Rabu, 28 Januari 2015

Benda-Benda Dunia


benda-benda dunia, 1


30 Agustus 2013 pukul 17:08

                "kunang-kunang, cicak, ikan"       

      Seandainya sebuah kata kita tahu artinya, saat kata itu sampai, apakah arti kata itu akan menetap, stabil tidak bergerak-gerak lagi?

       Tetapi di dalam puisi, apakah acuannya ini yang sampai, atau kata itu? bahwa di dalam puisi kata adalah imaji bukan bendanya langsung. Bahwa ia adalah realitas baru, kata sebagai sebuah kenyataan dalam bahasa, imaji. Seandainya benar, maka terbuka peluang untuk bertanya ke manakah acuannya kini? Atau tidak seperti itu, bahwa kata di dalam puisi akan tetap menunjuk ke acuannya. bahwa kata telah mengubah dirinya menjadi realitas baru adalah imaji, hanyalah keadaan yang kita dorong bukanlah sebuah kenyataan. sebab kenyataan-nya tidak pernah berubah: ia tetap milik acuannya. Olehnya apa yang kita yakini bahwa bahasa puisi membentuk realitas baru, hanyalah mungkin saat kata digerakkan dengan kata yang lain, saat kata terikat dalam rantai sintagmatik.

      Dalam keadaan paling "darurat" pun sebuah kata tetap saja memiliki acuannya. Kehadiran "kata" 'se' akan kita bayangkan dengan 'an'; seperti hadirnya "ke" yang kita bayangkan lewat adanya "an".

       Katakanlah saya kini membentukkan dari "ke" dan "an" ini sebuah kata adalah "keadaan", maka "keadaan" ini tetap saja akan memiliki acuan. tentu saja ia bukanlah acuan langsung seperti "batu" yang bisa kita tunjukkan. Ke mana kita akan menunjukkan "keadaan" yang abstrak ini? Keadaan tergantung dengan konteksnya - keadaan perang maka kita menunjuk sebuah dunia yang kacau balau. keadaan hatiku maka saya mesti menyimak apakah yang tengah bergejolak di dalam diriku ini - juga di dirimu itu.

       Jadi acuan dari "keadaan" sebagai sebuah kata mengambil jalan melingkar namun ia tetap memiliki acuan-nya, oleh tesis awal kita tadi: tak suatu kata pun yang tak memiliki riwayat adalah acuannya itu. pun "au" sebagai sebuah "kata" memiliki riwayat atau acuannya. Kita mesti pergi menjenguk ke balik bunyi ini. Siapa yang berteriak dalam arti "au" dan apakah maknanya. Maka muncul pergerakan di sini: arti itu bukan makna. tapi dari suatu arti bergulirlah beragam-ragam makna akibat dari sebuah pengertian kata, dan akhirnya kemaknaan kata.

       Bisakah kita mulai membayangkan bahwa makna kata di dalam sajak, atau makna sebuah sajak, itu tidaklah tunggal menetap, tapi terbuka sebanyak makna kata/bahasa di dalam diri pembacanya.


benda-benda dunia, 2

30 Agustus 2013 pukul 18:57

"lima keadaan kata"

keadaan saat kata hadir sebagai bacaan, kita membaca kata itu. keadaan kata sebagai acuan, kita melihat benda-nya bukan kata-nya. keadaan kata dalam pikiran, kita membayangkan, kita berpikir, dengan kata-nya sekaligus dengan bendanya. keadaan di mana kata hadir tanpa kontrol sadar, adalah saat kita ada dalam keadaan mimpi, tidur. keadaan kata menghilang, oleh situasi tak lagi terbahasakan.

       Di depan bahasa-bahasa saya merenungi lima keadaan kata ini, mungkin lebih oleh hingga saat ini, hanya lima keadaan kata inilah yang baru bisa kita pikirkan. kalau lebih dari lima ini, apakah kira-kiranya yang mungkin? apakah keadaan kata yang ada tapi kita tidak tahu keberadaan mereka? kata apakah itu, yang kita tidak tahu sedang dia sudah hadir di tengah-tengah kita.

    apakah peristiwa di masa lalu atau dugaan ke masa depan, yang tak lagi bisa difasilitasi oleh serangkaian huruf dalam sistem aksara manusia saat ini.

     Saya berpikir betapa samanya sistem aksara yang jumlah katanya terbatas tapi sifat sintagmatik dalam satuan huruf saat merangkaikan kata, begitu tak terhitung jumlahnya. seolah olah untuk melayani ketakterhinggan dunia inilah mereka hadir. sebab dunia mesti kita sebutkan nama-nama mereka, karena tanpa penyebutan ini dunia itu membisu. kita tidak tahu artinya, karenanya kita tidak tahu kemungkinan fungsinya. akibatnya dunia itu tidak produktif sehingga antara kita dan dunia terputus. dunia tidak bisa hadir menjadi kursi karena kita tidak mengerti kata ikatan, cara kursi itu dibentukkan. tapi kita mengerti kata ikatan sehingga kursi menjadi sebuah dunia yang mungkin. ia mungkin hadir dan ia memang telah hadir.

    begitulah sebuah benda telah tertangani dengan baik oleh adanya sebuah bahasa. jadi bahasa itu berfungsi untuk menangani dunia benda-benda agar kelangsungan hidup ini tidak terputus. dalam kerangka ini kita lalu bisa mengatakan, bahwa pada dasarnya dunia itu tengah melayani dirinya sendiri, tapi lewat sebuah organisasi, lewat sistem di mana masing masing unsur serta sifat sistem bekerja satu dengan yang lain.

     manusia adalah miniatur dunia, tapi bukanlah manusia yang lebih sukar dibentukkan, melainkan dunia itu sendiri. alam raya ini, pembentukannya lebih rumit dari pada manusia. masuk akal oleh sedemikian besar alam ini, sedang kita sedemikian kecil. tetapi oleh ia miniatur dunia maka dalam hatinya keadaan dunia itu tersimpan. hati manusia oleh itu jadi seluas dunia dan akhirnya hati manusia bisa mengeluarkan dirinya.

