergerak jauh sekali: batinnya menceritakan secara imanen “arah”-“di sini”, bahwa kita “buta” di sini, hanya kuasa melihat kuasi warna, “arah”-“di sana”. Tapi kita telah mengangkatnya, jadi “arah” di sana, tempat ia tak buta lagi.
Batinnya menghidu-hidu lambang agar mata kita, yang “buta”-“di sini”, naik ke atas sehingga ucapannya yang dibentuk dengan membalik kini jadi terang.
Inilah kegiatan “interpretation”, dari rahasia-rahasia kata di dalam bahasa, puisi, yang apakah ia menyadarinya atau menyadarinya lewat dunia makna yang imanen dalam diri – harus datang mata dan tangan lain untuk menyingkapnya, ke luar.
Bahasa telah mendeformasikan diri, melakukan gerak empat untai permainan (bila aku buta, beri aku warna – aku-buta; aku-warna). Ada “defamiliarization”, dari fenomena(ologi) orang berbahasa, yang membuat ucapan biasa itu jadi mengasing, dus, dunia luar juga jadi mengasing dalam arti, bergerak ke arah asalnya lagi, dari suatu maksud mula-mula penyair yang berbicara tentang tubuhnya sendiri (masalahnya), tapi tiba-tiba kata itu menyelinap mengasingkan (masalahnya) ke arah dunia yang sama sekali tidak terkira-kira jauhnya. Buta itu tiba-tiba jadi arah kita di bumi memandang ke langit, mendeformasi dirinya sendiri. Kaki yang berjalan di sini gemanya tiba-tiba menjadi telinga kita yang mendengar ke langit, bergerak dari "dunia-rutin-otomatis" kaum agama.
Ada fenomenologi di sini, sebuah fenomena, yang terhubung (karena kita menghubungkannya), memainkan laku kaki serta efek bunyi, fenomena diletakkan ke dalam kegiatan saling melambai, memanggil “di sini” ke “arah”, agar “di sana” terlihat “arah”-nya, rupanya “di sini” juga (dari kita yang memikirkan semuanya di bumi, di atas tubuh dan jiwa kita sendiri, sebagai penafsiran yang mungkin
Apakah kita memerlukan “hermeneutics” untuk memahaminya?
Dunia puisi Helena dan Paz yang sedang kita jelajahi ini telah dibahasakan dengan amat baik oleh Wallace Stevens : (Paul H Fry, theory of literature, 2012), “The poet Wallace Stevens puts it beautifully when he says that poetry should ‘make the visible a little hard to see’.”
Boleh jadi teks itu tidak ke sana, tapi ke sini – ke tubuh mereka sendiri. Hanya, kitalah yang mengangkatnya, naik ke atas. Apakah ia mungkin seperti pengertian yang terbaca oleh Paul H Fry lewat "penyimpulannya" pada Hirsch, bahwa, “the meaning of a text is what the author intended it to mean… the significance of the text … is the meaning for us.” Sedang Hirsch sendiri, menolak dunia pemaknaan yang terlalu jauh dari maksud si pengarang.
Tetapi Ada yang bersembunyi di dalam bahasa, sembunyi di antara kerumunan masalah individual dan kitalah yang mengangkatnya, menariknya dengan cara meluaskan, mengembangkan, dirinya sebagai dunia “tanda” yang kini telah jauh melimpahi penanda dan petandanya. Disproporsi itu kini bukan lagi bergerak di antara masalah pribadi aku-lirik Paz dan Helena, tapi telah menjadi wakil kita bersama saat naik ke langit, mencari alur dari tiap titik yang terapung di bumi – ke langit sebagai sebuah dugaan dari dunia muasal. Kita bergerak ke sini, sambil membayang-bayangkan “intensional fallacy”.
2. "Penafsiran Hermeneutik"
"we shall denote by term 'Dasein'."
"di sini", "arah" kami
Mitos mengandaikan seolah-olah orang akan menerima tanpa sebuah penolakan walau pesan itu sampai dengan jelas, mitos darimana kata hermeneutik itu bermula. Bahwa dari sebuah gunung sebuah pesan disampaikan oleh dewa dan seorang utusan menguping pesan itu, agar telinga-telinga pendengar pesan kelak tidak salah arah. Adalah bahasa, bahwa di india juga berlaku pertukaran pesan lewat dedewa yang berjanji akan terus berbicara dan dirimu mencatat, apa yang "aku wahyukan" ini, dan dengan kemungkinan yang kita bayangkan langsung ke si penerima pesan yakni orang ramai, mereka yang oleh kehati-hatian pesan seakan-akan tak punya kemungkinan untuk menolak bahkan mengabaikan pesan.
Andai kitab apa pun jua kita perlakukan sebagai bahasa, dan memang ia bahasa, lepas dari embel-embel dewa di bumi (tingginya hanya seukuran gunung olimpus di yunani), atau Tuhan di surga (tingginya tak terkira-kira sampai kita tidak bisa membayangkan di mana "gunung" surga ini), maka kita dapati bahwa pesan itu belum lagi terolah dengan baik tapi pembangkangan telah terjadi. Justru di saat sumber pertama pesan itu masih suci murni - belum lewat medium orang ketiga, keempat dan seterusnya.
Itulah nasib dari "pesan", sebuah ironi langit, bahwa orang (orang ini iblis, seperti yang diriwayatkan kitab kitab samawi), bukan saja telah menolak pesan, menolak bukan karena ketidakjelasan pesan, tapi ingkar membokong pesan itu. Jadi penafsiran telah terjadi di sini, di teks langsung tanpa suatu bahasa verbal tertulis, kecuali bahasa yang keluar dari bunyi - suara, dialog tiga pihak, negosiasi, tentang dan akan pesan bahwa si dia harus menghormati si dia yang lain. Lacur, pesan yang sederhana serta sangat masuk akal ini - nah, rupanya penafsiran itu telah dimulai (masuk akal bagi kita, tapi tidak bagi si iblis yang berfantasi ia lebih baik dari adam karena ia itu api; si iblis melakukan hermeneutik untuk dirinya sendiri).
tapi jelas oleh sebuah pesan yang sampai kepadanya secara langsung. apa yang bisa kita tarik dari menghadirkan pesan ini, meminjam gadamer, seraya meluaskannya juga, akan kata "sejarah" yang harus ditalikan ke sebuah teks agar kita kuasa memaknainya. sejarah kita terobos ke muasalnya, tempat dunia primordial paling akhir yang mungkin itu. dan apa yang kita bawa di sini, tak lain adalah riwayat dari segitiga langit (Tuhan, Adam, Iblis yang memusat ke tengah yakni pesan). Ada kabar dari sini, bahwa pesan - atau bisa cepat langsung dibaca teks sastra, rupanya telah sejak mula menempuh jalan bercabang dua (jalan Tuhan/Adam dan jalan iblis/setan). Makna atas pesan pun tak tunggal lagi. Ada aspirasi rupanya, yang mengoyak dunia objektif pesan itu (kelak, karya sastra). Dinamik, tarik-menarik, perbauran, salah mengerti (salah baca pesan, "intensional fallacy"), taat (cara menafsirkan rutin sesuai lapisan awal teks), pembangkangan, pesan pun dimulai.
"saat aku-lirik menjadi dasein"
'we shall denote by term 'Dasein'
apa yang ditampakkan oleh aku-lirik itu?
Tetapi seandainya kita menganut tiap titik bertemu maka mitos itu keluar lagi dan kini berdirilah wahyu - bagi kaum yang percaya, sebelum ia terlempar lagi jadi mitos karena kehendak untuk menjadikan akal saja sebagai alat permenungan akan dunia. wahyu itu kembali lagi jadi mitos. tapi keduanya adalah suatu kehadiran yakni bahasa, sesuatu yang tak bisa diingkar dari jurusan akal atau dari jurusan wahyu, bahwa kita mengalami kehadiran bahasa, seperti kelak kita mengalami suatu kehadiran jenisnya yang baru: hadirnya dunia benda-benda ke dalam bahasa, yang dalam hal ini hadirnya puisi. apakah puisi paz? apakah puisi helena? di sini adalah hadirnya bahasa di sana, di puisi paz seperti di sana adalah hadirnya bahasa, puisi helena, yang menunjukkan arah bagi suatu poros pengelihatan untuk sebuah permenungan. ada sesuatu yang tadinya terkurung dan kini menampakkan diri di dalam puisi, suatu pergerakan dari dunia objek objek yang kini menjelma jadi penampakannya yang baru adalah imaji.
