dan "lelaki yang terjun ke laut" serta "perenang buta"
put your hand in the hand of the man who stilled the water
put your hand in the hand of the man who calmed the sea
Kita melihat keberadaan "ya" itu setara dengan imaji "tubuh", mereka seakan "sobekan jubah" di tengah laut. Bila "ya" tubuh yang abstrak, maka "sobekan jubah" tubuh yang konkret. mereka begitu kecil di tengah laut, nyaris tak kelihat, oleh begitu kecilnya. seolah kita dalam dunia ini.
Seni terus menerus bergema begitu: tubuh manusia diubah-ubahnya, dalam setiap keadaan yang dialami oleh tubuh itu. tubuh aku-perempuan yang mengecil dan hanya kita lihat "tolong kamu awasi dia ya", dan ciri khas itu berhenti pada "ya" yang lembut (walau tubuhnya tak ada), segenap riwayat tentang tubuh perempuan, kini bangkit dan mengambang ke dalam kenangan kita pembaca, seperti bangkitnya tubuh aku perenang buta (tampaknya dia tubuh lelaki), yang kini mengecil dan mulai bermain dengan konteksnya, memainkan alat alat puisi karena konteks puisi adalah laut, sebuah tanjung sepi sunyi, kecil menjorok ke laut, seperti kecilnya tubuhnya yang telah berubah menjadi imaji sobekan jubah, kini mengalur di bawa air laut.
Seperti ya itu: mengalir melalui air laut yang kini menjadi air bahasa: tolong kamu awasi dia, di sinilah air "ya" itu mengalur, mengikuti alirannya, agar si dia jangan sampai melintasi pagar. tapi si ia itu seolah si perenang buta ini: berenang ke tengah laut, terjun ke dalam laut. laut telah menunggu mereka, di sana, di laut, tempat kedua orang anak manusia itu, kini berada.
misteri
"Lelaki Yang Terjun Ke Laut"
dan
"Perenang Buta"
Letak kata "ya" kini menjadi pengelihatan, saat membaca cerita yang bergerak dengan semacam keanehan yang berkerja bertingkat-tingkat - apakah tidak aneh kalau suatu cerita di masa kini, pengarangnya tidak kita kenali walau ia terus-menerus menulis; atau, kita melihat cara menulis yang tidak lagi lazim dipakai oleh para penulis masa kini, tapi menjadi suatu biasa pada penulis masa lalu. Seolah-olah kita mengalami lagi, dengan cara suatu zaman menyeberangi ruang dan waktu untuk sampai ke ruang dan waktu kita kini, memamerkan cara bahasa di masa lalu dituliskan.
Apakah kita mengikuti bahasa dari dalam, atau oleh medium tempat kita menulis adalah dunia sastra maya, bahasa menjadi penggalan-penggalan karena yang kita hadapi juga, sering adalah sebuah proses dan bagian-bagian dari proses ini tebaca sebagai kehadiran karya yang tak utuh, buku misalnya, atau suatu karya yang keutuhannya seperti konvensi sebuah cerita (kita mungkin akan menunjuk pada cerita-cerita yang sering termuat di koran, akan model dari kaya yang utuh, tempat kumpulan, buku, sebenarnya gabungan belaka dari karya yang telah dijumlah).
Penggalan yang ada hubungannya dengan makna dan kini makna itu mungkin saja bagian-bagian dari seolah buku yang utuh, sehingga saat kita membaca sebuah karya yang terpenggal seolah kita membaca bab dari buku utuh yang kita baca pada bab itu saja, bahkan lebih kecil dari bab, sebuah momen di mana kita, misalnya, terpukai pada apa yang dituliskan oleh pengarang. Itulah yang saya hadapi manakala diri membaca sebuah karya di maya, tanpa harus hirau pada keutuhan, kecuali makna dari yang mungkin kita dapatkan. Pada ilmu juga begitu, laporan penelitian, sebuah disertasi yang ketat, atau sekadar buku esai utuh atau kumpulan tulisan, pada akhirnya kita mungkin saja berhenti di sebuah bab yang menarik hati.
