Rabu, 28 Januari 2015

4. KRITIK sastra


"yea, I have drawn the conclusion; now, however, doth it draw me""yea, I have drawn the conclusion; now, however, doth it draw me""itu terserahku. di sini aku yang mengatur dan di ruang ini aku yang mengemudikan tubuhku untuk menyeberang menuju jembatan itu" - Afrilia utami, "(di) hari kematian kita", dalam buku puisi Halte biru.

"memang aku yang menarik kesimpulan itu; tetapi kini kesimpulan itu yang menarikku" - Nietzsche dalam Zarathustra.

Aku ingat anakku dengan matanya yang sunyi, dengan jiwanya yang senyap sepi karena kepergianku, sedih aku melihatnya, dan anakku pergi masuk menyelinap ke dalam jiwanya, sendiri. itulah hasilnya: lewat sunyi yang kesayu-sayuan, atau sayu yang kesenyap-senyapan, ia mengajak dengan cara membimbing tanganku agar masuk ke dalam hutan. yah kita sekarang masuk ke dalam hutan, sesuai yang kita inginkan sendiri yah. tapi tubuhku kini sedang bergerak, masuk ke hutan lain yakni hutan dari jiwa nietzsche zarathustra.Sekarang, kita berdua pindah ke hutan. Sesuai apa yang kita inginkan, Yah.Sekarang, kita berdua pindah ke hutan. Sesuai apa yang kita inginkan, Yah.

Ingat iqbal juga, ia yang berdenting bagai seruling jiwanya, membangunkan rumah surga bagi nietzsche dan salah satu surga itu adalah sebuah frasa yang berbunyi (milik afrilia utami):

"memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini",

memang dingin, memang aku yang menarik dingin inimemang dingin, memang aku yang menarik dingin iniSebuah surga dari bentukan bahasa dan bahasa ini, yang kukenang kembali ada di tubuh wacana zarathustra, bukan hanya di tubuh bahasa afrilia, bukan di bagian wacananya lagi, tubuh dari hutan jiwa manusia yang tak saling mengenali satu dengan yang lain, walau aku mengenalinya dan karena itu kini mencoba memberi benang agar mereka terikat, sebagai sebuah teks dari banyak teks seakan jalan:

Jalan induk mencabang menganak, mengutip puisi buku puisi halte biru, andai "memang" yang membawakan "jalan" itu saya ubah (lewat otoritas interteks yang mekar), ia memang bisa menjadi, dari "memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini", ke "memang kata, memang bahasa, memang aku yang mengikat kisah mereka berdua".

"Yea, I have drawn the conclusion; now, however, doth it draw me"

Bahasa afrilia itu dibentukkan lewat kata, yang memuncak dan akhirnya begitu memuncak ke tengah, "memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini". tema memang berulang kepada penyair dan para penyair yang baik, akan selalu ditarik oleh tema bahasanya, seperti para penyair yang baik akan melayani dengan gaya (style)nya, tema yang meletus di jiwa mereka itu.

Olehnya saya melihat jelas tema dan gaya seperti itu menjadi ciri paling khas afrilia utami berpuisi, seperti kita lihat ia wujud dalam repetisi indah ini: "memang aku, memang aku yang mengikat dingin ini"; hal yang sama bisa kita dapatkan di "kepulauan bahagia" zarathustra nietzsche, gaya dan "tema" yang sama bergema sebagai serangkai penanda yang bukan main indah saat kita mencoba menghayatinya.

"Memang aku yang menarik kesimpulan itu; tetapi kini kesimpulan itu yang menarikku."


   God-tuhan? 

Jembatan

   Indah? nah kata itu menggodaku kembali. Indah, makna, indah, penuh warna dari hidup ini. apa yang indah? sublime is a feeling, itulah suara kant dan itulah yang dikerjakan oleh para seniman bahasa ini: menyublimasikan dunia lewat perasaannya, mengaduk setiap apa dengan pikirannya - di ruang ruang jiwa sadar mereka, ruang abstrak itu kini menjadi, kata kristeva kemarin: space yang terberi adalah ruang bahasa/ciptaan sastra, tempat segala ruang saling memotong dan pengarang menetralkan semua yang datang, melakukan pembentukan kembali sesuai ideologeme mereka sendiri.

   Atau kata afrilia: akulah yang memiliki "bounded text"-ku sendiri:

di sini, aku yang mengatur, ke mana membawa tiap batas dari sentuhanku pada dunia alam dan dunia teks/karya adalah bahasa. ya, tiap kita manusia tak pernah steril dari masa lalu - juga dari masa kini, bahkan masa depan diam diam kerap menyelinap lewat panggilan apa yang kita inginkan, sebuah idealisasi dan jangan jangan bahasa itu sebenarnya, adalah gema dari masa depan yang kita panggili sendiri lewat, jembatan, tempat tubuhku - tubuh afrilia, menyeberang tempat tubuhku, tubuh zarathustra, juga menyeberang dengan membuat Tuhan nol, sepenuh dinegasikan. agak bertanya tanya kita, mengapa God di zarathustra saat sampai ke kita - saya membaca sabda zarathustra lewat terjemahan bentang, di antaranya, tempat Tuhan-God dijadikan huruf kapital di "bentang" itu: tuhan, bukan Tuhan sebagaimana yang diinginkan oleh teks nietzsche itu.

"But that I may reveal my heart entirely unto you, my friends: if there were God, how could I endure to be no God! Therefore there are no Gods."

"Tetapi baiklah kubuka hatiku seluruhnya pada kalian sobat-sobat: jika memang ada tuhan-tuhan itu, bagaimana aku tidak bisa tahan tidak menjadi tuhan! Karena itu tidak ada tuhan-tuhan itu."

Kita hanya mewacanakan saja, tidak ingin masuk ke perbedaan God-tuhan dalam dua bahasa ini, kecuali ingin mengambil spirit keindahan dari bahasa negasi seraya, pada saat yang sama, orang bahasa membuat "jembatan untuk menyeberang" - pada aspek jembatan dan gerak menyeberang inilah kita membayangkan masa depan alias, atau, masa depan tak harus ada di sana tapi ia bisa menjadi juga, dunia absence dari hal yang semestinya hadir - presence. hutan itu di antaranya, dunia yang absence dan karena itu kini dikejar - tubuh dibawa menyeberang, melalui jembatan bahasa, ke dalam gua, ke dalam hutan.

Menyadari seolah-olah terlalu egois, sambil terus mencobakan apa yang terasa egois adalah kunci, dari sebuah bahasa, bahwa itulah puncak atau di kepuncakan "kalimat" itu kita melihat danau jiwa pengarang yang bergolak, hal ini yang melecut terus jiwa kita saat membaca dan mulai melihat kedalaman jiwa itu kini terapung di kalimat kalimat ini, dalam bentukan (afrilia) "memang dingin, memang aku yang mengikat dingin ini", atau pada nietzsche yang membuat kesimpulan sama setelah ke sana ke mari berwacana tentang diriNya, sebelum muncul dengan "memang" adalah: "memang aku yang menarik kesimpulan ini; sebelum kesimpulan ini menarikku." kita ingin sejenak diam di dua kata ini: "mengikat" serta "menarik". dua kata yang dijadikan tali bagi kedua orang itu, tali yang mengikat dan menarik dunia luar ke dalam dunia dalam mereka, tempat kini kita ikut masuk, terikat karena ditarik oleh tali jiwa pengarang (baca: cerita).


KONTRAS
rumah kayu & di kepulauan bahagia

*Tuhan sudah mati
*aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna
*Tuhan hidup kembali
rupanya

Bukanlah kita mengada-ngadakan, atau "mencuri" nietzsche dan melakukan pembesaran, begitu besar pada dunia rumah kayu, tapi oleh kontras yang terasa begitu menggetarkan hati. sebab alasan utama terbangunnya "di kepulauan bahagia", adalah saat Tuhan telah mati, dimatikan oleh si aku zarathustra dan karena itu kepualaun bahagia nama lain dari tanda yang berkembang ke arah manusia, adalah manusia unggul. jadi menyepinya sufi nietzsche ini, demi untuk menciptakan manusia unggul. di sini kita bertemu dengan dua jenis bahasa yang lain sekali: rumah kayu tidak mengenal kehendak untuk berkuasa sampai menjadi manusia unggul. justru ia sebuah renungan yang begitu memilukan. motifnya adalah mensyukuri hidup, bukan kehendak ingin menjadi unggul. kontras ini yang menarik dan dua kata kunci tadi membawa kita masuk ke dalamnya. ada arogansi besar pada di kepulauan bahagia nietzsche itu, suatu angkuh yang tak musti kita buru buru melepaskan kata kutuk pada kehendak seperti itu. justru dengan mengujinya dengan cara membenturkannya kepada jiwa jiwa (yang tampak rapuh, di awalnya, tapi begitu teguh memelihar diri mereka sendiri), maka bentuk keunggulan itu mewujud tapi tanpa suatu negasi kepadaNya. inilah inti dari rumah kayu: ia menjadi manusia unggul justru dengan cara memanggilNya lewat renungan ayah dan anak. sudah lama afrilia ini bersuara khas seperti khasnya suara nietzsche itu: tuhan sudah mati, katanya, tapi afilia berbisik seolah membuat pengingat pada nietzsche: aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna.

novel nugroho suksmanto, lauh mahfuz

     

makna yang membentuk lauh mahfuz


       Sementara termenung memikirkan gagasan (novel) fakta dan (novel) fiksi, yang dapat kita lihat lewat beberapa "kata" menjadi pintu masuk bagi peristiwa kekinian, misalnya disebutnya dua peristiwa yang terjadi dalam level nasional (G 30 S, tumbangnya rezim soekarno, soeharto, yang dulu pernah diyakini sebagai satria piningit), hingar bingar yang berlangsung di dunia internasional, mengambang ke beberapa nama adalah saddam husein, osama bin laden, george w bush, khaddafy, obama, nato, hancurnya word trade center, gedung menara kembar di amerika, nama-nama yang bukan fiksi tapi fakta. 

      tapi novel membuat dikotomik saat apa yang "fiksi", mirip khayalan atau setidaknya, sifat faktanya hanya dalam keyakinan dan walau ia tertuang dalam bahasa, bahasa kitab suci, tak urung bahasa itu meruang sebagai iman dalam hati. dus, keyakinan, sehingga watak faktanya hanya pada bahasa bukan seperti nama dan peristiwa yang terpampang. itulah dunia dari ujung sini dan ujung sana. imam mahdi ("dan masyarakat muslim pinggiran yang memimpikan kedatangan imam mahdi" - lauh mahfuz, hal 7), serta lauh mahfuz itu sendiri, adalah ujung sana, yang dihadirkan, di dikotomi, dengan ujung sini, hidup yang menjadi pengalaman konkret kita. 

       andai bertolak dari linguistik saussure, atau kita bisa meminjam saussure untuk melakukan discourse akan makna, mula-mula, maka makna (novel ini), bukanlah datang dari "satu kata" semata tapi relasional dari "dua gejala". itulah gejala langit dan gejala bumi, yang kini berkorelasi membentuk makna novel. jejaknya - isinya, lewat riwayat panji yang memulai kisah dirinya berburu wirog. panji sebagai anak kini bisa kita terakan sebagai manusia kecil alias manusia kalah, di satu arti, atau manusia bumi melawan manusia langit di arti yang lain, atau kalau kita turunkan ke bumi dan mulai memekarkannya ke dalam level antarnegara, adalah negara adidaya serta lawannya, seperti irak, atau kita. george w bush atau khaddafy. 

      akhirnya negara menjadi kata dan pun manusia, menjadi kata seperti dunia jauh langit dan dunia dekat bumi, juga menjadi kata. dua keadaan kata yang berkorelasi membentukkan maknanya sendiri. dunia gorong gorong, dunia bawah, dunia kecil yang adalah hidup panji kecil, itu seakan menjadi isyarat dari dunia kecil yang sedang melawan dunia besar. besar lalu seolah mengatribusi kepada setiap peristiwa yang sedang terjadi di dunia kecil. kucing, atributnya, dan mati; tikus juga, tapi tak/belum mati, bergerak ke sana ke mari dikejar-kejar aku yang kini membesar - aku panji. 

      kita lalu terlibat dalam lapisan itu: besar dan kecil, dibaca dari tengah berkorelasi dengan apa kata itu. panji besar apabila didikotomikan dengan kucing, atau tikus. tapi ia pada saat yang sama ia sedang kita peragakan sebagai representasi ketimpangan relasional antara yang kuat dan yang lemah. setidaknya saat tulisan ini ada dalam dua bab lauh mahfuz, sebagai metode cara ia bekerja - membelah novel ke dalam bagian bagiannya.




          "editing"


      Dunia besar dibocorkan lewat dunia kecil, melalui gerak dari bahasa novel yang bercerita tentang panji, yang berburu wirog, tapi bahasa bernama linguistik yang kelak disentuh oleh semiotik, ditarik menjadi gerakan strukturalisme dan post-nya, itu sebuah dunia di mana kabar akan struktur mula mula bekerja di dalam sebagai tehnik membangun cerita, sebelum cerita lewat ide yang dipetik dari luar itu melemparkan "dalam" ini lewat konvensi penutup novel (telah dua kali gerak ini diperagakan, sehingga ia menjadi cara bukan saja menutup bab novel tapi), sekaligus melonggarkan struktur/bentuk novel ke isinya, yang mekar menjangkau ke luar itu.

       kita turunkan, penutup bagian 2 dan dari sini kita masuk bagaimana bagian kedua ini bekerja, melata lewat sebaran hidup manusia panji yang menceritakan masa kanaknya lewat pelbagai genre itu.

      "tiba tiba aku tersentak ketika CNN menampilkan tayangan masyarakat sipil yang tewas mengenaskan di irak dan di afganistan. menjadi korban perang dan permusuhan yang masih tersisa. sementara, osama bin laden masih saja tetap menjadi buronan, dan ternyata, tertangkapnya saddam husein, yang mengakhiri perburuan panjang seorang penjahat perang, belum juga meredakan ketegangan dan bahkan memunculkan pergolakan-pergolakan baru.

     Jangan-jangan seperti perburuanku terhadap wirog biadab itu, yang hanya melahirkan realitas kepedihan dan kegembiraan dalam khayalan!"

     Sukar sekali kita menahan limpahan dari kemungkinan-kemungkinan makna yang walau individual - dunia dinamik dari pertemuan, atau perbenturan, kita dengan bahasa, dengan novel, misalnya kini mengapung CNN sebagai mata, bahwa bukan semata atau ia telah melampaui bentuknya: televisi, tapi telah bergerak menjadi mata, melihat, dan ini artinya sang novelis telah dengan demokratis menghimbau mata lain untuk bersama matanya, melihat apa yang ia lihat.

     apa yang menarik, apa yang ia pandang, itu adalah mata yang mekar dan tumbuh, mata yang bergerak ke luar - ke kejadian politik masa kini, masa perang amerika irak itu (rasanya perang itu takkan pernah berhenti: dulu inggris yang menjadi amerika dan kini giliran amerika yang leading di depan inggris - kapan indonesia?), lewat mata juga beralih ke hidup panji kecil, tempat di mana bentuk dan jenis mata mengucapkan banyak sesuatu.

      berburu wirog itu menjadi mata yang berbicara, akan banyak hal, mata lewat air mata sedih, tapi mata lewat air mata marah juga. diam diam bentuk bentuk mata itu memang memendamkan banyak hal. mata ini begitu unik, setelah ia naik menjadi mata langit, kini bergerak turun sebagai mata bumi. melompat lompat ke segenap dunia, sebelum akhirnya, menjadi mata yang memandangi dirinya sendiri, adalah masa lalu panji.

       kita ingin menjadi mata bersama mata di dalam novel, melihat kejadian kejadian yang menjadi isyarat mata jauh dari novel ini kelak. melalui mata batin, mata bahasa kita kini mengikuti gerakan mata pena sang novelis yang tengah meminjamkan tubuhnya lewat tubuh orang lain, tubuh panji.


             mata


       jadi nama pena di lengan kita itu kini adalah mata - apakah oleh sebab ini maka ia disebut mata pena? lengan nugroho suksmanto bermata, lewat novelnya mata di lengan ini menuliskan apa yang dipandangi oleh matanya. sambil menulis, ia meminjam mata lain adalah cnn, agar kita juga melihat dengan mata kita, kejadian kejadian apa yang dipandangi oleh mata batin nugroho. sebenarnya, mata seperti apa yang tengah bekerja di negeri kita ini? mata dari nurani yang tumbuh sebagai mata batin di dalam?

       atau mata dari laras senjata yang sedang mengarahkan ketajaman pelurunya ke dada kita. begitu rupa tampaknya, tanda itu bergerak ke sana ke mari. setelah dari mata langit (lauh mahfuz), kini ia jadi mata panji yang melakukan kegiatan berburu wirog. apakah hidup ini puisi, sehingga daerah yang paling jauh kuasa menjadi daerah yang paling dekat, sebelum melemparkan diri kita kembali ke jauh - ke betapa susahnya mencarikan tiap penyelesaian saat orang berhadap-hadapan lewat kebenaran matanya.

      jauh kejadian-kejadian di dalam dunia itu, tapi mata mengambil lapisan-lapisannya, agar setiap mata yang ingin memandanginya dapat pula melihatnya.


       aporisma barthes : 

         "structural man takes the real, decomposes it, then, recomposes it."

