Begitulah suara berselang seling dalam diri, bergerak lewat jalan mengerti dan tak ingin mengerti - atau tak ingin memahami? oleh begitu luasnya dunia juga, kita akhirnya mengambil posisi, di antara mengerti dan tak ingin mengerti.
(atau tak ingin memahami kecuali menikmati?)
Menikmatinya saja dalam segi-segi yang indah serta penuh makna, barangkali makna dan indah itu, begitu khusus alias untuk diri kita saja, yang tak ingin mengerti, yang mengerti. dan lagi-lagi oleh luasnya, samar serta, di puncak-puncak terdalam lapisan-lapisannya, kita sungguh-sungguh memasuki lorong yang diputar-putar oleh pintu-pintu lorong itu.
Hidup dan dunia lebar, luas dan susah mengukur tepi-tepinya karena ia melingkar, dikecilkan saja jadi "Las Meninas", tempat seseorang memulai bukunya (the order of things) dengan gambaran dunia yang kini berhenti di kanvas pelukis dan si pelukis bergerak agak mundur ke belakang, mengamati lukisannya seolah ia mungkin ingin mengertinya, atau menikmati tarikan garis yang baru saja ia rekatkan ke kanvasnya.
"The painter is standing a little back from his canvas", seolah laku kita juga dalam dunia, bahwa kalimat itu seperti setiap diri dengan bahasanya, atau kita dengan dunia ini - agak mundur ke pikiran tempat jiwa kita merenungi dunia ini lagi.
Dunia inilah canvas tempat tangan kita yang mungil ikut melukisnya. (seseorang di sana berayun dalam irama hatinya sendiri: "Sebuah Doa Cinta di Al Multazam" (Ahyar Anwar), dan itulah "waktu" dan itulah "diam", kata seseorang yang lain - mungkin sedang mengenang kawannya juga, yang sedang berdoa dan kini boleh jadi ia telah tiada, itu - semoga mas Ahyar Anwar diterima di sisiNya).
Begitu rupa dunia bermain lewat ada dan tiadanya. Kelak sebuah puisi memunguti juga segalanya lewat "ulysses",
Were all too little, and of one to me
Little remains; but every hour is saved
Lihatlah hidup yang luas seolah lukisan itu: begitu hidup tak bertepi tapi "all to little", dan satu mungkin untukku seperti canvas pelukis itu, lukisannya milik dia dari dunia yang lebar tak ada tepi tepinya, reruntuhan dari ingatan kita, tapi tiap detik kita catat dalam jiwa sebagai ingatan. termasuk waktu juga, yang begitu halus di luar diri tapi kini, seolah kanvas itu lagi, berhenti di bahasa. tempat waktu berhenti mengalir, kecuali ia sebagai penanda, ruang bagi penanda lain adalah petanda jiwa kita, yang menggerakkannya ke induk dari kanvas lagi, berputar putar seolah tangan descartes yang masuk ke dalam mimpi, untuk besok keluar lagi, merenungi mencari sisa sisa kepastian demi cogito-nya yang alim.
"tahu" itu, dilipat olehNya dan sisa saja yang ia kerkahkan untuk kita.
Puisi di bawah ini juga mengerkah "little remains" untuk dirinya sendiri - ia simpan lewat "waktu" seperti doa itu, di multazam, rekannya berdoa dalam cara paling rahasia yang ia inginkan. seperti begitu rahasia juga kepergiannya. aku pulang, membawa waktu yang tercungkup pada diriku. disimpan sebagai kenangan, dari sisa sisa reruntuhan waktu dalam hidupku.
Aku ingat Martin Esslin, (the theatre of the absurd, hal. 353), ada nama "apollinaire" dan terutama ada kata-kata ini:
His universe is the play
Within which he is God or Creator
Who disposes at will
Of sounds gestures movements masses colours
Not merely in order
To photograph what is called a slice of life
But to bring forth life itself in all its truth
Iqbal
WAKTU
sungguh waktu menggerus kerak ingatan ku
membawanya dengan arus yang kadang pelan kadang pula
cepat
bagai kilat
waktu mengubur wajahwajah yang telah lama
pergi
waktu pula menggali mereka kembali
ada yang tampak samar tak jelas
sebagian masih teringat jelas hingga kerutan yang paling rahasia
bahkan suara mereka masih jelas terngiang
khas tutur kata berserta diksinya
"Latar bahasa"
Surat Martha kepada Henry,
"I got your last letter to me and thank you very much for it. I am sorry yo did not like may last letters. Why did you enclose the stamps? I am awfully angry with you. P.S. Do tell me what kind of perfume does your wife use. I want to know." Dikutip dari buku novel James Joyce, Ulysses, hal. 95.
