Rabu, 28 Januari 2015

novel nugroho suksmanto, lauh mahfuz

     

makna yang membentuk lauh mahfuz


       Sementara termenung memikirkan gagasan (novel) fakta dan (novel) fiksi, yang dapat kita lihat lewat beberapa "kata" menjadi pintu masuk bagi peristiwa kekinian, misalnya disebutnya dua peristiwa yang terjadi dalam level nasional (G 30 S, tumbangnya rezim soekarno, soeharto, yang dulu pernah diyakini sebagai satria piningit), hingar bingar yang berlangsung di dunia internasional, mengambang ke beberapa nama adalah saddam husein, osama bin laden, george w bush, khaddafy, obama, nato, hancurnya word trade center, gedung menara kembar di amerika, nama-nama yang bukan fiksi tapi fakta. 

      tapi novel membuat dikotomik saat apa yang "fiksi", mirip khayalan atau setidaknya, sifat faktanya hanya dalam keyakinan dan walau ia tertuang dalam bahasa, bahasa kitab suci, tak urung bahasa itu meruang sebagai iman dalam hati. dus, keyakinan, sehingga watak faktanya hanya pada bahasa bukan seperti nama dan peristiwa yang terpampang. itulah dunia dari ujung sini dan ujung sana. imam mahdi ("dan masyarakat muslim pinggiran yang memimpikan kedatangan imam mahdi" - lauh mahfuz, hal 7), serta lauh mahfuz itu sendiri, adalah ujung sana, yang dihadirkan, di dikotomi, dengan ujung sini, hidup yang menjadi pengalaman konkret kita. 

       andai bertolak dari linguistik saussure, atau kita bisa meminjam saussure untuk melakukan discourse akan makna, mula-mula, maka makna (novel ini), bukanlah datang dari "satu kata" semata tapi relasional dari "dua gejala". itulah gejala langit dan gejala bumi, yang kini berkorelasi membentuk makna novel. jejaknya - isinya, lewat riwayat panji yang memulai kisah dirinya berburu wirog. panji sebagai anak kini bisa kita terakan sebagai manusia kecil alias manusia kalah, di satu arti, atau manusia bumi melawan manusia langit di arti yang lain, atau kalau kita turunkan ke bumi dan mulai memekarkannya ke dalam level antarnegara, adalah negara adidaya serta lawannya, seperti irak, atau kita. george w bush atau khaddafy. 

      akhirnya negara menjadi kata dan pun manusia, menjadi kata seperti dunia jauh langit dan dunia dekat bumi, juga menjadi kata. dua keadaan kata yang berkorelasi membentukkan maknanya sendiri. dunia gorong gorong, dunia bawah, dunia kecil yang adalah hidup panji kecil, itu seakan menjadi isyarat dari dunia kecil yang sedang melawan dunia besar. besar lalu seolah mengatribusi kepada setiap peristiwa yang sedang terjadi di dunia kecil. kucing, atributnya, dan mati; tikus juga, tapi tak/belum mati, bergerak ke sana ke mari dikejar-kejar aku yang kini membesar - aku panji. 

      kita lalu terlibat dalam lapisan itu: besar dan kecil, dibaca dari tengah berkorelasi dengan apa kata itu. panji besar apabila didikotomikan dengan kucing, atau tikus. tapi ia pada saat yang sama ia sedang kita peragakan sebagai representasi ketimpangan relasional antara yang kuat dan yang lemah. setidaknya saat tulisan ini ada dalam dua bab lauh mahfuz, sebagai metode cara ia bekerja - membelah novel ke dalam bagian bagiannya.




