Minggu, 25 Januari 2015

Sepasang Jemari Afrilia


Mulai Dari Prosa

     Itulah niatnya, mengambil beberapa bagian, sebelum saya membaca cepat cerita linda lagi dan menghabiskan cerita sepasang jemari afrilia utami, tempat saya mengambil jalan memutar saat memandangi puisi, agar, mungkin, makin terasa beda puisi dan prosa walau, keduanya, bagiku sama saja sepanjang genre yang dipilih seniman itu berhasil dalam pengucapan. Tapi walau sama kita ingin membuat penegas di kedua genre ini, dan oleh kehendak ini, sejenak kita melingkar melalui jalan cerita, katakanlah semacam "mengepung" kucing, gurun dan kunang kunang itu. Kita dekati mereka dari "makan malam" Linda Christanty dan "sepasang jemari" Afrilia Utami ini, dua pengucapan sastra yang membawakan gaya merenung, sehingga nada kontemplasi, menggayut di setiap tarikan kalimat dalam bahasa kedua pengarang.


     Menyimpang sedikit memberikan data pribadi, atau untuk mengalami kepenuhan sastra lewat diri sendiri (data pribadi itu), kita boleh bercerita bahwa tampaknya ada nasib di bahasa itu, di luar "kucing" dan "kunang-kunang" yang memang lain. Bahwa sajak "gurun" itu membawakan bunyi sedih, dan kita memperbandingkannya untuk melihat dua gerak bahasa, yang bersifat surealistik seperti sajak kucing dan kunang kunang, tapi kemudian nada dari bunyi sedih yang keluar dari kemurungan si aku di gurun, itu difasilitasi oleh kehadiran bunyi yang lain dengan nada yang sama, adalah bunyi dari cerita sepasang jemari Afrilia, yang membawa ingatan saya oleh kata Ayah di sana, dengan makan malam Linda, atau kini, hadir juga secara bersamaan puisi Saifullah S yang memasang, dari "Beberapa memoar", "ayah bagi segala". Kita tidak merekayasa kehadiran bahasa-bahasa itu, kecuali menafsirkannya sebagai permainan nasib bahasa, yang kini kita ikuti.

      Cerita pendek atau novel, memang bukanlah tempat yang nyaman bagi metafora dalam pengertian yang dipakai oleh puisi, walau metafor, bukan pula mustahil dikeluarkan oleh pembaca darinya, seperti misalnya, dalam makalahnya penyair Goenawan Mohamad berkata bahwa "metafora saya adalah nyai antosoroh", jadi bagi penyair kita itu, tokoh dalam roman besar Pramudya itu bisa dijadikan sebuah sama, untuk nasib diri di luar saat sang penyair mencoba melihat apakah yang bisa dipegang, dipandang, sebagai tempat kembali andai kita melihat dunia kini dari masa lalu, setidaknya masa lalu dari bahasa adalah novel - novel pram itu.

     Agaknya cerita linda bisa kita gerakkan ke sini walau satuan dalam cerita linda tak bergerak ke napas cerita afrilia, yang begitu kuat dunia metafor mulai dari, disamakannya sepasang jemari itu menjadi pengucapan dua nasib dari tokoh di dalam cerita afrilia. sebenarnya meja makan, dalam pengertian yang luas, bisa pula kita pakai sebagai dialah metafor seperti esai rocky gerung mengenakannya untuk sebuah cerita pendek pemenang buku kompas, cerpen nukila amal. meja makan dan koki yang memasak untuk memasok makanan di meja makan, dalam cerita pendek nukila amal itu, adalah kiasan bagi meja makan kita bersama adalah hidup yang nyata ini.

     Untuk sesaat kita seakan kehilangan apa arti metafora, suatu imajinasi yang dibangun para pengarang-penyair itu, saat mereka letakkan ke dalam imaji, kata, yang telah meruntuhkan, atau mengubah, dirinya dari struktur verbalnya menjadi kegiatan kata dengan fungsi puitik. metafor berasal dari kepuitikan ini, yang tak lagi menjadi kata biasa walau, pun saat ia terpasang sebagai cerita (pendek).

      Bagian-bagian dalam cerpen linda, memperlihatkan kalimat-kalimat komunikatif walau ia bersifat komunikasi, tapi begitu rupa menjadi dunia representasi bagi suatu kehilangan. Ia memang lain, kalimat-kalimat linda ini, dengan katakanlah misalnya sajak saifullah s tadi. beberapa memoar, yang mulai mengungsikan kita kepada ingatan, dan tinggal keterampilan kerja sama kata saja, akan menguras setiap masa lalu yang sedih, atau pilu yang tak kunjung beranjak dari hidup kita kini, misalnya. tak mesti pilu sayu bahasa sastra, bisa pula semacan sensasi dari begitu sensasionalnya dunia diubah penyair, seperti terubahnya aku menjadi kunang kunang, atau aku menjadi kucing yang melepas tanda: "ngiau. kucing (lalu menjadi) dalam darah dia menderas lewat dia mengalir ngilu".

     Apakah mungkin cerita pendek linda di bangun seperti ini?

     Dengan kalimat-kalimat yang sudah kehilangan rantai komunikasinya? atau, cerita afrilia, yang begitu simbolik - ia letakkan dua jari dengan dua senyum di sana. afrilia baru saja beranjak dewasa, ia baru meninggalkan dunia kanaknya, sebuah dunia di antara murung dan bahagia, di antara passion dan tiap gerak dari denyut hidup. saya kira begitu juga dengan saifullah s, penyair penggiat sastra di komunitas tangerang ini, baru saja atau masih tetap, tapi beranjak ke dalam bahasa membawa luka dari ingatan diri fakta yang tercerabut dari trauma suatu daerah dom di aceh itu.

     Apakah oleh ini, ia lalu membuat metafor ayah sebagai tanda, yang mesti mengayomi daerah individu dan daerah sebagai, bagian dari tiap jengkal negeri. bahwa pusat mesti memeluk kami daerah seolah pusat adalah ayah memeluk kami afrilia-linda - jangan pergi, ayah, jangan tinggalkam kami di kehidupan yang pahit getir kejam tapi penuh berkah ini. Apa itu?
ciri khas bahasa, ia itu membentuk

    bentuk meja makan misalnya, atau sepasang jemari, dari suatu makan malam, di antaranya

    Meja makan menjadi "rendezvous" dari dunia domestik, dan kita tak kunjung punya jawab andai ditanya, kini, siapakah mula pertama yang menjadikan meja makan sebagai tempat, orang berbincang, bahwa sebuah keluarga berbincang di meja makan (jelas kita tahu bukan mula-mula dari buku roland barthes mitologies). tapi meja makan itu suatu lambang, dari dimulainya kehidupan karena fungsinya. Fungsi ini yang dimodifikasi oleh para pengarang tanpa mereka tahu, kecuali lewat tradisi bacaan serta pengalaman pribadi, sendiri, bahwa ayah dan ibu sejak kita kanak, melepas dengan bola matanya akan suatu pujian atau cambukan yang mungkin tersimpan di sana; sebentar lagi, setelah hidangan makan kita selesai, ikat pinggang ayah akan menunaikan tugasnya dengan baik.

     Itulah upah bagi anak yang nakal, seperti upah pula, bagi suatu kehilangan dengan ditunaikannya meja makan sebagai sarana tempat berbagi kesepian dari suatu perbincangan yang normal itu. selalu begitu: mula mula situasi normal, sebelum letusan hati itu seperti irisan daging kecil-kecil, kita suapkan ke mulut sengsara dari setiap diri yang mengalami derita. derita itu, seolah tahu diri karena ia berlatar kehidupan - di antaranya pinggan, sendok dan garpu, juga taplak meja dengan kanjinya serta buah dan makanan di atas meja.
Mulai pula merapikan setiap ingatan sedih dengan cara membawakan kenangan dengan lembut. kutukan terpendam di dalam hati, seolah malu dengan tempat meja makan, dari suatu makan malam sebagai nama dari cerita linda, atau kegiatan meja makan dan makan di meja makan sebagai butir kisah dalam cerita afrilia utami. ayah lagi, selalu ayah, serta ibu dan anak anaknya. ayah yang disapa dengan perenungan dalam sajak saifullah s.

