aku bagai nelayan, tuan derridaApakah kita tahu muasal ia yang melingkar? adalah awal sebuah kata.
Saat sugesti pertama itu datang, "kunang-kunang", kukira diriku telah mengalih bukan pembaca lagi, tapi menjadi kunang-kunang. dengan lain perkataan, aku telah mengalami bahasa, bukan mengerti bahasa. aku kunang kunang ketiga ini, yang mengalami dari dalam bahasa aku kunang kunang si penyair, rupanya tak sempurna hilang sebagai dia-yang-kita-tidak-tahu-namanya. aku bahkan melihat perjuangan si penyairnya, luar biasa mendaki walau ia tengah mengalihkan dari jadi kunang kunang. kukira penyairnya sedang merenungi dunia dan ia mengambil kunang kunang sebagai pengecilan dunia yang maha besar, melakukan kontras untuk suatu maksud dan maksud si penyair ini yang kuduga-duga: apa maksudnya dan berhasilkan ia membawakan maksudnya lewat kunang kunang sebagai tema yang musti ia kembangkan di dalam bahasanya ini.
Kupikirkan mengapa kita harus mengerti? mengapa kalau kita tidak usah mengerti, kembali jadi alam alamiah tempat di mana komunitas hutan hidup tentram dengan caranya sendiri, pada tiap tingkatannya sendiri. kujawab sendiri: karena kita begitu kecil di alam ini, jadi kita ingin mengerti mengapa alam ini begitu besar sedang kita begitu kecil. tapi alam yang besar itu kini telah dibuat mengecil oleh penyair: jadi kunang kunang, dengan dua aku dan tapi keduanya ini ia lemparkan kembali ke alam yang besar lewat malam, sebagai pengingat betapa malam membawakan setiap mungkin dalam hidup ini. jadi penyair sedang bermain tanda, ia membawakan perubahan tanda dari dirinya sebagai manusia tanda, mengubahnya ke dalam bahasa sebagai kunang kunang tapi jejaknya sebagai tanda, manusia dengan cirinya, masih tertinggal pada kunang kunang lewat relasi aku dan kamu.
Dengan sisa bara aku mendaki ke arah urat nadimu, ke puncak
urat nadimu
Di sinilah aku berdiam, di bahasa bahasa kecil dan biarlah dunia mengambil bahasa bahasa besar: aku cukup menempati ruang di mana kulihat si aku penyair masih juga meninggalkan jejak dari dirinya. kehadiran dirinya begitu jelas aku lihat: aku tak melihat kunang kunang, atau kulihat kunang kunang itu kini jadi kupu kupu lucu dan ialah aku yang tak kelihatan itu. tapi karena kami sama, adalah manusia, maka pengertian tradisional atas tubuh dan jiwa kami kini yang bergerak gerak seolah kinjeng, setak di kunang kunang setak sepotong lagi di kupu kupu.
Aku kinjeng yang terbang mengamati kunang kunang kupu kupu
Kuhentikan limpahan imajinasi dari tiap imaji genting di sini. aku masuk lagi mengalami puisi itu dari dalam. ingat derrida yang memetik pendapat tuan anu di tulisan dan perbedaannya: (kita bertanya), dari (kemenyeluruhan) ( “interrogative and totalitarian"), yang kurasakan ini, atau yang sudah kusesuaikan dengan maksud dan keperluanku sendiri. bahasa bahasa, merdeka, bukan, kita tepuk dari mana saja permukaan airnya?), dari mana yang berarti diri terlempar ke setiap tingkatan dari jejak ada: ada kunang kunang tak bernama, ada manusia dan ia pandai memberi nama. ada yang terus bergerak melipat lipatkan dirinya dan semuanya memiliki sifat atau mengandung pertanyaan, karena sifat kemenyeluruhannya itu. walau penyair telah mengurungnya, jadi kunang kunang, tapi si kunang kunang oleh jejak si aku di dalam, keluar lagi ke muasalnya, adalah si penyair, yang begitu khas suaranya, yang kini kita hendak lihat saat ia berlaih ke imaji: dari wacana luas ke imaji, organisasi kata di dalam baris ke bait puisi.
Penyair mengajak bermain dengan bahasanya, dan hakikat bahasa itu sendiri, memang sebuah permainan saat tadi, di sebelum puisi, kunang-kunang itu ada di luar, bukan di dalam bahasa. ia suatu makhluk tanpa nama dan permainan pertama dimulai: apa nama benda kecil liliput di malam senyap ini? bahasa terguling lagi ke enigmatiknya sendiri, saat diam diam puisi dalam hati atau hati puisi kita bertanya: siapa yang melihat kunang-kunang ini pertama kalinya dan di mana - mengapa ia sebut kunang-kunang bukan, misalnya, nyala dari rokok kita yang seolah kunang-kunang saat tubuh menghilang, sehingga sniper dengan mudah meletakkan jari ke pelatuk senapan dan pelatuk serta jari ini juga, enigmatik seakan kunang kunang itu: siapa dan di mana, lelaki atau perempuankah ia, itu yang memberi nama benda di luar, dunia objek, bukan dalam diri tapi kini tersangkut di sela dalam tubuh kita sebagai jari yang menekan pelatuk kunang-kunang di malam hari. siapa? dua tiga kali bahasa bermain di tingkatannya sendiri. puisi belum lahir, dekonstruksi derrida sedang diambil alih oleh dunia objek yang masuk ke subjek tapi penuh dengan tanda tanya. aku bagai nelayan, kata nike ardila, tuan derrida.