    keluarnya hati manusia ini lewat bahasa, sehingga bahasa kini adalah cara menyebutkan dunia benda benda yang kini dibalikkan: misteri itu bukanlah univers lagi tapi miniaturnya - hati kita itu. hati atau jantung? pikiran atau perasaan? tubuh atau ruh?

     selalu kita ditempatkan dalam sebuah keadaan adalah tanda tanya yang minta dijawab, dan selalu pula bahasa tampil membantu menjawabkan setiap pertanyaan. dan dengan metode persamaan dan pembalikan seperti, ini maka tahulah kita bahwa dalam dunia ada misteri seperti dalam diri ada misteri. bahwa tugas kedirian menyibak misteri di luar dan tapi sekaligus menyibak misteri di dalam. polisi mengusut sang penjahat; agamawan mengurusi baik dan buruk laku; ilmuwan bertugas melihat ke balik batu; sastrawan? rasanya tak terlalu berlebihan kalau kita katakan, tugasnya keluar masuk dan kini mengeluarkan apa yang menjadi misteri dari dalam tubuh ini. jadi kita itu mirip insinyur yang tengah menduga-dugakan di mana minyak berada agar kita bisa mengebor untuk mengambilnya.


benda-benda dunia, 3

30 Agustus 2013 pukul 19:38

               "keadaan kata dalam prosa"

       Lima keadaan kata itu membuat kita tidak lagi menyempit dalam memandang bahasa, sastra, serta puisi yang sedang kita jadikan objek pengelihatan. dengannya bahasa terbuka dari pelbagai kemungkinan sesuai keadaan dari mana kita memandang.


"lima keadaan kata, senja di pelabuhan kecil, menyelam mengejar ikan ikan"

1 September 2013 pukul 7:06

benda-benda dunia, 2

30 Agustus 2013 pukul 18:57

"lima keadaan kata"

keadaan saat kata hadir sebagai bacaan, kita membaca kata itu. keadaan kata sebagai acuan, kita melihat benda-nya bukan kata-nya. keadaan kata dalam pikiran, kita membayangkan, kita berpikir, dengan kata-nya sekaligus dengan bendanya. keadaan di mana kata hadir tanpa kontrol sadar, adalah saat kita ada dalam keadaan mimpi, tidur. keadaan kata menghilang, oleh situasi tak lagi terbahasakan.

mengejar ikan ikan, serta usaha dalam bahasa
31 Agustus 2013 pukul 10:13

"hari ini kita menyelam mengejar ikan ikan"

     usaha dalam bahasa yang kita saksikan, barangkali yang paling menggoda dari puisi lia amalia sulaksmi, mengejar ikan ikan. bahwa kita melihat ada suatu upaya dari aku, seraya membayangkan dia yang pasif sehingga watak kehadirannya jadi misterius. (siapakah dia itu, yang diajak menyelam mengejar ikan ikan? siapa pula aku ini, yang menyelam untuk mengejar ikan ikan?)

     beberapa kali saya mencoba menangkap bentuk bentuk usaha dalam bahasa ini, tapi luput lagi oleh apa yang dikerjakan itu sedemikian menyimpan dirinya. tadi saya seolah olah paham, sebelum kepahaman saya buyar lagi dan kata pun tercerai berai ke sana dan ke mari.

     sebuah gerak membalik memang telah dilakukan dan itulah baris pertama puisi lia. seolah kita melihat dunia upaya itu, sebuah dialog, yang keluar dari dalam hidup biasa, percakapan sehari-hari yang rutin: hari ini kita mengapa? kemarin kita telah melakukan hal itu. hari ini kita melakukan apa lagi. dunia keseharian inilah muasal dari "hari ini kita", yang menjadi start puisi. sebelum datang di garis lurus itu, titik yang tidak biasa, membalik, mengejutkan karena ia bukanlah isi dari "hari ini kita" yang kita kenali.

sebab "hari ini kita" itu, rupanya adalah, titik yang bergerak ke arah lain, arah yang tak mungkin.

"hari ini kita menyelam mengejar ikan-ikan", katanya.

bukan, yok "hari ini kita" kondangan. anak bapak itu kawin. atau: ayo dong temani saya ke pasar, hari ini kita akan makan besar. saya yang memasak dan kamu menghidupi api di tungku. tapi: "hari ini kita menyelam mengejar ikan ikan". tanda upaya sehari-harikah baris baris licin lia ini? bahwa hidup adalah ikhtiar yang diseolahkan ikan di dalam lautan yang harus kita tangkap, dan kita bisa menangkapnya kalau kita menyelam. menyelam ke hidup yang kita bayangkankah puisi menggoda ini?

Atau itu adalah ikan sebagai perlambangan yang datang dari dunia ilmu? alhasil, menyelam adalah mengejar ilmu, agar kita tenggelam dalam nama-namaNya. zikir haluskah baris baris dalam puisi lia?

Saya berdiam dalam renungan saya sendiri, memikirkan, bahwa kata sungguh tak kuasa kita maknai dari satu arahnya.

tentang struktur, tentang arti, tentang makna
31 Agustus 2013 pukul 17:41

fakta yang berpindah ke dalam bahasa - usaha menyimpangkan kehidupan yang biasa: di tanganku dan kau ada alarm tanda waktu usai.

Menyadari bahwa kehadiran adalah selalu kehadiran sebuah struktur, hadirnya keutuhan yang membuat sebuah bahasa, tak bisa kita lepaskan dari bahasa yang lain di dalam struktur, membuat perlahan lahan saya menundakan dahulu gerakan aneh aku lirik yang mengejutkan ini. hari ini kita menyelam mengejar ikan ikan, terus menerus menerbitkan sebuah kemungkinan dari perbedaan arti dan makna dalam bahasa. jelas kita tahu artinya oleh kata kata di sini begitu mudah mengartikannya. tapi apakah maknanya? apakah makna mesti dimuatkan oleh arti dari kata kata yang dipakai. kalaulah itu hanya sebuah kalimat yang lepas begitu saja tanpa sambungannya, maka mungkin kita meninggalkannya dengan memikirkan itulah sebuah retorik, semacam gerak assalamualaikum untuk setelah "bahasa upacara" semacam itu, puisi akan pergi kemaksud sebenarnya puisi. tapi ia berkelanjutan, bahkan puisi ini bisa kita sebut, dibangun dengan pengejutan - pengejutan bukan sampiran tapi isi.