ada aku lirik di sini dan ada suatu arah di sini yang boleh kita ubah tapi tidak esensinya - hanya namanya saja, yakni membawa masuk dasein heidegger ke dalam puisi, membuat suatu persamaan bahwa aku lirik itu adalah dasein dan dasein ini sedang, perlahan-lahan, menyingkapkan dirinya kepada pembacanya. "this entity which each of us is himself and which includes inquiring as one of the possibilities of its Being, we shall denote by term 'Dasein'." (Being and Time, hal. 27). Jadi ada permainan dari suatu pemikiran tentang "Ada-Being" yang kini diberi denotasi baru (nama baru) adalah "Dasein", wujud ada yang menampakkan diri, dan di antara yang menampakkan diri (Being) ini adalah "manusia" yang ditempatkan dalam dunia. Kita terlempar tiba-tiba, kata Heidegger, yang bisa kita kerahkan arti keterlemparan ini sebagai sebuah mutasi dari "benda/objek" ke kata/bahasa, sebelum mereka berhenti jadi puisi - kata lagi, bahasa, dalam hal ini kata yang telah menduduki status barunya yakni imaji. Adalah imaji, aku-lirik ini, yang kini kita cobakan melihatnya sebagai "dasein" dalam term Heidegger dalam "Being and Time". Ada dan Waktu. Manusia dan Waktu. Ada Dasein dalam Waktu. Kini ada aku-lirik yang menjadi dasein dalam puisi.
saat kata kehilangan organ mulut(nya)
Mengapa tidak misteri bahasa itu, puisi di antaranya, ia tadinya tidak ada sebab yang ada hanyalah dunia benda-benda tanpa bahasa, tapi oleh ikatan-ikatan yang telah ditanam ke dalam badan, apa yang tersembunyi sebagai benda itu tiba tiba kini menampakkan dirinya, bukan dalam pengertian mata tapi dalam pengelihatan pada jalur petanda, bahwa ia itu dikirim lewat mata untuk kita beri nama. seperti apa penampakan benda murni tanpa kata-nya ini, inilah heidegger dalam being and time bersinggungan dengan puisi, saat perlahan lahan mengambang dari dalam puisi, aku dari tiap yang disebut tema itu, kepada kita. perlahan sekali gerakan aku ini, satu demi satu kata saling merangkai untuk memperlihatkan bentuk baru mereka.
dua kata yang dipakai dari dua penyair dari dua benua, dari generasi yang berbeda, memperlihatkan kita kepenampakan yang halus yang menjadi gejala kita mengalami tiap ada, bahwa ada di sini dengan tiap gejala mulai kita pandangi secara lain, karena itu melibatkan arah, dari suatu baru yang tadinya tidak ada. kristeva berkata dunia interteks dan tiap apa yang terkoneksi pastilah nama, sebelum isinya, nama ini pula yang memungkinkan kita mengalami kehadiran dari jalur judul puisi, yang kita dekatkan, tapi mereka itu aktif bukanlah pasif. aktivitas ini yang mula mula mengagumkan kita, bahwa bagaimana mungkin imaji yang muasalnya adalah pecahan kesadaran penyair, itu kuasa memperlihatkan dirinya padahal ia tak punya alat alat indera, kecuali kalau petanda itu akan kita jadikan seolah indra luar kita terdesak ke dalam, jadi pikiran murni kata kant itu misalnya. kita bergaul dengan kemurnian dari kata yang tak memiliki mulutnya lagi.
"di sini" sama abstraknya dengan "arah", arah di sini, atau arah di sana, mereka berdua tak kuasa berdiri tanpa penyertanya, hanya keadaan dan ia mirip sekali dengan dunia yang menunjuk tapi isi yang ditunjuk tidak ada. tapi dunia ada isinya dan antara lain isinya adalah apa yang ditunjuk oleh "di sini", "arah" tempat ia di sana atau di sini. sebaliknya di sini kehilangan matanya andai tanpa arah - ke mana ia akan memandang? ke mana ia akan melangkahkan kakinya tanpa suatu depan atau belakang, wujud dari arah itu. perlahan lahan dunia disingkapkan oleh dua kata, yang begitu seolah passage ini: lebih pendek lagi, bahkan seakan diri: atom yang tak terbagi. bahasa memang kuasa merampingkan dirinya, mengikat yang di sana ke di sini, menunjukan yang di sini ke di sana.
ada aku lirik yang perlahan lahan menyingkapkan daseinnya di arah, suatu komunikasi yang berlangsung sendirian, bercakap melakukan monolog sendirian. apakah kita memerlukan keutuhan dari percakapan orang yang sendirian dan di tengah kesendiriannya, tiba tiba kita mengalami dunia dalam kerumitan yang bertingkat-tingkat. tingkatan historis-nya adalah dunia benda-benda, saat kita dorong keluar ia dasein imaji ini, kembali ke muasalnya lagi, bahwa di luar itu ada mata dan kita melihat matanya paz atau matanya helena. mata yang nyata, atau kita melihat arah lain dari mata yang kini bertukar jadi kaki serta daun telinga, kakinya paz dan daun telinganya helena. ada nyata. tapi kemudian mereka memperlihatkan pergerakan, menampakkan kemungkinan dari dirinya yang lain - apa yang nyata itu lalu menempuh situasinya yang paling inti, yakni murni: tiba tiba mereka menghilang, menjadi bahasa, tempat tangan nyata kita itu tak lagi kuasa memegang tubuh nyata mereka. ada arah baru dari arah lama, di sini dengan begitu.
kini kita tidak lagi memperlakukan kedua kaki paz seperti memperlakukan kedua kaki kita sendiri. saat hendak menjerang air untuk memasak kopi, begitu nyata terdengar langkah kaki saya, bergerak meninggalkan di sini yang telah terdengar di sana, di sini di awal itu, karena saya telah berada di kompor listrik agar bisa memasak air. tak saya sadari tadi, bahwa mereka begitu nyata ada dekat tapi menjauh (tubuh saya yang berjalan), tapi suara di sana (kaki saya di awal melangkah), rupanya terseret mengikuti tubuh saya yang sedang di sini (di dekat kompor listrik saya ini). (menyimpang: apa jadinya saya ini tanpa kompor listrik saya ini? nyala lampu dari pikiran yang menerangi dunia kini berhenti: distop oleh ketiadaan kopi yang kuasa diproduksikan oleh kompor listrik saya ini. pikiran berhenti bila rokok putus; pikiran tak optimal walau ada rokok tapi tiada kopi. betapa malang nasib kita dalam dunia: eksistensi kita terikat oleh rupa rupa kebutuhan yang musti dipuaskan). tapi kemalangan yang membawa air mata bahagia pada tiap wajah yang memikirkannya. kita kembali ke kaki paz itu lagi, yang kini telah menghilang jadi kaki imaji dalam puisi.
being and helena "do we in our time have an answer to the question of what we really mean by the word 'poetry'?"
"Yang sebenarnya kita tidak tahu, apakah kata, apakah benda. mereka tak tersebutkan. tak ada namanya. inilah keadaan paling murni dari situasi benda, situasi kata. keadaan yang terjadi saat pikiran ada tapi tanpa mata, tanpa mulut, tanpa tangan, yang kuasa ia tumpangi agar ia terlihat. kita hidup di dunia yang halus sekali."
apakah kita tahu bayang-bayang tubuh kita sendiri?
"berada di bawah sinar mentari pagi
tak aku jumpai apapun selain bayang sendiri
berada di bawah terik siang
aku bahkan tak menjumpai bayang sendiri"
Alangkah unik melihat benda-benda itu, pelan-pelan, menampakkan dirinya menjadi bahasa. ia kini bukan ia yang kemarin lagi. ia kini tapi masih bisa kita kembalikan ke ia yang kemarin lagi. ada suatu penampakan, pendeknya, yang baru saat mata di luar itu kini jadi mata di dalam, saat kaki di luar itu kini jadi kaki di dalam. apa yang halus di selanya kini menjadi apa yang halus di sela bahasa - di kemungkinan dari banyaknya makna yang dikandung oleh bahasa.
sebuah pengalihan, semacam dunia paralel dari buta terjadi pada bahasa gurun, tempat bayang-bayang itu kelak, diambil oleh matahari, tersingkap dari tubuhnya. Kepergian bayang-bayang itu cara lain bagi si buta untuk menyatakan dirinya. Ia kini tiada, menghilang dari pandangan mata, yang buta memandanginya, karena kini tinggal tubuh tanpa bayangnya lagi.
kehilangan bayangan ini sama dengan kehilangan waktu, tempat kata kehilangan (waktu dan bayang bayang), kita persamakan bahwa kita buta, abai padanya: bayang bayang kita itu, jarang sekali kita lihat atau pikirkan, seperti waktu juga: kita jarang merenunginya, atau seperti keadaan yang terceritakan pada puisi arah, bahwa kita mengalami kebutaan bahwa waktu dan bayang bayang itu pernah dan sedang hadir di sini - di tubuh kita yang diikat terus oleh waktu, dengan bayang bayang seolah manusia tidur: siang ia aktif, tapi aktivitasnya malam hari, berhenti kecuali ada lampu lain yang menimpa ke tubuhnya.