Kepada Segala Ayah, ucap Saifullah S dalam "memoarnya",

    Apa yang tersisa darimu, adalah keluhuranJatuh bagai daun yang dihempas anginLembut bagai kesederhanaan seorang Ayahmerelakan dirinya pada kesunyianDan untuk kita rupanya,kebahagiaan yang ruahumpama kemarau tetiba basah

    Andai dibaca terbalik, lewat pusat yang menjadi ayah, dalam konteks dom itu maka sajak ini sungguh telah keluar dari dunia penandaan dirinya: itu sebuah tusukan tajam, dari ironi getir akan ayah-pusat yang melantak anaknya, bukan memberikan, sebuah keluhuran yang begitu baik diterakan sebagai, "jatuh bagai daun yang dihempas angin", keluhuran ayah itu: ayah itu memanggul keluarganya sekuat pohon memanggul rantingnya, sekuat ranting paling ujung mengikat daunnya.

     Tapi bila segalanya berakhir, ayah daun yang luhur ini - luhur ini kenangan kita pada hidup, yang tak bisa kita adakan tapi yang telah memberikan segalanya, lewat fungsi daun itu umpamanya, daun yang mesti kita baca seabgai pohon dan dari pohon ini tumbuh buah, kita pun membesar, dengan memakan buah dan saking besarnya kadang tangan kita memotong dengan cara menyembelih alam, di antaranya pohon yang menumbuhkan kita ini, kalau memakai bahasa filsuf yang telah begitu sebel sama kelakuan manusia modern yang terus juga atas dasar pikirannya bukan memelihara alam tapi mencabutnya - menggundulinya, bahkan menekan alam sampai alam itu tak lagi berdaya.

     Alam membalas dengan kosakata, misalnya, diantaranya, lapisan ozon yang bolong oleh tubuh kita manusia mesti diberi pewangi - pabrik pabrik berebutan menciptakan model parfum terbaru, sedang daun itu sendiri sudah wangi andai kita jadikan sabun mandi.
tiap meter dalam tubuh kita, terbuat juga dari ruas ruas suku tubuh
buku tubuh, suku kata, bahkan suku nasib diri

"meter" dalam "suku kata"

     Seraya di "jalan melingkar" ini kita membuat pengakuan, bahwa, dalam satu arti, kerja ini bisa dipandang sebagai gerak bahasa yang tidak setia pada teksnya, oleh dari bagian teks itu, kita cabut untuk memperlihatkan, keseluruhan bukan dari bagian ke bagian apa yang menyeluruh itu kita raih. apakah apologi banyaknya bahasa yang kita lihat serta kehendak menikmati (baca: menunjukkan) bahasa dalam rangkaian akan meloloskan kerja seperti ini? Pembacalah yang menilainya. Tapi bersama itu kita kini hendak melihat "meter" dari dua baris pertama "kepada segala ayah" saifullah s.

     Mula mula dengan mengajukan pertanyaan, apakah baris simbolik "Apa yang tersisa darimu, (adalah keluhuran)", "Jatuh bagai daun yang dihempas angin", adalah upaya sadar penyair saat ia memakai kata yang bisa kita pecah menjadi suku kata, suku kata yang mencitpatan ritme di dua baris ini. ritme itu yang menimbulkan gema bunyi serta makna arti, suatu indah dari sensasi kata yang kita terima. Baris "apa yang tersisa darimu" melalui jalan "suku-katanya" dan meninggalkan jejak vokal a dan u, dua bunyi yang keluar dari dalam bahasa, kembali ke acuan dan di sini, baris ini mengantarkan kita kepada lipatan-lipatan ingatan pembaca akan masa lalunya sendiri. Jadi memang benar, sajak itu mesti terbentuk lebih dahulu sebagai keindahan, tapi keindahan itu sendiri, wujud yang keluar dari lipatan-lipatan kenangan pembaca. sajak mengantar kita, mensugesti, ke arah "apa yang tersisa darimu" - "dari kita kita pembaca", "dari aku yang membaca".
Maka perjalanan jiwa pembaca, jauhnya ia melihat suatu kehidupan, bukan saja ikut menentukan, tapi telah menarik puisi ke arah dirinya sendiri.

     "jatuh bagai daun", "yang dihempas angin", juga berjalan melalui "suku katanya", dengan metrikal itu menjadi rasa indah yang tinggal di hati. tapi tak indah ia apa bila, semata hanya permainan kosong, tanpa suatu preseden seperti telah ditinggalkannya dua jejak (memoar; peristiwa di aceh dom), pada bahasa. rambu rambu yang membuat kita cepat masuk ke dalam, tiap suku kata dan suku bunyi serta suku arti, yang mengantarakan apa yang masih tersisa darimu, serta kiasan diri bagai daun yang jatuh, daun melayap jatuh, oleh kontraknya pada ranting, di ujung terakhir seolah umur diri, telah habis.

     Sedihlah kita melihat manusia yang pergi sebab ia akan membawakan ingatan pada diri kita sendiri, yang kelak ekspayer juga. hidup lalu seakan obat, ada masa berlakunya. hidup lalu menjadi: apa yang tersisa darimu, selain daun jatuh dihempaskan angin. kita ingin bertanya: sungguhkah saifullah sadar memakaikan meter di sini? tidakkah gerak metrikal dalam kata dan suku kata itu suatu talen? suatu kebiasaan oleh diri terlatih, suatu panggilan dari dalam oleh rasa dan cita rasa akan keindahan.

     Di samping saya mengetik di siang yang muram ini (tidak: ini baris dari puisi goenawan yang indah: di siang yang muram bertiup angin, katanya), ada buku ki, perempuan novelis, cerpenis, dan penyair juga, buku ki dengan nama: perempuan dan daun, tempat kirana membuat 9 cerita, berdiam pula kredit foto fotografer ternama kita di buku kirana kejora ini - darwis triadi, jadi permainan medium, dari kata ke foto seperti di depan buku ki - saya memanggilnya ki, kirana kejora, sastrawati, aktivis sastra kita yang amat tangguh, single parent yang tak kenal putus asa seperti tergambar lewat bola matanya. ada nafas sang daun, diletakkan ki di depan, tempat ia berujar (dalam puisi): (metafora) "perempuan adalah daun", (metafora), "lelaki adalah angin", (hasilnya) "yang datang tiba-tiba", seperti kelak, ia tiba tiba pergi, ya ki.

Alat

    Saya ingin melihatnya dari dua alat bahasa yang penting, yakni "imajinasi" dan "metafora" sebagai pintu masuk awal untuk melihat alat-alat lain, serta "apa" dan "mengapa" itu. Ke mana 'arah' "gurun", "kunang-kunang" atau "kucing", andai kita hubungkan dengan Donne tadi, yang jelas mengarahkan dirinya ke langit lewat ucapan yang begitu populer sebagai doa: "Bapa kami di surga", suatu cara dari ekspresi kebahasaan untuk menyebut Dia yang berada di surga. Tapi dengan begini kita mulai memasuki namaNya yang disebutkan dengan banyak dan dari segela arah, kemungkinan disebutkan ke dalam bahasa (bahasa, akan selalu fokusnya ke sastra, ke mungkin prosa atau puisi).

     Apakah yang kita temukan di sajak "gurun"? Jelas ia sebuah imajinasi, suatu imajinasi yang bergerak menjadi citraan dalam puisi, imaji tentang seorang aku yang kehendaknya, bisa kita usut ke dalam satuan alat yang ia pakai, yakni metafora serta imajinasi itu sendiri, seperti saat kita melihat sajak kucing atau kunang-kunang, bahkan andai pun kita melihat sebuah cerita, yang lahir dan tampaknya punya tautan kepada dunia kreatifitas sastra maya ini, yakni cerita yang dibuat oleh Afrilia Utami, Afrilia yang seperti Helena, atau Helena Adriany seperti Saifullah S, penyair dari Serambi Mekkah itu - puisinya sering adalah imajinasi yang mengalun, tenang, bahkan nyaris dingin, membentukkan kisah-kisah masa lalunya, ke dalam bahasa.

    Melalui jalur manapun kita melihat imajinasi dan metafora itu bekerja, pada "gurun", kita bertanya-tanya mengapa si aku sampai melihat dirinya melalui bayangan, tempat satuan waktu itu, ia ikuti dan diam-diam kita mulai mendapati waktu kedua, ketiga dan seterusnya dalam sajaknya, sampai waktu itu sendiri berhenti bersama malam yang datang, tempat ia seolah mengeluh, berhenti bertanya dan mulai membuat, semacam kesimpulan yang tak kunjung menjawab, misalnya, mengapa harus "meminta pergi orang lain", di "gurun", dan mengapa "membiarkan dirinya sendiri, yang ia lihat bersama "bayangan" matahari.

