Senin, 26 Januari 2015

2. KRITIK sastra


afrilia utami - RUMAH KAYUafrilia utami - RUMAH KAYUdua latar 

Nietzsche pergi ke gua dan masuk ke hutan, Afrilia mengajak ayahnya pindah ke hutan, Rasul Muhammad pergi ke gua hira menjemput wahyu dari Tuhannya. 

1. semacam info, memandu pembaca dan terutama saya yang sedang menulis, status yang baru saja kita tulis, atau tulisan ini, bagian dari tulisan "kritik sastra", dan "kritik sastra" itu lanjutan dari tulisan "dasein ke despair". mereka seolah esai terpisah tapi sebenarnya satu tulisan besar yang, seperti sub sub atomik itu, tengah bekerja diikat ke dalam prinsip seperti heisenberg mengikatnya lewat nama, uncertainty principle. kini saya tengah memasuki "rumah kayu" yang rupanya, diam diam, ada kemiripan dengan karya besar zarathustra nietzsche itu, ia yang masuk ke dalam rimba. hendak apa helena menciptakan gurun untuk merenungi bayang bayang dirinya, serupa itu pula pertanyaan yang sama bisa kita majukan: hendak apa penyair belia afrilia utami ini memasuki rumah kayu dari kehidupan bahasa, begitu melata ia lahirkan sebagai pengucapan prosa yang kadang lebih mirip puisi dalam tata bunyi serta metaforasitas yang ia kerahkan. kita terus mencobakan, mendekatkan apa yang tampak berbeda, ke dalam persamaan persamaan. bahwa wajah yang banyak itu akhirnya terbaca satu jua.

2. selalu kita mencoba mengerahkan segenap kemampuan melayani bahasa para penyair/sastrawan, mereka yang telah lebih dahulu mengerahkan kemampuan mereka menghadirkan diri di dalam bahasa - ciptaan sastra, seperti ciptaan afrilia utami ini, rumah kayu. akan sampai ke mana kita dalam percobaan percobaan seperti ini? bergantung dari sejauh mana ketidakterukuran letak posisi elektron dalam bahasa juga. di sanalah kita, terayun-ayun tak pernah turun lagi. pada awan kita bertahan, kata abdul hadi dengan amat menggetarkan, dari bumi yang mau menarik dan matahari yang akan mematahkan.

    Logika fisika kembali bertemu dengan logika bahasa dan memang mereka, sebagai bagian, pecahan-pecahan ada, akan selalu bertemu karena mereka adalah wajah yang sama sedang disorotkan oleh "Mata Maha Senter Entah Di Mana". Pertemuan dalam fakta dari suatu keberadaan benda kecil yang tenggelam ke dalam dunia mikroskop bernama partikel yang kita tidak tahu di mana ia itu, sebuah gerak ketidakpastian tapi sekaligus upaya memastikan (buktinya ia direkam dengan baik lewat hitungan matematis prinsip ketidak pastian heisenberg), seperti kini, ia mengayun dengan amat pasti lewat dua pasang kaki yakni kaki kata Paz yang bermain, saling menggemakan gurun dan tempat ruang ruang ketidakpastian lagi-lagi menyisakan kepastian: memang ada bayang-bayang aku di sana, tapi begitu kecil seolah elektron yang tak terpegang; memang ada dua orang di dalam bahasa, pergi ke dalam hutan membuat rumah kayu, tapi begitu tak terduga motif mengapa mereka, pergi dari kepastian kehidupan kota, masuk menempuh, ke dalam hutan, bermain dengan segala ketidak pastian dunia hutan (dalam perspektif orang kota), tetapi begitu melata mereka di sana seperti elektron dalam tubuh kita, yang seolah-olah tiada tapi begitu kokoh mem-besi mengikat segenap jaringan tubuh ini.