"do we in our time have an answer to the question of what we really mean by the word 'being'?"
aku bertanya-tanya, tentang cara hadirnya bahasa, tentang bentuk, tentang isi, mulai menghayati sebuah novel, kini, apa bedanya dengan sebuah buku filsafat, atau, kitab suci, apa bedanya dengan puisi.
kalau kita keluarkan bahasa dari mediumnya, kini kita melihat apakah beda seorang guru dengan tentara, seperti apa bedanya, seorang pendeta dengan penjahat. beda anak kecil dengan orang dewasa, beda manusia dengan mereka yang telah terbaring di peti matinya sendiri. adalah bentuk dengan isi dilanda oleh perasaan, menghadirkan siapa dirinya, sepenuh perasaan.
ada aku lirik di sini dan ada suatu arah di sini yang boleh kita ubah tapi tidak esensinya - hanya namanya saja, yakni membawa masuk dasein heidegger ke dalam puisi, membuat suatu persamaan bahwa aku lirik itu adalah dasein dan dasein ini sedang, perlahan-lahan, menyingkapkan dirinya kepada pembacanya. "this entity which each of us is himself and which includes inquiring as one of the possibilities of its Being, we shall denote by term 'Dasein'." (Being and Time, hal. 27). Jadi ada permainan dari suatu pemikiran tentang "Ada-Being" yang kini diberi denotasi baru (nama baru) adalah "Dasein", wujud ada yang menampakkan diri, dan di antara yang menampakkan diri (Being) ini adalah "manusia" yang ditempatkan dalam dunia. Kita terlempar tiba-tiba, kata Heidegger, yang bisa kita kerahkan arti keterlemparan ini sebagai sebuah mutasi dari "benda/objek" ke kata/bahasa, sebelum mereka berhenti jadi puisi - kata lagi, bahasa, dalam hal ini kata yang telah menduduki status barunya yakni imaji. Adalah imaji, aku-lirik ini, yang kini kita cobakan melihatnya sebagai "dasein" dalam term Heidegger dalam "Being and Time". Ada dan Waktu. Manusia dan Waktu. Ada Dasein dalam Waktu. Kini ada aku-lirik yang menjadi dasein dalam puisi.
saat kata kehilangan organ mulut(nya)
Mengapa tidak misteri bahasa itu, puisi di antaranya, ia tadinya tidak ada sebab yang ada hanyalah dunia benda-benda tanpa bahasa, tapi oleh ikatan-ikatan yang telah ditanam ke dalam badan, apa yang tersembunyi sebagai benda itu tiba tiba kini menampakkan dirinya, bukan dalam pengertian mata tapi dalam pengelihatan pada jalur petanda, bahwa ia itu dikirim lewat mata untuk kita beri nama. seperti apa penampakan benda murni tanpa kata-nya ini, inilah heidegger dalam being and time bersinggungan dengan puisi, saat perlahan lahan mengambang dari dalam puisi, aku dari tiap yang disebut tema itu, kepada kita. perlahan sekali gerakan aku ini, satu demi satu kata saling merangkai untuk memperlihatkan bentuk baru mereka.
dua kata yang dipakai dari dua penyair dari dua benua, dari generasi yang berbeda, memperlihatkan kita kepenampakan yang halus yang menjadi gejala kita mengalami tiap ada, bahwa ada di sini dengan tiap gejala mulai kita pandangi secara lain, karena itu melibatkan arah, dari suatu baru yang tadinya tidak ada. kristeva berkata dunia interteks dan tiap apa yang terkoneksi pastilah nama, sebelum isinya, nama ini pula yang memungkinkan kita mengalami kehadiran dari jalur judul puisi, yang kita dekatkan, tapi mereka itu aktif bukanlah pasif. aktivitas ini yang mula mula mengagumkan kita, bahwa bagaimana mungkin imaji yang muasalnya adalah pecahan kesadaran penyair, itu kuasa memperlihatkan dirinya padahal ia tak punya alat alat indera, kecuali kalau petanda itu akan kita jadikan seolah indra luar kita terdesak ke dalam, jadi pikiran murni kata kant itu misalnya. kita bergaul dengan kemurnian dari kata yang tak memiliki mulutnya lagi.
"di sini" sama abstraknya dengan "arah", arah di sini, atau arah di sana, mereka berdua tak kuasa berdiri tanpa penyertanya, hanya keadaan dan ia mirip sekali dengan dunia yang menunjuk tapi isi yang ditunjuk tidak ada. tapi dunia ada isinya dan antara lain isinya adalah apa yang ditunjuk oleh "di sini", "arah" tempat ia di sana atau di sini. sebaliknya di sini kehilangan matanya andai tanpa arah - ke mana ia akan memandang? ke mana ia akan melangkahkan kakinya tanpa suatu depan atau belakang, wujud dari arah itu. perlahan lahan dunia disingkapkan oleh dua kata, yang begitu seolah passage ini: lebih pendek lagi, bahkan seakan diri: atom yang tak terbagi. bahasa memang kuasa merampingkan dirinya, mengikat yang di sana ke di sini, menunjukan yang di sini ke di sana.
ada aku lirik yang perlahan lahan menyingkapkan daseinnya di arah, suatu komunikasi yang berlangsung sendirian, bercakap melakukan monolog sendirian. apakah kita memerlukan keutuhan dari percakapan orang yang sendirian dan di tengah kesendiriannya, tiba tiba kita mengalami dunia dalam kerumitan yang bertingkat-tingkat. tingkatan historis-nya adalah dunia benda-benda, saat kita dorong keluar ia dasein imaji ini, kembali ke muasalnya lagi, bahwa di luar itu ada mata dan kita melihat matanya paz atau matanya helena. mata yang nyata, atau kita melihat arah lain dari mata yang kini bertukar jadi kaki serta daun telinga, kakinya paz dan daun telinganya helena. ada nyata. tapi kemudian mereka memperlihatkan pergerakan, menampakkan kemungkinan dari dirinya yang lain - apa yang nyata itu lalu menempuh situasinya yang paling inti, yakni murni: tiba tiba mereka menghilang, menjadi bahasa, tempat tangan nyata kita itu tak lagi kuasa memegang tubuh nyata mereka. ada arah baru dari arah lama, di sini dengan begitu.
kini kita tidak lagi memperlakukan kedua kaki paz seperti memperlakukan kedua kaki kita sendiri. saat hendak menjerang air untuk memasak kopi, begitu nyata terdengar langkah kaki saya, bergerak meninggalkan di sini yang telah terdengar di sana, di sini di awal itu, karena saya telah berada di kompor listrik agar bisa memasak air. tak saya sadari tadi, bahwa mereka begitu nyata ada dekat tapi menjauh (tubuh saya yang berjalan), tapi suara di sana (kaki saya di awal melangkah), rupanya terseret mengikuti tubuh saya yang sedang di sini (di dekat kompor listrik saya ini). (menyimpang: apa jadinya saya ini tanpa kompor listrik saya ini? nyala lampu dari pikiran yang menerangi dunia kini berhenti: distop oleh ketiadaan kopi yang kuasa diproduksikan oleh kompor listrik saya ini. pikiran berhenti bila rokok putus; pikiran tak optimal walau ada rokok tapi tiada kopi. betapa malang nasib kita dalam dunia: eksistensi kita terikat oleh rupa rupa kebutuhan yang musti dipuaskan). tapi kemalangan yang membawa air mata bahagia pada tiap wajah yang memikirkannya. kita kembali ke kaki paz itu lagi, yang kini telah menghilang jadi kaki imaji dalam puisi.
3. "Unik"
"Yang sebenarnya kita tidak tahu, apakah kata, apakah benda. mereka tak tersebutkan. tak ada namanya. inilah keadaan paling murni dari situasi benda, situasi kata. keadaan yang terjadi saat pikiran ada tapi tanpa mata, tanpa mulut, tanpa tangan, yang kuasa ia tumpangi agar ia terlihat. kita hidup di dunia yang halus sekali."
apakah kita tahu bayang-bayang tubuh kita sendiri?
