Rumah Kayu
Hingga hari ini saya bertanya-tanya andai harus menghadapi satu buku puisi, apalagi lautan buku puisi yang diletakkan ke dalam suatu kurun zaman yang sering kita sebut, zaman itu, sebagai sebuah sejarah sastra senegeri dan, atau, apa lagi ini: sejarah puisi sedunia. Bagaimana caranya? Saya tak pernah nyaman bermain besaran sebab kita tahu bahwa pun setiap line puisi itu membawakan keunikan. Bahwa penyair menuliskan puisinya, dari setiap baris ke barisnya, dengan membawa hidupnya yang ia letakkan di baris baris puisinya.
Seolah-olah orang dalam gerak sembahyang: apakah kita bisa nerapas melompat dengan memanggil-manggil Allah dalam hati? akan selalu: kita menghayati tiap gerak dari tubuh yang menyembah dan terus menerus di tiap gerak detiknya, menghayati apa yang tak pernah kita mengerti, tapi ajaib kita terus juga menyebut-nyebutnya. Kira-kira begitulah andai saya harus menghadapi buku puisi, apa lagi sejarah puisi, bahwa diam-diam kita cemburu dengan waktu karena ia begitu pendek sedang sebaris puisi saja bisa mekar mengelilingi dunia.
SuratNya untuk Kita
Tak henti-hentinya saya bertanya mengapa penyair diturunkan ke dalam dunia? mengapa ada sastrawan, mengapa tidak ada saja mereka di dalam dunia ini. terutama mengapa kahadiran mereka begitu dihormatiNya, sampai Ia buatkan surat tersendiri dalam kitabNya - surat penyair, yang arti penyair ini tak lain siapa saja yang membuat bahasa sastra. jadi ia surat sastra sebenarnya. dan andai kita luaskan lagi, sastrawan, penyair, yang disebut dalam suratNya itu, tak lain adalah segenap manusia. ia memainkan metonimi sekaligus metafora dalam surat penyair itu. lagi lagi saya bertanya: mengapa Ia yang begitu jauh sampai harus berkirim surat kepada kita manusia. ada apa bisikku, Kamu harus mengirimi kami surat seperti itu.
Maka bagi mereka yang suka mengolok-ngolok puisi - ajaib di tengah semua orang sedang memperjuangkan bidang mereka atas hak hidup segenap bidang sedunia, kita malah mengolok-ngolok bidang kita sendiri - kukira menarik andai mencoba mengerti dengan jalan merenungi surat yang Ia kirimkan untuk kita semua itu.
Apakah di sana diam diam bersembunyi ketidakpercayaan diri, atau justru langkah untuk agar orang berpaling, jelas yang mana saja kemungkinannya, ia sebuah keadaan dari berita lama itu: kesusastraan masih terpencil di lingkungan negerinya sendiri, kesepian saat berhadapan dengan apa yang mungkin lebih memukau walau pukau itu justru, sebenarnya, sedang diolah oleh dunia bahasa dengan cara menetralisirnya akan apa yang berlebih di sana. kecintaan kepada dunia benda benda misalnya, yang kini tengah merajalela dan orang menyebutnya hedonis, itu sedang dipertaruhkan dalam dunia puisi atau sastra pada umumnya. begitulah andai kita tahu apakah bidang kita ini sebenarnya, suatu oase bagi dunia yang makin kepanasan oleh kelirunya gerak tumbuhnya sendiri.
Katakanlah kini saya berhadapan dengan "kardus pandora", maka apakah yang bisa dilakukan oleh kritik sastra padanya? Seperti apa pula yang bisa dilakukan oleh kritik sastra andai ia menghadapi "gerimis yang naik ke atas", nama puisi afrilia utami di buku puisinya halte biru (hal 22), sebuah nama yang memiliki langsung daya puisi sebelum kita masuk ke isi puisi.
* SURAT KECIL UNTUK GIEPada "kardus pandora", puisi pertama afrizal dari buku puisinya "kalung untuk teman", kita segera merasakan bahasa formal itu (kotak), tengah direnggutkan dengan atau oleh bahasa pinggiran (kardus), bahwa yang formal kini diam-diam sedang ditusuki oleh penyair lewat gaya ucap dari pinggiran, dari tepi dari kebudayaan pusat (nasional kotak tapi ini kadus), dunia mitos dunia yang kini diberi nama baru: kardus bukan kotak lagi. dan semua itu mendadak memperlihatkah daya baru pada bahasa saat dunia kotak yang tiba tiba terbuka itu begerak ke segenap arahnya, sampai arah personal dari diri aku lirik yang datang dari dunia ketiga tapi mulai menyentuhkan isi kotak itu:
"luth, kenapa kau tinggalkan kardus itu dalam tubuh
saya, semalam."
Tetapi kritik sastra menjauhi dunia kecil walau mungkin saja adalah sebuah dunia yang sebenarnya sedang dipertaruhkan oleh penyair, menukar kotak dengan kardus itu, misalnya, suatu pembalikan dan pembalikan yang sama dikerjakan oleh afrilia utami lewat kebiasaan air, hujan atau air mata, yang jatuh ke bawah lewat deras atau gerimis, tapi ini naik ke atas bukan turun ke bawah -
"gerimis yang naik ke atas"
Di sini kita pembaca terhenti, dihentikan oleh puisi, disentakkan oleh pembalikan yang mendadak, dari satu arah nama saja, telah memiliki daya seolah baris puisi di dalam puisi, kita berhenti dan tak bisa maju lagi. kita hayati permainan ini tapi kritik sastra, bisa dibayangkan seperti di buku buku kita itu, tak memuatnya karena kegemaran merenggutkan isi itu seraya melemparkannya kembali ke dalam besaran-besaran, bahwa penyair afrizal, bahasanya, atau kini, afrilia dan bahasanya juga...