tentang arti, tentang makna
31 Agustus 2013 pukul 15:48

"kita ambil senja di pelabuhan kecil misalnya. kita tidak lagi mencari isi puisi, karena kita sudah dipuaskan oleh baris pertama, 'ini kali tidak ada yang mencari cinta' (sehingga kita tak akan sampai hati menyimpulkan bahwa puisi itu bercerita tentang si jantan yang patah hati, misalnya). frasa 'pada cerita' dari baris kedua di bait pertama, menyela begitu saja urutan 'gudang', 'rumah tua', 'tiang dan temali. selaan ini hanya pembuka saja, pengantar pada dua gambar berurutan yang tak saling berhubungan, kecuali bahwa keduanya dihubungkan oleh pengulangan bunyi di ujung baris ketiga dan ke empat, yakni 'berlaut' dan 'berpuat'. Atau boleh saja kedua baris ini berhubungan, jika kapal dan perahu ternyata menghembus(kan) diri; dan jika demikian halnya, maka menghembus adalah sebentuk pemiuhan fungsi kata kerja. lagi pula, bagaimana kita mendudukkan 'mempercaya mau berpaut': bukan hanya 'mau berpaut' itu sebuah bentukan yang ganjil, namun juga bahwa 'mau berpaut itu sesunguhnnya menuntut objek sasaran - pada apa, pada siapa. frasa mengambang membuat kita juga bebas mempertautkannya dengan frasa sebelum atau sesudahnya; atau, ia lebih berfungsi visual, yakni untuk menggenapkan montase yang kita hadapi. frasa 'tidak bergerak' pada baris ketiga bait kedua bisa melekat pada 'pangkal akanan' atau 'tanah dan air'; sementara itu frasa 'tiada lagi pada awal bait ketiga mungkin tidak berhubungan dengan apa pun, kecuali mengosongkan apa apa yang sudah kita tatap pada dua bait sebelumnya. sekali si aku, yakni dia yang tak mencari cinta, muncul, kita tahu semuanya kian kabur saja: kenapa harus ada 'pantai keempat' (dan kita tak tahu pantai-pantai yang sebelumnya, atau sesudahnya). tak berjawab, masih juga kita bersua dengan keganjilan semantik yang lain di penghujung, yaitu bahwa 'sedu penghabisan bisa terdekap' - siapa yang bisa mendekap sedu sedan, ataukah justru dalam jukstaposisi ekstrem kita boleh meninggalkan pengertian?"

senja di pelabuhan kecil
buat sri arjati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak
elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa
terdekap

1946

"dengan contoh di atas saya juga menggarisbawahi bagaimana dia memelihara hubungan antara kalimat-kalimat sumbang - ya, sumbang, jika diukur dengan cara prosa - dengan bentuk persajakan yang tertib, yaitu kutarin. seakan akan bentuk yang sudah mantab dalam sejarah perpuisian dunia itulah - jangan lupa, dia juga menggunakan bentuk sonet - fragmen fragmen kehidupan modern memunculkan dirinya kembali, kali ini secara lebih ajaib. karena kata kata memang belum selesai memancarkan keajaibannya, yaitu bahwa arti mereka yang dikandung oleh kamus barulah setahap kemungkinan arti belaka, dan ini hanya dimungkinkan jika si kata duduk dalam frasa yang mengambang, bahkan yang seakan mengelak dari frasa frasa sebelum dan sesudahnya. namun sekali lagi, frasa frasa ini tidak bisa terlalu berlepasan, melainkan harus diikat oleh bentuk persajakan yang teratur, dengan rima yang terjaga. atau, jika dikatakan dengan cara lain: bentuk bentuk teratur konvensional yang dipakainya memang tidak pernah genap, selalu mengandung selisih: memang ada rima, tetapi larik lariknya seakan mengerut di satu bagian dan merentang di bagian lain. dan selalu ada derau di sana, yang mengganggu keindahan, ya, paling tidak mengusik tata bunyi dan tata rupa yang dicita citakan kaum pujangga, keindahan yang mengandung 'rasa yang dalam' dan 'budi yang tinggi.' derau itu muncul dalam wujud, misalnya, gabungan kata yang tak wajar, sepotong ide yang muncul tiba tiba, atau kalimat yang berakhir sebelum waktunya. kadang kadang, bila kalimat kalimatnyatampak lebih teratur, dan larik lariknya terasa lebih genap, misalnya dalam 'derai derai cemara', maka ternyatalah betapa licin sajak itu mengadopsi, sekaligus menyelewengkan, bentuk persajakan tradisional, yaitu pantun, dan betapa 'isi'-nya yang semu-falsafi hanya topeng belaka bagi bentuknya."

"lima keadaan kata, senja di pelabuhan kecil, menyelam mengejar ikan ikan"

1 September 2013 pukul 7:19

"mulai dari lima keadaan kata"

mungkinkah lima keadaan kata ini dapat membantu kita membaca puisi atau sastra pada umumnya secara lebih lengkap lagi? hal ini sungguh menggoda saya oleh setiap puisi lahir tanggapan atasnya. tentulah kita tidak kuasa mengukuhi suatu pandangan, kecuali menyimak argumentasi dari basis bagaimana puisi itu dibaca oleh seseorang. tetapi bagaimana pun juga dengan memetakan lima kemungkinan keadaan kata ini, kita mungkin mempunyai dasar untuk melihat, setidaknya mulai dari arti dan makna dari kata yang menjalin di rantai sintagmatik itu.

