"In literary criticism, the structural “perspective” is, according force and signification to Jean-Pierre Richard’s expression, “interrogative and totalitarian.""relasi-relasi yang bergantung"Penanda yang tak tergoyahkan, tak bisa disentuh, abadi dalam dirinya - "tulisan". Tetapi darimana penanda ini? Ia adalah sebuah jejak seperti setiap ada adalah jejak dari - dari mana jejak-jejak itu? Analog dengan diri, jejak-jejak yang kini kokoh, di dalam, mandiri sebagai produksi, puisi, lahir dari keadaan yang minta disebutkan namanya.
Saya membawakan derrida dalam writing and difference, pada bagian "force and signification", ingin melihatnya lewat permainan analogi jejak.
"But within structure there is not only form, relation, and configuration. There is also interdependency and a totality which is always concrete. In literary criticism, the structural “perspective” is, according force and signification to Jean-Pierre Richard’s expression, “interrogative and totalitarian."
Jadi ada yang kita tanyakan pada jejak penanda - atau jejak diri, suatu struktur konkret dari dunia penandaan (puisi itu penanda seolah tubuh, penanda). Di balik kedua penanda ini tersimpan petanda (makna pada puisi), (jiwa pada tubuh). jadi, perspektif struktur ini telah kita bawa menjauh dari maksud "derrida", bergerak ke analog kemunculan dari sebuah jejak ada. adalah bahasa - penanda; tubuh manusia - penanda oleh sifat visual dan gerakan yang jadi milik.
Hubungan-hubungan yang tak terpisahkan kita dengan, pada sebelum bahasa adalah, dunia objek-objek yang membawakan sebuah struktur yang sifatnya totalitarian, menyeluruh dan saling bergantung satu dengan yang lain (interdependency).
Seorang penyair bisa saja melepaskannya, mencobakan struktur baru tapi ia yang telah terpasang, tak tergoyahkan lagi sebagai ingatan yang pernah, bahwa begitulah ia mulanya menjadi sebuah kehadiran, kehadiran penanda.
Di depan penanda seperti itu saya berlaku seolah-olah penyairnya, mencobakan pasangan-pasangan baru dengan harapan yang mungkin. Cabang apa yang muncul di balik, setiap lain yang kita tempuh?
Apakah saya bisa melepaskan dari ingatan bahwa ada si aku manusia yang telah mengubah dirinya sebagai si aku dalam puisi, bernama kunang-kunang? Kunang-kunang dengan masalahnya: sebuah pendakian, usaha, tapi tampaknya apa yang didaki itu jauh, payah, sehingga terasa seolah-olah pandangan si kunang-kunang mengabur dalam upayanya sendiri. Saya bisa mengubahnya, tapi ingatan pertama akan bait kunang-kunang, takkan pernah hilang. Begitulah ia kokoh, tak tergoyahkan dalam ingatan, sekali ia wujud, hadir sebagai penanda.
"Mengabur", inilah yang mewujud dalam dunia penanda, bahwa ia "jauh". Sebab tiap apa yang jauh itu kabur dalam pandangan.
Kini apa yang "jauh" itu ia cobakan mendekat, jadi "dekat", sehingga mungkin ia kenali. bahwa yang dekat adalah ingatannya sendiri, ingatan si aku itu, ke dunianya sendiri. Dunia kita-kita juga saat masih di luar, di sebelum bahasa.
Adalah
"bara",
"urat nadi",
"telur" serta
"malam"
yang diletakkan ke realitas dari bentuk kerja "mendaki" yakni, (ke)
"puncak",
"kutemukan",
"kelahiran".
Semua diletakkan dalam upaya pendakian. rupanya ia ingin mengenali kelahirannya. Bahwa kita dalam dunia ingin mengenal muasal. genting rupanya, tanpa tahu asal usul: ia jadi darurat karena kapan-kapan malam bisa membalik: bukan melahirkan tapi menelan, kita pun, lenyap ditelan malam; jejak-jejak menghilang, mengabur diisap malam.
"bahasa kiasan"
*kunang-kunang
Melompati permainan penyair mengembangkan "tanda" di sembilan baitnya, kini kita merengkuh dalam upaya membentangkan inti puisi kunang kunang, (sungguhkah ada inti puisi itu?), lewat dunia cermin yang menjadi tempat ia berkaca, mensugesti bahwa dunia yang tengah ia hadapi seperti dunia kita bersama yakni, upaya untuk mengerti dunia, hidup ini, dunia modern yang hendak mengenali, kunang kunang memperagakannya sebagai, aku yang berusaha mengerti asal usulnya. Atau aku yang ingin mengerti dunia objek-objek, dunia benda-benda lewat jalan melakukan komunikasi dengannya lewat medium terpilih adalah puisi.
