1 Uncertainty Principle
Prinsip Ketidakpastian adalah sebuah nama yang memiliki kemiripan dengan relativitas, memiliki kesamaan pula dengan misalnya pernyataan bahwa bahasa puisi adalah paradoks. Mereka sama-sama memiliki ukuran, dan kalau baik Einstein atau Heisenberg memiliki “matematis” maka demikian juga dengan Cleanth Brooks yang dikutip Culler (Strcturalist Poetics, hal. 162), bahasa memiliki “paradoks” untuk mengucapkan keberadaan dirinya: “The language of poetry is the language of paradox.” Seolah-olah paradoks itu sebuah kesalahan, sebelum kita tahu ia adalah kebenaran lewat sudut pandang, darimana kita memiliki persepsi atasnya. Perspektif bahwa dunia itu pada dasarnya satu tapi sedang memecah-mecah dirinya, mulai lagi.
Baik fisika maupun bahasa, (sastra sebagai salah satu produknya), bukanlah paradoks dipandang dari satu jurusan, (perspektif) bahwa mata kita sedang bekerja dari dua arah yang berbeda. Mata Sartre tampak nyata sedang memandangi dalam pikirannya tubuh Camus dan apa yang nyata itulah bahasa, yang seperti fisika dikendalikan oleh hukum matematis yang sama. Kalimat Sartre ini tidak bisa melewati hukum subjek dan objek serta predikat. Bahwa seseorang subjek sedang memikirkan objek – subjek yang lain, dengan predikat yang disandangnya adalah rasa ingin tahu dengan rasa senyap di hati. Kami memikirkan sedang apa ia dan kami tahu ia sejak itu membisu, adalah gabungan subjek objek predikat dalam bentukan kalimat yang dipakai subjek, dipakai Jean-Paul Sartre dalam tulisannya mengenang Albert Camus yang telah pergi (meninggal mendadak karena kecelakaan mobil).
"What is he going to do?"
“He and I had quarreled.”
“Apa yang sedang dilakukannya saat ini?”
“Kami memang sedang bertengkar.”
Dan lihatlah subjek itu bekerja dengan objek lewat predikat yang mengikat mereka. Itulah hukum kepastian tapi menjadi ketidakpastian saat ia keluar dari tata bahasa, bergerak ke maknanya. Seperti jalan fisika juga, yang diikat oleh hukum kepastian saat mereka mendayakan matematis ke dalam, misalnya persamaan Einstein yang terkenal itu. Persamaan yang sama dengan 2 + 2 = 4, penambahan yang sama pastinya dengan hukum bahasa, subjek pergi ke objek dengan bayang-bayang predikat di antara mereka.
Dari dunia maya kita baru saja menemukan cara seseorang mengatakan prinsip ketidakpastian Heisenberg, seperti dari dunia maya juga kita menemukan tulisan Warner Heisenberg, Physics and Philosophy.
2 Aliim
Adalah Budi Yanto yang kita temukan di “Sridianti.com” – edukasi teknologi dan informasi, yang membuat prinsip ketidakpastian itu jadi terbayangkan lewat penggambarannya, walau tanpa penggambaran ini, atau lewat jalan lain, seperti jalan yang terus kita coba jelajahi ini, prinsip ketidakpastian itu bekerja di dalam satuan-satuan apa saja. Jadi, tidak harus lewat jalan fisika, atau jalan fisika ini yang kita lihat memiliki persamaan saat benda itu dibuat mengecil, atau saat kelak, tiap kata kita buat mundur sehingga yang tersisa hanyalah titik, dan titik ini juga sekali lagi kita buat mundur, membuat sebuah dunia sempurna sebagai dunia yang menghilang pada bahasa, sub atomic pada dunia fisika. Mereka berdua kini berada dalam keadaan yang kecil sekali, kekecilan yang akhirnya membawakan ketidakpastian, dunia relative kalau dalam istilah Einstein, paradoks pada cleant brooks. Atau kalau kita kini keluar dari bahasa sastra dan bahasa fisika, memasuki bahasa scriptural, maka lima buah kata ditempatkan alam keadaan paradoks dengan setiap kata ditarik oleh kontradiksinya sendiri. Yakni kata awal dan kata akhir, kata zhahir dan kata batin. Serta sebuah kata yang melintasi mereka (kita yang diberi pengetahuan sedikit), untuk kelak diisapnya lagi, lewat Ialah yang Maha tahu – alim, bahwa dunia “besar” dan dunia “kecil” yang kita ketahui itu hanyalah sedikit saja.
Atau dalam bahasa ilmu pengetahuan (Einsteins: relative; Heisenberg: prinsip ketidakpastian; Brooks: bahasa puisi adalah paradoks). Bahasa kitab suci: tidak ada yang pasti kecuali kepastian diriku karena kami, selembar daun jatuh, sebesar bahkan lebih kecil dari zarrah (atom pun) kami tahu - alim.
Budi Yanto,
Prinsip Ketidakpastian Heisenberg
Fitur lain yang unik untuk mekanika kuantum adalah prinsip ketidakpastian. Prinsip Ketidakpastian Heisenberg menyatakan bahwa tidak mungkin untuk menentukan secara simultan baik posisi dan kecepatan partikel. Misalnya, Pendeteksian terhadap elektron, akan dilakukan dengan cara interaksi dengan foton cahaya. Karena foton dan elektron memiliki energi yang hampir sama, setiap upaya untuk menemukan sebuah elektron dengan foton tentunya akan menabrak elektron, sehingga akan muncul ketidakpastian tentang di mana elektron berada (lihat Gambar di bawah). Kita tidak perlu khawatir tentang prinsip ketidakpastian untuk benda sehari-hari karena mereka memiliki massa yang besar. Jika Anda sedang mencari sesuatu dengan senter, foton yang berasal dari senter tidak akan menyebabkan hal yang Anda cari akan bergerak. Hal ini tidak terjadi dengan partikel yang berukuran atomik, para ilmuwan terkemuka telah pemahaman baru tentang bagaimana untuk membayangkan lokasi elektron dalam atom.
3 Jauh & Dekat
Itulah dia jauh dan dekat. Hal hal yang tampak berbeda rupanya diikat oleh prinsip yang sama. Ia mulai kelihatan, tampak, saat hal-hal tehnis (ilmu) mulai dilepaskan. Mata kita menjadi senter dan kalimat Sartre itu tidak berubah. Juga kalimat Nietzsche ini tetap di tempatnya, jelas terbaca: "The will to Truth...What strange, perplexing, questionable questions!" Pendek kata orang ingin tahu, walau ia "jauh" (opositnya "dekat"), walau ia "Kecil" (opositnya "besar").Tetapi apakah yang dibawakan oleh kalimat "dekat" ini (penandanya terbaca dengan jelas: the will to Truth, ia bukan t tapi kapital, artinya suatu orientasi akan Kebenaran bukan kebenaran - nah ia oleh itu mungkin Tuhan, atau ke bawahnya, Keabadian yang tapi rupanya fana ini). Segera penanda Truth ini menghilang, menjadi kecil seolah elektron yang dipandangi oleh Heisenberg di bawah mikroskop itu.

0 komentar:
Posting Komentar