"yea, I have drawn the conclusion; now, however, doth it draw me""itu terserahku. di sini aku yang mengatur dan di ruang ini aku yang mengemudikan tubuhku untuk menyeberang menuju jembatan itu" - Afrilia utami, "(di) hari kematian kita", dalam buku puisi Halte biru.
"memang aku yang menarik kesimpulan itu; tetapi kini kesimpulan itu yang menarikku" - Nietzsche dalam Zarathustra.
Aku ingat anakku dengan matanya yang sunyi, dengan jiwanya yang senyap sepi karena kepergianku, sedih aku melihatnya, dan anakku pergi masuk menyelinap ke dalam jiwanya, sendiri. itulah hasilnya: lewat sunyi yang kesayu-sayuan, atau sayu yang kesenyap-senyapan, ia mengajak dengan cara membimbing tanganku agar masuk ke dalam hutan. yah kita sekarang masuk ke dalam hutan, sesuai yang kita inginkan sendiri yah. tapi tubuhku kini sedang bergerak, masuk ke hutan lain yakni hutan dari jiwa nietzsche zarathustra.
Sekarang, kita berdua pindah ke hutan. Sesuai apa yang kita inginkan, Yah.
Ingat iqbal juga, ia yang berdenting bagai seruling jiwanya, membangunkan rumah surga bagi nietzsche dan salah satu surga itu adalah sebuah frasa yang berbunyi (milik afrilia utami):
"memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini",
memang dingin, memang aku yang menarik dingin iniSebuah surga dari bentukan bahasa dan bahasa ini, yang kukenang kembali ada di tubuh wacana zarathustra, bukan hanya di tubuh bahasa afrilia, bukan di bagian wacananya lagi, tubuh dari hutan jiwa manusia yang tak saling mengenali satu dengan yang lain, walau aku mengenalinya dan karena itu kini mencoba memberi benang agar mereka terikat, sebagai sebuah teks dari banyak teks seakan jalan:
Jalan induk mencabang menganak, mengutip puisi buku puisi halte biru, andai "memang" yang membawakan "jalan" itu saya ubah (lewat otoritas interteks yang mekar), ia memang bisa menjadi, dari "memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini", ke "memang kata, memang bahasa, memang aku yang mengikat kisah mereka berdua".
"Yea, I have drawn the conclusion; now, however, doth it draw me"
Bahasa afrilia itu dibentukkan lewat kata, yang memuncak dan akhirnya begitu memuncak ke tengah, "memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini". tema memang berulang kepada penyair dan para penyair yang baik, akan selalu ditarik oleh tema bahasanya, seperti para penyair yang baik akan melayani dengan gaya (style)nya, tema yang meletus di jiwa mereka itu.
Olehnya saya melihat jelas tema dan gaya seperti itu menjadi ciri paling khas afrilia utami berpuisi, seperti kita lihat ia wujud dalam repetisi indah ini: "memang aku, memang aku yang mengikat dingin ini"; hal yang sama bisa kita dapatkan di "kepulauan bahagia" zarathustra nietzsche, gaya dan "tema" yang sama bergema sebagai serangkai penanda yang bukan main indah saat kita mencoba menghayatinya.
"Memang aku yang menarik kesimpulan itu; tetapi kini kesimpulan itu yang menarikku."
God-tuhan?
Jembatan
Indah? nah kata itu menggodaku kembali. Indah, makna, indah, penuh warna dari hidup ini. apa yang indah? sublime is a feeling, itulah suara kant dan itulah yang dikerjakan oleh para seniman bahasa ini: menyublimasikan dunia lewat perasaannya, mengaduk setiap apa dengan pikirannya - di ruang ruang jiwa sadar mereka, ruang abstrak itu kini menjadi, kata kristeva kemarin: space yang terberi adalah ruang bahasa/ciptaan sastra, tempat segala ruang saling memotong dan pengarang menetralkan semua yang datang, melakukan pembentukan kembali sesuai ideologeme mereka sendiri.
Atau kata afrilia: akulah yang memiliki "bounded text"-ku sendiri:
di sini, aku yang mengatur, ke mana membawa tiap batas dari sentuhanku pada dunia alam dan dunia teks/karya adalah bahasa. ya, tiap kita manusia tak pernah steril dari masa lalu - juga dari masa kini, bahkan masa depan diam diam kerap menyelinap lewat panggilan apa yang kita inginkan, sebuah idealisasi dan jangan jangan bahasa itu sebenarnya, adalah gema dari masa depan yang kita panggili sendiri lewat, jembatan, tempat tubuhku - tubuh afrilia, menyeberang tempat tubuhku, tubuh zarathustra, juga menyeberang dengan membuat Tuhan nol, sepenuh dinegasikan. agak bertanya tanya kita, mengapa God di zarathustra saat sampai ke kita - saya membaca sabda zarathustra lewat terjemahan bentang, di antaranya, tempat Tuhan-God dijadikan huruf kapital di "bentang" itu: tuhan, bukan Tuhan sebagaimana yang diinginkan oleh teks nietzsche itu.