Letak "ya" itu dalam sebaris dalam bentukan "tolong kamu awasi dia ya", bila ditempatkan ke latar cerita yang aneh ini, laut, serta keadaan darurat yang menyertainya ("jangan sampai melintasi pagar", karena bila ia melintasi pagar maka ia akan jatuh ke dalam laut), membuat kita melihat ada semacam kelembutan dan begitu kecil kelembutan ini seandainya kita kontraskan ke lautan, dengan marabahaya laut seperti yang kita kenal. "ya" itu seolah sesuatu yang tak terlihat di lautan itu, dan kehadirannya begitu aneh. Aneh apa bila kita baca dalam bentuk di mana ia terpasang: "tolong awasi dia ya", dan "ya" ini yang menghidupkan kalimat ini jadi sebuah kelembutan. Ia melakukan kombinasi dengan kata "tolong" dan "ya" itu melembutkan pikiran di "tolong" ini.
Untuk menghayatinya kita pasang dalam bentukan tanpa "ya". "tolong kamu awasi dia". bahkan kini "tolong"nya kita lepaskan, agar ia makin berbeda kini keadaannya. "kamu awasi dia". Suatu ucapan dingin, apa adanya, imperatif dan cocok rasanya di tengah laut dengan keadaan darurat yang sedang diceritakan. Bahkan bisa kita buat lebih pendek lagi. "awasi dia." Sehingga seruan "awasi dia" seperti ini benar-benar menggambarkan cerita serta setting lautnya. Tetapi masuknya kata "tolong", dan terutama kata "ya", benar-benar telah membuat situasi darurat itu menjadi makin aneh. Ia sendiri sudah aneh, sebuah penggalan tiba-tiba, tapi dalam keterpenggalan cerita ini ia adalah cerita yang utuh. Saya turunkan dulu "lelaki yang terjun ke laut", penggalan cerita, tapi memiliki keutuhan.
Lelaki Yang Terjun Ke Laut
"tolong kamu awasi dia ya, jangan sampai melintasi pagar."
telunjuknya menunjuk pagar pada geladak, yang berpalang besi dari tepinya, supaya para penumpang tidak jatuh ke laut.
"ada usulan ?"
"mungkin kita harus menempatkan beberapa orang untuk mengawasinya."
lalu orang itu pergi.
benar-benar malam yang panas. tidak ada AC. apa yang dapat dilakukan dalam keadaan seperti ini ? dia bersusah payah mencoba menemukan kata2 yang tepat. hati2, dalam cuaca panas begini, gampang memicu amarah, dia memperingatkan diri sendiri.
"kau boleh pergi jika kau mau."
mata kelam di hadapannya memandangnya tajam, "tidak. aku tidak akan melarikan diri. aku akan menyerahkan diri."
omong kosong. sebuah tameng sikap pasif yang halus. namun dibalik omong kosong itu, dia dapat melihat dengan jelas sikap panik.
"jangan khawatir, terkadang aku sendiri bahkan tidak dapat menemukan diriku saat berada di sana."
mereka berdua melihat ke balik kegelapan yang suram dan basah, dan sama2 mengerti apa yang dimaksudkannya.
"atau kau bisa bersembunyi. tapi kau tidak dapat bersembunyi selamanya."
itu lebih jujur.
keduanya bertatapan. lalu laki2 yang satu berbalik, dan berbicara dengan sekelompok orang2 yang berdiri agak jauh di belakang.
"boleh aku berbicara sebentar dengan kalian ? hanya sebentar saja." dia mendesak ketika melihat mereka ragu2.
sosok itu tidak bergeming, bagai patung. cuaca panas tiba2 menusuk, dingin seperti es.
barangkali begini rasanya, pikirnya. ketika jiwamu dipaksa pergi juga ke suatu negeri, entah di mana. suatu perasaan sepi dan sedih yang luar biasa menghunjam jauh ke dalam lubuk hatimu yang paling dalam.
dia menghela nafas panjang2, dan perlahan dia merasa perasaannya mulai tenang.
put your hand in the hand of the man who stilled the water
put your hand in the hand of the man who calmed the sea
dia belum pernah merasa sedekat ini dengan penciptanya.
lalu dia jatuh, jatuh, ke dasar yang dalam dan dingin
suara langkah2 kaki berlari dan teriakan2 marah membuat ricuh malam yang sedari tadi sunyi itu.