Diam di dalam waktu Iqbal (Iqbal Marley Wordsworth), seolah-olah diam di ruang dan waktu panjang tokoh novel Ulysses, dipenggalan-penggalannya dengan cara membaca (sastra tak musti, dihayati dengan suatu pengertian utuh dari ujung ke ujung seperti klaim ilmu itu). Orang boleh menyentuhkannya ke bagian mana saja seraya melipat dan mengembangkannya sebagai tanda pula, bahwa dunia kita maknai seperti surat martha untuk henry tadi: kita ambil kata "selingkuh" di sana untuk kita luaskan ke arah, posisi yang begitu rupa kita dengan dunia: seolah-olah segenap tahu ini di tiap detiknya menebarkan parfum, mengirimkan pesan lewat surat tapi di akhirnya, di ujung itu, kita seakan dipermainkan oleh dunia karena ia terus mulur lewat kata diam-nya yang bukan membisu, tapi meminta agar kita terus mendekat tapi ia seakan horison, kata iqbal - menjauh lagi. jiwa iqbal yang resah dan indah, dalam dan mengembara, dibuatnya "lama" terdiam olehnya - seakan kita paham tapi merucut lagi, "tahu" yang "alim" gaya descartes yang telah kita kombinasikan ke gayaNya sendiri.
Iqbal, dalam lama, mengajari bahasa akan apa yang luput dan tertangkap itu, warna dunia - warna hatinya sendiri, termasuk, warna hati kita di segenap dunia yang memainkan bahasa sebagai tanda.
Aku seperti mengenalnya
sejak lama
padahal bertemu pun sangat langka
bersua tak usah dikata
sungguh
aku bagai mengenalnya
sejak lama
Orang rendezvous dengan bahasanya sendiri, tapi dengan begitu ia bertemu dengan hidup dalam kerangka dunia sebagai bentuk, dunia yang kasar tapi di balik yang kasat mata, ada yang terus tak kuasa tertangkap tangan. orang kembali ke hatinya sendiri, rendezvous, dan pertemuan kita dengan dunia, tak sudah-sudah ditangkap oleh bahasa lewat kata yang keluar dari tangan manusia. "lama" menjadi "baru" terus dalam kerangka waktu yang mencungkup pada diri. apa yang istimewa pada waktu itu? hati penyair menjadi sublime di dalam waktu yang ia gerakkan - atau iqbal sebagai penyair di luar waktu? kita segera terlibat, dalam permainan ruang yang bunyinya membawakan nada dari "lama" sebagai puisi, yang mungkin bisa menyorot ke waktu-nya itu.
Satire
Apakah Iqbal telah merusak bahasa yang begitu indah dibangunnya? "tiga gadis tirai bambu", katanya dan kita menikmati sensasi tubuh yang menjadi imaji. Pengingat yang seolah berlari, keluar dari dalam puisi, tampak digerakkan Iqbal dengan sadar:
"Melihatmu tak berbusana
Aku jadi Setan!!!"
Seolah-olah ia lelah dengan renungan tentang tubuh indah yang kini menjadi bahasa indah - ia tak menyarankan tubuh indah semata tubuh, tapi imaji imaji yang mungkin melampaui tubuh semata tubuh yang indah. menerobosnya naik dan karena itu si penyair mementungi bahasanya sendiri, lewat (seolah) bukan puisi lagi: aku jadi setan, seperti di "waktu", ia merenungi bergaya Kant yang "sublime", sebelum keluar dari pusat renungannya dan berseru parole saja; kini, puisi diambil alih oleh tata dari sound serhari-hari:
"akankah waktu membuat kita
bijak
ataukah waktu menjadikan kita
brengsek?"
