"The God Of Small Things"
ilmu tanda itu semiotika, kata yang berasal dari suatu daerah seperti kata lain tentang pengetahuan akan tanda ini, muncul pula lewat Yunani yang mengucapkan serta menuliskan, bahwa semeion itu artinya tanda. kata memang kuasa mekar.
Seperti entah mana duluan dari kata ini mekar dan muncul andai kita melirik ke bahasa Arab, setidaknya bahasa Arab yang termuat di kitabNya itu, saat Kitab memuat tentang "tanda" di surat Rum, mengapung-ngapung kata dan dalam bahasa kita ia itu "tanda" - tapi di sana berbunyi : ayat. Di bahasa kita ia (Bacaan Mulia H.B. Jassin) :
di antara tanda tanda
kebesaranNya ialah,
bahwa Ia menciptakan kamu
dari tanah
Tapi ada juga kitab kita (terbitan untuk lingkungan TNI Angkatan Darat) dan ayat itu yang diturunkan langsung untuk tanda. Katanya:
"dan sebagian dari ayat-ayatnya bahwa Dia menjadikan kamu dari tanah."
Jadi "ayat" itu "tanda" atau "tanda" dan "ayat" ini adalah "semeion" dalam bahasa Yunani. Apakah kedua bahasa ini asli? Kita sampai lupa bahwa ayat, atau tanda, terutama ayat, itu bukan bahasa kita tapi bahasa sana. Manakah bahasa asli kita untuk soal ini? Kita mana? Gugus-gugus daerah yang telah diperah jadi Bahasa Nasional kita di seputar "ayat-semeion-tanda" ini.
Apa?
Kita tak tahu, oleh kitab nasional dari remetan daerah kita tak/belum punya. Tapi itulah dia, tanda, ayat, semeion. Puisi atau sastra yang menarik hati kita ini. Ke gurun, kata lagu cinta itu. Kata Helena: kucoba menemukan bayanganku ini di gurun. Atau kata Roy Arundhati tadi : The God of Small Things, Yang Maha Kecil - masa lalu tiba-tiba mengecil di mata kita, kemudian menghilang.
"ber" "ada"
Dalam kaitan tanda itu pula banyak hal yang tampak telah taken for granted di bahasa kita itu, seperti taken for granted kedudukan "berada" yang diletakkan oleh penyair ke dalam "bahasa". apakah lagi yang bisa kita lihat dari "berada". toh ia sudah seolah tangan kita, yang sunyi sepi tergantung di bahunya, sunyi sepi pun adalah saat, seolah kita itu dibukakan tentang kehadiran anggota tubuh, yang dalam keseharian, seolah tak kita sadari. Kita baru menyadarinya manakala suatu celah dari hidup, tiba tiba membuat kita mesti memikirkan hal yang sudah taken fo granted itu. kini saya menghadapi hal itu, lewat kata pertama sajak gurun, "berada", yang tiba-tiba saya lihat saat keduanya dipisahkan. bukankah berada itu kini tinggallah hanya ada, karena ber telah kita ceraikan - walau untuk sementara waktu.
Apakah masing-masing kita masih ingat tepukan-tepukan yang mengapung dari masa lalu? Galib di masa lalu puak masyarakat tempat kita hidup itu berkata, akan kedudukan seseorang atau keluarga, bahwa "dia", atau "mereka", adalah orang "berada". jadi orang kaya, lain dengan mungkin kita ini, orang tak berada, orang tak berpunya, orang miskin.
Apakah tidak mungkin, bahwa suatu kata sesaat ia datang maka masih dari tepukan-tepukan masa lalu juga, tentang suatu kehadiran di mana diucapkan: kesan pertama itu yang menentukan. Apa bila jalan tradisi ingatan ini kita kenakan pada baris pertama sajak gurun, maka belum sisa kata di sana yang mengapung (di bawah sinar mentari pagi) tapi "berada" itu dulu, yang membuat kita ingat lagi, mungkin kisah sedih dari keluarga sitti nurbaya yang tiba-tiba kandas, dan lalu diambil oleh orang yang "berada" - adalah datuk maringgih. atau kisah pilu hamka, akan hayati yang dipinang oleh, lagi-lagi, orang berada bukan zainuddin orang miskin yang malang - karena keluarganya tidak berada, bahkan entah di mana keluarga seniman zainuddin itu. lain ia dengan keluarga aziz yang berada.
Ingatan semacam itu yang membawa kita bahwa sajak gurun yang tampak biasa ini, kata orang sebelum kita mulai membukakannya dengan cara mengambil semua tutup kenangan, membuat baris "berada di bawah sinar mentari pagi" kini tiba-tiba jadi lain. Lain oleh kita telah dicegat kata berada, yang rupanya tampak adalah ejekan bagi si aku yang sedang di bawah mentari. diam diam mentari yang melimpahkan kehidupan itu, telah ia negasikan secara intuitif, lewat bentukan berada orang kaya, orang berpunya, tapi ia tak melihat bayangannya di tengah keberadaan itu. "tak aku jumpai apa pun selain bayang sendiri", katanya, dan itulah upah dari dia yang "berada" di bawah mentari pagi. bahwa berada ini tiba-tiba dibatalkan, suatu janji orang kaya yang akan mengalami kemelimpahan matahari, tapi lihat semua itu tak ada kecuali bayang-bayangnya sendiri saja di sana. seolah-olah wajar sekali kedudukan kata "berada" itu, sebelum ia kita kembalikan ke tradisi atau kode dari semangat yang datang dari masa lalu.
Berada itu berdiam di empat seuntai, jadi ia konsisten menegasikan dirinya lewat kata ejekan - mengejek nasib, kata berada itu rupanya. ia sebuah suara yang membalik. ia membalikkan kosakata masyarakat lama kita, bahwa berada kini boleh kita lihat dari perspektif lain, adalah diri yang tak berpunya dalam pengertian isinya boleh kita tarik ke dalam imajinasi kita sendiri. tak berpunya apa, kehilangan apa? lihatlah ia berulang ulang, mengisi empat seuntainya dengan kata berada yang menandakan kehilangan. tak ada apa apa di sana, tak juga ada orang lain selain bayanganku sendiri, kata aku helena yang kini telah jadi aku dalam puisi. who is she? kita tidak tahu siapa dia itu. baiklah kalau kita tidak tahu boleh kita bentukkan secara baru: who is he? hasilnya sama juga: ia manusia tapi kita tidak tahu derita apa yang sedang disandangnya.
Kita bisa menguji "berada" ini dari sudut lain, misalnya kita membawakan suatu jalan berpikir mengada, maka berada itu jadi pasif, ia bukan orang kaya lagi tapi suatu keterangan: ia berada di sana, jadi masih netral, apakah ia itu pasif atau aktif, tapi mengada sudah jelas: aku bisa menampik andai aku tidak setuju denganmu, sebab aku mengada dengan opiniku sendiri. berada belum di kawasan seperti ini, ia baru ditempatkan, di tempatkan helena di bawah mentari pagi.
Berada itu baru bergerak, menjadi aktif, mengada, setelah bagian kedua dari empat seuntainya menujukkan ke-berada-annya adalah, "tak aku jumpai apapun selain bayang sendiri". lagi-lagi ia menunjukkan keberadaannya dengan jalan mengada yang negatif: orang lain ia tampik, yang ada hanya ia di sana. ia dan bayangannya. dan cara mengada itu adalah cara aku di bahasa itu memberi tahu, tentang dirinya lewat isyarat adalah tanda. maka kita kembali ke tanda lagi: hendak apa ia meruntuhkan struktur verbal masyarakat tempat ia mestinya bersama orang lain, tapi memilih jalan mengada, sebagai aku lirik yang sendirian, menjadi aku puitik di puisi gurun. apakah gurun ini yang menjadi kode diam diam, mengapung tanpa suara, bahwa nihil yang ada di dalam hidupku-kita ini, tanpa kehadiran orang lain di sini. matahari itu juga malah menipu: ia mengirimkan sinar sekaligus ia mempermainkan kita dengan bayangan, yang kelak hilang itu. diri mula mula ada, lalu kesudahannya, tinggallah bayang bayang belaka.
Manusia berbagi dengan bayangannya. tapi mengapa? mengapa kamu berbagi dengan ammu-mu roy arundhati? seperti helena kini: tubuhnya membelah dengan bayangan dan bayangan itulah yang ingin dicarinya. satu baris berdiri sendirian, terlempar dari empat seuntai dalam sajak gurun itu. baris yang berbunyi dan tampak menjadi klimaks bagi permainan tubuh dan bayangannya ini. "malam menjadi sebuah rehat panjang untuk menemu bayangan."
waktu dadadada
Tiap bertemu dengan kata aku selalu terpesona, dan mulai menimbangnya lewat gerak dari setiap mungkin, agar apapun penilainku pada kata itu jelas, dan jelas itulah kemungkinan. bila kita mengaguminya, kekaguman kita itu beralasan, atau bila kita tidak suka kepadanya, itu juga ada alasannya. sungguh aku terus mencari-cari, landasan dari penilaian kita kepada bahasa sastra ini.
Sungguhkah ada landasan itu? landasan yang bisa dijadikan titik tolak tapi dipeluk oleh orang ramai. tapi orang ramai sendiri, telah seolah akan mematahkan landasan itu. bukankah masing-masing sendiri berbeda tentang landasan, akan poros penilaian. kalau kita berkata langit maka langit tidak sama untuk setiap orang. juga kalau mata kita ke bumi, bumi juga tidak sama untuk semua orang. apakah ada jalan setidaknya, semua orang memiliki titik singgung walau pandangan mereka ibarat pepatah: lain lubuk lain ikannya. jumlah kepala lain pula pikirannya.
Ini soal sajak dada. dami jelas memuji sajak ini. aku bagimana? apakah kita juga memuji sajak dada ini?
Sajak ini tentang apa? ia jelas suara orang masa kini - jadi modern, bahkan melampaui modern. tapi mengapa sajak ini? kulihat waktu yang ia hilangkan itu, hanyalah subjektif dia, bukan permainan yang dirancang sehingga waktu, memang hilang walau kenyataannya, waktu bersama ruang tak bisa hilang.
Waktu yang hilang itu adalah waktu bagi dirinya sendiri, yang didera waktu dan kukira waktu benar benar menghilang di cerpen kafka: tokoh yang telah jadi serangga itu, benar benar kehilangan waktu. ia jadi benda dan benda ini tak lagi bisa bergerak kecuali di kamarnya. ia serangga dan andai ia keluar dari kamarnya, ruang waktu di luar tak akan menerima dia. sebab dia bukan konvensi orang ramai. tokoh kafka itu juga tentang manusia yang didera oleh waktu, dan ia melakukan manuver yang paling berbahaya: bermetamorforsis dari manusia jadi serangga. begitu meyakinkan.