           - bab 9 buku paul h fry (theory of literature), linguistics and literature, hal . 112 -

      lauh mahfuz berisikan ketetapan yang tak terlacak, tapi jejaknya hidup dalam peristiwa langsung, atau peristiwa langsung yang kini tertahan, mengalir ke dalam bahasa; itulah fiksi, yang kokoh sebagai fakta dalam bahasa. seperti kokohnya alur nasib yang bekerja di peristiwa panji kecil yang perlahan-lahan mengungkapkan siapa dirinya. 

     apakah bisa kita mengambil aporisma barthes untuk keperluan kita sendiri, bahwa racun tikus itulah saat panji berada dalam "struktural man takes the real", panji nyata mengambil racun tikus, untuk meracun tikus, agar tikus mati. sedangkan tikus itu hidup sebelum andai ia mati, maka keadaannya adalah, dalam keadaan "composes it", tapi gerak dari niat yang diwujudkan dengan mengambil racun tikus dan memasangnya, adalah "decomposes it". 

      semua itu agar tercipta ketenangan kembali.

       jadi "recomposes it" bukanlah menyusun, menata kembali untuk menghidupkan tikus yang memang telah "terurai", hidup sebagai sebuah fakta wirog dalam novel, tapi membunuhnya, men-"decomposes it". 

       inilah sebuah gerak yang bekerja dan itulah kebebasan penuh pada manusia, sebelum kebebasan itu terbentur oleh nasib yang datang dari langit, dari ketetatapn lauh mahfuz akan umur tikus dan umur kucing, karena kucing itu yang ter "decomposes it", bukan tikus itu.


   berada di bab 2 novel lauh mahfuz, tak putus-putusnya saya merenungkan keberadaan juru bicara novel dalam hubungan dengan muasalnya, novelis. bahwa kita kini menghadapi panji yang masih anak-anak, hidup dalam dunia anak-anak tapi kelak muncul, di akhir, sebagai dunia orang dewasa. ada perkembangan narasi tapi bukan subtansinya yang menarik hati, tapi tentang keberadaan atau hakikat sang pencerita. saya ingin mewacanakan ini dengan cara menjelajahinya dari sudut ke sudut, tapi kita juga, ingin menikmati bagian yang menarik dari cerita yang mengharukan, yang dibawakan dengan beberapa sudut pandang dalam novel.

   apakah andai kita terpukau pada gaya, cara bercerita aku, kita lalu hanyut dan tak lagi punya kesempatan menikmati isinya, kecuali cara bercerita itu? hal ini membawakan kita kepada dunia dikotomi itu: dunia langit lewat lauh mahfuz sebagai dunia samar tapi bekerja isinya ke peristiwa di bumi. apakah ini yang menarik kita, atau memang kualitas bahasa, yang menjadi cara aku ini mengisahkan dirinya. 

    tak mungkin kita menulis semata hanya bermain di besaran, disemacam alur luas yang telah kita utarakan sebelumnya. akhirnya kita, setelah "membesar", akan "mengecil". artinya masuk ke dalam cerita dengan tema dan sub tema sebagai pegangan di tangan. lauh mahfuz itulah tema, akan mungkin metafor seperti yang diyakini oleh iqbal. tapi isinya, bukan lagi metafor tapi kehidupan nyata, setidaknya kenyataan dalam novel, kehidupan fantasi dalam novel.

Tuhanku

pena kedua itu kini telah jadi pena ketiga, sesaat puisi Tuhanku itu dilepaskan dan mengambil bentuknya yang final - tak ditimbang lagi apakah namanya, misalnya Tuhan atau Tuhanku. Pertemuan gema bunyi, yang membuat u sebagai ujung ku itu menadakan lain dari semisal ia hanya berbunyi Tuhan saja. Tuhanku langsung menyambungkannya dengan segenap ada, ada-mahluk ini, yang kita tahu adalah ciptaanNya lewat gerakan pena pertama yang menulis, secara gaib.

Kelak ia membisikkan setiap hal ihwal ke setiap ada-nya, tak sebegitu gaib seperti saat ia pertama mengajarkan bahasa kepada ada-nya di awal mula yakni adam. ini andai kita mengacu kepada bentuk Tuhan dari kitabNya sendiri, atau mengacu juga ke puisi dalam novel lauh mahfuz nugroho suksmanto ini. Kita kehadiran bentuk tanpa bentuk - bentuk yang tak terbayangkan, dari diri setiap ada yang berbentuk dan nyata ini. sebaliknya Tuhan tak tampak, tapi begitu nyata ia mengambil tempatnya di puisi Tuhanku ini.

Korespondensi langsung terciptaa saat "ku" menjadi penghuni hubungan Tuhan dan manusia. Seperti apa relasi itu, itu yang menarik hati karena bukanlah sebuah kebetulan, novel langit ini memasang segera setelah alinea pertama, puisi Tuhanku dengan latar lukisannya - di ruang kerja tokoh novel. atau di ruang nyata novelisnya juga? Kita sedang menghadapi bahasa, walau ia akan selalu terhubung dengan pengarangnya.

Jadi posisi novel ini membiarkan saja, dan kita beroleh Tuhan yang amat imajinatif, betapa Dia hanya melihat dari setiap gerakan pena pertama-Nya di langit, lauh mahfuz itu, yang lembar demi lembar dirinya sebagai buku langit dihiasi oleh pena langit dan setiap tinta itu adalah riwayat ada di bumi.

Inilah Tuhan yang pensiun, seperti kelak kita semua ini, rehat dari rutin - pensiun. akhirnya, parpipurna tak lagi bekerja: pensiun abadi, mati. mati adalah penisun yang tak lagi diatur atur oleh negeri negeri. kita mati, selesai, tanah, yang merawat tubuh kita itu, bukan order yang direkatkan ke tubuh. tanah yang bijaksana, seperti puisi Tuhanku ini juga, melingkarkan tubuh kita ke arah arah tapi dalam keadaan pasif. jiwanya telah pergi, diambil alih oleh "burung ponik" baru.


occasionalism


      Puisi Tuhanku itu segera membawa kita memasuki lapisan-lapisan dan di setiap tingkatan kita akan berjumpa dengan lapisan lagi. Lapisan arah besar dari gerak ke luar lewat keadaan seluas alam raya yang dibayangkan novel, serta pengalurnya, cerita novel. Bahasa sementara itu tak kuasa menghindarkan dirinya dari kualitas puisi, walau pun yang kita baca ini adalah novel. Lewat plot realis cerita mengikuti alur seolah telapak kaki, logis di jalannya sendiri. Lewat teropong panji, atau teropong ini mekar ke arah narasi, kita pun bertemu dengan posisi isi puisi Tuhanku: kejadian demi kejadian dalam dunia.

     dua dunia yang terbentang, diapungkan sebagai dua isme dalam novel. dihadap-hadapkan dalam wacana besar antara george w bush dan lawannya, saddam husein. tapi persis di sini dunia global dipungkas oleh pursuit yang memiliki watak puisi - cerita itu berakhir sebagai tanda. "arogansi george w. bush dan kesannya pada sosok serta perangai saddam husein, moamar khaddafy serta osama bin laden, mengingatakan panji pada peristiwa yang kemudian mengawali perjalanan spiritual hidupnya. ingatan itu tertuang tentang dalam sebuah catatan tentang 'berburu wirog'; yaitu tikus besar menjijikkan penghuni selokan dan gorong-gorong bawah tanah."


        lapisan, jarak :

          keindahan bahasa dan keindahan manusia


     Jarak menarik kita kembali, seperti ditariknya jarak yang dilepas lewat cerita masa kini yang berskala global, tetapi dengan jarak yang dijauhkan, ke masa lalu, kita segera mengalami lapisan saat membayangkan nugroho suksmanto sebagai novelis: ia menuliskan bagian panji yang akhirnya menjadi labirin waktu; saat nugroho mengenang ke belakang, saat itu juga yang men-dekat-kan apa yang dibelakang itu melalui hadirnya tokoh panji. saat panji hadir, nugroho ikut ke belakang bersama kenangannya akan panji dalam rekaan.

      jadi begitulah kita, selalu berada dalam jauh dan dekat. akhirnya, terlibat dalam dunia tanda yang menjadi ciri khas sastra dengan genre puisi. ini novel, tapi tikus besar yang diburu panji, wirog, tak urung membuat asosiasi kita bergerak untuk mendekatkan apa yang menjadi nafsu-nafsu dunia sebagai bayangan gorong gorong dalam jiwa manusia.

     itulah tanda, dan itulah permainan lapisan dalam novel, saat pengarangnya, tak serta merta kita nafikan seperti kehendak beberapa orang di negeri kita, yang pandangannya terbatas itu. mereka menolak biografi pengarang/penyairnya dimasukkan sebagai satuan analisa, seolah olah mereka yakin bahwa itulah azalinya sastra.

     bahwa sastra adalah dunia otonom dan apa yang otonom adalah ciptaan. mereka belum tahu akan kehakekatan ada yang tersambung dan saling terhubung. bahwa tak suatu ada pun yang sanggup memutuskan dirinya dari lingkungannya, dan pengarang, adalah lingkungan pertama dari setiap karya sastra yang diciptakan.

    tetapi dengan begitu kita memasuki lapisan lagi, adalah pembayangan akan dunia pengarang dan terutama saat ia termenung di meja kerjanya, menuliskan apa yang ingin dijadikannya kontras tanda.

     seperti lembar-lembar kertas tempat makna terdorong keluar, demikian juga pengarang: keduanya tak bisa kita bawa masuk ke dalam badan. makna itu keluar dari lembaran lembaran kertas seperti makna menjalar dari letupan letupan bunyi dari tubuh pengarang. sama halnya, saat kita membaca dari halaman dengan saat kita membayangkan, apa yang kita baca itu kini lewat udara dialihkan oleh pengarangnya.

     mereka adalah lembar lembar kertas juga, dan untuk pertama kalinya kata lauh mahfuz kita baca dari novel ini (hal 7), dalam formasi dengan makna-makna lain yang berupa diri pemimpin.

    saya kutip:

    "seperti masyarakat diaspora yang waktu itu memimpikan kedatangan mesias sang juru selamat, dan masyarakat muslim pinggiran yang memimpikan kedatangan imam mahdi, kini rakyat indonesia merindukan kemunculan satria piningit yang mampu mengubah nasib dan suratan yang digariskan dalam kitab tuhan yang nyata dan terpelihara, lauh mahfuz, untuk menghadirkan kehidupan 'gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja'." apa itu? penjelas di bawahnya (novel ini memakaikan referensi bagi semisal apa yang ia italickan): masyarakat adil makmur aman sentosa. (3)

      "novel fakta dan novel fiksi"

   Itulah keindahan, saat mata kita membaca kita melihat seseorang di dalam bahasa, kejadian-kejadian, ploting yang ditumpukan ke alur pembentuk kejadian dalam bahasa. bahwa isi-gelisah itu mungkin harus kita mengerti dari upaya yang dibukakan di dalam bahasa, saat lauh mahfuz sebagai novel, jadi bahasa, mengatakannya untuk kita,

     "kini rakyat indonesia merindukan kemunculan satria piningit yang mampu mengubah nasib dan suratan yang digariskan dalam Kitab Tuhan yang nyata dan terpelihara, Lauh Mahfuz, untuk menghadirkan kehidupan gemah ripah loh jinawi tata tentrem kerta raharja."

    jadi sebagai bentuk, maka bentuk novel itu sebagai bahasa memancarkan keindahan, lewat pemilihan pokok soal novel yang menjadi payung sedemikian lengkap tapi penuh dengan kemungkinan-kemungkinan, adalah lauh mahfuz. gelisah lalu menjadi kode yang ia sembunyikan, dan kita mencarinya ke halaman-halaman novel. novel itu sendiri, telah meringkas "gelisah"nya dan akhirnya membuat dunia perlambangan akan gelisah. tikus besar, wirog, panji yang menjadi juru bicaranya, adalah pecahan pecahan kejadian dalam novel yang jadi pengikat gelisah.

    seolah-olah bagian gelisah itu adalah sebuah bangunan dari keutuhan novel yang akan menceritakan isinya, atau dunia luar yang dipajang dalam bahasa - jadi dunia luar itu dipetik, dibuat kecil sebagai bahasa adalah gelisah. ada pun isinya tinggal besar dan luas seperti yang kita kenali serta jalani. pengecilannya, gelisah, membuat bingkai novel telah berhasil ditegakkan sebagai sebuah pokok yang akan ia arungi.

    Keindahan dalam bahasa, dan kini kita boleh pergi ke keindahan di luar bahasa adalah momen di mana seseorang menulis - bahkan setelah tulisannya selesai kita merenungi tulisan itu, lalu melipatkannya seraya merenungi penulisnya juga. semua terjadi di dalam pikiran dan semua akan masuk ke dalam pikiran (tak mungkin kita menjadikan gelas yang akan dituangi air, selalu selubung diri kita itu adalah dunia yang halus, tempat air yang juga halus itu tercurah ke dalam), atau seperti kini, berjalan dan tercurah ke luar - ke dua arah sekaligus adalah bahasa serta pengarangnya.

    Membayangkan pengarangnya menghidupkan novelnya lewat bahan, sang pengarang yang faktual saat menuliskan bagian gelisah, atau ketika merancang totalitas novel lalu memetik imaji lauh mahfuz di langit tinggi, memutuskan untuk menjadikannya sebagai etalase pemikiran dan perasaannya, lalu dari sini ia merancang dengan daya simpatik bahwa upaya yang diam diam untuk mengubah garis dari pena gaib di langit, pena pertama, dalam kerangka laku segenap ada adalah pena kedua, telah membuat sang pengarang menjadi daerah imaji penuh keindahan juga. ia jadi novel fakta bersama novelnya adalah novel fiksi.

    Tapi lalu kita itu sebenarnya menghadapi keterbatasan bahasa, mana fakta dan mana fiksi. kenyataan, bahwa segenap dunia luar tenggelam ke dunia dalam - sifatnya jadi fiktif, rekaan yang kita tidak tahu selain diri kita sendiri. fiksi dan fakta yang bergulir menjadi bahasa dan bahasa memasuki lapisan saat ditarik ke setiap arah oleh pembacanya. tapi di dalam diri pembaca, keadaan yang tak kita ketahui itu mulai lagi. akhirnya ia sebuah lingkaran bernama lapisan keindahan yang membuat keindahan itu tidak lagi menjadi semata hak novel, hak bahasa, karena pada kenyataannya ia telah berbagi peran dari setiap ada yang melingkupi novel - misalnya pengarangnya, atau bayangan kita akan pembaca novel, serta diri kita sendiri, saat kini ditempatkan ke luar, kita yang berpikir ini, memisahkan di ruang kesadaran kita itu, bahwa ini pikiran saya dan ini saya yang sedang merenungi sepenggal pikiran saya.

     pikiran saya itu jadi seolah novel lauh mahfuz itu: ia ada di luar bersama pengarangnya serta pembaca lain, membentuk realitas ketiga adalah pena ketiga. dan inilah lapisan, yang terus bergerak melingkar menempuh setiap tingkatannya yang mungkin. (4)