"berada di bawah sinar mentari pagi
tak aku jumpai apapun selain bayang sendiri
berada di bawah terik siang
aku bahkan tak menjumpai bayang sendiri"
Alangkah unik melihat benda-benda itu, pelan-pelan, menampakkan dirinya menjadi bahasa. ia kini bukan ia yang kemarin lagi. ia kini tapi masih bisa kita kembalikan ke ia yang kemarin lagi. ada suatu penampakan, pendeknya, yang baru saat mata di luar itu kini jadi mata di dalam, saat kaki di luar itu kini jadi kaki di dalam. apa yang halus di selanya kini menjadi apa yang halus di sela bahasa - di kemungkinan dari banyaknya makna yang dikandung oleh bahasa.
sebuah pengalihan, semacam dunia paralel dari buta terjadi pada bahasa gurun, tempat bayang-bayang itu kelak, diambil oleh matahari, tersingkap dari tubuhnya. Kepergian bayang-bayang itu cara lain bagi si buta untuk menyatakan dirinya. Ia kini tiada, menghilang dari pandangan mata, yang buta memandanginya, karena kini tinggal tubuh tanpa bayangnya lagi.
kehilangan bayangan ini sama dengan kehilangan waktu, tempat kata kehilangan (waktu dan bayang bayang), kita persamakan bahwa kita buta, abai padanya: bayang bayang kita itu, jarang sekali kita lihat atau pikirkan, seperti waktu juga: kita jarang merenunginya, atau seperti keadaan yang terceritakan pada puisi arah, bahwa kita mengalami kebutaan bahwa waktu dan bayang bayang itu pernah dan sedang hadir di sini - di tubuh kita yang diikat terus oleh waktu, dengan bayang bayang seolah manusia tidur: siang ia aktif, tapi aktivitasnya malam hari, berhenti kecuali ada lampu lain yang menimpa ke tubuhnya.
"do we in our time have an answer to the question of what we really mean by the word 'being'?"
aku bertanya-tanya, tentang cara hadirnya bahasa, tentang bentuk, tentang isi, mulai menghayati sebuah novel, kini, apa bedanya dengan sebuah buku filsafat, atau, kitab suci, apa bedanya dengan puisi.
kalau kita keluarkan bahasa dari mediumnya, kini kita melihat apakah beda seorang guru dengan tentara, seperti apa bedanya, seorang pendeta dengan penjahat. beda anak kecil dengan orang dewasa, beda manusia dengan mereka yang telah terbaring di peti matinya sendiri. adalah bentuk dengan isi dilanda oleh perasaan, menghadirkan siapa dirinya, sepenuh perasaan.
"apakah waktu dalam hidup kita, adalah usaha menjawab, sebenarnya apa yang kita sebut ada ini?"
ituah Heidegger yang mulai bertanya-tanya dengan cara mengubah "manusia" jadi kata yang lain, "dasein", seperti kita di tempat lain lagi, mengubah kata aku-saya jadi aku-lirik dalam puisi. apa bedanya? tidak ada bedanya. not at all, kata heidegger menjawab sendiri pertanyaannya.
"do we in our time have an answer to the question of what we really mean by the word 'being'?"
ya, apa bedanya kalimat-kalimat heidegger itu, dengan kalimat-kalimat dalam novel yang sering kita baca? kecuali bahwa mereka konsisten menempuh bentuknya.
aku pergi dan tiba di sebuah laut, darimana kulihat airmata di tepian laut: ia dan laut menangis - tampaknya seseorang telah pergi. sebuah tiada naik ke arahku, jadi ada: airmata campur asinnya hidup: air laut. memukau ia yang pelan-pelan tengah menampakkan wajah baru dirinya - tadi ia tak begitu, bukan? tapi ia kini demikian:
karya dwipa
merah ungu warna kita
"Di sini, kami, aku dan pantai
berpelukan menangisinya."
bukanlah ia tiada, ada, hanya ke-ada-annya masih dalam bentuk lain: mereka berpisah belum berpaut. nasib belum mengikatnya, kelak, nasib juga jadi ikatan, serta, putusan - jejaknya jadi ada yang lain ialah airmata, yang kini bercampur garam hidup yang mengubah dirinya: jadi asin laut.
"berpelukan menangisinya"
amboi pergerakan itu, kau dan aku tahu, ialah penampakan lama ke baru. seperti bergeraknya "hening" ke "nya". sebab, (hening) hermeneutik adalah seni atas mana kita dibolehkan bermain dengan bahasa, seperti gerak "nya" pengganti "hening" di ujung "merah ungu warna kita" puisi karya dwipa. tetapi adakah alasan untuk melakukan pertukaran? - dari "hening" ke "nya" itu?
ia adalah paduan dari suara tangis, saat si penyair (aku-lirik karya dwipa, karya dwipa yang telah mengalienasikan diri jadi aku-puisi) bersama laut dengan jalan melakukan pengubahan atas kedirian laut, jadi ia-laut - kita, menangisi ia yang telah pergi, kepergian dari suatu kata lain adalah "hening".
siapa yang hening di sini?
ia yang telah pergi, jadi, "nya" itu, dia, yang (telah) pergi, dan aku dan laut menangisi dia yang telah tiada lagi - hening, dia yang hening, adalah penaut bagi orang ketiga di sana -"nya". lagi pula, apakah musti ada alasan alasannya saat bahasa telah menjadi denyut nadi bagi diri? kita bermain, kita dimainkan, oleh tiap misteri kata yang menyeruak dari balik kata korelasional, di bahasa itu.
lewat pantai karya dwipa yang tampaknya malang oleh suatu kepergian (siapa yang pergi di sana? kukira seorang buah hati, telah diambil oleh hidup dan si aku lirik karya dwipa merenunginya - ia ajak laut karena ia ingin bersama laut menjatuhkan airmata dari asinnya hidup. kita melihat penampakan halus dari dunia dalam, batin penyair, yang tetap saja akan jadi dasein dalam hati karya dwipa andai ia tak bawa ke luar, dan lagi lagi bahasa mengambil alih sisanya, airmata yang kini berpadu dengan air laut itu. karya dwipa sendiri menampakkan dirinya yang tadi tiada di pengelihatanku, sebab ia ada di tempat lain dan begitulah tiap ada perlahan-lahan, lewat medium juga, mulai satu demi satu menampakkan dirinya.
rupanya ada bunyi yang hendak dibawa saat kita hadir, sebab ada nada dalam bunyi itu, yang telah lama tersekap oleh hidup yang halus, kini minta keluar. karena toh aku nada bunyi adalah bagian langsung dari hidup itu sendiri, yang sama sama naik ke permukaan melepaskan baju kalibut - agar redup berganti cerah. tapi apa yang cerah adalah efek bahasa: di kejadian nyatanya, adalah duka bagi si penyair. kita beroleh limpahan penampakan buah batin itu - puisi. apakah kita akan beranjak ke tempat lain lagi, pergi melihat tali menali, ikatan yang menampakkan diri sebagai langue khusus karena unik di, pantai penuh kesedihan karya dwipa? boleh saja, atau boleh juga kita mengambil lintasan cepat darinya demi pergi ke ikatan lain lagi.
lama saya digoda bahasa ini, yang terlihat dengan cara menampakkan diri tanpa sengaja, lima tahun yang lalu, saat kita sering keluar melihat lihat, saat bahasa sendiri, lewat jembatan nasib merentangkan talinya kepada pembacanya. kini saya sepenuhnya menikmati lagi dia yang telah mengasing ke dalam puisi.
karya dwipa, bagian bagian yang membuat kita terpesona.
kataku :”kau cemara aku relung karang,
merah ungu warna kita. kemarilah,
deraideraikan rambutmu di tubir jurang
lalu kan kubawa kau berlari meniti buih”
lagi lagi oleh semangat hermeneutik, mula mula kita seraya terpesona melihat kemungkinan alangkah puncak andai "buih" itu bergerak untuk masuknya "kasih". kasih yang menampakkan dirinya pada buih. berlari meniti kasih - yang telah pergi menimbulkan warna dari nada di hati saja.
kau cemara aku relung karang, bukan? seolah cemara itu akan terbanting di karang tajam, di buih tapi di sana sebenarnya, kasih - kau dan aku tempat si aku di sini, seperti galibnya puisi lirik, terus saja bersembunyi entah di mana: ia hidup oleh dihidupkan aku lirik yang bermain monolog sebagai ciri khas bentuk bahasa puisi.
bagaimana rupa, mata si cemara itu? ia orang, si cemara ini, dan mulailah penampakan itu menjauh lagi: diri tetap mengalibut tubuh kita sendiri - faktual semua manusia berbaju busana, bahkan tirai hatinya pun, terkurung berlapis lapis sampai dia sendiri tak lagi kuasa menjangkau lapisan terdalam dari inti poros rohnya, di dalam itu.
apatah lagi di puisi, hati yang mengambang naik sebagai bahasa. tetapi ada apa gerangan dengan mata si cemara? itulah dia: kekuatan puisi membuat kita mengimajinasikan: kita digoda oleh rupa manusia di dalam puisi itu. sebab mereka hanya putik kata saja, pun si aku lirik yang tak lebih tak kurang hanya putik saja - dunia paling ujung dari ranting, belum tumbuh bentuk fisiknya, masih pra keadaannya, dan puisi rupanya, terus menerus mengundurkan fakta tubuh ke pra tubuh, imaji itu. tak selalu rupanya penampakan itu jadi benda, jadi objek.
ada yang terus sembunyi di cakrawala pikiran dan jiwa manusia itu, bentuknya: ada aku lirik yang tak ada wajahnya. ia mundur terus, membuat kita makin asyik karena tradisi indera fisik luar, membayangkan ia yang bertradisi fisik dalam, jiwa halus dan tegalau tak kelihatan itu.
