Sabtu, 24 Januari 2015

novel nugroho suksmanto, lauh mahfuz



novel nugroho suksmanto, lauh mahfuz.novel nugroho suksmanto, lauh mahfuz. the grand inquisitor & lauh mahfuz
12 Juli 2014 pukul 6:36

Landasan utama novel lauh mahfuz adalah cinta, kasih dan sayang-Nya yang dibayangkan mesti kita miliki dan oleh sifat kasih-sayang ini kenyataan keberbedaan kita sebagai suatu puak manusia yang berdiam di suatu negeri tak lalu meledakkan satu dengan lain atas nama iman kepadaNya.

Inilah pesan utama lauh mahfuz sebagai sebuah novel. jadi ini adalah religiositas itu. seorang pastor menulis tentang religiositas dalam bukunya "sastra dan religiositas" dan pandangannya bergerak ke sana ke mari. ia pergi ke negeri kita sendiri - antara lain melihat novel belenggu, telegeram, god lob (buku cerpen) dan ziarah iwan simatupang.

seraya ia pergi juga ke barat, melihat-lihat wajah manusia di sana dan mengambil suatu inti betapa di suatu masa begitu ketatnya ikatan gereja sehingga manusia di dalamnya tak bisa bernapas. tampillah rupa-rupa reaksi dan reaksi-reaksi itu akan selalu abadi: saat struktur begitu ketat mengikat kita maka manusia tampil melawan ikatan-ikatan struktur dan mencoba pergi ke jalan-jalannya sendiri.

Mangunwijaya (hal. 77 buku sastra dan religiositas)"Sastra yang gemilang mengungkapkan perang batin luar biasa dari manusia barat terhadap realitas dalam dirinya yang penuh dosa beserta kecenderungan-kecenderungan gelapnya yang buas, dan dari pihak lain pergulatan penuh setiap warisan kepercayaan yang telah teruji selama puluhan abad itu, ialah, tak dapat disengketakan lagi, karya besar inkuisitor besar gubahan dostoyevsky. inkuisitor besar ialah pejabat tinggi gereja katolik di zaman akhir abad abad pertengahan yang mendahului reformasi kaum protestan..."

inkuisitor besar itu bagian dari novel the brothers karamazov - the grand inquisitor. kita bisa melihat dari "mutiny" (the grand inquistior) yang berbunyi seperti ini:"There is a certain confession I have to make to you,' Ivan began. 'I have never been able to understand how it is possible to love one's neighbour. In my opinion the people it is impossible to love are precisely those near to one, while one can really love only those who are far away."

Bahwa cinta itu tak mudah dan bahwa ada aspek "jauh" dan "dekat" yang menjadikan cinta itu suatu dinamik. Apa yang "dekat" tampak seolah jadi rutin dan kita pun melambai ke yang "jauh". "yang jauh" kita panggil agar menerangi "yang dekat". yang jauh inilah Tuhan tempat panji di novel lauh mahfuz bergerak mendakinya, memetik darinya sebuah kitab besar yang aneh dan kemudian menyoroti dunia dengan kitab yang aneh itu berupa pesan cinta. adalah kebusukan manusia (tak mesti di barat tapi di timur juga: ingat kata takdir dalam polemik kebudayaan: bila sumatera ini kuat siapa yang menjamin ia tak melantak jawa? kosakata yang bisa kita pindahkan ke mana/apa saja karena yang dikatakan takdir itu adalah watak universal.

dalam novel ini disebut sebagai kesukaran mencintai, yang dekat tertolak dan orang diam diam memimpikan yang jauh. itulah sebuah kodrat dan inilah kegemilangan lauh mahfuz: dengan pena, mengambil dari langit dan menyoroti bumi dengan gerak cinta, yang sukar kata "inkuisisi besar).Kita tertarik pada apa yang "jauh" dan apa yang "dekat" itu, sambil melihat bagaimana ia menjadi kisah yang diceritakan dalam novel, kini kita berada dalam dua pola, dua bentuk citarasa Ketuhanan. Kalau Tuhan itu berdiam saja alias pensiun maka itulah suatu pandangan di mana ada ciptaan ini kini bermain sendiri, lepas dari kemungkinan-kemungkinan "langit" karena "langit telah dilepaskan".

Maka yang ada kini adalah kemauan ada per orang, ada per ada hendak bergerak ke mana ia. Tapi ada ini ada dalam suatu konteks kemanusiaan, kebudayaan dan peradaban tapi segenap keberadaan ada itu bergantung pada dirinya sendiri. Inilah isyarat yang dilepas oleh puisi Tuhanku, atau kalau kita baca keluar dari novel menjadi pandangan manusia bumi di mana yang ada adalah kemauan, dan siapa yang memiliki kemauan maka ia berhasil. hasilnya bukan dari langit tapi dari upayanya sendiri.

Tetapi apakah novel yang panjangnya hendak ke lima ratus halaman ini bisa disimpulkan dari hanya puisi Tuhanku itu? Sementara bagian-bagiannya kita lepaskan, sedang, pada bagian-bagian atau dari keseluruhan novel ini, wajah langit itu seperti wajah kitab itu sendiri: bergerak antara upaya manusia serta nasib yang telah digariskan, ditetapkan di langit menjadi keputusan yang mengena pada siapa yang menyandang nasibnya.

Di sini ia memiliki sifat "jauh", samar dan halus karena kita tak tahu apakah sebab itu karena upaya kita atau upaya itu mesti diletakkan ke pada ketetapan langit yang pasti (kadang kepastian ini digoyang-goyang oleh lauh mahfuz lewat doa, kalau orang berdoa maka kemungkinan apa yang telah pasti bisa berubah, persis dengan pandangan kebanyakan kita, mekar ke dalam tegangan antara kepastian langit dan berubahnya langit oleh upaya dan doa. Jadi ia halus, dan jauh. tapi ia dekat karena semua itu adalah hidup kita, yang kita alami, kedekatannya menjadi nasib kita sendiri.

Lapisan-lapisan, bukanlah mula-mula teori dalam pengertian diadakan oleh pikiran tapi ia adalah hidup, di luar, yang bergugus-gugus ke dalam lapisan-lapisan kenyataan. Pengarang yang baik mendayakannya seperti pengarang novel lauh mahfuz mengerjakannya dalam lapisan-lapisan cerita, tempat ia memperlihatkan kepada pembacanya arus dari macamnya suara.

Demikian radikal karena ia memasuki tubuh, menyentuh dunia ruh, lapisan-lapisan dalam diri. Pada tingkat pertama sang aku-prosaik memperlihatkan dirinya, saat ia menghela awal cerita, lalu mundur dan menghilang dan kini membiarkan Panji menghela dirinya sendiri, Panji pun mundur dan kini aku prosaik itu muncul lagi, menceritakan kelanjutan kisah panji yang masih anak-anak. Ia masih kelas dua (mungkin kelas dua SD, sekolah dasar), saat ceritanya diambil alih oleh aku-prosaik yang kini menampakkan dirinya lagi.