    Perlahan-lahan aku yang realis ini mulai memasuki dunia yang mungkin tak nyata lagi, yakni nasib. Apakah nasib itu nyata? sajak ini melalui imajinasi, menempatkan diri si aku di gurun dan di gurun itu tak ada orang kecuali dirinya sendiri dan bayangannya, membentuk sekaligus metafor karena bayangan itu, adalah dirinya, dan karena bayangan itu, adalah nasib yang baru saja kita lihat dikerjakan dengan baik lewat afrilia utami, yang membentukkan dua jari sebagai sebuah pasangan.

     Jari kita sendiri, tak mungkin bisa kenakan identitas pasangan kecuali lengan kanan dan lengan kiri. Jari kita itu lima dan kita kesukaran andai harus memberikan mana pasangan telunjuk dan jempol di jari kita. Maka dua jari itu tentulah dua manusia, yang dikecilkan afrilia utami, dipandanginya saja dari jari sepergi helena memandangi diri lewat bayangan(nya). maka nasib kini telah mendapatkan nama barunya seperti Father of Heaven John Donne untuk nama Tuhan, Tuhan yang membentukkan nasib manusia, kini bernama "sepasang jemari".

     Bersama Mariana Amiruddin, salah satu pebahasa kita yang amat baik adalah Linda Christanty, Mariana belum punya buku cerpen walau cerpennya, bertebaran di media massa untuk suatu periode ia menulis, tapi Linda christanty memiliki buku cerpen adalah Kuda Terbang Maria Pinto. Bukan cerpen ini, cerpen yang banyak dikagumi orang, yang ingin saya bawa masuk untuk menjadi pengimbangan bagi cerpenis muda kita yang penuh bakat adalah Afrilia Utami (baru saja ia muncul lewat "sepasang jemari", di maya ini), tapi cerita Linda "makan malam", sebuah cerita yang seperti puisi Helena, kuasa mengeluarkan bunyi sedih dari dalam bahasa. Makan Malam adalah kisah anak perempuan dan ibunya, sedang ayah telah lama pergi dari kehidupan mereka.

     "Sepasang Jemari" itu, yang kini saya lihat bekerja di Makan Malam Linda Christanty. Linda mengerjakan ceritanya sepenuh prosa, tapi Afrilia tadi, kulihat memakai peralatan puisi saat membuka ceritanya. Apakah kedua orang yang berlainan waktu dan apresiasi dalam sastra kita ini, "tabu" untuk kita perbandingkan, atau kita harus, merumuskan dulu alat-alat perbandingannya, dasar-dasar teoritiknya dan lain sebagainya, bagi saya yang menulis di maya, dalam gerak kepenulisan spontan, hal itu mungkin bisa dilakukan tapi akan terlambat untuk kerja saya menulis.

     Satu-satunya yang kita pegang adalah, telah hadirnya bahasa, serta kelogisan dari jalan berpikir kita sendiri - kita saya, penulis esai yang kini hendak kita jadikan volume cetakan jurnal, agar ia hadir pula seperti institusi sastra yang lain, di pasar. Olehnya kita tidak "menyentuh seluruh struktur dari isi cerita Linda dan cerita Afrilia, apalagi melihat mereka berdua sebagai sosok yang hadir dalam sastra kita ini. Mungkin, bagi sebagian besar penyair dan sastrawan, yang menulis di medium internet, mereka tidak menganggap bagian dari sastra indonesia, bahkan mungkin mereka tak menganggap apa yang mereka tuliskan itu adalah sastra.

    Hal yang bisa terjadi karena mereka, adalah bagian khas dari kepenulisan di sastra maya : suatu kombinasi dari niat, dari tradisi, dari latar dan segala rupa sehingga orang, tak terlalu berambisi menjadi penyair atau sastrawan. Mereka cukup menulis, tapi tulisan itu sendiri, akan keluar dari identitas sastra maya andai ia berhasil - kini tulisan itu, menjadi sastra Indonesia, tanpa kita terlalu hirau lagi siapa penulisnya, dan medium mana yang ia pilih.



Jalan Melingkar 2

14 November 2014 pukul 19:44
linda christanty
"kata dalam dua medium"

    Dipilihnya "kucing", "kunang-kunang", atau "bayangan diri" yang membawa implikasi waktu dari kehidupan seseorang di dalam bahasa, membuat kita mesti mendekati bahasa itu lewat pergerakan serta perkembangan kata yang terpilih, serta ke mana arah kiasannya. Sementara, pada prosa kita mengikuti ceritanya, bukan tekanan pada kata yang bergerak pada dunia kiasan di puisi. Misalnya kini saya melihat bagian yang menarik dari "makan malam" Linda christanty, maka kita menemukan salah satu "bait" dari ratusan "bait" di cerita, atau "sepasang jemari" Afrilia utami.

Salah satu "bait dari "Makan Malam",

     "Teman-temanku mempunyai ayah. kadangkala lelaki itu menjemput mereka di sekolah. Ayah dan anak tertawa-tawa, bercakap riang. Kadangkala, aku merindukan ayah. Namun, rindu yang membingungkan, seperti menginginkan sesuatu yang tidak pasti, seperti kanak-kanak yang menangis tanpa sebab di tengah malam, seperti galau yang panjang."

     Bahasa yang mengapung tenang, mengendap dan kesakitan, atau rasa pilu, melamat diam-diam, jauh di kedalaman karena pada dasarnya, atau pada kesadarannya, si ayah telah pergi, hanya meninggalkan muram di hati. Jadi si aku melanjutkan hidup mereka, berusaha wajar bersama ibu, kecuali, kadang-kadang, rindu yang menekan itu kini membalik dan "ceritalah" yang menjadi sasaran dari tekanan rindu itu. Jadi bukan kata, tempat di mana kita melihat, begitu intensifnya kunang-kunang itu mengerahkan dirinya ke dalam situasi batas, darurat-diri yang tampak mendaki dengan sisa dari nyalanya ("dengan sisa bara aku mendaki").

    Pada cerita kita tidak melihat ini, bahkan tidak melihat pergantian aku fakta dalam bahasa yang menjadi aku fiksi adalah bayangannya sendiri. di sini tidak ada cerita, kecuali cerita itu akan kita proyeksikan ke dalam sugesti dan asosiasi, dari kata yang dipilih helena atau kata yang rebak ke/di amuk atau kucing sutardji. Tapi kita melihat di batas prosa dan puisi, kata yang dipakai afrilia utami pada atau di "sepasang jemari". Seakan cerita itu awalnya, diarahkan ke puisi tapi dari dalam "puisi" itu ada tenaga yang membelokkannya jadi prosa.

     Misalnya kita mulai dari kalimat yang mirip baris dalam puisi, yang dipasang afrilia utami di awal ceritanya. "Pagi selalu berhasil menimbun embun rahasia di depannya." Nah kalimat itu, lebih mirip puisi ketimbang sebuah kemungkinan dari penyambungan plot sebagai kejadian demi kejadian, yang akan mengalur, meniti dirinya sebagai cerita. Kita tahu, seperti orang lain mengerti, plot bukanlah alur, tapi plot sebab akibat kejadian itu, tentulah mengalur, dan ia mengalur bersama pergerakan cerita yang melalui tubuh kalimat atau bahasa, pada cerita, pun pada puisi.

      Sepintas atau dalam pengertian tertentu, perbandingan yang sedang kita bawakan ini seolah akan timpang, bagaimana pun juga, linda salah satu penulis terbaik prosa kita (ia mendapat hadiah khatulistiwa award yang penuh kontroversi itu, kalau tidak salah ingat, hadiah itu berbagi dua dengan penulis kondang kita hamsad rangkuti). sedang afrilia utami menulis di maya. benar ia lagi menunggu buku puisinya, keluar dari percetakan. tapi sepanjang pengetahuanku, ia belum pernah menjajal dirinya di koran. mungkin sudah, seperti alfiah muntaz dulu, kulihat mengirimkan puisinya ke koran dan beberapa koran memuatnya.