"dasein-helena"
- in every "now" is now; in every "now" it is already vanishing -
"di tiap kini yang ini; sekali pun yang kini itu telah menghilang"
"aku lihat kembali bayang sendiri" (helena)
"lewat sepanjang jalan ini" (paz)
dasein itu urung menjadi dasein, bila tak ada ruang, tak ada waktu. dasein apa? ke mana tubuh ini hendak dicantolkan? kapstok musti ada agar andai kita dari luar di cakrawala dingin bersalju, kita dihangatkan oleh pelukan kekasih serta cahaya lampu, artinya luar telah bergerak ke dalam.
artinya ada pergantian sekuen dalam hidup kita, jarak dari luar ke dalam. tapi apakah dalam "dalam" diri saat "ia itu kini" dan "ia itu kemarin" - setidaknya ia itu di sana, saat tubuh ada di bawah cakrawala, di musim bersalju terkatung katung dengan topi dan baju dingin, tebal atau tipis angin tetap juga, setia mengidu hidu badan kita.
seolah olah angin itu juga merasakan dingin dari tubuhnya sendiri dan kini menyelinap masuk mencari hangat ke tubuh kita. kalau kalau di sini (di tubuh yang kubelai ini) aku tidak dingin lagi, begitu bisikan angin itu sampai ke telinga kita kini. dengan cara bergerak dari 'sana' ke 'sini', 'cerita' yang dikatakan telah menghilang itu kembali lagi ke dalam puisi. bahwa di sana itu, kita renungi di sini saat ini.
alangkah halus ia yang di sana kita bawa ke sini saat ini, lewat fasilitas ingatan tempat di mana cerita, itu bukanlah menghilang dalam puisi tapi wujud lewat rekonstruksi tiap kata yang menjelma jadi imaji - yang kita bayangkan, tapi yang diumpankan oleh puisi, tapi yang kita rekonstruksi sendiri lewat kekuatan dari badai imaji penyiar.
sampai ia pada kita, gugus cerita yang rupanya, di sana telah memperlihatkan dirinya lagi, menjadi di sini - di dalam ingatan kita pembaca. dengan begitu dasein itu menjadi ada, bukan lagi semata mengganti manusia ke ungkapan baru oleh setiap badan berada dalam perpanjangan tubuhnya adalah ruang, adalah waktu, akhirnya dasein itu bergerak menjadi bahasa dengan perpanjangan bahasa adalah puisi.
dasein tepat berhenti di sini: ia menjadi kata, muncul mengapung menampakkan dirinya dari titik tempat tangan jemari indah menariknya: aku. inilah aku dan itulah kamu, kita adalah satu - dasein, sebelum dasein-titik ini menghilang karena dicabut - tangan dengan jemari mungil tadi belum mencecah, titik pun, cikal bakal huruf di antaranya kata dasein, itu kembali ke cakrawala tempat dasein murni itu bermula. di sini tak ada bahasa, penampakan berada dalam kemurnian yang tak terbahasakan.
"helena despair"
seperti beruntungnya dunia ini ada cetakan begitu pula beruntungnya dunia ini ada bahasa - akankah kita terus melar memanjang? - apa jadinya diri kita yang ramai ini tanpa alfa edision menemukan lampu? listrik akhirnya jadi hati manusia yang kini ke luar, merupa matanya lewat bola lampu - atauhkah ia terang, ataukah ia hanyalah janji harapan pemerintahan seolah nasib diri di lampu yang samar-samar (maafkan kita telah ditarik oleh desain penafsiran hermeneutik ini).
wujud-ada begitu halus lembut - seolah kue bolu masakan ibu kita dulu, yang berkata, nak, makanlah kue bolu buatan ibu sebelum berangkat ke sekolah; dalam nak itu ada dasein yang muncul lewat mata ibu, wajahnya - seluruh sosok ibu itu teduh, tempat di sana mengambang apa yang tak terlihat adalah bahasa tapi tengah menyamar jadi sosok manusia: wajah ibu yang penuh kasih memandangi kita anak yang rata rata tak pernah tahu diri ini. persis kataNya: kuciptakan kalian ini tapi lalu ingkar semua karena keranjingan memeluk sapi kuning warnanya.
ada paz di helena - boleh dong dibalik: ada helena di paz itu seperti ada heidegger di kierkegaard (the sickness unto death), yang memakaikan "now", "is", satuan satuan kecil tapi kuasa merenungi wujud kita dan waktu jua. kita yang berada di dasein, tiba tiba diubah letaknya jadi despair oleh pangeran kesunyian ini. semuai itu memakaikan "is", dan "now".
dua kejadian dalam dua waktu, dua baris puisi, terjadi di sana bergema kembali ke sini, seakan ingin mengatakan, bahwa kini itu tak hilang, ia hanya ketarik ke belakang, kelak maju lagi dan itulah kaki paz yang seolah tubuh helena. sama sama sama bergerak dalam satuan "despair"-nya juga. bahwa kita putus asa menghadapi, andai hidup ini mesti dibuat terang kecuali mengalaminya sebagai keremang-remangan.
"puisi bergerak di ruang antara"
terasa oleh kita kini pergerakan yang halus, tapi begitu kuasa menyamar, merupa seolah dasein wujud dan waktu, tapi lalu bergerak seakan putus asa mana kala diri diceraikan dari ibu - atau aslinya: manusia saat tercerai dari penciptanya, ruang kosong karena diri, bergerak ke kiri tapi apa yang ajaib saat kita di kiri itu, mata kita sunyi dan langit juga yang kita pandangi. atau dihidupkan ke dalam teori sastra tudorov yang dipetik tubuhnya oleh umar yunus, ada ruang tak sampai antara present dan absent, dan di sini energi kita: bergerak dasein atau despair, mencoba menautkan apa yang, seolah cinta, terus menerus bergerak dengan satu tangannya yang bertepuk. dua baris ini, milik paz dan milik helena, mula mula mengatakan yang ini kehilangan satuan waktunya, karena telah diambil yang ini tapi dalam kerangka vanishing.
"aku lihat kembali bayang sendiri" (helena)
"lewat sepanjang jalan ini" (paz)
mula-mula kita melihat, suatu permainan dari satuan waktu kini dan "lampau" tempat kini jadi sekarang di sana, atau seperti dalam dunia puisi kini, paz anak negeri sana helena anak negeri sini. tapi ajaib mereka bertemu. lebih ajaib lagi: tubuh bahasa mereka seolah mesin, bisa dicopot dan salah satu bagian mesin kita letakkan ke bagan bahasa mereka. boleh dipilih dengan cara terbalik: paz yang membuat baris helena itu, atau, helena yang membuat baris paz itu. lihat mereka, bukan semata bertemu tema tapi berjumpa dalam baris bayangan. tidakkah dua baris di atas itu seolah satu rumpun yang menurunkan anak ranting yang sama? mesin sana bisa diletakkan ke mesin sini atau sebaliknya. begitu transparan baris itu, sampai kita tidak melihat lagi ada waktu, dua waktu, oleh mereka telah lebur seakan dua tubuh di jiwa yang sama.
entah di mana wallace stevens melepaskan bahasa itu, suatu bahasa, apa yang diorientasikan sebuku tebal oleh heiegger difrasakan dengan amat indah oleh penyair modernis ini (ia itu tukang pos kerjanya? pengantar surat puisi ke seluruh dunia?). tapi kita menemukannya di tumpukan bangunan bangunan bahasa paul h fry, seorang profesor dari yale, bahwa yang terlihat nyata itu kini agak sukar dilihat. ia nyata, di sana (sekaligus di sini karena begitu tak terbahasakan dunia ini: di sana? padahal ia di sini karena kita di dalamnya karena kita bagiannya langsung), di luar kesadaran kita, ada, kokoh, tampak kasat mata, tapi puisi membuatnya agak sedikit susah dilihat (cantiknya bahasa ini). "poetry should ‘make the visible a little hard to see’.” dan itulah kaki paz dan bayang helena adriany.
tampak nyata serangkai penanda di sana, tapi petandanya agak sedikit sukar dilihat. mana ia? apakah ia mengeram, berada, di dalam penanda itu? tak: ia keluar dari dalam penanda, bergerak masuk ke dalam petanda yang tak lain, adalah dunia kesadaran kita ini juga. ini dari jurusan bentuk dan maknanya, tapi dari jurusan bahwa kedua itu baris imaji yang memang sukar dilihat walau mereka itu nyata.
ia sedikit sukar dilihat karena telah diambil oleh matahari - sekuen waktu jadi penentu di sini, tapi ia sedikit sukar dilihat karena kedua orang penyair itu jauh dari kita di sini - mereka di sana, tapi bisa kita bayangkan seperti dua baris ini, bisa kita renungkan tapi masih juga mereka sedikit sukar dilihat: bayang yang ada itu terangkat, bersama jalan yang dibawa oleh bayang itu (lewat sepanjang jalan ini), bayang itu tadi. ada nyata tapi tahu tahu, mereka jadi abstrak semua. ada makna dari kegiatan menghilang, tapi muncul lagi ini apa maknanya?
mari kita bergerak ke baris dari milik induk puisi itu sendiri.
apabila puisi berbicara tentang pengasingan, membuat agak bengkok (buku semiotik puisi itu) apa yang tampak nyata ini, maka itulah saatnya titik itu bertemu lagi: tiap ada tersingkap pelan pelan, atau disingkapkan dari fenomena menjadi nyata tapi oleh dia yang mengalaminya, dia yang melihat ke balik gejala (dia itu heidegger itu), tapi dia itu bertemu juga dengan para teori sastra dari rusia, kaum formalis yang tadi sedang dibahasakan secara indah oleh penyair stevens. dan kini kita mengalami alur pemikiran itu di dalam puisi. sebuah kegiatan yang mula mulanya adalah pikiran, bahasa (filsafat dan puisi), sebelum pelan pelan terangkat pergi ke Dia yang begitu sukar disingkapkan.