Tetapi "lima keadaan kata" itu bukan saja berlaku bagi kritikus atau pembaca, melainkan terjadi juga dalam diri penyair saat ia mulai melakukan kegiatannya menulis sajak, hal yang kelak saya lihat mempunyai implikasi langsung kepada cara kita menerima produksi dari bahasa yang kini telah kita beri nama sajak itu. Kita beri nama, nah inilah soal mulanya. bahwa ada suatu keadaan di luar (serta di dalam diri atau sebenarnya, keadaan itu adalah keadaan itu sendiri - kita mulai menyentuh tepian dari nomor lima keadaan kata adalah situasi tak terbahasakan) yang meminta kita beri nama atau kita yang harus memberikannya nama - arti itu, kita mengartikan, tapi kemudian arti ini melejit seolah tak ingin di/terpegang. ia keluar dari nama yang telah kita berikan justru sebelum ia berdiri sebagai bagian dari titik titik kata yang mengisi garis lurus adalah baris puisi. apatah lagi saat ia berdiri sebagai rantai sintagmatik yang di dalamnya adalah suatu lambaian jauh-dekat dari dunia paragdimatik, suatu dunia luas lebar muasal darimana lahirnya bahasa, bahasa dari kita sebagai pembaca yang kini bertemu vis a vis dengan bahasa sebagai penyair yang kini telah mukim sebagai puisi.

diri memang telah terikat oleh isolasi, bahwa setiap gejala keluar dari dirinya dan kini teronggok ke dalam ikatan. sebuah keadaan hari yang sebenarnya tak terbahasakan oleh setiap mungkin lanskap, kita namai "senja", untuk bergerak seolah dunia manusia: bergandengan tangan menyamakan hati mengikuti nada always bon jovi, dan ialah itu: senja di pelabuhan kecil. atau keadaan di mana air dan daratan dan lalu tampillah sebuah gerak dan kita namakan gerak itu adalah "menyelam", dengan imbuhan untuk "mengejar ikan ikan". inilah keadaan dari dunia kegejalaan yang minta dibahasakan, dan kata adalah tempat mukimnya, isolasiannya, tempat dunia itu terkurung dan dari kurungan ini kita mulai menyamakan persepsi. langkah pertama semua itu kita namakan kaidah dalam bahasa, linguistik, sebuah logos atas mana setiap ada-logos ini mulai bergerak, sebelum kita melihat kemudian bahwa saat seorang penyair menulis - dan di sini pengamat lalu kerap melakukan kekerasan, tulisan harus tunduk pada cita rasanya, padahal saat seseorang menulis mungkin saja ia tengah mengidap lima keadan kata secara serentak, bahwa dunia luar melimpah ruah dan dunia simultan itulah yang kini bocor dan menyebar ke mana mana. tapi kita tundakan soal inti ini, untuk terus merayapi setiap kemungkinan yang paling tidak pernah kita pikirkan, dalam hubungan dengan kata dari perspektif arti dan maknanya. bahwa sesaat seorang penyair menulis rupanya adalah patahan, suatu momen ia mematahkan ada-logos itu sendiri. ia menjauh dari akal sehat dan ia pergi serta sampai ke arah akal sehat yang lain. ia oleh itu tengah mematahkan linguistik tanpa ia sadari, oleh dunia dari lima keadaan yang baik kini bagian katanya kita beri tanda petik, adalah "kata". jadi lima keadaan "kata" ini adalah holistiknya dari hidup/kehidupan yang kita mengerti - patahan logis ada, dan yang tidak kita mengerti, patahan anti logika yang kerap membuat para kritikus atau pembaca menolak hasil sebuah karya sastra itu.

Tetapi apakah yang hendak dikejar oleh anti logika dalam puisi itu (baca: 'anti linguistik' alias bahasa puisi yang kurang/tidak bersih menurut istilahnya seorang esais dan penyair yang kita letakkan bahasanya di nomor 1 karangan ini, sebuah pandangan jernih dan menarik, serta agak langka dari dunia kritik kepuisian kita yang kerap melontarkan dirinya ke luar dengan menggapaikan dalam ke arah luar, tempat dalam itu lalu mengabur dan akhirnya hilang. dan kini kita hanya berjumpa pada luaran dengan dalaman menjadi alamat lamat lamat dari apa yang kita namakan keindahan berpuisi itu.) bahwa ia terlalu banyak derau yang tak mesti. tapi derau ini lalu menghilangkan setiap kemungkinan jalinan indah dari suatu arti dan makna yang mula mula diantarkan oleh bunyi - bunyi dalam sajak senja di pelabuhan kecil yang kini kita lihat dalam suatu permainan, adalah bunyi dari mengejar ikan ikan.
"lima keadaan kata, senja di pelabuhan kecil, menyelam mengejar ikan ikan"

1 September 2013 pukul 8:54

"yang kita tolak bukan 'linguistik'nya, tapi gema dari sebuah kemungkinan sintagma yang terpasang"

"lima keadaan kata, senja di pelabuhan kecil, menyelam mengejar ikan ikan"

1 September 2013 pukul 8:54

           "yang kita 'tolak' bukan 'linguistik'nya, tapi 'gema-indah' dari sebuah kemungkinan sintagma yang terpasang"

       mengabaikan linguistik kita menerima gema indah dari sebuah bahasa, oleh alasan yang sedemikian halus itu, pertama kata bukanlah arti tapi makna, kedua pun dalam kedudukannya sebagai arti, arti suatu kata setipis kulit ari - ia mudah terguncang, berguncang, dan tak suatu linguistik yang kuasa menariknya kembali, mengikatnya, mengisolasikannya dengan isian yang sebenarnya, saat masuk, dari setiap tepian tepian hidup telah berebutan untuk duduk di selubung sempit kata itu. ia seolah lintasan cepat tak terhingga dari spermatozoa yang berebut masuk demi membentuk sebuah kata adalah "aku" - 'saya'.

    maka kini wacana kepuisian jadi terbuka sebanyak ekspresi kata di dalam bahasa puisi itu sendiri, saat misalnya kita bertanya, bahwa dari suatu cara membaca bersih sastra lalu sebuah pengelihatan yang datang dari jurusan pembaca mendadak menghilangkan kemungkinan sebuah indah yang keluar dari serangkaian garis lurus yang terpasang jadi baris di larik-larik puisi. Pembaca akan merujuk kepada sajak derai derai cemara, untuk alasan yang berbeda beda, yang mungkin saja di baliknya ada argumentasi linguistik bersih yang tak dinyatakan. atau dinyatakan dalam bentuk samar samar bahwa sang penyair telah kuasa menangani bentuknya. dalam bentuk inilah barangkali linguistik bersih itu mengendap, mengelap ngelap puisi jadi bersinar. tetapi sebuah tulisan dinyatakan dengan terbuka dan itulah sebuah pengelihatan atas senja di pelabuhan kecil, dari sebuah diri yang menyebutkan namanya sebagai "titik tengah", yang menghimpun di sebuah buku, sebuah tribute, untuk seorang penyair yang rasanya memang pantas menerima penghargaan semacam itu.