Kalau "kardus pandora" kita rujukkan ke mitos "kotak pandora" maka jelaslah bagi kita motif dari puisi kardus pandora, lewat kata yang dibuat jadi kata kerja dari kata dasar "bersih", bahwa si aku lirik menyimpankan pesannya di sini, saat memulai puisi kardus pandora lewat kata kata:
"saya mau membersihkan rumah",
Sehingga kita pembaca diberi janji, bahwa bagaimana cara puisi membersihkan isi kotak pandora, kardus pandora, itu. Ke sinilah kritik sastra mustinya bekerja setidaknya, saat ia menyentuh 'kardus pandora', dalam hubungan dengan jiwa manusia yang ingin membersihkan jiwanya, dari pesan kotak pandora yang, kata dami, "kendi pandora - berisi segala duka dan nestapa dan bencana kejahatan", dan saat menyentuh ini dami yang menulis di buku afrizal mendeskripsikan apakah makna motif itu dalam pengertian muasalnya, kreasi para dewa, jadi dongeng di bumi tentang "langit" juga - ia bukan wahyu seperti milik umat nabi isa dan muhammad.
"gerimis yang naik ke atas" itu juga janji, janji penyair yang berjanji dengan bahasanya, janji yang membuat kita tertegun oleh konvensional air yang kita kenal: air yang kita akrabi itu, biasanya jatuh ke bawah, maka janji ini tertunai mula mula lewat kemungkinan yang bisa kita imajinasikan: gerimis ini doakah, atau ia airmata dan tapi airmata ini dibawa ke dalam aliran doa, yang ia naikkan ke atas.
Begitulah kuasa bahasa dalam sifatnya yang puitik, andai ia berhasil, mampu membuat baling baling imajinasi kita pembaca bekerja. Kita merasakannya pembalikan dari suatu konvensi, konvensi air dan konvensi manusia yang menggerakkan bahasa, dan apakah isi dari bahasa yang berjanji naik ke atas ini? apa pula isi kardus pandora, ruang di mana setelah kata "membersihkan", yang aktif itu, mulai disentuh oleh isi dari kendi pandora adalah ular.
Bait pertama "kardus pandora" maupun 'gerimis yang naik ke atas', memainkan kata dalam sifatnya yang penuh dengan tanda, akibatnya bait itu penuh dengan teka-teki, yang membuat kita terus mengikutinya, bertanya hubungan antara satu baris dengan baris yang lain, agak me-nyusut, melihat bagaimana kata di sana menyusun baris-baris di bait pertama.
Inilah soal kritik sastra andai kritik sastra, dalam definisinya yang umum adalah suatu pertimbangan agar sang kritikus diminta melihat ke sebuah ciptaan, untuk mengukurnya apakah ia itu bermutu atau tidak bermutu, dan mutu, bisa kita acukan ke, misalnya alamat (tanda), bahwa tanda itu merepresentasikan ke luasnya hidup ini, yang kini menyempit jadi ciptaan, tempat kita bisa melihat hidup di luar, kini pindah ke dalam ciptaan. Apakah saat ia pindah, dunia di dalam itu makin memperkaya kita kepada dunia di luar (realitas yang telah kita alamai sepanjang hayat).
Kata yang dibuat tak longgar, saat merapat ke kata yang lain, kita sebut sebagai intensif di dalam puisi, bahwa ia merapat ke tujuan dari nama puisi itu, diterjemahkan menjadi baris-baris isi, atau dari satu baris di mana tujuan baris itu, yang akan disambut oleh tujuan baris sesudahnya, membuat puisi harus membina sebuah folus agar kata tak menjauh dari tujuannya, agar ia secara teori bisa jadi intensif, merantai lewat barisnya, pergi ke arah tujuannya, dan arah dari tujuan itu, adalah lamat-lamatnya makna yang direpresentasikan sebagai alamat (sign) itu. Bahwa kata, kata seorang teman, duduk samping menyamping dan telah terlanjur saling memilikkan arti satu dengan yang lain, tapi duduk begini tak bisa andai kata dibuat longgar, saling menjauh bukan saling mendukung: rantai baris puisi bisa patah oleh laku kata seperti ini.
"jauh-jauh aku berjalan, dari gurun ke gurun",
adalah oleh perilaku kata yang duduk sebelah menyebah, bahkan perilaku sepotong baris yang duduk sebelah menyebelah ("jauh-jauh aku berjalan", duduk bersebelahan dengan "dari gurun ke gurun", karena ingatan kita akan gurun didukung oleh perangai kata "jauh-jauh" dari kerja kaki si aku lirik yang melangkah di dalam bahasa itu. Ia diminta oleh induknya, induk bahasa itu, "gerimis yang naik ke atas", jadi "kepayahan", "jauh", itu telah terayun sejak awal, sejak yang tak biasa ini, dan isi pertama itu menguatkannya - mengintensifkannya kalau memakai kosakata dari teori puisi.
2. KRITIK Sastra
Rumah Kayu
Hal yang sama terjadi dengan "kendi pandora", bahwa ide dibuat secara koheren dalam ikatan kata yang kohesif mengikat ide dan kata dibuat pas sehingga ia jadi intensitas dalam bahasa, (dalam bahasa puisi).
