Minggu, 25 Januari 2015

2. "Saksi" : "Aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna"


 tudorov ( "di" ) umar yunus

Sapardi, Afrilia, Trakl dan Heidegger : something dark

      Telah kita ilustrasikan saat memasuki tudorov yang dibawa masuk oleh umar yunus akan "permainan kehadiran dan ketidakhadiran" bukanlah semata bekerja di dalam sastra. lagi pula permainan itu tidak menunjuk ke arahnya yang singular, tapi plural alias bekerja serentak di segenap arah ke mana ia hendak kita ikuti. rupanya ada beda (tampaknya, atau seakan-akan) antara kehadiran dan ketidakhadiran pada "rumah di atas halimun dunia" dan "saksi". Seperti memang begitulah adanya, maka tidak aneh andai kita, kembali ke heidegger lagi saat ia berbicara sebuah 'line' puisi yaitu : "Something strange in the soul on the earth." Atau seperti Teeuw yang mengilustrasikan ombak dalam hubungannya dengan laut di dunia puisi Abdul Hadi, Trakl juga mengkombinasikan "somthing"nya ke yang lain - bukan hanya "strange". Heidegger: "trakl frequently uses the same construction in other poems" 'something mortal', 'something dark'...", misalnya.



      Heidegger juga seperti saya (kita menyebutkan bangunan kalimat ini untuk menunjukkan bahwa apa yang dipikirkan oleh filsuf itu telah menjadi pemikiran kita saat terus-menerus mengalami kehadiran ada-sastra ruang di mana kita merasakan ketidakhadiran yakni efek membaca adalah, adanya sesuatu yang hilang oleh setiap kehadiran cerita, sebelum saya membaca Heidegger. olehnya kita menyebut: heidegger juga berpikir seperti apa yang saya pikirkan, bahkan apa yang tudorov dan umar yunus pikirkan tentang presence ke absence). Jadi memang ada yang tidak hadir dan ketidakhadiran ini adalah suatu orientasi pikiran yang dibawa oleh pikiran lain, dalam hal ini dibawa oleh satu kata dalam puisi yakni "strange". Atas strange ini heidegger terpaksa memikirkan dengan cara, meng-ada-kan yang belum ada, sebuah ruang akibat oleh "strange" dan itulah saat sang filusf ini menjelaskan, menguraikan pengalamannya akan "strange".

      Tetapi apa "aneh", "asing", "unik", "janggal", itu? Heidegger: "but what does 'strange' mean? by strange we usually understand something that is not familiar, does not appeal to us." Beginilah permainan bahasa: ia memerlukan kata penukar, kata yang bertukar-tukar, kata yang dipertukar-tukarkan seperti sapardi menukar kata saya ke kata anjing dan ke kata kursi.

      Atau, seperti afrilia utami yang mengarahkan arsenal dalam jiwanya memanggil manggil Tuhannya yang, nah bertemu afrilia dengan trakl di sini, "strange" dalam kepemikiran kita yang "bertubuh-kursi" dan "bertubuh-anjing" alias tubuh yang nyata sedang Ia adalah tiada. tapi ada yang familiar sekali tapi seraya itu ada yang tiada berupa, tiada rupaNya, tak familiar - "does not appeal to us" dalam pengertian tradisi fisik dunia indera kita itu. unik: fisikkah hati kita, di dalam itu, yang kuasa merindukan dengan cara, bergaya afrilia: aku memanggilmu tuhanku yang sempurna.

      Dunia "dark", dunia gelap, strange, Tuhan itu - tapi mengapa ia dekat sekali? seperti itu juga dunia dark, dunia gelap, dunia strange, permainan sapardi atas anjing dan kursi serta predikatnya memakan, tapi mengapa lamat lamat ia kita kenali? ada yang tak hadir di kehadiran bahasa itu, adalah pikiran kita yang tercekat sendiri, suatu efek dari kehadiran bahasa yang memuai jadi ketidakhadiran, ruang kosong dari keadaan kita yang mengalami bahasa.


       Mengalami Sapardi di "Saksi" adalah mengalami kehadiran dunia luar yang begitu rekatnya dilekatkan ke metafor (kursi, anjing), yang melakukan gerak saling memakan dengan bayang-bayang si aku yang mengalami keheranannya sendiri: aku dengan begitu secara tidak langsung akan memakan anjing andai aku memakan kursi.

       Ada dunia yang diminta mem-fokus di sini, ke satu jurusan - jurusan yang bergaya penandaan sang "penyair": seolah cerita sapardi hendak memperlihatkan kepada kita bahwa dirinya memang masih penyair, bekerja lewat prosa tapi puisi juga yang ia tulis. sebaliknya afrilia sepenuhnya prosa tapi mendayakan kalimat-kalimat yang terasa puitik(s).

        Tampaknya sapardi tak mau membagikan pengalaman narasinya, hal yang sebaliknya dilakukan oleh afrilia: rumah di atas halimun dunia, ia dirikan lewat narasi batin seperti sapardi: ia isap segala deskripsi (alam: langit, lanskap, suasananya). pendeknya si penyair memokus pada pesan tunggalnya: diri kita itu apa arizal malna?

      "anjing" adalah frasa afrizal malna, yang sedang dihujamkan sapardi atas nasib dari relasi kuasa nafsu dibawah bayang-bayang kata kursi (kekuasaan yang terlontar ke kursi politik terhujam lagi ke dalam: kursi dari kerajaan nafsumu yang hendak diingatkan kembali: "agamaku tak boleh, melarang kita memakan anjing" - afrizal.