Lewat nama "menyusup kabut", bagian III, pembaca dibawa ke lapisan-lapisan itu, lewat jalan dunia kenyataan yang telah dibuat halus sedemikian rupa. Bentuk novel ini seperti pelari estafet berlari dalam jarak yang panjang dan tongkat itu terus-menerus berganti tangan. Kini seseorang tak kelihatan dari dalam bahasa, meneruskan apa yang sudah diceritakan oleh panji pada bagian kedua kisahnya yaitu "berburu wirog", catatan panji 1.

Catatan panji 1 berburu wirog ini berlanjut walau bukan panji sendiri yang memakaikan gaya aku. Tidak kita temukan lagi gaya “aku” yang halus itu, "semasa kanak-kanak aku tinggal di pendirikan." Gayanya telah berubah sebab yang bercerita bukan panji lagi yang mengisahkan dirinya, tapi aku narator seperti dalam puisi, aku lirik yang menghilang sehingga hanya suaranya saja yang terdengar. Memperlihatkan kehalusan yang sama tapi dengan juru bicara yang berbeda.

"Tiada yang lebih menyejukkan dan membuat lelap pada siang hari bagi Panji, selain berteduh sambil tiduran di bawah kerindangan pohon-pohon bambu." Kata orang tak kelihatan itu: "Papringan, begitulah anak-anak kawasan Pendrikan dan Kampung Megersari menyebut kerindangan pohon-pohon bambu itu."

Kita memiliki halaman yang luas sekali, tanpa sekat sehingga kita bebas berpikir ke sana ke mari, memikirkan narator atau aku lirik dalam puisi, aku prosaik yang kini memecah-mecah dirinya. Kita terkenang pada aku-pengarang seperti dalam puisi: kita ingat aku-penyair dan seperti dalam puisi juga: aku itu telah tenggelam ke dalam bahasa. Kini di dalam bahasa mereka melakukan pengasingan berkali-kali dengan jalan menghilang. Menjadi aku pengisah, atau masuk ke kisahnya langsung bergerak menjadi aku panji yang menuturkan dirinya. Itu juga lapisan-lapisan di samping kisah yang dibawanya sendiri.

Sebenarnya itu juga misteri dan mengandung tanya tanya seperti kisahnya yang penuh dengan tanda tanya.

Sudah sangat sering kita memasuki kawasan yang jarang disentuh oleh kritikus ini, tentang lapisan-lapisan pengisah yang ada hubungannya dengan pengarannya. Kini ia kita masuki lewat jalan ideologi dari novel yang kita kontraskan dengan ideologi dari suatu mazhab dari suatu agama yakni kesewenang-wenangan Tuhan. Kita berpikir tentang bagian-bagian yang tak berhubungan tapi terputus-putus, seperti kita berpikir kebalikannya, bagian-bagian itu diadakan oleh satu orang (mula-mula pengarang; lalu dia yang bercerita dalam novel, dia induk yang memisah-misahkan dirinya, mengambil yang terpisah itu dan menyatukannya ke dalam satu keutuhan jalan cerita novel.) nah mulai terlihat akibat dari occasionalism di satu pihak dan kemandirian ciptaan di pihak lain.

Kita tinggalkan dulu gerak bertentangan itu dan kini kita memasuki apa yang tipikal di novel ini, yakni dunia roh yang menjadi basisnya berpikir, memikirkan dunia lewat lapisan-lapisan kenyataan, di antaranya lapisan di balik dunia yang kelihatan, adalah roh itu. Panji kecil mengalami ini, rohnya keluar dari tubuhnya yang karena lelah tertidur di siang hari. Panji yang masih usia kelas dua, masih kanak.

Bertemu kucing yang salah arah: ia ingin meracun tikus tapi termakan kucing dan kucing pun mati. kucing itu hadir lagi, bertemu dengan roh panji yang sedang keluar dari badannya.

Sukar sekali membayangkan kejadian di alam yang terputus-putus, tak berkait satu sama lain lewat hukum sebab-akibat karena pandangan kemahaan Tuhan. Bahwa segala sesuatu saling bebas di luar sana, dan pada kehidupan manusia pun setiap peristiwa tak berkait langsung, atau "disebabkan maka terjadilah." Segalanya putus-putus, bahwa ia terbaca seakan sebab-akibat tapi semua itu karena keniscayaan-Nya. itulah pandangan dari asy'ariah, "kemahakuasaan Tuhan dalam kesendirian-Nya."

Kalimat ini misalnya:

"Tetapi aku sangat terkejut, ketika yang kutemukan bukan wirog keparat itu, tetapi ternyata hanya seekor kucing kecil yang kukenali milik Pak Sam, seorang pensiunan yang tinggal di sebelah rumah kakekku."

Struktur kalimat itu saja, tanpa kita melacak kalimat sebelumnya, adalah hasil, akibat dari - akibat panji kecil meracuni tikus karena binatang ini, wirog, sudah membuatnya kalap dan tapi racun itu salah sasaran.

Seekor kucing kecil yang mati dan kematiannya karena racun yang ditebar. Apa boleh buat kita harus menarik kembali "karena" - karena racun yang ditebar. Sebab kucing itu mati saja bukan karena racun yang ditebar - itu kejadian yang terpisah, tak berkait satu dengan yang lain. Apalagi karena "ulah" si Panji. Bukan ini. tak ada hubungan sama sekali kematian kucing milik pensiunan pak sam dengan ulah panji. sebab kejadian itu berdiri sendiri. sebabnya: Tuhan menghendaki kucing itu mati.

Rasanya pandangan ini hidup dalam kemahakuasaan Pengarang (manusia bukan Tuhan, tapi Tuhan dalam dunia ciptaan, karya novel, lauh mahfuz). Kejadian-kejadian itu terpisah dan yang memisah-misahkannya adalah pengarang - nugroho suksmanto.

Dalam Menyusup Kabut hal itu terjadi, kaitan antara bagian dengan "berburu wirog" yang menimbulkan bekasnya sebagai ploting pada alur - mengalir dari berburu wirog ke menembus kabut, suatu sebab akibat yang galib dari dunia plot dalam novel. Tapi tak galib dalam pandangan keterputusan.