Kalau seperti yang dikatakan dami (penulis buku pemenang hadiah sastra, hamba-hamba kebudayaan), bahwa "kendi pandora - berisi segala duka dan nestapa dan bencana kejahatan", maka itulah yang dilakukan oleh afrizal malna, seperti afrilia utami tadi: meng-koherensi-kan idenya ke baris pertama atau baris pertama ini melarikan diri meraih "kendi pandora", bahwa "kekotoran: kejahatan" itu harus ia bersihkan - penyair ingin mandi membersihkan tubuhnya, dan bahasalah yang ia pakai agar tubuhnya jadi bersih. Maka kata afrizal,
"saya mau membersihkan rumah, membakar sampah,
mengusir setan."
Inilah niat penyair, yang ia wujudkan dalam bahasa, dan kerja kritik sastra mula-mula meraih niat ini sebelum ia pergi, dengan cara, bergerak ke mana-mana di antaranya menyelusuri ide "kardus pandora", seperti yang dilakukan dami dalam tulisannya di buku puisi afrizal ("catatan kaki atas "biografi membaca 1997"), mengapa catatan kaki? seolah bukan kerja pokok sang kritikus, catatan kaki itu. Tapi apakah ini pula soal kita ini?: kerja kritik harus dilakukan dengan perencanaan matang melibatkan waktu, dana, sarana sarana pendukung lainnya sehingga beroleh tulisan tak sekedar 'catatan kaki' saat menghadapi objek yang sedang ia teliti.
Soal yang memang ada, rumit dan kita tak kunjung punya jawabnya di negeri kita ini, saat menghadapi, katakanlah permintaan menulis kata pengantar di buku sastra, sebuah ruang yang begitu menjanjikan untuk orientasi kepenulisan teori sastra, karena ia bukan koran tapi buku - ruangnya sangatlah amat panjang. Sedangkan pada saat yang sama, kritik sastra kita sering dialamatkan sebagai "kritik sastra pengantar", tulisan di buku-buku sastra, yang sering juga diselundupkan ke media massa cetak semisal koran.
Dari baris pertama yang kita hubungkan dengan judul puisi, mulai terasa keindahan bahasa afrizal dalam kardus pandora, walau kita musti terus membuntutinya sampai puisi itu selesai, apakah koherensinya tidak patah di tengah jalan, satu hal yang memang memerlukan waktu karena yang kita hadapi bukan satu puisi tapi sebuku puisi - apalagi sezaman puisi yang melibatkan puluhan penyair. dapat dengan cepat dapat kita katakan, bahwa keindahan puisi akan dikorbankan di sini, tereduksi oleh besaran yang tak terhindarkan oleh kerja kita yang bermain besaran.
Di tulisan dami ini juga, ikatan itu menjadi besaran bernama sub tulisan adalah "motif mitos", dan kita lagi lagi tak melihat keindahan kotak pandora secara, setidaknya sampelnya, oleh kotak pandora itu dilarikan ke ide luar bukan ide dalam sebagai produksi puisi penyair. Sedang teori teori sastra itu mengamanatkan bahwa kritik sastra diminta menunjukkan mutu dari sebuah ciptaan, bukan menjauh berputar melingkari mutu dari sebuah teori walau, teori atau bahasa itu mungkin ada kaitannya dengan ciptaan yang memang membawakan teori/bahasa ke dalam dirinya.
* puisi di luar sejarah membacakotak pandora, gerimis yang naik ke atasdua kanon dunia
Apa yang kita lihat kemudian, bahwa mitos itu tak pernah beranjak dari sumber induknya misal mitos dari kotak pandora, kendi pandora, yang bisa kita temukan dari bahasa langit dari tradisi kitab-kitab samawi, bahwa kendi pandora itu perpanjangan belaka dari kotak surga yang tertutup tapi lalu terbuka, oleh sin qua non-nya lika liku sebab akibat adam dan hawa dalam hubungan pohon kuldi serta akibatnya. inilah kalau "motif mitos" itu hendak kita luaskan, atau misal kita mengambil tulisan, esai goenawan yang indah dan dalam saat merayakan ulang tahun hb jassin, (di mana, berakhirnya mata penyair), maka mitos malang sumirang yang dimakan api tak mati bahkan mencipta puisi dari dalam api, adalah kosakata mitos juga dari dibakarnya nabi ibrahim oleh api dan ia pun tak mati.
Sehingga "keinginan tahu Pandora membuka penutup kendi, berhamburan keluar segala jenis kejahatan dan malapetaka ke atas bumi", tulis dami dan apa yang disimpulkan ini tak lain adalah "keingintahuan adam atas pohon itu dan terbujuknya adam memakan pohon itu." akibatnya tak main main: ia telanjang dan dicampakkan ke dunia, ke bumi. inilah permainan penerusan, yang membedakannya, mitos kendi pandora dibuat oleh dewa dewa yunani, berita dari bahasa dunia, sedang adam dan hawa datang dari taurat, injil, dan al quran, sebagai suatu permainan penerusan dalam bahasa langit yang turun ke dunia.
Jejaknya mengimbas ke mana-mana, antara lain, ke cerita malang sumirang yang dipungut goenawan dari esai luar itu. mengimbas pula secara langsung ke kisah, katanya abadi, indah dalam maknanya, iliad homer dan mahabrata, bahwa ultimatumnya: turunlah kalian ke dunia, sebagian dari kalian akan saling memusuhi satu dengan yang lain - dunia langsung dipotret dalam keadaan perang pada dua kanon dunia itu. (kanon kita mana?)