Dia tiba tiba jadi Puisi Murni yang dikejar oleh amir hamzah. mati matian penyair penyedih ini hendak melihat dia yang nyata (karyanya, kehadirannya, adalah dunia universe ini), tapi akhirnya kandas dalam metafor juga: aku ingin menarikmu, tapi dikau pelik sekali tapi terus menarikku. akhirnya yang kubayangkan hanyalah gadisku (orang kampung kami memisahkan kami jadilah aku penyair penggembara sedih ini, kata batin amir hamzah). maka lahrilah larik legendaris itu: serupa dara di balik tirai. hujan tak jauh jatuh dari cucurannya. tapi ini riwayat badan yang diambil bayang bayang serta sepasang kaki, puisi paz dan puisi helena.
"ode buat tubuhku"
siapa yang membuat 'the visible a little hard to see’ ini?
nyata, tapi agak sedikit susah dilihat
penyair? atau Penyair
nyata mesin itu memang bisa dipisah-pisahkan dan andai perbandingan ini kita teruskan, menjenguk ke dalam terasa seolah menjenguk ke luar alias yang dalam seakan tertangkap tapi luar itu, menariknya lagi, yang luar seakan terbaca tapi dalam itu, meraihnya kembali sehingga yang kini menjadi seolah yang kemarin.
apa lagi yang hendak kita pegang dengan tiap realitas mesin modern ala newton yang telah atau sedang kehilangan Ia karena Ia tengah jadi
"ia-aku-lirik" tapi yang tak pernah nyata kecuali penandanya yang memamerkan diri.
kaki itu tak nyata, hilang di bawa, (selain) "bayang sendiri". seperti pakaian itu juga tak nyata, hilang dibawa, tubuhnya sendiri. atau tubuh itu, yang hilang bagian-bagiannya, ditutup oleh ode buat pakaianku. "setiap pagi kau menungguku, pakaianku, di kursiku, buat kebesaranku" (neruda yang agak kita gerak-gerakkan sedikit).
lihatlah tak ada yang nyata kecuali bahasa: maknanya keluar masuk dari penanda ke petanda dan keduanya, ada di tapisan kursi dalam jiwa kita sendiri. keadaannya seakan, "berada di bawah terik siang, aku bahkan tak menjumpai bayang sendiri". seolah-olah "kebesaranku" itu adalah tubuh yang perlahan-lahan ditarik oleh malam.
"Kami tarik tubuhmu dan bayang-bayangmu, kami bawa ia ke malam hari." atau kini, serupa juga dengan "fuga maut" ini, tempat orang di masa lalu meletakkan permainan antara ia yang ada bergerak di ia yang tiada bergerak. apakah kita masih melihatnya?
"ia menghardik ayo mainkan maut lebih merdu".
(apakah kau melihatnya?)
"maut adalah maestro dari jerman".
(apakah kita melihatnya?)
tapi nadanya, "ia menghardik gesek biola lebih kelam", mengambang ke luar dan sampai kepada kita seolah, "aku bahkan tak menjumpai bayang sendiri".
maut dan nadanya seakan "bayang" dari tubuh dunia, yang besar, yang universal, dihidupkan ke induksinya, yang kecil, ke kecil lagi bahkan diserupakan biola, dengan irama mati.
tapi semua tak terlihat seolah matahari yang pelan pelan menarik tubuh dan bayang ke arah "gurun", dari kegelapan yang diserupakan dengan siang di "gurun" tanpa harapan bagi mata untuk memandang di malam hari: tanpa harapan bagi tenggorokan sedikit kering mau basah ini di tengah hari.
sebab, kita di gurun, bukan? sebab, dua suara itu (maut, menghardik) adalah inti dari bahasa yang seolah "malam menjadi sebuah rehat panjang untuk menemu bayangan", andai kita masih ingin menunggunya. ia seolah kursi dengan kebesaranku yang tak nyata. atau serupa:
"langkahku sepanjang jalan ini, bergaung, di jalan lain".
serangkaian penanda yang membuat penanda lain, sebuah suara, mengatasinya: "takkah kau lihat Kami yang menarik 'bayang-bayang bahasamu', dari siang terang bahasa, ke malam hari bahasa tempat ia samar-samar bagi matamu?"
ituah Heidegger yang mulai bertanya-tanya dengan cara mengubah "manusia" jadi kata yang lain, "dasein", seperti kita di tempat lain lagi, mengubah kata aku-saya jadi aku-lirik dalam puisi. apa bedanya? tidak ada bedanya. not at all, kata heidegger menjawab sendiri pertanyaannya.
"do we in our time have an answer to the question of what we really mean by the word 'being'?"
ya, apa bedanya kalimat-kalimat heidegger itu, dengan kalimat-kalimat dalam novel yang sering kita baca? kecuali bahwa mereka konsisten menempuh bentuknya.
aku pergi dan tiba di sebuah laut, darimana kulihat airmata di tepian laut: ia dan laut menangis - tampaknya seseorang telah pergi. sebuah tiada naik ke arahku, jadi ada: airmata campur asinnya hidup: air laut. memukau ia yang pelan-pelan tengah menampakkan wajah baru dirinya - tadi ia tak begitu, bukan? tapi ia kini demikian:
karya dwipa
merah ungu warna kita
"Di sini, kami, aku dan pantai
berpelukan menangisinya."
bukanlah ia tiada, ada, hanya ke-ada-annya masih dalam bentuk lain: mereka berpisah belum berpaut. nasib belum mengikatnya, kelak, nasib juga jadi ikatan, serta, putusan - jejaknya jadi ada yang lain ialah airmata, yang kini bercampur garam hidup yang mengubah dirinya: jadi asin laut.
"berpelukan menangisinya"
amboi pergerakan itu, kau dan aku tahu, ialah penampakan lama ke baru. seperti bergeraknya "hening" ke "nya". sebab, (hening) hermeneutik adalah seni atas mana kita dibolehkan bermain dengan bahasa, seperti gerak "nya" pengganti "hening" di ujung "merah ungu warna kita" puisi karya dwipa. tetapi adakah alasan untuk melakukan pertukaran? - dari "hening" ke "nya" itu?
ia adalah paduan dari suara tangis, saat si penyair (aku-lirik karya dwipa, karya dwipa yang telah mengalienasikan diri jadi aku-puisi) bersama laut dengan jalan melakukan pengubahan atas kedirian laut, jadi ia-laut - kita, menangisi ia yang telah pergi, kepergian dari suatu kata lain adalah "hening".
siapa yang hening di sini?
ia yang telah pergi, jadi, "nya" itu, dia, yang (telah) pergi, dan aku dan laut menangisi dia yang telah tiada lagi - hening, dia yang hening, adalah penaut bagi orang ketiga di sana -"nya". lagi pula, apakah musti ada alasan alasannya saat bahasa telah menjadi denyut nadi bagi diri? kita bermain, kita dimainkan, oleh tiap misteri kata yang menyeruak dari balik kata korelasional, di bahasa itu.
lewat pantai karya dwipa yang tampaknya malang oleh suatu kepergian (siapa yang pergi di sana? kukira seorang buah hati, telah diambil oleh hidup dan si aku lirik karya dwipa merenunginya - ia ajak laut karena ia ingin bersama laut menjatuhkan airmata dari asinnya hidup. kita melihat penampakan halus dari dunia dalam, batin penyair, yang tetap saja akan jadi dasein dalam hati karya dwipa andai ia tak bawa ke luar, dan lagi lagi bahasa mengambil alih sisanya, airmata yang kini berpadu dengan air laut itu. karya dwipa sendiri menampakkan dirinya yang tadi tiada di pengelihatanku, sebab ia ada di tempat lain dan begitulah tiap ada perlahan-lahan, lewat medium juga, mulai satu demi satu menampakkan dirinya.