"di mana dia?"
beberapa lampu senter menyoroti lapisan2 air tebal yang beriak rahasia dengan suaranya yang berat, menutupi dalam2 segala sesuatu yang dengan bulat2 telah ditelannya.
tubuhnya bergidik. dia dapat merasakan lambaian tangan dari dalam air yang gelap itu. dia mati. dia telah mati.
Misteri yang melingkupi "lelaki yang terjun ke laut" bisa kita perbandingan dengan sebuah sajak "perenang buta", tempat di mana laut telah membuat dua orang manusia di dalam bahasa "berhenti", tak lagi maju sebagai manusia dan walau hasil akhir mereka berbeda - lelaki yang terjun ke laut (puisikah ini? watak bahasanya mirip puisi), itu berakhir dengan kematian, diucapkan lewat bahasa yang memilih kata yang paling dramatis: dia mati. dia telah mati. sedang "perenang buta" membuat simbolik dengan aku si perenang itu, berhenti di tengah laut tanpa kejelasan (tapi ia hanya berhenti, berhenti // di tengah, di mana rambutnya // bubar seperti ganggang biru // atau gelap seperti akar benalu).
Perenang Buta itu sebuah gerak bahasa yang tertib, ia sebuah kisah yang mengandung awalan, tengahan serta akhiran, tapi tidak "lelaki yang terjun ke laut". Mereka adalah dua orang anak manusia, di dalam bahasa, yang sibuk dengan hidupnya dan hanya hidup itu yang mereka kisahkan di penggalan kisah hidup mereka. dalam kerangka misteri, sebenarnya kita bisa bertanya atau mengusut awalan puisi perenang buta. melompat dari momen sejak ruang waktu diciptakan oleh puisi ini (sepuluh atau seribu depa // ke depan sana, terang semata", pertanyaan-pertanyaan seperti ini bisa kita majukan: siapa dia dan apa latar belakang si aku ini?
Mengapa mendadak ia ingin berenang ke laut, menjadi perenang buta? pertanyaan ini membuat apa yang tertib di sini (penceritaan puisi ini, tertib, runtun tak melompat), bertemu dengan apa yang ternyata, lelaki yang terjun ke laut itu juga rupanya sebuah kisah yang tertib, karena pertanyaan yang melanda "perenang buta" mengena pula kepada dirinya - ke diri aku yang terjun ke laut, seperti aku yang berenang ke tengah laut. siapa aku ini? siapa ini yang membuat akhirnya mereka bertemu dalam perspektif kehadirannya sebagai sebuah bongkah misteri dalam dunia ini. takkan ada jawabnya, hanya akan tinggal misteri saja. tapi kita pembaca digoda oleh misteri semacam ini.
"imajinasi kecil di tengah laut"
Saya ingin kembali ke "ya" itu, yang berkorelasi dengan "tolong" dan telah kita perlihatkan bahwa dirinya berfungsi "melembutkan" sebuah struktur kalimat awal "lelaki yang terjun ke laut", yang menjadi wakil bagi ruang dan waktu di tengah laut, tempat peristiwa aneh itu berlangsung. Cerita yang menyandarkan dirinya ini lewat kekuatan dan kemeyakinan narasinya (kita tidak mendapatkan deskripsi tiap aku di dalam kisah ini, yang ramai berucap dengan pengertiannya sendiri), tapi begitu kuat dan meyakinkan, sehingga tokoh, yang nyata itu (walau ia tokoh di dalam bahasa), terpaksa kita bayangkan sekuatnya dengan memeluk tiap apa yang menjadi ucapan si tokoh (umpamannya awal kalimat itu: "tolong awasi dia ya", sebuah kalimat yang mungkin membuat kita bermain dugaan, bahwa dirinya itu dilepaskan oleh aku-perempuan dalam cerita.