( novel ) kayu api, 2


aku juga nulis novel dan cerpen. di maya ini saja.aku juga nulis novel dan cerpen. di maya ini saja. Jamu
Saat aku memandang ke rumah ibadah itu, pikiran tentang sebuah cungkup menguasaiku kembali. kejadian mengerikan yang menimpa keluarga itu masih menyisakan kilasan-kilasan yang timbul-tenggelam. Kukira tiap kejadian adalah cungkup. Semacam tudung yang dibuka dan segala peristiwa akhirnya menemukan gerak dan hukumnya. Seperti rumah ibadah itu adalah cungkup bagi hati manusia. Atau seperti peristiwa tragis yang menimpa sang lelaki tua dengan perempuannya, adalah cungkup yang terbuka bagi hati manusia mencari jalannya sendiri. Dan dengan cara yang sama, dunia adalah cungkup bagi isinya. Seperti dunia itu sendiri adalah cungkup bagi tuhannya.Cungkup itu bentuknya enak dipandang, walau dilihat dari kejauahan nampak bukan rumah untuk orang menyembah tuhan. Dia lebih mirip rumah yang didandani untuk tempat tinggal. Bentuknya mungil dan sisi-sisinya adalah anyaman bambu dan kayu sebagai penopang. Terbuka setengahnya sehingga angin leluasa berlarian di sana. Malam itu aku melihat pusaran angin masuk ke sana, berputar hendak mengangkat cungkup itu. Cungkup itu tiba-tiba terbalut oleh gema kata yang menjadi jaring laba-laba menutupi tiap sudut bambu, kayu, atap dan undakannya yang terbuat dari bata merah, di mana jaring laba-laba itu terangkat pelan-pelan naik ke langit. Melewati lapisan-lapisan langit. Di tiap belahan bumi mata yang awas dapat melihatnya mengambang lalu, pelan-pelan mengangkat tubuhnya melayang, naik terus, sehingga tubuh yang terangkat itu harus melindungi dirinya agar tidak terpecah, tercabik oleh kekuatan yang ingin menariknya kembali ke bumi. Aku jadi heran sendiri. Belum pernah kusaksikan kekuatan yang begitu besar membawa sebuah cungkup naik sangat jauh. Biasanya adalah cungkup yang retak. Sering kulihat retakan yang jatuh. Kuamati apa yang membuatnya retak. Mataku menemukan warna merah kehitaman. Bentuknya lembek dan dingin seperti daging yang membusuk. Kadang potongan daging seperti itu seolah ingin masuk ke teropongku. Seakan ia melayang bukan oleh karena keinginanku untuk melihatnya, tapi daging itu sendiri ingin memperlihatkan isi tubuhnya. Bulu-bulunya terlihat jelas dalam teropongku. Bulu-bulu kasar yang membalut seperti tubuh anjing yang terbalut bulu. Atau tubuh babi yang berbalut bulu. Aku lelah memandang daging yang berbulu ini. Kutepiskan daging berbulu itu dan segera teropongku mencari daging yang tak berbulu. Tapi dalam pecahan yang retakannya berjatuhan nyaris tak kutemukan apa yang kucari. Aku amat tertarik dengan cungkup yang tak henti-hentinya naik itu. Teropongku masuk ke dalam rumah ibadah. Dari tempatku berdiri aku menyaksikan pinggul seorang manusia yang dibalut oleh pakaian putih bersih. Hari sudah agak malam saat teropongku menyentuh pinggul di balik pakaiannya. Malam itu di seputar jembatan itu sepi. Segera aku tahu bahwa yang di dalam cungkup itu adalah seorang wanita. Aku mencari-cari posisi agar dapat memandang wajahnya. Pastilah sebuah wajah yang bersih dengan sinar mata yang teduh. Lama posisi itu kudapatkan. Sampai aku dari balik teropong bisa menemukan sebuah wajah yang kucari. Dari bentuk tubuhnya aku sudah menduga bahwa wanita itu adalah perempuan penjual jamu. Tapi aku tidak yakin karena sejak anak menembak ketapel dengan burungnya, dia sudah menghilang ke balik tikungan yang jalannya melingkar, naik dengan batu-batu kecil yang membuat tonjolan di sepanjang jalan. Kukira dia sudah pergi. Tapi ternyata aku salah. Perempuan penjual jamu itu mengangkat tangan dan wajahnya, kemudian tubuhnya berguncang dengan hebat menahan tangis yang hendak meledak. Aku menunggu momen itu seolah aku sendirilah yang mengangkat tangan itu. Apa yang dipinta oleh seorang penjual jamu. Beberapa kali aku melihatnya berhenti di bawah jendelaku. Seseorang ingin meminum jamu dan penjual jamu membuatkan jamu untuk orang itu. Dari atas jendela kamarku, aku melihat wajah perempuan penjual jamu itu. Seorang perempuan berusia kurang dari 35 tahun. Ia penjual jamu yang tak biasanya. Wajahnya begitu bersih dan cahaya wajahnya seolah berpindah ke jamunya, menjadi cairan campuran yang bersinar dengan rupa-rupa warna. Saat cairan itu memasuki tubuh lelaki tetanggaku yang meminumnya, kusaksikan lelaki itu perlahan-lahan berubah warna mukanya. Tadinya matahari membakar wajah lelaki itu sehingga nyaris hitam. Tapi kini warna hitam itu perlahan-lahan berubah menjadi terang. Lelaki peminum itu memasuki tengah malam. Ia tergelak sendiri di tengah kawan-kawannya, lalu bergaya memeluk tiang listrik sambil berkata, foto model, katanya sambil membuka celananya dan memperlihatkan kelaminnya. Orang-orang di seputarnya tertawa dan berkata ai asyiknya burung foto model kita. Sebuah burung yang kecil tapi berkekuatan besar. Cobalah perlihatkan kekuatannya agar kami menjadi yakin. Lelaki berwajah hitam itu tertawa senang. Baik akan kuperlihatkan kekuatan burungku. Kamu baru tahu kekuatannya apabila aku telah memperlihatkannya. Kalau aku belum memperlihatkannya pastilah kamu tidak menjadi yakin bahwa burungku ini mempunyai kekuatan yang besar sekali.Ia mengucapkan sekali lagi kata-kata foto model. Lalu melepas celananya dan bajunya dan begitulah ia memeluk tiang listrik. Sejenak kemudian tubuhnya seperti manusia tanpa tulang, lunglai sambil tangannya terus memeluk tiang, seolah tiang listrik itu adalah tubuh istrinya yang dibiarkannya sepi, tak jauh dari tempatnya mabuk di malam hari. Tetapi pagi itu setelah meminum jamu, lelaki itu berubah sama sekali. Kelakuannya di malam hari tidak ada bekasnya lagi. Berganti menjadi seorang yang seolah memakai kopiah setelah terminum air sang penjual jamu. Ia menyeberang jembatan itu dengan langkah yang mantap. Semantap saat ia berlari-lari kecil menuju rumah ibadah itu, dan menggulung kedua saku bajunya, membasuh muka dan tangannya, dengan keran air yang ada di dekat undakan.Entah mengapa aku merasa sang penjual jamu tahu, bahwa aku sering memandang wajahnya. Saat ia duduk mengaduk dan mencampur jamu, aku merasa dia tahu bahwa aku memperhatikannya dari balik kamarku. Tetapi aku merasa malu karena dia tidak pernah memperlihatkan bahwa dia tahu. Asyik saja dia dengan pekerjaannya. Tapi aku yakin dia tahu bahwa aku sedang mengamati segala gerak geriknya. Mari diminum jamu segarnya, katanya kepada lelaki yang berwajah hitam itu. Dapat membuat tubuh kita segar sehingga sehat untuk berjalan-jalan. Tak baik juga di dalam kamar sendirian, bukan?Aku merasa malu saat diam-diam aku mencari-cari buah dada sang penjual jamu, yang kulihat dari kebayanya merupakan dua gundukan yang sedang. Aku memutar gerigi teropongku dan ingin kupandang apa yang di balik gundukan. Saat sang penjual jamu menunduk untuk mengambil uang recehan di balik keranjang, aku melihat dua gunung kembar itu rata. Ke mana buah dada sang penjual jamu, bisikku. Mengapa dada itu adalah sebuah kulit yang kuning tapi tak memiliki tonjolan daging. Aku merasa pasti ada tonjolan buah dada di luar kebaya. Seperti aku yakin tak ada suatu pun yang mengganjalnya sehingga menjadi dua tonjolan buah dada. Tapi di balik dalamnya aku mencari-cari tapi tak ada yang kutemukan. Hanya sebidang kulit kuning dan bersih tanpa bulu bulu halus sedikitpun. Tak ada suatu titik hitam yang bisa kulihat di sana. Bagaimana ini, kataku. Kemana buah dada sang penjual jamu. Usaha pencarian itu kuhentikan, saat aku merasa yakin memang tidak ada tonjolan yang kucari. Aku kira tonjolan buah dada seperti batu yang memancarkan air. Dari sana orang bisa meminum air. Dari air orang bisa meminum hidupnya. Lalu aku berdiam diri, duduk termenung di ranjangku sendiri. Besi-besi ranjangku telah menemaniku hampir sepanjang usiaku. Seperti besi pada umumnya, dia diam dan tak pernah mengusikku yang ingin ketenangan.Tapi pagi itu besiku kucengkram sisi-sisinya. Kucengkram ia dengan kuat dan aku berkata, kau tahu, aku tak menemukannya. Seolah semua yang kupandang tak nampak nyata. Seakan ilusi. Kini aku mencengkram tubuhmu ingin tahu apakah kamu juga ilusi. Tapi terasa tanganku mencengkram sesuatu yang keras. Dia sebenarnya besi sebagaimana hidupku ini.Perempuan penjual jamu di sana masih tepakur dalam doa. Dari matanya keluar butiran air yang berkilauan. Butiran air yang membasuh semua dosa manusia. Aku mencari-cari dosaku di antara air mata yang berkilauan itu. Tak kutemukan. Mungkinkah dosaku nyelip di antara butiran air milik orang lain. Aku tak begitu yakin. Wahai sang penjual jamu, kamu begitu ahli dalam berdoa dan sekarang izinkanlah saya bertanya, ke manakah air mataku dalam tumpukan dosa yang menjadi air matamu itu. Mengapa dosaku tidak ada di butiran air matamu. Seharusnya saya melihatnya ada di sana. Tapi yang kulihat selalu dosa air mata orang lain. Mungkinkah dosaku sudah tidak berbentuk air mata lagi alias aku sudah menjadi orang yang tak terampuni. Sehingga jejaknya sebagai air mata saja tuhan enggan membuatnya.Tapi biarlah. Lagi pula ide dosa itu hanyalah instingku. Aku sendiri tidak yakin tentang dosa itu. Apalagi dosa yang diwakili air mata oleh sebuah doa. Bisa jadi air mata hanyalah mekanisme biasa dari fungsi mata. Aku merasa tenang dengan pikiran ini. Tetapi pikiran tentang dosa itu kembali. Hidup adalah kepastian dan kepastian adalah tuhan. Masa tuhan tak memastikan dosa seseorang. Dosamu sudah pasti dan airmata itu bukanlah airmata biasa. Kamu sudah benar bahwa air mata adalah pembasuh dosa. Bahwa dosamu tak ada di air mata itu, itu berarti kamu sendiri yang harus membasuh dosamu dengan air matamu.Aku tersentak dari balik teropongku, saat kulihat mata sang penjual jamu menjadi kilat menyambar ke dalam mataku. Aku merasa teropongku menjadi panas. Benda yang sudah bertahun-tahun setia menjadi kawanku ini mendadak dialiri api. Aku jadi terkenang kembali pohon yang buahnya kuambil di dalam mimpi. Aku berpikir bahwa selama ini rupanya aku telah memegang pohon dalam bentuk teropong. Teropong yang kupakai menjadi jembatan untuk melihat dunia luar. Bisa dikatakan aku hanya memakai teropongku untuk melihat seluruh kehidupan. Kehidupan mendekat kepadaku melalui teropong. Kehidupan menjauh dariku melalui teropong. Kini sebuah mata memasuki diriku melalui teropongku. Tanganku sudah tidak kuat lagi menahan panas yang mengalir dari teropong. Aku sudah hendak melepaskannya, ketika aku merasakan hawa segar memasuki tubuhku perlahan-lahan. Seolah tubuhku dimasukkan ke dalam sebuah danau yang dingin di malam hari. Seperti dulu aku terlena dengan kesegaran danau yang datang melalui teropongku. Aku tersentak ketika dari kedua lensa teropongku kudengar suara penjual jamu. Suara yang amat perlahan tapi menembus ke dalam jiwaku. Pecah di sana sebagai rekaman yang tidak mungkin kulupakan. Seakan aku mendengar tuhan sendiri yang berkata-kata. Janganlah takut. Hidupmu bahagia walau kau nampak menderita.Perempuan penjual jamu itu menyudahi doanya. Dari tempat rumah ibadah itu, dipisahkan jembatan dan sebatang anak sungai, ia memandang ke arahku melalui kaca jendela. Ia tersenyum kepadaku, seakan begitu yakin bahwa aku pun pada saat yang sama sedang memandangnya. Dari balik teropong, tanpa kusadari, aku telah tersenyum membalas senyum sang perempuan penjual jamu.Aku tidak tahu mengapa aku merasa begitu hampa. Desakan untuk mengeluarkan air mata begitu besar, tapi aku menahannya dan kukenang ayah dan ibu yang telah meninggal. Kenangan kepada ayah dan terutama kepada ibuku, yang aku tak tahu bentuk dan rupanya selain yang digambarkan ayah secara abstrak, bahwa ibu adalah seorang perempuan yang cantik, telah membuatku begitu pilu. Mungkin kalau ada ibu hidupku tidak akan begini. Sejenak aku merenungi kata begini yang tiba-tiba saja keluar dari pikiranku. Rasanya aku belum pernah menyatakannya atau memikirkannya. Kukira hidupku normal saja walau sepanjang hidupku aku sendirian saja di dalam rumahku yang besar. Banyak yang kulakukan di dalam rumahku, yang satu pun tidak mempunyai kaitan dan sangkut paut dengan orang di luar. Apakah aku membutuhkan orang lain? Ya kalau pengertiannya aku tidak bisa mencukupi kebutuhanku sendiri. Tapi transaksiku dengan orang lain yang kubutuhkan tidak pernah secara langsung. Selalu melalui tali dari jembatanku itu. Aku berteriak dari atas jendela kamarku kalau aku membutuhkan sesuatu. Dan di kompleks rumah kami banyak sekali penjual sayur keliling yang siap menerima pesananku dari atas tali. Apa yang kuperlukan naik melalui tali ke atas jendelaku. Dari tali yang sama uangnya mereka dapatkan saat tali diturunkan.Kadang wanita penjual sayur tertawa saat ada seseorang lewat dan menegur caranya berdagang denganku. Iya, katanya, ini saya dapat uang dari langit, tapi dia yang di balik kaca dapat sayurannya dari bumi. Aku juga tersenyum. Jadi hidupku yang begini serupa itulah. Hidup yang wajar seperti kelahiran dan kematian: kita lahir sendiri dan kelak mati sendiri. Selalu dalam kelahiran dan kematian seorang tak bisa masuk. Karena itu wajar pula kalau dalam hidup pun kita menjalaninya sendiri saja.Aku tak menemukan jawaban dari kata begini yang telah kulontarkan secara tidak sengaja. Mungkin aku begitu rindu pada ibuku, pikirku, sehingga berpikir seandainya ibu ada hidupku tidak akan begitu sendirian, tapi bersama ibu dan ayahku. Tapi sering juga kubaca cerita hidup dengan kedua orang tua malah tidak baik. Hidup kita seolah neraka karena kedua orang tua ingin semuanya dalam keadaan teratur. Terutama sang anak harus menghormati kedua orang tuanya. Aku memikirkan hubungan dengan ayahku, hanya ayahku, karena aku tidak memiliki seorang pun selain lelaki itu. Kubayangkan dengan jelas wajah ayah dan kedekatan hubungan kami yang aneh. Seorang lelaki dengan sorot mata yang keras hati dan selalu memikirkan hidup ini. Hari hari akhirnya dia begitu kerasnya memikirkan tuhan. Aku tahu walau dia tidak pernah membicarakannya padaku, tuhan saja yang ada dalam pikirannya. Aku tidak bisa berkata ayah tidak percaya kepada tuhan. Dia tidak pernah beribadah seperti orang lain yang lazim. Mungkin lebih tepat dikatakan: ayahku mencari tuhan dengan caranya sendiri. Aku yakin di saat-saat terakhir ayah sudah frustasi soal tuhan ini. Sering dia naik ke atas atap sendirian dan berbicara seperti ditujukan kepada dirinya sendiri. Kalau kau muncul di langit aku akan menembakmu tuhan. Tapi kau tak pernah muncul. Aku hampir menyadari caraku menghubungimu ini salah. Tapi biarlah. Sebenarnya peluruku ini bukanlah untuk menembakmu dalam arti nyatanya. Hanya semacam sebuah ketukan agar kau mendengar panggilanku. Kalau kau bukakan pintu pun hanya satu hal yang hendak kutanyakan. Yakni di mana istriku kini dan mengapa kau mengambilnya dariku. Selebihnya tidak ada yang perlu kuketahui lagi. Begitulah kalimat-kalimat pendek itu diucapkan ayah berulang-ulang. Langit seolah mendengarkan kata-kata ayahku ini. Tapi tidak pernah mengeluarkan jawaban apapun atas pertanyaannya.Di atas pun tidak kudengar gerakan ayah lagi. Lalu kudengar ayah menangis. Tidak lama kemudian ayah tertawa dan berseru ke langit. Baiklah kalau kamu tetap tidak mau menjawab. Sekarang lebih baik peluru ini kugunakan dengan sebenarnya. Kini aku menembakmu bukan untuk meminta dibukakan pintu. Tapi dalam tembakan fungsi sebuah senapan. Lalu kudengar senapan itu meletus. Burung-burung yang hinggap di atas rumah kami kaget dan berterbangan mendengar letusan yang memecah keheningan malam.Itulah saat pertama kalinya peluru dari senapan ayahku benar-benar meletus ke arah langit. Hanya satu letusan yang ditembakkan. Esoknya ayah kutemukan begitu letih di atas ranjangnya. Ayah memandangku dan tangannya menggapai lemah ke kepalaku. Satu pun tak ada kata-kata ayah yang keluar dari mulutnya. Ia menunjuk ke peti hitam yang nampaknya sudah disiapkan, dengan matanya. Aku belum pernah melihat peti hitam itu. Apakah peti itu untukku, kataku. Apakah peti itu harus kubuka kelak. Ayah mengangguk. Kupandangi wajah ayah yang sudah nampak begitu letih. Mata ayah terus melekat kepada mataku. Lalu pelan-pelan kehilangan dayanya dan mata ayah terkatup, bersama tangannya yang terlepas dari genggamanku. Aku membungkus tubuh ayah dengan selimut, benda peninggalan ibuku. Itulah satu-satunya benda yang dibawa ibuku dari rumah orang tuanya. Yang lainnya pakaian dan segala macam jenis barang-barang milik ibu tidak ada lagi di rumah ini. Sudah ayah bakar, kata ayah suatu ketika saat aku menanyakan soal kegemaran ibu. Dan dalam suatu pesannya yang disampaikan ayah secara bercanda, ia ingin mati dengan tubuh diselimuti oleh selimut ibu. Agar ayah tidak menjadi dingin di sana kelak, kata ayah sambil tertawa kepadaku. Aku berkata iya ayah, kelak kalau ayah mati akan kuselimuti dengan selimut ibu ini.Semalaman aku menggali ubin di bawah ranjang ayah, dalam upayaku menguburkan tubuh ayah sesuai permintaanya sendiri. Aku berpikir tubuhku sendiri akan terkubur seperti ini saat kedua tanganku menggali.Aku baru menyadari bahwa sebenarnya saat aku memandangi sang penjual jamu, ternyata aku seolah sedang memandangi ibuku. Aneh mengapa aku lambat sekali menangkapnya. Pantas setiap pagi aku setia menunggu di atas rumahku dan memandang ke balik jendela. Dari sana mataku kuarahkan ke awal jembatan, tempat di mana sang penjual jamu memulai langkah pertamanya untuk masuk ke kompleks kami. Tiap langkah penjual jamu di atas jembatan itu kuperhatikan dengan kedua mataku. Kadang aku ingin penjual jamu terjatuh di sana dan aku melompat dari kamarku untuk menariknya keluar dari anak sungai. Sering juga aku berharap sang penjual jamu lama-lama berhenti di bawah jendela rumahku. Agar ia melayani semua langganannya di sana saja. Sehingga aku bisa berlama-lama memandangnya yang bekerja menjual jamu. Aku sendiri berkali-kali menemukan alasan untuk menahannya melalui keinginan untuk meminum jamu sebagai sebuah kegemaran. Tapi tiap keinginan itu muncul bersama itu pula bayangan kebiasaan yang tidak aku sukai melumpuhkanku. Aku tidak pernah mengenal jamu seumur hidupku. Karena itu sukar sekali bagiku untuk meminumnya. Bahkan sekalipun dalam taraf mencoba.Karena itu