Bagaimana dengan dada ini? apakah ia sama meyakinkannya, saat berkata waktu telah hilang darinya? waktu yang ia hilangkan ia ucapkan, bukan ia gerakkan menjadi dunia perlambangan seperti cerita kafka itu, yang mengubah manusia jadi serangga, membuat ia sekaligus mengangkat waktu dan ruang di luar, pindah ke dalam kamar itu saja. dada ini tidak begitu: ia menyatakan. ia mengisi sendiri adalah bukan dengan mengubah dirinya jadi tanda, tapi lewat pernyataan, bahwa waktu telah hilang darinya, atau ia inginkan waktu itu tak ada.
Waktu sama sekali tak ada, dada.
on looking at a picture
"dada" (di) "gurun"
Bergerak dari rumah besar berpintu banyak Oein Sien Tjwan, kita telah sampai ke Yang Maha Kecil, suatu godaan andai kita membandingkan sebuah representasi bunyi adalah bahasa, saat dunia rumit-tata tapi indah, dunia "the" dan "of" sebagai kaidah itu meluncur sederhana ke bentuk "Yang Maha Kecil" - tadinya ia terpasang di "The God Of Small Things".
Suatu aneh apabila "the-of" ini mesti kita ikuti "di sini".
Sementara itu kita telah melihat "dada" dalam bandingan dengan "punggung aku-prosa Franz Kafka, yang kini menerima seluruh beban tubuh Gregor Samsa; kita melihatnya dari suatu kemungkinan makna tercipta lewat, bukan (semata kata dinyatakan,) tapi kata yang diimajinasikan, dibentukkan ke dalam peristiwa sehingga apa yang abstrak kini mengkonkrit, dan "penghilangan" pun menjadi menyakinkan - seperti dihilangkan "orang lain" di sajak "gurun" Helena Adriany ini?
Kita ingin melihatnya bersama logika gambar-warna yang menjadi bagian dari bab buku prof Richards (Principles of Literary Criticism), secara "terbatas", tempat sang Prof. membawakan dunia ke dalam representasi yang mau tidak mau akan membawakan pula semacam turunan-kata seperti ("pictures") to ("colours"), suatu perhubungan langsung misal lukisan ke puisi.
Kata-kata Prof Richards ini ("representation in painting corresponds to thought in poetry" (bukunya, bab on looking at a picture), adalah suatu "pengecilan" atau sebuah perspektif dalam seni sebagai bentuk simbolik - jadi ciptaan kedua, dan olehnya "representasi dalam lukisan" (representation in painting), itu kita kembalikan ke muasal adalah representasi di mana dunia sebagai cikal bakal bahasa. jadi gambar dunia kini sepenuhnya mukim ke gambar kata, tempat kata kembali bernyawa oleh ia telah dikembalikan ke induknya lagi.
Kata itu, yang kini bernada, mengeluarkan bunyi seperti lukisan mengeluarkan warna - ia mungkin adalah bunyi yang sedih.
3. "Arah", "Dada"
24 Desember 2014 pukul 16:10
beri aku warna
14 Oktober 2014 pukul 3:31
adalah sebuah keniscayaan apa bila kita buta, kita inginkan sekali warna, walau diucapkan nyaris dengan dingin. maka warna adalah kelanjutan logis dari buta. tapi logiskah bumi yang terbaring, bumi yang secara hakikat itu mesti hendak diolah, dihadapi dengan tangan yang tidur? tangan yang tidur tak bisa mengolah bumi, walau telah dibuat pasif dengan cara membaringkannya. kita menikmati dua bentuk pasif di sini : aku ini buta, pasif tak bisa melihat. maka ia meminta - berilah, aku warna. terbaring juga adalah pasif: tengah istirahat. tangan itu ikut juga pasif, bahkan tak sadar karena ia sedang tidur. sastra hendak membawakan kita bahasa dari nyala api yang baru. dalam pandangan ini, puisi puisi itu sungguh sebuah bahan yang menggoda.
aknya di dada, depan. kita pun terlibat soal arah, bertanya ihwal yang sama tentang hati. menghadap ke depan atau ke belakangkah hati kita? atau kedua benda dalam kita tanpa arahnya, galibnya tubuh luar, dengan depan adalah arah oleh di sana, liang mata kita, memandangi dunia dengan dada yang mencari arahnya. Manusia seolah dibuat dengan dasar "depan" dan depan itulah "arah", bahwa punggung bukanlah "dada". mungkin kita "buta" dalam pengertian terdalam akan dasar, dalam hubungan dengan "arah". Jadi sebetulnya, "dada" bukanlah dasar, sekalipun ia terpasang di depan bukan belakang. jadi, mana arah? kita seakan buta, butuh warna dari cahaya yang lain.
seorang penyair,
bila aku buta
beri aku warna
di atasnya berdegup-degup "dada" itu.
sehari. waktu sama sekali tak ada, dada. bumi terbaring dalam tangan yang tidur, "dada".
Hipotesa8 November 2014 pukul 11:22
Permainan Paz - Sutardji
"di sini"
Sesaat bangun tidur diri seolah mendengar kembali, gema dari kata "bergaung" itu, melihat lagi penyair bermain dengan bentuknya dan bentuk yang ia permainkan itu adalah cara kata yang ia tempatkan. Di sajak kita ada juga permainan ini, saat puisi kedua dari buku O Amuk Kapak, seperti Paz, atau seperti penyair yang memainkan tipologi pada puisi, memberikan "arah" lain bagi tiap kata yang bergerak ke belakang, atau dijemput oleh depan.
Bersama "mana jalanmu" kita dibuat bergoyang-goyang oleh letak kata yang dimainkan oleh penyair (Sutardji yang memainkannya, saat ia meletakkan kata tidak seperti biasanya). Seakan-akan kita melihat "ikan membawa air dalam mulutnya", pada sebuah taman. Hal yang mungkin oleh mula-mula manusia bukan dididik oleh cara bahasa puisi, tapi prosa dalam kenyataan hidup. Seperti kita dididik bukan oleh kata "kerja" atau kata "sifat" masih dalam hidup juga, tapi oleh kata "benda" yang dipuja dalam dunia puisi.
ikan membawa airdalam muluttamanbangku ngantukangin bernapas sendirian
Seperti pada "bergaung" Paz itu tadi, kita juga melihat bahwa "dalam mulut" itu seolah ketarik ke belakang sehingga di depan kita kini berdiri "kata-benda" : "ikan membawa air dalam mulutnya". Tapi ia juga sekaligus kata kerja, juga kata sifat oleh adanya air dan ikan yang melakukan kondisi alam: sifat alam memang seperti itu. Maka penyair telah menumpuk ke dalam bahasa puisinya kehidupan, yang dicirikan oleh letak dan jenis serta bentuk kata.
Kata benda ini yang kuasa membuat imajinasi kita bergerak, alam hidup di depan mata kini, seperti sugesti dari "mana jalanmu", bahwa kini kita melihat dunia yang mungkin ada tapi ganjil secara bahasa - apakah kita sering menuliskan: lihatlah ikan membawa air dalam mulutnya?
Suatu realitas baru dalam dunia ikan (ikan itu tanda, suatu hidup yang bergerak, licin, agak mistik juga, ikan itu), mungkin (mungkin fakta dalam arti memang begitulah ikan: ia membawa air dalam mulutnya), mungkin puisi karena begitulah yang dibayangkan oleh penyairnya, kini disebutkan dalam bahasa puisi dan kita menghadapi realitas yang baru dinampakkan, karena selama ini, dunia ikan tidak pernah kita pikirkan, bahwa ikan akan membawa "air dalam mulutnya" itu.
Tetapi bisa juga, "dalam mulut" itu melimpah ke depan, "taman" itu menjemput dirinya sendiri: ini mulutku bukan mulut ikan. Sehingga di depan pintu taman, di awal masuk ke taman (atau kata Sutardji: dalam mulut, taman), kita melihat dunia yang lagi-lagi dipersonifikasikan, atau kita yang dibendakan oleh sifat yang memang memiliki ciri "ngantuk/malas" dalam diri ini. Tapi di sanalah kita melihat, di dalam mulut taman itu, bangku ngantuk sendirian.
---- Helena Adriany Menetes air mataku membaca ini. Tentang manusia dan hakekatnya. Kegagalan mengerti tuhan, kegagalan mengerti manusia, kegagalan mengenali arah, kegagalan menemukan pintu yang terbuka, membawa manusia mengenali kesendiriannya. Manusia yang indah menuliskannya dalam puisi2 yang tak pernah sama namun ternyata menunjukkan persamaan perjalanan manusia, yang membuat mereka menjalani serangkaian tunggu, jalan bagi setiap kesendirian yang absolut, dan huhi membawa semua puisi ini untuk saling melihat kesendirian setiap pribadi yang membuat semua mata melihat ketidak sendirian yang absolut juga. Ketidak sendirian dalam kesendirian. Tuhan itu kerumitan yang luas. Kadang aku tersesat di jalannya, anehnya, disitu aku mengenali keindahan manusia, juga keindahan tuhan. Penuturan nabi sastra bumi, huhi, kebenaran yang indah dan menggeterkan. -----
"Kaki Yang Ragu Bertukar Posisi"
Kita kini berpikir tentang pilihan kata serta cara kata itu dihadirkan - dan inilah bentuk(nya), cara penyair memilih kata demi mendukung motif dasar puisinya - dan inilah isi(nya), tapi isi itu mengalur ke bentuk sehingga dengan bentuk, kita sesungguhnya telah berbicara isi seperti dengan isi, kita sekaligus berbicara tentang bentuk.
Akhirnya bentuk dan isi kehilangan arti dalam pengertian yang terdefinisikan dengan jelas. mereka mengabur. saat kita menikmati isi puisi, itulah saat kita menikmati bentuk puisi. seperti yang kini sedang kita nikmati kini. kita boleh misalnya, mendugakan permainan paz itu adalah suatu demonstrasi dari bentuk luar yakni hidup yang ia tangkap, bahwa betapa hidup itu banyak mengajarkan ragu, kabur, samar dan halus dari setiap kejadian demi kejadian yang menjadi isi hidup.
Seperti kita boleh membaca kaki dan jalan itu, adalah suatu dunia perlambangan di mana begitulah kita : kadang tidak jelas sedang melangkah ke mana, karena hidup bukanlah dugaan yang sudah pasti. tiap apa yang hendak kita pastikan, keluar lagi dari lingkaran kepastian dan kaki serta telinga itu mengatakannya secara puisi, bahwa ia mendengar dua suara, dari langkah kaki.
Tapi mungkin bahwa apa yang kita bayangkan itu sebenarnya tidak terjadi: artinya dalam ruang dan waktu, yang berbeda, suara dan langkah kaki paz itu terjadi. tapi bentuk serta (cara) isi puisi itu digerakkan, telah membuat kita ikut mengalami seolah-olah dunia penuh keraguan. keadaan kaki paz itu jadi mirip dengan keadaan mulut taman sutardji.