     Tetapi seperti yang sudah kita katakan di atas, yang sedang kita hadirkan bukanlah sosok, sebuah reputasi, tapi bahasa, yang kebetulan berbunyi dengan nada yang sama. lagi pula ideologi kita hanya bahasa, bahwa sosok itu ada, tentu saja tapi akhirnya, yang menjadi kata pemutus adalah bahasa. janganlah kita lalu berpandangan bahwa jurnal ini sengaja membesarkan, atau mengecilkan, tidak begitu: ia murni melihat bahasa, seperti dua bahasa (cerita) yang sedang kita lihat ini.

     Apa yang kita catat mula-mula, bahwa bahasa afrilia itu lebih kompleks: ada orang ketiga, lelaki di samping ayahnya, yang muncul saat di meja makan dan meja makan ini, bergerak di antara pecahan ingatan, bukan seperti meja makan linda yang tertib, tempat dua orang, ibu dan anak, melakukan rendezvous rutin. apakah oleh ini pula afrilia memakai bahasa yang lebih pecah, berkontradiksi ke sana ke mari tapi tak kalah indah dengan bahasa linda yang bening, tertib, dan nyaris dingin itu. kita tertarik melihat dua kehadiran bahasa seperti ini. alasan lain, kalau pun alasan ini perlu dan masih hendak dicari, bahwa ke mana lagi kita mengukur serta (mencobakan naiknya mutu sastra maya), kalau bukan melakukan pengelihatan bersama bahasa bahasa yang telah diakui keberhasilannya itu.

     Linda Chistanty menulis dan Afrilia Utami menulis, awal tulisan Linda, yang kelak membedakan kecuali semangatnya, dengan afrilia.

    Linda,

    "kami makan malam bersama, aku dan Ibu. Ya, makan malam saja kami bersama. Sarapanku selalu terburu-buru. Jalanan macet di pagi hari. kantorku lumayan jauh dari tepi kota ini. aku selalu bergegas. ketika aku berangkat, Ibu masih tidur. aku makan siang di kantor. ibu makan siang di rumah. makan malam adalah ritual kami, ibu dan anak. makan malam adalah waktu kami bersama, tak bisa diganggu-gugat."

    Itulah start cerita linda, sebuah tertib, begitu lain dengan pecahan, yang ketarik ke sana ke mari dalam bahasa retak afrilia utami. bahasa retak ini, tapi kelak pelan-pelan menunjukkan ke samaan cerita dengan makan malam itu.

     Kehadiran dialog yang dipasang afrilia di depan, bukanlah suatu beda, tapi satu aliena yang bergerak dan disusun dari beberapa bagian bagian, semacam sub sub, membawa kita kepata tarikan-tarikan, membuat bahasa afrilia seperti mengalami banyak jurusan serentak ketimbang bahasa linda yang mengalur tenang, seolah sungai, sebaliknya sungai afrilia melompat-lompat.

     Ia bergerak cepat seakan dikejar ruang, atau bayangan, dari dua lelaki dan satu ayah, yang diam diam hadir, lalu meja makan seperti meja makan linda, yang kini fungsinya terasa sangat berbeda: linda prosaik pulang, sedang afrilia prosaik berputar putar di meja makan itu. ia mengambil waktu di luar dan menyebarkanya. linda mengikuti waktu di luar sebagai jadwal kerjanya. ia pulang dan mulailah permainan renungan di meja makan.

     Waktu makan tak bisa diganggu gugat, kata linda. kata afrilia, aku tak ke mana mana, hanya bergerak dalam pikiranku saja. jadi sepenuh diri ia ada di tepian meja makan, dari setiap harinya. ia hidup di sini, mengembangkan relasi dengan tokoh ciptaannya di sini. ia domestik, linda ke luar dari rumahnya.

     Afrilia Utami,

    "Sering aku menuliskan catatan singkat untuknya. Menulis dengan tangan lebih membuat perasaan dalam kata-kata tertahan lebih lama. Kami berbalasan di papan ‘kasih sayang’ di dalam dapur. Ia suka memasakan makanan terbaiknya untukku. Aku malu, tak pandai masak untuknya."

     Cerita itu, bergerak jadi puisi di kedalamanya, ia bukan lagi cerita, atau ia memakai cerita sebagai sarana, untuk mengatakan perasaan tokohnya. tapi persis di sini, ceritanya mirip puisi. ia berlari jauh, ke dunia kias-kiasan bukan dunia normal cerita. seolah ada yang ia sembunyikan, atau ia ungkapkan dengan cara diam diam: bahasa lalu tidak seperti apa yang terbaca. linda tidak begini: ia sekan menyalin perasaan hati tokohnya, dan menggelarnya sebagai bahasa yang komunikatif, kalaupun di sana ada lambang, dunia isyarat, maka isyarat ini kita tangkap melalui totalitas cerita.

    Sebaliknya alinea alinea afrilia, penuh dengan bahasa yang menyembunyikan perasaan si tokoh, dengan cara mengubahnya, lari dari denotatif bahasa komunikasi, masuk ke dalam lorong lorong tanda yang diungsikannya, agar si aku itu, berlari dengan gaya sastra sebagai sebuah informasi. informasi itu indah, ialah seni, kata teori sastra itu. tentu saja info yang sudah disulap melalui bahasa. dan itulah bahasa linda. sebaliknya afrilia meningkatakan gaya sulapan ini, ia menyurukkan diri tokohnya melalui bahasa seakan bola billiard. ia bergerak ke satu jurusan, tapi jurusan lain yang menjadi hasilnya. ini menarik dan kita mesti membawakan petikan petikan bahasa ini, agar apa yang tersembunyi itu, atau dikecilkan, dari yang semestinya, kini terbuka dan menjadi pemandangan bersama - pada pembaca.


Di antara "makan malam" dan "sepasang jemari"

    Melingkar rupanya bukan hanya milik bahasa: diri pun melingkar dalam hidup ini, bangun dan membaca kembali, atas nama lingkaran mengapus bagian-bagian dari tulisan demi pengelihatan yang bukan tak terlihat, tapi oleh tubuh mesti istirah dan saat ia terjaga, kita pun melihat dunia melingkar dengan cara, melingkar pula. Untuk suatu beda dan sama, yang melingkar dari suatu tempat, ruang waktu, di antara linda christanty dan afrilia utami. di sanalah kita berdiam sesaat setelah terjaga, mengikuti lingkaran dari tubuh para penerus pram atau armijn pane ini, atau mereka yang menulis dan salah satu tulisannya dibawa afrizal ke nama puisi juga adalah, sitti nurbaya berlari-lari. itulah dunia novel "abdul muis" dan kini, kita melihat dunia, dari mungkin seakan bab dari sebuah novel - dunia makan malam linda dan sepasang jemari afrilia. kita ke sini, pagi ini, sebagai pintu masuk melingkari puisi.

     Apakah kita di atas itu telah menerakan suatu kombinasi kelam dan riang, di antara kedua cerita penulis perempuan indonesia (ini), atau riang kelam, dua pengertian yang rasanya, setelah kita baca lagi, lebih tepat diterakan sebagai riang kelam dibanding kelam riang. riang bahasa linda itu, atau riang bahasa afrilia ini. kita ingin melihat ini, bertanya mengapa sastra begitu, dan alat-alat apa yang dipakainya untuk kegiatan itu.

      Suatu riang kita dapatkan mulai dari awal cerita linda, seperti riang yang sama kita peroleh saat menjenguk dunia batin afrilia yang kini, telah bukan miliknya lagi: cerita itu telah terlepas dari tangan mereka berdua, riang menemui pembacanya, seperti kita, salah satu dari pembaca itu, riang pula menyambutnya. kelam pelan pelan mengendap di sana, seperti dalam diri ini, pelan pelan pula kelam bergerak di jalur keriangan diri.

     Kita mulai lagi.