rupanya ada bunyi yang hendak dibawa saat kita hadir, sebab ada nada dalam bunyi itu, yang telah lama tersekap oleh hidup yang halus, kini minta keluar. karena toh aku nada bunyi adalah bagian langsung dari hidup itu sendiri, yang sama sama naik ke permukaan melepaskan baju kalibut - agar redup berganti cerah. tapi apa yang cerah adalah efek bahasa: di kejadian nyatanya, adalah duka bagi si penyair. kita beroleh limpahan penampakan buah batin itu - puisi. apakah kita akan beranjak ke tempat lain lagi, pergi melihat tali menali, ikatan yang menampakkan diri sebagai langue khusus karena unik di, pantai penuh kesedihan karya dwipa? boleh saja, atau boleh juga kita mengambil lintasan cepat darinya demi pergi ke ikatan lain lagi.
lama saya digoda bahasa ini, yang terlihat dengan cara menampakkan diri tanpa sengaja, lima tahun yang lalu, saat kita sering keluar melihat lihat, saat bahasa sendiri, lewat jembatan nasib merentangkan talinya kepada pembacanya. kini saya sepenuhnya menikmati lagi dia yang telah mengasing ke dalam puisi.
karya dwipa, bagian bagian yang membuat kita terpesona.
kataku :”kau cemara aku relung karang,
merah ungu warna kita. kemarilah,
deraideraikan rambutmu di tubir jurang
lalu kan kubawa kau berlari meniti buih”
lagi lagi oleh semangat hermeneutik, mula mula kita seraya terpesona melihat kemungkinan alangkah puncak andai "buih" itu bergerak untuk masuknya "kasih". kasih yang menampakkan dirinya pada buih. berlari meniti kasih - yang telah pergi menimbulkan warna dari nada di hati saja.
kau cemara aku relung karang, bukan? seolah cemara itu akan terbanting di karang tajam, di buih tapi di sana sebenarnya, kasih - kau dan aku tempat si aku di sini, seperti galibnya puisi lirik, terus saja bersembunyi entah di mana: ia hidup oleh dihidupkan aku lirik yang bermain monolog sebagai ciri khas bentuk bahasa puisi.
bagaimana rupa, mata si cemara itu? ia orang, si cemara ini, dan mulailah penampakan itu menjauh lagi: diri tetap mengalibut tubuh kita sendiri - faktual semua manusia berbaju busana, bahkan tirai hatinya pun, terkurung berlapis lapis sampai dia sendiri tak lagi kuasa menjangkau lapisan terdalam dari inti poros rohnya, di dalam itu.
apatah lagi di puisi, hati yang mengambang naik sebagai bahasa. tetapi ada apa gerangan dengan mata si cemara? itulah dia: kekuatan puisi membuat kita mengimajinasikan: kita digoda oleh rupa manusia di dalam puisi itu. sebab mereka hanya putik kata saja, pun si aku lirik yang tak lebih tak kurang hanya putik saja - dunia paling ujung dari ranting, belum tumbuh bentuk fisiknya, masih pra keadaannya, dan puisi rupanya, terus menerus mengundurkan fakta tubuh ke pra tubuh, imaji itu. tak selalu rupanya penampakan itu jadi benda, jadi objek.
ada yang terus sembunyi di cakrawala pikiran dan jiwa manusia itu, bentuknya: ada aku lirik yang tak ada wajahnya. ia mundur terus, membuat kita makin asyik karena tradisi indera fisik luar, membayangkan ia yang bertradisi fisik dalam, jiwa halus dan tegalau tak kelihatan itu.
"dasein-helena"
- in every "now" is now; in every "now" it is already vanishing -
"di tiap kini yang ini; sekali pun yang kini itu telah menghilang"
"aku lihat kembali bayang sendiri" (helena)
"lewat sepanjang jalan ini" (paz)
dasein itu urung menjadi dasein, bila tak ada ruang, tak ada waktu. dasein apa? ke mana tubuh ini hendak dicantolkan? kapstok musti ada agar andai kita dari luar di cakrawala dingin bersalju, kita dihangatkan oleh pelukan kekasih serta cahaya lampu, artinya luar telah bergerak ke dalam.
artinya ada pergantian sekuen dalam hidup kita, jarak dari luar ke dalam. tapi apakah dalam "dalam" diri saat "ia itu kini" dan "ia itu kemarin" - setidaknya ia itu di sana, saat tubuh ada di bawah cakrawala, di musim bersalju terkatung katung dengan topi dan baju dingin, tebal atau tipis angin tetap juga, setia mengidu hidu badan kita.
seolah olah angin itu juga merasakan dingin dari tubuhnya sendiri dan kini menyelinap masuk mencari hangat ke tubuh kita. kalau kalau di sini (di tubuh yang kubelai ini) aku tidak dingin lagi, begitu bisikan angin itu sampai ke telinga kita kini. dengan cara bergerak dari 'sana' ke 'sini', 'cerita' yang dikatakan telah menghilang itu kembali lagi ke dalam puisi. bahwa di sana itu, kita renungi di sini saat ini.
alangkah halus ia yang di sana kita bawa ke sini saat ini, lewat fasilitas ingatan tempat di mana cerita, itu bukanlah menghilang dalam puisi tapi wujud lewat rekonstruksi tiap kata yang menjelma jadi imaji - yang kita bayangkan, tapi yang diumpankan oleh puisi, tapi yang kita rekonstruksi sendiri lewat kekuatan dari badai imaji penyiar.
sampai ia pada kita, gugus cerita yang rupanya, di sana telah memperlihatkan dirinya lagi, menjadi di sini - di dalam ingatan kita pembaca. dengan begitu dasein itu menjadi ada, bukan lagi semata mengganti manusia ke ungkapan baru oleh setiap badan berada dalam perpanjangan tubuhnya adalah ruang, adalah waktu, akhirnya dasein itu bergerak menjadi bahasa dengan perpanjangan bahasa adalah puisi.
dasein tepat berhenti di sini: ia menjadi kata, muncul mengapung menampakkan dirinya dari titik tempat tangan jemari indah menariknya: aku. inilah aku dan itulah kamu, kita adalah satu - dasein, sebelum dasein-titik ini menghilang karena dicabut - tangan dengan jemari mungil tadi belum mencecah, titik pun, cikal bakal huruf di antaranya kata dasein, itu kembali ke cakrawala tempat dasein murni itu bermula. di sini tak ada bahasa, penampakan berada dalam kemurnian yang tak terbahasakan.
"helena despair"
seperti beruntungnya dunia ini ada cetakan begitu pula beruntungnya dunia ini ada bahasa - akankah kita terus melar memanjang? - apa jadinya diri kita yang ramai ini tanpa alfa edision menemukan lampu? listrik akhirnya jadi hati manusia yang kini ke luar, merupa matanya lewat bola lampu - atauhkah ia terang, ataukah ia hanyalah janji harapan pemerintahan seolah nasib diri di lampu yang samar-samar (maafkan kita telah ditarik oleh desain penafsiran hermeneutik ini).
wujud-ada begitu halus lembut - seolah kue bolu masakan ibu kita dulu, yang berkata, nak, makanlah kue bolu buatan ibu sebelum berangkat ke sekolah; dalam nak itu ada dasein yang muncul lewat mata ibu, wajahnya - seluruh sosok ibu itu teduh, tempat di sana mengambang apa yang tak terlihat adalah bahasa tapi tengah menyamar jadi sosok manusia: wajah ibu yang penuh kasih memandangi kita anak yang rata rata tak pernah tahu diri ini. persis kataNya: kuciptakan kalian ini tapi lalu ingkar semua karena keranjingan memeluk sapi kuning warnanya.
ada paz di helena - boleh dong dibalik: ada helena di paz itu seperti ada heidegger di kierkegaard (the sickness unto death), yang memakaikan "now", "is", satuan satuan kecil tapi kuasa merenungi wujud kita dan waktu jua. kita yang berada di dasein, tiba tiba diubah letaknya jadi despair oleh pangeran kesunyian ini. semuai itu memakaikan "is", dan "now".
dua kejadian dalam dua waktu, dua baris puisi, terjadi di sana bergema kembali ke sini, seakan ingin mengatakan, bahwa kini itu tak hilang, ia hanya ketarik ke belakang, kelak maju lagi dan itulah kaki paz yang seolah tubuh helena. sama sama sama bergerak dalam satuan "despair"-nya juga. bahwa kita putus asa menghadapi, andai hidup ini mesti dibuat terang kecuali mengalaminya sebagai keremang-remangan.
