kalau ratio menengahi ilmu dan laku, apa yang dibawa oleh estetika ini? langit yang 'sublime'?1.The Critique of Judgement
The solution of this problem is the key to the Critique of taste, and so is worthy of all attention.
Kebebasan Yang Ditarik Kembali
Bagaimana kita dapat mengerti sebuah karya sastra bermakna? Bahwa ia itu, indah, serta, sublim. Jadi, ia karya yang indah, karya yang agung, indah dan agung yang mempunyai riwayat totalnya kehidupan ini, yang menghubungkan semuanya dalam kemenyeluruhan yang tak terpisah satu dengan yang lain.
Ia mustilah karya yang berpikir, merasakan kepenuhan pikirannya.
Sudut-sudut tertentu perasaannya datang dari dunia yang ia pikirkan, dengan penghayatan penuh perasaan. Di jantung pikiran dan perasaan yang tumbuh padu seperti itu, siapakah yang ia pikirkan dan mengapa. Bagaimana cara ia memikirkan perasaannya, membentuk pikirannya dalam hubungan dengan kehalusan seperti kehidupan yang kita lihat ini, di mana sambungan-sambungannya sering tak terlihat karena halusnya, tapi sanggup menyentuh jiwa yang paling dalam. Ya, karya yang indah, karya yang agung, seperti alam semesta, sebuah ciptaan yang maha indah dan maha agung, walau untuk sampai ke sini ia mengambil jalan yang melingkar. Hening seperti dalamnya air, atau ganas seakan badai.
Sandainya sebuah cerita penuh kerinduan memanggil namaNya, atau mencampakkanNya. Seandainya saya bergerak dari estetika, tentulah kita ingin memasuki cerita itu sedalam-dalamnya, sampai radikal ke dasar-dasarnya. Bertanya mengapa jiwa manusia sampai seperti itu; apa yang terjadi dengan masa lalunya dan mengapa masa lalunya sampai seperti itu. Tapi, buku "Manusia Dan Seni" (Dick Hartoko) "melarang" kita untuk sampai ke dasar terdalam yang mungkin saja harus kita cari di balik apa yang tampak ini. Sebuah pelarangan yang terapung justru dari hasrat untuk tahu itu sendiri.
Dick Hartoko mengutip definisi klasik filsafat.
"Filsafat merupakan suatu cabang pengetahuan yang ingin menerangkan tentang semua yang ada atau yang dapat ada menurut sebab musabab yang paling dalam, sejauh sebab musabab itu dapat diraih dengan akal budi saja (dan tidak dengan wahyu Tuhan misalnya)."
Sebuah definisi yang paradoks, bahwa orang bebas tapi kebebasannya ditarik kembali. Bagaimana memasuki "sebab musabab yang paling dalam" kalau hanya boleh "diraih akal budi"?
Apa salahnya dengan wahyu Tuhan? Apakah wahyu Tuhan bukanlah sebuah pikiran dan pengetahuan yang logis seperti akal budi dalam dunia ini? Sebagai bangunan logis berpikir, tidakkah filsafat justru bertanya tentang akal budi ini, bahwa ia ada, telah menjadi kepengetahuan, bahwa ia bisa mengumpulkan, telah menjadi bagian dari teori kepengetahuan (epistemologi).
Tidakkah ia misteri, akal budi itu, yang kita perlakukan mendadak ada saja karena tidak ingin mengusut darimana datangnya, dengan cara menceraikannya dari wahyu Tuhan. Bukankah oleh wahyu Tuhan kehidupan ini ada, di antaranya adanya kehidupan akal budi, dan tidakkah oleh wahyu Tuhan itu pula akal budi ini melata mengumpulkan semuanya, membentukkan kembali dalam bentuk yang ia pilih, demi perasaan dan pikirannya tertentu, akan setiap ada yang terlibat dalam peristiwa dan semuanya berlangsung di bawah kepastian nasibNya. Sungguh aneh, mecegat dan membatasi jalannya akal budi. Keadaan akal budi jadi seakan petinju yang diminta masuk ke ring tapi satu tangannya diikat.
