Rabu, 28 Januari 2015

( Kritik Sastra / Kritik Keindahan ) Bunga Tersunting Di Telinga Denny JA


Puisi Esai, Keterasingan, Sebuah Ikhtiar   

1. dua larik mungil.

    saya agak lupa tahun berapa ketika itu, di sebuah acara di teater utama dekat bioskop twenty one kini, di TIM, di zaman orde baru, saya pertama kali melihat denny ja. tapi saya ingat ia seorang anak muda seperti banyak aktivis sezaman (saya juga muda ketika itu): kaos dan celana jean. lalu bunga terselip di telinganya - entah telinga kiri, entah telinga kanan - detil ini juga saya agak lupa. o ini denny kataku ketika itu, esais yang menulis artikel-artikel politik di media indonesia. tulisan denny segera memikatku oleh ia agak lain dengan artikel-artikel lain (di media massa ketika itu). tulisan denny itu berwatak esai dan esainya indah. keindahan itulah yang memikat saya saat membaca esai-esai denny ja.
     unik juga melihat seseorang di tengah keramaian menaruh bunga di telinga, nyeni. jadi agak bisa kita bayangkan kini, esai-esai politik yang ditulis denny itu, bahwa irama bahasanya, dari suatu pokok soal yang mestinya biasanya kurang menarik, politik, tapi oleh cara seorang penulis "bergaya" dalam bahasanya, jadi subjek bahasan yang begitu memikat.
     "memikat" ini memang gaya, tapi dari sekedar gaya kehadiran ia adalah sebuah disain, bahwa seorang pengarang esai membayangkan sesuatu dan ia mendisain sesuatu yang ia bayangkan, dalam kerangka, dalam konteks, dan dalam aspirasi besar atau kecil. jadi bukan semata membayangkan kehadiran kata di dalam bahasa dan bagaimana menjadikan kata di dalam bahasa itu, memikat.
      sebaliknya meluas menjangkau konteks luarnya, sebuah permainan, dengan kata yang diminta memikul permainan itu, ke dalam esai waktu itu dan kini, ke dalam puisi. sehingga luar itu, yang besar dan lebar, menjadi sebuah daerah kecil yang berdiam di/ke dalam dua kata adalah, "puisi" (dan) "esai". menarik melihat sutardji calzoum bachri, dalam daerah yang sama luasnya dengan daerah denny, berkata dalam tulisannya tentang buku puisi denny saat sang penyair membawakan perbandingan "matahari" ke "puisi".
      saya kutip,
    "Memberikan data faktual sebagai bukti agar puisi fair adalah upaya untuk mengontrol imajinasi agar menjadi fair, menjadi sebagai esai. Kelima puisi ini bisa berhasil karena memang sudah diniatkan sebagai esai. Di tangan penyair lain yang tak berniat demikian, fakta yang sama bisa terasa lain. Imajinasi adalah raja: “can do no wrong”. Fakta besar di alam nyata bisa diciutkan bahkan dihilangkan dalam imajinasi, fakta sepele bisa jadi besar. Sinar besar dari matahari fakta bisa ditutup oleh sebuah larik mungil yang jadi."
     kita mengerti maksud sutardji, bahwa itulah kekuatan "imajinasi" tapi "imajinasi ini yang dibawakan ke "gaya" baru adalah (niat seorang esais) untuk menulis puisi. Hasilnya, "imajinasi" itu terkontrol: ia tak merajalela lagi. konfirmasi datang dari blog puisi esai denny ja (saya kutip bebas), bahwa ia "tak berpretensi menjadi seorang penyair".
    maka kini sebenarnya, ada dua imajinasi yang tengah bekerja, adalah imajinasi yang telah dipetakan oleh sutardji mengikuti arah niat sang penyair (hendak kita sebut apa denny ja walau ia berendah hati: saya bukanlah penyair, saya tidak berpretensi jadi penyair), saat kita memang melihat, atau dihadapkan dengan suatu produksi yang didisain begitu besarnya: mula mula kehadiran lima puisi esai, serta, atribut akibatannya yang kelewat cerdas itu: "parodi dari situasi parodikal yang kini kita alami").
      kemenangan "puisi esai" memang telah mengatasi kata sebagai diksi konsep ungkapan (toh kita belum pernah mendengar perkawinan dua kata itu dalam daerah puisi kita, adalah digabungkanya kata "puisi" dan kata "esai".
     seorang penyair kemarin, saat saya menshare tiga tulisan (tulisan sapardi djoko damono, ignas kleden serta sutardji calzoum bachri) yang mengayakan buku atas nama cinta denny ja, dedy tri riyadi, berkata "puisi esai" itu adalah puisi "naratif" dan telah dikerjakan oleh rendra misalnya (ignas juga berkata ini), mungkin begitu, berawatak naratif/cerita. tapi toh dua kata itu, yang dijadikan satu, dengan "esai" ditarik ke arah "puisi", kita belum pernah mendengarnya selama ini. baru denny-lah yang mengeluarkannya dalam daerah kepuisian kita ini.
    sebagai sebuah nama/konsep ia menarik, dan sebenarnya agak kontroversial juga oleh kehakikatan kerja puisi itu sendiri. inilah yang dilihat sutardji dengan kata-katanya, betapa imajinasi "raja" can do no wrong itu, kini ditatah ke dalam gerak "esai".
    lagi-lagi, bagi saya ini baru, dalam pengertian seolah telah terjadi pelembutan atas imajinasi itu sendiri, saat sebuah kata yakni "esai" menariknya: puisi tak lagi melaju kencang semena-mena (katanya seolah sajak rendra). tapi mana kala kita merenungkan gerak lebar denny ja, yang membayangkan indonesia dalam bingkai "tanpa/bebas dari" itu - tanpa diskriminasi/bebas dari diskriminasi, maka persis pada saat inilah kita melihat dengan senyatanya kebaruan lain itu: suatu imajinasi yang diam-diam telah bekerja, mengatasi puisi di/dari dalam, serta mengatasi "matahari" luar yakni keadaan indonesia yang kini, telah ditaklukkan "matahari"-nya lewat, imajinasi "puisi-esai" itu.
    "larik mungil" bisa saja kuasa meringkus "matahari" yang tak kuasa ditutupi itu, indonesia, yang dalam suatu periode masanya, menjadi beringas dan buas, adalah seolah padanan gerak alam yakni "matahari", suatu masa, suatu tempo waktu, kini sungguh menjadi larik naratif yang mungil - hanya sepanjang "sapu tangan fan ying", begitu mungil, suatu kata (kata sutardji mungil ini), sungguh-sungguh telah menjadi padanan esai hidup atas puisi esai denny ja lewat gerak nama dari puisi atas nama cinta pertama-nya itu: sapu tangan fang yin.

0 komentar:

Posting Komentar