"puisi bergerak di ruang antara"
terasa oleh kita kini pergerakan yang halus, tapi begitu kuasa menyamar, merupa seolah dasein wujud dan waktu, tapi lalu bergerak seakan putus asa mana kala diri diceraikan dari ibu - atau aslinya: manusia saat tercerai dari penciptanya, ruang kosong karena diri, bergerak ke kiri tapi apa yang ajaib saat kita di kiri itu, mata kita sunyi dan langit juga yang kita pandangi. atau dihidupkan ke dalam teori sastra tudorov yang dipetik tubuhnya oleh umar yunus, ada ruang tak sampai antara present dan absent, dan di sini energi kita: bergerak dasein atau despair, mencoba menautkan apa yang, seolah cinta, terus menerus bergerak dengan satu tangannya yang bertepuk. dua baris ini, milik paz dan milik helena, mula mula mengatakan yang ini kehilangan satuan waktunya, karena telah diambil yang ini tapi dalam kerangka vanishing.
"aku lihat kembali bayang sendiri" (helena)
"lewat sepanjang jalan ini" (paz)
mula-mula kita melihat, suatu permainan dari satuan waktu kini dan "lampau" tempat kini jadi sekarang di sana, atau seperti dalam dunia puisi kini, paz anak negeri sana helena anak negeri sini. tapi ajaib mereka bertemu. lebih ajaib lagi: tubuh bahasa mereka seolah mesin, bisa dicopot dan salah satu bagian mesin kita letakkan ke bagan bahasa mereka. boleh dipilih dengan cara terbalik: paz yang membuat baris helena itu, atau, helena yang membuat baris paz itu. lihat mereka, bukan semata bertemu tema tapi berjumpa dalam baris bayangan. tidakkah dua baris di atas itu seolah satu rumpun yang menurunkan anak ranting yang sama? mesin sana bisa diletakkan ke mesin sini atau sebaliknya. begitu transparan baris itu, sampai kita tidak melihat lagi ada waktu, dua waktu, oleh mereka telah lebur seakan dua tubuh di jiwa yang sama.
entah di mana wallace stevens melepaskan bahasa itu, suatu bahasa, apa yang diorientasikan sebuku tebal oleh heiegger difrasakan dengan amat indah oleh penyair modernis ini (ia itu tukang pos kerjanya? pengantar surat puisi ke seluruh dunia?). tapi kita menemukannya di tumpukan bangunan bangunan bahasa paul h fry, seorang profesor dari yale, bahwa yang terlihat nyata itu kini agak sukar dilihat. ia nyata, di sana (sekaligus di sini karena begitu tak terbahasakan dunia ini: di sana? padahal ia di sini karena kita di dalamnya karena kita bagiannya langsung), di luar kesadaran kita, ada, kokoh, tampak kasat mata, tapi puisi membuatnya agak sedikit susah dilihat (cantiknya bahasa ini). "poetry should ‘make the visible a little hard to see’.” dan itulah kaki paz dan bayang helena adriany.
tampak nyata serangkai penanda di sana, tapi petandanya agak sedikit sukar dilihat. mana ia? apakah ia mengeram, berada, di dalam penanda itu? tak: ia keluar dari dalam penanda, bergerak masuk ke dalam petanda yang tak lain, adalah dunia kesadaran kita ini juga. ini dari jurusan bentuk dan maknanya, tapi dari jurusan bahwa kedua itu baris imaji yang memang sukar dilihat walau mereka itu nyata.
ia sedikit sukar dilihat karena telah diambil oleh matahari - sekuen waktu jadi penentu di sini, tapi ia sedikit sukar dilihat karena kedua orang penyair itu jauh dari kita di sini - mereka di sana, tapi bisa kita bayangkan seperti dua baris ini, bisa kita renungkan tapi masih juga mereka sedikit sukar dilihat: bayang yang ada itu terangkat, bersama jalan yang dibawa oleh bayang itu (lewat sepanjang jalan ini), bayang itu tadi. ada nyata tapi tahu tahu, mereka jadi abstrak semua. ada makna dari kegiatan menghilang, tapi muncul lagi ini apa maknanya?
mari kita bergerak ke baris dari milik induk puisi itu sendiri.
apabila puisi berbicara tentang pengasingan, membuat agak bengkok (buku semiotik puisi itu) apa yang tampak nyata ini, maka itulah saatnya titik itu bertemu lagi: tiap ada tersingkap pelan pelan, atau disingkapkan dari fenomena menjadi nyata tapi oleh dia yang mengalaminya, dia yang melihat ke balik gejala (dia itu heidegger itu), tapi dia itu bertemu juga dengan para teori sastra dari rusia, kaum formalis yang tadi sedang dibahasakan secara indah oleh penyair stevens. dan kini kita mengalami alur pemikiran itu di dalam puisi. sebuah kegiatan yang mula mulanya adalah pikiran, bahasa (filsafat dan puisi), sebelum pelan pelan terangkat pergi ke Dia yang begitu sukar disingkapkan.
Dia tiba tiba jadi Puisi Murni yang dikejar oleh amir hamzah. mati matian penyair penyedih ini hendak melihat dia yang nyata (karyanya, kehadirannya, adalah dunia universe ini), tapi akhirnya kandas dalam metafor juga: aku ingin menarikmu, tapi dikau pelik sekali tapi terus menarikku. akhirnya yang kubayangkan hanyalah gadisku (orang kampung kami memisahkan kami jadilah aku penyair penggembara sedih ini, kata batin amir hamzah). maka lahrilah larik legendaris itu: serupa dara di balik tirai. hujan tak jauh jatuh dari cucurannya. tapi ini riwayat badan yang diambil bayang bayang serta sepasang kaki, puisi paz dan puisi helena.
"ode buat tubuhku"
siapa yang membuat 'the visible a little hard to see’ ini?
nyata, tapi agak sedikit susah dilihat
penyair? atau Penyair
nyata mesin itu memang bisa dipisah-pisahkan dan andai perbandingan ini kita teruskan, menjenguk ke dalam terasa seolah menjenguk ke luar alias yang dalam seakan tertangkap tapi luar itu, menariknya lagi, yang luar seakan terbaca tapi dalam itu, meraihnya kembali sehingga yang kini menjadi seolah yang kemarin.
apa lagi yang hendak kita pegang dengan tiap realitas mesin modern ala newton yang telah atau sedang kehilangan Ia karena Ia tengah jadi
"ia-aku-lirik" tapi yang tak pernah nyata kecuali penandanya yang memamerkan diri.
kaki itu tak nyata, hilang di bawa, (selain) "bayang sendiri". seperti pakaian itu juga tak nyata, hilang dibawa, tubuhnya sendiri. atau tubuh itu, yang hilang bagian-bagiannya, ditutup oleh ode buat pakaianku. "setiap pagi kau menungguku, pakaianku, di kursiku, buat kebesaranku" (neruda yang agak kita gerak-gerakkan sedikit).
lihatlah tak ada yang nyata kecuali bahasa: maknanya keluar masuk dari penanda ke petanda dan keduanya, ada di tapisan kursi dalam jiwa kita sendiri. keadaannya seakan, "berada di bawah terik siang, aku bahkan tak menjumpai bayang sendiri". seolah-olah "kebesaranku" itu adalah tubuh yang perlahan-lahan ditarik oleh malam.
"Kami tarik tubuhmu dan bayang-bayangmu, kami bawa ia ke malam hari." atau kini, serupa juga dengan "fuga maut" ini, tempat orang di masa lalu meletakkan permainan antara ia yang ada bergerak di ia yang tiada bergerak. apakah kita masih melihatnya?
"ia menghardik ayo mainkan maut lebih merdu".
(apakah kau melihatnya?)
"maut adalah maestro dari jerman".
(apakah kita melihatnya?)
tapi nadanya, "ia menghardik gesek biola lebih kelam", mengambang ke luar dan sampai kepada kita seolah, "aku bahkan tak menjumpai bayang sendiri".
maut dan nadanya seakan "bayang" dari tubuh dunia, yang besar, yang universal, dihidupkan ke induksinya, yang kecil, ke kecil lagi bahkan diserupakan biola, dengan irama mati.
tapi semua tak terlihat seolah matahari yang pelan pelan menarik tubuh dan bayang ke arah "gurun", dari kegelapan yang diserupakan dengan siang di "gurun" tanpa harapan bagi mata untuk memandang di malam hari: tanpa harapan bagi tenggorokan sedikit kering mau basah ini di tengah hari.
sebab, kita di gurun, bukan? sebab, dua suara itu (maut, menghardik) adalah inti dari bahasa yang seolah "malam menjadi sebuah rehat panjang untuk menemu bayangan", andai kita masih ingin menunggunya. ia seolah kursi dengan kebesaranku yang tak nyata. atau serupa:
"langkahku sepanjang jalan ini, bergaung, di jalan lain".
serangkaian penanda yang membuat penanda lain, sebuah suara, mengatasinya: "takkah kau lihat Kami yang menarik 'bayang-bayang bahasamu', dari siang terang bahasa, ke malam hari bahasa tempat ia samar-samar bagi matamu?"
0 komentar:
Posting Komentar