Saya suka dengan pengertian kritik sastra prof richards karena ia lebar, dan sangat masuk akal dan kelebarannya mencakup tanpa harus memerinci terlalu jauh, bahwa kritik sastra adalah kerja jiwa yang membeda-bedakan pengalaman (jiwa manusia) juga serta upaya mengevaluasinya. Jadi dalam hal ini adalah pertemuan jiwa pengarang yang telah berpindah menjadi jiwa karya sastra atau ciptaan, dengan jiwa kritikus yang sedang mencoba mengertinya dan terutama membeda-bedakan - dengan sastra lain, dengan zaman lain, dan terutama ingin saya tarik dengan kemungkinan terjadinya serangkaian bentuk dan jenis pengalaman yang mewujud dalam karya itu sendiri, serta mengevaluasinya.
"criticism, as I understand it, is the endeavour to discriminate between experiences and to evaluate them."
Definisi (richards, di bukunya principles of literary criticism) yang disusun dengan pikiran yang biasa saja, yang masuk akal karena memang begitulah permainan saling melimpahi dalam dunia ini, bahwa ada jiwa yang membuat dan ada jiwa yang membaca dan menilai hasil dari apa yang dibuat. dan kita ingin membawanya ke dalam, ke "membeda-bedakan bait bahkan baris, dari lompatan ide ke ide lain, tapi di dalam bukan pertama ke luar". kita menilainya, melihat bagaimana mutunya dalam perbandingan dengan dunia luar, sehingga apakah ia yang di dalam itu lolos dan kini duduk bersanding dengan luar - katakanlah sumbernya dalam bentukan keindahan serta ke dalamannya.
Saya kembali ke dua puisi itu lagi, merenungi walau dami n toda telah menemukan kunci dari puisi kotak pandora yang ia bayangkan, bahwa afrizal menyenangi mitos dan yang ia ambil sisi "tragedinya dan disilangkan dengan motif-motif lain dari Kitab Suci", tapi kita belum melihat "pikiran" ini bekerja menangani isi dari kotak pandora itu sendiri. atau dalam kata richards tadi, mengevaluasinya demi suatu mutu yang hendak kita raih, atau kita hayati.
3. KRITIK Sastra
Jadi kerja kritik sastra itu menilai suatu pengalaman jiwa manusia penyair yang sedang membeda-bedakan bahasanya, pengalamannya saat bertemu dengan kehidupan, kini berpindah ke dalam jiwanya, untuk sekali lagi berpindah dan kini diam di bahasa. Seandainya ia buku maka nama buku inilah pengalaman jiwa pertama yang menjadi tempat atau medium jiwa yang sedang berpindah. Manusia menilai dunia, atau manusia menanggapi dunia, itulah pengalaman jiwanya dan bahasalah yang menjadi jejaknya.
Kita mulai mengevaluasi apakah arti dan makna dari "kalung dari teman", pada afrizal atau "halte biru" pada afrilia. "Apakah" yang segera terhubung kepada dunia itu sendiri. Ia, "apakah kuasa" menjadi wakil dari pengalaman yang berbeda-beda itu, yang kini mulai disebar sebagai perbedaan dari satu puisi ke puisi lain di dalam buku, bahkan wujudnya yang berbeda dari satu baris puisi ke baris puisi yang lain. Itulah yang kita nilai, dikembalikan lagi kepada dunia, bagaimana ia kini diletakkan ke dalam dunia.
"Halte" tempat orang menunggu - orang modern tentu saja, sebab orang dulu rasanya belum ada jalan raya sehingga mereka tidak atau belum memerlukan kata "halte", walau kegiatan menunggu itu, tetap juga ada di sana, suatu abadi dalam eksistensi kita manusia dalam dunia ini. Bagaimana dengan biru? Kita mungkin segera teringat cakrawala, di atas kita, lepas bebas dengan warna biru. Langit harapan sekaligus langit kesepian, atau mengenang dia yang horisontal adalah laut, dengan warna biru sebagai ingatan dan dengan debur ombak yang kesepian dan dengan misteri laut yang mengisyaratkan tualang.
Dengan demikian "halte biru" menjadi tanda, isyarat, alamat dari suatu keadaan manusia bahwa sedang apakah ia itu, sebuah pengalaman jiwa dan pengalaman ini yang akan segera terserak, ke sebanyak puisi di buku halte biru, bahkan terserak ke sebanyak baris baris dalam setiap puisinya, yang mengandaikan adanya "discriminate between experiences" dalam definisi richards.
Nama buku jadi induk tanda, sehingga kita mulai menyadari pentingnya judul buku, karena dari sinilah pecahan-pecahan tanda di dalamnya dimulai. Ia langit bagi pecahan-pecahan isi. Langit yang bisa kita uji karena ia adalah muara dari setiap hilirnya. Halte Biru itu, kita uji dari sini dan ia kuasa menjadi muara, bahwa nama ini mendadak menjadi waiting for godot dalam pengertiannya sendiri. Induk ini yang kita lihat disambut oleh pecahannya, sebuah isyarat dari permainan dikotomis saat puisi pertama itu langsung menyambutnya. Ruang Harapan kini segera diisi oleh ruang kenyataan, yang tak sepenuhnya biru tapi mulai kelabu. Itulah puisi pertama, "sepercik api, titik hujan", sebagai sebuah nama yang mengisyaratkan tanda. Adalah "rumput kertas", puisi kedua dari halte biru, yang meneguhkan akan kenyataan yang tak biru tapi kelabu.