       Tetapi saya ingin bergerak terbalik, memandangi belakang dari jurusan depan dengan cara membuat kontras dua kemungkinan keindahan. adalah hasrat-hasrat bahasa yang disokong oleh kata-nya dihadapkan dengan hasrat yang sama yang diterakan sebagai, larik berlepasan satu dengan yang lain - sungguhkan pengelihatan, atau keadaan jukstaposisi itu, membolehkan kata dilepaskan sama sekali dengan artinya, inilah sebuah gejala mata yang sudah sampai kepada apa yang di balik linguistik, yakni alam sebagai muasal setiap kata. tetapi pandangan seperti ini, tidak cukup untuk atau ia lalu runtuh lagi, mundur ke pandangan tanpa lintasan lintasan kemungkinan sebuah jukstaposisi. bahwa kebendaan alam ini berendeng ke sana ke mari dan mata kitalah yang menepuk setiap apa yang bersanding dengan sebuah nama - misal nama jukstaposisi-jukstapose itu, tapi itu jukstaposisi, katanya, yang kemudian diurungkan kembali. sehingga kini pemain dari mata bahasa kembali ke muasalnya lagi adalah kaidah, linguistik, atas mana kemungkinan gema indah dari suatu bahasa tertolak, dari suatu gejala yang secara tehnis sebagai enyambemen dalam puisi.

     enyambemen adalah sebuah cara garis lurus itu mengembang, mekar ke depan atau masuk kembali ke belakang, melipat kembali dirinya yang telah bergerak maju, menjadi titik, duduk di posisi awalnya kembali. ada resiko dari gerak gerik enyambemen ini dari suatu pandangan kebahasaan. bahwa ia bisa menjadi baris yang berlepasan sama sekali. sebuah larik tiba tiba bergerak sendiri, tak lagi mengikat dengan larik yyang lain.

     Tetapi enyambemen hanyalah suatu nama, untuk sebuah kehadiran ada yakni ada bahasa yang membawa riwayat dirinya. mereka datang dari tempat jauh dan kini saling mendekat, seraya mungkin tetap memelihara "kejauhan" mereka itu. mereka adalah gema dari riwayatnya sendiri, dengan nadanya sendiri. mereka eksis dan keeksisannya kadang tak berpaut satu sama lain, walau kerap juga mereka seolah napas kita sendiri: otomatis sehingga kata berpaut pun, rasanya tak lagi kuasa untuk menjadi wadah untuknya.



pusat ke tepian

1 September 2013 pukul 15:11

      tertarik oleh pusat dan betapa pusat begerak ke sana ke mari menjadi tepian tepian yang setelah kita lihat hanyalah mengubah-ngubah namanya, saya membayangkan ada pusat sebuah bahasa yang menyebarkan dirinya ke tepian tepiannya, seperti ada pusat bahasa di pembaca yang melihat ke mana arah sebaran tepian tepian itu seraya terus menerus akan mengembalikannya ke pusatnya lagi. ia adalah pusat yang dipandu oleh pusat lain yakni kaidah bahasa itu, linguistik, sebagai mata dari sebuah pusat memandangi pusat yang tengah bermain tepian. katakanlah pusat dari gerak bahasa senja di pelabuhan kecil, serta mengejar ikan ikan, yang ingin saya wacanakan bahwa betapa rasanya, sia sia belaka mengangankan sebuah pusat mana kala kelak kita tahu, bahwa setelah dari pusat tepian tepian itu kini eksis sendiri. mulanya ia adalah pusat, tapi setelahnya ia menjadi sebuah tepian yang akhirnya memusatkan dirinya juga. di sinilah, arti dan makna itu tersimpan, tanpa harus mengembalikan ke dalam anggapan, seolah ada makna induk yang tengah bekerja lewat tepian tepiannya, lalu kita bisa, lewat linguistik, memungutinya kembali dan kini mulai menegakkanya seakan sebuah benang yang tadi kuncup kini jadi mengembang.

       boleh saya bergerak dari ada dunia yakni univers ini, sebagai pusat dari mana kita kuasa selalu mengorientasikan diri - kita masuk ke dalam dunia, kita keluar ke dalam dunia karena diri itu adalah bagian dari dunia. sampai kita tidak tahu lagi mana dunia eksterior dan mana dunia interior karena keduanya tumbuh dalam dunia kesadaran - apakah senja di pelabuhan kecil kuasa dibentukkan walau memang senja itu ada? apakah mengejar ikan ikan kuasa dibentukkan walau sepasang kaki itu memang menjadi dunia fakta - tanpa kesadaran yang menghilang ke dalam, tempat aku pusat yang membagi ini - membagi induk puisi ke anak puisi. membagi induk makna ke anak anak makna. suatu ketika sang kritikus terjebak ke dalam pusat yang saling membagikan dirinya - ia beranggapan ada pusat itu, dan memang pusat itu ada, di pandangan pertama, sebelum pusat itu akhirnya kita tahu, adalah dunia sub sub yang eksis sendirian, berlepasan, mungkin tanpa saling sambung menyambung. oleh jebakan linguistik, pusat pusat yang adalah tepian hendak dikembalikan ke hulunya lagi sedang hulu telah bergerak ke tiap hilirnya.