          "editing"


      Dunia besar dibocorkan lewat dunia kecil, melalui gerak dari bahasa novel yang bercerita tentang panji, yang berburu wirog, tapi bahasa bernama linguistik yang kelak disentuh oleh semiotik, ditarik menjadi gerakan strukturalisme dan post-nya, itu sebuah dunia di mana kabar akan struktur mula mula bekerja di dalam sebagai tehnik membangun cerita, sebelum cerita lewat ide yang dipetik dari luar itu melemparkan "dalam" ini lewat konvensi penutup novel (telah dua kali gerak ini diperagakan, sehingga ia menjadi cara bukan saja menutup bab novel tapi), sekaligus melonggarkan struktur/bentuk novel ke isinya, yang mekar menjangkau ke luar itu.

       kita turunkan, penutup bagian 2 dan dari sini kita masuk bagaimana bagian kedua ini bekerja, melata lewat sebaran hidup manusia panji yang menceritakan masa kanaknya lewat pelbagai genre itu.

      "tiba tiba aku tersentak ketika CNN menampilkan tayangan masyarakat sipil yang tewas mengenaskan di irak dan di afganistan. menjadi korban perang dan permusuhan yang masih tersisa. sementara, osama bin laden masih saja tetap menjadi buronan, dan ternyata, tertangkapnya saddam husein, yang mengakhiri perburuan panjang seorang penjahat perang, belum juga meredakan ketegangan dan bahkan memunculkan pergolakan-pergolakan baru.

     Jangan-jangan seperti perburuanku terhadap wirog biadab itu, yang hanya melahirkan realitas kepedihan dan kegembiraan dalam khayalan!"

     Sukar sekali kita menahan limpahan dari kemungkinan-kemungkinan makna yang walau individual - dunia dinamik dari pertemuan, atau perbenturan, kita dengan bahasa, dengan novel, misalnya kini mengapung CNN sebagai mata, bahwa bukan semata atau ia telah melampaui bentuknya: televisi, tapi telah bergerak menjadi mata, melihat, dan ini artinya sang novelis telah dengan demokratis menghimbau mata lain untuk bersama matanya, melihat apa yang ia lihat.

     apa yang menarik, apa yang ia pandang, itu adalah mata yang mekar dan tumbuh, mata yang bergerak ke luar - ke kejadian politik masa kini, masa perang amerika irak itu (rasanya perang itu takkan pernah berhenti: dulu inggris yang menjadi amerika dan kini giliran amerika yang leading di depan inggris - kapan indonesia?), lewat mata juga beralih ke hidup panji kecil, tempat di mana bentuk dan jenis mata mengucapkan banyak sesuatu.

      berburu wirog itu menjadi mata yang berbicara, akan banyak hal, mata lewat air mata sedih, tapi mata lewat air mata marah juga. diam diam bentuk bentuk mata itu memang memendamkan banyak hal. mata ini begitu unik, setelah ia naik menjadi mata langit, kini bergerak turun sebagai mata bumi. melompat lompat ke segenap dunia, sebelum akhirnya, menjadi mata yang memandangi dirinya sendiri, adalah masa lalu panji.

       kita ingin menjadi mata bersama mata di dalam novel, melihat kejadian kejadian yang menjadi isyarat mata jauh dari novel ini kelak. melalui mata batin, mata bahasa kita kini mengikuti gerakan mata pena sang novelis yang tengah meminjamkan tubuhnya lewat tubuh orang lain, tubuh panji.


             mata


       jadi nama pena di lengan kita itu kini adalah mata - apakah oleh sebab ini maka ia disebut mata pena? lengan nugroho suksmanto bermata, lewat novelnya mata di lengan ini menuliskan apa yang dipandangi oleh matanya. sambil menulis, ia meminjam mata lain adalah cnn, agar kita juga melihat dengan mata kita, kejadian kejadian apa yang dipandangi oleh mata batin nugroho. sebenarnya, mata seperti apa yang tengah bekerja di negeri kita ini? mata dari nurani yang tumbuh sebagai mata batin di dalam?

       atau mata dari laras senjata yang sedang mengarahkan ketajaman pelurunya ke dada kita. begitu rupa tampaknya, tanda itu bergerak ke sana ke mari. setelah dari mata langit (lauh mahfuz), kini ia jadi mata panji yang melakukan kegiatan berburu wirog. apakah hidup ini puisi, sehingga daerah yang paling jauh kuasa menjadi daerah yang paling dekat, sebelum melemparkan diri kita kembali ke jauh - ke betapa susahnya mencarikan tiap penyelesaian saat orang berhadap-hadapan lewat kebenaran matanya.

      jauh kejadian-kejadian di dalam dunia itu, tapi mata mengambil lapisan-lapisannya, agar setiap mata yang ingin memandanginya dapat pula melihatnya.


       aporisma barthes : 

         "structural man takes the real, decomposes it, then, recomposes it."

