Minggu, 25 Januari 2015

Cermin


    "The mirror, the lamp, the infinite God"

   Dalam soal mutu itu kita kini bergerak lewat "dalam" yakni teori sastra, dan seandainya dengan cepat kita mengambil kesimpulan dari sebuah teori sastra, maka pemikiran masa lalu bisa kita mengerti dengan mudah, bahwa dunia adalah pantulan dari wajahNya (mirror) dan inilah yang menjadi lampu (lamps) kita bergerak untuk menilai isi sastra itu (buku prof abrams, the mirror and the lamps, yang membawakan hal hal yang paling fundamental lewat pengutipan pada plato & socrates). bahwa bayangan itu membayang ke air sebagai mirror yang memantulkan wajah kita, atau kini bahasa sebagai pantulan dari wajahNya. tapi wajahNya yang mana? kita bawa juga goethe yang masuk ke dalam jiwanya, kegelapan menutupi mataku, menutupi dunia juga katanya (ia umpamakan), sehingga ia masuk ke dalam jiwanya dan bertemulah ia, lagi lagi dengan mirror itu adalah jiwanya sendiri, tempat bayangan yang kini memantulkan wajahNya juga.

     Inilah sebuah prinsip keindahan, arts, tapi lagi lagi, bagaimana mengoperasikannya ke dalam ciptaan? melihatNya dalam tingkatan-tingkata karya (seni) sastra itu. kita ingin mencobakannya "sendiri", mulai berlepas dari teori sastra yang kita setujui prinsipnya itu. apa yang menghadang kita adalah Dia itu sendiri: Nya dari apa? Nya dari kotak mana? Kita akhirnya pasrah dan mulai mendayakan segala apa yang bisa kita pikirkan. apa yang kita harapkan dari, kenyataan yang dikatakan oleh goethe - atau orang lain, tentang "the infinite God" dengan "the mirror" sebagai bentuk konkret sebagai kaca tempat Ia memantul - mirror inilah yang bisa kita sebutkan sebagai penanda sedang God nya adalah petanda, yang terus menghantui kita dalam perspektif keindahan dalam tiap tingkatan ciptaan - lapisan lapisan dalam bahasa itu.

      Di sebatang pohon kering itulah meursault melihat "mirror"nya, adalah saat kalimatnya bergerak "seandainya aku hidup di pohon kering", tapi aku-nya tenggelam di penanda ini, tenggelam di pohon kering itu. mengapung ngapung aku itu di luar penanda sebagai petanda yang bebas: bergerak keluar masuk sebagai aku dan kacanya. aku jiwa di alam tak kelihatan dan kini badan meursault, setidanya larinknya yang mengeluarkan lisan atau pena lewat jemarinya, adalah the mirror, kaca yang bisa kita pandangi, tempat dari jiwa dalam petanda - atau kalau kita naik meloncat dari aku-di-dialam jadi aku-di-luar yakni God, maka Aku-aku ini tetap saja tak kelihatan dan bagaimana kita hendak menilai tingkatan dia yang tak terlihat ini, kecuali lewat penandanya tapi penanda itu, segera setelah ia terayun berakhir ke petanda juga. bagaimana menilainya? musiknya. bagaimana menilai panjang dari gema senar musik ini? meternya, suku kata dari setiap kata yang memanjang sebagai baris dalam pembunyi bahasa.

     Iya, tapi bagaimana menilai setelah ia selaras bunyi, ke selaras arti dari, nah itu dia: god yang tiada ujungnya ini. sutardji, berucap menarik sekali dalam metafor yang indah: tiang tanpa apa di atasnya. bagaimana mengukur tiang yang sudah jelas tak ada ujungnya ini? adalah merasakan getaran dari mirror yang memantulkan diriNya, atau diri aku kuasi Aku, yakni diri si ateis meursault yang kini merenung seperti orang purba: menyembah ke pohon kering, dalam varian modern: memetomini pohon kering jadi aku, atau memetaforakan pohon kering lagi lagi jadi aku. terserah dari mana sudut pandang kita akan kiasan ini.

    Apakah guna cermin tanpa bayangannya? tapi dapatkah bayangan muncul tanpa kacanya? badan menjadi bayangan karena cahaya lampu matahari lampu. (the lamp). tapi dapatkah bayangan muncul tanpa sang badan? Tuhan sempurna jadi bayanganNya sendiri tanpa dunia. syukur ia baik hati dan memunculkan dirinya jadi bentuk. (al hadid, bentuk sastra dan isi yang baru): akulah yang awal akulah yang akhir; akulah yang zhahir dan akulah yang batin. 

0 komentar:

Posting Komentar