     saya mencobakan sebuah persamaan depan ke belakang, untuk semakin mengakrabi pusat ke tepian ini, dunia garis lurus yang telah diisap oleh relatifitas einstein, sehingga gambar, atau bayangan kita terhadap adanya garis lurus yang memuat titik titik itu hanyalah pendek saja. dengan mencobakan dua bahasa seraya mengeluarkan kemungkinan kata kunci darinya semisal "senja", pelabuhan, sebuah latar tempat dan waktu di sebuah masa dulu - setidaknya masa ketika seorang pujangga mengubah senja di pelabuhan kecil ini. inilah gerak dari bahasa chairil anwar, yang kini dicobakan sebuah pendampingan dengan membawa mengejar ikan ikan, bahasa masa kini yang keluar dari dunia batin seorang lia amalia sulaksmi. boleh kita keluarkan dari bahasa ini adalah sebuah latar yang samar, nah puisi mulai bermain, menawar kejelasan senja di pelabuhan kecil, sebagai tempat di mana terjadinya dua orang mengejar ikan ikan - bukankah dia menyelam? yang artinya kaidah bahasa menghendaki adanya kolam, atau sungai - pun bahkan lautan seperti sebuah cerita pendek dengan seorang lelaki terjun ke dalam lautan, mengubah dirinya menjadi lelaki ikan itu. ada karang di bahasa lia itu, yang artinya besar kemungkinan latar itu di pantai bukan di sungai - apakah di sungai ada karang juga? kita sebenarnya kurang tertarik kepada detil seperti ini oleh yang ingin kita kejar itu adalah dunia maknanya. tapi mengikuti penyandingan ini kaidah bahasa mesti di vis a vis kan dengan kaidah bahasa juga. agar ia seimbang, setara.

      tetapi bukan ini yang mula mula hendak kita katakan melainkan, sebuah persamaan atas mana anggapan setiap titik itu bertemu dengan cara mengubah ngubah dirinya lewat nama(nya). kegiatan dua orang aku dengan segala atribut "mengejar ikan" - menyelam, karang, mengayuh, timbul lagi, adalah sebuah aktivitas yang tak memiliki tempat sebagai ruang latar di mana kejadian itu berlangsung. ia bukan senja "di pelabuhan" kecil, tapi di dunia entah. tapi dengan begitu lalu senja di pelabuhan kecil ini menjulur, dan akhirnya mengembang menjadi dunia tempat di mana dua orang manusia itu berlaku aneh. mereka menyelam dan lautan kini menjadi pelabuhan tempat sang aku di sana berjalan, mendekap harap yang pengap. mendadak saja pelabuhan dengan waktu senja-nya itu kini diambil alih oleh alam raya ini, dikembalikan lagi ke setiap tempat mana saja kegiatan mengejar ikan itu terjadi.


titik tengah, senja di pelabuhan kecil. titik kini, mengejar ikan ikan.

2 September 2013 pukul 5:36

            metode imajinasi dalam sastra

     Apakah saya telah berhasil mengatakan apa yang saya lihat, bahwa dua latar telah bekerja di dalam puisi yang latar itu hanyalah nama belaka dari alam raya yang mengubah dirinya jadi/ke "senja di pelabuhan kecil", sedang di lain puisi ia hidup lagi dengan cara memekarkan dirinya kembali, ke alam yang bisa di mana saja letak latarnya. itulah puisi lia amalia sulaksmi yang berbeda dengan senja di pelabuhan kecil chairil anwar. sebab milik lia itu adalah "mengejar ikan ikan" di "lautan" yang lautannya adalah bisa di mana saja - tapi senja di pelabuhan kecil itu juga bisa di mana saja. dunia kini tidak lagi turun jadi satuan misal pelabuhan, tapi membuka jadi alam yang kita tidak lagi menunjuk lokus tertentu dari alam itu. ia bisa, lautan hindia, seperti bisa pula rupanya karang-karang itu adalah karang buatan di mana lia amalia sulaksmi melepas aku dari dalam dirinya jadi aku dalam bahasa. dan kini sang aku itu yang bergerak, telah mengambil alih dirinya sendiri lewat imajinasi. mungkin homo sapiens ini mesti ditambahkan identitas satu lagi. bukan lagi homo faber tapi homo imajinasio. kita tinggal di sini, memekarkan imajinasi, memberi kesempatan aku pusat adalah diri, mengembang ke tepiannya adalah aku dalam bahasa, tempat ia tepian kembali lagi jadi pusat alias induk kata/tema dalam puisi.

       ini bukan lagi linguistik, bukan pula semiotik. entah apa namanya. tapi ia terasa sebagai gejala kehidupan yang memang demikianlah adanya. saya kini berkata bahwa penyair dan esais yang saya letakkan dua paragraf berpikir-nya dan menarik di nomor satu karangan ini, salah satu esais dan penyair kegemaran saya juga adalah nirwan dewanto. banyak penulis yang saya gemari, seperti banyak penyair yang juga saya gemari. kawan kita ini adalah salah satunya. saya melihat ada celah lucu di pikirannya itu, celah yang mengerti tapi kepengertiannya hendak menaklukkan hidup yang tak bisa ditaklukkan ini. tapi apakah pernyataan yang sama akan membalik ke diriku, sebuah ihtiar menangkap hidup? nah titik yang mengunci itu kini terbuka kembali. ia jadi mungkin tapi sekaligus: ia jadi tak mungkin. pagi ini saya ingin melihat segala hal yang mungkin tersembunyi di sini. saya ingin jelas dalam soal ini, sebab soal ini demikian halus, tapi membuat hidup kita jadi bahagia oleh kehalusannya.

     seRing sekali saya berkata tentang haluS tanpa pernah sekalipun mendefinisikan apakah halUs itu. apakah halus? halus adalah sambungan sambungan yang tak teraba. sambungan sambungan apa? sambungan apa saja saat kita berkata halus pada bidangnya. misalnya halusnya dunia yang bekerja mengubah ngubah dirinya jadi nama tempat pada dua penyair. halusnya ucapan yang menimbulkan gema bunyi dan mekarnya hati saat menerima gema arti pada berjalan di belakang jenazah djoko damono sapardi. itu halus, atau semua ini halus. semua ini halus. atau itu halus. halus adalah sebuah nama di mana jiwa jiwa manusia yang keras mulai dipatahkan, disirami oleh dunia abstrak tempat yang kasar mulai berpikir akan suatu kehalusan. begitu halus bahasa gitanjali yang dialih bahasakan saut situmorang (nama lama penyair ini saut pasaribu kalau tidak salah dan kalau tidak juga salah, gitanjali itu ia bawa ke bahasa kita sini. kalau salah tak apa juga: maaf saut ya hehe kamu itu halus dibalik cambang kasar tapi matamu halus sehalus bahasamu).