Sebuah bahasa féminin di tengah laut, dengan konteks darurat, itulah yang kuasa mengisap kita dari bentukan kalimat mesra ini : "tolong kamu awasi dia ya." (agar) "jangan sampai melintasi pagar." Seperti "perenang buta" atau seperti karya sastra biasa saja, kalimat di sana dibangun lewat konteksnya: geladak, palang besi, tepi - oleh memang inilah konteksnya, sebuah kapal atau tepian kapal, di tengah laut tempat peristiwa sekejap ini berlangsung. tapi "pagar" itu bukan saja memperkuat keadaan feminin, tapi serta merta telah mengembalikan kita ke rumah, ke daratan tempat rumah kita itu berpagar yang melambangkan keamaan serta ketenangan di malam sunyi (sesekali ada suara sedih melintas di malam hari). tapi pagar ini berada di tepi laut, dan itulah keadaan kata yang berhasil memperlihatkan keadaan darurat, tapi pada saat yang sama jauh di lubuk kata itu, hasrat untuk hidup itu menyala. pagar itu, lewat tolong dan ya, melakukan kombinasi ke dalam jiwa cerita, karena si perempuan tak ingin, lelaki-nya ini (?) berakhir seperti akhir kisah ini : dia mati. dia telah mati.
Dua pusat telah dipasang penyair di sebuah buku, bukunya, pusat sebagai jantung dan jantung itulah pusat, yang didekatkan dengan pusat yang lain adalah lebah ratu, lebah yang menghasilkan madu dan ratu yang adalah raja, menjadi pusat pembagi ke dalam isi puisi. sebuah kegiatan simbolik telah dipasangkan di sana, lewat cara mengawinkan dua imaji, mungkin tiga dengan lebah dan ratu yang bisa kita belah, dengan jantung dan ketiganya seolah bermain dorong mendorong: oleh sifatnya yang sama sama pusat, saling menguatkan dan begitulah kita tahu sebuah buku telah mengintensifkan nama dirinya.
Ia menantang pembacanya dengan bermain imaji yang bisa kita imajinasikan: manakah jantung dari lebah ratu? jantung mengingatkan kita pada diri sendiri, jadi species manusia, yang kini didekatkan dengan spesies lain adalah, apakah hendak kita sebut tentang lebah? ia menghasilkan kehidupan lewat perguliran alam yang begitu anggun: halus mengisap tapi tidak mematikan - atau mematikan? lebah menghasilkan madu dan madulah tempat berkumpul segala guna - agar kerajaan ratu itu bisa hidup sejahtera, agar gemuk puisi ini. sebuah janji, tertunaikah janji ini lewat perenang buta yang menghamburkan dirinya ke tengah laut, matikah perenang ini di laut tanpa nama itu?
Di cerita lelaki yang terjun ke laut itu kita beroleh penegas yang putik sekali sifatnya: dia mati. dia telah mati. putik imaji seperti putiknya "ya" itu sebagai suara perempuan yang berada, hanya suara yang terdengar di tengah lautan. seolah-olah ia ingin menjelajahi jantung dari lebah ratunya sendiri, ia lepaskan perenang buta itu, meregang ke tengah lautan dari suatu tanjung yang tampaknya sepi dan sunyi (tak ada deskripsi, bukan, dari keberadaan tanjung yang dicurinya itu).
Kita telah melepaskan dua kesunyian yang kita perbandingkan - buku, "jantung lebah ratu", sesekali saja kita gamit karena dia perempuan-lelaki tanpa nama ini (pengarang cerita "lelaki yang terjun ke laut", tampaknya belum memiliki buku sendiri, sehingga hanyalah prosanya itu yang kini kita perbandingkan dengan sebuah puisi - puisi "perenang buta", dari buku puisi "jantung lebah ratu", sebuah buku puisi yang mendapat penghargaan dari khatulistiwa award, ajang yang penuh kontroversi itu, tapi "berwibawa" kehadirannya di negeri kita ini, seperti wibawa penghargaan "pena kencana" itu juga.)
Sebenarnya kesunyian itu sudah bermula, sejak puisi itu berdiam di dalam buku puisi, atau "lelaki yang terjun ke laut" ini berdiam di buku maya adalah sebuah milis sastra yang dulu pernah kita ikuti, tempat di mana pertama kali kita menemukan prosa yang memiliki kualitas bahasa puitik ini. (siapakah pengarangnya? dia lelaki atau dia perempuan? pengarangnya sempurna sebagai anonim walau ia, terus menerus memproduksikan ceritanya. tampaknya ia bahagia dengan cerita yang ia buat, tanpa hirau, tanpa ingin, suatu lain selain cerita itu saja, hanya bahasa, tampaknya, yang ia cintai.