      Tertuduhkah sang penyair? rasanya tidak karena mereka itu adalah manusia yang sedang membentuk tanda-tanda, jejak yang ditinggalkan oleh umat manusia juga atas nama kebudayaan-peradaban. Kini kita ingin memasuki lorong-lorong bahasa afrilia yang terasa lebih mengayuh ke langit yang asing, strange dan dark juga, tapi begitu dekat di hati setidaknya lewat bahasa dari cara pengarang ini memainkan kata-katanya.

Afrilia Utami, tiga-awal dari "rumah di atas halimun dunia",

      "Aku juga mengetuk dan mencari sepertimu, jika hidup memanglah pencarian, di balik daratan yang ditutupi halimun dunia. Hati kita berkilau, bukan permata atau mutiara yang bisa ditukar dengan mata uang manusia lain. Biarkan aku memelukmu juga, lelap dan tidur dalam syukur waktu. Damai dengan pikiran yang ringan, medekatkan hal-hal yang jauh dan terjauhkan, merekatkan hal-hal yang dekat dan dalam kedekatan. Jika kebenaran adalah kesesatan yang tersadarkan..

      Aku memanggilmu, Tuhanku yang sempurna. Mengitari ruang yang dipaksa menghadapi sunyi sendirian. Dan kilau hati masih memberi cinta pada usianya. Dekapan-Mu ini dekapanku pada diri dari-Mu. Lelapkan aku. Lelapkan segala sakit dan perih di dalam tubuh. Sebab aku damai dengan-Mu.

      Taman cantik, rimbun bunga-bunga berputar, semua menari, semua mengarang nyanyian yang dikucurkan langit ke bumi. Aku diam menikmati semua, biar angin bawakan aku sayap, agar bisa terbang tinggi. Temui kekasihku yang digiring badai, ditenggelamkan banjir, dibakar kobaran api musim kemarau, diawetkan musim hujan, dan diabadikan di museum-museum antariksa."

     Ada asing yang akrab di sana - di "rumah di atas halimun dunia", sebuah pengasingan yang sempurna tempat fisik dunia di bawa naik ke atas, ke halimun dan tapi dunia itu masih juga membuntuti walau diri telah naik ke atas, halimun itu juga masih jejak bumi walau diri telah naik ke atas - ada upaya yang terlempar kembali oleh kontradiksi yang bekerja di setiap paradoks. ada ambiguitas yang diam-diam menyelinap ke tangan para pengarang itu. dari rasa duka dan bahagianya atas dunia: mungkin tubuh sendiri; bisa juga: tubuh orang lain yang asing, jauh, tapi mengapa dekat sekali di hati? di hati para pemain bahasa yang ulung ulung mendayakan katanya itu, sehingga diri pembaca diisapnya, lesap masuk ke dalamnya permainan batin atas bahasa. ada puisi di prosa afrilia utami itu, yang bekerja sebagai musik rima dari kalimat religius yang menata dirinya. itu resah payah yang naik ke langit untuk turun lagi ke bumi adalah hatinya sendiri (hati si aku dalam rumah di atas halimun dunia).

     "Aku juga mengetuk dan mencari sepertimu", sebuah hasil atas relasi yang dijadikan bongkahan sugesti dalam cerita, sebuah kemungkinan dari imaji kata yang mungkin kita bayangkan, dan dengan begini watak kata menjadi puitik karena ia begitu imajinatif: sebuah tiba-tiba (datang saja di awal kalimat kata-kata itu: aku juga mengetuk dan mencari sepertimu - lalu kita mulai merasakan ada pintu dari kata "mengetuk" itu. pintu hati kita sendiri, pintu langit yang dilamat-lamatkan oleh si penyair-pengarang. tahulah kita ada: di sana ada tema abadi itu: di pintumu aku mengetuk tuhanku. aku tidak bisa berpaling.

      Saya kira begitulah keadaannya, bila kita ditanya: apa benar yang membuat sastra itu jadi sebuah dunia yang menarik (sebuah cerita lebih menarik dari yang lain), adalah cara tema itu diwadahi lewat bahasa yang membawakan kata pada dirinya. lihatlah bahasa itu: tiba tiba saja kita dihadiri oleh seseorang yang mendadak membawakan "aku juga"-nya; mengetuk di sana: dan itu adalah pintu hati kita yang sama: diri yang terus bertanya-tanya dan kata "ketuk" serta 'pintu" itulah jawabnya: ia representatif untuk hati manusia yang naik ke sana ke mari, mengetuk dan bertanya tanya - tak suatu pintu pun yang terbuka (kata bahasa sedih dalam riwayat puisi kita itu).

     Itulah bedanya antara sapardi dan afrilia: sapardi memusat ke tanda-nya dan afrilia membagikan tanda-nya lewat ucapan, boleh kita pinjam frasanya yang anggun di bawah itu (di nomor tiga), taman cantik dari bahasa, tempat tiap kata jadi bunga agar mendukung taman cantik bahasa afrilia utami ini. taman cantik, suatu ucapan yang seolah terpetik tiba tiba saja, semacam penurunan dari si aku yang trance padaNya yang begitu jauh. taman cantik itulah yang menariknya kembali, ke dekat, ke, kata heidegger tadi: "yang familiar pada kita" (saya balikkan dari maksud bahasa si filsuf). adalah "taman", ruang mungkin bagi manusia karena "taman surga begitu jauhnya". ia ada, tapi di entah, di langit. ia primordial sekali tapi strange, dark dari mata bumi kita ini. yang bisa kita panggil hanyalah: taman cantik, dunia fisik yang kita akrabi. ada asing yang dekat di sini, di bahasa dari cerita rumah di atas halimun dunia.

0 komentar:

Posting Komentar