     Hyang tak jadi datang sayangku, sebuah puisi dan puisi ini, apakah bergerak di sela riang atau di sela kelam? Kulihat afrilia utami mulai dari atas memakai kata "hyang" yang kini menyamar jadi "sayang". sayang apakah kau tak jadi datang? hyang tak jadi datang sayangku: seolah waiting for godot juga: kita menunggunya, tapi sampai kita berlalu ia tak juga muncul.

     sayang afrilia utami itu, bisa kita letakkan di sini, yang disapanya, atau cerita ini bergerak, seolah anak yang menari dengan bahasanya. mengucapkan kau tak jadi datang sayang - seperti dunia mitos itu: dengan Tuhan telah diganti jadi kekasih hati, di bumi, atau tuhan tengah menyamar jadi kekasih hati, si buluh perindu di hati. atau ia bertukar tangkap dengan linda dan kekasih yang tak kunjung tiba jadi ayah yang telah pergi entah ke mana. semua dimulai dengan bahasa yang mengapungkan riang, oleh linda dan oleh afrilia - mata af sunyi, tapi riang dari sorotnya. seperti mata linda juga: sunyi dan riang dari binar matanya. (apakah kedua pengarang perempuan ini saling mengenali satu sama lain? kukira mereka kenal. bisa juga, seperti kekasih atau ayah atau hyang: mereka dekat tapi si dia begitu jauh - tak tergapai tangan kita yang mungil ini, hyang tak jadi datang sayangku.

     tubuh jadi besar di sana, menyamar jadi kontrasnya, yang maha besar, mengejar nasibnya - hyang itu, atau kekasih pada afrilia atau ayah dan ayah juga pada afrilia seperti pada linda, yang kini menjadi yang maha kecil, tak tergapai oleh tangan kita yang rupanya, telah jadi: yang maha mungil saat hendak mendekap yang maha kecil.

     Hyang tak jadi datang sayangku.

     Dunia kecil dan dunia besar, besar dari dunia abstrak seperti kegiatan makan malam tanpa meja makannya, atau sepasang jemari tanpa tubuhnya. ke mana sepasang jemari ini tanpa manusia yang lengan menjadi cantelan bagi sepasang jemari ini. Itulah suatu pengelihatan di batas, antara dunia fakta dan dunia fiksi. Meja makan jadi sama nyatanya dengan sepasang jemari, tapi nasib yang terikat di makan malam dengan sepasang jemari, itu tak lagi terlihat, ia mulai menjauh dari dunia fisik sepasang jemari dan makan malam: ia menghilang, ia tenggelam dalam hanya kenangan kita yang abstrak itu kini membayangkan, sebuah dunia bergerak-gerak dalam ingatan di kepala, tapi ia wujud dan nyata sekali karena mereka adalah wujud dari huruf yang menari-nari, riang menceritakan kisahnya sendiri.

      Riang itu yang kini kita lihat bekerja dalam bahasa kedua di makan malam dan sepasang jemari.

     Seandainya nada cerita linda sudah tidak berpengharapan lagi akan ayah yang tak hadir (kelam ia menyuarakannya di akhir cerita: "ayah", kata aku-linda itu, "kata itu makin sayup dan tak terdengar lagi", maka dunia bukan putus asa tapi tak lagi ada harapan itu, yang tiba-tiba dibangunkan ole afril. ia membawakan harapan. "kamu membangunkanku", katanya. Kita mengikuti apa yang dibangunkan itu, kita dapati sebuah mesra dari ucapan yang kena: iya sayang", itu bergerak dari sebuah daerah bahasa yang amat kita kenali: seseorang membangunkan kita dari tidur, dan kita berkata: iya sayang, belum lagi ke soal dari sebuah tema, tapi dari familiarnya bahasa iya sayang yang dipasangkan dengan, kamu membangunkanku.

     Rasanya itulah sebuah riang dalam bahasa, saat kita melihat dua orang dalam cerita, dalam cerita linda, riang itu menjadi narasi dari kisah ibu dan anak, sedang dalam bahasa sepasang jemari, kita mendapati suatu pendaman dari bahasa puisi: ia tak menginformasikan secara rinci, tiba tiba saja ia datang dengan ucapan yang basah oleh hidup.

     narasi linda, di sini ditukar oleh afrilia dengan tanda, dari suatu penguraian yang dilipat ke dalam. sebaliknya linda mengurai ke depan, ke rencana hari dan rutin yang ia lakoni. di sini juga ada rutin itu, tapi diisap dan digelar lewat kesamaran hidup: tergesa, ingin, membangunkan, selalu ada - tapi untuk apa? itulah bahasa afrilia: ia mengisap tujuan di awal mula start ceritanya. kita berhadapan dengan tujuan yang diterakan lewat tanda, bukan ke luar, menjadi program kegiatan, pada linda.



jalan melingkar 3
19 November 2014 pukul 9:06

afrilia utami
Dua Gaya dalam cerita 
Linda Christanty & Afrilia Utami

     Membaca "kehilangan" selalu menarik, menarik oleh kandungan misterinya, atau oleh cara kehilangan itu dituturkan. awalnya kita menemui bahasa linda yang tergelar ke depan, sementara bahasa afrilia melipat ke dalam, membentuk pengucapan tanda di selang-seling narasi sepasang jerami. apa yang membedakan kehilangan dua cerita ini, di makan malam, si ayah telah lama pergi, dan kehilangannya hadir kembali melalui kilas kenangan. sedang di sepasang jemari, kita berhadapan dengan kehilangan di masa kini, di saat cerita afrilia utami ini berlangsung.

    jadi kini kita tahu bahwa si dia yang telah pergi itu, tak bisa pergi jauh-jauh rupanya, selalu hadir lewat dunia cerita yang mewujud ke dunia tanda, yang kadang cerita sepasang jemari begerak seolah puisi.

    Seolah-olah start cerita afrilia itu dunia yang riang, melembut dengan ucapan "sayang" yang segera menimbulan kemesraan di hati, tapi bergerak ke tengah kita tahu, rupanya itulah dialog yang mirip halusinasi karena yang sedang berbicara, dengan yang masih hidup, adalah orang mati. Dia itu telah pergi dan dia itulah yang hadir kembali. Dalam kehadiran yang tak ditolak, seperti cerita linda, tapi justru diinginkan - kalau tidak kita katakan, dirindukan.

     Sia dia telah pergi dan si aku masih di sini dan aku ini membuka ceritanya dengan ucapan yang sama, saat dia menyudahi ceritanya. Seolah-olah segera cerita di mulai pada saat yang sama cerita sesungguhnya telah berakhir. Yang hidup kini adalah dunia tanda, yang membuat cerita ini mengisap kisah ke dalam dunia penandaan.

     Apakah pengarang masa kini mulai digoda sketsa, sehingga walau ia hadir dalam bentuk sastra, ceritanya mengering seperti informasi dalam disiplin jurnalistik. cerita makan malam linda misalnya, diselamatkan oleh kampiunnya dia memainkan sastra di sela bahasa yang berwatak "jurnalistik".

     peristiwa dikemas sebagai dunia informasi, tetapi sastra muncul justru lewat sapuan-sapuan kecil dalam narasi, "kami makan malam bersama, aku dan ibu", sebuah bahasa sastra, tapi menegas saat masuk sapuan kecil itu: "ya, makan malam saja kami bersama."

     sebuah repetisi yang membuat bahasa jadi hidup - ia mengundang simpati, oleh sifat "ya" dan "makan malam saja kami bersama", sebuah gaya jurnalistik, info yang telah dilepaskan di awal kalimat, tapi dengan pemasangan, "saja", membuat kegiatan makan malam ibu dan anak ini, segera menciptakan kekosongan lembut, yang keluar dari sela bahasa yang bila tak tertangani dengan baik, akan cepat meluncur menjadi jurnalistik - atau setidaknya, sketsa. tapi betapa ampuh repetisi itu: "saja", itu, menghidupkan kekosongan yang kini mengambang dari dalam bahasa.

     afrilia juga, tertib membina kekosongan semacam ini, tapi bukan dengan bahasa yang tergelar, tapi terlipat ke dalam dunia isyarat. Kita menyangka itu bahasa yang riang, tenang, oleh ucapan sayang yang membawakan kemesraan, sebelum cerita yang bergerak ke tengah itu, memberi tahu kita bahwa itulah bahasa dari orang yang telah pergi: si dia itu telah mati. ia bukanlah hidup seperti si aku.