Kegemaran yang agak janggal apabila kita melihat wajah pebahasa masa kini, atau masa lalu, sebelum kisah pujangga istana itu tentu saja, yang mematut diri ke dalam rupa kemasan wajah ke dalam, di dalam, buku sastra.
Kesepian itu telah dimulai di sini, di bahasa. Sebab ia bukanlah dunia berbincang dari hidup yang nyata. Ia adalah ciptaan, yang sunyi sepi sendiri di tempatnya. Walau riuh saat kita tarik keluar, kita minta bicara, riuh-rendahnya bahasa itu adalah suatu sunyi juga. Tidakkah mereka itu ramai hanya di dalam pikiran kita para pembaca? Pada akhirnya bahasa itu telah terkurung: mengisolir dirinya hanya di dalam bahasa. Hanya sebagai bahasa.
Adalah kesunyian dari kutipan tulisan kita sendiri ini, yang kini kita ingin jelajahi oleh ia adalah, sebuah rangkuman dari tiap yang kecil dalam prosa dan puisi yang sedang kita lihat ini. Sebuah kutipan tempat di mana kita kini ingin menghayati apa yang "maha kecil" itu.
"Di cerita lelaki yang terjun ke laut itu kita beroleh penegas yang putik sekali sifatnya: "dia mati. dia telah mati." putik imaji seperti putiknya "ya" itu sebagai suara perempuan yang berada, hanya suara yang terdengar di tengah lautan. seolah-olah ia ingin menjelajahi jantung dari lebah ratunya sendiri, ia lepaskan perenang buta itu, meregang ke tengah lautan dari suatu tanjung yang tampaknya sepi dan sunyi (tak ada deskripsi, bukan, dari keberadaan tanjung yang dicurinya itu)."
"Dia mati. Dia telah mati." dan kita terkenang laku dari lelaki yang kegiatannya menyetrika pakaian itu, sebuah gema dari bunyi "wi wi", lalu, "mari". "wi wi" dan "mari" ini putik juga, putik bunyi dari seolah intro di dalam bahasa, seolah-olah bahasa itu bermusik dan "wi wi" serta "mari" itulah musiknya, atau seperti kini : "dia mati. Dia telah mati."
Tanjung itu juga adalah putik - sebuah daratan yang menjorok ke tengah laut, menjulur seolah lengan dari tubuh ini. maka badan adalah sepenggal belahan dunia dan tanjung itulah lengannya. atau lautan adalah badan dari sebuah dunia dan kapal itulah separuh badannya. menjorok ke mana kapal di tengah lautan ini? ia serupa tanjung, putik di tepi, terapung sebagai titik di tengah lautan. tanjungnya adalah buritan, tempat lelaki yang terjun ke laut itu mengisahkan dirinya.
Jadi cerita-cerita itu saling terhubung satu dengan yang lain lewat gerak mereka sendiri, yang sama tanpa harus melakukan permainan di antara mereka (interteks), hal yang niscaya oleh memang inilah dunia yang kita persepsikan itu, kita imajinasikan dan kita alihkan ke dalam bahasa sebagai kata yang adalah imaji, citra, sebuah kemurnian tapi tak pernah kuasa melepaskan dirinya dari daerah acuan(nya).
Pembaca yang kreatif menghubung-hubungkan mereka, pembaca yang seolah puisi itu sendiri : ia berada di ruang sunyi sepinya sendiri. Membuat apa yang sunyi itu kini saling melepaskan diri dalam sebuah dinamik. Sunyi berdenting dalam hati, merangkak lewat lajur bahasa ke benak manusia, untuk kembali tumpah sebagai bentukan esai atau kritik sastra, yang kujur dirinya tak pernah bisa objektif oleh ia adalah, sebuah diri yang penuh dengan subjektifitas saat melakukan pembacaan.
Seakan-akan subjektifitas itu diharamkan sebagai sebuah metode, mendekati hasil seni, sebelum kita tahu dan mulai menghayati, paradigma itu adalah kegiatan subjektifitas manusia yang kita peluk di dalam lautan ada, tempat kita terapung dan tidak punya jalan lain selain memeluk sebatang papan - ia bernama paradigma, agar diri tidak tenggelam - ia bernama keyakinan hati pada objeknya, subjektifitas itu. Olehnya kritik sastra atau teori sastra, di belantara akal sehatnya, akan selalu mendiami sebuah ruang keyakinan hati, dari ruang terbuka adalah hidup ini sendiri.