  gua zarathustra, gua hira, hutan afrilia utami 

*betapa mereka punya kesamaan lajur, adalah dunia menyepi

   Seperti hutan gua bukanlah dunia jauh bagi kita umat manusia walau pada saat yang sama ia jauh karena tidak galib kita di hidup kini ada di dalam hutan atau di dalam gua. tapi dulu, hutan dan juga gua, sebuah dunia akrab yang dekat sekali tapi sudah begitu asing untuk kita kini, karena itu ia jauh, atau dalam kosakata ilmu fisika, ia dunia kecil, seolah petanda dalam bahasa - begitu kecil menghilang ke dalam jiwa: di sini, apakah kita bisa memegang dunia dari descartes yang merenungi malam saat gelapnya pecah oleh cahaya lilin yang ia pegang dengan tangannya? itulah sebuah dunia perenungan di mana jauh - gelap itu, begitu dekat dengan terangnya - nyala lilin di tangan descartes. seperti nietzsche yang pergi masuk ke dalam gua melewati hutan tempat seorang pertapa kelak, bertemu dengan pertapa sunyi zarathustru yang merasa telah mengumpulkan madu di kedua matanya - atau mulutnya? atau jiwanya?

   Atau seperti kehendak afrilia kini, yang kita baca di masa gedung gedung telah jadi mengerikan: ia bayang bayang petanda yang mengeras ke dalam dinding dunia pertanda di mana kita tahu di balik gedung gedung itu bekerja birokrasi dan wajahnya jadi tangan tak kelihatan. apakah dunia kota begini yang membuat afrilia utami melakukan gerak membalik? ia ajak tangan ayahnya dalam bahasa untuk masuk ke dalam hutan lewat kosakata yang mengharukan. kita kini diam di dalam hutan yah, sesuai yang kita inginkan. kita makan daun daun dalam hutan yah. apakah arti gejala orang masuk ke dunia purba lagi ini? rasanya sudah cukup kita menuliskan pembelaan mengapa seorang afrilia utami, misalnya harus dilihat lewat nietzsche atau helena adriany bermain dengan bahasa okotavio paz. sudah kita tuliskan mengapanya dan kini kita tinggal melangkah saja untuk menjemput setiap kesamaan, atau kebedaan, bahasa yang kita temukan. inilah bait pertama atau kalimat kalimat awal afrilia utami, betapa kehendak anak muda dalam bahasa sastra kita ini, mirip sekali dengan gerakan nietzsche yang seolah rasul muhammad beranjak dari kota sunyi arab untuk pergi ke gua hira.

Afrilia,

   "Sekarang, kita berdua pindah ke hutan. Sesuai apa yang kita inginkan, Yah. Hidup kita pada akhirnya dibaluti kesunyian yang menggelikan, tiap malam kita buat api unggun di halaman belakang rumah kayu yang kita buat dari hasil kerja keras sepasang tangan kita, dan burung serta kawanannya hinggap di ranting-ranting, ikut menemani. Ditatto keindahan perasaan yang pelan-pelan kita tumbuhkan dari tanah bahasa."

   Kata begitu cepat bertukar - atau menyamar? adalah gua-hutan saat heisenberg menulis ia masuk ke taman, berjalan jalan di taman sunyi setelah termenung dan tak habis pikir bagaimana dunia, yang tampak normal tapi saat si pemikir fisika dan filsafat ini, atau fisika ia soroti dengan burung bahasa adalah filsafat, tampak begitu absurd di kedalaman dan dengarlah betapa suara anak manusia begitu membuat kita seakan mendengar suara seperti suara Afrilia itu, yang mengajak ayahnya masuk ke dalam hutan atau seperti Heisenberg kini, berjalan jalan di dalam hutan setelah berdebat dengan mentornya, bohr, tentang fisika sub atomik dan mereka, terus menerus dibalikkan pandangannya oleh cahaya elektron yang begitu pandai rupanya dunia yang lebih kecil dari zarrah ini memanipulasikan diri, karena itu memanipulir pandangan sang fisikawan.

   Saya tahu kalimat kalimat yang seperti prosa afrilia utami atau zarathustra nietzsche itu lewat capra, sebelum membaca sendiri betapa hati heisenberg seperti yang bisa kita baca berikut ini, di taman (di gua dan hutan, nietzsche; di hutan, afrilia utami - atau di gua hira kalau rasul muhammad).