      yang halus hanya bisa ditangkap oleh yang halus. berjalan di belakang jenazah itu demikian halusnya, sehalus apa bila kini saya katakan telah keluar dua jenazah bahasa dari dalam diri chairil anwar dan lia amalia sulaksmi. dua jenazah oleh bahasa itu telah mati sesaat ia keluar dari tubuh ini. ia hanyalah bangkai tanda dengan kepingan kepingan dunia pertanda yang tampak. mati di dalam fb adalah serangkaian pertanda yakni puisi. mati di dalam buku kalau kita membaca aku ini binatang jalang terbitan gramedia. halus dunia itu, oleh kita tak tahu mengapa ia yang telah jadi bangkai kata, mendadak kuasa menghidupkan segalanya lewat medium beridentitas puisi. dari lautan kehalusan itulah kini kita bergerak, mencoba bukan memetik tapi mengeluarkan bukan mengeluarkan tapi menyapakan, bagian bagian halusnya adalah semisal bahwa kini yang berjalan di belakang jenasah bukan lagi isi puisi djoko damono sapardi, tapi isi puisi amalia sulaksmi lia dan anwar chairil. inilah dunia yang telah berjungkir balik dan hendak dipetik oleh dewanto nirwan, sedang di sana mohamad goenawan telah membuat pengingat pada dirinya - tak kuasa dipetik, katanya, malang sumirang itu oleh sang pujangga ini sanggup bertapa di dalam nyala api seraya menggubah puisi. keluar dari dalam api ibrahim dan hadir kehadapan para penghukumnya tanpa luka bakar apapun.



titik tengah : ini kali tidak ada yang mencari cinta. saya kira : mari kita menyelam mengejar ikan ikan.

2 September 2013 pukul 10:55

       seperti "mengejar ikan-ikan", "senja di pelabuhan kecil" dapat dibaca ke dalam model-modelnya. ini kali tidak ada yang mencari cinta, adalah suatu cara penyair mengecoh pembacanya sehingga, misalnya, sang titik tengah terkecoh oleh dunia yang wajar: ia tak sukakan baris puisi yang terkunci. sedang ini kali tidak ada yang mencari cinta adalah sebuah baris terkunci - puisi itu telah membuat closing.

       tapi andai kita memakai model ini maka dunia mengejar ikan ikan lia amalia sulaksmi lalu masuk seimbang dengan ini kali tidak ada yang mencari cinta, dalam arti inilah sebuah sulapan kata yang mesti kita simak saat ia rebak ke bawah - ke baris baris selanjutnya. mengejar ikan ikan membuka dirinya dengan baris baris yang bukan saja terbuka tapi langsung menciptakan sekian labirin. hari ini kita menyelam mengejar ikan ikan, nah itulah artinya, suatu onggokan dari dunia pertanda yang dibuat list menyamping - mengisikan diri sebagai titik titik kata di sebaris garis lurus dalam bahasa.

        atau model kedua bahwa senja di pelabuhan kecil itu memang membuat sebuah start lambat - ia terlambat membuka barisnya sehingga baris itu mengunci - maka titik tengah benar: apa lagi yang akan kita cari dari dalam puisi kalau puisi itu sendiri telah menutup kisahnya. bukankah ini kisah sang bujang yang sedang patah hati kata titik tengah.

       memang begitu: chairil terlambat membuka barisnya, tapi tidak lia amalia: ia langsung membuka barisnya dan kita boleh melihat sebuah gambar di mana orang seakan mengisap semua kedirian. dibawa masuk bersama "mari" - sebuah ajak, "kita" - kau dan aku. "menyelam" - mencari arti hidup ini, sebuah labirin. mengejar - jangan menyerah, terus melangkah walau tanpa kepastian. serta: ikan ikan. apakah "ikan-ikan" dan mengapa ajakan itu bukan duduk duduk saja di pojok jalan sana. tapi "mengejar ikan ikan".

kalau demikian halnya maka lia amalia telah mengatasi baris pertama chairil: ia membuat baris yang tidak menguncikan kisahnya, tapi membuka seluas apa yang mungkin dan apa yang mungkin itulah, mungkinnya kepengalaman dunia luas lebar masuk bersama "mari kita menyelam mengejar ikan-ikan". artinya itulah sebuah warta bagi manusia yang terus bergerak dari titik dia berangkat. saya kira sedemikian membuka baris lia itu, jauh mengatasi baris personal chairil yang menguncikan diri.

     tapi puisi tidak sesederhana itu, atau walau milik chairil: ini kali tidak ada yang mencari cinta, telah agak ditinggalkan jauh ke belakang oleh lia amalia, apa yang rebak ke bawah di senja di pelabuhan kecil bukanlah suatu hal yang bisa saja kita nafikan lewat pernyataan seperti nada gundah yang dilepas oleh titik tengah: kita tidak lagi mencari isi puisi, katanya, karena kita sudah dipuaskan oleh baris pertama: ini kali tidak ada yang mencari cinta. sedang saya justru tidak terpuaskan oleh baris pertama yang mengunci ini. saya malah lebih, sangat mendapatkan kecerahan lewat lia amalia yang memanggil chairil dari jauh - cara ia memanggil chairil dengan bersiul ke masa lalu. suiiit kata lia seraya ia melepas mata batinnya: mari kita menyelam mengejar ikan ikan.


titik tengah : ini kali tidak ada yang mencari cinta. saya kira : mari kita menyelam mengejar ikan ikan.