aku tidak mempunyai cukup alasan untuk menahannya di bawah jendela kamarku. Bukankah dia sang perempuan penjual jamu, bukan perempuan yang menjual jasa kata-kata. Aku kembali mengarahkan teropongku ke arah rumah ibadah itu. Tapi sang penjual jamu sudah tidak ada lagi di sana. aku yakin malam telah membawanya pulang ke rumahnya.Aku mulai memikirkan sang penjual jamu. Sebuah pikiran melayang ke otakku dan segera kutepiskan. Aku mencoba mengingat-ngingat detil yang lain. Lalu ingat seseorang pernah menggodanya di bawah jendela kamarku dan dia berkata, untuk mencari uang sendiri saja. Aku sudah agak lupa wajah orang itu. Tapi kata-kata dan jawaban sang penjual jamu teringat kembali olehku. Saya belum bersuami, kata perempuan penjual jamu. Aku senang dengan ingatanku ini. Lalu aku pergi ke ranjangku dan sejenak aku berbaring di sana.Mataku menatap ke langit-langit rumahku. Sebuah bentangan papan dengan warna kuning papan. Seputaran rumahku seolah mendadak diliputi keheningan dari bunyi-bunyi malam yang masuk ke kamarku. Sudah lewat tengah malam. Dan aku tidak begitu menyukai keheningan yang terlalu padat dengan perasaan. Tapi itulah yang kuderita sepanjang malam dari tahun-tahun hidupku: keheningan yang menakutkan. Seolah kita sungguh tak ada daya. Cobalah berpikir seandainya ada seorang pembunuh yang ingin membunuh diri kita di tengah malam seperti itu. Pembunuh masuk mendobrak pintu dan tahu-tahu sudah berdiri di hadapan kita. Apa yang bisa kita lakukan.Tapi sebenarnya bukan soal seorang pembunuh yang akan memasuk ke kamar ini yang benar-benar menakutkan. Tapi adalah kekosongan dari hidup yang itu-itu juga. Tidak ada gerak lain selain menjalani hidup yang itu-itu juga. Sering di malam sunyi aku termenung sendiri, apakah makna hidupku ini. Aku mencoba mengaitkannya kepada suatu tujuan. Tapi hidupku sendiri tidak ada tujuan. Kucoba mengaitkannya kepada suatu pola hubungan, hidupku sendiri tidak pernah berhubungan dengan orang lain. Lalu apa artinya hidupku ini. Perasaan itu begitu terasa saat di malam-malam sunyi. Seandainya tidur bisa menjadi penyelesaian, soalnya mungkin akan lebih mudah. Kita tidur dan masalahnya selesai. Kita menjalani hidup besoknya lagi. Tapi aku sukar sekali tidur. Bisa dikatakan aku jarang tidur. Kadang-kadang tidur bagiku sebuah rahmat yang diberikan alam. Semacam mukjizat atau semacam solidaritas sesama alam terhadap anasir-anasir tubuhku. Mungkin kawan-kawan tubuhku sesama tanah itu merasa kasihan dengan kawannya yang menjadi tubuhku. Dan mereka beramai-ramai menekan seluruh organ-organ tubuhku agar tertidur. Jiwaku masih hendak terjaga. Tapi tubuhku telah memejamkan mata.Begitulah mataku terbelalak tak pernah tidur. Pikiranku melompat dari papan kuning itu, bergerak ke pembunuh dan bergerak ke perempuan penjual jamu. Lalu aku teringat ibuku. Kubayangkan ibuku adalah penjual jamu itu. Atau penjual jamu itu adalah ibuku. Begitulah kedua perempuan yang tak nampak nyata itu memenuhi seluruh pikiranku. Berganti-ganti menjadi tubuh yang serupa dan tubuh yang tak sama.Aku segera ke kamar ayah dan entah mengapa aku kini ingin melihat kotak hitam yang ayah tinggalkan. Aku telah mengubur ayah dengan baik di bawah ubin di bawah ranjang ayah. Tapi aku belum pernah membuka kotak hitam yang ia tinggalkan. Kukira ayah telah mati dan untuk apa lagi aku membukanya. Kukira bukan karena isinya yang membuatku berjalan pelan-pelan ke kamar ayah, tapi karena aku tidak tahu lagi harus mengerjakan apa lagi. Semua sudut-sudut rumahku sudah kuteliti satu demi satu. Lemari yang setinggi tiang utama rumahku sudah kupanjati dan tiap ruangnya yang kecil sudah kuamati.Ruang-ruang itu terdiri dari kotak-kotak kecil untuk menaruh bukuku dan buku ayah. Tidak ada buku baru di sana. Semua dibeli oleh ayah. Kadang aku menetap di dalam salah satu kotak di sana. kuamati buku-buku di dalam kotak itu. Lama aku termenung di dalam kotak itu. Aku baru menyadari bahwa ternyata buku itu seolah bermata dan mata itu sedang mengawasi diriku. Kuusir mata itu dengan mengulurkan tangan meraih buku yang berwarna merah dan amat tebal itu. Tanganku membuka secara acak saja. Karena sudah berkali-kali sebenarnya aku menamatkannya. Lalu aku bertemu dengan halaman yang menjadi kesayanganku. Aku membacanya pelan-pelan untuk diriku sendiri. Jiwa-jiwa yang berdosa akan kembali penuh penyesalan. Jiwa-jiwa yang berdosa akan kembali penuh penyesalan, kataku menggumamkannya berulang-ulang. Aku menekan tangkai pintu kamar ayah dan mendorongnya perlahan-lahan. Sambil terus mengingat kata-kata dari kitab itu tadi. Apakah jiwaku berdosa, kataku pada diriku sendiri. Apakah aku akan kembali penuh penyesalan. Kukira aku tidak berdosa dan kukira aku akan kembali penuh kebahagiaan. Tapi kembali ke mana. Ibu telah mati dan ayah telah mati. Di manakah mereka kini. Aku tidak tahu. Bayangan ada hari lain di balik hari ini begitu jauh dariku. Sukar sekali aku membayangkan ada hari semacam itu. Karena sukarnya aku tidak ingin membayangkannya dan lebih baik aku tidak memikirkannya. Jadi tidak bisa aku disebut tidak percaya. Yang benar adalah aku tidak mau memikirkan dan membayangkannya. Tapi aku telah memikirkannya. Bahkan bisa dikatakan aku telah memikirkannya sepanjang usia.Di depan kotak hitam itu aku kembali teringat ayahku. Lalu ibuku. Demikianlah kedua orang itu datang dan pergi dalam pikiranku. Ayah kukenang sebagai lelaki yang sunyi dan keras hati. Hidupnya sepi sampai mati. Kenanganku padanya berhenti saat tangannya terkulai dari genggamanku. Ibu kukenang tanpa bentuk. Hanya gagasan ibu di kepalaku, sebagai seorang perempuan tanpa aku tahu bagaimana wujudnya. Aku mencoba meletakkannya sebagai perempuan penjual jamu. Setidaknya dengan begitu ada bayangan yang bisa kukenang. Wajah penjual jamu itu hadir bertukar-tukar rupa dengan wajah ayahku. Lalu terakhir aku melihat wajahku sendiri di tengah wajah ayah dan wajah perempuan penjual jamu. Mataku menjadi mata penjual jamu sebelah kanan. Mata kiriku menjadi mata ayah di sebelah kiri. Lalu tubuhku terbelah dua satu menjadi tubuh ayah dan satu lagi menjadi tubuh penjual jamu. Dan serupa penjual jamu, tubuhku di kanan itu rata tak memiliki buah dada.Ada rasa malas yang aneh saat aku berdiri di depan kotak hitam peninggalan ayah. Kotak itu adalah peti peninggalan ayah dan nampak tidak terkunci. Karena ayah tidak pernah mengatakan ada kunci untuk membukanya. Jadi aku tinggal menunduk dan membuka kotak itu dari genggamannya yang terbuat dari besi kecil hitam yang dibengkokkan. Pastilah ayah menaruh sesuatu yang penting di kotak hitam itu. Sesuatu yang mungkin berkait dengan diriku. Mungkinkah ayah meninggalkan riwayat dirinya dan ibuku di dalamnya. Kalau begitu aku bisa tahu tentang ibu. Ibu sungguh menjadi misteri besarku selama ini. Ia hadir dalam hidupku tapi tidak pernah menampakkan dirinya. Tentu saja dia telah mati. Tapi setidaknya jejaknya yang membuat aku bisa menghidupkan dirinya dalam kenangan. Jejaknya pun tak pernah kutemukan. Mungkin akan kutemukan seandainya aku membuka kotak hitam ini. Tapi aku berpikir apa perlunya lagi aku mengetahui riwayat ibu. Toh ibu telah mati dan seandainya di dalam kotak ini ada benar-benar riwayat ibuku, rasanya riwayat itu juga tidak akan banyak gunanya bagiku untuk menjalani hidupku.Hasrat untuk membuka kotak itu hilang seketika. Kurasakan jiwaku seolah menganga dengan lubang api yang sunyi. Aku ingin membakar harapanku dan biarlah harapanku terbakar di sana. aku bisa terbakar di dalam lubang api atau terbakar di luar lubang api. Keduanya tidak akan banyak mengandung perbedaan dan biarkan saja jiwaku menganga tanpa aku harus menutupnya.Aku keluar dari kamar ayah dan berjalan ke tepi jendela. Di sana aku duduk termenung menunggu perempuan penjual jamuku.Di depan jendela itu, aku memikirkan hubunganku dengan ibu seolah hubunganku dengan tuhanku. Aku hampir yakin ayah menyimpan sesuatu tentang ibu di kotak itu. Aku tinggal membuka kotak itu dan misteri akan terpecahkan. Seperti misteri tuhan akan terpecahkan saat kita melihat wajah tuhan. Aku berpikir misteri menarik karena kandungan tanda tanyanya. Tubuh seorang perempuan menarik karena dibalut oleh busananya. Waktu tubuh kehilangan busananya saat itupula tubuh kehilangan misterinya dan perempuan itu pun jadi tidak menarik lagi. Begitu juga ibu. Begitu juga tuhanku. Begitu juga aku. Mungkinkan aku tidak membuka kotak itu karena aku inginkan ibu tetap jadi misteri bagiku. Sehingga aku tetap hidup dengan misteri tentang ibuku. Biarlah ibu menjadi daya tarik bagiku dalam misterinya. Kalau misteri ibu terbuka siapa tahu ibu jadi tidak menarik lagi. Padahal misterilah yang membuatku bisa bertahan hidup. Tanpa misteri ibu mungkin aku sudah kehilangan alasan untuk hidup. Apalagi yang akan kulakukan kalau hidup tanpa misteri. Hidupku begitu kering dan hanya misteri itu lah yang membuatku bisa bermain-main. Aku bisa memasukinya dan berlama-lama di sana. Membayangkan ibu dalam banyak versinya. Memikirkannya di tiap saat hidupku. Dengan begitu aku jadi hidup. Seperti juga dengan tuhan. Tuhan jadi menarik karena kita tidak tahu wajahnya. Justru kalau kita tahu wajahnya tuhan jadi tidak menarik lagi. Mungkinkah ayah sudah sampai ke pemikiran yang aku pikirkan ini: sia sia mencari misteri tuhan, atau biarkan tuhan tetap berada dalam misteri. Karena kesadaran ini ayah lalu kehilangan alasan untuk mencari misteri tuhan lagi dan karena itu dia merasa tidak ada gunanya ia hidup lagi. Toh misteri tuhan baginya tidak akan terpecahkan. Lagipula memang dia tidak hendak memecahkannya. Paradoks ini membuat ayah berkesimpulan untuk apalagikah dia terus hidup. Ayah telah kehilangan alasannya untuk hidup lebih lama lagi dan karena itu dia memilih mati. Jadi kematian ayah itu alami atau dia mengakhiri hidupnya sendiri. Dengan apa. bisa apa saja. Ayah akrab dengan ragam penyebab kematian melalui racun. Pikiran ini membuatku memikirkan kembali saat ayah naik ke atap sendirian dan menembakkan senapannya. Sekali itulah ayah menembakkan senapannya. Kuingat-ingat kembali apa yang dikatakan ayah malam itu dan kuhubung-hubungkan dengan pikiran yang tiba-tiba seolah mencerahkan diriku. Ayah berkata dia akan memakai senapanya dengan sebenarnya fungsi senapan bukan sebagai mainan selama ini: tak menembakkan senapannya kecuali untuk bergaya-gaya. Tapi kini ia menembakkan senapannya dan memang senapan itu meletus. Untuk apa. untuk karena tuhan tak pernah mau membukakan pintunya. Maka kini ayah menembaknya. Dengan menembak ayah telah kehilangan kemauan untuk menjadikan tuhan sebagai daya tarik yang mempunyai misteri baginya. Jadi kini ayah memperlakukan tuhan sebagai bukan misteri lagi tapi sebagai sesuatu yang harus dihadapi dengan tembakan. Mungkin aku bisa menarik garis-garis halus yang melingkupi pikiran dan tindakan ayah. Termasuk tindakan fatal yang diambilnya kemudian: mengakhiri hidupnya sendiri. Bisa jadi ayah menempuh jalan fatal karena sudah sampai di batas kekuatan. Semua orang punya batasnya. Tapi lalu bagaimana dengan ibu. Tidakkah ayah malam itu membisikkan ke mana istriku. Artinya ayah sendiri tidak tahu tentang ibu. Ibu bagaimana dan kemana. Mungkinkah ibu bagi ayah seperti ibu bagiku. Menarik kerena misterinya. Aku berpikir sebuah kemungkinan lagi: mungkinkah dalam usahanya membayangkan tuhan yang tak terjangkau, ayah lalu kemudian menghadirkan ibu sebagai seseorang yang bisa ia kenang. Sehingga tuhan yang tak terjangkau seolah menjadi ibu. Jadi ibu bagi ayah sebagai simbol kehadiran tuhan bagi dirinya. Jadi ayah membayangkan tuhan sebagai seorang perempuan yang telah melahirkan dirinya dalam peran sebagai seorang ibu. Karena itu ayah mencampurkan pencarian tuhan dengan kehadiran seorang ibu. Jadi kalau ayah berbicara tentang tuhan ia pun sebenarnya berbicara tentang ibu. Sebaliknya kalau ayah sedang bicara tentang ibu sebenarnya pada saat yang sama ayah sedang membayangkan seorang tuhan secara personal yakni ibu.Aku mencoba menarik persamaan jalan pikiran ayah dan sikapnya, dengan jalan pemikiran dan sikapku sendiri tentang tuhan dan ibu bagi ayah, tentang tuhan, ibu dan penjual jamu bagiku. Mungkinkah diam-diam aku pun mengidap persamaan dengan ayahku dalam hal itu.Bagaimanapun tuhan memang tak terjangkau tangan dan karena itu lebih mudah mendekatinya melalui alam benda yang personal yakni manusia. Yaitu ibu bagi ayah dan ibu bagiku.Aku memikirkan satu hal lagi: sungguhkah ayah mengakhiri hidupnya karena misteri ini? Karena tuhan tak terpecahkan lalu dia mengakhiri hidupnya karena untuk apalagi dia hidup. Atau karena tuhan tak terpecahkan lalu dia memilih untuk tak percaya pada tuhan. atau bagaimana. Satu-satunya penyebab kematian ayah adalah ia telah sampai kepada batas terakhir dari daya tahannya sebagai manusia.Aku memegang kesimpulan ini saat kurasakan dari ujung jembatan itu matahari pelan-pelan menampakkan dirinya. Sinarnya merambat naik melalui alam benda yang ada di sana. Mulai-mula atap-atap rumah itu seolah keluar dari balik gelap dan pelan-pelan menampakkan genting-genting dirinya. Lalu kayu-kayu rumahnya. Lalu jalan-jalan di mana rumah itu berada. Begitu juga jembatan itu dan anak sungai itu. Sungai itu tadinya hanya sebentang arus hitam, seolah mahluk bernyawa yang hitam dan diam. Mengalir tanpa suara dan tanpa tujuan. Lalu kemudian pelan-pelan kita bisa memandang riaknya. Kudengar suaranya mengalir, suara yang sudah sangat dekat dengan diriku. Suara air sungai yang pelan penuh misteri sebagai sungai yang sunyi. Seperti diriku ini. Lalu kulihat jembatan itu juga pelan-pelan menampakkan dirinya. Jembatan sebagai tali tempat orang menyeberang. Semuanya bersiap pagi itu dalam persiapan memasuki kehidupan yang baru.Tapi aku tetap tak melihat perempuan penjual jamu yang kutunggu. Satu demi satu orang-orang disitu menyusur hidupnya hari itu dan satu demi satu para pemain kartu itu menampakkan dirinya di tepian sungai itu. Tapi tuhanku penjual jamu belum juga nampak di sana. Dalam kerinduan dan dalam harapanku kubayangkan tuhanku berjalan melalui jembatan itu dan dari sini dalam kerinduan yang sangat aku ingin melambai memanggilnya: oi tuhanku aku di sini menunggumu. Aku lelah dalam menunggu, yang mulai kurasakan sebagai permainan, tapi aku tahu aku bukan menyerah. Aku sungguh-sungguh hanya lelah. Entahlah mengapa pagi itu aku benar-benar mengharapkan tuhanku penjual jamu melintas di atas jembatan. Mungkin karena gelombang pertanyaan dan jawaban yang tak kutemukan. Lalu aku berpikir untuk pertama kalinya dalam hidupku menyeberangi jembatan itu kembali, mencari tuhanku penjual jamu. Tapi hendak kemana ia kucari. Aku tidak tahu di mana ia tinggal dan aku juga tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Lagi pula aku memikirkan jangan-jangan seandainya ada seseorang yang bisa menuntunku ke sana, aku pun akan disergap oleh rasa putus asa yang aneh seperti saat aku menghadapi kotak hitam yang ditinggalkan oleh ayah. Atau seperti aku menghadapi misteri ibu dan misteri tuhan itu sendiri. Lagi pula aku kini telah memindahkan tuhan kepada personifikasi sang perempuan penjual jamu. Yang seandainya aku mengetahui persis siapa dan mengapa dirinya kelak akhirnya aku jadi bosan karena dirinya tidak lagi dilingkupi misteri seperti tuhan yang telah berhasil kusibak mistrinya. Sekali kita bisa menguak misteri tentang sesuatu maka ia pastilah tidak akan menjadi teka-teki lagi dan segera sesuatu yang telah kehilangan misteri akan membawa rasa bosan dalam hati. Tetapi aku mempunyai kebutuhan lain dan itu bukan misteri. Kebutuhan akan tubuh dalam percumbuan dan kemesraan. Dalam kemanjaan dan kesedihan. Dalam bahagia dan tawa putus asa. Mungkin kebutuhan terakhir inilah yang membuatku tetap mengharapkan kedatangan tuhanku sang perempuan penjual jamu. Tapi dia belum datang juga. Jembatan itu rebah telentang menunggu langkah-langkahnya menyururi tubuhnya. Jembatan yang telah tanpa sadar kubayangkan sebagai badan tuhan yang mengharapkan orang-orang berjalan di atas tubuhnya dan merengkuhnya. Atau kubayangkan diriku sendiri sebagai jembatan itu. Di mana tuhanku melangkah perlahan-lahan di atas badanku dan merengkuhku. Atau berhenti di atas tubuhku. Apa sajalah yang penting ada pergerakan, tidak berhenti dan mati seperti sekarang ini. Segala gerak seolah menjauh dan makin jauh. Menempuh alam sunyinya masing-masing. Seolah puncak gunung yang lama tidak dijamah manusia, atau bahkan memang tak pernah ada manusia yang pernah menjamah puncak gunung. Sehingga sang gunung menjadi sepi sendiri di lerengnya dan di puncaknya. Aku seolah telah menjadi gunung yang melambung ke puncak gunung. Di mana batu-batunya tumbuh sendiri tanpa pernah dijamah. Lalu memecah sendiri karena telah sampai pada batas tumbuh. Semua bayangan dan imajinasi itu berselang-seling menghinggapi otak dan jiwaku. Dalam putaran yang cepat secepat para pemain kartu di tepian sungai itu menebak kartu lawan mainnya. Atau air sungai itu yang berganti-ganti menukarkan dirinya dalam iringan air yang mengalir sepanjang arusnya. Tapi yang kutunggu belum juga tiba. Sampai seorang penjual sayur keliling mengingatkanku bahwa hari itu aku memesan daging dan pucuk ubi untuk makan siangku nanti.Seutas tali kuturunkan dan kudengar suara: daging dan sayurannya masih baru semua seperti biasa. Lalu kurasakan tali yang kupegang dengan satu tanganku, sambil satu tanganku lainnya tetap memegang teropong yang kuarahkan ke sepanjang jembatan, menjadi berat dan pelan-pelan tali itu kutarik naik sampai bungkusan dari plastik warna hitam itu sampai kepadaku. Menampakkan dirinya sebagai nyawa baru yang akan terus menghidupkan nyawaku kini. Lalu aku menurunkan tali kembali di mana ujung tali membawa uang yang harus kubayar untuk membeli nyawaku siang itu. Perempuan penjual jamuku belum juga kulihat tubuh dan jiwanya.Kini aku jadi tahu kelelahan ayah menunggu seperti aku tahu kelelahanku kini menunggu. Ayah sudah melampaui daya tahannya dan karena itu dia mengakhiri hidupnya. Jadi letusan senapan satu kali itu bukanlah serangan kepada tuhan tapi tanda bahwa dia akan datang. Karena misteri tuhan tak kan pernah terpecahkan.