Tak ada kaitan bagian ini:

"Bulu kuduk Panji seketika berdiri, badannya merinding mengucurkan keringat dingin. Dan dia hampir berteriak ketika menyadari betapa tak salah binatang yang sedang dia pegang itu adalah si Manis, kucing Pak sam. kucing yang mati terbunuh memakan racun tikus yang dia tebar bagi wirog jahanam dan kemudian bangkainya dia kuburkan di papringan."

dari foto ke bahasa

bukanlah lelah kita memikirkan keterputusan itu, malah nikmat lagi mengasyikkan, karena di depan kita terbentang teka-teki yang begitu menggiurkan. dari segala arah keterputusan itu bisa kita pertanyakan tapi jawabnya tak suatu pun yang bisa difinalkan oleh sifat samarnya. pada dasarnya, akhirnya, semua itu adalah bahasa yang terhujam kepada keyakinan walau setiap sisi itu bisa kita renungi, dipikirkan baik-baik. akhirnya kita tidak tahu karena mekanisme keterputusan itu bekerja sedemikian samar dan kita tidak mengerti.

dari lajur foto dan foto ini dibuat oleh manusia, tapi hasil akhirnya kreasi dunia visioner ini juga akan senasib dengan lauh mahfuz sebagai novel. ia bukan karya seorang pengarang, tapi karya dari tangan tak kelihatan yang bekerja dari setiap titik yang terputus yang berupa ada itu. lihatlah pipa di bibir sartre di atas ini: ia terputus: bukan oleh kemauan sang filsuf atau novelis, pipi itu memekarkan dirinya berupa nyala karena ia diisap. atau foto dari dua orang pengarang yang dikreasikan oleh seorang penyair.

seorang pengarang dari masa lalu sebuah negeri, perancis, tak kuasa mendekat ke arah seorang pengarang lain dari negeri yang jauh darinya, untuk berduet mengisap rokok. ia bukan karya husni hamisi karena pada dasarnya sang penyair ini ada dalam keadaan keterputusan itu. ia menjadi anasir yang tak memiliki sebab-akibat pada dirinya sendiri. persis seperti bahasa yang beberapa darinya kita petikkan untuk memperlihatkan bahwa itu adalah suatu alur, yang mengalur niscaya karena kelogisan dari sebuah cara novel berpikir.

oleh ini sebelum kita maju lagi, saya tertarik dengan rasa bahasa yang tercipta dari dunia gaib antara manusia dan mahluk yang relasi di antara keduanya telah memperlihatkan nuansa cita rasa dari dunia mistik di malam hari. atau sebuah siang lengang di mana kelenganan itu memiliki sifatnya yang aneh. di sini kita seakan merasakan segalanya bergerak tanpa kendali manusia lagi. akibatnya tercipta suasana misteri dari gerak-gerik panji yang mengalami pra-dunia-mistik yang rupanya telah menjadi dunia eksistensi dia di dalam novel.

bangunan-bangunan serupa itu telah dibuat orang juga, antara lain di daerah dekat novel kita adalah novel saman. sebuah bangunan mistik tercipta di dalam novel saman dan itu juga tentang dunia roh, yang tampak meyakinkan karena diisap kembali oleh sebuah kelahiran yang tak jadi. tapi rasanya bagian ini, berupa atau bersifat fragmentasi, pengaya novel saman. bukan eksistensi dari novel saman. sebaliknya pada lauh mahfuz dunia semacam itu, menjadi inti ceritanya, karena dengan cara begitu pengarang menyiapkan dunia batin tokohnya, untuk kelak dipuncaknya mengatasi dunia mistik yang membawa cita rasa dunia hantu, tapi naik dan keadaan diri naik ini telah keluar dari cita rasa mistik yang menakutkan. novel kini menempuh arah langit tempat orang orang kebatinan yang suci itu mendaki, mengatasi dunia keseharian yang profan, pergi ke dunia transenden lewat gerak dari suatu agama yang mereka yakini.

dari dalam

dalam dunia "di antara" itu kini kita berdiam, mengamati bagaimana sang panji perlahan-lahan mulai memperlihatkan misi utama novel. dunia di antara nyata dan tak nyata, yang secara tidak sadar telah merebak tanpa dikehendaki oleh novelisnya. kita bisa mengatakan bahwa inilah makna yang diseret tak sengaja oleh novelis. hal itu terjadi karena novelis, atau novel lauh mahfuz ini, bukanlah sebuah senjata pencerahan yang berbekal dengan moral yang telah siap untuk ditembakkan. tapi sebuah organisme, hidup nyata yang tumbuh, bukan sebuah kumpulan arah yang telah siap di saku dan kapan-kapan, di mana suka, dibidikkan kepada pendengarnya. tapi sebuah dunia tumbuh. artinya dunia retak tempat kita bisa memunguti setiap retakan kisah yang tak disadari oleh novelis bahwa itu adalah, bagian dari amanat maknanya.

gerakan dikotomi yang sejak awal mengapung sebagai jalur cerita yang dipilih, itulah di antaranya keberhasilan dari dunia yang bukanlah telah siap dengan moral di tangan itu. panji yang baik hati adalah sekaligus panji yang siap membunuh walau yang dibunuh itu adalah wirog. maka kita menemukan kepembunuhan itu dalam paket manusia yang berhati baik. artinya di sela yang baik itu ada yang buruk dan itulah wirog yang keberadaannya difungsikan, atau berfungsi, sebagai merusak, merusakkan kehidupan.

rugi rasanya bila kita tidak pelan-pelan berjalan di dalam novel, dengan cara memunguti makna yang tersebar di dalam novel dan mendudukkannya ke dalam suatu persebaran makna tunggal yang ingin diraih novel. misalnya asumsi bahwa panji tokoh novel ini, yang kita asumsikan sebagai tipikal tokoh atau manusia yang baik hati - artinya ini kabar bagi mereka yang merawat kehidupan bukan malah mematikannya, dari dan dengan segala gerak yang destruktif.

di sela dunia nyata dan tak nyata itu yang kini bergerak perlahan-lahan dimainkan oleh sang narator, kita mulai melihat bentuk dari rupa manusia baik hati itu lewat gerakannya yang tak sengaja - novelisnya tak meniatkan bahwa kejadian kecil yang kita sedang hayati ini adalah bagian langsung dari hidup manusia panji yang baik itu. tapi ia nyata dan kita bisa melihatnya sekaligus menikmatinya. bahwa itulah dunia manusia baik yang sedang memperlihatkan kebaikan budinya tanpa ia memaksudkan walau diam diam gerakan dari peristiwanya itu adalah kabar bagi para pembacanya, atau kabar bagi dunia ini, bahwa kehidupan lebih diutamakan dari hasrat untuk menghabiskan kehidupan itu.

ingin saya petikkan apa yang sedang tumbuh di hati kita saat bertemu ihwal-ihwal kecil yang pastilah akan diluputkan, diabaikan oleh para kritikus karena hasrat mereka bermain pembesaran. mereka itu kalau bisa: dalam sebarisan telah mengisap novel dengan hanya mengeluarkan temanya saja. padahal tema itu terselip dalam setiap halaman-halaman novel. untuk itulah novelis atau penyair itu menulis: mereka hendak memperlihatkan tumbuh dan kembangnya rasa indah atas hidup, yang melata dari setiap bentukan baris dalam puisi atau kalimat dalam novel. tapi kita para kritikus cenderung membunuhnya dengan cara mengabaikannya.

mari kita lihat apa yang akan diabaikan oleh para pengamat itu, dengan membawanya pada satu kutipan seraya meletakkannya kepada kebulatan dari ideologi novel lauh mahfuz ini.