     Bagaimana kita mula-mula tidak menikmati cerita di prosa, adalah saat cerita itu memakaikan bahasa untuk menopang kehadiran dirinya. Saya misalnya, mengambil cara afrilia memulai bagian dari kalimat yang telah mekar, jadi keadaannya di sela, dari cerita yang sedang terjadi. bahwa si aku dalam cerita mengalami musibah dan kini ia ditunggui oleh ibunya.

    di sinilah si aku itu melepaskan cara berbahasa yang kini ingin kita nikmati. ia adalah ujung dari bahasa sastra biasa, tapi kemudian membentuk lingkaran kecil, menjadi pusat perhatian lewat kata "urung". saya pasang kalimat afrilia itu:

    "Ibuku terdiam lama, aku sudah menduga kalau ia sudah tiada lagi di sini. Tapi aku ingin mengetahui apa penyebabnya. Semuanya urung, diam, aku tidak bisa berbuat banyak."

    terasa "urung" itu mengisolir dirinya, dalam setiap kata yang mendukung momen yang hening itu. "semuanya urung", "urung seakan bergerak sendirian di tata kata yang biasa di sana. ia seolah mengisap semua kata di sana, (semuanya) urung. semuanya tidak jadi. semuanya batal kembali. dan urung inilah yang terpasang, sebagai sebuah kata mungil yang mengambil alih seluruh kata yang menekan dari keadaan itu.

     tentu saja urung itu adalah bahasa kita, tapi sifatnya antik, kuno dan tua - sudah jarang kita pakai, olehnya kehadirannya di segenap kata yang terpasang sebagai kalimat di sana, unik. ia mirip dengan cara linda memainkan "saja" dalam repetisi di awal cerita makan malam.
merasakan perasan si "aku" yang kehilangan dan bunga yang mekar dalam hidupnya, tiba-tiba kuncul semuanya, memakaikan kata "urung", adalah menghayati sekaligus bagaimana kata "urung" ini tiba-tiba bisa masuk menyempal. seolah ia lintasan cepat dalam jiwa pengarang saat menulis. urung, begitu ia terkenang, lintasan ingatannya, akan dunia tua entah di mana. urung dan masuklah kata urung itu. urung sendiri sebagai sebuah kata unik: ia seakan tak menerakan kesedihan, ia - apakah ia itu kosong dari perasaan? urung, bisa tertepuk lucu dalam parole lisan kita. jadi kita pergi? tak jadi, tapi kita ganti: urung. lawan bicara kita bisa merasakan lucu lewat kata urung ini.

     tapi kalimat bentukan afrilia itu, sebuah momen puncak dari serangkain sekuen, tak hendak melucu, tak dimaksudkan melucu, ia lepas saja dan kita mungkin akan membawakan jiwa kata urung ini kepada dunia melankolia hati yang putih - sebab urung itu mengesankan feminin di dalam tiap kata yang terpasang di kalimat itu. jadi kita pergi? apa yang hendak saya katakan, rasanya belum sampai. urung ini apa? mengapa jiwa si aku memakainya? ia terasa sebagai jiwa yang pasrah - bukan menggugat, semacam melepas saja kehilangan, pahit yang tertelan ke muasalnya lagi. semuanya urung, semuanya tak jadi. kisah kita hanya sampai di sini saja dalam dunia ini.

      cara kata urung ini terpakai, letaknya, cara terpilih dan kombinasinya, menarik untuk diperbandingkan dengan cara "saja" linda itu terpakai juga di awal ceritanya. linda mengapungkan kekosongan lewat bentuk, repetisi tapi di sini tidak ada pengulangan, lepas saja urung itu, bergerak tanpa mengulangi, ada saja dia seakan urung itu tiba tiba menyelinap masuk ke jiwa pengarang dan tanpa pertimbangan apakah ia akan menjadi kata yang timpang, ia terpakai. di linda juga begitu: cara kata saja itu bukanlah kerja otak pengarang tapi semacam, keindahan dari jiwa bahasa yang sedang digayuti oleh laju bahasa. repetisi itu, bukan main dalam pengelihatan saya.

     bagaimana aku prosa itu menekan kehampaan, atau kekosongan, dari alpanya ayah dalam hidup mereka dengan membentuk, kosong betul ia saat lepas, dari jiwa kita (penulis saat menulis dan pembaca saat menyentuhnya), "ya makan malam saja kami bersama." 

   kehadirannya tampak biasa, tapi lamat lamat kita mulai merasakan kekosongan lewat "saja" ini. apakah masih ada kemungkinan ruang terbuka dari keadaan terkunci, oleh hadirnya, kata "saja"? ya makan malam saja kami berdua. tidak ada yang lain oleh memang tidak ada kehadiran orang lain - ayah itu. ya. saja itulah tandanya. tidak ada ayah dalam hidup kami. hanya kami berdua ini saja. dan makan malam itulah tandanya, saja yang lepas menjadi simbolik, bahwa makan malam itu membutuhkan meja, ruang tempat keluarga, bahagia oleh berkumpul, bahwa setelah malam, orang pun tidur. tapi saja itu membatalkan semuanya. yang ada hanya kami berdua. urung, kehadiran yang lain. hanya aku dan ibu saja.


bukan post scriptum


Membaca Tanda
2 November 2014 pukul 20:26

Afrilia Utami : menarik langit lebih dekat. 
Agar gerimis lebih jadi hujan di telapak tangan.

"tungku berjari api unggun"

Afrilia Utami :

"Tiap hujan kualirkan matapena, menuju hilir yang tak bernama muara. Mengambil tali layang-layang, dan menarik langit lebih dekat. Agar gerimis lebih jadi hujan di telapak tangan. Memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini. Mencari sesudut ruang dengan tungku berjari api unggun. Kubawa dari sisi hujan, masih santun dan anggun. Hujan kali ini bermata curiga, menunggu lagu-lagu gua yang terlahir semata karena waktu, yang sebagiannya kita sebut syurga karena rindu tak lagi berpura."

    Secara kebetulan aku bertemu sajak ini lagi, serta esainya. lalu aku ingat lagi tulisan lamaku tentang sajak ini. secara kebetulan juga aku bertemu esaiku yang panjang tentang puisi alfiah muntaz, dengan esaiku yang telah selesai. tapi sajak afrilia ini, memang aku telah selesai dulu menuliskannya, tapi yang terpasang di blog afrilia bukanlah esai awalku itu.

    Kucari-cari esai awal itu, tapi tidak ketemu. diri lalu terbayang proyek menulis satu puisi seratus halaman esai itu. banyak agenda tapi rasanya bahasaku seolah puisi itu sendiri: di mana pun ia tiba tiba membelok sendiri. ia tak terpegang pun olehku. seolah olah bahasa itu memang punya jiwa dan tiap tangan kita menulis, jiwa itu bermata dan matanya mencari sendiri tulisan, bukan oleh jiwa kesadaran kita, yang punya agenda jelas.

    Aku jenuh dengan segala rupa agenda di dalam dunia ini, ingin sekali punya agenda sendiri sesuka hati. Kupilih jalan tanpa tujuan itu, dengan sabar dan tanpa penyesalan sedikit pun. Malam ini aku lelah dan ingin menulis bebas saja, lagi lagi tanpa agenda, tanpa teori, tanpa apun juga kecuali naluriku sendiri.

    Naluri itu pula yang membawaku ke sajak ini, bagian dari sajak lengkap afrilia. aku kagum dengan tanda yang begitu penuh di sini. ia seakan terpegang, tapi kemudian lepas lagi. mulai dari "tiap hujan" lalu mata pena mengalir. seolah olah itu sebuah persamaan, bahwa tulisan itu seperti hujan. aku ingat hadis nabi, tentang hujan dan aku tahu apa arti dan makna ucapan dan laku nabi tentang hujan. di antaranya menumbuhkan bumi yang mati, tapi tidak bisa tumbuh di lembah yang memang sudah mati dibuatNya.
Ini juga lembah, lembah bahasa, tempat kata tumbuh begitu licin, seolah olah kita menghadapi dinding penuh lumut: kita tak bisa naik di dinding semacam itu. persamaan hujan yang mengalir seolah tulisan, menuju hilir dan lalu batal lagi: ujungnya tak ada, karena katanya: hilir yang tak bernama muara.

    Seakan-akan hujan dan tulisan (mata pena) itu kena interupsi, dengan cara meletakkan palang "hilir tak bernama muara". apa yang telah dialirkan tumbuh ( kualirkan), itu dinegasikan oleh ketiadaan nama itu. tapi lalu hidup lagi oleh sifat lepas bebasnya layang layang. dengan talinya dilepas ke cakrawala. unik sekali layang layang ini, sekali lagi dipersamakan, dengan langit sehingga saat imajinasi kita membayangkan imaji layang layang, yang ditarik, rupanya afrilia telah menukarnya dengan langit. jadi yang kita tarik kini adalah langit, dengan tali layang layang itu.