Tak mudah lolos menjadi tanda, isyarat, atau alamat, sebab alamat ini akan diuji oleh kebaruan, suatu gerak maju dari apa yang sudah kita kenali. Halte Biru telah berhasil menjadi tempat pulangnya isi, tapi ia kini mulai diuji lewat, apakah ia menjadi suatu "kata yang baru", daerah yang bukan sepenuhnya tak ada tapi lalu ada, karena daerah seperti ini tak mungkin. akan selalu ada kata, tinggal bagaimana ia dibentukkan, dikombinasikan setelah dipisahkan dari sana sini.
Saya ingin mengambil suatu keberhasilan nama buku afrizal yakni arsitektur hujan, yang begitu rupa andai kita bandingkan kalung dari teman, yang begitu lambat menunjuk ke apa yang hendak ia tunjuk. "Kalung Dari Teman" itu mengambang, tak memiliki sensasi seperti artisektur hujan, yang begitu sensasional karena kebaruannya - orang biasanya mengenakannya kepada benda padat, besi misalnya, yang bisa diarsitekturkan. tapi ini hujan, dunia yang begitu mudah terbawa angin, kini giliran dibentukkan dan itulah arsitektur hujan. ia jadi dunia bahasa yang baru. kehadirannya mulai mengganggu persepsi kita atas kenyataan.
Sekalipun tak sekuat "arsitektur hujan", "halte biru" lebih berhasil andai kita bandingkan dengan "kalung dari teman", yang menurut penjelasan afrizal, dan andai penjelasan ini tak ada, kita mungkin saja akan kesukaran merekonstruksikan "kalung dari teman" ini - tapi tidak "halte biru" karena sifat halte ruang untuk menunggu. suatu hari afrizal membeli kalung dan tiba-tiba ia melihat kalung itu jadi lain, suatu pengelihatan yang personal sang penyair tapi tak "berbunyi" di dalam bahasa, setidaknya bahasa dari nama buku puisinya, bahwa kaling itu mendadak membuat ia melihat benda-benda itu berbicara.
Dalam hal ini, pengarang atau penyair tak semeninggal seperti yang dimitoskan itu. masih ada jejak penyairnya, yang lewat medium mana pun, akan menjadi pendamping setia menjelaskan ciptaannya, dan tapi ia saat mengambil alih posisi ini, bukanlah ia sebagai penyair atapi ia sebagai pembaca, sedang teks puisi itu sendiri, dalam hal ini nama bukunya, tetap akan membela dirinya sendiri, adalah dunia obscure andai kita bandingkan, sekali lagi, dengan arsitektur hujan karena ia begitu personalnya, sekali lagi, lain dari sifat universalitas dari halte sebagai ruang untuk menunggu. tak ada warna di kalung dari teman itu, sekali lagi, ia berbeda dengan warna biru yang kuasa mengalih jadi kelabu, pendamping halte di buku afrilia.
Dengan begitu kritik sastra mengarah ke bangunan dasar dari sebuah buku, melihatnya lewat etalase nama yang, karena sifatnya sebagai tanda induk, tak bisa sekehendak pengarang memberikan nama kepada bukunya, karena pemberian seperti ini kelak akan terasa semena-mena pada isi. akan datang kritikus menyentuhnya lewat, kata teori sastra itu tadi, mengevaluasinya dalam kerumunan tanda yang menjadi ciri paling tipikal pada dunia puisi.
Buku puisi adalah sebuah struktur tanpa harus, mengacukan pikiran ke strukturalisme sebagai metode berpikir itu, tapi bisa melihat ke alam langsung sebagai bangunan bangunan tempat struktur bekerja dengan sempurna. tubuh kita sendiri juga, seperti alam itu, bahwa dunia bahasa sambung menyambung dan kita tak kuasa melepaskan diri dari strukturalisme, itu bukan berarti kita harus mengambil setiap idenya yang jumlahnya juga mungkin sebanyak para penyair itu sendiri, kritikus ini atau pemikir pada umumnya, setidaknya riuh rendahnya teori sebagai pengucapan, yang sama ramainya bahkan jauh lebih ramai dari ciptaan itu, yang ia bahasa dengan teorinya itu.
* Dami membuat ikatan terlalu melebar"kerugian afrizal, keuntungan afrilia"Struktur itulah nama, sebuah pengertian darimana induk soal itu dimulai, lewat nama yang rupanya terpasang secara terbalik: bila "halte biru" menjadi tempat segala isi kembali, maka tidak dengan "kalung dari teman", yang sebenarnya jadi isi dan justru "kotak pandora"-lah yang menjadi bingkai dari isi besar atau induk tema andai apa yang terkutip oleh dami itu diberi sisi kanannya yakni tawa bahagia oleh rasa kebaikan, sebagai sisi dari seberang mana terdengar duka bencana serta kejahatan yang berhamburan keluar dari kendi pandora itu, lengkaplah dunia, dunia puisi, dunia bahasa, dengan duka lara bencana serta tawa bahagia kebaikan, sebagai tema yang terayun di dalam dua buku puisi atau di sastra pada umumnya atau di kenyataan hidup sehari-hari kita bersama ini.
Maka kalau kita kembali ke definisi atau pengertian kritik sastra, yang membawakan evaluasi sebagai inti yang ia kerjakan terhadap karya puisi, saat berkata dari besaran seperti ini, kita lalu tahu bahwa adalah kerugian afrizal malna memasang buku puisinya dengan kalung dari teman, sebaliknya pada saat yang sama, adalah keuntungan afrilia utami saat ia memberi nama buku puisinya halte biru, oleh alasan dari apa yang telah kita logikan ini.