"But that I may reveal my heart entirely unto you, my friends: if there were God, how could I endure to be no God! Therefore there are no Gods."
"Tetapi baiklah kubuka hatiku seluruhnya pada kalian sobat-sobat: jika memang ada tuhan-tuhan itu, bagaimana aku tidak bisa tahan tidak menjadi tuhan! Karena itu tidak ada tuhan-tuhan itu."
Kita hanya mewacanakan saja, tidak ingin masuk ke perbedaan God-tuhan dalam dua bahasa ini, kecuali ingin mengambil spirit keindahan dari bahasa negasi seraya, pada saat yang sama, orang bahasa membuat "jembatan untuk menyeberang" - pada aspek jembatan dan gerak menyeberang inilah kita membayangkan masa depan alias, atau, masa depan tak harus ada di sana tapi ia bisa menjadi juga, dunia absence dari hal yang semestinya hadir - presence. hutan itu di antaranya, dunia yang absence dan karena itu kini dikejar - tubuh dibawa menyeberang, melalui jembatan bahasa, ke dalam gua, ke dalam hutan.
Menyadari seolah-olah terlalu egois, sambil terus mencobakan apa yang terasa egois adalah kunci, dari sebuah bahasa, bahwa itulah puncak atau di kepuncakan "kalimat" itu kita melihat danau jiwa pengarang yang bergolak, hal ini yang melecut terus jiwa kita saat membaca dan mulai melihat kedalaman jiwa itu kini terapung di kalimat kalimat ini, dalam bentukan (afrilia) "memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini", atau pada nietzsche yang membuat kesimpulan sama setelah ke sana ke mari berwacana tentang diriNya, sebelum muncul dengan "memang" adalah: "memang aku yang menarik kesimpulan ini; sebelum kesimpulan ini menarikku." kita ingin sejenak diam di dua kata ini: "mengikat" serta "menarik". dua kata yang dijadikan tali bagi kedua orang itu, tali yang mengikat dan menarik dunia luar ke dalam dunia dalam mereka, tempat kini kita ikut masuk, terikat karena ditarik oleh tali jiwa pengarang (baca: cerita).
KONTRAS
rumah kayu & di kepulauan bahagia
*Tuhan sudah mati
*aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna
*Tuhan hidup kembali
rupanya
Bukanlah kita mengada-ngadakan, atau "mencuri" nietzsche dan melakukan pembesaran, begitu besar pada dunia rumah kayu, tapi oleh kontras yang terasa begitu menggetarkan hati. sebab alasan utama terbangunnya "di kepulauan bahagia", adalah saat Tuhan telah mati, dimatikan oleh si aku zarathustra dan karena itu kepualaun bahagia nama lain dari tanda yang berkembang ke arah manusia, adalah manusia unggul. jadi menyepinya sufi nietzsche ini, demi untuk menciptakan manusia unggul. di sini kita bertemu dengan dua jenis bahasa yang lain sekali: rumah kayu tidak mengenal kehendak untuk berkuasa sampai menjadi manusia unggul. justru ia sebuah renungan yang begitu memilukan. motifnya adalah mensyukuri hidup, bukan kehendak ingin menjadi unggul. kontras ini yang menarik dan dua kata kunci tadi membawa kita masuk ke dalamnya. ada arogansi besar pada di kepulauan bahagia nietzsche itu, suatu angkuh yang tak musti kita buru buru melepaskan kata kutuk pada kehendak seperti itu. justru dengan mengujinya dengan cara membenturkannya kepada jiwa jiwa (yang tampak rapuh, di awalnya, tapi begitu teguh memelihar diri mereka sendiri), maka bentuk keunggulan itu mewujud tapi tanpa suatu negasi kepadaNya. inilah inti dari rumah kayu: ia menjadi manusia unggul justru dengan cara memanggilNya lewat renungan ayah dan anak. sudah lama afrilia ini bersuara khas seperti khasnya suara nietzsche itu: tuhan sudah mati, katanya, tapi afilia berbisik seolah membuat pengingat pada nietzsche: aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna.