           - bab 9 buku paul h fry (theory of literature), linguistics and literature, hal . 112 -

      lauh mahfuz berisikan ketetapan yang tak terlacak, tapi jejaknya hidup dalam peristiwa langsung, atau peristiwa langsung yang kini tertahan, mengalir ke dalam bahasa; itulah fiksi, yang kokoh sebagai fakta dalam bahasa. seperti kokohnya alur nasib yang bekerja di peristiwa panji kecil yang perlahan-lahan mengungkapkan siapa dirinya. 

     apakah bisa kita mengambil aporisma barthes untuk keperluan kita sendiri, bahwa racun tikus itulah saat panji berada dalam "struktural man takes the real", panji nyata mengambil racun tikus, untuk meracun tikus, agar tikus mati. sedangkan tikus itu hidup sebelum andai ia mati, maka keadaannya adalah, dalam keadaan "composes it", tapi gerak dari niat yang diwujudkan dengan mengambil racun tikus dan memasangnya, adalah "decomposes it". 

      semua itu agar tercipta ketenangan kembali.

       jadi "recomposes it" bukanlah menyusun, menata kembali untuk menghidupkan tikus yang memang telah "terurai", hidup sebagai sebuah fakta wirog dalam novel, tapi membunuhnya, men-"decomposes it". 

       inilah sebuah gerak yang bekerja dan itulah kebebasan penuh pada manusia, sebelum kebebasan itu terbentur oleh nasib yang datang dari langit, dari ketetatapn lauh mahfuz akan umur tikus dan umur kucing, karena kucing itu yang ter "decomposes it", bukan tikus itu.


   berada di bab 2 novel lauh mahfuz, tak putus-putusnya saya merenungkan keberadaan juru bicara novel dalam hubungan dengan muasalnya, novelis. bahwa kita kini menghadapi panji yang masih anak-anak, hidup dalam dunia anak-anak tapi kelak muncul, di akhir, sebagai dunia orang dewasa. ada perkembangan narasi tapi bukan subtansinya yang menarik hati, tapi tentang keberadaan atau hakikat sang pencerita. saya ingin mewacanakan ini dengan cara menjelajahinya dari sudut ke sudut, tapi kita juga, ingin menikmati bagian yang menarik dari cerita yang mengharukan, yang dibawakan dengan beberapa sudut pandang dalam novel.

   apakah andai kita terpukau pada gaya, cara bercerita aku, kita lalu hanyut dan tak lagi punya kesempatan menikmati isinya, kecuali cara bercerita itu? hal ini membawakan kita kepada dunia dikotomi itu: dunia langit lewat lauh mahfuz sebagai dunia samar tapi bekerja isinya ke peristiwa di bumi. apakah ini yang menarik kita, atau memang kualitas bahasa, yang menjadi cara aku ini mengisahkan dirinya. 

    tak mungkin kita menulis semata hanya bermain di besaran, disemacam alur luas yang telah kita utarakan sebelumnya. akhirnya kita, setelah "membesar", akan "mengecil". artinya masuk ke dalam cerita dengan tema dan sub tema sebagai pegangan di tangan. lauh mahfuz itulah tema, akan mungkin metafor seperti yang diyakini oleh iqbal. tapi isinya, bukan lagi metafor tapi kehidupan nyata, setidaknya kenyataan dalam novel, kehidupan fantasi dalam novel.