4. KRITIK Sastra
Langit telah dibuka dengan nama buku puisi dan kini tugas penyair, saat ia menyusun buku puisi untuk memasangkannya, dengan jalan membuat struktur di dalam sehingga langit menjadi pecahan-pecahan bab buku puisi, sehingga pikiran di buku puisi terurai secara tematik, atau ia menghindari daerah ini dengan menyusun setiap puisi arbitrer bagi nama buku puisi: sembarangan saja diletakkan tanpa suatu pemilahan yang bergerak mengacu ke langitnya.
Pada saat yang sama tugas kritikus sastra menemukan jalinan-jalinan dari benang merah halus yang mengikat bagian-bagian bumi dari langit puisi. ia masih dalam kerangka kata induk yang menjadi anak-anak dari kata induk, dan buku puisi atau puisi adalah sebuah dunia yang kita pandangi dengan jalan berkeliling, sesuai dengan keinginan kita memandanginya. Artinya dengan begitu, puisi membawa segala macam segi pada dirinya, yang bisa dievaluasi oleh kritik sastra, tapi pada saat yang sama, si puisi sendiri menjadikan dirinya sebagai sarana untuk setiap segi (isi) itu pada dirinya.
Sekali lagi andai kita bergerak mengikatnya lewat pembesaran, seperti yang dikerjakan kritik sastra model dami n toda terhadap kalung dari teman, atau seperti banyak tulisan kritik sastra atau esai sastra - esai sastra itu juga kritik sastra walau disampaikan dalam medium esai, oleh alasan ini goenawan mohamad dulu dapat peringkat sebagai, saya lupa nomornya tapi makamnya di lingkaran nomor tiga atau berapa, kritikus yang paling berwibawa di negeri kita ini, di antara kiritkus di sini.
Maka yang dirugikan adalah penyair. sebab pembesaran bisa dipastikan akan meloncati begitu saja tenaga penyair saat menyusun puisinya, baris ke baris, bait ke bait, penyair itu siang malam mengolah bahasanya - sebuah upaya yang pantas dilayani pula oleh sang kritikus, siang malam seolah penyair mengolah pula kreatifitas kerja kritiknya, walau hal ini di kita masih seakan kehendak yang menggantang asap (kita belum melihat selain disertasi, orang-orang akademik mengerjakan kritik sastra atas buku puisi atau gejala sastra pada umumnya, seserius saat mereka menuliskan disertasi), dari jurusan kritik sastra yang kerap dilabeli sebagai kritik ilmiah dari kalangan akademisi.
Tapi bagaimana caranya tanpa mengikat, "pembesaran", seperti itu? Hemat saya ia perlu, dan, tak terhindarkan. Saya tak tahu bagaimana jawabnya andai kritik sastra bergerak dari baris ke baris di sebanyak puisi di buku puisi, apalagi di seangkatan penyair. Hal yang paling ideal tapi nyaris mustahil dikerjakan. Mungkin, harus ada setidaknya sampel terhadap satu puisi, akan evaluasi terhadap keunggulan mutunya, atau selang seling dalam gerakan pembesaran, ke pengelihatan dekat dari dalam. Bagaimana pun juga kenyataan dalam bahasa, suatu gerakan terbalik di antara tema induk yang terpasang sebagai "kotak pandora", harus ada evaluasinya, bahwa "kalung dari teman" harus dibawa masuk dan pada saat yang sama, puisi semisal "kotak pandora" yang menjadi ikatan luar atau nama buku, seperti terikatnya "rumput kertas", pada afrilia, ke induk temanya - "halte biru", kegiatan kita yang menunggu seolah sandiwara itu: mengharapkan Tuhan datang tapi Tuhan tak datang, dari birunya harapan manusia yang akhirnya bergerak jadi kelabut, kehitam-hitaman.
Karena itu Kritikus Sastra selalu tertinggal di belakang penyair yang berhasil. Padahal Kritik sastra harus mencerahan, sebab kegiatan kritik sastra seolah kegiatan penyair terhadap kata - tapi pada kritikus sastra terhadap bahasa, suatu dunia seolah puisi: terus menerus dipikirkan segi-segi dari misterinya yang mungkin menjadi panampang bagi hidup yang kini membalik penuh ke bahasa, sebagai puisi, sebagai kerja kritik sastra sehingga kritik sastra tak hanya hadir sebagai dunia rutin: ada tertulis tapi orang tak mendapatkan kecerahan apa pun darinya.
Karena kritik sastra tak memiliki segi yang memperlihatkan kehidupan yang bergerak masuk sebagai bahasa itu sebagai bergeraknya bahasa lain adalah kritik sastra, menampilkan juga, seperti puisi di mana para penyair kerap, terkejut sendiri oleh baris baris yang intuitif meledak dari kedalaman jiwa mereka. Bukannya kritik sastra asyik vakansi ke pelbagai macam ide teori dan konsep sastra, dengan, sesekali saja, tak mendalam, dan karena itu tak kreatif dan karena itu, akan selalu tertinggal di belakang langkah para penyair (tentu saja penyair yang berhasil), keadaan kritik sastra itu.