"During the months following these discussions an intensive study of all questions concerning the interpretation of quantum theory in Copenhagen finally led to a complete and, as many physicists believe, satisfactory clarification of the situation. But it was not a solution which one could easily accept. I remember discussions with Bohr which went through many hours till very late at night and ended almost in despair; and when at the end of the discussion I went alone for a walk in the neighboring park I repeated to myself again and again the question: Can nature possibly be as absurd as it seemed to us in these atomic experiments?"

    Setelah semuanya berakhir saya berjalan sendiri dan merenung, nyaris putus asa karena memikirkan apakah mungkin alam begitu absurd seperti pengelihatan kami lewat jalan alam yang begitu kecil, atom atom pembentuk alam yang tampak nyata pada kita kini. apa mungkin begitu alam ini? bahwa ia sepenuhnya absurd dan kita tidak mungkin mengertinya.

   Lihatlah ada wajah despair kierkegaard juga yang dipakai oleh heisenberg walau cara mereka memakai kata ini berbeda, tapi toh tekanannya tetap sama: kita putus asa andai hendak pergi ke balik tahu yang begitu kecil ini. ia jauh di luar jangkauan kita. ada wajah heidegger yang kita telah pasangkan despair dengan dasein, bahwa kita manusia (seolah-olah putus asa karena sedang memainkan kata yang lain adalah sublime milik kant), dan putus asa dari dasein ini terbaca terbalik kini: nietzsche pergi ke hutan untuk menjemput optimismenya sendiri; afrilia utami pergi ke hutan menggandeng tangan ayahnya untuk menyegarkan tubuh kebudayaan kota kembali: kita makan daun daun di sini, yah, katanya berucap kepada ayahnya dalam bahasa, dalam ceritanya itu. atau rasul: ia pergi ke gua untuk menjemput wahyu tuhannya.

    Selalu begitu: keadaan umat manusia bertemu dalam titik yang satu: seakan terbaca dunia negatif tapi diam diam, bahasa itu mekar menjalar ke arah dunia positif. mereka meniupkan optimisme kepada kita para pembaca.

   Adalah "waktu" yang dipakai oleh afrilia utami memulai ceritanya rumah kayu, seperti waktu juga yang dipakai nietzsche membuka zarathustranya. (h.b. jassin) yang menerjemahkan karya nietzsche ini ke bahasa kita, di bagian awal zarathustra terbitan bentang. "ketika zarathustra berumur tiga puluh tahun, ditinggalkannya kampung halamannya dan danau di dekatnya dan berangkalah ia ke pegunungan", itulah awalnya dan saya menyimak versi wordseorth calssics of world literatur, thus spake zarathustra nietzsche memakaikan waktu 'sekarang' itu dalam bentuk: when zarathustra was thrty years old, he left his home and the lake of his home, and went into the mountains."
atau dalam rumah kayu afrilia utami:

   "Sekarang, kita berdua pindah ke hutan. Sesuai apa yang kita inginkan, Yah."

   Sebuah pembukaan yang langsung membawakan isinya, menghindari narasi penyebutan latar hutan dan hatinya seperti di zarathustra, tapi langsung mengucapkan mengapa dan ada apa dengan pergi ke hutan itu.

"Hidup kita pada akhirnya dibaluti kesunyian yang menggelikan, tiap malam kita buat api unggun di halaman belakang rumah kayu yang kita buat dari hasil kerja keras sepasang tangan kita, dan burung serta kawanannya hinggap di ranting-ranting, ikut menemani. Ditatto keindahan perasaan yang pelan-pelan kita tumbuhkan dari tanah bahasa.

Aku duduk, Ayah juga. Di atas rumput basah, menghadap api unggun, api yang menghangatkan hati dan tubuh yang berjuang hidup bersama keintiman pada dinginnya kehidupan. Segala yang kita buru di sini, cuma daun-daun segar untuk kita makan. Berharap daun itu akan tumbuh lebih hijau, dengan lembaran baru dan lebih subur. Mengingat kita pernah melangkah menujunya bersama."

0 komentar:

Posting Komentar