Masih dari negeri kita, sebuah buku lain berkata, (Filsafat Ilmu, Jujun S. Suriasumantri):
"Secara ontologis, ilmu membatasi masalah yang dikajinya hanya pada masalah yang terdapat dalam ruang lingkup jangkauan pengalaman manusia. Jadi, ilmu tidak mempermasalahkan tentang hari kemudian atau surga dan neraka yang jelas berada di luar pengalaman manusia", karena, "agama mempermasalahkan objek-objek yang berada di luar pengalaman manusia, baik sebelum manusia ini berada di muka bumi, seperti mengapa manusia itu diciptakan, maupun sesudah kematian manusia, seperti apa yang terjadi setelah adanya kebangkitan kembali."
Tampaknya pemikiran takut dengan Penciptanya sendiri, walau ia tidak takut dengan derivasi - makna-makna yang mengambang dalam karya sastra, (seperti dunia surga dan neraka yang hanya menjadi pengalaman batin), ruang-ruang di mana realisme sering menghilang ke dalam imajinasi. Apa yang konkret di sini menjadi sepenuhnya kabur dan abstrak. Dunia menjadi begitu imajinatif seperti surga dan neraka, atau kebangkitan kembali itu, yang begitu imajinatif, di luar kepengalaman.
Karya apa saja datang dari dunia batin yang tak terlihat, dibawa ke dalam setelah melihat apa yang terlihat di luar. Seperti ilmu itu, atau filsafat ini, membawa dari luar untuk diolah ke dalam, sebelum keluar jadi bahasa. Tidakkah kitab suci juga adalah bahasa walau Penulisnya bersifat paripurna?
The Critique of Judgement
The definition of taste here relied upon is that it is the faculty of estimating the beautiful. But the discovery of what is required for calling an object beautiful must be reserved for the analysis of judgements of taste.
Dua kutipan itu telah memperlihatkan kekuatan serta sekaligus keterbatasan (karena dibatasi sendiri), bidang estetika dan (tentu saja) teori sastra yang hendak kita lihat, seraya mencobakannya dengan menjenguk ke dalam ciptaan sastra secara langsung. Sebab bukan saja kita telah terlanjur memasukinya, sambil memasukinya kita telah terlanjur pula melarangnya, tapi memang begitulah aturannya atau pikiran itu diatur: tak ada yang boleh terputus, mesti tersambung. Tapi Ia sebuah kebebasan burung terbang, hanya kebebasannya ditarik kembali dengan cara mengikat sayapnya. Adalah ontologi, epistemologi, serta aksiologi - inilah tali-tali yang membuat sayap burung tak lagi kuasa mengepak-ngepak. Ia terbatas. Hal yang tampak wajar karena manusia butuh kebenaran, kalau bisa, kepastian dari kebenaran. Dan selalu, ia musti bersifat nyata yang dapat kita amati.
Dunia tanpa batas yang dibatasi sendiri, sebuah pembatasan yang untuk alasan kebenaran dan kepastian dari lautan objek yang masuk seolah jumlah titik hujan yang tak terhitung, dapat kita mengerti, bahwa di sini mesti ada distingsi itu. Russell juga misalnya, salah seorang yang melakukan pembatasan. Di awal ("History of Western Philosophy") ia membuat batas, bahwa, "All definite knowledge - so I should contend - belongs to science; all dogma as to what surpasses definite knowledge belongs to theology. But between theology and science there is a No Man's Land, exposed to attack from both sides; this No Man's Land is philosophy." Sebuah definisi yang indah karena filsafat yang ke mana-mana itu seolah diingatkan lewat frasa "No Man's Land", bahwa "tuan kebebasan" itu terikat lagi ke "tanah-dataran-nyata"-nya, di bumi. Ia bukan sebuah daerah yang tak ada realitasnya. Ia bukan di "sana" tapi di "sini". Ia, filsafat itu, bergerak di luar "sains" dan "agama". Ia-lah "tuan tanah di sini". Di bumi bukan di surga.