( Kritik Sastra / Kritik Keindahan ) Bunga Tersunting Di Telinga Denny JA


Puisi Esai, Keterasingan, Sebuah Ikhtiar   

1. dua larik mungil.

    saya agak lupa tahun berapa ketika itu, di sebuah acara di teater utama dekat bioskop twenty one kini, di TIM, di zaman orde baru, saya pertama kali melihat denny ja. tapi saya ingat ia seorang anak muda seperti banyak aktivis sezaman (saya juga muda ketika itu): kaos dan celana jean. lalu bunga terselip di telinganya - entah telinga kiri, entah telinga kanan - detil ini juga saya agak lupa. o ini denny kataku ketika itu, esais yang menulis artikel-artikel politik di media indonesia. tulisan denny segera memikatku oleh ia agak lain dengan artikel-artikel lain (di media massa ketika itu). tulisan denny itu berwatak esai dan esainya indah. keindahan itulah yang memikat saya saat membaca esai-esai denny ja.
     unik juga melihat seseorang di tengah keramaian menaruh bunga di telinga, nyeni. jadi agak bisa kita bayangkan kini, esai-esai politik yang ditulis denny itu, bahwa irama bahasanya, dari suatu pokok soal yang mestinya biasanya kurang menarik, politik, tapi oleh cara seorang penulis "bergaya" dalam bahasanya, jadi subjek bahasan yang begitu memikat.
     "memikat" ini memang gaya, tapi dari sekedar gaya kehadiran ia adalah sebuah disain, bahwa seorang pengarang esai membayangkan sesuatu dan ia mendisain sesuatu yang ia bayangkan, dalam kerangka, dalam konteks, dan dalam aspirasi besar atau kecil. jadi bukan semata membayangkan kehadiran kata di dalam bahasa dan bagaimana menjadikan kata di dalam bahasa itu, memikat.
      sebaliknya meluas menjangkau konteks luarnya, sebuah permainan, dengan kata yang diminta memikul permainan itu, ke dalam esai waktu itu dan kini, ke dalam puisi. sehingga luar itu, yang besar dan lebar, menjadi sebuah daerah kecil yang berdiam di/ke dalam dua kata adalah, "puisi" (dan) "esai". menarik melihat sutardji calzoum bachri, dalam daerah yang sama luasnya dengan daerah denny, berkata dalam tulisannya tentang buku puisi denny saat sang penyair membawakan perbandingan "matahari" ke "puisi".
      saya kutip,
    "Memberikan data faktual sebagai bukti agar puisi fair adalah upaya untuk mengontrol imajinasi agar menjadi fair, menjadi sebagai esai. Kelima puisi ini bisa berhasil karena memang sudah diniatkan sebagai esai. Di tangan penyair lain yang tak berniat demikian, fakta yang sama bisa terasa lain. Imajinasi adalah raja: “can do no wrong”. Fakta besar di alam nyata bisa diciutkan bahkan dihilangkan dalam imajinasi, fakta sepele bisa jadi besar. Sinar besar dari matahari fakta bisa ditutup oleh sebuah larik mungil yang jadi."
     kita mengerti maksud sutardji, bahwa itulah kekuatan "imajinasi" tapi "imajinasi ini yang dibawakan ke "gaya" baru adalah (niat seorang esais) untuk menulis puisi. Hasilnya, "imajinasi" itu terkontrol: ia tak merajalela lagi. konfirmasi datang dari blog puisi esai denny ja (saya kutip bebas), bahwa ia "tak berpretensi menjadi seorang penyair".
    maka kini sebenarnya, ada dua imajinasi yang tengah bekerja, adalah imajinasi yang telah dipetakan oleh sutardji mengikuti arah niat sang penyair (hendak kita sebut apa denny ja walau ia berendah hati: saya bukanlah penyair, saya tidak berpretensi jadi penyair), saat kita memang melihat, atau dihadapkan dengan suatu produksi yang didisain begitu besarnya: mula mula kehadiran lima puisi esai, serta, atribut akibatannya yang kelewat cerdas itu: "parodi dari situasi parodikal yang kini kita alami").
      kemenangan "puisi esai" memang telah mengatasi kata sebagai diksi konsep ungkapan (toh kita belum pernah mendengar perkawinan dua kata itu dalam daerah puisi kita, adalah digabungkanya kata "puisi" dan kata "esai".
     seorang penyair kemarin, saat saya menshare tiga tulisan (tulisan sapardi djoko damono, ignas kleden serta sutardji calzoum bachri) yang mengayakan buku atas nama cinta denny ja, dedy tri riyadi, berkata "puisi esai" itu adalah puisi "naratif" dan telah dikerjakan oleh rendra misalnya (ignas juga berkata ini), mungkin begitu, berawatak naratif/cerita. tapi toh dua kata itu, yang dijadikan satu, dengan "esai" ditarik ke arah "puisi", kita belum pernah mendengarnya selama ini. baru denny-lah yang mengeluarkannya dalam daerah kepuisian kita ini.
    sebagai sebuah nama/konsep ia menarik, dan sebenarnya agak kontroversial juga oleh kehakikatan kerja puisi itu sendiri. inilah yang dilihat sutardji dengan kata-katanya, betapa imajinasi "raja" can do no wrong itu, kini ditatah ke dalam gerak "esai".
    lagi-lagi, bagi saya ini baru, dalam pengertian seolah telah terjadi pelembutan atas imajinasi itu sendiri, saat sebuah kata yakni "esai" menariknya: puisi tak lagi melaju kencang semena-mena (katanya seolah sajak rendra). tapi mana kala kita merenungkan gerak lebar denny ja, yang membayangkan indonesia dalam bingkai "tanpa/bebas dari" itu - tanpa diskriminasi/bebas dari diskriminasi, maka persis pada saat inilah kita melihat dengan senyatanya kebaruan lain itu: suatu imajinasi yang diam-diam telah bekerja, mengatasi puisi di/dari dalam, serta mengatasi "matahari" luar yakni keadaan indonesia yang kini, telah ditaklukkan "matahari"-nya lewat, imajinasi "puisi-esai" itu.
    "larik mungil" bisa saja kuasa meringkus "matahari" yang tak kuasa ditutupi itu, indonesia, yang dalam suatu periode masanya, menjadi beringas dan buas, adalah seolah padanan gerak alam yakni "matahari", suatu masa, suatu tempo waktu, kini sungguh menjadi larik naratif yang mungil - hanya sepanjang "sapu tangan fan ying", begitu mungil, suatu kata (kata sutardji mungil ini), sungguh-sungguh telah menjadi padanan esai hidup atas puisi esai denny ja lewat gerak nama dari puisi atas nama cinta pertama-nya itu: sapu tangan fang yin.

Bermain dengan Hia



Rumah Api di Bibir Hia

27 Juli 2013 pukul 4:29
hia jangan lagi kau tahan, menangislah sampai payah
marah dan berontaklah sampai aku melihat sisi terasing dalam dirimu
yang tak sekalipun pernah aku bayangkan

muntahkan. dan biarkan aku melihat kebenaran darahmu
semasih di bumi aku meyakini kaupun masih, (manusia)

hia jangan lagi kau tahan. biarkan rumah api di bibirmu menyala
membakar segala apa yang telah menjadi sekam dalam hatimu
sebab aku membayangkan hia, di langit sana, di rumah kita yang lain
hati takkan lagi mungkin bisa berpaling

2013


      "rumah api di bibir hia". Ingatan akan kemanusiaan mungkin membuat kita betah dalam dunia ini, walau kebetahan kita itu penuh cemas akan dugaan hari berhenti - setidaknya untuk kita, hari, meminjam ungkapan dari sebuah novel, tidak maju lagi. kita ada di pasir panas ini saja, dengan lembing dari bayangan pisau dan gerak panas yang datang dari langit, yang kita tak pernah tahu namanya.

     "rumah api di bibir itu" lah kemanusiaan, sebuah riwayat yang kita akrabi oleh kita memang manusia. bahwa kau di sana aku di sini, tak mengurangi kemanusiaan oleh kita adalah mahluk domestik. tinggal di rumah, memasak dengan api, dan bercakap seraya menggerakkan bibirku dan bibirmu. tapi "hia" itu, setidaknya untuk aku dan tapi kuat dugaanku untuk kamu juga - untuk kita bersama yang terbiasa berkomunikasi, kukira hia itu bukanlah lagi sebuah riwayat yang datang dari inner domestik dari kepengalaman kita sehari hari ini.

       kalau begitu dari mana dia berasal? terasa oleh saya dunia fisik, lewat hia itu, sesegera mungkin hendak dibawa ke tempat lain. kita bersama, diangkat, ditransendirkan lewat kata "hia" - terngiang olehku sawung jabo berkata dulu, di panggung musik manis tapi dengan isi the rebel: hio hio hio kata mereka dan kita pun ikut masuk ke dalam kata mereka itu. hayo kata kita. tapi ini hia.


     kelihatannya saya sudah melebih lebihkan. hia itu rupanya nama kau kita juga - tampaknya ia nama dari manusia dan manusia itu bernama "hia". jadi, bukan langit itu. tapi bahasa ini sudah bergerak maju, dan oleh ia telah maju biarlah tak usah mundur lagi. 

     kita maju saja oleh insting kita yakin bahwa ini sebuah bahasa yang hendak menembus itu. menembus mungkin tidak memakai hia sebagai sebuah nama. tapi sebagai sebuah isi pesan mungkin bersama dirinya, bersama hia, mereka bersama sama memang hendak pergi ke suatu tempat. pergi dari kemanusiaan, ke mana lagi kita pergi, halo, hia - siapakah gerangan dirimu itu?

    tetapi kalau dia nama alangkah pula baris paling atas itu? judul itu bagi saya adalah baris dari sebuah puisi, walau di antara kita atau banyak di kalangan kita tidak pernah melihatnya sebagai isi sehingga mereka tidak mendugakan saat membuat, atau saat menuliskan sebuah puisi, nama ini, judul itu, diabaikan.