Kunang-kunang adalah kabar bagi, atau pesan dari, dunia modern yang hendak mereduksi kenyataan, lewat jalan pengetahuan adalah kuasa, tapi kunang kunang membatalkannya, lewat kuasa-kata-dekat (yang ada di tangan kita), ia buat jauh lagi tiap apa yang telah dekat-terpegang itu, menjauh terus, mengabur sehingga kuasa pun tak lagi berdaya sebagaimana anggapannya. (anggapan dunia modern itu).
Inilah langkah postmodernisme dalam puisi. Akan kenyataan tak tunggal dan si aku dalam puisi, mengerjakannya lewat perkembangan tanda dengan segala peralatannya. sebelum kelak ia meraih inti kenyataan yang ia persepsikan, (adakah inti kenyataan itu? seperti apa bentuknya?), lewat cermin ("menatap ke cermin kau tak sanggup lagi mencintaiku" - karena bentukku dan bentukmu sudah hilang).
Adalah saat puisi masuk ke dalam inti kenyataan, (sebab aku adalah kami, zarah atau zuhrah tak terbilang jumlah), setelah bermain lewat rupa-rupa tanda yang mendekat dan menjauh di sembilan baitnya. ia muncul, mengatasi dunia. Sebuah kesimpulan yang mengejutkan manakala kita memikirkannya lagi lewat gerak dunia posmodernisme, yang riuh oleh langkah-langkah bahasa yang tak pernah hendak meraih, tiap tepi dari apa yang dianggap pasti.
"Perspektif"
"Of The Understanding"
Kalau manusia turun "dari", maka kata datang "lewat" - dua-duanya melalui sebuah pohon yang adalah jejaknya. Seperti penyair datang dari ibunya demikian juga kunang-kunang, mengalami turun dari, datang lewat, dalam kelipatan: ia persepsi penyair yang mempersepsikan dunia luar yang kini, ia bentukkan ke dalam, di sebelum puisi itu lahir - di jiwanya; ruang bagi sebuah kematangan puisi ditempa. Kini, ia mewujud jadi dunia penanda - puisi, puisi kunang kunang. tetapi kunang-kunang dalam benak penyair adalah sebuah jejak dari kunang-kunang yang berkelap di malam yang senyap, pada hidupnya - atau hidup orang lain, yang sempat ia ketahui.
Di sinilah ibu pertama kunang kunang sebelum ia diambil alih oleh penyair, ia yang memberikan perspektif pada jejak berlipat, menggandakan diri ke medium-medium di antaranya medium puisi, atau filsafat seperti media yang diambil oleh David Hume yang ingin kita bawa "pokok"nya.
Bahasa adalah permainan persepsi dan bahasa, bagian dari apa yang kita sebut dunia. Maka, dunia adalah permainan persepsi tempat segala aspirasi kalang-kabut mencobakan memberi nama pada jiwanya yang berguncang disentuh oleh dunia. Semuanya ini, kata David Hume, "Of The Understanding". Hume bisa juga menjadi cara filsafat melihat keberadaan dari relasi penyair dengan objeknya. Hume yang menulis, "All the perceptions... which I shall call Impressions and Ideas."
Organisasi-organisasi baris, bait - bahkan satu puisi yang bergulir ke satu puisi di buku puisi, adalah gema dari struktur yang bekerja dan fungsi-fungsi dari unit-unit dalam puisi ini, tak harus selalu dilarikan ke muasal dari permainan struktur yang ditarik ke sana ke mari, dibuat jadi tak stabil. sebab tubuh sendiri telah menunaikan tugasnya dengan baik, membawakan pesan dari kelengkapan dari sebuah keutuhan: ia, tubuh itu, struktur yang membawakan keluar dunia petanda, jiwanya, sehingga kita bisa meniliknya. Setidaknya tubuh sebagai bandingan karena, apa pun juga kita tak juga bisa berpaling ke tubuh bahasa itu.
Sebuah organisasi seolah bait ke bait dalam puisi, atau kata ke kata di line puisi - itu tadi: puisi ke puisi di buku puisi atau, kalau hendak diletakkan ke dalam sejarah sastra, dari seorang tema dan style seorang penyair ke penyair lainnya dalam lingkup generasi atau sesudah generasi. "abad yang berlari", kata sebuah buku puisi. Tetapi berlari ke mana kalau dari ujung ke ujung kita masih juga akan diam dalam dunia ini.
0 komentar:
Posting Komentar