Saya ingin memperlihatkan kemungkinan kerja kritik sastra dengan mengambil sampel novel yakni novel orang asing albert camus, tempat di mana ada misteri yang tak terpecahkan dari dalam novel, yakni dunia tanda memungkinkan lima tembakan pistol albert camus itu tengah mematikan lima rukun keyakinan itu, begitu kita mengevaluasinya, menafsirkannya. Dunia obsesif dari kegiatan kritik seperti ini, tiba-tiba datang saja karena sedemikian lama saya telah memikirkan apakah arti tubuh arab yang telah terkapar di pasir (ingat di pasir bukan di tanah), itu ditembak empat kali lagi sehingga terdengar lima letusan pistol yang menembus masuk ke tubuh arab (novel albert camus orang asing).
Juri di sana, para hakim, dan hadirin,bingung menghadapi jiwa si meursault, dan meursault entah ia bersembunyi entah arbitrer saja lakunya itu, menjawab itu karena matahari, lakunya yang konyol tak memiliki penjelasan sehingga sang hakim yang tak mampu menangkap 'mengapa' itu bertanya kepadanya. mengapa, kamu itu menembak empat kali lagi sedang tubuh itu telah jatuh, terkapar tanpa daya di tanah? (barangkali telah mati, tubuh itu), si tokoh orang asing ini berkata, itu karena matahari, katanya. tapi kritik sastra, yang memikirkan bahannya sedemikian lama ini, kini memiliki dugaan dari suatu permainan tanda yang mungkin saja tak disadari oleh camus sendiri alias si novelis bergerak atas intuisi instingnya.
Tapi kita menduga lewat permainan penandaan: itulah arab sebagai sumber muasal dari agama samawi, sedang lima tembakan pistol yang dilepas adalah kegiatan si 'arab' yang sembahyang, dengan rukun islam yang lima itu, yang telah dimatikan dengan telak dan tangkas oleh albert camus yang cerdas dan amat indah sebagai pebahasa pembuat bahasa sastra - tepatnya bahasa sastra yang datang dari kiri jiwa manusia. Untuk menghidupkannya kembali kita harus keluar dan tampil mengimbanginya.
Pada saat yang sama tugas kritikus sastra menemukan jalinan-jalinan dari benang merah halus yang mengikat bagian-bagian bumi dari langit puisi. ia masih dalam kerangka kata induk yang menjadi anak-anak dari kata induk, dan buku puisi atau puisi adalah sebuah dunia yang kita pandangi dengan jalan berkeliling, sesuai dengan keinginan kita memandanginya. Artinya dengan begitu, puisi membawa segala macam segi pada dirinya, yang bisa dievaluasi oleh kritik sastra, tapi pada saat yang sama, si puisi sendiri menjadikan dirinya sebagai sarana untuk setiap segi (isi) itu pada dirinya.
Sekali lagi andai kita bergerak mengikatnya lewat pembesaran, seperti yang dikerjakan kritik sastra model dami n toda terhadap kalung dari teman, atau seperti banyak tulisan kritik sastra atau esai sastra - esai sastra itu juga kritik sastra walau disampaikan dalam medium esai, oleh alasan ini goenawan mohamad dulu dapat peringkat sebagai, saya lupa nomornya tapi makamnya di lingkaran nomor tiga atau berapa, kritikus yang paling berwibawa di negeri kita ini, di antara kiritkus di sini.
Maka yang dirugikan adalah penyair. sebab pembesaran bisa dipastikan akan meloncati begitu saja tenaga penyair saat menyusun puisinya, baris ke baris, bait ke bait, penyair itu siang malam mengolah bahasanya - sebuah upaya yang pantas dilayani pula oleh sang kritikus, siang malam seolah penyair mengolah pula kreatifitas kerja kritiknya, walau hal ini di kita masih seakan kehendak yang menggantang asap (kita belum melihat selain disertasi, orang-orang akademik mengerjakan kritik sastra atas buku puisi atau gejala sastra pada umumnya, seserius saat mereka menuliskan disertasi), dari jurusan kritik sastra yang kerap dilabeli sebagai kritik ilmiah dari kalangan akademisi.
Tapi bagaimana caranya tanpa mengikat, "pembesaran", seperti itu? Hemat saya ia perlu, dan, tak terhindarkan. Saya tak tahu bagaimana jawabnya andai kritik sastra bergerak dari baris ke baris di sebanyak puisi di buku puisi, apalagi di seangkatan penyair. Hal yang paling ideal tapi nyaris mustahil dikerjakan. Mungkin, harus ada setidaknya sampel terhadap satu puisi, akan evaluasi terhadap keunggulan mutunya, atau selang seling dalam gerakan pembesaran, ke pengelihatan dekat dari dalam. Bagaimana pun juga kenyataan dalam bahasa, suatu gerakan terbalik di antara tema induk yang terpasang sebagai "kotak pandora", harus ada evaluasinya, bahwa "kalung dari teman" harus dibawa masuk dan pada saat yang sama, puisi semisal "kotak pandora" yang menjadi ikatan luar atau nama buku, seperti terikatnya "rumput kertas", pada afrilia, ke induk temanya - "halte biru", kegiatan kita yang menunggu seolah sandiwara itu: mengharapkan Tuhan datang tapi Tuhan tak datang, dari birunya harapan manusia yang akhirnya bergerak jadi kelabut, kehitam-hitaman.
