Minggu, 25 Januari 2015

(di) Afrilia Utami


hari kematian kita 

aku pernah bersandar di kota ini, bersamamu. merencanakan
untuk panen, dengan para petani penjual tomat, wortel, bayam
kubis, mentimun, dan nama sayuran yang dulunya rajin ditanam di
surga tanah kita. namun, tiba-tiba langit sepi mengirimkan
pelangi-pelangi yang sepotong. di masa sebelum itu, ruangan ini
kedap, mulanya. aku dapat membayangkan bebas apa pun dari
sini, mungkin aku tahu di luar sedang hujan, tiba-tiba musim
kemarau, enam detik sebelumnya adalah musim dingin, itu
terserahku, di sini aku yang mengatur dan di ruang ini aku
mengemudikan tubuhku untuk menyeberang menuju jembatan
itu. sebuah kota baru terlihat. aku senang, aku menemukan kota,
di ruangan yang senyap ini. kemudian, aku melihatmu, sebagai
elang yang baru turun dari langit. tatapanmu selalu sama. tajam
dan membekas. kemudian, kau mengajakku untuk mengerti
mengapa semua ini begitu rumit, karena kita harus bahagia.
karena kita tahu, hidup ini hanyalah sekali. dan tinggallah
sementara waktu, membeli pakan-pakan kehidupan dari
yang mati kemarin. 
aku pernah bersandar di kota yang sama. melipatkan sunyi-sunyi
kecil di dalam saku bajuku, dan sisa dari topimu yang selalu
terlihat hangus ketika topi itu tersimpan di atas kursi yang
menghadap jendela yang tertutup itu. aku tidak suka dengan
penyair, kataku. tapi aku bukan penyair, katanya. tapi mengapa
hanya sempat untuk merapikan syair-syair di kamar mandi, dan
lupa mencuci bagaimana senja itu tenggelam di kamar kecil para
semut, dan tiang-tiang yang melindungi padi milik belalang, dan
ruang tempat aku menghidupkanmu, tanyaku. kamu mengerti,
aku tidak mau hidup semudah itu, dan mati secepat itu, apalagi
meninggalkan sepi ini denganmu. aku ingin membuat semua
menjadi abadi, aku meninggalkan ini untukmu, karena hanya 
dengan ini aku dapat melihat matamu membaca keberadaanku,
begitu katanya
aku pernah mengenakan baju yang sama. di hari kematian kita
"coba liriklah sebentar, aku selalu bahagia. karena kau telah
mengajarkan arti sepi. hingga begitu berarti. kini, kitalah yang
kemudian mengakrabi sepi. bahkan di sini, aku telah terbiasa
membaca sepi itu di matamu. di waktu yang seperti kayu dengan
api, katamu. aku harus terus membaca. bahkan dari dalam sini. di 
hari kematian kita"
aku pernah mengenakan baju yang sama. di hari kematian kita.

                                                                             2012

dikutip dari buku puisi afrilia utami, halte biru
penerbit silalatu, 2014




bila aku jadi dirimu, aku sangat bahagia, afrilia utami. satu keinginanku yang tak pernah, bisa kuwujudkan, adalah menulis puisi. segala usahaku di bahasa, barangkali adalah ikhtiar untuk menulis puisi. tapi tiap menulis puisi, kata mekar jadi kisah cerita, afrilia. bahagialah dirimu af, begitu dalam dan penuh makna dunia bahasamu, halte biru ini. tadi aku membaca dan kini masih kubaca lonceng cengeng dan aku teringat langsung padamu, anak kecil yang penuh beban dari derita hidup keluarga - tapi siapa yang tak mengalaminya ya? tapi mungkin tekanan begitu tak tertahankan sehingga ia mengalih diri jadi bahasamu ini, afrilia utami. dirimu tahukah? begitu cara Ia menyayangi manusia yang Ia sukai: ke tubuh kita ini Ia suntik tiap jenis derita di bumi, lalu Ia hidupkan hati manusia semisal hatimu, agar apa yang disuntik tadi disuntikkan sekali lagi ke pembacamu, afrilia. kalau kau lihat diriku kini, menyala airmata di mataku membaca airmata di bahasamu ini, afril. afril afril kau di mana? aku di sini afrilia, masih di sini juga belum pergi ke duniaNya, tempat kau dan aku, kita, para penyair ini, kelak suatu ketika pasti menuju ke Dia dengan, indahnya kata katamu ini: tungku berjari iman ya tuhan kami, kami datang padamu. sekali ini tanpa aih ya afril. aiiih, afril. aku shubuh dulu ya. kau, subuhlah.


*lonceng cengeng

Kerap lonceng tua di dalam menara yang tangguh
Berdering. Memiliki bunyi yang paling genting
Setelah perang salib berakhir lebih awal
Dan santa yang tak pernah datang
Terkubur rata bersama lonceng
Menara tua yang kesepian
Mereka pergi dari langkah ke langkah
dari serapah ke serapah, melewati jembatan.
tetapi tak ada api yang mudah padam
di atas lilin kecil. aku ikut bernyanyi tentang api
yang mulai membangun tubuh tubuh baru
dalam kematian yang baru pula. lonceng bergantian
menyala nyala dengan airmata

Gerimis Yang Naik Ke Atas

Jauh-jauh aku berjalan, dari gurun ke gurun
Aku telah terbakar, sebelum oase sepanjang
gersang. Tapi hujan telah kering. Tapi hujan
telah lama tiada. Membawa mayat yang ingin
ke atas, dan tak bisa kembali turun dari awan.
Aku lihat pohon kurma muda, melambai-lambai
Meminta aku menuju, dengan dahaga dan luka.
Mungkin tak ada hujan, di gurun-gurun.
Hanyalah debu, hanyalah panas.
Selain bisik gemisir pasir.
Tapi ada yang mengalir dari pelangi tiba-tiba.
Aku berlari dari guntur, tapi tak sampai-sampai.
Tak mati-mati! Tak hilang dari ilusi! Tak! Tak!
Tak juga kering lagi.
Aku telah basah, basah itu aku kini. Terbuang
begitu saja. Bersama sisa gerimis yang sebentar
2012


*dikutip dari buku puisi afrilia utami, Halte Biru.
Penerbit Silalatu.

0 komentar:

Posting Komentar