"dari lubang kecil yang ada, tiap hari kucelupkan tanganku dengan menggenggam nasi. tak lama kemudian, tanganku yang kumekarkan, akan dikerubuti ikan-ikan yang suatu saat akan masuk ke dalam perutku. seminggu sekali, sebagai menu pengganti, kumasukkan cacing-cacing halus yang kuambil dari kali. untuk itu aku harus berhati-hati, karena ikan-ikan gabus yang garang kelaparan dapat melukai jari-jari tanganku."

the grand inquisitor & lauh mahfuz
14 Juli 2014 pukul 20:31

jadi bagaimana? novel adalah kawasan yang luas lebar, tapi ia dibangun dari bagian-bagian kecil dan apa yang kecil ini membawa kenikmatan saat membacanya. bukanlah sekali atau dua kali "kucelupkan tanganku dengan menggenggam nasi" itu bekerja di lauh mahfuz, tapi acap kali pada banyak bagian yang terserak.

apakah ia akan kita abaikan atau kita kumpulkan, dari cara orang bercerita dalam novel, sebagai novel, tanpa harus buru-buru keluar dengan menggenggam serentang tema bahwa, inilah novel lauh mahfuz itu: ia sebuah bahasa yang dibangun atas nama cinta kepada sesama, bahkan cinta kepada setiap ada termasuk, kucing yang disayangi panji.

atau kita juga mengumpulkan bagian-bagian penuh misteri dari daerah hari yang bisa juga kita alami sendiri-sendiri, bahwa di suatu masa dari hidup kita ini, keadaan-keadaan penuh misteri bisa saja terjadi. bukankah kita sering juga, di tengah malam saat sendirian di ruang dan waktu yang sunyi, apa bila kita mengetik atau membaca, mengapung keadaan-keadaan seperti yang diceritakan novel lauh mahfuz: dunia gaib yang kita rasakan saat justru mata kita terbuka.

kita merasa ada seseorang, atau seseorang berdiri di dekat kita. bulu kuduk kita juga ikut meremang seperti bulu kuduk panji yang meremang dalam novel. semua itu adalah bagian-bagian terbaik novel lauh mahfuz ini. tapi itulah fakta dalam novel, yang pasti memiliki prinsip yang bekerja di balik novel. apakah kita akan langsung memegang prinsip ini atau kita menikmati bagian-bagian seperti itu, itu sebuah tanda tanya juga dan akhirnya kita akan terus bertanya-tanya: seperti apa membaca novel sastra yang baik itu.

bagaimana sikap kita terhadap dunia bahasa di mana pengarangnya, berjuang mati-matian untuk menghasilkan bahasa dalam karangannya. tapi semua itu kita abaikan dengan langsung memunculkan pernyataan, bahwa novel itu atau puisi ini, yang kerap kita kenali itu, jenis jenis tulisan yang mengapung seadanya saja.

keadaan yang kita katakan itu berada di depan, di halaman-halaman awal novel lauh mahfuz sebelum novel ini begerak ke penceritaan orang dewasa dengan masalah orang-orang dewasa, yang rumit pelik dan selalu, nilai-nilai langit itu menjela di antara kisah-kisahnya. seperti selalu pula pendekatan "biografis" novel ini berjalan bersama segenap cerita dalam novel. ia membentuk model sendiri sehingga begitulah lauh mahfuz sebagai novel dibangun. ia terbangun oleh banyak suara yang mendukungnnya sebagai kisah-kisah yang dituliskan lewat medium sastra. bernama (bab) catatan panji, dari berburu wirog sebagai catatan pertama, sampai kisah-kisah (panji) manusia dewasa seperti "catatan panji 18 dan 19: poppy sang primadona dan pilihan poppy".

sungguh berharga rasanya, melihat pergerakan di dalam novel dari panji kecil yang penuh warna-warni hidupnya itu. anak kecil yang tumbuh seperti anak-anak kecil di mana tempat kecuali pengalaman batinnya, yang luar biasa dan semua itu bisa kita sebut, hal yang tak mungkin kita lompati lewat tema atau bermain tematik dengan membawa besaran kisah di tangan itu, sebagai kisah anak kecil dengan kehidupan yang di atas permukaan seperti anak lain. tapi pada dasarnya ia bukanlah anak lain yang kita kenali itu. melainkan anak yang telah dipersiapkan oleh pengarangnya naik ke langit, untuk mendaki ke langit - ia mirip nabi dan barangkali sang novelisnya punya bayangan batin: tidakkah semua kita mesti meniru sunnah rasul? bila ia, maka mengapa pula kita semua ini berdiam diri tapi tidak mencoba mik'raj seperti rasul kita yang luhur.

ia pun naik ke langit bersama guru-guru sucinya. tapi kita menahan diri untuk sampai ke sini, tabah dan melata melihat keindahan novel di masa kecil tokohnya, yang mengambil dua jalan adalah dua babak kehidupan manusia. babak yang biasa seperti upaya anak yang amatlah manusiawi: "ia celupkan tangannya ke dalam nasi", tapi serta ia arungi dunia ganjil roh itu tanpa dikatakan melainkan dilukiskan, secara sempurna sehingga kita dapat merasakan dunia ganjil manakala panji kecil bertemu menik dan menuk - kukira ada letusan dari bayang-bayang peristiwa sosial politik di negeri kita ini, saat anak perempuan kecil ini dihadirkan, dalam mimpi panji kecil itu, lewat cerita bahwa "kudengar rumah rumah penduduk terbakar, kudengar jeritan dan tak kusangka, menuk menik yang masih hidup segar bugar itu kini rupanya telah mati, ikut terbakar sebagai nyala dari rumah keluarga biasa yang dibakar oleh penduduk." pasti ada letusan dari peristiwa sosial politik di negeri kita, yang menjadi alas bagi kisah panji atau latar dari novel lauh mahfuz ini.

the grand inquisitor dan lauh mahfuz, 3
17 Juli 2014 pukul 4:24

seperti para pujangga itu, edgar allan poe, misalnya, di ranah cerita pendek atau sutardji calzoum bachri di dunia puisi (kita), nugroho suksmanto juga membawa makhluk bernama kucing itu ke dalam novelnya, dan ini galib sekali seperti faktanya yang biasa kita temukan pada dunia kita sehari-hari: bukan hanya anak kecil yang suka kucing tapi manusia dewasa juga.