Tuhanku

pena kedua itu kini telah jadi pena ketiga, sesaat puisi Tuhanku itu dilepaskan dan mengambil bentuknya yang final - tak ditimbang lagi apakah namanya, misalnya Tuhan atau Tuhanku. Pertemuan gema bunyi, yang membuat u sebagai ujung ku itu menadakan lain dari semisal ia hanya berbunyi Tuhan saja. Tuhanku langsung menyambungkannya dengan segenap ada, ada-mahluk ini, yang kita tahu adalah ciptaanNya lewat gerakan pena pertama yang menulis, secara gaib.

Kelak ia membisikkan setiap hal ihwal ke setiap ada-nya, tak sebegitu gaib seperti saat ia pertama mengajarkan bahasa kepada ada-nya di awal mula yakni adam. ini andai kita mengacu kepada bentuk Tuhan dari kitabNya sendiri, atau mengacu juga ke puisi dalam novel lauh mahfuz nugroho suksmanto ini. Kita kehadiran bentuk tanpa bentuk - bentuk yang tak terbayangkan, dari diri setiap ada yang berbentuk dan nyata ini. sebaliknya Tuhan tak tampak, tapi begitu nyata ia mengambil tempatnya di puisi Tuhanku ini.

Korespondensi langsung terciptaa saat "ku" menjadi penghuni hubungan Tuhan dan manusia. Seperti apa relasi itu, itu yang menarik hati karena bukanlah sebuah kebetulan, novel langit ini memasang segera setelah alinea pertama, puisi Tuhanku dengan latar lukisannya - di ruang kerja tokoh novel. atau di ruang nyata novelisnya juga? Kita sedang menghadapi bahasa, walau ia akan selalu terhubung dengan pengarangnya.

Jadi posisi novel ini membiarkan saja, dan kita beroleh Tuhan yang amat imajinatif, betapa Dia hanya melihat dari setiap gerakan pena pertama-Nya di langit, lauh mahfuz itu, yang lembar demi lembar dirinya sebagai buku langit dihiasi oleh pena langit dan setiap tinta itu adalah riwayat ada di bumi.

Inilah Tuhan yang pensiun, seperti kelak kita semua ini, rehat dari rutin - pensiun. akhirnya, parpipurna tak lagi bekerja: pensiun abadi, mati. mati adalah penisun yang tak lagi diatur atur oleh negeri negeri. kita mati, selesai, tanah, yang merawat tubuh kita itu, bukan order yang direkatkan ke tubuh. tanah yang bijaksana, seperti puisi Tuhanku ini juga, melingkarkan tubuh kita ke arah arah tapi dalam keadaan pasif. jiwanya telah pergi, diambil alih oleh "burung ponik" baru.


occasionalism


      Puisi Tuhanku itu segera membawa kita memasuki lapisan-lapisan dan di setiap tingkatan kita akan berjumpa dengan lapisan lagi. Lapisan arah besar dari gerak ke luar lewat keadaan seluas alam raya yang dibayangkan novel, serta pengalurnya, cerita novel. Bahasa sementara itu tak kuasa menghindarkan dirinya dari kualitas puisi, walau pun yang kita baca ini adalah novel. Lewat plot realis cerita mengikuti alur seolah telapak kaki, logis di jalannya sendiri. Lewat teropong panji, atau teropong ini mekar ke arah narasi, kita pun bertemu dengan posisi isi puisi Tuhanku: kejadian demi kejadian dalam dunia.

     dua dunia yang terbentang, diapungkan sebagai dua isme dalam novel. dihadap-hadapkan dalam wacana besar antara george w bush dan lawannya, saddam husein. tapi persis di sini dunia global dipungkas oleh pursuit yang memiliki watak puisi - cerita itu berakhir sebagai tanda. "arogansi george w. bush dan kesannya pada sosok serta perangai saddam husein, moamar khaddafy serta osama bin laden, mengingatakan panji pada peristiwa yang kemudian mengawali perjalanan spiritual hidupnya. ingatan itu tertuang tentang dalam sebuah catatan tentang 'berburu wirog'; yaitu tikus besar menjijikkan penghuni selokan dan gorong-gorong bawah tanah."