     tapi saya tidak pernah mengabaikannya sebab lihatlah, ada unik di nama itu. ujungnya hia dan sebelumnya dunia yang sangat simbolik: rumah api di bibir hia. jadi rumah besar itu kini mengecil, api yang membakar dan indah bernyata itu juga ikut mengecil, masuk semua ke terowongan kecil dan kini berdiam di bibir sesorang. adalah bibir hia. wah kataku, bibir apakah ini sampai muat meletakkan rumah dan api. indah, rasanya bibir ini. indah pula kukira kalau kita berdiam di bibir ini.
    aku suka puisis ini dan sejenak kutinggalkan lalu linta persatuan kata pembentuk bahasa puisi. kuperhatikan gerak jiwanya dan kutemukan sebuah suara tangis yang dianggapnya tidak pernah dikenalnya. hia diminta memuntahkan dan dia ingin mendengarkan: keluarkan sampai yang paling asing dari kesedihanmu itu - tangis itu. 

    jadi ada kesedihan yang mungkin tidak kita kenali. ada keasingan yang mungkin tidak kita kenali. adalah kesedihan itu, timbunan peristiwa yang mengeluarkan kesedihan dan asing adalah identitasnya. tapi tak kita kenali. dan yang tidak dikenali inilah yang hendak dilihatnya. jadi rupanya demikian rupa hidup dua orang ini sampai ia tak pernah melihat apa yang kini hendak dilihatnya, yang asing itu katanya dan semua itu adalah sebuah kesedihan. jadi kesedihan yang tak bernama, yang tak pernah ada sebelumnya dan inilah dunia yang menggodaku itu. 

    kita ingin tahu juga, kesedihan semacam apakah itu, sampai ia tak lagi terdeteksi pun oleh orang yang paling dekatnya sendiri - aku itu, atau jangan jangan aku ini sedang meretorikan. jadi hia itu adalah dirinya sendiri. kita suka bermain solitaire dan jangan jangan aku ini dengan keterampilan bahasa yang tinggi tengah bermain solitaire. tapi ia tergelincir juga, atau ia terlalu masuk sehingga akhirnya ia tergoda: terpana oleh ingin melihat, setelah memajang semua penderitaan yang harus kita bayangkan sembunyi dari nada bahasanya, adalah keasingan dari sesuatu yang tak ia kenali. apa itu, rabu?

     langit juga akhirnya tempat mata kita itu berhenti. aku membayangkan langit hia katanya, rumah kita yang lain alias dunia yang telah meluluhlantakkan ini ditolaknya, dengan cara membuat escape masih di sini juga. tubuh masih di sini tapi langit telah menjulur ke dalam jiwa. itu langit harapan dari kenangan purba kita kepada dunia yang katanya lebih lembut dari belaian ibu kita dulu. langit tempat kita kembali. langit tempat dari mana puisi ini mengintip justru dari kakinya saat ini. 

     apakah ini alamat kekalahan manusia terhadap kehidupan keras yang ia simpan di dalam puisi? puisi yang baik memang bukan warta: ia demokratis mengajak kita bermimajinasi. kamu bayangkan saja apa derita yang telah menimpa dalam hidupku dengan hia-ku ini kata rabu, seraya bergerak menjenguk langit dari lubang sempit di dadanya. langit, sekali ini, bukanlah alamat sebuah peluru tajam yang meletus menembak ke udara kosong. tapi penuh isi. dari penyair yang bernama rabu pagisyahbana. 

     oh, rabu. pecahlah kamisku dan meletuslah pecahlah jumat kau dan aku, rabu.

Benda-Benda Dunia


benda-benda dunia, 1


30 Agustus 2013 pukul 17:08

                "kunang-kunang, cicak, ikan"       

      Seandainya sebuah kata kita tahu artinya, saat kata itu sampai, apakah arti kata itu akan menetap, stabil tidak bergerak-gerak lagi?

       Tetapi di dalam puisi, apakah acuannya ini yang sampai, atau kata itu? bahwa di dalam puisi kata adalah imaji bukan bendanya langsung. Bahwa ia adalah realitas baru, kata sebagai sebuah kenyataan dalam bahasa, imaji. Seandainya benar, maka terbuka peluang untuk bertanya ke manakah acuannya kini? Atau tidak seperti itu, bahwa kata di dalam puisi akan tetap menunjuk ke acuannya. bahwa kata telah mengubah dirinya menjadi realitas baru adalah imaji, hanyalah keadaan yang kita dorong bukanlah sebuah kenyataan. sebab kenyataan-nya tidak pernah berubah: ia tetap milik acuannya. Olehnya apa yang kita yakini bahwa bahasa puisi membentuk realitas baru, hanyalah mungkin saat kata digerakkan dengan kata yang lain, saat kata terikat dalam rantai sintagmatik.

      Dalam keadaan paling "darurat" pun sebuah kata tetap saja memiliki acuannya. Kehadiran "kata" 'se' akan kita bayangkan dengan 'an'; seperti hadirnya "ke" yang kita bayangkan lewat adanya "an".

       Katakanlah saya kini membentukkan dari "ke" dan "an" ini sebuah kata adalah "keadaan", maka "keadaan" ini tetap saja akan memiliki acuan. tentu saja ia bukanlah acuan langsung seperti "batu" yang bisa kita tunjukkan. Ke mana kita akan menunjukkan "keadaan" yang abstrak ini? Keadaan tergantung dengan konteksnya - keadaan perang maka kita menunjuk sebuah dunia yang kacau balau. keadaan hatiku maka saya mesti menyimak apakah yang tengah bergejolak di dalam diriku ini - juga di dirimu itu.

       Jadi acuan dari "keadaan" sebagai sebuah kata mengambil jalan melingkar namun ia tetap memiliki acuan-nya, oleh tesis awal kita tadi: tak suatu kata pun yang tak memiliki riwayat adalah acuannya itu. pun "au" sebagai sebuah "kata" memiliki riwayat atau acuannya. Kita mesti pergi menjenguk ke balik bunyi ini. Siapa yang berteriak dalam arti "au" dan apakah maknanya. Maka muncul pergerakan di sini: arti itu bukan makna. tapi dari suatu arti bergulirlah beragam-ragam makna akibat dari sebuah pengertian kata, dan akhirnya kemaknaan kata.

       Bisakah kita mulai membayangkan bahwa makna kata di dalam sajak, atau makna sebuah sajak, itu tidaklah tunggal menetap, tapi terbuka sebanyak makna kata/bahasa di dalam diri pembacanya.


benda-benda dunia, 2

30 Agustus 2013 pukul 18:57

"lima keadaan kata"

keadaan saat kata hadir sebagai bacaan, kita membaca kata itu. keadaan kata sebagai acuan, kita melihat benda-nya bukan kata-nya. keadaan kata dalam pikiran, kita membayangkan, kita berpikir, dengan kata-nya sekaligus dengan bendanya. keadaan di mana kata hadir tanpa kontrol sadar, adalah saat kita ada dalam keadaan mimpi, tidur. keadaan kata menghilang, oleh situasi tak lagi terbahasakan.

       Di depan bahasa-bahasa saya merenungi lima keadaan kata ini, mungkin lebih oleh hingga saat ini, hanya lima keadaan kata inilah yang baru bisa kita pikirkan. kalau lebih dari lima ini, apakah kira-kiranya yang mungkin? apakah keadaan kata yang ada tapi kita tidak tahu keberadaan mereka? kata apakah itu, yang kita tidak tahu sedang dia sudah hadir di tengah-tengah kita.

    apakah peristiwa di masa lalu atau dugaan ke masa depan, yang tak lagi bisa difasilitasi oleh serangkaian huruf dalam sistem aksara manusia saat ini.

     Saya berpikir betapa samanya sistem aksara yang jumlah katanya terbatas tapi sifat sintagmatik dalam satuan huruf saat merangkaikan kata, begitu tak terhitung jumlahnya. seolah olah untuk melayani ketakterhinggan dunia inilah mereka hadir. sebab dunia mesti kita sebutkan nama-nama mereka, karena tanpa penyebutan ini dunia itu membisu. kita tidak tahu artinya, karenanya kita tidak tahu kemungkinan fungsinya. akibatnya dunia itu tidak produktif sehingga antara kita dan dunia terputus. dunia tidak bisa hadir menjadi kursi karena kita tidak mengerti kata ikatan, cara kursi itu dibentukkan. tapi kita mengerti kata ikatan sehingga kursi menjadi sebuah dunia yang mungkin. ia mungkin hadir dan ia memang telah hadir.

    begitulah sebuah benda telah tertangani dengan baik oleh adanya sebuah bahasa. jadi bahasa itu berfungsi untuk menangani dunia benda-benda agar kelangsungan hidup ini tidak terputus. dalam kerangka ini kita lalu bisa mengatakan, bahwa pada dasarnya dunia itu tengah melayani dirinya sendiri, tapi lewat sebuah organisasi, lewat sistem di mana masing masing unsur serta sifat sistem bekerja satu dengan yang lain.

     manusia adalah miniatur dunia, tapi bukanlah manusia yang lebih sukar dibentukkan, melainkan dunia itu sendiri. alam raya ini, pembentukannya lebih rumit dari pada manusia. masuk akal oleh sedemikian besar alam ini, sedang kita sedemikian kecil. tetapi oleh ia miniatur dunia maka dalam hatinya keadaan dunia itu tersimpan. hati manusia oleh itu jadi seluas dunia dan akhirnya hati manusia bisa mengeluarkan dirinya.

    keluarnya hati manusia ini lewat bahasa, sehingga bahasa kini adalah cara menyebutkan dunia benda benda yang kini dibalikkan: misteri itu bukanlah univers lagi tapi miniaturnya - hati kita itu. hati atau jantung? pikiran atau perasaan? tubuh atau ruh?

     selalu kita ditempatkan dalam sebuah keadaan adalah tanda tanya yang minta dijawab, dan selalu pula bahasa tampil membantu menjawabkan setiap pertanyaan. dan dengan metode persamaan dan pembalikan seperti, ini maka tahulah kita bahwa dalam dunia ada misteri seperti dalam diri ada misteri. bahwa tugas kedirian menyibak misteri di luar dan tapi sekaligus menyibak misteri di dalam. polisi mengusut sang penjahat; agamawan mengurusi baik dan buruk laku; ilmuwan bertugas melihat ke balik batu; sastrawan? rasanya tak terlalu berlebihan kalau kita katakan, tugasnya keluar masuk dan kini mengeluarkan apa yang menjadi misteri dari dalam tubuh ini. jadi kita itu mirip insinyur yang tengah menduga-dugakan di mana minyak berada agar kita bisa mengebor untuk mengambilnya.


benda-benda dunia, 3

30 Agustus 2013 pukul 19:38

               "keadaan kata dalam prosa"

       Lima keadaan kata itu membuat kita tidak lagi menyempit dalam memandang bahasa, sastra, serta puisi yang sedang kita jadikan objek pengelihatan. dengannya bahasa terbuka dari pelbagai kemungkinan sesuai keadaan dari mana kita memandang.


"lima keadaan kata, senja di pelabuhan kecil, menyelam mengejar ikan ikan"

1 September 2013 pukul 7:06

benda-benda dunia, 2

30 Agustus 2013 pukul 18:57

"lima keadaan kata"

keadaan saat kata hadir sebagai bacaan, kita membaca kata itu. keadaan kata sebagai acuan, kita melihat benda-nya bukan kata-nya. keadaan kata dalam pikiran, kita membayangkan, kita berpikir, dengan kata-nya sekaligus dengan bendanya. keadaan di mana kata hadir tanpa kontrol sadar, adalah saat kita ada dalam keadaan mimpi, tidur. keadaan kata menghilang, oleh situasi tak lagi terbahasakan.

mengejar ikan ikan, serta usaha dalam bahasa
31 Agustus 2013 pukul 10:13

"hari ini kita menyelam mengejar ikan ikan"

     usaha dalam bahasa yang kita saksikan, barangkali yang paling menggoda dari puisi lia amalia sulaksmi, mengejar ikan ikan. bahwa kita melihat ada suatu upaya dari aku, seraya membayangkan dia yang pasif sehingga watak kehadirannya jadi misterius. (siapakah dia itu, yang diajak menyelam mengejar ikan ikan? siapa pula aku ini, yang menyelam untuk mengejar ikan ikan?)

     beberapa kali saya mencoba menangkap bentuk bentuk usaha dalam bahasa ini, tapi luput lagi oleh apa yang dikerjakan itu sedemikian menyimpan dirinya. tadi saya seolah olah paham, sebelum kepahaman saya buyar lagi dan kata pun tercerai berai ke sana dan ke mari.

     sebuah gerak membalik memang telah dilakukan dan itulah baris pertama puisi lia. seolah kita melihat dunia upaya itu, sebuah dialog, yang keluar dari dalam hidup biasa, percakapan sehari-hari yang rutin: hari ini kita mengapa? kemarin kita telah melakukan hal itu. hari ini kita melakukan apa lagi. dunia keseharian inilah muasal dari "hari ini kita", yang menjadi start puisi. sebelum datang di garis lurus itu, titik yang tidak biasa, membalik, mengejutkan karena ia bukanlah isi dari "hari ini kita" yang kita kenali.

sebab "hari ini kita" itu, rupanya adalah, titik yang bergerak ke arah lain, arah yang tak mungkin.

"hari ini kita menyelam mengejar ikan-ikan", katanya.

bukan, yok "hari ini kita" kondangan. anak bapak itu kawin. atau: ayo dong temani saya ke pasar, hari ini kita akan makan besar. saya yang memasak dan kamu menghidupi api di tungku. tapi: "hari ini kita menyelam mengejar ikan ikan". tanda upaya sehari-harikah baris baris licin lia ini? bahwa hidup adalah ikhtiar yang diseolahkan ikan di dalam lautan yang harus kita tangkap, dan kita bisa menangkapnya kalau kita menyelam. menyelam ke hidup yang kita bayangkankah puisi menggoda ini?

Atau itu adalah ikan sebagai perlambangan yang datang dari dunia ilmu? alhasil, menyelam adalah mengejar ilmu, agar kita tenggelam dalam nama-namaNya. zikir haluskah baris baris dalam puisi lia?

Saya berdiam dalam renungan saya sendiri, memikirkan, bahwa kata sungguh tak kuasa kita maknai dari satu arahnya.

tentang struktur, tentang arti, tentang makna
31 Agustus 2013 pukul 17:41

fakta yang berpindah ke dalam bahasa - usaha menyimpangkan kehidupan yang biasa: di tanganku dan kau ada alarm tanda waktu usai.

Menyadari bahwa kehadiran adalah selalu kehadiran sebuah struktur, hadirnya keutuhan yang membuat sebuah bahasa, tak bisa kita lepaskan dari bahasa yang lain di dalam struktur, membuat perlahan lahan saya menundakan dahulu gerakan aneh aku lirik yang mengejutkan ini. hari ini kita menyelam mengejar ikan ikan, terus menerus menerbitkan sebuah kemungkinan dari perbedaan arti dan makna dalam bahasa. jelas kita tahu artinya oleh kata kata di sini begitu mudah mengartikannya. tapi apakah maknanya? apakah makna mesti dimuatkan oleh arti dari kata kata yang dipakai. kalaulah itu hanya sebuah kalimat yang lepas begitu saja tanpa sambungannya, maka mungkin kita meninggalkannya dengan memikirkan itulah sebuah retorik, semacam gerak assalamualaikum untuk setelah "bahasa upacara" semacam itu, puisi akan pergi kemaksud sebenarnya puisi. tapi ia berkelanjutan, bahkan puisi ini bisa kita sebut, dibangun dengan pengejutan - pengejutan bukan sampiran tapi isi.

tentang arti, tentang makna
31 Agustus 2013 pukul 15:48

"kita ambil senja di pelabuhan kecil misalnya. kita tidak lagi mencari isi puisi, karena kita sudah dipuaskan oleh baris pertama, 'ini kali tidak ada yang mencari cinta' (sehingga kita tak akan sampai hati menyimpulkan bahwa puisi itu bercerita tentang si jantan yang patah hati, misalnya). frasa 'pada cerita' dari baris kedua di bait pertama, menyela begitu saja urutan 'gudang', 'rumah tua', 'tiang dan temali. selaan ini hanya pembuka saja, pengantar pada dua gambar berurutan yang tak saling berhubungan, kecuali bahwa keduanya dihubungkan oleh pengulangan bunyi di ujung baris ketiga dan ke empat, yakni 'berlaut' dan 'berpuat'. Atau boleh saja kedua baris ini berhubungan, jika kapal dan perahu ternyata menghembus(kan) diri; dan jika demikian halnya, maka menghembus adalah sebentuk pemiuhan fungsi kata kerja. lagi pula, bagaimana kita mendudukkan 'mempercaya mau berpaut': bukan hanya 'mau berpaut' itu sebuah bentukan yang ganjil, namun juga bahwa 'mau berpaut itu sesunguhnnya menuntut objek sasaran - pada apa, pada siapa. frasa mengambang membuat kita juga bebas mempertautkannya dengan frasa sebelum atau sesudahnya; atau, ia lebih berfungsi visual, yakni untuk menggenapkan montase yang kita hadapi. frasa 'tidak bergerak' pada baris ketiga bait kedua bisa melekat pada 'pangkal akanan' atau 'tanah dan air'; sementara itu frasa 'tiada lagi pada awal bait ketiga mungkin tidak berhubungan dengan apa pun, kecuali mengosongkan apa apa yang sudah kita tatap pada dua bait sebelumnya. sekali si aku, yakni dia yang tak mencari cinta, muncul, kita tahu semuanya kian kabur saja: kenapa harus ada 'pantai keempat' (dan kita tak tahu pantai-pantai yang sebelumnya, atau sesudahnya). tak berjawab, masih juga kita bersua dengan keganjilan semantik yang lain di penghujung, yaitu bahwa 'sedu penghabisan bisa terdekap' - siapa yang bisa mendekap sedu sedan, ataukah justru dalam jukstaposisi ekstrem kita boleh meninggalkan pengertian?"