"siapa yang pernah akrab dengan kucing", kata poe, "tahu betapa tercipta hubungan mesra di antara makhluk ini dan kita."

selalu kucing menjadi dunia isyarat, semacam medium kita dengan Dia (scb) atau kita dengan alam yang ganjil itu (poe). di novel lauh mahfuz ini juga, bahkan ia menjadi lengkap, sebuah parade tentang kehidupan seorang anak yang suka kucing dan suka dengan ikan, yang di bagian awal telah memperlihatkan diri betapa ia adalah anak-anak yang lazim.

"tak lama kemudian tanganku yang kumekarkan, akan dikerubuti ikan-ikan yang suatu saat akan masuk ke perutku." (lauh mahfuz, hal. 14).

itulah dunia kehidupan anak sehari-hari yang biasa, sebelum - novel ini selapis demi selapis membukakan kepada kita siapa panji itu - ia memasuki dunia anak-anak yang tak lagi biasa, adalah dunia gaib, yang diantar oleh kucing sebagai media awal. bagian novel "menyusup kabut" seolah kisah manusia "menyusup ke dalam dunia lelembut".

untuk ini alam itu sendiri yang mulai melagukan dirinya sebagai intro, sedang narator dalam novel hanya mencatatkan saja perangai dan laku alam yang kelak dari musik biasa menjadi musik gaib.

"gubahan alunan musik semakin lengkap", kata narator di lauh mahfuz itu (hal. 19), "ketika diselingi kicau burung prenyak dan kutilang yang sesekali datang, serta ceracah serombongan burung gereja yang berterbangan melintasi. tak hanya manusia, harimau pun terpana ketika kancil menunjukkan betapa merdu simfoni yang dihasilkan dari kerumunan pohon bambu itu."

nah pohon bambu, rupanya dari sini dunia lelembut tapi akhirnya langit gaib itu, datang kepada panji atau kepada kita pembaca novel ini.saya hayati bagian-bagian seperti itu, lewat pembacaan perlahan-lahan dan penulisan sabar selapis demi selapis pula, sebelum kelak bergerak ke dataran lebar novel ini, lewat tali panji sebagai manusia dewasa yang mulai bahagia serta meratap sebagai manusia dewasa yang begitu penuh kendali di setiap soalnya, hal yang dapat kita tarik sebelum kisah kisah anak dari suatu negeri itu pergi merantau untuk belajar ke luar negeri - ke amerika.

novel ini salah satu novel terbaik kita tentang pelajaran kesabaran narasi, dan tentang kelembutan narasinya juga. dunia anak-anak memang dunia suci murni dari sudut kemanusiaan, tapi dari basis ideologi novel, dunia kitab suci yang menjadi sandaran apa yang menjadi gerak novel, bahwa novel itu mengandung bukan semata dugaan spekulatif tapi ada sandarannya, akan imajinasi yang dibentangkannya, disingkapkannya kepada kita pembaca novel.

"panji percaya kehidupan lain yang tidak terjangkau akal sehat serta logika buah pikiran manusia ... haji bisri bin haji amin menerangkan arti ayat pembuka surat al-baqarah, dari tadarus kitab suci al-quran yang dilantunkan oleh parti, murid mengaji yang paling rajin dan pintar berasal dari kampung magersari." (lauh mahfuz hal 21). dari sinilah basis novel, bukan semata dugaan spekulatif walau imajinasi, sepanjang masih dalam dunia ini, takkan ke mana oleh realitas diri dalam dunia. kita mau ke mana dalam dunia ini? kecuali dugaan kepada Tuhan atau kepada setan.

sungguh kita tertarik kepada alam itu, yang di dalam novel bukan semata dijadikan bahan wacana tapi praktek dari kehidupan seorang anak. ada sentuhan dari kilasan wacana ("sebagaimana dinyatakan dalam alquran, setelah pulas tertidur, roh manusia sementara terlepas dari tubuh, dan akan masuk lagi saat terbangun kembali." lauh mahfuz hal. 21).

bagian-bagian yang membuat novel ini kokoh dalam daerah kontemplasi, menjadi jauh dari novel fisik biasa. andai kita mengenang novel budi darma olenka, yang mengidealkan novel adalah dunia permainan batin tokoh tokoh novel, maka dunia batin itu, yang bekerja membawa kita bukan kepada dunia psikologi dari relasi manusia ke manusia sehari-hari dalam hidupnya, tapi sebuah dunia yang menembus adalah langit.iwan simatupang juga, dalam novelnya ziarah, mencoba menembus dan naik ke langit lewat permainan tanda dari tokoh novel ziarah yang memandangi matahari, sebuah tanda, diri ingin naik ke langit dengan jalan menjenguk produknya adalah nasib - nasib tokoh kita itu sendiri. tapi jauh dari novel ini, novel iwan itu. ia hanya mengerjakannya dengan pikiran dan tak bergerak dalam kejiwaan lengkap kecuali lewat tanda - memandangi matahari, lalu limbung oleh cahaya matahari.

lauh mahfuz adalah gerakan yang memandangi matahari tapi tidak terbakar oleh cahayanya. sebaliknya sang tokoh, oleh novelis, hidup bersama matahari yang berupa kejadiannya di alam roh. matahari itu langit, lambang dari Tuhan dan salah satu produk tuhan itu adalah roh ini. roh yang dihidupi dan dimasuki oleh panji lewat cerita-cerita seorang anak yang masih suci murni.

kehalusan cerita ini yang menarik kita. nugroho bukan navis yang dihentakkan oleh pandangan lain dalam robohnya surau kami dan lalu mulai terlibat wacana dengan langit, sebelum berakhir fatal dengan memotong nadinya sendiri. bisa saja kita anggap atau tarik menjadi dunia perlambangan, gerak yang membawa maut itu, saat sang tokoh ajo sidi menyayat lengannya, bahwa itu tanda agar sifat keraguan di dalam hati terpotong sehingga yang hidup hanyalah iman lengkap saja.

memang cerita pendek, lain dengan novel. tapi kita juga memiliki novel dan itulah ateis, yang juga tak bergerak seintensif lauh mahfuz ini. (novel ini harus dibandingkan dengan novel atau sastra dunia yang besar besar itu, yang sama intensifnya naik ke langit melihat inferno misalnya).kini kita memasuki kisah bagaimana penyingkapan itu terjadi kepada tokoh novel. panji yang masih kecil dan alamnya yang bukan kota tapi desa, memang memungkinkan untuk gerakan menyambut "dunia lain" dari tubuh yang masih belia. saya ingin menurunkan "bagian" dari narasi halus dalam novel sebelum kelak kita pertemukan lewat kejadian pertemuan manusia nyata hidup saat ini dengan manusia yang telah hidup di alam lain - semua itu dimungkinkan tampaknya oleh roh yang sedang keluar dari raga kita (kisah menuk dan panji).