Ketakterjadian seperti dalam dunia puisi Helena, sebuah batas di mana kata, memang memiliki otoritas misterius mengapa ia itu, pandai mengambil hati manusia dan menyuarakannya dengan caranya sendiri. Cara yang membalik - ia bukan buta, ia bukan tuli, tapi ia ingin agar bila ia tak mengerti, tak tahu apa kehendak dirimu dalam bayangan diri si aku, maka ia-kamu hendaklah mengucapkannya secara langsung, jangan seperti diriku yang mengambil jalan memutar oleh aku memang tidak tahu apa yang kau hendakkan. Itulah dia : "ijinkan aku mengerti apa yang tak kutahu", sebuah baris akhir dari "arah" Helena, yang memiliki akibat bahwa ketidaktahuan, itu menyakitkan tapi ia sebagai manusia akan bertahan. Seperti dalam hidup kita melihat serangkaian, dunia policy yang terus menerus memukuli manusia sebagari warga dari suatu negeri, tapi toh kita mampu bertahan, bergulat dengan segenap kepayahan, manusia akhirnya tegak di kedua kaki yang mengusung tubuhnya juga. Atau dalam baris lanjutan dari "arah" ini, sebuah ketidaktahuan, ketidakpahaman mengapa "harus", itu, "menyakitkan, namun takkan sampai membunuhku".
Dunia "persamaan", metafor, dalam "arah" itu bisa kita kerangkakan begini, bahwa ada macet komunikasi sehingga si aku tidak tahu lagi bagaimana bertukar pesan dalam kerangka komunikasi verbal, sebuah ketidakpahaman, bahwa ada medium tapi pengirim pesan, selalu gagal pesannya, sampai ke si penerima pesan. Gagalnya komunikasi, yang akhirnya membuat aku-fakta dalam bahasa ini, bergerak putus asa dalam upaya menyelamatkan apa yang masih tersisa. Apa yang masih tersisa itu adalah dunia tanda, metafor, suatu persamaan di mana tahu/ketidaktahuan itu seakan "buta", bahwa mata manusia tidak melihat, telinga manusia tidak mendengar. Ia berharap agar dengan cara "halus" seperti ini, kegagalan komunikasi dari dunia verbal itu terobati. Lawan bicaranya, keluar dari rantai komunikasi dan kini, harapannya, bersamanya dan mereka hidup di dalam dunia tanda.
Baris yang terpasang,
"Agar aku melihat apa yang kau pandang"
kini bergerak membalik,
"Agar kau melihat apa yang aku pandang".
Jadi dunia tanda itu, mengajarkan - atau tepatnya, mengajak manusia membuka dirinya, mendemokratiskan dirinya. Tapi ia itu seraya kabar juga: bahwa dalam hidup ini ada jalan dan andai salah satu jalan itu macet, terkunci, maka baik ia kini kita buka dengan jalan metafor. Untuk itu metaforasitas dari dunia indera (mata, telinga), itu kini menjadi dunia yang kita aktifkan, agar jalan bertukar itu menjadi sebuah mungkin. Kita manusia tak boleh terhukum, dengan sesuatu yang macet. Kita harus mengambil jalan, sekali pun jalan itu, harus berputar melalui dunia penanda, ke petanda.
Ke Akhir Tahu
Metafor yang telah Ia ungkai sendiri, andai kita melihat cara Ia mengidentiaskan siapa dirinya itu, dalam suatu kehadiran paradoks berselang-seling fisik dan batin, yang melingkupi karena Ia awal dan ia juga akhir. Suatu keluasan yang tak lagi terbayangkan karena daya ikatnya begitu melingkupi. Tapi dengan "tahu" di ujung maka kini kita mulai memikirkan bahwa akhir dari dunia paradoks(al) itu berakhir di otoritasNya bahwa Ialah yang "tahu" - artinya kita hanya diberinya sejumput tahu yang memiliki sifat dwi arti sebagai dunia tanda (pertanda & petanda). Dunia yang memiliki sifat lahir dan sifat fisik. Suatu tenaga kontradiksi menariknya, membuat saling tarik menarik dunia yang dari ujung ke ujung itu didikotomikan.
Sebuah gerak yang berakhir, lagi-lagi ke metafor, atau gerak inilah puncak dari dunia tanda. Adalah "tahu" itu. Tahu, dari ketiadaan tahu kita, tahu, dari kepenuhan tahuNya, tahu, dari kedudukan kata ini sebagai bagian dari kelompok kata yang abstrak: ia bukan, kata benda, ia bukan, kata sifat (karena mana pertandanya (baca: mana tubuhnya?). oleh itu ia dengan cara kehadiran begitu, sungguh sebuah kabar bahwa yang fisik punah dan yang tersisa dari kepunahan adalah dunia yang abstrak, yang kita tidak kenali.
Dengan lain perkataaan, sebuah dunia yang tak lagi kuasa terungkapkan. Tapi bukan benda, bukan sifat, dunia mengapung dari ke-tahu-an yang tidak kita ketahui. ia jauh, walau jejaknya, semacam simulasinya, kini begitu dekat adalah jiwa kita sendiri/dunia petanda tempat pertanda bergelantungan padanya - atau dibaca terbalik: justru dunia makna itu yang bergelantungan dengan dunia fisik kehadiran. Inilah sebuah jalan, jalan metafor yang begitu ampuh menangani dunia yang begitu misterius dan gaib ini.
Seperti gaibnya rasa sakit itu, datang dan diam di (sebuah puisi helena adalah) "arah". Ada yang melata di situ, sifat humans dari kita manusia yang tidak tahu tapi ingin sekali tahu. Seolah-olah keinginan itu adalah, untuk menyambung relasi dengan seseorang, tapi andai kita letakkan kepada keluasan, keinginan seperti itu akhirnya bergerak naik, dan dunia dari empat unsur serta sebuah unsur peng-akhir adalah tahu, mengikat pengalaman personal antar manusia itu, mentransendirnya, mengangkatnya, sehingga ia bisa kita baca sebagai dunia aku dan Kau, yang kini tengah menyamar ke bawah, ke aku dan kau.
Maka yang melata di sana, sebuah baris ingin,
"ijinkan aku mengerti apa yang tak kutahu
menyakitkan, namun takkan sampai membunuhku",
Adalah sebuah pola dari bentuk eksistensi terdalam, yang seolah-olah untuk manusia tapi memang faktanya untuk kau dalam bahasa itu, tapi dengan empat kerangka dan satu tahu, ia terbawa naik, mengikuti aliran dari keluasan dari setiap ada tahu yang bersifat lahir, batin, awal dan akhir. kita tak mati di sana, sebab kita itu abadi, tapi kita tak tahu dengan keabadian kita itu. diri ringkih dan jejak ringkih itu yang tergambarkan dengan kau yang sama statusnya dengan aku: begitu ringkih.
Oleh keringkihan ini ia melata, dan berucap dengan amat mengharukan. maka dalam naiknya ia bisa kita baca begini: ijinkan kami ini mengerti akan ketidaktahuan kami. jangan hukum kami karena ketidakmengertian kami. sebab kami tidak tahu, Kaulah yang tahu. namun dengan demikian walau kami tidak tahu, semua itu takkan sampai membunuh kami ini. sebab kita hidup, dan akan terus tetap hidup dalam ketidaktahuan. jadi bunuh di situ adalah kegelapan, yang tak pernah berakhir terang dalam kualitas eksistensi kita.
Oleh Ia, begitu holistiknya dan karena itu, adalah segala-galaNya.
hipotesa
ADA mata lain
ada rasa yang dalam, kata sutardji atau kata afrilia utami : ada tubuhku, yang kelak biar menjelma tangkai, suatu ucapan penuh simbolik dalam sajaknya nyala api dan setitik hujan
Jadi tiap ada itu berada dalam lingkaran kelima pengetahuan, bahwa ada "ada-awal", "ada-akhir", "ada-zhahir", "ada-batin", empat ada yang menjadi wajah nyata dan tak nyata dari gejala ada, dari "tahu" sebagai sebuah pengertian milikNya, tapi sekaligus penyebut bagi keempat gejala ada. Ada yang nyata dan apa yang nyata ini minta dimaknai, ada yang tak nyata dan yang tak nyata ini minta dikenali, sehingga dari kedalamannya, ia kini dibawa naik oleh para penyair, menjadi (ilmu penge)tahu(an), puisi. pengetahuan yang mungkin di luar wewenang pengetahuan biasa, katakanlah ia itu adalah intuisi, yang bekerja sebagai bahasa dalam baris-baris puisi.
Keadaan tumbuh dari prinsip saling mengenali, agar diri tiap ada, yang tersembunyi, kini naik ke atas. Penyair, yang berada dalam wewenang prinsip yang sama, membantunya naik ke atas.
Apa yang kecil itu kini membesar, sebuah eksistensi yang memang diciptakan sebagai ada yang mesti dikenali. Dengan begitu, "membelah diri" adalah nama untuk dunia yang saling terhubung. Mereka adalah dunia yang saling melimpahkan keindahan, tidak pasif, tapi aktif, keluar, mengolah luar dengan cara menge-tahu-i-nya, sebelum menjadikannya produktif, suatu ada yang lain.
Kita telah melihat bagaimana mata itu membelah dirinya - jadi warna.
Telinga membelah dirinya jadi sunyi dalam bentukan, "bila diriku ini tuli berilah diriku ini sunyi". Kini badan yang membelah diri lewat tubuh yang retak ke dalam bayangan. Seandainya dari realitas "membelah diri begitu" kita bertanya, ada apa ia begitu gemar membelah dirinya, maka bahasa langit yang belum terjadi karena peristiwa muasal bumi ini masih di langit, yang kita ketahui dari berita-Nya, jadi hipotesis, kini hipotesa itu telah jadi kenyataan lewat setiap ada yang terus-menerus membelah dirinya.
Hari pun membelah dirinya: dari siang ke malam. Juga tubuh, yang terhubung langsung dengan hari, warna itu, membelah diri. Tubuh membelah dirinya melalui bayangan, dan bayangan adalah suatu implikasi dari matahari yang saling membelah diri dengan bulan yakni malam, matahari mengirimkan sinarnya di siang, dan bulan mengisapnya, mengubah sinar matahari siang hari jadi cahaya bulan di malam hari, akibatnya tubuh pun jadi objek permainan matahari dan bulan.
Seperti bahasa, jadi objek permainan kata dalam medium, yang kita sebut dengan puisi, seperti puisi "gurun" Helena Adriany ini, yang bisa kita kembalikan ke awalnya lagi, suatu pertanyaan fundamental atas setiap gejala ada : mengapa tiap ada ini tak hendak diam, tapi terus-menerus membelah dirinya?
Bunga Di Telinga Bahasa
Bahasa menjadi objek permainan kata oleh kata itu seolah diri - punya nyawanya. Nyawa kata yang saling tarik menarik membuat bahasa bergetar-getar, seolah-olah frasa manusia beriman itu, hatinya bergetar-getar karena takut mendengar nama Tuhannya, saat namaNya disebutkan, sebuah maqam, yang bukan milik kita tapi melekat pada orang-orang salih itu, tapi prinsipnya bisa kita petik untuk disuntingkan ke dalam bahasa puisi, menjadi bunga di telinga bahasa, adalah saat kata saling mengirimkan getarannya, mengubah dirinya dalam bentangan tali adalah baris baris dalam puisi.