2 September 2013 pukul 12:30

                   bunyi mengatasi kaidah kata. juga imajinasi.

      apa yang saya sukai dari "titik tengah", bahwa ia melihat ke dalam bukan ke luar. bahwa bagi saya penglihatan seperti itu tidak cukup dalam, kita bisa mengerti dan pengertian ini datang dari kaidah manusia berbahasa, linguistik itu. kini saya hendak mewacanakan penglihatan linguistik yang dipakai titik tengah untuk mewartakan sajak atau puisi indonesia, itu kurang bersih karena ia terlalu banyak derau. banyak derau oleh bunyi jadi tidak bening. kalimat yang seharunya belum berhenti dihentikan oleh penyair, atau kalimat yang semestinya memintakan objeknya dibiarkan tanpa objek. jadi dalam pandangan titik tengah, memakai linguistik, itulah yang membuat bahasa syair kurang bersih. puisi harus bersih artinya tertib linguistik, tahu semantik mesti terikat dalam sintaktik. saya suka pandangan ini karena pandangan seperti ini menjadikan puisi itu dunia yang berarti: orang masuk melihatnya tidak sambil lalu. tapi bermain, mencoba cobakan kemungkinan dan ketidakmungkin dari dalam puisi.

      saya belum mau masuk ke logika linguistik itu, yang disorotkan "titik tengah" ke chairil anwar seperti saya membuat pembandingnya, menyorotkan pula logika linguistik ke puisi lia amalia sulaksmi. justru yang mula mula menggoda saya adalah logos dalam bahasa itu sendiri, bahwa ia halus, bahkan sedemikian halusnya sehingga hukum itu tak bisa kita lihat dengan pandangan mata, tapi bisa kita lihat dari pandangan bahasa. celakannya bahasa inilah logosnya. ia suatu hukum, ia suatu aturan. tapi ia juga suatu gema dari dunia yang saling lintasi melintasi.

     pelabuhan, itu sebuah dunia di luar sana, sebelum menjadi sebuah dunia di dalam sini - di dalam puisi chairil adalah senja di pelabuhan kecil. saat ia membawa sebuah kata adalah montase tapi terlebih lagi jukstaposisi, maka kita tahu bahwa mata "titik tengah" telah sampai ke dunia luas lebar, bahwa puisi adalah sebuah gema, sebuah pantulan dari acuan yang kini menyebar sebagai baris dalam bahasa puisi itu. tapi sebenarnya oleh ini pula ada dunia yang tertangkap tapi luput lagi, yang saya lihat bekerja di dalam diri titik tengah, bukan di dalam diri senja di pelabuhan kecil. dan itu berkaiatan dengan logika atau logos yang saya maksudkan. bahwa logos itu adalah kata, yang kini telah terkurung ke dalam sebuah arti tapi tidak maknanya. kata adalah dunia luar, semacam cungkup tapi cungkup ini sedemikian rentan. kapan kapan ia guyah, sungguh tak stabil. ia logos yang tak stabil, kata itu. ia cepat sekali, seandainya datang kata lain menghampiri dirinya, berubah dari artinya semula sebagai sebuah kata.

      tapi logos itu mesti ada. harus ada. dan sudah ada. oleh logos pula amelia lia kuasa mendugakan dunia luar masuk ke dalam, menjadi logos abstrak di dalam, untuk sekali lagi terguling dan kini diisolasikan, seolah mantab, ke puisi. puisi adalah tersusunya kata serta tanda yang mengikat kata - misalnya koma itu, tapi misalnya pula adalah enyambemen itu. masih ada misal lain adalah, bergeraknya bunyi bersama arti tapi bunyi kuasa mengatasi arti. bunyi yang beyond arti inilah makna dan ia cikal bakal sesuatu yang indah. linguistik tak bisa mengikatnya lagi, menariknya kembali ke dunia arti artian dirinya. dunia halus seperti itu, saya kira harus kita keluarkan terlebih dahulu dari dalam bahasa untuk kita lihat sebagai sebuah dunia di luar. saya mendapatkan otoritas untuk melakukan ini, oleh kerangka bahasa yang bersandar kepada lima keadaan kata yang telah saya rancang, spesial untuk menghadapi linguistik atau semiotik - bukan hanya menghadapi dunia linguistik titik tengah. tapi menghadapi cara galibnya membaca puisi, itulah yang kita orientasikan dengan lima keadaan kata itu.

     keadaan kata yang misalnya adalah dunia peristiwa, maka dalam dunia nyata keadaan benda benda saling lintasi melintasi tanpa suatu sekatnya. angin tak bisa, menghentikan dirinya oleh mendadak di depannya ada burung terbang melintas, dan angin mesti berhenti karena takut, dirinya menabrak burung itu. seperti itu juga dengan burung itu, tak kuasa berhenti oleh ia harus terbang. bahwa ia terbang menabrak angin, atau melayang justru dibawa oleh angin, itulah suatu dunia yang tak kuasa mencegat sebuah benda mengalir ke satu benda yang lain. itulah suatu struktur yang sistemnya memang bekerja sama saling masuk memasuki. ibarat rumah mereka tak berpagar, tapi sebenarnya analogi rumah yang berpagar, bisa dibuka oleh pagar ada pintunya. 

     kunci itu dibuka oleh sebuah tangan yang menggenggam anak kunci adalah linguistik. pagar itu adalah batas adalah kaidah bahasa linguistik. inilah keadaan kata hasil dari dunia benda, yang telah mengisolasikan dunia benda ke dalam bahasa: batu di luar kini teronggok jadi batu di dalam adalah kata. menyelam yang dipakai lia dalam kegiatan fisik di luar kini telah pindah dan namanya masih menyelam juga, tapi bukan laku nyata hanyalah sebuah nama. adalah kata, kata menyelam. orangnya tidak ada karena itu adalah sebuah isolasi dari dunia luar. tapi lihat ia terbuka kembali, dibuka oleh kunci yang lain adalah imajinasi. imajinasi yang membuat dunia bahasa/kata yang telah stayed sebagai pengurungan benda itu kini berantakan. apakah hasil dari ceraian ini, kalau bukan sensasi bunyi dan sebuah kemungkinan arti yang bergerak ke arah makna adalah keindahan.

     sampai di sini kita mesti berbicara tentang melimpahnya gema bunyi ke gema bunyi yang lain, yang mungkin akan menerobos selubung kata atau suatu kata, tempat di mana kelak linguistik itu patah, kurang sesuai dengan kehakekatan dari esensi sebuah dunia yang memang kehadirannya bukanlah hendak menguncikan diri, tapi membuka dalam sebuah kerangka: kerja sama antar benda dan kini, kerja sama antar kata tanpa suatu kata kuasa memintakan kerja sama penuh utuh, hanya seadanya saja mereka itu bekerja sama, oleh setiap kata memiliki nasibnya sendiri. dan karena itu arahnya sendiri.

0 komentar:

Posting Komentar