    Bagaimana kita di bumi dengan tali yang mungil itu, tali untuk layang layang, bisa menarik langit, dan sekali ini muara yang entah itu menemukan kebenarannya, dari aliran tumbuh "hujan" serta "tulisan" (mata pena), bahwa apa yang kita sebut langit itu tak ada, karena semua benda benda di atas itu, adalah langit. langit mana yang ditarik oleh layang layang afrilia ini? maka bisa segalanya, tapi sekaligus bisa tidak ada. alias ia bermain solitaire, pembayangan, membayangkan layang layangnya telah bertukar dengan langit, dan langit itu yang ia tarik agar lebih dekat ke dirinya.

    Tetapi ini puisi, dan adalah mungkin langit itu adalah harapan, harapan yang diam diam diam bergerak menjadi absurd : diubah jadi layang layang (angan dan impian), sekali lagi diubah jadi langit (cita cita dunia ideal, dunia bahagia), dan merayaplah tali itu menurunkan langit oleh tangan si aku ini, yang menariknya pelan pelan. sampai di bawah ia berubah lagi. sekali lagi dan terus menerus dunia bahasa ini membatalkan kata katanya sendiri.

    Sekali ini ia berubah jadi hujan, dari gerimis ke hujan dan hujan itu berada di telapak tangan. air akan selalu merucut andai kita hendak pegang. tapi gerimis yang jadi hujan itu kini memperlihatkan sisi lain, yaitu langit dan ini persamaannya yang lain, yaitu hujan dan hujan itulah atau langit atau harapan, yang kini hendak dipegang oleh telapak tangan si aku. berkali kali dunia yang dibatalkan itu terjadi, dengan cara menukarnya, sebelum ia kini berhenti lewat tangan yang begitu rupa ingin memegang hujan. tapi tangan itu selamat oleh hujan yang ingin dipegangnya adalah nasib. dunia mungkin yang ia inginkan.

Kualitas Tanda : kata.

Afrilia Utami
(24 Mei 2011 19:06)
Sepercik Api, Titik Hujan

lihatlah taman di dadaku
bermain sepercik bunga api
dengan titik hujan

Tiap hujan kualirkan matapena, menuju hilir yang tak bernama muara. Mengambil tali layang-layang, dan menarik langit lebih dekat. Agar gerimis lebih jadi hujan di telapak garis tangan. Memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini. Mencari sesudut ruang dengan tungku berjari api unggun. Kubawa dari sisi hujan, masih santun dan anggun. Hujan kali ini bermata curiga, menunggu lagu-lagu gua yang terlahir semata karena waktu, yang sebagiannya kita sebut syurga karena rindu tak lagi berpura.

Dalam surau ini, hujan mengajak bergurau. Sekaratku jadi racau, yang kian kacau. Kelak akan ada hujan yang hangat buatmu seriang dulu. Mengajak cacing tanah, kumbang kembang, para jangkrik, dan belalang-belalang yang baru pulang dari ilalang bersama matahari tua. Saga senja, membawa raga, do'a-do'a kehidupan. Mereka menari depan dada halaman yang kita tanam dengan cara rahasia. Hingga sama lupa, kapan terakhir kali kau jadi pawang pengendali hujan, dengan semerbak bunga yang wanginya ada baumu. Sepercik bunga api. Dari pinggir riak kecil mengalir.

Biar tubuhku menggigil
jika kelak aku menjelma tangkai
Maret 2011

-----------------------------------

Apakah dunia cerita pendek kita telah mengubah arahnya? Kompas pernah mempertaruhkan ruang cerpen konvensional, saat menurunkan beberapa cerita pendek yang amat pendek sapardi djoko damono. di sastra maya, orang juga membuat cerita pendek-pendek tapi demikian indah.

     Dua cerita itu sama-sama menjalar dalam dirinya, walau sebagaimana biasa mereka tak kunjung juga melepaskan tiap acuan yang kini mukim di kata. Relasinya memang aneh, di satu pihak kata itu telah terlanjur jadi bahasa, dan bahasa ini, telah terlanjur pula jadi fiksi - kita tundakan dululah teori-teori sastra tentang apakah definisi sastra, tempat kata fiksi tak lagi kuasa menampung limpahan, dari mahluk sastra yang mencurah ke dalam bahasa, ciptaan kaum seniman itu.

        Rasa senang berdiam di kedua cerita itu, mekar dari sejumlah alasan dan alasan dari apa yang kita sebut generasi, bahwa betapa jauh penyair pemilik perahu kertas dengan dia yang baru saja membuat buku puisi halte biru. Apakah alasan keberlanjutan semacam itu tidak penting? Bagaimana pun orang akan pergi dan seperti kepergian harimau (dia tak lagi masuk hutan), tapi akan segera meninggal, toh mahluk cantik itu masih juga menyumbanggkan kepergiannya lewat ibarat: harimau meninggalkan belangnya - dan sapardi: meninggalkan penerusnya. Adalah antara lain, seperti penulis rini widya atau kini, afrilia utami - ini dari jurusan sastra maya sebagai sebuah medium yang kita geluti.

       Tetapi pasti dari kehadiran cerita itu sendiri, sosok bahasa, tempat kita mungkin menikmatinya atau menolaknya (memakaikan tanda petik). Lagi-lagi oleh sejumlah alasan, yang kini ingin kita masuki saja langsung dengan menuliskannya. Apakah tidak kaget kalau tiba-tiba segala cita rasa kita akan kenyataan, dihentak oleh "saksi" ini?

       Saya terkenang sebuah puisi saat hendak memulai kalimat ini ("dapatkau nyeberangkan sungai ke negeri asal"), begitu bunyi puisi yang juga hadir sebagai bahasa yang menghentak karena daya baliknya; kini: dapatkau membayangkan bagaimana jadinya, kalau kehidupan nyata kita dibuat terbalik dengan sebuah fenomena: pagi ini aku menyaksikan anjing itu sarapan: ia makan kursi. Kita ada di dalam bahasa dan itu adalah imaji kursi dan imaji anjing yang tengah bekerja - memakan; tapi kita ada di alam nyata: anjing di luar yang kita kenal, kursi di luar tempat kau dan aku duduk duduk lepuk di sore hari yang rawan.

      "Dapatkau" membelokkan kenyataan jadi bahasa? jadi ciptaan sastra bernama cerita pendek. sapardi dapat, dan saat tadi, lewat permainan atau metode masuk ke dalam ceritanya, ikut merekayasa cerita saksi ini dari dalam, kita mengalami hal itu memang mungkin. Jadi, dapat. tapi kita kini pembaca dan seperti penulis, diri dipenuhi dengan dunia yang kita kenali dengan baik. tak ada: anjing makan kursi. tapi seraya ia tak ada, seraya itu pula ia menjadi dunia bahasa yang menggoda. paling jauh anjing itu menggigit-gigit ujung kursi, dan itu bukan memakan seperti yang kita kenali: kemarin saya makan siang dengannya lahap sekali. tandas tiap goreng gorengan di meja kami. memakai frasa putu wijaya yang lucu: dikunci pula makan siang kami itu dengan semangkuk kupi - demikian kata putu wijaya, teman pak sapardi yang berabsurd-absurd dengan ceritanya ini.

    Upaya menjadikan anjing itu (seolah manusia) tidaklah main-main: sapardi mengerahkan kata dan ia menemukan "sarapan". Betapapun dunia jauh itu hendak kita dekatkan agar dapat kita pandangi, seraya terus menjaga jarak agar ia tetap menjadi karya seni. Kita terkejut melihat anjing yang kita tahu siapa dia itu: ialah tanda dari manusia yang, bila tak terlalu meleset ketahuan kita itu, adalah diri, nafsu yang difigurasi oleh seorang penulis cerita. 

     Dengan kata "sarapan" itu apakah kita kini mulai mengalami kenyaman dengan kata "anjing" yang justru oleh sapardi sedang dipakai untuk menunjukkan siapa yang duduk di kursi itu. Jangan pernah kita melupakan kode diam diam dari dalam cerita ini: upacara, yang membawa kita kepada hidup nyata, bahwa kursi itu, walau ia imaji, tak bisa sedemikian menjadi sebuah keasingan - walau cerita ini begitu mengasingkan lewat permainan anjing, kursi, dan manusia. 