Kata itu mempunyai telinga, yang memungkinkan mereka mendengar satu dengan yang lain. tapi seolah diri, kata itu juga tak ingin menyerahkan dirinya sepenuhnya ke kata yang lain. di bahasa itu, selalu ada ruang, sela dalam diri, hanya miliknya sendiri - milik kata itu, yang mungkin saja mengapung sebagai ruang kosong, misterius seolah alam yang kita tempati ini: sunyi di ruangnya, mengirimkan pesan rahasia yang hanya kuasa di tangkap oleh telinga yang sama halus dengan pesan rahasia yang ia kirimkan. seperti pesan siang yang berganti ke malam, atau matahari yang saling mengedipkan mata dengan bulan, kapan mereka menyiang dan kapan pula mereka memalam.
Bergetar, sampai pada suatu titik membelah dirinya, bergetar oleh mengikuti irama dari hukum duniaNya, jadi bahasa itu, ikut juga menjadi kata beriman dari kanan dan kata beriman dari kiri, menyokong prinsip yang dikendalikan oleh hukum milikNya, menjadi puisi dengan cara membuat kata saling membelah diri. Lihatlah tubuh itu menjadi kuasi matahari, saat bergetar bersama bulan saling menukarkan warna tubuh mereka, dari siang ke malam memproduksikan sinar matahari dan cahaya bulan. Seperti puisi "gurun" ini, membelah diri mengirimkan warna-warna dari bentukan bahasanya, ke dalam kelompok "manusia" dan "bayangan". Untuk bergetar dan membelah diri ke lajurnya yang kecil-kecil, menyelinap dan saling menukarkan diri pada baris-baris dirinya sebagai puisi.
Ruang dan waktu ikut juga bergetar, membelah diri mereka dengan nama "malam" dan "siang", semata agar manusia penyair (tentu saja bersama manusia bukan penyair, bahkan bersama segenap ada ini), kuasa menggetar-getarkan diri mereka pula oleh adanya waktu dan ruang tempat tubuh mereka, seolah hari yang membelah diri jadi ruang dan waktu (pagi dan siang), karena ada latarnya - bersama latarnya.
"berada di bawah sinar mentari pagi tak aku jumpai apapun selain bayang sendiriberada di bawah terik siangaku bahkan tak menjumpai bayang sendiri"
Menghadapi baris-baris "gurun" Helena, logis rasanya andai bahasa itu, dalam hal ini puisi, yang terus-menerus telah kita persamakan dengan manusia dan manusia ini berkata tentang bayangan tapi segala di luar bayangan itu, ia tepikan, sehingga yang ada di sana hanyalah dirinya. Ada apa ia menepikan selain atau di luar dirinya? Lalu mengapa untuk berbicara tentang dirinya mesti memakai ruang waktu tempat bayangannya menjadi variabel tergantung - tergantung oleh matahari. Begitu besar matahari dan begitu kecil diri, tapi toh dunia jauh dan dekat itu ia ambil sebagai pengucapan. Maka, ada apa dengan si aku di gurun ini? Sebuah puisi oei sien tjwan ingin saya bawa masuk, puisi yang baru kita temukan dan dunia unik puisi oei mirip dengan dunia unik puisi gurun. diri itu, akan selalu unik apa bila ia mulai mempercakapkan dirinya secara tidak biasa.
Saya mengenal Oei sien tjwan lewat buku afrizal - sesuatu indonesia; saya mengenal helena adriany dari dunia sastra maya. Oei yang berbicara tentang kabut, kini masih juga melihat kabut - hanya setting saja yang ia ganti. Bila kabut yang dibawa afrizal menjadi putik puisi (afrizal : sikap yang begitu kukuh pada kata, diperlihatkan dengan penuh suasana dalam sajak Oie sien tjwan yang indah ini:". dan itulah "di negeri kabut, siapa duduk di situ". Siapa duduk di negeri kabut itu? jelas di rumah besar, puisi oei ini, hanya dia "duduk" di sana. dia dengan suasana "batin"nya, sebelum apa yang "rahasia" di negeri kabut itu muncul. Kemunculan yang yang begitu dekat dalam arti, nurani kita kerap di sapaNya, ia dekat, tapi begitu jauh. ia muncul di antara dekat dan jauh dan kata oei:
di sini ketemu pintu
di sana juga pintu
setiap langkah pintu
terkadang bayanganMU duduk di situ
memata-matai hidup
kuharuskah gembira atau berduka
Seandainya bahasa kini hendak kita arahkan sebagai bahasa dalam jiwa kritik sosial, maka mula-mula sajak Oei Sien Tjwan itu adalah sajak yang bisa kita letakkan sebagai pengucapan manusia yang sedang merenungi dunia benda-benda dalam pengertiannya yang hedonis, jadi sajak ini berbeda dengan sajak "gurun" helena, yang berucap tentang diri sendiri. sajak oei memperlihatkan kritik sosial itu sudah sejak mula, sejak nama sajak ini :
RUMAH BESARPENUH DENGAN PINTUDAN KAMAR
Tapi dengan bahasa seperti itu pula, saya kira kata dalam kedudukannya sebagai puisi telah melintasi mediumnya sendiri, sebab "tiga "kata" itu kini telah sempurna, mengatasi rumah fisik yang sedang dilihat oleh mata batin penyair: ia telah berubah jadi dunia tanda, perlambangan akan dunia sebagai rumah raksasa dengan pintu pintu serta kamanya, begitu banyak pintu dan begitu banyak kamar, begitu luas, seandainya ia kita tarik sebagai dunia tanda, atau ia kita biarkan dalam keadaannya di dalam, dan tanda itu yang kini mengecil, tidak meluas lagi, tapi menjadi apa yang dikehendaki oleh puisi. itu adalah rumah, rumah besar, rumah yang pintu dan kamarnya banyak.
Selalu apa yang menggoda itu adalah letaknya kata bukan jalannya ide, atau jalannya ide yang terdukung oleh cara kata dipakai sehingga pelan-pelan ide itu berkembang. letaknya kata yang berarti juga sifat kata itu yang bekerja sebagai penandaan di dalam bahasa. kata itu melaju saja, berucap seakan aku yang berucap, tapi ia sebuah kata yang terpilih dan kata itu dipilih untuk mengucapkan dirinya, tapi ia keluar dari dirinya manakala sifat tanda kata itu bekerja selama kita membacanya, atau selama aku itu mengucapkan dirinya melalui pilihan kata yang bersifat tanda itu. kata kata yang dipakai oleh oei sien tjwan dalam puisi rumah besar penuh pintu dan kamar, adalah kata kata yang biasa saja, yang memiliki arti denotatif sebagaimana galibnya kata yang dipakai dalam gerak komunikatif. bahkan di awal mula kita tidak melihat adanya gerakan kata kata yang akan dijadikan kritik sosial, melainkan semacam kesepian si aku di rumah besar dengan pintu dan kamar. baris baris awalnya memperlihatkan kesenyapan si aku, sekali lagi lewat kata kata biasa seperti :
di rumah besar
penuh dengan kamar
dan tanah berhektar
di sini ketemu pintu
di sana juga pintusetiap langkah pintu
Tetapi selang seling kata besar, pintu, hektar (luasnya tanah dalam hitungan, yang dihidupkan dengan besar dan kamar), serta di sini, di tempat kita hidup di luar ini, membawa kita keluar dari rumah personal dan mulai mengasosiasikan alam raya dan mulailah kita melihat si aku itu, melakukan pengecilan terhadap alam raya ke rumahnya, tapi sekaligus gerak pengecilan ini melemparkan kita kembali ke awalnya adalah acuan dari kata besar, pintu, kamar, yang adalah alam yang kita tinggali ini. jadi bahasa yang sederhana itu, dengan tersusun secara sederhana pula, telah membawakan dua ruang dan ruang waktu ke dalam dirinya, hal yang mungkin membawa kita terikut ke dalam gerakan dua ruang dan dua waktu. belum juga bahasa itu mengantarkan kita kepada kritik sosial, bahkan semacam, suatu kejutan ketika tiba tiba matanya menembus ke dunia benda benda dengan tiba tiba ia menyadari ada orang lain yakni melalui mata orang lain, bersamanya di ruang besar rumah yang banyak pintunya ini.
Boleh jadi keindahan, sesuatu yang bermakna, itu ditemukan bukan dirancang lewat kita yang berpikir, atau kita yang berpikir tiba-tiba didorong oleh letusan hati dari setiap masa lalu kita sendiri, dan insting intuisi yang bekerja karena mendadak kita mengucapkan sebuah kata yakni "sendirian", yang bertemu dengan kata "di sini" dalam sebuah komposisi. mungkin dari sini kita bisa menghayati mengapa menurut hematku baris baris awal oei sien tjwan itu indah karena maknanya. kata sendirian itu telah memberi isyarat bahwa kita itu sendirian. lalu di sini, di sini yang diberi kurung tanpa jalan keluar, dalam hal ini "pintu", membawa ingatan kita kepada tiap kesukaran yang kita alami, sehingga dari "sendirian" ke "di sini" yang menjadi ikatan sajak ini, dengan cepat membawa kita kepada ingatan dari setiap masa lalu kepayahan kita. jadi dua bentuk kata yang terpasang, sendirian dan di sini, itu mengasosiasikan, membawa kita terlempar keluar dari dalam sajak.
di sini ketemu pintu
di sana juga pintu
Tetapi di setiap pintu itu, tak suatu jua tangan yang membukakan pintu sehingga kita terkatung katung di balik pintu. inilah efek dari "sendirian" yang terpasang dengan "di sini", dalam kejadian di baris baris awal sajak rumah besar, dengan pintunya yang banyak.
Nasib di seret oleh Oie Sien tjwan dalam puisi rumah besar berpintu banyak, nasibnya sendiri. Pelan pelan puisi memperlihatkan dunia lain, dunia kritik sosial dan pelan pelan aku itu mengubah dirinya : dari aku religius menjadi aku hedonis, seolah penyair ini hanya meminjam tubuh aku saja di awal mulanya, untuk memperlihatkan siapa aku di rumah besar yang, walau begitu, masih dikejar oleh nuraninya sendiri lewat Tuhan yang memata-matai hidupnya. rupanya ada yang membelah diri di sana, seperti ada yang membelah diri di baris baris puisi gurun Helena Adriany ini.
Suatu pembelahan lain tapi, saya kira, maknanya tidak jauh berbeda yakni hadirnya dua ganda dari lima pokok pengetahuan kita : ada zhahir ada batin. barangkali fisik adalah zhahir, tapi bayangan, yang kemudian diisap oleh matahari, mungkin sudah menjadi dunia batin. lagi pula lahir dan batin itu hanyalah permainan penyair: segalanya batin karena ia dilahirkan dari dunia dalam, dunia entah, seolah Tuhan dari kejauhan menulis dan terciptalah dunia. menulis dan terciptalah nasib manusia. terus Tuhan itu menulis tak sudah sudahnya, sehingga tangan penyair pun ikut juga terus menulis tak henti hentinya - menuliskan nasib dunia yang telah digariskan olehNya, ke tuhan yakni kaum penyair, mereka yang menciptakan sebuah dunia, seolah Dia.