"yea, I have drawn the conclusion; now, however, doth it draw me""itu terserahku. di sini aku yang mengatur dan di ruang ini aku yang mengemudikan tubuhku untuk menyeberang menuju jembatan itu" - Afrilia utami, "(di) hari kematian kita", dalam buku puisi Halte biru."memang aku yang menarik kesimpulan itu; tetapi kini kesimpulan itu yang menarikku" - Nietzsche dalam Zarathustra.
Aku ingat anakku dengan matanya yang sunyi, dengan jiwanya yang senyap sepi karena kepergianku, sedih aku melihatnya, dan anakku pergi masuk menyelinap ke dalam jiwanya, sendiri. itulah hasilnya: lewat sunyi yang kesayu-sayuan, atau sayu yang kesenyap-senyapan, ia mengajak dengan cara membimbing tanganku agar masuk ke dalam hutan. yah kita sekarang masuk ke dalam hutan, sesuai yang kita inginkan sendiri yah. tapi tubuhku kini sedang bergerak, masuk ke hutan lain yakni hutan dari jiwa nietzsche zarathustra.
Sekarang, kita berdua pindah ke hutan. Sesuai apa yang kita inginkan, Yah.Ingat iqbal juga, ia yang berdenting bagai seruling jiwanya, membangunkan rumah surga bagi nietzsche dan salah satu surga itu adalah sebuah frasa yang berbunyi (milik afrilia utami):
"memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini",
memang dingin, memang aku yang menarik dingin iniSebuah surga dari bentukan bahasa dan bahasa ini, yang kukenang kembali ada di tubuh wacana zarathustra, bukan hanya di tubuh bahasa afrilia, bukan di bagian wacananya lagi, tubuh dari hutan jiwa manusia yang tak saling mengenali satu dengan yang lain, walau aku mengenalinya dan karena itu kini mencoba memberi benang agar mereka terikat, sebagai sebuah teks dari banyak teks seakan jalan:Jalan induk mencabang menganak, mengutip puisi buku puisi halte biru, andai "memang" yang membawakan "jalan" itu saya ubah (lewat otoritas interteks yang mekar), ia memang bisa menjadi, dari "memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini", ke "memang kata, memang bahasa, memang aku yang mengikat kisah mereka berdua".
"Yea, I have drawn the conclusion; now, however, doth it draw me"
Bahasa afrilia itu dibentukkan lewat kata, yang memuncak dan akhirnya begitu memuncak ke tengah, "memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini". tema memang berulang kepada penyair dan para penyair yang baik, akan selalu ditarik oleh tema bahasanya, seperti para penyair yang baik akan melayani dengan gaya (style)nya, tema yang meletus di jiwa mereka itu.
Olehnya saya melihat jelas tema dan gaya seperti itu menjadi ciri paling khas afrilia utami berpuisi, seperti kita lihat ia wujud dalam repetisi indah ini: "memang aku, memang aku yang mengikat dingin ini"; hal yang sama bisa kita dapatkan di "kepulauan bahagia" zarathustra nietzsche, gaya dan "tema" yang sama bergema sebagai serangkai penanda yang bukan main indah saat kita mencoba menghayatinya.
"Memang aku yang menarik kesimpulan itu; tetapi kini kesimpulan itu yang menarikku."
God-tuhan?
Jembatan
Indah? nah kata itu menggodaku kembali. Indah, makna, indah, penuh warna dari hidup ini. apa yang indah? sublime is a feeling, itulah suara kant dan itulah yang dikerjakan oleh para seniman bahasa ini: menyublimasikan dunia lewat perasaannya, mengaduk setiap apa dengan pikirannya - di ruang ruang jiwa sadar mereka, ruang abstrak itu kini menjadi, kata kristeva kemarin: space yang terberi adalah ruang bahasa/ciptaan sastra, tempat segala ruang saling memotong dan pengarang menetralkan semua yang datang, melakukan pembentukan kembali sesuai ideologeme mereka sendiri.
Atau kata afrilia: akulah yang memiliki "bounded text"-ku sendiri:
di sini, aku yang mengatur, ke mana membawa tiap batas dari sentuhanku pada dunia alam dan dunia teks/karya adalah bahasa. ya, tiap kita manusia tak pernah steril dari masa lalu - juga dari masa kini, bahkan masa depan diam diam kerap menyelinap lewat panggilan apa yang kita inginkan, sebuah idealisasi dan jangan jangan bahasa itu sebenarnya, adalah gema dari masa depan yang kita panggili sendiri lewat, jembatan, tempat tubuhku - tubuh afrilia, menyeberang tempat tubuhku, tubuh zarathustra, juga menyeberang dengan membuat Tuhan nol, sepenuh dinegasikan. agak bertanya tanya kita, mengapa God di zarathustra saat sampai ke kita - saya membaca sabda zarathustra lewat terjemahan bentang, di antaranya, tempat Tuhan-God dijadikan huruf kapital di "bentang" itu: tuhan, bukan Tuhan sebagaimana yang diinginkan oleh teks nietzsche itu.