     Ada jejak yang terus disebar oleh sapardi di saksi-nya ini. bukankah anjing itu sarapan? sapardi membawa kata ini (species) untuk/agar anjing itu bisa bermigrasi (jadi kita manusia) tapi lihatlah hasilnya: ia makan kursi, anjing itu kembali lagi: bukan manusia tapi kursi itu melontarkan anjing itu lagi: jadi manusia. Dunia tampak mengerikan oleh masuknya kata ini ke tengah kata manusia dan kursi-nya serta saksi-nya: anjing (entah kapan mahluk mulia ini jadi makian: anjing loe; atau, anjing saja. 

      tapi jejaknya masih tertinggal di dalam cerita: lamat-lamat kita mulai merasakan lewat kaca yang dipertunjukkan seorang pengarang, tempat kita bercermin bahwa begitulah diri, bila tak pandai duduk di kursi (akan dimakan anjing). itulah pesannya: kita memakan kursi tapi sebenarnya kita memakan diri kita sendiri: akan dimakan anjing. mengerikan cerita sapardi ini. kini kita butuh kelembutan agar tensi ketegangan cerita ini bisa turun. kita boleh berdoa dengan bahasa afrilia.

Pasangan Absurd"

"Aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna"

      Tuhan dan manusia mungkin pasangan yang timpang kalau kata pasangan itu hendak kita pakai ke pengertiannya yang belum terpecah ( malam pasangannya siang; lelaki pasangannya perempuan ). timpang, telah menghadang kita: kelamin saja sudah tak cocok untuk kita dan Dia. kita lelaki atau kita perempuan - sedang Dia... tapi kita masih ingin memakai kata itu oleh pengelihatan yang tersembunyi darinya: dapatkah kehadiran manusia tanpa diriNya? di sinilah kita itu (seolah ber)pasangan denganNya. Saat kita mengalami ini dari cerita afrilia (berumah di halimun dunia, cantik frasa ini, indah), adalah perasaan "dekat" yang tak kunjung ingin pergi, tahulah kita bahwa kata "pasangan" itu bukan sebuah jauh tapi dekat; ia bisa kita pakai karena dekatnya: "Aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna". 

     Bahwa Tuhan tak hendak pergi dari dalam diri ini (dari dalam aku di cerita ini). Kita ingin mengalami dekat ini, dalam pengelihatan bahasa yang dipakai pengarangnya, yang kelak kita hubungkan dengan bahasa saksi itu. apakah hasil bahasa yang dipakai di sini? jelas ia sebuah implikasi: diri memanggilNya dan Ia datang melalui bahasa (bahasa cerita ini). bahasa pun basah dengan namaNya, yang dekat tapi sekaligus, kata buku buku ilmu itu: dia begitu jauh, sehingga akhirnya menghilang dan orang pun melambai yang dekat saja. jadi ada paradoks yang akhirnya membuat kita jadi ambigu. bahasa ini, pada akhirnya, memerlukan Dia yang bergerak menjadi dia, tapi dari dia ini, terlempar lagi ke Dia. keadaan pun melingkar seperti dalam saksi tadi.


    "Todorov di Umar Yunus"

"saksi di rumah di atas halimun dunia"

     Dunia jauh yang didekatkan, pada saat yang sama, apa yang dekat kini menjauh kembali, rupanya adalah prinsip bagi setiap kehadiran ada. tiap ada berada dalam tegangan ini dan tak perlu kita membangun kategori-kategori teori untuk merasakannya sendiri. sebab relasi keseharian kerap menyuarakannya dalam ungkapan: bila jauh ia kita rindukan agar dekat, saat dekat kita jadi kurang nyaman dan sebuah ungkapan lain telahmengambilnya: rumput tetangga tampaknya lebih hijau. Itulah sebuah tegangan, dinamik dari jauh-dekat yang menguasai setiap kehadiran ada, termasuk kehadiran "saksi" serta "rumah di atas halimun dunia" ini.

     Atau kalau kita ingin mengambil jalan berpikirknya ilmu, apa yang logis keseharian itu menjadi permainan bahasa di antara todorov dan umar yunus yang mengutip todorov di bukunya "kaba dan sistem sosial minangkabau".

     Umar yunus (hal 64),

     "Dalam hubungan ini saya kutipkan apa yang dinyatakan todorov bila ia berbicara tentang jamessian narrative, yaitu: "... on one hand there is an absence (of the cause, of the essence, of the truth), but this absence determines everything; on the other hand there is a presence (of the quest) which in only the search for an absence."

     Inti kutipan yunus itu, bahwa "ada yang tak hadir", di setiap (apa yang di)hadir(kan). ada suatu celah di hati manusia dari prasangkanya pada apa yang ia bayangkan akan membawa rasa bahagia.

   "fakta bahasa, mungkin sebuah novel"

    Bermain panahlah ilmu dan tak mengapa karena memang begitulah prosedur ilmu, seperti tak mengapa juga orang yang berpikir bebas tanpa keketatan ilmu. yaitu anak panah (fb ini tak bisa membuatnya) tapi intinya: dari presence ke absence; dari hadir ke tak hadir.
perkawinan dihadirkan tapi sejenak kemudian membawa keluputan (dari bahagia yang kita idam-idamkan itu. rupanya hipotesnya salah: bukan permanen seperti mutlaknya kata misal bahagia, tapi suatu celah, suatu antara, di bahagia dan tak bahagia dengan segala variannya yang menyamar lewat kata lain (misal puas dan tak puas). Sastra di sini: ia bukan dibuat dengan angan-angan: aku menulis dan akan aku tuliskan sebuah kesunyian hati.

     Rupanya sastra menjalar saja dan jejaknya adalah kesepian hati manusia.
Ia mengalir dari ada ke tidak ada. tertangkap cerita tapi akibatnya ruang ruang senyap dari angan angan terbuka - ia menganga seluas langit dan bumi. itulah rupanya sastra, dan terserah mau yang mana kita dulukan: pikiran akal sehat biasa yang diverifikasikan oleh ilmu atau ilmu yang dibenarkan oleh akal sehat yang biasa tapi logis ini. jangan pula lupa: tiap tulisan ilmu memang datang dari fakta - mungkin fakta bahasa dalam hal ini sebuah novel.

     Permainan "presence" ke "absence" menjadi suatu "ada" yang menempuh dua arah "tidak ada" pada kedua cerita yang sedang kita hayati ini. Begitu kuat "saksi" itu mengisap tiap keberadaan yang datang dari dunia nyata. Pada saat ia mengisapnya, membawakannya sebagai ada-cerita-bahasa, pada saat itulah ada-fakta-nyata menghilang - yang presence kini bergerak ke absence.

     Ada aku manusia tapi tiba-tiba ia tidak ada - anjing telah mengambilnya, kursi itu ikut juga mengambilnya. Inilah bagian-bagian dari kemungkinan ketidakhadiran, sebelum ketidakhadiran yang lain menghuni sebagai efek pembacaan, adalah ketercekatan kita pada kisah, yang tadinya tiada - hanya ada cerita itu saja, tapi kini menimbulkan ketidakadaan - ia jadi remang-remang, dugaan-dugaan yang kita bayangkan. pada gilirannya yang normal diaambil alih oleh yang tidak normal. ada satu dua kata yang memainkan peran, menambah ketidakhadiran yang normal.


     "agak mengherankan", "sebab biasanya", kedua "kata" ini, saya kira kita pembaca berhutang padanya. kedua "kata" ini, kehadirannya menjadi suatu unik yang menghubungkan kenormalan dan ketidaknormalan. Ia mesti kita baca dari siapa yang melepasnya. narasi ini datang dari si aku, aku manusia yang kita bayangkan, ada, tapi saat ia bergerak, mengalur bersama cerita, saat itu pula si aku manusia kini menghilang. aku normal yang hadir segera berpindah jadi aku tidak normal yang hadir. jadi bentuk ketidakhadirannya, yang lain. adalah wujud dari keasingan, yang kelak berbuah ketercekatan. kita merindukan kehadiran yang nyata lewat tanda tanya: sedang bermain apa sesungguhnya cerita saksi sapardi djoko damono ini.

0 komentar:

Posting Komentar