        lapisan, jarak :

          keindahan bahasa dan keindahan manusia


     Jarak menarik kita kembali, seperti ditariknya jarak yang dilepas lewat cerita masa kini yang berskala global, tetapi dengan jarak yang dijauhkan, ke masa lalu, kita segera mengalami lapisan saat membayangkan nugroho suksmanto sebagai novelis: ia menuliskan bagian panji yang akhirnya menjadi labirin waktu; saat nugroho mengenang ke belakang, saat itu juga yang men-dekat-kan apa yang dibelakang itu melalui hadirnya tokoh panji. saat panji hadir, nugroho ikut ke belakang bersama kenangannya akan panji dalam rekaan.

      jadi begitulah kita, selalu berada dalam jauh dan dekat. akhirnya, terlibat dalam dunia tanda yang menjadi ciri khas sastra dengan genre puisi. ini novel, tapi tikus besar yang diburu panji, wirog, tak urung membuat asosiasi kita bergerak untuk mendekatkan apa yang menjadi nafsu-nafsu dunia sebagai bayangan gorong gorong dalam jiwa manusia.

     itulah tanda, dan itulah permainan lapisan dalam novel, saat pengarangnya, tak serta merta kita nafikan seperti kehendak beberapa orang di negeri kita, yang pandangannya terbatas itu. mereka menolak biografi pengarang/penyairnya dimasukkan sebagai satuan analisa, seolah olah mereka yakin bahwa itulah azalinya sastra.

     bahwa sastra adalah dunia otonom dan apa yang otonom adalah ciptaan. mereka belum tahu akan kehakekatan ada yang tersambung dan saling terhubung. bahwa tak suatu ada pun yang sanggup memutuskan dirinya dari lingkungannya, dan pengarang, adalah lingkungan pertama dari setiap karya sastra yang diciptakan.

    tetapi dengan begitu kita memasuki lapisan lagi, adalah pembayangan akan dunia pengarang dan terutama saat ia termenung di meja kerjanya, menuliskan apa yang ingin dijadikannya kontras tanda.

     seperti lembar-lembar kertas tempat makna terdorong keluar, demikian juga pengarang: keduanya tak bisa kita bawa masuk ke dalam badan. makna itu keluar dari lembaran lembaran kertas seperti makna menjalar dari letupan letupan bunyi dari tubuh pengarang. sama halnya, saat kita membaca dari halaman dengan saat kita membayangkan, apa yang kita baca itu kini lewat udara dialihkan oleh pengarangnya.

     mereka adalah lembar lembar kertas juga, dan untuk pertama kalinya kata lauh mahfuz kita baca dari novel ini (hal 7), dalam formasi dengan makna-makna lain yang berupa diri pemimpin.

    saya kutip:

    "seperti masyarakat diaspora yang waktu itu memimpikan kedatangan mesias sang juru selamat, dan masyarakat muslim pinggiran yang memimpikan kedatangan imam mahdi, kini rakyat indonesia merindukan kemunculan satria piningit yang mampu mengubah nasib dan suratan yang digariskan dalam kitab tuhan yang nyata dan terpelihara, lauh mahfuz, untuk menghadirkan kehidupan 'gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja'." apa itu? penjelas di bawahnya (novel ini memakaikan referensi bagi semisal apa yang ia italickan): masyarakat adil makmur aman sentosa. (3)

      "novel fakta dan novel fiksi"

   Itulah keindahan, saat mata kita membaca kita melihat seseorang di dalam bahasa, kejadian-kejadian, ploting yang ditumpukan ke alur pembentuk kejadian dalam bahasa. bahwa isi-gelisah itu mungkin harus kita mengerti dari upaya yang dibukakan di dalam bahasa, saat lauh mahfuz sebagai novel, jadi bahasa, mengatakannya untuk kita,

     "kini rakyat indonesia merindukan kemunculan satria piningit yang mampu mengubah nasib dan suratan yang digariskan dalam Kitab Tuhan yang nyata dan terpelihara, Lauh Mahfuz, untuk menghadirkan kehidupan gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja."