senja di pelabuhan kecil
buat sri arjati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak
elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa
terdekap

1946

"dengan contoh di atas saya juga menggarisbawahi bagaimana dia memelihara hubungan antara kalimat-kalimat sumbang - ya, sumbang, jika diukur dengan cara prosa - dengan bentuk persajakan yang tertib, yaitu kutarin. seakan akan bentuk yang sudah mantab dalam sejarah perpuisian dunia itulah - jangan lupa, dia juga menggunakan bentuk sonet - fragmen fragmen kehidupan modern memunculkan dirinya kembali, kali ini secara lebih ajaib. karena kata kata memang belum selesai memancarkan keajaibannya, yaitu bahwa arti mereka yang dikandung oleh kamus barulah setahap kemungkinan arti belaka, dan ini hanya dimungkinkan jika si kata duduk dalam frasa yang mengambang, bahkan yang seakan mengelak dari frasa frasa sebelum dan sesudahnya. namun sekali lagi, frasa frasa ini tidak bisa terlalu berlepasan, melainkan harus diikat oleh bentuk persajakan yang teratur, dengan rima yang terjaga. atau, jika dikatakan dengan cara lain: bentuk bentuk teratur konvensional yang dipakainya memang tidak pernah genap, selalu mengandung selisih: memang ada rima, tetapi larik lariknya seakan mengerut di satu bagian dan merentang di bagian lain. dan selalu ada derau di sana, yang mengganggu keindahan, ya, paling tidak mengusik tata bunyi dan tata rupa yang dicita citakan kaum pujangga, keindahan yang mengandung 'rasa yang dalam' dan 'budi yang tinggi.' derau itu muncul dalam wujud, misalnya, gabungan kata yang tak wajar, sepotong ide yang muncul tiba tiba, atau kalimat yang berakhir sebelum waktunya. kadang kadang, bila kalimat kalimatnyatampak lebih teratur, dan larik lariknya terasa lebih genap, misalnya dalam 'derai derai cemara', maka ternyatalah betapa licin sajak itu mengadopsi, sekaligus menyelewengkan, bentuk persajakan tradisional, yaitu pantun, dan betapa 'isi'-nya yang semu-falsafi hanya topeng belaka bagi bentuknya."

"lima keadaan kata, senja di pelabuhan kecil, menyelam mengejar ikan ikan"

1 September 2013 pukul 7:19

"mulai dari lima keadaan kata"

mungkinkah lima keadaan kata ini dapat membantu kita membaca puisi atau sastra pada umumnya secara lebih lengkap lagi? hal ini sungguh menggoda saya oleh setiap puisi lahir tanggapan atasnya. tentulah kita tidak kuasa mengukuhi suatu pandangan, kecuali menyimak argumentasi dari basis bagaimana puisi itu dibaca oleh seseorang. tetapi bagaimana pun juga dengan memetakan lima kemungkinan keadaan kata ini, kita mungkin mempunyai dasar untuk melihat, setidaknya mulai dari arti dan makna dari kata yang menjalin di rantai sintagmatik itu.

Tetapi "lima keadaan kata" itu bukan saja berlaku bagi kritikus atau pembaca, melainkan terjadi juga dalam diri penyair saat ia mulai melakukan kegiatannya menulis sajak, hal yang kelak saya lihat mempunyai implikasi langsung kepada cara kita menerima produksi dari bahasa yang kini telah kita beri nama sajak itu. Kita beri nama, nah inilah soal mulanya. bahwa ada suatu keadaan di luar (serta di dalam diri atau sebenarnya, keadaan itu adalah keadaan itu sendiri - kita mulai menyentuh tepian dari nomor lima keadaan kata adalah situasi tak terbahasakan) yang meminta kita beri nama atau kita yang harus memberikannya nama - arti itu, kita mengartikan, tapi kemudian arti ini melejit seolah tak ingin di/terpegang. ia keluar dari nama yang telah kita berikan justru sebelum ia berdiri sebagai bagian dari titik titik kata yang mengisi garis lurus adalah baris puisi. apatah lagi saat ia berdiri sebagai rantai sintagmatik yang di dalamnya adalah suatu lambaian jauh-dekat dari dunia paragdimatik, suatu dunia luas lebar muasal darimana lahirnya bahasa, bahasa dari kita sebagai pembaca yang kini bertemu vis a vis dengan bahasa sebagai penyair yang kini telah mukim sebagai puisi.

diri memang telah terikat oleh isolasi, bahwa setiap gejala keluar dari dirinya dan kini teronggok ke dalam ikatan. sebuah keadaan hari yang sebenarnya tak terbahasakan oleh setiap mungkin lanskap, kita namai "senja", untuk bergerak seolah dunia manusia: bergandengan tangan menyamakan hati mengikuti nada always bon jovi, dan ialah itu: senja di pelabuhan kecil. atau keadaan di mana air dan daratan dan lalu tampillah sebuah gerak dan kita namakan gerak itu adalah "menyelam", dengan imbuhan untuk "mengejar ikan ikan". inilah keadaan dari dunia kegejalaan yang minta dibahasakan, dan kata adalah tempat mukimnya, isolasiannya, tempat dunia itu terkurung dan dari kurungan ini kita mulai menyamakan persepsi. langkah pertama semua itu kita namakan kaidah dalam bahasa, linguistik, sebuah logos atas mana setiap ada-logos ini mulai bergerak, sebelum kita melihat kemudian bahwa saat seorang penyair menulis - dan di sini pengamat lalu kerap melakukan kekerasan, tulisan harus tunduk pada cita rasanya, padahal saat seseorang menulis mungkin saja ia tengah mengidap lima keadan kata secara serentak, bahwa dunia luar melimpah ruah dan dunia simultan itulah yang kini bocor dan menyebar ke mana mana. tapi kita tundakan soal inti ini, untuk terus merayapi setiap kemungkinan yang paling tidak pernah kita pikirkan, dalam hubungan dengan kata dari perspektif arti dan maknanya. bahwa sesaat seorang penyair menulis rupanya adalah patahan, suatu momen ia mematahkan ada-logos itu sendiri. ia menjauh dari akal sehat dan ia pergi serta sampai ke arah akal sehat yang lain. ia oleh itu tengah mematahkan linguistik tanpa ia sadari, oleh dunia dari lima keadaan yang baik kini bagian katanya kita beri tanda petik, adalah "kata". jadi lima keadaan "kata" ini adalah holistiknya dari hidup/kehidupan yang kita mengerti - patahan logis ada, dan yang tidak kita mengerti, patahan anti logika yang kerap membuat para kritikus atau pembaca menolak hasil sebuah karya sastra itu.

Tetapi apakah yang hendak dikejar oleh anti logika dalam puisi itu (baca: 'anti linguistik' alias bahasa puisi yang kurang/tidak bersih menurut istilahnya seorang esais dan penyair yang kita letakkan bahasanya di nomor 1 karangan ini, sebuah pandangan jernih dan menarik, serta agak langka dari dunia kritik kepuisian kita yang kerap melontarkan dirinya ke luar dengan menggapaikan dalam ke arah luar, tempat dalam itu lalu mengabur dan akhirnya hilang. dan kini kita hanya berjumpa pada luaran dengan dalaman menjadi alamat lamat lamat dari apa yang kita namakan keindahan berpuisi itu.) bahwa ia terlalu banyak derau yang tak mesti. tapi derau ini lalu menghilangkan setiap kemungkinan jalinan indah dari suatu arti dan makna yang mula mula diantarkan oleh bunyi - bunyi dalam sajak senja di pelabuhan kecil yang kini kita lihat dalam suatu permainan, adalah bunyi dari mengejar ikan ikan.
"lima keadaan kata, senja di pelabuhan kecil, menyelam mengejar ikan ikan"

1 September 2013 pukul 8:54

"yang kita tolak bukan 'linguistik'nya, tapi gema dari sebuah kemungkinan sintagma yang terpasang"

"lima keadaan kata, senja di pelabuhan kecil, menyelam mengejar ikan ikan"

1 September 2013 pukul 8:54

           "yang kita 'tolak' bukan 'linguistik'nya, tapi 'gema-indah' dari sebuah kemungkinan sintagma yang terpasang"

       mengabaikan linguistik kita menerima gema indah dari sebuah bahasa, oleh alasan yang sedemikian halus itu, pertama kata bukanlah arti tapi makna, kedua pun dalam kedudukannya sebagai arti, arti suatu kata setipis kulit ari - ia mudah terguncang, berguncang, dan tak suatu linguistik yang kuasa menariknya kembali, mengikatnya, mengisolasikannya dengan isian yang sebenarnya, saat masuk, dari setiap tepian tepian hidup telah berebutan untuk duduk di selubung sempit kata itu. ia seolah lintasan cepat tak terhingga dari spermatozoa yang berebut masuk demi membentuk sebuah kata adalah "aku" - 'saya'.

    maka kini wacana kepuisian jadi terbuka sebanyak ekspresi kata di dalam bahasa puisi itu sendiri, saat misalnya kita bertanya, bahwa dari suatu cara membaca bersih sastra lalu sebuah pengelihatan yang datang dari jurusan pembaca mendadak menghilangkan kemungkinan sebuah indah yang keluar dari serangkaian garis lurus yang terpasang jadi baris di larik-larik puisi. Pembaca akan merujuk kepada sajak derai derai cemara, untuk alasan yang berbeda beda, yang mungkin saja di baliknya ada argumentasi linguistik bersih yang tak dinyatakan. atau dinyatakan dalam bentuk samar samar bahwa sang penyair telah kuasa menangani bentuknya. dalam bentuk inilah barangkali linguistik bersih itu mengendap, mengelap ngelap puisi jadi bersinar. tetapi sebuah tulisan dinyatakan dengan terbuka dan itulah sebuah pengelihatan atas senja di pelabuhan kecil, dari sebuah diri yang menyebutkan namanya sebagai "titik tengah", yang menghimpun di sebuah buku, sebuah tribute, untuk seorang penyair yang rasanya memang pantas menerima penghargaan semacam itu.

       Tetapi saya ingin bergerak terbalik, memandangi belakang dari jurusan depan dengan cara membuat kontras dua kemungkinan keindahan. adalah hasrat-hasrat bahasa yang disokong oleh kata-nya dihadapkan dengan hasrat yang sama yang diterakan sebagai, larik berlepasan satu dengan yang lain - sungguhkan pengelihatan, atau keadaan jukstaposisi itu, membolehkan kata dilepaskan sama sekali dengan artinya, inilah sebuah gejala mata yang sudah sampai kepada apa yang di balik linguistik, yakni alam sebagai muasal setiap kata. tetapi pandangan seperti ini, tidak cukup untuk atau ia lalu runtuh lagi, mundur ke pandangan tanpa lintasan lintasan kemungkinan sebuah jukstaposisi. bahwa kebendaan alam ini berendeng ke sana ke mari dan mata kitalah yang menepuk setiap apa yang bersanding dengan sebuah nama - misal nama jukstaposisi-jukstapose itu, tapi itu jukstaposisi, katanya, yang kemudian diurungkan kembali. sehingga kini pemain dari mata bahasa kembali ke muasalnya lagi adalah kaidah, linguistik, atas mana kemungkinan gema indah dari suatu bahasa tertolak, dari suatu gejala yang secara tehnis sebagai enyambemen dalam puisi.

     enyambemen adalah sebuah cara garis lurus itu mengembang, mekar ke depan atau masuk kembali ke belakang, melipat kembali dirinya yang telah bergerak maju, menjadi titik, duduk di posisi awalnya kembali. ada resiko dari gerak gerik enyambemen ini dari suatu pandangan kebahasaan. bahwa ia bisa menjadi baris yang berlepasan sama sekali. sebuah larik tiba tiba bergerak sendiri, tak lagi mengikat dengan larik yyang lain.

     Tetapi enyambemen hanyalah suatu nama, untuk sebuah kehadiran ada yakni ada bahasa yang membawa riwayat dirinya. mereka datang dari tempat jauh dan kini saling mendekat, seraya mungkin tetap memelihara "kejauhan" mereka itu. mereka adalah gema dari riwayatnya sendiri, dengan nadanya sendiri. mereka eksis dan keeksisannya kadang tak berpaut satu sama lain, walau kerap juga mereka seolah napas kita sendiri: otomatis sehingga kata berpaut pun, rasanya tak lagi kuasa untuk menjadi wadah untuknya.



pusat ke tepian

1 September 2013 pukul 15:11

      tertarik oleh pusat dan betapa pusat begerak ke sana ke mari menjadi tepian tepian yang setelah kita lihat hanyalah mengubah-ngubah namanya, saya membayangkan ada pusat sebuah bahasa yang menyebarkan dirinya ke tepian tepiannya, seperti ada pusat bahasa di pembaca yang melihat ke mana arah sebaran tepian tepian itu seraya terus menerus akan mengembalikannya ke pusatnya lagi. ia adalah pusat yang dipandu oleh pusat lain yakni kaidah bahasa itu, linguistik, sebagai mata dari sebuah pusat memandangi pusat yang tengah bermain tepian. katakanlah pusat dari gerak bahasa senja di pelabuhan kecil, serta mengejar ikan ikan, yang ingin saya wacanakan bahwa betapa rasanya, sia sia belaka mengangankan sebuah pusat mana kala kelak kita tahu, bahwa setelah dari pusat tepian tepian itu kini eksis sendiri. mulanya ia adalah pusat, tapi setelahnya ia menjadi sebuah tepian yang akhirnya memusatkan dirinya juga. di sinilah, arti dan makna itu tersimpan, tanpa harus mengembalikan ke dalam anggapan, seolah ada makna induk yang tengah bekerja lewat tepian tepiannya, lalu kita bisa, lewat linguistik, memungutinya kembali dan kini mulai menegakkanya seakan sebuah benang yang tadi kuncup kini jadi mengembang.

       boleh saya bergerak dari ada dunia yakni univers ini, sebagai pusat dari mana kita kuasa selalu mengorientasikan diri - kita masuk ke dalam dunia, kita keluar ke dalam dunia karena diri itu adalah bagian dari dunia. sampai kita tidak tahu lagi mana dunia eksterior dan mana dunia interior karena keduanya tumbuh dalam dunia kesadaran - apakah senja di pelabuhan kecil kuasa dibentukkan walau memang senja itu ada? apakah mengejar ikan ikan kuasa dibentukkan walau sepasang kaki itu memang menjadi dunia fakta - tanpa kesadaran yang menghilang ke dalam, tempat aku pusat yang membagi ini - membagi induk puisi ke anak puisi. membagi induk makna ke anak anak makna. suatu ketika sang kritikus terjebak ke dalam pusat yang saling membagikan dirinya - ia beranggapan ada pusat itu, dan memang pusat itu ada, di pandangan pertama, sebelum pusat itu akhirnya kita tahu, adalah dunia sub sub yang eksis sendirian, berlepasan, mungkin tanpa saling sambung menyambung. oleh jebakan linguistik, pusat pusat yang adalah tepian hendak dikembalikan ke hulunya lagi sedang hulu telah bergerak ke tiap hilirnya.

     saya mencobakan sebuah persamaan depan ke belakang, untuk semakin mengakrabi pusat ke tepian ini, dunia garis lurus yang telah diisap oleh relatifitas einstein, sehingga gambar, atau bayangan kita terhadap adanya garis lurus yang memuat titik titik itu hanyalah pendek saja. dengan mencobakan dua bahasa seraya mengeluarkan kemungkinan kata kunci darinya semisal "senja", pelabuhan, sebuah latar tempat dan waktu di sebuah masa dulu - setidaknya masa ketika seorang pujangga mengubah senja di pelabuhan kecil ini. inilah gerak dari bahasa chairil anwar, yang kini dicobakan sebuah pendampingan dengan membawa mengejar ikan ikan, bahasa masa kini yang keluar dari dunia batin seorang lia amalia sulaksmi. boleh kita keluarkan dari bahasa ini adalah sebuah latar yang samar, nah puisi mulai bermain, menawar kejelasan senja di pelabuhan kecil, sebagai tempat di mana terjadinya dua orang mengejar ikan ikan - bukankah dia menyelam? yang artinya kaidah bahasa menghendaki adanya kolam, atau sungai - pun bahkan lautan seperti sebuah cerita pendek dengan seorang lelaki terjun ke dalam lautan, mengubah dirinya menjadi lelaki ikan itu. ada karang di bahasa lia itu, yang artinya besar kemungkinan latar itu di pantai bukan di sungai - apakah di sungai ada karang juga? kita sebenarnya kurang tertarik kepada detil seperti ini oleh yang ingin kita kejar itu adalah dunia maknanya. tapi mengikuti penyandingan ini kaidah bahasa mesti di vis a vis kan dengan kaidah bahasa juga. agar ia seimbang, setara.

      tetapi bukan ini yang mula mula hendak kita katakan melainkan, sebuah persamaan atas mana anggapan setiap titik itu bertemu dengan cara mengubah ngubah dirinya lewat nama(nya). kegiatan dua orang aku dengan segala atribut "mengejar ikan" - menyelam, karang, mengayuh, timbul lagi, adalah sebuah aktivitas yang tak memiliki tempat sebagai ruang latar di mana kejadian itu berlangsung. ia bukan senja "di pelabuhan" kecil, tapi di dunia entah. tapi dengan begitu lalu senja di pelabuhan kecil ini menjulur, dan akhirnya mengembang menjadi dunia tempat di mana dua orang manusia itu berlaku aneh. mereka menyelam dan lautan kini menjadi pelabuhan tempat sang aku di sana berjalan, mendekap harap yang pengap. mendadak saja pelabuhan dengan waktu senja-nya itu kini diambil alih oleh alam raya ini, dikembalikan lagi ke setiap tempat mana saja kegiatan mengejar ikan itu terjadi.


titik tengah, senja di pelabuhan kecil. titik kini, mengejar ikan ikan.

