Rabu, 28 Januari 2015

Raning


Raning


"Sayap Malam"

"Tawa yang terasa pahit di lidah rasa".

   Kalimat di atas ini juga. ia bagian alinea ke-4 cerita raning, yang dramatis itu. oleh dramatisnya, maka aku menolak masuknya "rasa", karena kukira, ia lebih cepat sampai dan begitu menusuk saat berhenti dalam bentukan: di lidahku. kita mengerti permainan sang pengarang saat vokal a itu menariknya. tapi gema a ini membuyarkan efek dramatis yang memang ada di cerita ini. maafkan aku menghendaki pun ujung huruf harus sesuai denga maksud utama karangan. jadi rasa itu, aku kira musti menepi. biarkan saja ia berhenti pada: di lidahku.

   Di depan cerita raning, "cahaya di kejauhan", sebuah cerita yang memenuhi standar untuk dimuat di koran, panjang, dan jernih cara berceritanya. tapi kukira aku lebih suka sama "sayap malam" ini. mungkin karena sayap malam ini lebih menyerupai cerita yang mengorientasikan bahasa seandainya kita bandingkan dengan cahaya di kejauhan. sayap malam ini cerita yang bagus. tapi dua bagian terakhir menurutku tidak berimbang kekuatannya.

   "Diri masih bisa dihibur, hati tak lagi merajuk, dan nyeri menyurut. Tapi mata menolak mengerti. Lelah menahan perih, letih menanti dibuai mimpi, ia tumpahkan batu-batu apinya sendiri.

    "Telah kupecahkan batu-batu api dari mataku. Kupunguti, kuhamburkan ke wajah hujan. Makin kobar. Melepuh jemari, batu-batu api membakarku sampai pagi. Kemudian hujan pergi, angin tak peduli. Kau?"

   Sebenarnya tidak juga: pada "diri..." itu kita masih melihat kekuatan bahasa, di sini: "tapi mata menolak mengerti", tapi tidak pada: "diri... hati tak lagi merajuk", tapi mungkin "nyeri menyurut", masih bisa kita terima dalam pengertian puncak bahasa di sini. Juga: "lelah menahan perih", tapi kukira menurun saat di "letih menanti dibuai mimpi", kalah jauh ia dengan, "ia tumpahkan batu-batu apinya sendiri", ini puncak bahasa juga.

   Memuncak lagi pada, "telah ...", indah sekali, tapi "kau?", nah "kau" ini menghancurkan puncak yang telah diraih dua bagian dengan catatan ini. "kau", kukira tak lagi dibutuhkan: biarkan saja penghayatan personal si aku prosaik atau si aku pencerita saja yang ada. kau itu seolah mengajak orang lain tiba tiba masuk - pembaca, kukira, tak bisa diprovokasi lewat jalan memaksa seperti itu. pembaca sudah sejak dari awal melibatkan dirinya dengan cerita yang menarik ini.

   (Ingat cerita af - afrilia, maksudku, saat membaca cerita ini. hutan kayu, misalnya, atau puisi puncak afrilia: (di) hari kematian kita, di antaranya. itu bagian dari puncak puncak bahasa yang sungguh tak harus kalah dengan puncak puncak bahasa kita di mana pun.)

   Indah sayap malam ini - ia bukan, "sekerat kisah di sayap malam", terlalu ramai, lebih dramatis: sayap malam saja, kukira.




SEKERAT KISAH DI SAYAP MALAM


Malam kembali. Aku bertanya-tanya; sedang apa kau sekarang, apakah di antara ribuan detik yang kaulewati ada aku di dalamnya? Tanyaku dijawab tanya. Malam bungkam, enggan ditanya.

Aku masih seperti kemarin, dan kemarin-kemarinnya lagi. Masih, aku bicara dengan siapa entah dalam tempurung kepala. Biasanya aku juga bicara dengan dinding kamarku. Sekarang sudah jarang. Kuperhatikan, dia makin dingin, semakin tua; penuh flek coklat kehitaman. Pun aku.

Waktu. Memberi banyak, sekaligus mengambil sebanyak yang ia beri.  Dia tambahkan jumlah hari di saku usiaku dengan rupa-rupa cerita di dalamnya. Tapi saat itu juga ia ambil sisa sempatku, dan apa-apa yang ada padaku; hitamku, terangku, tegakku, kuatku, …. Setiap bagianku.

Aku tidak tahu, sampai bila waktu mengisi saku-ku. Ketidaktahuan ini buncahkan gundah. Selimut tak cukup memberi tenang pada geliatnya. Mungkin semua itu  menggelikan. Aku pun kadang tertawa sendiri. Mentertawakan kenaifanku. Tawa yang terasa pahit di lidah rasa. Anehnya, tak hendak juga ia kuhentikan.

Aku melihat seseorang, tapi kupikir, justeru itu aku. Terkapar di tengah ruangan kosong, sendirian. Memanggil dan mengajak bicara seisi rumah. Berharap ada yang datang menolong, setidaknya menyahuti. Tak satu pun, kecuali deru yang memukuli dada. Bersahutan dinding ke dinding. Duhai, adakah yang lebih api dari tungku yang kehilangan api.

Di luar sana, hujan mendera. Merampas setiap percik api. Dan angin …. Ah, mereka bersekutu! Melemparkan batu-batu beku, membakar tungku: aku.

Kuhibur diri, kubujuk hati, kurayu nyeri; pada akhirnya semua akan berakhir, kini atau nanti--setiap napas akan berhenti bila tiba saatnya menepi, bersendiri.

Diri masih bisa dihibur, hati tak lagi merajuk, dan nyeri menyurut. Tapi mata menolak mengerti. Lelah menahan perih, letih menanti dibuai mimpi, ia tumpahkan batu-batu apinya sendiri.

Telah kupecahkan batu-batu api dari mataku. Kupunguti, kuhamburkan ke wajah hujan. Makin kobar. Melepuh jemari, batu-batu api membakarku sampai pagi. Kemudian hujan pergi, angin tak peduli. Kau?


Palembang ||18012014||

0 komentar:

Posting Komentar