Pembagian peran dua aku
Malam sebagai latarnya
Mengurangi tekanan kemenyeluruhan dari setiap ada yang membawakan tanda tanya pada dirinya, perlahan-lahan tekanannya kita letakkan satu demi satu, lewat jalan melihat permainan si aku lirik yang sedang menyapa si kamu. siapa kamu dan siapa aku di bait baris baris awal kunang kunang ini. dunia sebagai totalitarian yang menyeluruh serentak datang seolah panah panah api dari langit, kini perlahan lahan kita arahkan haluannya, agar sifat pertanyaannya jadi melonggar. dan: siapa aku itu? mengapa ia bersifat totalitarian kepada mu-nya? mu di sini tampak pasif, yang sibuk si aku dengan mu yang ia bayangkan. keadaannya genting, darurat. seolah bahasa dibawa ke tepian sakratul maut kata kata.
Apakah sesuatu yang indah, dia yang penuh makna itu, adalah saat yang besar, yang jauh, dibawa mengecil, ke dekat? sehingga besar dan jauh kini begitu dekatnya, bahkan menjadi pengalaman diri saat kita terlibat dengannya. jadi luar yang besar dan jauh kini telah mengubah dirinya, tempat kita bisa membayangkan setiap derita dan bahagia manusia, atau ide, atau hewan dan tumbuhan yang mati karena kekurangan air, ya dunia ini, yang kini dimanipulasi jadi kunang kunang yang tengah memburu dirinya sendiri lewat permainan pecahan mu-kamu, dan malam membuat permainan ini jadi dramatis. jadi indah dan penuh makna itu melibatkan satuan waktu atau konteksnya juga. adalah malam sebagai latar. tapi mau apa aku ini? tepatkah ia menyokong dirinya sebagai tanda tanda dengan asumsi yang kita bayangkan, bahwa dunia besar, jauh, sedang dipetik dan dibingkaikan jadi kunang kunang yang hendak mencari asalnya ini.
Perubahan tak berkesudahan pada tingkatan kata
aku manusia ke aku lirik ke aku kunang kunang ke aku sisa bara
Mula mula kita melihat derita dan bahagia yang menimpa dan besar serta jauh itu, kini mengecil dan dibentukkan indah penuh makna lewat dunia yang tersisa, dari tenaga setiap manusia-ada yang berjuang dengan hidupnya. jadi aku penyair dua kali menghilang, muncul ke dalam samarannya yakni kunang kunang, yang kini ia jadikan imaji dan begitu imajinatif kita melihat segenap ada dalam tepian batasnya ini kini berdiam dalam, "dengan sisa bara". itulah keadaannya, dunia sisa, buruh yang telah hendak dicampakkan tuannya, keadaan tepian dari pernah kuat?
Pendek kata dunia dibuat ke pinggir: dengan sisa, dan dengan sisa itu pula dunia dibawa ke tengah sebagai habitat dari watak tiap ada: ingin bertahan hidup, ingin bergerak agar tidak punah. dengan sisa bara jadi begitu lentik sebagai imaji dari tenaga ada yang terus berjuang memelihara dirinya sebagai api kecil, agar jangan mati dan logislah perguliran mendaki yang digerakkan oleh aku kunang kunang yang kini sedang memperlihatkan dirinya: "dengan sisa bara", katanya, "aku mendaki", dan kita membayangkan bukit dari tanda kepayahan dalam dunia: sisipus hendak mendaki karena batu harus diletakkan lagi ke puncak bukit.
Tapi bukit ini lagi lagi dibuat mengecil sama kecil - dan sama indahnya pula, dari dua dunia dengan tingkatan diubah jadi kecil: aku penyair, besar dan dekat, menghilang ke sebelum puisi adalah aku jiwanya, kecil dan jauh, bahkan tenggelam tak kelihatan - kini dimunculkan lagi dan mulai lagi pembelahan yang tak pernah berkesudahan itu: aku penyair jadi aku imaji adalah jiwa penyair yang tak kelihatan dan kini menampakkan diri, jadi aku kunang kunang dan kini membelah diri lagi: hanya sisa bara dari kunang kunang saja: kata kunang kunang kini memperlihatkan dirinya, membelah jadi seolah di malam hari kita melihat api yang rupanya adalah kunang kunang tapi sedang berkata: aku kunang kunang yang kalian pernah lihat kini, lihatlah aku sedang memakai bajuku yang lain adalah (seolah) sisa bara saja.
Seolah-olah, aku, seakan indah tapi sebenarnya aku ini sedang berjuang di tepian matiku lo, kata batin kunang kunang itu menyambar ke batin kita yang mengalami, bukan mengerti, dari dalam. tapi ia memang fenomena kata di bahasa, yang memang indah, karena cara kata itu mengubah-ngubah dirinya.
Hanya, ia mau apa, dengan segala perubahan kata itu?
Kalau tujuan hanyalah melingkar-lingkar karena, katakanlah Dia sudah tidak lagi diakui, Dia Langit atau, Dia Negara, yang cepat turun ke bentuk dari dia yang lain seperti dia yang khas tertolak itu: dia pengarang dalam ungkapan pengarang telah meninggal. Subjek besar kini berganti jadi subjek kecil-kecil (jadi indah penuh makna tapi mau ke mana, ungkapan ini: kebenaran kecil-kecilan), maka masihkah ada hak asumsi semua tulisan ini?: untuk apa dia mengubah-ngubah letak dirinya lewat permainan kata yang menyokongnya?
Biarkan saja begitu, tak perlu kita tanyakan. Tapi tulisan itu adalah wujud nyata dari Subjek yang sedang bergerak menjadi Logos karena tanpa logika bagaimana subjek objek itu hendak memainkan predikatnya? Inilah suatu persamaan dari setiap keberadaan, bahwa tiap ada menggemakan dirinya ke wajah dari kaidah kita menyusun bahasa: ada subjek, ada objek, dan ada predikat.
0 komentar:
Posting Komentar