Seperti entah mana duluan dari kata ini mekar dan muncul andai kita melirik ke bahasa Arab, setidaknya bahasa Arab yang termuat di kitabNya itu, saat Kitab memuat tentang "tanda" di surat Rum, mengapung-ngapung kata dan dalam bahasa kita ia itu "tanda" - tapi di sana berbunyi : ayat. Di bahasa kita ia (Bacaan Mulia H.B. Jassin) :
di antara tanda tanda
kebesaranNya ialah,
bahwa Ia menciptakan kamu
dari tanah
Tapi ada juga kitab kita (terbitan untuk lingkungan TNI Angkatan Darat) dan ayat itu yang diturunkan langsung untuk tanda. Katanya:
"dan sebagian dari ayat-ayatnya bahwa Dia menjadikan kamu dari tanah."
Jadi "ayat" itu "tanda" atau "tanda" dan "ayat" ini adalah "semeion" dalam bahasa Yunani. Apakah kedua bahasa ini asli? Kita sampai lupa bahwa ayat, atau tanda, terutama ayat, itu bukan bahasa kita tapi bahasa sana. Manakah bahasa asli kita untuk soal ini? Kita mana? Gugus-gugus daerah yang telah diperah jadi Bahasa Nasional kita di seputar "ayat-semeion-tanda" ini.
Apa?
Kita tak tahu, oleh kitab nasional dari remetan daerah kita tak/belum punya. Tapi itulah dia, tanda, ayat, semeion. Puisi atau sastra yang menarik hati kita ini. Ke gurun, kata lagu cinta itu. Kata Helena: kucoba menemukan bayanganku ini di gurun. Atau kata Roy Arundhati tadi : The God of Small Things, Yang Maha Kecil - masa lalu tiba-tiba mengecil di mata kita, kemudian menghilang.
"ber" "ada"
Dalam kaitan tanda itu pula banyak hal yang tampak telah taken for granted di bahasa kita itu, seperti taken for granted kedudukan "berada" yang diletakkan oleh penyair ke dalam "bahasa". apakah lagi yang bisa kita lihat dari "berada". toh ia sudah seolah tangan kita, yang sunyi sepi tergantung di bahunya, sunyi sepi pun adalah saat, seolah kita itu dibukakan tentang kehadiran anggota tubuh, yang dalam keseharian, seolah tak kita sadari. Kita baru menyadarinya manakala suatu celah dari hidup, tiba tiba membuat kita mesti memikirkan hal yang sudah taken fo granted itu. kini saya menghadapi hal itu, lewat kata pertama sajak gurun, "berada", yang tiba-tiba saya lihat saat keduanya dipisahkan. bukankah berada itu kini tinggallah hanya ada, karena ber telah kita ceraikan - walau untuk sementara waktu.
Apakah masing-masing kita masih ingat tepukan-tepukan yang mengapung dari masa lalu? Galib di masa lalu puak masyarakat tempat kita hidup itu berkata, akan kedudukan seseorang atau keluarga, bahwa "dia", atau "mereka", adalah orang "berada". jadi orang kaya, lain dengan mungkin kita ini, orang tak berada, orang tak berpunya, orang miskin.
Apakah tidak mungkin, bahwa suatu kata sesaat ia datang maka masih dari tepukan-tepukan masa lalu juga, tentang suatu kehadiran di mana diucapkan: kesan pertama itu yang menentukan. Apa bila jalan tradisi ingatan ini kita kenakan pada baris pertama sajak gurun, maka belum sisa kata di sana yang mengapung (di bawah sinar mentari pagi) tapi "berada" itu dulu, yang membuat kita ingat lagi, mungkin kisah sedih dari keluarga sitti nurbaya yang tiba-tiba kandas, dan lalu diambil oleh orang yang "berada" - adalah datuk maringgih. atau kisah pilu hamka, akan hayati yang dipinang oleh, lagi-lagi, orang berada bukan zainuddin orang miskin yang malang - karena keluarganya tidak berada, bahkan entah di mana keluarga seniman zainuddin itu. lain ia dengan keluarga aziz yang berada.
Ingatan semacam itu yang membawa kita bahwa sajak gurun yang tampak biasa ini, kata orang sebelum kita mulai membukakannya dengan cara mengambil semua tutup kenangan, membuat baris "berada di bawah sinar mentari pagi" kini tiba-tiba jadi lain. Lain oleh kita telah dicegat kata berada, yang rupanya tampak adalah ejekan bagi si aku yang sedang di bawah mentari. diam diam mentari yang melimpahkan kehidupan itu, telah ia negasikan secara intuitif, lewat bentukan berada orang kaya, orang berpunya, tapi ia tak melihat bayangannya di tengah keberadaan itu. "tak aku jumpai apa pun selain bayang sendiri", katanya, dan itulah upah dari dia yang "berada" di bawah mentari pagi. bahwa berada ini tiba-tiba dibatalkan, suatu janji orang kaya yang akan mengalami kemelimpahan matahari, tapi lihat semua itu tak ada kecuali bayang-bayangnya sendiri saja di sana. seolah-olah wajar sekali kedudukan kata "berada" itu, sebelum ia kita kembalikan ke tradisi atau kode dari semangat yang datang dari masa lalu.
Berada itu berdiam di empat seuntai, jadi ia konsisten menegasikan dirinya lewat kata ejekan - mengejek nasib, kata berada itu rupanya. ia sebuah suara yang membalik. ia membalikkan kosakata masyarakat lama kita, bahwa berada kini boleh kita lihat dari perspektif lain, adalah diri yang tak berpunya dalam pengertian isinya boleh kita tarik ke dalam imajinasi kita sendiri. tak berpunya apa, kehilangan apa? lihatlah ia berulang ulang, mengisi empat seuntainya dengan kata berada yang menandakan kehilangan. tak ada apa apa di sana, tak juga ada orang lain selain bayanganku sendiri, kata aku helena yang kini telah jadi aku dalam puisi. who is she? kita tidak tahu siapa dia itu. baiklah kalau kita tidak tahu boleh kita bentukkan secara baru: who is he? hasilnya sama juga: ia manusia tapi kita tidak tahu derita apa yang sedang disandangnya.
Kita bisa menguji "berada" ini dari sudut lain, misalnya kita membawakan suatu jalan berpikir mengada, maka berada itu jadi pasif, ia bukan orang kaya lagi tapi suatu keterangan: ia berada di sana, jadi masih netral, apakah ia itu pasif atau aktif, tapi mengada sudah jelas: aku bisa menampik andai aku tidak setuju denganmu, sebab aku mengada dengan opiniku sendiri. berada belum di kawasan seperti ini, ia baru ditempatkan, di tempatkan helena di bawah mentari pagi.
Berada itu baru bergerak, menjadi aktif, mengada, setelah bagian kedua dari empat seuntainya menujukkan ke-berada-annya adalah, "tak aku jumpai apapun selain bayang sendiri". lagi-lagi ia menunjukkan keberadaannya dengan jalan mengada yang negatif: orang lain ia tampik, yang ada hanya ia di sana. ia dan bayangannya. dan cara mengada itu adalah cara aku di bahasa itu memberi tahu, tentang dirinya lewat isyarat adalah tanda. maka kita kembali ke tanda lagi: hendak apa ia meruntuhkan struktur verbal masyarakat tempat ia mestinya bersama orang lain, tapi memilih jalan mengada, sebagai aku lirik yang sendirian, menjadi aku puitik di puisi gurun. apakah gurun ini yang menjadi kode diam diam, mengapung tanpa suara, bahwa nihil yang ada di dalam hidupku-kita ini, tanpa kehadiran orang lain di sini. matahari itu juga malah menipu: ia mengirimkan sinar sekaligus ia mempermainkan kita dengan bayangan, yang kelak hilang itu. diri mula mula ada, lalu kesudahannya, tinggallah bayang bayang belaka.
Manusia berbagi dengan bayangannya. tapi mengapa? mengapa kamu berbagi dengan ammu-mu roy arundhati? seperti helena kini: tubuhnya membelah dengan bayangan dan bayangan itulah yang ingin dicarinya. satu baris berdiri sendirian, terlempar dari empat seuntai dalam sajak gurun itu. baris yang berbunyi dan tampak menjadi klimaks bagi permainan tubuh dan bayangannya ini. "malam menjadi sebuah rehat panjang untuk menemu bayangan."
waktu dadadada
Tiap bertemu dengan kata aku selalu terpesona, dan mulai menimbangnya lewat gerak dari setiap mungkin, agar apapun penilainku pada kata itu jelas, dan jelas itulah kemungkinan. bila kita mengaguminya, kekaguman kita itu beralasan, atau bila kita tidak suka kepadanya, itu juga ada alasannya. sungguh aku terus mencari-cari, landasan dari penilaian kita kepada bahasa sastra ini.
Sungguhkah ada landasan itu? landasan yang bisa dijadikan titik tolak tapi dipeluk oleh orang ramai. tapi orang ramai sendiri, telah seolah akan mematahkan landasan itu. bukankah masing-masing sendiri berbeda tentang landasan, akan poros penilaian. kalau kita berkata langit maka langit tidak sama untuk setiap orang. juga kalau mata kita ke bumi, bumi juga tidak sama untuk semua orang. apakah ada jalan setidaknya, semua orang memiliki titik singgung walau pandangan mereka ibarat pepatah: lain lubuk lain ikannya. jumlah kepala lain pula pikirannya.
Ini soal sajak dada. dami jelas memuji sajak ini. aku bagimana? apakah kita juga memuji sajak dada ini?
Sajak ini tentang apa? ia jelas suara orang masa kini - jadi modern, bahkan melampaui modern. tapi mengapa sajak ini? kulihat waktu yang ia hilangkan itu, hanyalah subjektif dia, bukan permainan yang dirancang sehingga waktu, memang hilang walau kenyataannya, waktu bersama ruang tak bisa hilang.
Waktu yang hilang itu adalah waktu bagi dirinya sendiri, yang didera waktu dan kukira waktu benar benar menghilang di cerpen kafka: tokoh yang telah jadi serangga itu, benar benar kehilangan waktu. ia jadi benda dan benda ini tak lagi bisa bergerak kecuali di kamarnya. ia serangga dan andai ia keluar dari kamarnya, ruang waktu di luar tak akan menerima dia. sebab dia bukan konvensi orang ramai. tokoh kafka itu juga tentang manusia yang didera oleh waktu, dan ia melakukan manuver yang paling berbahaya: bermetamorforsis dari manusia jadi serangga. begitu meyakinkan.
Bagaimana dengan dada ini? apakah ia sama meyakinkannya, saat berkata waktu telah hilang darinya? waktu yang ia hilangkan ia ucapkan, bukan ia gerakkan menjadi dunia perlambangan seperti cerita kafka itu, yang mengubah manusia jadi serangga, membuat ia sekaligus mengangkat waktu dan ruang di luar, pindah ke dalam kamar itu saja. dada ini tidak begitu: ia menyatakan. ia mengisi sendiri adalah bukan dengan mengubah dirinya jadi tanda, tapi lewat pernyataan, bahwa waktu telah hilang darinya, atau ia inginkan waktu itu tak ada.