Sunyi semacam itu yang kini kita lihat, bergayutan dalam papan bahasa bernama "perenang buta" atau "lelaki yang terjun ke laut", sunyi yang menimbulkan gema dan gema ini yang kita kawinkan, gema dalam hati dengan dua sunyi yang menyihir sebagai prosa dan puisi. Kita menyelinap di sana, di bahasa, meraba-raba jalannya kata di bahasa seolah dalam hidup, meraba-raba "mana jalanmu" (puisi sutardji), mana jalan kita di dalam hidup ini.
Keluar membawa seikat sunyi, atau masuk lagi ke dalam sunyi seraya menyimak lebih dalam, bagaimana seikat sunyi di tangan kita ini dibentukkan oleh kaum pemuja sunyi nirwan dewanto, penulis cerita "lelaki yang terjun ke laut" yang kita tidak tahu namanya, oleh tidak pernah berjumpa, serta ruang dinamik di antaranya adalah esai ini.
Kapal yang dinaiki oleh "lelaki yang terjun ke laut" itu adalah sebuah misteri, yang tak ada latarnya : ia sebuah cerita yang selesai dan kita hanya "memperoleh" cerita ini saja, adalah kapal yang sedang berada di lautan, tempat kejadian, ditopang oleh dialog-dialog aneh. Tetapi kapal ini pasti awalnya bertolak dari suatu tempat dan kita mulai melihat lagi "perenang buta" itu bertemu dengan "lelaki yang terjun ke laut".
Kita melihat gerakan dari awal, tapi awal ini pada akhirnya adalah suatu momen juga, seperti momentum saat "kapal itu berlabuh di tengah laut", dan cerita yang bergerak itu pun mulai. Atau seperti kini, gerakan "perenang buta" yang bisa kita tarik ke belakang : sebelum ia menyemplung dari sebuah tanjung, tentulah si perenang buta ini ada di suatu tempat dan dari tempatnya berjalan ke sebuah tanjung, yang menjorok ke dalam air laut itu. tapi dengan begitu, bila tak kita hentikan, menoleh ke belakang itu adalah gerakan yang tiada berakhir, sampai ke ujung yang kita tidak pernah tahu di mana ia berhenti, di ujung itu. Maka kita yang menghentikannya dengan cara mengikuti darimana ia memulai ceritanya.
Adalah puisi (atau bahasa sastra), adalah intensitas, adalah kohesi, saat sebuah logika dionggokkan sebagai awal mula dari sebuah bahasa puisi :
Sepuluh atau seribu depa
ke depan sana, terang semata.
Puisi di mana alam raya itu, yang maha luas lebar, dipetik saja seluruhnya dan ditaruh menjadi dunia tanda - isyarat lambang, tapi dalam bentuk kata juga tanda itu diletakkan. Tak pernah mampu, kita manusia meluputkan diri dari dunia kata untuk mengiktibarkan isi hati itu.
Sebuah dunia angka, di mana kata pasti (angka itu pasti: sepuluh, seribu), ke depan (jarak), terang (jelas oleh ia telah dihitung), tergelar tapi sub tanda mengisapnya (saat kita tahu dunia "jelas" itu diperuntukkan kepada si perenang buta, dunia yang tak melihat jarak ke depan dan dunia yang hanya menghitung angka dalam pikiran. inilah sebuah dunia spasi, sela tahu yang diisap lagi oleh tidak tahu.
Dan inilah dunia dari masa kini, masa yang disebut oleh orang dunia setelah sebagai sebuah isyarat juga, setidaknya isyarat waktu dan karena itu dunia setelah itu jauh dari membawa kebenaran dari suatu depan yang, entah ke mana ujungnya (baru 2014, bukan, dari usia matahari yang masih akan menjadi bola besi lima milyar tahun lagi. tapi manusia manusia kenes dan genit ini telah berani keluar dengan kata setelah, usai, post, pasca - untuk suatu depan yang mungkin masih melebur miliaran kejadian yang kita tak tahu. tentu saja mereka benar, karena post pasca itu seusai pengalaman mereka sendiri.