Keadaannya seolah-olah manusia terikat di sana dengan "sayap yang patah", sebelum ikatan ini dibuka lagi dan yang membuka ikatannya orang ilmu juga, seorang profesor adalah Arnold Toynbee, di ("Sejaran Umat Manusia") yang menulis bahwa, "Namun demikian, sekalipun sains akan terus menjejakkan langkah kemajuannya, mungkin prestasi-prestasinya yang lebih jauh tidak akan membawanya melampaui batas-batas masa lalu dan masa depannya. Pengetahuan kita tentang cara kerja alam semesta ini bisa bertambah, tetapi sains di masa depan tidak akan mungkin, meski lebih baik daripada sebelumnya, menyebabkan kita bisa memahami mengapa alam semesta ini bekerja seperti adanya sekarang, atau sebenarnya mengapa alam semesta ini ada."
Teka-Teki dalam Fenomena Kehidupan, bab buku Toynbee, sungguh menggoda saat ia sampai kepada kesimpulan dari keterbatasan gerak ilmu dan saran atas keterbatasan, dengan cara membuka kembali "ikatan" dan meletakkan ilmu kepada keadaan yang lebih rendah hati.
"Memang benar", katanya, "bahwa jawaban-jawaban yang ditemukan di luar batas-batas sains merupakan keyakinan yang tidak bisa diverifikasi. Jawaban-jawaban ini bukanlah demonstrasi intelektual; jawaban-jawaban itu adalah intuisi religius. Oleh karena itu, kiranya dimungkinkan bahwa di masa depan, sebagaimana di masa lalu, kehidupan akan memaksa manusia untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan puncak dalam ranah intuitif agama yang tidak bisa diverifikasi. Sepintas, ungkapan pos-ilmiah dan ungkapan agama pra-ilmiah terlihat saling berlawanan. Setiap ungkapan agama masa lalu telah disesuaikan dengan pandangan intelektual tentang waktu dan tempat di mana setiap ungkapan diformulasikan. Namun esensi agama yang menjadi latarnya, tidak diragukan lagi, sama konstannya dengan esensi watak manusia itu sendiri. Senyatanya, agama adalah ciri intrinsik dan distingtif dari watak manusia. Agama adalah respon manusia terhadap misteri fenomena yang ditanggapinya dengan kesadaran yang unik."
Apa yang menarik pada Toynbee adalah kepatuhannya, semacam "bahasa iman" - (yang kelak kita oposisikan dengan "bahasa ingkar"), karena diri tahu sedang menghadapi "sublime" yang disebut Kant dalam "The Critique of Judgement", pada arahnya yang agung. "Sublime is the name given to what is absolutely great." - atau, kalau dalam keyakinan ilmu pengetahuan, ia terapan dari kata-kata Darwin yang dikutip Turio de Mauro (Pengantar Linguistik Umum Ferdinand de Sasusure):
"Pada akhir autobiographie-nya, Darwin melukiskan perilaku ilmiah sebagai kombinasi antara keragu-raguan yang memadai dan imajinasi yang terpercaya: setiap pendirian, yang paling diakui sekali pun, dianggap sebagai hipotesis yang mungkin, yang patut ditinjau kembali dan dikembangkan. Ferdinand de Saussure menginkarnasikan perilaku tersebut di dalam linguistik."
Sebuah keyakinan yang boleh jadi akan membuat Saussure merenungkan kembali, andai ia keluar, sesuai anjuran dan apa yang ia yakini atas Darwin, dari tiap batas yang mengikat diri (ilmu), dengan melacak konsep arbitrer tentang kesemenaan dunia tanda, di antara penanda dan petanda, lewat bahasa-bahasa skriptural yang menjadi keniscayaan karena, bukankah, tali itu telah dibuka kembali lewat kata-kata: "perilaku ilmiah sebagai kombinasi antara keragu-raguan yang memadai dan imajinasi yang terpercaya: setiap pendirian, yang paling diakui sekali pun, dianggap sebagai hipotesis yang mungkin."
0 komentar:
Posting Komentar