Waktu sama sekali tak ada, dada.
on looking at a picture
"dada" (di) "gurun"
Bergerak dari rumah besar berpintu banyak Oein Sien Tjwan, kita telah sampai ke Yang Maha Kecil, suatu godaan andai kita membandingkan sebuah representasi bunyi adalah bahasa, saat dunia rumit-tata tapi indah, dunia "the" dan "of" sebagai kaidah itu meluncur sederhana ke bentuk "Yang Maha Kecil" - tadinya ia terpasang di "The God Of Small Things".
Suatu aneh apabila "the-of" ini mesti kita ikuti "di sini".
Sementara itu kita telah melihat "dada" dalam bandingan dengan "punggung aku-prosa Franz Kafka, yang kini menerima seluruh beban tubuh Gregor Samsa; kita melihatnya dari suatu kemungkinan makna tercipta lewat, bukan (semata kata dinyatakan,) tapi kata yang diimajinasikan, dibentukkan ke dalam peristiwa sehingga apa yang abstrak kini mengkonkrit, dan "penghilangan" pun menjadi menyakinkan - seperti dihilangkan "orang lain" di sajak "gurun" Helena Adriany ini?
Kita ingin melihatnya bersama logika gambar-warna yang menjadi bagian dari bab buku prof Richards (Principles of Literary Criticism), secara "terbatas", tempat sang Prof. membawakan dunia ke dalam representasi yang mau tidak mau akan membawakan pula semacam turunan-kata seperti ("pictures") to ("colours"), suatu perhubungan langsung misal lukisan ke puisi.
Kata-kata Prof Richards ini ("representation in painting corresponds to thought in poetry" (bukunya, bab on looking at a picture), adalah suatu "pengecilan" atau sebuah perspektif dalam seni sebagai bentuk simbolik - jadi ciptaan kedua, dan olehnya "representasi dalam lukisan" (representation in painting), itu kita kembalikan ke muasal adalah representasi di mana dunia sebagai cikal bakal bahasa. jadi gambar dunia kini sepenuhnya mukim ke gambar kata, tempat kata kembali bernyawa oleh ia telah dikembalikan ke induknya lagi.
Kata itu, yang kini bernada, mengeluarkan bunyi seperti lukisan mengeluarkan warna - ia mungkin adalah bunyi yang sedih.
3. "Arah", "Dada"
24 Desember 2014 pukul 16:10
beri aku warna
14 Oktober 2014 pukul 3:31
adalah sebuah keniscayaan apa bila kita buta, kita inginkan sekali warna, walau diucapkan nyaris dengan dingin. maka warna adalah kelanjutan logis dari buta. tapi logiskah bumi yang terbaring, bumi yang secara hakikat itu mesti hendak diolah, dihadapi dengan tangan yang tidur? tangan yang tidur tak bisa mengolah bumi, walau telah dibuat pasif dengan cara membaringkannya. kita menikmati dua bentuk pasif di sini : aku ini buta, pasif tak bisa melihat. maka ia meminta - berilah, aku warna. terbaring juga adalah pasif: tengah istirahat. tangan itu ikut juga pasif, bahkan tak sadar karena ia sedang tidur. sastra hendak membawakan kita bahasa dari nyala api yang baru. dalam pandangan ini, puisi puisi itu sungguh sebuah bahan yang menggoda.
aknya di dada, depan. kita pun terlibat soal arah, bertanya ihwal yang sama tentang hati. menghadap ke depan atau ke belakangkah hati kita? atau kedua benda dalam kita tanpa arahnya, galibnya tubuh luar, dengan depan adalah arah oleh di sana, liang mata kita, memandangi dunia dengan dada yang mencari arahnya. Manusia seolah dibuat dengan dasar "depan" dan depan itulah "arah", bahwa punggung bukanlah "dada". mungkin kita "buta" dalam pengertian terdalam akan dasar, dalam hubungan dengan "arah". Jadi sebetulnya, "dada" bukanlah dasar, sekalipun ia terpasang di depan bukan belakang. jadi, mana arah? kita seakan buta, butuh warna dari cahaya yang lain.
seorang penyair,
bila aku buta
beri aku warna
di atasnya berdegup-degup "dada" itu.
sehari. waktu sama sekali tak ada, dada. bumi terbaring dalam tangan yang tidur, "dada".
Hipotesa8 November 2014 pukul 11:22
Permainan Paz - Sutardji
"di sini"
Sesaat bangun tidur diri seolah mendengar kembali, gema dari kata "bergaung" itu, melihat lagi penyair bermain dengan bentuknya dan bentuk yang ia permainkan itu adalah cara kata yang ia tempatkan. Di sajak kita ada juga permainan ini, saat puisi kedua dari buku O Amuk Kapak, seperti Paz, atau seperti penyair yang memainkan tipologi pada puisi, memberikan "arah" lain bagi tiap kata yang bergerak ke belakang, atau dijemput oleh depan.
Bersama "mana jalanmu" kita dibuat bergoyang-goyang oleh letak kata yang dimainkan oleh penyair (Sutardji yang memainkannya, saat ia meletakkan kata tidak seperti biasanya). Seakan-akan kita melihat "ikan membawa air dalam mulutnya", pada sebuah taman. Hal yang mungkin oleh mula-mula manusia bukan dididik oleh cara bahasa puisi, tapi prosa dalam kenyataan hidup. Seperti kita dididik bukan oleh kata "kerja" atau kata "sifat" masih dalam hidup juga, tapi oleh kata "benda" yang dipuja dalam dunia puisi.
ikan membawa airdalam muluttamanbangku ngantukangin bernapas sendirian
Seperti pada "bergaung" Paz itu tadi, kita juga melihat bahwa "dalam mulut" itu seolah ketarik ke belakang sehingga di depan kita kini berdiri "kata-benda" : "ikan membawa air dalam mulutnya". Tapi ia juga sekaligus kata kerja, juga kata sifat oleh adanya air dan ikan yang melakukan kondisi alam: sifat alam memang seperti itu. Maka penyair telah menumpuk ke dalam bahasa puisinya kehidupan, yang dicirikan oleh letak dan jenis serta bentuk kata.
Kata benda ini yang kuasa membuat imajinasi kita bergerak, alam hidup di depan mata kini, seperti sugesti dari "mana jalanmu", bahwa kini kita melihat dunia yang mungkin ada tapi ganjil secara bahasa - apakah kita sering menuliskan: lihatlah ikan membawa air dalam mulutnya?
Suatu realitas baru dalam dunia ikan (ikan itu tanda, suatu hidup yang bergerak, licin, agak mistik juga, ikan itu), mungkin (mungkin fakta dalam arti memang begitulah ikan: ia membawa air dalam mulutnya), mungkin puisi karena begitulah yang dibayangkan oleh penyairnya, kini disebutkan dalam bahasa puisi dan kita menghadapi realitas yang baru dinampakkan, karena selama ini, dunia ikan tidak pernah kita pikirkan, bahwa ikan akan membawa "air dalam mulutnya" itu.
Tetapi bisa juga, "dalam mulut" itu melimpah ke depan, "taman" itu menjemput dirinya sendiri: ini mulutku bukan mulut ikan. Sehingga di depan pintu taman, di awal masuk ke taman (atau kata Sutardji: dalam mulut, taman), kita melihat dunia yang lagi-lagi dipersonifikasikan, atau kita yang dibendakan oleh sifat yang memang memiliki ciri "ngantuk/malas" dalam diri ini. Tapi di sanalah kita melihat, di dalam mulut taman itu, bangku ngantuk sendirian.
---- Helena Adriany Menetes air mataku membaca ini. Tentang manusia dan hakekatnya. Kegagalan mengerti tuhan, kegagalan mengerti manusia, kegagalan mengenali arah, kegagalan menemukan pintu yang terbuka, membawa manusia mengenali kesendiriannya. Manusia yang indah menuliskannya dalam puisi2 yang tak pernah sama namun ternyata menunjukkan persamaan perjalanan manusia, yang membuat mereka menjalani serangkaian tunggu, jalan bagi setiap kesendirian yang absolut, dan huhi membawa semua puisi ini untuk saling melihat kesendirian setiap pribadi yang membuat semua mata melihat ketidak sendirian yang absolut juga. Ketidak sendirian dalam kesendirian. Tuhan itu kerumitan yang luas. Kadang aku tersesat di jalannya, anehnya, disitu aku mengenali keindahan manusia, juga keindahan tuhan. Penuturan nabi sastra bumi, huhi, kebenaran yang indah dan menggeterkan. -----
"Kaki Yang Ragu Bertukar Posisi"
Kita kini berpikir tentang pilihan kata serta cara kata itu dihadirkan - dan inilah bentuk(nya), cara penyair memilih kata demi mendukung motif dasar puisinya - dan inilah isi(nya), tapi isi itu mengalur ke bentuk sehingga dengan bentuk, kita sesungguhnya telah berbicara isi seperti dengan isi, kita sekaligus berbicara tentang bentuk.
Akhirnya bentuk dan isi kehilangan arti dalam pengertian yang terdefinisikan dengan jelas. mereka mengabur. saat kita menikmati isi puisi, itulah saat kita menikmati bentuk puisi. seperti yang kini sedang kita nikmati kini. kita boleh misalnya, mendugakan permainan paz itu adalah suatu demonstrasi dari bentuk luar yakni hidup yang ia tangkap, bahwa betapa hidup itu banyak mengajarkan ragu, kabur, samar dan halus dari setiap kejadian demi kejadian yang menjadi isi hidup.
Seperti kita boleh membaca kaki dan jalan itu, adalah suatu dunia perlambangan di mana begitulah kita : kadang tidak jelas sedang melangkah ke mana, karena hidup bukanlah dugaan yang sudah pasti. tiap apa yang hendak kita pastikan, keluar lagi dari lingkaran kepastian dan kaki serta telinga itu mengatakannya secara puisi, bahwa ia mendengar dua suara, dari langkah kaki.
Tapi mungkin bahwa apa yang kita bayangkan itu sebenarnya tidak terjadi: artinya dalam ruang dan waktu, yang berbeda, suara dan langkah kaki paz itu terjadi. tapi bentuk serta (cara) isi puisi itu digerakkan, telah membuat kita ikut mengalami seolah-olah dunia penuh keraguan. keadaan kaki paz itu jadi mirip dengan keadaan mulut taman sutardji.