Dunia ide dan ide itu yang dibentukkan oleh penyair, seperti mem-bentuk-nya ide relativitas sebagai ciri dunia setelah lewat, dunia terang tapi diarungi oleh perenang buta. dunia angka tapi yang mengalaminya adalah orang buta. dunia yang bergerak dari tepi (mulai dari 10 yang kalah lawan seribu), mulai dari diambilnya tepi sebagai tanjung (menjorok ke tengah), lalu sebuah gerakan dari tepian tapi akhirnya berhenti di tengah, itulah suatu pendabiran bagi dunia posmo yang mencirikan kecil, tapi menuntut untuk kita lihat, meminta diperhitungkan karena satuan kecil itu adalah "ada" bukan "tiada", kan?
Adalah puisi yang mengambil ide itu menjadi bentuk - mengucapkannya lewat bentuk - dan menghidupi bentuknya lewat hakikat dari bentuk dirinya sebagai puisi.
Bentuk esensial dari hidup adalah gerak yang kini dipetik dari dalam dahan dunia dan kini dibentukkan menjadi gerak kedua adalah bahasa, yakni "perenang", sebuah identitas akan seseorang di dalam dunia, tapi dengan begitu telah mewakili diri kita semua ini juga, yang bergerak karena hidup, menjadi perenang, yang tak tahu karena kita bukan pencipta hidup, dibentukkan oleh penyair, adalah buta. jadi buta ini tergelincir dari bentuk tahu yang mengambil lawannya, tidak tahu. maka kata itu kembali lagi : menukar-nukar dirinya.
Dari tidak tahu ke buta, atau melayang naik ke laut, bukan lagi menjadi perenang yang buta tapi penerbang yang tapi rupanya masih juga dalam keadaan buta, hinggap di kapal yang terapung (berjalankah kapal itu? atau ia berhenti seperti perenang buta yang tak lagi bergerak di tengah laut, seperti kita, disangka bergerak ke depan tapi masih di sini juga.)
Di sini "buta" itu menjadi peristiwa yang samar, tidak pernah jelas apa dan mengapa, sampai seseorang terjun ke dalam laut, mati di dalam laut. apa sebabnya? seiisi kapal itu buta, kita pembaca tidak tahu dan pengarangnya, bermain bukan seolah Tuhan, yang menguasai ceritanya, lewat isyarat tanda yang wujud ke kata. ia juga tidak tahu, ia juga dalam keadaan buta karena cerita itu bergerak tanpa campur pengarangnya, mengalir seolah air, tanpa mata tapi dengan batinnya, kuasa sampai ke laut juga.
Kita ingin melihat bagaimana ia dibentukkan secara puisi. Melihat apa yang besar kini dikecilkan, lewat bantuan alam yakni laut, seperti dikecilkannya kapal dan seisi kapal dengan cara meletakkan kapal itu di tengah lautan, atau seperti kini, puisi perenang buta ini mengecilkan tokohnya, si perenang itu, sebesar sobekan jubah sehingga kita melihat betapa manusia itu telah mengubah dirinya, mengalir bersama air laut sebagai sepotong/sobekan jubah.
Adalah tipografi yang diminta penyair untuk mengerjakan hal ini. wajah luar dari batin yang kini menjadi fisik, itulah wajah dari papan terluar sebuah karya seni. puisi, bagaimana wajah kata itu ditata, antara lain ditata dengan enyambemen, ujung itu, yang kuasa membuat manusia mengecil. ia sihir, dari manusia yang besar kini jadi sobekan jubah saja. semua tentulah bermain sebagai imaji di daerah imajinasi pembaca. tapi toh bahannya, keluar dari dalam puisi.
Seolah-olah penyair mencubit tubuh kita dan ia jadikan sobekan jubah tapi sobekan jubah ini secepat kilat jadi tanjung pula - dengan gerak sihir tangan: yang mencurinya dari tubuh induknya, itulah keadaan baris baris awal yang tadi barusan dikatakan sudah tidak lagi disukai oleh seorang anak muda pembaca jurnal ini - saya tidak tahu apakah ia penyair, apakah syairnya kalau ia penyair bagus: fakta puisi ini puisi yang menang di khatulistiwa award, betapa pun forum itu menulai pro dan kontra.