Karena itu Kritikus Sastra selalu tertinggal di belakang penyair yang berhasil. Padahal Kritik sastra harus mencerahan, sebab kegiatan kritik sastra seolah kegiatan penyair terhadap kata - tapi pada kritikus sastra terhadap bahasa, suatu dunia seolah puisi: terus menerus dipikirkan segi-segi dari misterinya yang mungkin menjadi panampang bagi hidup yang kini membalik penuh ke bahasa, sebagai puisi, sebagai kerja kritik sastra sehingga kritik sastra tak hanya hadir sebagai dunia rutin: ada tertulis tapi orang tak mendapatkan kecerahan apa pun darinya.
Karena kritik sastra tak memiliki segi yang memperlihatkan kehidupan yang bergerak masuk sebagai bahasa itu sebagai bergeraknya bahasa lain adalah kritik sastra, menampilkan juga, seperti puisi di mana para penyair kerap, terkejut sendiri oleh baris baris yang intuitif meledak dari kedalaman jiwa mereka. Bukannya kritik sastra asyik vakansi ke pelbagai macam ide teori dan konsep sastra, dengan, sesekali saja, tak mendalam, dan karena itu tak kreatif dan karena itu, akan selalu tertinggal di belakang langkah para penyair (tentu saja penyair yang berhasil), keadaan kritik sastra itu.
Saya ingin memperlihatkan kemungkinan kerja kritik sastra dengan mengambil sampel novel yakni novel orang asing albert camus, tempat di mana ada misteri yang tak terpecahkan dari dalam novel, yakni dunia tanda memungkinkan lima tembakan pistol albert camus itu tengah mematikan lima rukun keyakinan itu, begitu kita mengevaluasinya, menafsirkannya. Dunia obsesif dari kegiatan kritik seperti ini, tiba-tiba datang saja karena sedemikian lama saya telah memikirkan apakah arti tubuh arab yang telah terkapar di pasir (ingat di pasir bukan di tanah), itu ditembak empat kali lagi sehingga terdengar lima letusan pistol yang menembus masuk ke tubuh arab (novel albert camus orang asing).
Juri di sana, para hakim, dan hadirin,bingung menghadapi jiwa si meursault, dan meursault entah ia bersembunyi entah arbitrer saja lakunya itu, menjawab itu karena matahari, lakunya yang konyol tak memiliki penjelasan sehingga sang hakim yang tak mampu menangkap 'mengapa' itu bertanya kepadanya. mengapa, kamu itu menembak empat kali lagi sedang tubuh itu telah jatuh, terkapar tanpa daya di tanah? (barangkali telah mati, tubuh itu), si tokoh orang asing ini berkata, itu karena matahari, katanya. tapi kritik sastra, yang memikirkan bahannya sedemikian lama ini, kini memiliki dugaan dari suatu permainan tanda yang mungkin saja tak disadari oleh camus sendiri alias si novelis bergerak atas intuisi instingnya.
Tapi kita menduga lewat permainan penandaan: itulah arab sebagai sumber muasal dari agama samawi, sedang lima tembakan pistol yang dilepas adalah kegiatan si 'arab' yang sembahyang, dengan rukun islam yang lima itu, yang telah dimatikan dengan telak dan tangkas oleh albert camus yang cerdas dan amat indah sebagai pebahasa pembuat bahasa sastra - tepatnya bahasa sastra yang datang dari kiri jiwa manusia. Untuk menghidupkannya kembali kita harus keluar dan tampil mengimbanginya.
"Saya mau membersihkan rumah, membakar sampah,
mengusir setan." (afrizal malna dalam puisi kardus pandora).
Jadi niat afrizal malna di dalam bahasa hendak membersihkan dirinya, setidaknya membersihkan dirinya di dalam bahasa puisi "kotak pandora", dan niat yang sama, walau tak dieksplisitkan sebagaimana kotak pandora itu menjelaskannya dalam kalimat: saya hendak membersihkan sampah, dari dunia kotak pandora yang tak lain adalah kenyataan hidup yang bergerak melingkar: dari baik ke buruk untuk kembali lagi: dari buruk ke baik dan oleh kenyataan ini sang penyair mengambil nama dari dunia mitos akan kenyataan yang seperti ini, dilukiskan oleh afrilia utami lewat tanda yang telah kita katakan dibuat secara terbalik: gerimis yang naik ke atas, sebagai sebuah tafsir dari kemungkinannya gerimis itu adalah tangisan anak manusia dan naik ke atas, adalah naik ke langit sehingga ia pada akhirnya samalah dengan katarsis yang sedang hendak ditempuh oleh afrizal malna, gerimis yang naik ke atas afrilia utami ini.
mengusir setan." (afrizal malna dalam puisi kardus pandora).
Jadi niat afrizal malna di dalam bahasa hendak membersihkan dirinya, setidaknya membersihkan dirinya di dalam bahasa puisi "kotak pandora", dan niat yang sama, walau tak dieksplisitkan sebagaimana kotak pandora itu menjelaskannya dalam kalimat: saya hendak membersihkan sampah, dari dunia kotak pandora yang tak lain adalah kenyataan hidup yang bergerak melingkar: dari baik ke buruk untuk kembali lagi: dari buruk ke baik dan oleh kenyataan ini sang penyair mengambil nama dari dunia mitos akan kenyataan yang seperti ini, dilukiskan oleh afrilia utami lewat tanda yang telah kita katakan dibuat secara terbalik: gerimis yang naik ke atas, sebagai sebuah tafsir dari kemungkinannya gerimis itu adalah tangisan anak manusia dan naik ke atas, adalah naik ke langit sehingga ia pada akhirnya samalah dengan katarsis yang sedang hendak ditempuh oleh afrizal malna, gerimis yang naik ke atas afrilia utami ini.