Ketakterjadian seperti dalam dunia puisi Helena, sebuah batas di mana kata, memang memiliki otoritas misterius mengapa ia itu, pandai mengambil hati manusia dan menyuarakannya dengan caranya sendiri. Cara yang membalik - ia bukan buta, ia bukan tuli, tapi ia ingin agar bila ia tak mengerti, tak tahu apa kehendak dirimu dalam bayangan diri si aku, maka ia-kamu hendaklah mengucapkannya secara langsung, jangan seperti diriku yang mengambil jalan memutar oleh aku memang tidak tahu apa yang kau hendakkan. Itulah dia : "ijinkan aku mengerti apa yang tak kutahu", sebuah baris akhir dari "arah" Helena, yang memiliki akibat bahwa ketidaktahuan, itu menyakitkan tapi ia sebagai manusia akan bertahan. Seperti dalam hidup kita melihat serangkaian, dunia policy yang terus menerus memukuli manusia sebagari warga dari suatu negeri, tapi toh kita mampu bertahan, bergulat dengan segenap kepayahan, manusia akhirnya tegak di kedua kaki yang mengusung tubuhnya juga. Atau dalam baris lanjutan dari "arah" ini, sebuah ketidaktahuan, ketidakpahaman mengapa "harus", itu, "menyakitkan, namun takkan sampai membunuhku".
Dunia "persamaan", metafor, dalam "arah" itu bisa kita kerangkakan begini, bahwa ada macet komunikasi sehingga si aku tidak tahu lagi bagaimana bertukar pesan dalam kerangka komunikasi verbal, sebuah ketidakpahaman, bahwa ada medium tapi pengirim pesan, selalu gagal pesannya, sampai ke si penerima pesan. Gagalnya komunikasi, yang akhirnya membuat aku-fakta dalam bahasa ini, bergerak putus asa dalam upaya menyelamatkan apa yang masih tersisa. Apa yang masih tersisa itu adalah dunia tanda, metafor, suatu persamaan di mana tahu/ketidaktahuan itu seakan "buta", bahwa mata manusia tidak melihat, telinga manusia tidak mendengar. Ia berharap agar dengan cara "halus" seperti ini, kegagalan komunikasi dari dunia verbal itu terobati. Lawan bicaranya, keluar dari rantai komunikasi dan kini, harapannya, bersamanya dan mereka hidup di dalam dunia tanda.
Baris yang terpasang,
"Agar aku melihat apa yang kau pandang"
kini bergerak membalik,
"Agar kau melihat apa yang aku pandang".
Jadi dunia tanda itu, mengajarkan - atau tepatnya, mengajak manusia membuka dirinya, mendemokratiskan dirinya. Tapi ia itu seraya kabar juga: bahwa dalam hidup ini ada jalan dan andai salah satu jalan itu macet, terkunci, maka baik ia kini kita buka dengan jalan metafor. Untuk itu metaforasitas dari dunia indera (mata, telinga), itu kini menjadi dunia yang kita aktifkan, agar jalan bertukar itu menjadi sebuah mungkin. Kita manusia tak boleh terhukum, dengan sesuatu yang macet. Kita harus mengambil jalan, sekali pun jalan itu, harus berputar melalui dunia penanda, ke petanda.
Ke Akhir Tahu
Metafor yang telah Ia ungkai sendiri, andai kita melihat cara Ia mengidentiaskan siapa dirinya itu, dalam suatu kehadiran paradoks berselang-seling fisik dan batin, yang melingkupi karena Ia awal dan ia juga akhir. Suatu keluasan yang tak lagi terbayangkan karena daya ikatnya begitu melingkupi. Tapi dengan "tahu" di ujung maka kini kita mulai memikirkan bahwa akhir dari dunia paradoks(al) itu berakhir di otoritasNya bahwa Ialah yang "tahu" - artinya kita hanya diberinya sejumput tahu yang memiliki sifat dwi arti sebagai dunia tanda (pertanda & petanda). Dunia yang memiliki sifat lahir dan sifat fisik. Suatu tenaga kontradiksi menariknya, membuat saling tarik menarik dunia yang dari ujung ke ujung itu didikotomikan.
Sebuah gerak yang berakhir, lagi-lagi ke metafor, atau gerak inilah puncak dari dunia tanda. Adalah "tahu" itu. Tahu, dari ketiadaan tahu kita, tahu, dari kepenuhan tahuNya, tahu, dari kedudukan kata ini sebagai bagian dari kelompok kata yang abstrak: ia bukan, kata benda, ia bukan, kata sifat (karena mana pertandanya (baca: mana tubuhnya?). oleh itu ia dengan cara kehadiran begitu, sungguh sebuah kabar bahwa yang fisik punah dan yang tersisa dari kepunahan adalah dunia yang abstrak, yang kita tidak kenali.
Dengan lain perkataaan, sebuah dunia yang tak lagi kuasa terungkapkan. Tapi bukan benda, bukan sifat, dunia mengapung dari ke-tahu-an yang tidak kita ketahui. ia jauh, walau jejaknya, semacam simulasinya, kini begitu dekat adalah jiwa kita sendiri/dunia petanda tempat pertanda bergelantungan padanya - atau dibaca terbalik: justru dunia makna itu yang bergelantungan dengan dunia fisik kehadiran. Inilah sebuah jalan, jalan metafor yang begitu ampuh menangani dunia yang begitu misterius dan gaib ini.
Seperti gaibnya rasa sakit itu, datang dan diam di (sebuah puisi helena adalah) "arah". Ada yang melata di situ, sifat humans dari kita manusia yang tidak tahu tapi ingin sekali tahu. Seolah-olah keinginan itu adalah, untuk menyambung relasi dengan seseorang, tapi andai kita letakkan kepada keluasan, keinginan seperti itu akhirnya bergerak naik, dan dunia dari empat unsur serta sebuah unsur peng-akhir adalah tahu, mengikat pengalaman personal antar manusia itu, mentransendirnya, mengangkatnya, sehingga ia bisa kita baca sebagai dunia aku dan Kau, yang kini tengah menyamar ke bawah, ke aku dan kau.
Maka yang melata di sana, sebuah baris ingin,
"ijinkan aku mengerti apa yang tak kutahu
menyakitkan, namun takkan sampai membunuhku",
Adalah sebuah pola dari bentuk eksistensi terdalam, yang seolah-olah untuk manusia tapi memang faktanya untuk kau dalam bahasa itu, tapi dengan empat kerangka dan satu tahu, ia terbawa naik, mengikuti aliran dari keluasan dari setiap ada tahu yang bersifat lahir, batin, awal dan akhir. kita tak mati di sana, sebab kita itu abadi, tapi kita tak tahu dengan keabadian kita itu. diri ringkih dan jejak ringkih itu yang tergambarkan dengan kau yang sama statusnya dengan aku: begitu ringkih.
Oleh keringkihan ini ia melata, dan berucap dengan amat mengharukan. maka dalam naiknya ia bisa kita baca begini: ijinkan kami ini mengerti akan ketidaktahuan kami. jangan hukum kami karena ketidakmengertian kami. sebab kami tidak tahu, Kaulah yang tahu. namun dengan demikian walau kami tidak tahu, semua itu takkan sampai membunuh kami ini. sebab kita hidup, dan akan terus tetap hidup dalam ketidaktahuan. jadi bunuh di situ adalah kegelapan, yang tak pernah berakhir terang dalam kualitas eksistensi kita.
Oleh Ia, begitu holistiknya dan karena itu, adalah segala-galaNya.
hipotesa
ADA mata lain
ada rasa yang dalam, kata sutardji atau kata afrilia utami : ada tubuhku, yang kelak biar menjelma tangkai, suatu ucapan penuh simbolik dalam sajaknya nyala api dan setitik hujan
Jadi tiap ada itu berada dalam lingkaran kelima pengetahuan, bahwa ada "ada-awal", "ada-akhir", "ada-zhahir", "ada-batin", empat ada yang menjadi wajah nyata dan tak nyata dari gejala ada, dari "tahu" sebagai sebuah pengertian milikNya, tapi sekaligus penyebut bagi keempat gejala ada. Ada yang nyata dan apa yang nyata ini minta dimaknai, ada yang tak nyata dan yang tak nyata ini minta dikenali, sehingga dari kedalamannya, ia kini dibawa naik oleh para penyair, menjadi (ilmu penge)tahu(an), puisi. pengetahuan yang mungkin di luar wewenang pengetahuan biasa, katakanlah ia itu adalah intuisi, yang bekerja sebagai bahasa dalam baris-baris puisi.
Keadaan tumbuh dari prinsip saling mengenali, agar diri tiap ada, yang tersembunyi, kini naik ke atas. Penyair, yang berada dalam wewenang prinsip yang sama, membantunya naik ke atas.
Apa yang kecil itu kini membesar, sebuah eksistensi yang memang diciptakan sebagai ada yang mesti dikenali. Dengan begitu, "membelah diri" adalah nama untuk dunia yang saling terhubung. Mereka adalah dunia yang saling melimpahkan keindahan, tidak pasif, tapi aktif, keluar, mengolah luar dengan cara menge-tahu-i-nya, sebelum menjadikannya produktif, suatu ada yang lain.
Kita telah melihat bagaimana mata itu membelah dirinya - jadi warna.
Telinga membelah dirinya jadi sunyi dalam bentukan, "bila diriku ini tuli berilah diriku ini sunyi". Kini badan yang membelah diri lewat tubuh yang retak ke dalam bayangan. Seandainya dari realitas "membelah diri begitu" kita bertanya, ada apa ia begitu gemar membelah dirinya, maka bahasa langit yang belum terjadi karena peristiwa muasal bumi ini masih di langit, yang kita ketahui dari berita-Nya, jadi hipotesis, kini hipotesa itu telah jadi kenyataan lewat setiap ada yang terus-menerus membelah dirinya.
Hari pun membelah dirinya: dari siang ke malam. Juga tubuh, yang terhubung langsung dengan hari, warna itu, membelah diri. Tubuh membelah dirinya melalui bayangan, dan bayangan adalah suatu implikasi dari matahari yang saling membelah diri dengan bulan yakni malam, matahari mengirimkan sinarnya di siang, dan bulan mengisapnya, mengubah sinar matahari siang hari jadi cahaya bulan di malam hari, akibatnya tubuh pun jadi objek permainan matahari dan bulan.
Seperti bahasa, jadi objek permainan kata dalam medium, yang kita sebut dengan puisi, seperti puisi "gurun" Helena Adriany ini, yang bisa kita kembalikan ke awalnya lagi, suatu pertanyaan fundamental atas setiap gejala ada : mengapa tiap ada ini tak hendak diam, tapi terus-menerus membelah dirinya?
Bunga Di Telinga Bahasa
Bahasa menjadi objek permainan kata oleh kata itu seolah diri - punya nyawanya. Nyawa kata yang saling tarik menarik membuat bahasa bergetar-getar, seolah-olah frasa manusia beriman itu, hatinya bergetar-getar karena takut mendengar nama Tuhannya, saat namaNya disebutkan, sebuah maqam, yang bukan milik kita tapi melekat pada orang-orang salih itu, tapi prinsipnya bisa kita petik untuk disuntingkan ke dalam bahasa puisi, menjadi bunga di telinga bahasa, adalah saat kata saling mengirimkan getarannya, mengubah dirinya dalam bentangan tali adalah baris baris dalam puisi.