Moral lagi atau kita letakkan: lelah lagi, tipikal kita manusia modern yang membawa masuk segalanya ke dalam pikiran, sebelum tak berdaya dan mulai memainkan satire menembak ke segenap lewat diri kita sendiri. kontemplasi, halus menyindir kemanusiaan lewat tepukan tepukan "brengsek" yang seakan merusak keindahan dari setiap waktu iqbal di atas itu.
kita menerima "setan brengsek" ini dengan tersenyum, menyaksikan dan ikut merasakan kelelahan manusia perenung dari dalam - dari dalam bahasa iqbal. iqbal? tidakkah kita terkenang juga dengan rekan dari pakistan? ini mutiara dari timur negeri kita.
"kerak"
Kecerdikan iqbal memakai kata yang langsung membawa ingatan kita pada intensitas waktu, kurasakan lewat "kerak" yang memang biasa dalam kosakata ilmu pengetahuan: kerak bumi misalnya. tapi entah mengapa ia bergerak ke arah domestik dari rumah tangga tradisional manusia indonesia. kita ingat nasi masakan ibu dan itulah "kerak", dari periuk waktu di masa kecil kita dulu. apakah tak boleh puisi kita nikmati lewat ingatan dari, sugesti penyair lewat, satu kata yang membawa kita kepada, waktu di hidup kita? Atau, kita ini hanya diri romantik yang merindukan rumah primordial kita lagi? tapi terhenti pada primordialitas kebudayaan karena langit begitu samarnya? langit harus kita turunkan kalau kita tidak ingin tersesat di cakrawala.
Untuk sebagaian, goethe hidup dalam bentuk murni tapi toh ia turun juga ke bumi. kerak, kukira bagian dari bentuk yang turun dari langit ke bumi. apakah oleh itu, tanpa sengaja atau memang sebuah teks bermain kita menyapa nyapa ibu terus? masakan, dengan kerak, itu hasil olahan ibu - yang melahirkan, seperti kini, dilahirkan oleh iqbal untuk kita nikmati dalam kerangka waktu. tenses, kita tak mengenal waktu seperti itu: apakah dunia melingkar bisa kita cegat lewat masa lalu, masa depan dan masa kini, manakala di pusat kekinian kita terus mengenang ke segenap waktu yang melimpah dalam hidup kita. ada ibu di sana tapi di sini, di saat waktu ini, kita mengenangnya.
"sungguh waktu menggerus kerak ingatan ku
membawanya dengan arus yang kadang pelan kadang pula
cepat
bagai kilat"
Waktu dan Pelipatan Kata
*lama
Bersama waktu kita terus mengalami pelipatan, polisemi kata dari waktu, yang tak nyata tapi lihatlah begitu nyata dunia penanda ini, menguburkan waktu yang tak nyata seolah dunia abstrak sekali lagi dilipat keabstrakkannya, tapi lewat bentuknya begitu konkret karena toolsnya itu adalan penanda.
waktu mengubur wajahwajah yang telah lama
pergi
waktu pula menggali mereka kembali
ada yang tampak samar tak jelas
sebagian masih teringat jelas hingga kerutan yang paling rahasia
bahkan suara mereka masih jelas terngiang
khas tutur kata berserta diksinya"
pergi
waktu pula menggali mereka kembali
ada yang tampak samar tak jelas
sebagian masih teringat jelas hingga kerutan yang paling rahasia
bahkan suara mereka masih jelas terngiang
khas tutur kata berserta diksinya"
Bukanlah puisi kita nikmati kecuali ia membawa kekaguman, pada sifat dunia konkret tapi pada kedalamannya (atomik itu), rupanya menyimpan potensi dunia yang samar - "waktu mengubur wajahwajah yang telah lama, pegi". kita terpesona karena gerak dari kata tangan mencangkul, seolah gerak tubuh burung yang menguburkan, dengan cara mengajari manusia anak adam, dengan cakarnya dengan paruhnya, kita menganomatopi gerak cakar dan paruh burung: dengan sekop menguburkan manusia korban kedegilan mesin perang di spanyol: sebuah percobaan ilmu pengetahuan, hasil olah otak, melindas rakyat tak tahu apa apa karena begitulah nalarnya: sebelum kujatuhkan bom terpilin ini kuuji coba kan dulu dan, di halaman rumahmu ya?
