Senin, 26 Januari 2015

Siput



benda jatuh turun ke bumibenda jatuh turun ke bum
         JATUH (memerlukan apa)

   Sebagai kata dapatkah jatuh menjadi kehadiran tunggal? - hanya "jatuh" saja, tanpa pengiring.

     Lalu, apa jatuh itu?

     Setidaknya, oleh kita tidak mengerti, "jatuh" tak mungkin kuasa dihadirkan oleh "siput" yang sunyi. Apakah bahasa siput dan kuasakah kita mendengar andai siput hendak memanggil kekasih hatinya? Adakah "pikiran" dan terutama, "perasaan" pada siput? Seperti apa "pikiran" dan "perasaan" siput?

    (ai liliput)

     Siput mahluk hidup walau ia bukan semut. Tapi siput sama dengan semut dan semut ini kuasa bercakap-cakap, tapi lagi-lagi kita tak kuasa mendengar semut bercakap-cakap. Sunyi dan senyapnya dunia semut tampaknya sesunyi dan sesenyap dunia siput. Mereka merambat pelan - jatuhkah mereka saat begerak ke depan? Mereka rasanya, berjalan maju bukan berjalan dengan cara bergerak mundur ke belakang. Andai ada siput unik atau semut unik, yang berjalan dengan cara lucu mundur ke belakang, jatuhkah saat mereka berjalan mundur itu? (Beri tahu karena saya ingin tahu.) Tapi siapakah yang kuasa memberi tahu karena belum pernah terdapat fakta, atau luput dari perhatian kita, akan semut apa lagi siput, yang berjalan dengan cara "ngedek-ngedek" mundur ke belakang bukan maju ke depan. (What is jatuh itu? Jatuh itu apa? Berit tahu saya karena saya ingin mengetahuinya. Oh tolonglah beri tahu saya karena saya sungguh ingin mengetahuinya. tolonglah saya. Beri tahu saya karena saya sungguh-sungguh ingin mengetahuinya!)

     Beri tahu saya lia-fendi-umi-afri, karena saya ingin mengetahuinya! Karena kita ingin mengetahuinya. Dapatkah kamu memberi tahu saya Dewi Nurhalizah? Beri tahu saya Afrilia Utami! Beri tahulah saya Taufiq Hidayat.

tolonglah saya uda.tolonglah saya uda.

    (uda indarvis inda tolonglah beri tahu saya. turunlah dulu dari sado-mu itu uda: tolonglah beri tahu saya karena saya ingin mengetahuinya)

    Seorang penyair bernama Abdul Malik mungkin mengerti, bahwa semut itu kuasa bercakap-cakap seperti kita manusia ini, yang setiap detik hidup kita memproduksikan terus menerus kata-kata yang "jatuh" dari mulut kita. Tapi agak jelas tidak jatuh dari mulut semut. Kalau tidak jatuh dari mulut semut lalu darimana bahasa itu jatuh dan sampai ke telinga Nabi Sulaiman, yang naik kuda dan apakah kuda Nabi Sulaiman ngedek-ngedek ngerem dengan cara jalan ke belakang, tubuh kuda oleh itu dan tubuh Sulaiman oleh ini bergetar-getar terhenti lalu pelan-pelan ngedek-ngedek ke belakang karena takut melumat semut-semut dengan kaki-kaki mereka.

    Abdul Malik mengerti tapi apakah Plato juga mengerti apa yang dimengerti oleh Abdul Malik yang mengerti ini? Mengapa Plato tidak mengerti? Tapi darimana kita mengerti bahwa Plato tidak mengerti? Barangkali Plato mengerti tapi tidak memakai semut dan siput untuk menjelakan kepengertiannya. Siapa yang tahu. Descartes mengerti walau kosakata bujang dari Perancis ini bukanlah "jatuh" tapi "tahu", yang "jatuh" dari "pikiran" itu. Kalau begitu Plato juga tahu sebab adalah langit Plato yang menjatuhkan manusia gua-nya juga ranjang dan meja yang terentang di udara. Kita itu lalu sama, tak beda sedikit pun kecuali kosakata yang bergerak kian ke mari.

   Kalau begitu apakah "jatuh" ini?

    Dapatkah kita memakaikan kata jatuh saat melihat puisi yang menerjunkan dirinya berjejer ke samping? Atau membentukkan dirinya bergaya hujan yang turun ke bumi.

Abdul Malik :

dibawah spion mobil //
bergoyang kalimat suci //
saat roda-roda terantuk //
lubang atau gundukan jalan //

diatas kursi sebelah kiri //
tergolek sebuah amplop coklat //
polos tanpa nama //
pemberian cukong di restoran tadiAbdul Malik : dibawah spion mobil // bergoyang kalimat suci // saat roda-roda terantuk // lubang atau gundukan jalan // diatas kursi sebelah kiri // tergolek sebuah amplop coklat // polos tanpa nama // pemberian cukong di restoran tadi


      "Tanpa" yang meniscayakan menjadi pengiring kata "jatuh", menjadi titik bergerak saat sastra dan bahasa kita pikirkan sebagai sebuah pengertian, bahwa kata sastra dan bahasa ini, telah menjadi bagian yang paling prinsipil dari setiap keberadaan. Apakah azalinya setiap keberadaan itu, itulah yang menjadi gema dengan setiap bunyi ini akan menimbulkan nadanya.

     Kenyataannya kata "jatuh", ini kelak akan memuara dan kita bisa melacaknya, lewat apakah yang "jatuh" itu mula-mula "kata" atau sesuatu yang lain - "benda", misalnya. apakah benda ini yang jatuh dan lalu kita memberikan realitas kejatuhan itu lewat sebuah nama adalah kata jatuh. (jatuhkah kata-kata di dalam hati penyair afrilia utami saat ia membentukkan huruf-huruf menjadi penyokong utama puisinya, "mencari kapal portugis? Jatuh jugakah "nurani" manusia lewat bunyi "i" pembentuk musik dari ayunan bahasa abdul malik?).

    Agar benda-benda yang berjejer dalam bentukan ke samping, atau naik sebagai tingkatan-tingkatan susu bagi sang-sang anak di rumah, "jatuh" dari "rak"nya dan sampai ke rak-mini kita itu maka mula-mula kita mesti menjatuhkan benda lain berupa alat penukarnya - uang, kata penyanyi nicky astria, lagi lagi uang. tanpa uang rasanya adalah "pencurian" saat cctv di supermarket-supermarket melihat rak-mini kita itu diam-diam menyelinap keluar, melakukan "tanpa"-nya juga lewat bentukan satire abdul malik ini: jatuh ke dalam amplopkah nurani itu, yang digoyang-goyang lewat oto-puisi dengan kaca oto jadi permainan persamaan yang disembunyikan oleh abdul malik, yang suaranya, kerap saya lihat terlalu keras bergerak lewat udara menusuk ke amerika. 

0 komentar:

Posting Komentar