"But that I may reveal my heart entirely unto you, my friends: if there were God, how could I endure to be no God! Therefore there are no Gods."
"Tetapi baiklah kubuka hatiku seluruhnya pada kalian sobat-sobat: jika memang ada tuhan-tuhan itu, bagaimana aku tidak bisa tahan tidak menjadi tuhan! Karena itu tidak ada tuhan-tuhan itu."
Kita hanya mewacanakan saja, tidak ingin masuk ke perbedaan God-tuhan dalam dua bahasa ini, kecuali ingin mengambil spirit keindahan dari bahasa negasi seraya, pada saat yang sama, orang bahasa membuat "jembatan untuk menyeberang" - pada aspek jembatan dan gerak menyeberang inilah kita membayangkan masa depan alias, atau, masa depan tak harus ada di sana tapi ia bisa menjadi juga, dunia absence dari hal yang semestinya hadir - presence. hutan itu di antaranya, dunia yang absence dan karena itu kini dikejar - tubuh dibawa menyeberang, melalui jembatan bahasa, ke dalam gua, ke dalam hutan.
Menyadari seolah-olah terlalu egois, sambil terus mencobakan apa yang terasa egois adalah kunci, dari sebuah bahasa, bahwa itulah puncak atau di kepuncakan "kalimat" itu kita melihat danau jiwa pengarang yang bergolak, hal ini yang melecut terus jiwa kita saat membaca dan mulai melihat kedalaman jiwa itu kini terapung di kalimat kalimat ini, dalam bentukan (afrilia) "memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini", atau pada nietzsche yang membuat kesimpulan sama setelah ke sana ke mari berwacana tentang diriNya, sebelum muncul dengan "memang" adalah: "memang aku yang menarik kesimpulan ini; sebelum kesimpulan ini menarikku." kita ingin sejenak diam di dua kata ini: "mengikat" serta "menarik". dua kata yang dijadikan tali bagi kedua orang itu, tali yang mengikat dan menarik dunia luar ke dalam dunia dalam mereka, tempat kini kita ikut masuk, terikat karena ditarik oleh tali jiwa pengarang (baca: cerita).
KONTRAS
rumah kayu & di kepulauan bahagia
*Tuhan sudah mati
*aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna
*Tuhan hidup kembali
rupanya
Bukanlah kita mengada-ngadakan, atau "mencuri" nietzsche dan melakukan pembesaran, begitu besar pada dunia rumah kayu, tapi oleh kontras yang terasa begitu menggetarkan hati. sebab alasan utama terbangunnya "di kepulauan bahagia", adalah saat Tuhan telah mati, dimatikan oleh si aku zarathustra dan karena itu kepualaun bahagia nama lain dari tanda yang berkembang ke arah manusia, adalah manusia unggul. jadi menyepinya sufi nietzsche ini, demi untuk menciptakan manusia unggul. di sini kita bertemu dengan dua jenis bahasa yang lain sekali: rumah kayu tidak mengenal kehendak untuk berkuasa sampai menjadi manusia unggul. justru ia sebuah renungan yang begitu memilukan. motifnya adalah mensyukuri hidup, bukan kehendak ingin menjadi unggul. kontras ini yang menarik dan dua kata kunci tadi membawa kita masuk ke dalamnya. ada arogansi besar pada di kepulauan bahagia nietzsche itu, suatu angkuh yang tak musti kita buru buru melepaskan kata kutuk pada kehendak seperti itu. justru dengan mengujinya dengan cara membenturkannya kepada jiwa jiwa (yang tampak rapuh, di awalnya, tapi begitu teguh memelihar diri mereka sendiri), maka bentuk keunggulan itu mewujud tapi tanpa suatu negasi kepadaNya. inilah inti dari rumah kayu: ia menjadi manusia unggul justru dengan cara memanggilNya lewat renungan ayah dan anak. sudah lama afrilia ini bersuara khas seperti khasnya suara nietzsche itu: tuhan sudah mati, katanya, tapi afilia berbisik seolah membuat pengingat pada nietzsche: aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna.