"Dalam keadaan terduduk, dia perlahan menggeser pantatnya, hingga surut agak menjauh. dan kabut yang mengitari, tiba-tiba tersibak, sehingga seluruh tubuhnya lebih jelas terlihat. dia sempat terheran ketika raganya perlahan tenggelam terbalut kabut, hingga kemudian sepenuhnya tak terlihat lagi. namun, walaupun suasananya mencekam, tetapi tidak menumbuhkan ketakutan. dan dalam sunyi, panji tidak merasa sepi. seakan-akan pohon-pohon bambu yang terpaku bergandengan, dengan ramah menyambut kedatangannya."

lonceng itu bernama kucing
18 Juli 2014 pukul 9:02

kucing itu seakan-akan gema lonceng bagi pertemuan panji dan menuk dan janganlah kita membayangkan pertemuan ini sebuah pertemuan yang bahagia dari kilas latar yang diperlihatkan kepada kita. kita ingat masa kecil tokoh novel mangunwijaya, teto dan atik yang dari sejak kecil sudah terlihat mereka akan menempuh kehidupan penuh gelora - mangun menempatkan kedua anak itu dalam gelombang revolusi.

teto dan atik yang menimbulkan rasa sedih di hati saat pertemuan mereka sebagai orang dewasa, rasa sedih yang seketika datang saat menuk bertanya kepada panji apakah dirinya pernah bertemu dengan menik dan panji menjawab ia tidak pernah lagi bertemu sejak rumah menuk dan menik itu dibakar masa.

kata dibakar masa, saya tidak tahu apakah terjadi juga sebagai ingatan kelam dalam sejarah puak puak suku indian. tapi bagi kita di sini, kata itu ampuh betul untuk mengingat tiap peristiwa pahit dan kelam oleh letusan letusan politik di masa lalu.

sedih yang merdu bagi ingatan kita kepada setiap hal ihwal. kejadiannya mencekam di lapangan, pada tiap peristiwa, tapi saat telah beralih menjadi bahasa ia memberikan keriangan membacanya.

rasanya tak mengapa kita menyeberang dari novel ke puisi atau ke cerpen atau apa lagi ke puisi. toh mereka adalah bahasa dan saat kita melihat ke dalam, ke bentuk, akhirnya apa yang ada di dalam bentuk itu adalah isi dan isi inilah yang kita nikmati, dalam satuannya sendiri sebelum kita hamburkan kembali ke bentuk induknya.

pengelihatan yang janggal ini andai ia menjadi lazim, adalah ruang di mana kita bisa melihat bagaimana kucing sebagai hewan dan kucing sebagai kata di tiga bahasa. yakni bahasa edgar allan poe dan bahasa sutardji, pastilah: bahasa nugroho suksmanto juga sebagai pokok yang sedang kita lihat.

seperti ikan dalam sejarah kesusastraan puisi orang bekerja dengan hewan-hewan bawaan, dibawa ke dalam ucapan mereka. apa yang diucapkan akan selalu tentang hidup. pada saat inilah mereka menjadi lambang tentang hidup. tapi tidak seperti ikan kucing itu menempuh arah-arahnya sendiri sebagai dunia perlambangan.

atau mungkin saja ada ikan yang bergerak seperti kucing di dalam cerita-cerita sastra, sebagai pengabar bagi suatu nasib buruk dan kucing itulah yang menjadi predikatnya. subjek bergerak menempuh nasib buruknya sendiri dan kucing itu yang menjadi alurnya. kita lalu mamasuki dunia gaib yang dibawakan oleh poe dalam cerpennya yang mengerikan itu, sambil mengamat-ngamati keadaan mengerikan yang dibelokkan oleh nugroho suksmanto, dari kucing-nya, untuk kelak melompat seperti tardji menyentakkan kucing itu menjadi “barah darah dalam badannya.”

Rasanya poe kehilangan segala fasilitas dalam ceritanya untuk mendaki ke langit tapi poe memang tidak ingin mendaki langit kecuali kalau langit itu adalah nasib yang kita terakan sedang turun ke bumi, lewat kata nasib yang dimaikankan ke tubuh kucing sebagai medium. Sisanya hanyalah permainan sastra sebagai gejala bahasa biasa. Tuhan sedikit disebutkan, tapi cerita poe bukanlah cerita tempat di mana Tuhan dipergulatkan. Lauh mahfuz ditegakkan bagian per bagian dan setiap bagian-bagian dalam novel itu mendukung tema utamanya adalah kisah manusia yang memanggil-manggil Tuhannya. Tardji dalam puisi amuk juga memanggil-manggil Tuhannya.

di atas perahu nuh - kamar halus dan kamar kasar

realitas bahasa yang membawa lapisan-lapisan dalam tingkatan-tingkatannya, kerap memancing kita kepada suatu pernyataan yang bila tak diletakkan ke dalam kehidupan sebagai irama lapisan, adalah suatu kebenaran yang tampak telah terpeluk saat kita melihat sebuah bahasa. bahasa dalam tingkatannya, berupa ujaran-ujaran kaum nabi atau yang menetap dalam karya seniman bahasa, juga karya seniman sebagai kritikus yang bersama pembaca lain - pernyataan ini senada dengan saat kita di sebuah majelis saat keluar dengan pernyataan pula:

bersama pendengar lain.

wujudnya dalam kenyataan adalah anggapan yang telah terlalu sering kita dengar yakni kehalusan dan kekasaran ucapan. bahwa berpesanlah yang harus jangan kasar - tentu maksudnya agar pembaca/pendengarmu simpatik kepada apa yang menjadi isi pesan.

tapi halus dan kasar ini juga meliputi pesan itu sendiri: ia oleh hendak meraih kehalusan maka mesti pula mengambil mediumnya yang halus bukan kasar. kasar itu tidak berbisik-bisik tapi mirip letusan, sedang halus seperti dikatakan, misalnya, oleh afrizal malna saat berbicara sajak dari buku nikah ilalang dorotea rosa herliany: mengapa para penyair kita pada umumnya berbahasa halus - mereka berbisik-bisik dalam puisinya.

halus jadi sesuatu yang dipuja sedang kasar adalah amanat kekurang keterampilan mengolah bentuk. tapi di balik ini kasar itu majal pada tujuannya sedang halus gemulai menyapa tujuannya. akhir dari kedua gaya ini adalah sampainya massage pesan kepada dia-yang-dengan-bahasa itu kita berkirim pesan.

efeknya kepada pembaca: kita seolah penumpang dari perahu raksasa nuh, ikut berlayar karena alam tengah meledakkan dirinya; bagian-bagian alam jadi kasar semua berupa gempa bumi atau dalam kasus nabi nuh: banjir maha hebat. alam kasar. tapi perahu yang telah dipaku dengan basmallah itu halus, mengapung mengambang membawa penumpangnya.