Kata itu mempunyai telinga, yang memungkinkan mereka mendengar satu dengan yang lain. tapi seolah diri, kata itu juga tak ingin menyerahkan dirinya sepenuhnya ke kata yang lain. di bahasa itu, selalu ada ruang, sela dalam diri, hanya miliknya sendiri - milik kata itu, yang mungkin saja mengapung sebagai ruang kosong, misterius seolah alam yang kita tempati ini: sunyi di ruangnya, mengirimkan pesan rahasia yang hanya kuasa di tangkap oleh telinga yang sama halus dengan pesan rahasia yang ia kirimkan. seperti pesan siang yang berganti ke malam, atau matahari yang saling mengedipkan mata dengan bulan, kapan mereka menyiang dan kapan pula mereka memalam.
Bergetar, sampai pada suatu titik membelah dirinya, bergetar oleh mengikuti irama dari hukum duniaNya, jadi bahasa itu, ikut juga menjadi kata beriman dari kanan dan kata beriman dari kiri, menyokong prinsip yang dikendalikan oleh hukum milikNya, menjadi puisi dengan cara membuat kata saling membelah diri. Lihatlah tubuh itu menjadi kuasi matahari, saat bergetar bersama bulan saling menukarkan warna tubuh mereka, dari siang ke malam memproduksikan sinar matahari dan cahaya bulan. Seperti puisi "gurun" ini, membelah diri mengirimkan warna-warna dari bentukan bahasanya, ke dalam kelompok "manusia" dan "bayangan". Untuk bergetar dan membelah diri ke lajurnya yang kecil-kecil, menyelinap dan saling menukarkan diri pada baris-baris dirinya sebagai puisi.
Ruang dan waktu ikut juga bergetar, membelah diri mereka dengan nama "malam" dan "siang", semata agar manusia penyair (tentu saja bersama manusia bukan penyair, bahkan bersama segenap ada ini), kuasa menggetar-getarkan diri mereka pula oleh adanya waktu dan ruang tempat tubuh mereka, seolah hari yang membelah diri jadi ruang dan waktu (pagi dan siang), karena ada latarnya - bersama latarnya.
"berada di bawah sinar mentari pagi tak aku jumpai apapun selain bayang sendiriberada di bawah terik siangaku bahkan tak menjumpai bayang sendiri"
Menghadapi baris-baris "gurun" Helena, logis rasanya andai bahasa itu, dalam hal ini puisi, yang terus-menerus telah kita persamakan dengan manusia dan manusia ini berkata tentang bayangan tapi segala di luar bayangan itu, ia tepikan, sehingga yang ada di sana hanyalah dirinya. Ada apa ia menepikan selain atau di luar dirinya? Lalu mengapa untuk berbicara tentang dirinya mesti memakai ruang waktu tempat bayangannya menjadi variabel tergantung - tergantung oleh matahari. Begitu besar matahari dan begitu kecil diri, tapi toh dunia jauh dan dekat itu ia ambil sebagai pengucapan. Maka, ada apa dengan si aku di gurun ini? Sebuah puisi oei sien tjwan ingin saya bawa masuk, puisi yang baru kita temukan dan dunia unik puisi oei mirip dengan dunia unik puisi gurun. diri itu, akan selalu unik apa bila ia mulai mempercakapkan dirinya secara tidak biasa.
Saya mengenal Oei sien tjwan lewat buku afrizal - sesuatu indonesia; saya mengenal helena adriany dari dunia sastra maya. Oei yang berbicara tentang kabut, kini masih juga melihat kabut - hanya setting saja yang ia ganti. Bila kabut yang dibawa afrizal menjadi putik puisi (afrizal : sikap yang begitu kukuh pada kata, diperlihatkan dengan penuh suasana dalam sajak Oie sien tjwan yang indah ini:". dan itulah "di negeri kabut, siapa duduk di situ". Siapa duduk di negeri kabut itu? jelas di rumah besar, puisi oei ini, hanya dia "duduk" di sana. dia dengan suasana "batin"nya, sebelum apa yang "rahasia" di negeri kabut itu muncul. Kemunculan yang yang begitu dekat dalam arti, nurani kita kerap di sapaNya, ia dekat, tapi begitu jauh. ia muncul di antara dekat dan jauh dan kata oei:
di sini ketemu pintu
di sana juga pintu
setiap langkah pintu
terkadang bayanganMU duduk di situ
memata-matai hidup
kuharuskah gembira atau berduka
Seandainya bahasa kini hendak kita arahkan sebagai bahasa dalam jiwa kritik sosial, maka mula-mula sajak Oei Sien Tjwan itu adalah sajak yang bisa kita letakkan sebagai pengucapan manusia yang sedang merenungi dunia benda-benda dalam pengertiannya yang hedonis, jadi sajak ini berbeda dengan sajak "gurun" helena, yang berucap tentang diri sendiri. sajak oei memperlihatkan kritik sosial itu sudah sejak mula, sejak nama sajak ini :
RUMAH BESARPENUH DENGAN PINTUDAN KAMAR
Tapi dengan bahasa seperti itu pula, saya kira kata dalam kedudukannya sebagai puisi telah melintasi mediumnya sendiri, sebab "tiga "kata" itu kini telah sempurna, mengatasi rumah fisik yang sedang dilihat oleh mata batin penyair: ia telah berubah jadi dunia tanda, perlambangan akan dunia sebagai rumah raksasa dengan pintu pintu serta kamanya, begitu banyak pintu dan begitu banyak kamar, begitu luas, seandainya ia kita tarik sebagai dunia tanda, atau ia kita biarkan dalam keadaannya di dalam, dan tanda itu yang kini mengecil, tidak meluas lagi, tapi menjadi apa yang dikehendaki oleh puisi. itu adalah rumah, rumah besar, rumah yang pintu dan kamarnya banyak.
Selalu apa yang menggoda itu adalah letaknya kata bukan jalannya ide, atau jalannya ide yang terdukung oleh cara kata dipakai sehingga pelan-pelan ide itu berkembang. letaknya kata yang berarti juga sifat kata itu yang bekerja sebagai penandaan di dalam bahasa. kata itu melaju saja, berucap seakan aku yang berucap, tapi ia sebuah kata yang terpilih dan kata itu dipilih untuk mengucapkan dirinya, tapi ia keluar dari dirinya manakala sifat tanda kata itu bekerja selama kita membacanya, atau selama aku itu mengucapkan dirinya melalui pilihan kata yang bersifat tanda itu. kata kata yang dipakai oleh oei sien tjwan dalam puisi rumah besar penuh pintu dan kamar, adalah kata kata yang biasa saja, yang memiliki arti denotatif sebagaimana galibnya kata yang dipakai dalam gerak komunikatif. bahkan di awal mula kita tidak melihat adanya gerakan kata kata yang akan dijadikan kritik sosial, melainkan semacam kesepian si aku di rumah besar dengan pintu dan kamar. baris baris awalnya memperlihatkan kesenyapan si aku, sekali lagi lewat kata kata biasa seperti :
di rumah besar
penuh dengan kamar
dan tanah berhektar
di sini ketemu pintu
di sana juga pintusetiap langkah pintu
Tetapi selang seling kata besar, pintu, hektar (luasnya tanah dalam hitungan, yang dihidupkan dengan besar dan kamar), serta di sini, di tempat kita hidup di luar ini, membawa kita keluar dari rumah personal dan mulai mengasosiasikan alam raya dan mulailah kita melihat si aku itu, melakukan pengecilan terhadap alam raya ke rumahnya, tapi sekaligus gerak pengecilan ini melemparkan kita kembali ke awalnya adalah acuan dari kata besar, pintu, kamar, yang adalah alam yang kita tinggali ini. jadi bahasa yang sederhana itu, dengan tersusun secara sederhana pula, telah membawakan dua ruang dan ruang waktu ke dalam dirinya, hal yang mungkin membawa kita terikut ke dalam gerakan dua ruang dan dua waktu. belum juga bahasa itu mengantarkan kita kepada kritik sosial, bahkan semacam, suatu kejutan ketika tiba tiba matanya menembus ke dunia benda benda dengan tiba tiba ia menyadari ada orang lain yakni melalui mata orang lain, bersamanya di ruang besar rumah yang banyak pintunya ini.
Boleh jadi keindahan, sesuatu yang bermakna, itu ditemukan bukan dirancang lewat kita yang berpikir, atau kita yang berpikir tiba-tiba didorong oleh letusan hati dari setiap masa lalu kita sendiri, dan insting intuisi yang bekerja karena mendadak kita mengucapkan sebuah kata yakni "sendirian", yang bertemu dengan kata "di sini" dalam sebuah komposisi. mungkin dari sini kita bisa menghayati mengapa menurut hematku baris baris awal oei sien tjwan itu indah karena maknanya. kata sendirian itu telah memberi isyarat bahwa kita itu sendirian. lalu di sini, di sini yang diberi kurung tanpa jalan keluar, dalam hal ini "pintu", membawa ingatan kita kepada tiap kesukaran yang kita alami, sehingga dari "sendirian" ke "di sini" yang menjadi ikatan sajak ini, dengan cepat membawa kita kepada ingatan dari setiap masa lalu kepayahan kita. jadi dua bentuk kata yang terpasang, sendirian dan di sini, itu mengasosiasikan, membawa kita terlempar keluar dari dalam sajak.
di sini ketemu pintu
di sana juga pintu
Tetapi di setiap pintu itu, tak suatu jua tangan yang membukakan pintu sehingga kita terkatung katung di balik pintu. inilah efek dari "sendirian" yang terpasang dengan "di sini", dalam kejadian di baris baris awal sajak rumah besar, dengan pintunya yang banyak.
Nasib di seret oleh Oie Sien tjwan dalam puisi rumah besar berpintu banyak, nasibnya sendiri. Pelan pelan puisi memperlihatkan dunia lain, dunia kritik sosial dan pelan pelan aku itu mengubah dirinya : dari aku religius menjadi aku hedonis, seolah penyair ini hanya meminjam tubuh aku saja di awal mulanya, untuk memperlihatkan siapa aku di rumah besar yang, walau begitu, masih dikejar oleh nuraninya sendiri lewat Tuhan yang memata-matai hidupnya. rupanya ada yang membelah diri di sana, seperti ada yang membelah diri di baris baris puisi gurun Helena Adriany ini.
Suatu pembelahan lain tapi, saya kira, maknanya tidak jauh berbeda yakni hadirnya dua ganda dari lima pokok pengetahuan kita : ada zhahir ada batin. barangkali fisik adalah zhahir, tapi bayangan, yang kemudian diisap oleh matahari, mungkin sudah menjadi dunia batin. lagi pula lahir dan batin itu hanyalah permainan penyair: segalanya batin karena ia dilahirkan dari dunia dalam, dunia entah, seolah Tuhan dari kejauhan menulis dan terciptalah dunia. menulis dan terciptalah nasib manusia. terus Tuhan itu menulis tak sudah sudahnya, sehingga tangan penyair pun ikut juga terus menulis tak henti hentinya - menuliskan nasib dunia yang telah digariskan olehNya, ke tuhan yakni kaum penyair, mereka yang menciptakan sebuah dunia, seolah Dia.
0 komentar:
Posting Komentar