Ini di halaman hati iqbal sendiri, tangan tak kelihatan, mengubur wajah lewat waktu yang tak kuasa terpegang. ingin sekali, kita bermain memegang ujung waktu itu. tapi selalu kandas. oleh tangan kita bukanlah tangan waktu: yang tak nyata itu. tapi begitu nyata ia, seolah kita lihat wajah wajah yang pergi, dikubur oleh tangan waktu si penyair.
Apa yang terkubur di situ? puisi bermain main: wajah, katanya, yang kelak kugali lagi. wajah siapa? puisi sekali lagi bermain main, kali ini dengan tersenyum dan dengan genit berkata: wajah siapa aja, terserah km aja - terserah ingatan kita sendiri, karena tugas puisi, bukankah ia adalah sugesti? penyair masuk ke kamar rahasia bahasanya, keluar mensugesti kita pembacanya.
tak lagi relavan pertanyaan itu karena jangan jangan itu wajahnya sendiri - wajah kita pembaca juga. puisi jadi seolah manusia tengah berjalan, terjaga tapi pada saat yang sama: ia tertidur. kita berjalan di antara jaga dan bangun. mimpi mimpi tua kita yang lama dan baru, ada melesak di sana semua - di baris iqbal, tempat tangannya bangkit dan menghidupkan wajah yang telah lama ia simpan dalam ingatan.
"waktu pula menggali mereka kembali
ada yang tampak samar tak jelas
sebagian masih teringat jelas hingga kerutan yang paling rahasia
bahkan suara mereka masih jelas terngiang
khas tutur kata berserta diksinya"
ada yang tampak samar tak jelas
sebagian masih teringat jelas hingga kerutan yang paling rahasia
bahkan suara mereka masih jelas terngiang
khas tutur kata berserta diksinya"
Khas penyair, pejalan kebudayaan ulang alik dalam dunia kepemikiran ini. ya, waktu, yang diam di "lama" dan di baru. waktu iqbal, yang melimpah melalui lorong lorongnya - jadi waktu pembaca. penyair menyediakan the mirror bagi kita bercermin.
Iqbal
WAKTU
WAKTU
sungguh waktu menggerus kerak ingatan ku
membawanya dengan arus yang kadang pelan kadang pula
cepat
bagai kilat
waktu mengubur wajahwajah yang telah lama
pergi
waktu pula menggali mereka kembali
ada yang tampak samar tak jelas
sebagian masih teringat jelas hingga kerutan yang paling rahasia
bahkan suara mereka masih jelas terngiang
khas tutur kata berserta diksinya
betapa waktu begitu bersemangat membawa kita
berlari jauh hingga acap lupa diri
betapa waktu melemahkan hingga pada selsel
pada tulangtulang
pada sumsum
pada otak
ah
betapa waktu begitu kuasa
memaksa kita belajar sedari kecil
agar bertahan hidup
lalu membuat kita beranjak tua dan pikun
kembali nirilmu
akankah waktu membuat kita
bijak
ataukah waktu menjadikan kita
brengsek?
Molino-Morowali, 07Nov2013
sungguh waktu menggerus kerak ingatan ku
membawanya dengan arus yang kadang pelan kadang pula
cepat
bagai kilat
waktu mengubur wajahwajah yang telah lama
pergi
waktu pula menggali mereka kembali
ada yang tampak samar tak jelas
sebagian masih teringat jelas hingga kerutan yang paling rahasia
bahkan suara mereka masih jelas terngiang
khas tutur kata berserta diksinya
betapa waktu begitu bersemangat membawa kita
berlari jauh hingga acap lupa diri
betapa waktu melemahkan hingga pada selsel
pada tulangtulang
pada sumsum
pada otak
ah
betapa waktu begitu kuasa
memaksa kita belajar sedari kecil
agar bertahan hidup
lalu membuat kita beranjak tua dan pikun
kembali nirilmu
akankah waktu membuat kita
bijak
ataukah waktu menjadikan kita
brengsek?
Molino-Morowali, 07Nov2013
0 komentar:
Posting Komentar