    jadi sebagai bentuk, maka bentuk novel itu sebagai bahasa memancarkan keindahan, lewat pemilihan pokok soal novel yang menjadi payung sedemikian lengkap tapi penuh dengan kemungkinan-kemungkinan, adalah lauh mahfuz. gelisah lalu menjadi kode yang ia sembunyikan, dan kita mencarinya ke halaman-halaman novel. novel itu sendiri, telah meringkas "gelisah"nya dan akhirnya membuat dunia perlambangan akan gelisah. tikus besar, wirog, panji yang menjadi juru bicaranya, adalah pecahan pecahan kejadian dalam novel yang jadi pengikat gelisah.

    seolah-olah bagian gelisah itu adalah sebuah bangunan dari keutuhan novel yang akan menceritakan isinya, atau dunia luar yang dipajang dalam bahasa - jadi dunia luar itu dipetik, dibuat kecil sebagai bahasa adalah gelisah. ada pun isinya tinggal besar dan luas seperti yang kita kenali serta jalani. pengecilannya, gelisah, membuat bingkai novel telah berhasil ditegakkan sebagai sebuah pokok yang akan ia arungi.

    Keindahan dalam bahasa, dan kini kita boleh pergi ke keindahan di luar bahasa adalah momen di mana seseorang menulis - bahkan setelah tulisannya selesai kita merenungi tulisan itu, lalu melipatkannya seraya merenungi penulisnya juga. semua terjadi di dalam pikiran dan semua akan masuk ke dalam pikiran (tak mungkin kita menjadikan gelas yang akan dituangi air, selalu selubung diri kita itu adalah dunia yang halus, tempat air yang juga halus itu tercurah ke dalam), atau seperti kini, berjalan dan tercurah ke luar - ke dua arah sekaligus adalah bahasa serta pengarangnya.

    Membayangkan pengarangnya menghidupkan novelnya lewat bahan, sang pengarang yang faktual saat menuliskan bagian gelisah, atau ketika merancang totalitas novel lalu memetik imaji lauh mahfuz di langit tinggi, memutuskan untuk menjadikannya sebagai etalase pemikiran dan perasaannya, lalu dari sini ia merancang dengan daya simpatik bahwa upaya yang diam diam untuk mengubah garis dari pena gaib di langit, pena pertama, dalam kerangka laku segenap ada adalah pena kedua, telah membuat sang pengarang menjadi daerah imaji penuh keindahan juga. ia jadi novel fakta bersama novelnya adalah novel fiksi.

    Tapi lalu kita itu sebenarnya menghadapi keterbatasan bahasa, mana fakta dan mana fiksi. kenyataan, bahwa segenap dunia luar tenggelam ke dunia dalam - sifatnya jadi fiktif, rekaan yang kita tidak tahu selain diri kita sendiri. fiksi dan fakta yang bergulir menjadi bahasa dan bahasa memasuki lapisan saat ditarik ke setiap arah oleh pembacanya. tapi di dalam diri pembaca, keadaan yang tak kita ketahui itu mulai lagi. akhirnya ia sebuah lingkaran bernama lapisan keindahan yang membuat keindahan itu tidak lagi menjadi semata hak novel, hak bahasa, karena pada kenyataannya ia telah berbagi peran dari setiap ada yang melingkupi novel - misalnya pengarangnya, atau bayangan kita akan pembaca novel, serta diri kita sendiri, saat kini ditempatkan ke luar, kita yang berpikir ini, memisahkan di ruang kesadaran kita itu, bahwa ini pikiran saya dan ini saya yang sedang merenungi sepenggal pikiran saya.

     pikiran saya itu jadi seolah novel lauh mahfuz itu: ia ada di luar bersama pengarangnya serta pembaca lain, membentuk realitas ketiga adalah pena ketiga. dan inilah lapisan, yang terus bergerak melingkar menempuh setiap tingkatannya yang mungkin. (4)

0 komentar:

Posting Komentar