2 September 2013 pukul 5:36

            metode imajinasi dalam sastra

     Apakah saya telah berhasil mengatakan apa yang saya lihat, bahwa dua latar telah bekerja di dalam puisi yang latar itu hanyalah nama belaka dari alam raya yang mengubah dirinya jadi/ke "senja di pelabuhan kecil", sedang di lain puisi ia hidup lagi dengan cara memekarkan dirinya kembali, ke alam yang bisa di mana saja letak latarnya. itulah puisi lia amalia sulaksmi yang berbeda dengan senja di pelabuhan kecil chairil anwar. sebab milik lia itu adalah "mengejar ikan ikan" di "lautan" yang lautannya adalah bisa di mana saja - tapi senja di pelabuhan kecil itu juga bisa di mana saja. dunia kini tidak lagi turun jadi satuan misal pelabuhan, tapi membuka jadi alam yang kita tidak lagi menunjuk lokus tertentu dari alam itu. ia bisa, lautan hindia, seperti bisa pula rupanya karang-karang itu adalah karang buatan di mana lia amalia sulaksmi melepas aku dari dalam dirinya jadi aku dalam bahasa. dan kini sang aku itu yang bergerak, telah mengambil alih dirinya sendiri lewat imajinasi. mungkin homo sapiens ini mesti ditambahkan identitas satu lagi. bukan lagi homo faber tapi homo imajinasio. kita tinggal di sini, memekarkan imajinasi, memberi kesempatan aku pusat adalah diri, mengembang ke tepiannya adalah aku dalam bahasa, tempat ia tepian kembali lagi jadi pusat alias induk kata/tema dalam puisi.

       ini bukan lagi linguistik, bukan pula semiotik. entah apa namanya. tapi ia terasa sebagai gejala kehidupan yang memang demikianlah adanya. saya kini berkata bahwa penyair dan esais yang saya letakkan dua paragraf berpikir-nya dan menarik di nomor satu karangan ini, salah satu esais dan penyair kegemaran saya juga adalah nirwan dewanto. banyak penulis yang saya gemari, seperti banyak penyair yang juga saya gemari. kawan kita ini adalah salah satunya. saya melihat ada celah lucu di pikirannya itu, celah yang mengerti tapi kepengertiannya hendak menaklukkan hidup yang tak bisa ditaklukkan ini. tapi apakah pernyataan yang sama akan membalik ke diriku, sebuah ihtiar menangkap hidup? nah titik yang mengunci itu kini terbuka kembali. ia jadi mungkin tapi sekaligus: ia jadi tak mungkin. pagi ini saya ingin melihat segala hal yang mungkin tersembunyi di sini. saya ingin jelas dalam soal ini, sebab soal ini demikian halus, tapi membuat hidup kita jadi bahagia oleh kehalusannya.

     seRing sekali saya berkata tentang haluS tanpa pernah sekalipun mendefinisikan apakah halUs itu. apakah halus? halus adalah sambungan sambungan yang tak teraba. sambungan sambungan apa? sambungan apa saja saat kita berkata halus pada bidangnya. misalnya halusnya dunia yang bekerja mengubah ngubah dirinya jadi nama tempat pada dua penyair. halusnya ucapan yang menimbulkan gema bunyi dan mekarnya hati saat menerima gema arti pada berjalan di belakang jenazah djoko damono sapardi. itu halus, atau semua ini halus. semua ini halus. atau itu halus. halus adalah sebuah nama di mana jiwa jiwa manusia yang keras mulai dipatahkan, disirami oleh dunia abstrak tempat yang kasar mulai berpikir akan suatu kehalusan. begitu halus bahasa gitanjali yang dialih bahasakan saut situmorang (nama lama penyair ini saut pasaribu kalau tidak salah dan kalau tidak juga salah, gitanjali itu ia bawa ke bahasa kita sini. kalau salah tak apa juga: maaf saut ya hehe kamu itu halus dibalik cambang kasar tapi matamu halus sehalus bahasamu).

      yang halus hanya bisa ditangkap oleh yang halus. berjalan di belakang jenazah itu demikian halusnya, sehalus apa bila kini saya katakan telah keluar dua jenazah bahasa dari dalam diri chairil anwar dan lia amalia sulaksmi. dua jenazah oleh bahasa itu telah mati sesaat ia keluar dari tubuh ini. ia hanyalah bangkai tanda dengan kepingan kepingan dunia pertanda yang tampak. mati di dalam fb adalah serangkaian pertanda yakni puisi. mati di dalam buku kalau kita membaca aku ini binatang jalang terbitan gramedia. halus dunia itu, oleh kita tak tahu mengapa ia yang telah jadi bangkai kata, mendadak kuasa menghidupkan segalanya lewat medium beridentitas puisi. dari lautan kehalusan itulah kini kita bergerak, mencoba bukan memetik tapi mengeluarkan bukan mengeluarkan tapi menyapakan, bagian bagian halusnya adalah semisal bahwa kini yang berjalan di belakang jenasah bukan lagi isi puisi djoko damono sapardi, tapi isi puisi amalia sulaksmi lia dan anwar chairil. inilah dunia yang telah berjungkir balik dan hendak dipetik oleh dewanto nirwan, sedang di sana mohamad goenawan telah membuat pengingat pada dirinya - tak kuasa dipetik, katanya, malang sumirang itu oleh sang pujangga ini sanggup bertapa di dalam nyala api seraya menggubah puisi. keluar dari dalam api ibrahim dan hadir kehadapan para penghukumnya tanpa luka bakar apapun.



titik tengah : ini kali tidak ada yang mencari cinta. saya kira : mari kita menyelam mengejar ikan ikan.

2 September 2013 pukul 10:55

       seperti "mengejar ikan-ikan", "senja di pelabuhan kecil" dapat dibaca ke dalam model-modelnya. ini kali tidak ada yang mencari cinta, adalah suatu cara penyair mengecoh pembacanya sehingga, misalnya, sang titik tengah terkecoh oleh dunia yang wajar: ia tak sukakan baris puisi yang terkunci. sedang ini kali tidak ada yang mencari cinta adalah sebuah baris terkunci - puisi itu telah membuat closing.

       tapi andai kita memakai model ini maka dunia mengejar ikan ikan lia amalia sulaksmi lalu masuk seimbang dengan ini kali tidak ada yang mencari cinta, dalam arti inilah sebuah sulapan kata yang mesti kita simak saat ia rebak ke bawah - ke baris baris selanjutnya. mengejar ikan ikan membuka dirinya dengan baris baris yang bukan saja terbuka tapi langsung menciptakan sekian labirin. hari ini kita menyelam mengejar ikan ikan, nah itulah artinya, suatu onggokan dari dunia pertanda yang dibuat list menyamping - mengisikan diri sebagai titik titik kata di sebaris garis lurus dalam bahasa.

        atau model kedua bahwa senja di pelabuhan kecil itu memang membuat sebuah start lambat - ia terlambat membuka barisnya sehingga baris itu mengunci - maka titik tengah benar: apa lagi yang akan kita cari dari dalam puisi kalau puisi itu sendiri telah menutup kisahnya. bukankah ini kisah sang bujang yang sedang patah hati kata titik tengah.

       memang begitu: chairil terlambat membuka barisnya, tapi tidak lia amalia: ia langsung membuka barisnya dan kita boleh melihat sebuah gambar di mana orang seakan mengisap semua kedirian. dibawa masuk bersama "mari" - sebuah ajak, "kita" - kau dan aku. "menyelam" - mencari arti hidup ini, sebuah labirin. mengejar - jangan menyerah, terus melangkah walau tanpa kepastian. serta: ikan ikan. apakah "ikan-ikan" dan mengapa ajakan itu bukan duduk duduk saja di pojok jalan sana. tapi "mengejar ikan ikan".

kalau demikian halnya maka lia amalia telah mengatasi baris pertama chairil: ia membuat baris yang tidak menguncikan kisahnya, tapi membuka seluas apa yang mungkin dan apa yang mungkin itulah, mungkinnya kepengalaman dunia luas lebar masuk bersama "mari kita menyelam mengejar ikan-ikan". artinya itulah sebuah warta bagi manusia yang terus bergerak dari titik dia berangkat. saya kira sedemikian membuka baris lia itu, jauh mengatasi baris personal chairil yang menguncikan diri.

     tapi puisi tidak sesederhana itu, atau walau milik chairil: ini kali tidak ada yang mencari cinta, telah agak ditinggalkan jauh ke belakang oleh lia amalia, apa yang rebak ke bawah di senja di pelabuhan kecil bukanlah suatu hal yang bisa saja kita nafikan lewat pernyataan seperti nada gundah yang dilepas oleh titik tengah: kita tidak lagi mencari isi puisi, katanya, karena kita sudah dipuaskan oleh baris pertama: ini kali tidak ada yang mencari cinta. sedang saya justru tidak terpuaskan oleh baris pertama yang mengunci ini. saya malah lebih, sangat mendapatkan kecerahan lewat lia amalia yang memanggil chairil dari jauh - cara ia memanggil chairil dengan bersiul ke masa lalu. suiiit kata lia seraya ia melepas mata batinnya: mari kita menyelam mengejar ikan ikan.


titik tengah : ini kali tidak ada yang mencari cinta. saya kira : mari kita menyelam mengejar ikan ikan.

2 September 2013 pukul 12:30

                   bunyi mengatasi kaidah kata. juga imajinasi.

      apa yang saya sukai dari "titik tengah", bahwa ia melihat ke dalam bukan ke luar. bahwa bagi saya penglihatan seperti itu tidak cukup dalam, kita bisa mengerti dan pengertian ini datang dari kaidah manusia berbahasa, linguistik itu. kini saya hendak mewacanakan penglihatan linguistik yang dipakai titik tengah untuk mewartakan sajak atau puisi indonesia, itu kurang bersih karena ia terlalu banyak derau. banyak derau oleh bunyi jadi tidak bening. kalimat yang seharunya belum berhenti dihentikan oleh penyair, atau kalimat yang semestinya memintakan objeknya dibiarkan tanpa objek. jadi dalam pandangan titik tengah, memakai linguistik, itulah yang membuat bahasa syair kurang bersih. puisi harus bersih artinya tertib linguistik, tahu semantik mesti terikat dalam sintaktik. saya suka pandangan ini karena pandangan seperti ini menjadikan puisi itu dunia yang berarti: orang masuk melihatnya tidak sambil lalu. tapi bermain, mencoba cobakan kemungkinan dan ketidakmungkin dari dalam puisi.

      saya belum mau masuk ke logika linguistik itu, yang disorotkan "titik tengah" ke chairil anwar seperti saya membuat pembandingnya, menyorotkan pula logika linguistik ke puisi lia amalia sulaksmi. justru yang mula mula menggoda saya adalah logos dalam bahasa itu sendiri, bahwa ia halus, bahkan sedemikian halusnya sehingga hukum itu tak bisa kita lihat dengan pandangan mata, tapi bisa kita lihat dari pandangan bahasa. celakannya bahasa inilah logosnya. ia suatu hukum, ia suatu aturan. tapi ia juga suatu gema dari dunia yang saling lintasi melintasi.

     pelabuhan, itu sebuah dunia di luar sana, sebelum menjadi sebuah dunia di dalam sini - di dalam puisi chairil adalah senja di pelabuhan kecil. saat ia membawa sebuah kata adalah montase tapi terlebih lagi jukstaposisi, maka kita tahu bahwa mata "titik tengah" telah sampai ke dunia luas lebar, bahwa puisi adalah sebuah gema, sebuah pantulan dari acuan yang kini menyebar sebagai baris dalam bahasa puisi itu. tapi sebenarnya oleh ini pula ada dunia yang tertangkap tapi luput lagi, yang saya lihat bekerja di dalam diri titik tengah, bukan di dalam diri senja di pelabuhan kecil. dan itu berkaiatan dengan logika atau logos yang saya maksudkan. bahwa logos itu adalah kata, yang kini telah terkurung ke dalam sebuah arti tapi tidak maknanya. kata adalah dunia luar, semacam cungkup tapi cungkup ini sedemikian rentan. kapan kapan ia guyah, sungguh tak stabil. ia logos yang tak stabil, kata itu. ia cepat sekali, seandainya datang kata lain menghampiri dirinya, berubah dari artinya semula sebagai sebuah kata.

      tapi logos itu mesti ada. harus ada. dan sudah ada. oleh logos pula amelia lia kuasa mendugakan dunia luar masuk ke dalam, menjadi logos abstrak di dalam, untuk sekali lagi terguling dan kini diisolasikan, seolah mantab, ke puisi. puisi adalah tersusunya kata serta tanda yang mengikat kata - misalnya koma itu, tapi misalnya pula adalah enyambemen itu. masih ada misal lain adalah, bergeraknya bunyi bersama arti tapi bunyi kuasa mengatasi arti. bunyi yang beyond arti inilah makna dan ia cikal bakal sesuatu yang indah. linguistik tak bisa mengikatnya lagi, menariknya kembali ke dunia arti artian dirinya. dunia halus seperti itu, saya kira harus kita keluarkan terlebih dahulu dari dalam bahasa untuk kita lihat sebagai sebuah dunia di luar. saya mendapatkan otoritas untuk melakukan ini, oleh kerangka bahasa yang bersandar kepada lima keadaan kata yang telah saya rancang, spesial untuk menghadapi linguistik atau semiotik - bukan hanya menghadapi dunia linguistik titik tengah. tapi menghadapi cara galibnya membaca puisi, itulah yang kita orientasikan dengan lima keadaan kata itu.

     keadaan kata yang misalnya adalah dunia peristiwa, maka dalam dunia nyata keadaan benda benda saling lintasi melintasi tanpa suatu sekatnya. angin tak bisa, menghentikan dirinya oleh mendadak di depannya ada burung terbang melintas, dan angin mesti berhenti karena takut, dirinya menabrak burung itu. seperti itu juga dengan burung itu, tak kuasa berhenti oleh ia harus terbang. bahwa ia terbang menabrak angin, atau melayang justru dibawa oleh angin, itulah suatu dunia yang tak kuasa mencegat sebuah benda mengalir ke satu benda yang lain. itulah suatu struktur yang sistemnya memang bekerja sama saling masuk memasuki. ibarat rumah mereka tak berpagar, tapi sebenarnya analogi rumah yang berpagar, bisa dibuka oleh pagar ada pintunya. 

     kunci itu dibuka oleh sebuah tangan yang menggenggam anak kunci adalah linguistik. pagar itu adalah batas adalah kaidah bahasa linguistik. inilah keadaan kata hasil dari dunia benda, yang telah mengisolasikan dunia benda ke dalam bahasa: batu di luar kini teronggok jadi batu di dalam adalah kata. menyelam yang dipakai lia dalam kegiatan fisik di luar kini telah pindah dan namanya masih menyelam juga, tapi bukan laku nyata hanyalah sebuah nama. adalah kata, kata menyelam. orangnya tidak ada karena itu adalah sebuah isolasi dari dunia luar. tapi lihat ia terbuka kembali, dibuka oleh kunci yang lain adalah imajinasi. imajinasi yang membuat dunia bahasa/kata yang telah stayed sebagai pengurungan benda itu kini berantakan. apakah hasil dari ceraian ini, kalau bukan sensasi bunyi dan sebuah kemungkinan arti yang bergerak ke arah makna adalah keindahan.

     sampai di sini kita mesti berbicara tentang melimpahnya gema bunyi ke gema bunyi yang lain, yang mungkin akan menerobos selubung kata atau suatu kata, tempat di mana kelak linguistik itu patah, kurang sesuai dengan kehakekatan dari esensi sebuah dunia yang memang kehadirannya bukanlah hendak menguncikan diri, tapi membuka dalam sebuah kerangka: kerja sama antar benda dan kini, kerja sama antar kata tanpa suatu kata kuasa memintakan kerja sama penuh utuh, hanya seadanya saja mereka itu bekerja sama, oleh setiap kata memiliki nasibnya sendiri. dan karena itu arahnya sendiri.