Kalau mau dikeraskan fakta itu : adalah fakta aku hanya menemui dia anak muda tadi, hanya di maya fb ini saja, kita berjumpa. Jadi pernyataannya tadi, yang gagah, bolehlah kita kembalikan ke daerah dari realitas kegagahan pula, tapi akhirnya keras, dari sastra kita yang memang sebuah dunia pertarungan penuh tenaga tanpa ampun ini. di sini orang mati-matian membuat - sastra di luar itu, menancapkan eksistensinya melalui lorong sejarah yang sempit sekali - olehnya maka meletus polemik demi polemik oleh tiap bahasa hendak masuk ke lubang jarum sempit itu.
Kematangan hidup dalam bahasa itu agaknya adalah kematangan wacana atau pikiran dan jiwa penyair juga, hal yang membuat ia mungkin memilih kata dan kata itu menjadi wakil bagi kematangan hidup di luar, bukan kata sembarangan yang seasal kita memakainya, atau dipakai tapi tidak dalam bentuk memantulkan sebuah kearifan hidup. saya berpendapat dipakainya baris ini :
"Dan arus yang membimbingnya", adalah sebuah baris dari penyair yang telah matang jiwanya.
Di baris itu kita melihat sebuah simpul dari keindahan hidup yang kita kerap dengar sebagai petuah hidup di luar : orang membimbing orang lain, arus menjadi suatu aliran hidup. kita dibimbing oleh arus hidup ini, yang mengalir. Baris semacam itu bahasa yang halus, tapi memantulkan kebenaran hidup di luar : dunia ini mengalir, sebagai arus yang memberikan segalanya kepada manusia. Kita mengikuti arus hidup itu, kita dibawa oleh arus hidup itu.
Arus hidup itulah yang "membimbing kehidupan", arus yang membimbingnya bukanlah terdengar seperti : kehidupa yang mencelakan, tapi membimbing, dan kita ingat lagi kata kata itu: Dia yang membimbing rasulNya begerak dari dunia kegelapan menuju dunia keterangan, tak lagi gelap. begitulah baris puisi itu berhasil, menjadi kearifan hidup dalam bahasa.
Baris itu telah mengatasi maksudnya, manakala (penyairnya kali ini tidak menyangkanya sama sekali) kita tahu air itulah yang menghidupkan setiap ada di dalam dunia ini. air yang menghidupkan kita, menumbuhkan (walau kalau overdosis bisa mematikan, banjir misalnya), air yang kini menukar dirinya jadi arus, arus yang membimbingnya. begitulah puisi kalau kita rendah hati, tidak mula mula menolaknya, akan membukakan siapa dia itu sebagai baris puisi. rahasia rahasianya berlahiran dan kini memperlihatkan dirinya.
"misteri seni itu adalah bentuk yang tengah mencuri isi"
Bagaimana pengarang bergulat menemukan ucapan (kata bergulat ini harus kita beri tanda petik : bukanlah mereka duduk ngeden memeras segenap kamus tapi kewacanaan, dirinya yang membaca dunia lewat cara merenungi serta peralatan bahasa ilmu, filsafat, agama, teori, ciptaan kreatif, itulah dunia kepemikiran yang bergolak di dalam jiwa pengarang), sebuah jiwa sadar penuh dengan dinamik dari dunia luar yang terolah di dunia dalam, saat mereka mencipta, begitu saja mereka menemukan ucapan karena dunia perbandingan, persamaan, itu telah menjadi dunia dalam kepemikiran mereka.
Maka "laut", "kapal", "terjun", "ke laut", adalah suatu wakil bagi dunia maha luas ini. diri pengarang tak muncul di sini, tapi telah mengalami metamorfose, berubah jadi cerita, atau pada perenang buta itu, gerakan dijadikan tubuh adalah perenang, ketidaktahuan dan gairah ingin tahu diubah jadi buta. itulah sebuah dunia bahasa di mana aku pengarang ini menghilang, muncul lagi ke dalam aku bentuk adalah ceritanya. ia lain dengan aku pengarang yang tampak benderang sedang mengucapkan hatinya itu, tanpa pengolahan bentuk - adalah wacana yang telah menjadi gairah diri kita para penulis. misteri seni justru di sini : dibentuknya, yang tengah mencuri isinya itu.
0 komentar:
Posting Komentar