kita kini melihat bahasa itu adalah doa, sesuatu yang hendak disampaikan dinyatakan. ia ingin, hasrat dari, doa dalam bentuknya yang khusus dan bentuk khusus ini sekali lagi mengambil bentuknya yang khusus sehingga dunia tersusun dalam bentuk bentuk khusus, kamar-kamar tempat manusia kini menetap dan berdiam, di salah satu kamarnya. termasuk kamar halus dan kamar kasar.

bahasa itu doa

bahasa itu doa, sehingga saat penyair atau sastrawan sedang berdoa, juga esais atau ilmuwan, maka mereka ini sedang ingin menyampaikan hasrat hatinya kepada. arah doa inilah yang akan menentukan keluhuran dari tujuan mengapa orang berbahasa atau mengapa orang berdoa.

seorang kritikus membaca karya sastra maka ia tengah berdoa: menyampaikan maksud hati dari doa ilmunya atas suatu gejala ada yang ia temui. dalam bidang apa saja hal ini berlaku: seorang penjahat yang amat halus merancang rencana-rencananya ia juga sedang bedoa agar rancangan jahatnya itu berhasil.

pada saat inilah bahasa itu adalah gerak, hidup nyata dari kehidupan sehari-hari yang dijalani oleh setiap orang. lewat peran dan fungsi kini bahasa itu menjadi gerak doa dari setiap realitas ada. seperti adanya kaum semut yang berlarian sembunyi masuk ke dalam lubang karena takut dengan doa dan gerak dari kaki kaki kuda nabi sulaiman.

meletakkan bahasa dengan ragam ciptaannya ke dalam kerangka doa seperti ini membuat kita makin cepat melihat bagaimana doa-kata-bahasa ini, akan arah dan cara ia mencapai arah.

sastra keluar dari dalam bahasa untuk bertemu dengan sastra yang langsung hinggap di tubuh manusia. dalam perspektif kekerasan kekasaran, kita bisa melihat dan langsung membandingkan, saat ucapan-ucapan yang tentu saja membawa kebenaran, bahwa diri hendaklah berdoa dengan cara halus kepadaNya. sebab inilah sebuah tingkatan dari lapisan. sebelum kita disentakkan ada lapisan lain lagi oleh ia sedang berada dalam tingkatan lain lagi - tingkatan yang sudah sangat tinggi, tapi masih dapat kita rasakan lewat kelogikaan yang mengikat setiap lapisan dalam tingkatan.

mutu bahasa sastra : doa

kita olehnya tidak usah terkejut saat orang berdoa seperti puisi "doa" dalam buku puisi o amuk kapak itu.

O Bapak Kapak
beri aku leherleher panjang
biar kutetak
biar ngalir darah resah
ke sanggup laut mampus

seperti kita juga tidak terkejut saat Panji kecil di novel lauh mahfuz itu melepas sebuah bahasa doa dalam irama kehendak akan kematian. hasil usaha doa itu bisa kita baca di halaman 16 novel itu.

"buru-buru aku keluar mencari di mana si haram jadah itu terkapar. sebelum kubakar, rasanya ingin kuinjak-injak dulu hingga isi perutnya berhamburan, supaya arwah-arwah ikanku ikut terpuaskan."

doa-doa atau bahasa-bahasa ini memang tampak kasar, sebelum kasar itu kita beri bentuknya yang baru adalah, kemungkinan dekatnya seseorang dengan arah dari mata doa-bahasa mereka. sebenarnya kitabNya sendiri sudah memperingatkan kehalusan serta kekasaran ini, lewat permainan bahasa yang diayun dengan nada tinggi, tak meluncur biasa tapi menari.

"bila kau keraskan suaramu, sungguh Dia maha mengetahui apa yang tersembunyi di balik hatimu." lihatlah tak ada larangan, atau lihatlah larangan itu dikonfirmasikan dengan sesuatu yang halus (tahu di balik hati manusia).

ucapan rasulNya juga begitu, lemah-lembuhlah pada sesamanya, sebuah ucapan normal yang tak lagi dalam keadaan darurat. tapi saat momentumnya menghendaki ke daruratan, maka apa yang lemah lembut itu beroleh besi dari kekerasannya sebuah hati.

dalam arah yang lain ia bisa kita baca saat ranting yang diusap-usap tangan Rasul jadi pedang. yang halus ini kini segera menjelma jadi yang kasar (pedang itu kasar sedang ranting itu halus). (kata-kata yang kamu keraskan atau kamu kecilkan itu kasar tapi mata yang kuasa menembus ke balik dada itu demikian halusnya).

atau baik kita hadirkan kisah-kisah dalam ihya untuk mempercakapkan kehalusan serta kekasaran ini, hal yang sedang kita proyeksikan untuk menjadi ukuran bagi melihat dan menilai karya sastra.

dari dalam ihya kita bisa membaca apa yang kasar itu menjadi jawaban terhadap apa yang kita kenali secara biasa, yang halus. saat seseorang melepaskan ultimatum sedang ia ada dalam kawasan doa.

"tuhanku kembalikan sekarang juga dombanya. aku tidak akan melangkah selangkah pun sebelum Engkau mengembalikan dombanya."

ucapan yang begitu terbalik seperti sastra yang telah kita petik di atas itu tadi, terbalik dari gaya-gaya halus ucapan, berbisik-bisik.

mereka itu tidak berbisik-bisik, tapi meng-kampak-kan doanya. tak halus. tapi semua sumber itu membawa kita kepada suatu pandangan baru tentang halus dan kasar dari persoalan mutu bahasa doa sastra kita.

o amuk kapak, lauh mahfuz, dan ultimatum yang dilepas oleh seorang sufi

di dalam sastra dekatnya doa ke dalam tujuannya mengambil jalan berputar. jalan tema pada sebuah puisi, dari sebuah buku puisi, sebagaimana hal yang sama untuk novel, jalan tema itu kita hitung dari arah yang ingin diraih oleh sebuah karya. tapi tidak demikian dengan doa atau bahasa yang dilepas oleh tubuh seseorang dalam ucapan langsung atas tubuh yang lain.

seperti bahasa atau doa yang dilepas lewat jalan ultimatum, tempat di mana kita meletakkan salah satu puisi sutardji dan bagian dari cara tokoh panji dalam novel lauh mahfuz nugroho suksmanto. dari satuan-satuan semacam itu kita mengintip dan akhirnya keluar dengan pengelihatan luas lebar, muncul dengan kesimpulan di tangan bahwa itulah cara orang dalam bahasa men-dekat - nama lain dari doa, dari bahasa atau dari sastra (lebih khusus lagi dari puisi atau novel) ke Tuhannya. maka masuk akal walau buku puisi sutardji itu bernama o amuk kapak, agak bertolak belakang dengan nama lauh mahfuz yang telah membawa ke tubuhnya Tuhannya, pandangan novel.

orang akan mengeluarkan bagian-bagian ke keseluruhan dan apa yang menyeluruh pada buku o amuk kapak bertemu dengan novel lauh mahfuz walau, sekali lagi, o amuk kapak tampak seolah menjauh dari isinya, hanya menyisakan sikap kekasaran. sebuah puisi kita kumpulkan tapi hasilnya, walau ia kasar, adalah Tuhan juga sebagai muara dan setiap hilirnya. begitulah orang bersepakata tentang buku o amuk kapak, bahwa itulah upaya seorang penyair saat men-dekat ke Tuhan.

tetapi ada beda yang tajam dan amat kontras antara orang-bahasa dengan orang-bahasa-dalam-tindakan, seperti kaum sufi atau para nabi itu. yakni mereka, dengan kata apa saja yang menjadi pilihan, bahasa, doa, sastra, mereka itu langsung dijawab dan sebab terjawab ini karena mereka itu dekat. sedang orang bahasa dijawab dari dalam oleh "kedekatan" yang sama - dekatnya pada tema, pada tujuan yakni ketuhanan. tapi kata itu hanyalah bahasa, yang menghardik atau menghalus ke bahasa lain lagi - tokohnya.

tokohnya yang mungkin orang lain (seperti panji: wirog itu), atau puisi doa adalah dua "orang lain" satu berupa kapak satu leher imajinasi yang menjadi imaji leher. prinsipnya mereka adalah orang lain, seperti dua orang lain dalam peristiwa sufi itu, yang dekat sekali ke langit sehingga ia sampai bisa mengultimatum langit, agar inginnya dikabulkan. orang lain itu adalah "domba", yang hilang serta pemilik domba, orang kecil, rakyat jelata yang kehilangan domba.

domba itu kembali dalam peristiwa dari realitas kedekatan seseorang kepada Penciptanya. seperti dalam bahasa: ingin itu kabul yang kini mewujud sebagai struktur, tempat doa itu terjadi, pada puisi atau pada novel.

seandainya persamaan seperti ini terlalu abstrak maka cukup kita berkata bahwa bila pada nabi atau sufi, maka doa itu diloloskan, maka pada seniman apa yang diloloskan itu menjadi mutu dari sebuah karya sastra. andai ia "berhasil" menangani "kekasarannya", maka kedudukannya seperti dipenuhinya permintaan atau doa para nabi dan para wali.

sufi dalam bahasa vs sufi dalam tubuh orang salih

maka kini yang kita hitung atau hitungannya, bukan lagi soal halus atau kasarnya sebuah bahasa (puisi dan novel itu tadi), tapi bagaimana isi dari gaya "meletus" - lawan dari gaya "berbisik-bisik", itu menjadi indah serta bermakna. doa nabi dan sufi itu menjadi indah karena mereka bermakna: apa yang mereka minta dikabulkan.

sampai di sini kita tiba kepada suatu narasi atau deskripsi, tempat di mana apa yang halus atau kasar itu, tidak mesti mengambil jalan novel atau jalan puisi. ia bisa pula: jalan penguraian, saat seseorang atau bahasa menguraikan dirinya. uraiannya bisa halus dan bisa kasar, tapi, terutama, di balik kekasarannya, ada sesuatu yang masih indah dan penuh makna.

saat ghazali menuliskan peristiwa ke-14 sufi dari lebanon, itu adalah peristiwa bahasa yang bukan wujud dalam novel atau dalam puisi. tapi esai atau tulisan biasa - yang bersifat agamis dan sufiistik. kita mendapati kehalusan yang tak terhingga saat ghazali menulis seperti ini :

"Maka Dawud a.s. datang kepada mereka. lalu didapatinya mereka pada salah satu mata air, di mana mereka bertafakur pada kebesaran Allah 'Azza wa Jalla. tatkala mereka melihat kepada Dawud a.s. lalu mereka bangun bergerak, untuk bercerai-berai dari dawud."

haruslah kita bayangkan kehalusan itu datang dari pernyataan sebelumnya, bahwa tubuh ke-14 orang ini sudah hancur, kecuali jiwanya yang menyala, meratap dan melata rindu kepada Tuhannya. kita bayangkan pula kata "lalu mereka bangun bergerak, untuk bercerai-berai dari dawud", sebagai sebuah sikap iman yang tak ingin mengotori jiwanya dengan bertemu orang lain, menjaga jiwanya agar tubuh yang telah hancur dan jiwa fitri itu hanya memusat kepadaNya.

bayangan dari kata "bercerai-berai" itu wujud dalam imajinasi kita tentang dunia kanak-kanak, yang berlarian ke sana dan ke mari saat kita tahu bahwa guru atau seseorang yang kita takuti. orang yang hendak kita hindarkan. kontras tubuh, yang hancur; daerah sunyi sepi, di atas bukit; serta mata air yang romantik itu, lalu kehidupan hingar bingar, penuh nafsu dan ego diri, membuat pembayangan seperti itu menemui puncak kehalusannya.

tetapi barakh al aswad yang diminta oleh Tuhan agar ditemui oleh Musa bila inginkan dirinya serta 70 ribu bani israil yang meminta hujan karena telah tujuh tahun kering tak ada hujan, itu kasar. bahkan ia mengejek musa saat musa merespon barakh - lagi lagi kita ingat cerita nabi khidir itu - dengan menasihatinya karena barakh memamerkan keunggulan batinnya:

andai kau melihat bagaimana aku bertengkar dengan Tuhan, kata barakh.

dan muncullah kekenesan nabi musa - atau kebaikan serta kepolosan hatinya? - entahlah sebab segenap peristiwa itu adalah tanda, yang seperti di kawasan semiotik terlalu halus untuk ditafsirkan lewat panggilan tafsir yang tunggal.

saat musa manasihati barakh turunlah wahyu kepada musa, bahwa barakh menertawai musa tiga kali dalam sehari. barakh yang digambarkan kasar, itu bercampur dengan kehalusan gaya al ghazali dan sekali lagi mereka itu bukanlah novel atau puisi.

tapi kita pembaca, seperti di dalam berkah buku puisi o amuk kapak atau novel lauh mahfuz, mendapatkan jejak dari efek kekasaran atau kehalusan bahasa. adalah efek indah, dalam serta penuh makna dari setiap upaya yang bersungguh sungguh hendak mendaki ke langit.

orang bumi akan selalu mendaki ke langit. sebab bila tidak, ke mana lagi mereka atau kita-kita ini hendak pergi mendaki?

0 komentar:

Posting Komentar