Rumah Api di Bibir Hia
hia jangan lagi kau tahan, menangislah sampai payah
marah dan berontaklah sampai aku melihat sisi terasing dalam dirimu
yang tak sekalipun pernah aku bayangkan
muntahkan. dan biarkan aku melihat kebenaran darahmu
semasih di bumi aku meyakini kaupun masih, (manusia)
hia jangan lagi kau tahan. biarkan rumah api di bibirmu menyala
membakar segala apa yang telah menjadi sekam dalam hatimu
sebab aku membayangkan hia, di langit sana, di rumah kita yang lain
hati takkan lagi mungkin bisa berpaling
2013
"rumah api di bibir hia". Ingatan akan kemanusiaan mungkin membuat kita betah dalam dunia ini, walau kebetahan kita itu penuh cemas akan dugaan hari berhenti - setidaknya untuk kita, hari, meminjam ungkapan dari sebuah novel, tidak maju lagi. kita ada di pasir panas ini saja, dengan lembing dari bayangan pisau dan gerak panas yang datang dari langit, yang kita tak pernah tahu namanya.
"rumah api di bibir itu" lah kemanusiaan, sebuah riwayat yang kita akrabi oleh kita memang manusia. bahwa kau di sana aku di sini, tak mengurangi kemanusiaan oleh kita adalah mahluk domestik. tinggal di rumah, memasak dengan api, dan bercakap seraya menggerakkan bibirku dan bibirmu. tapi "hia" itu, setidaknya untuk aku dan tapi kuat dugaanku untuk kamu juga - untuk kita bersama yang terbiasa berkomunikasi, kukira hia itu bukanlah lagi sebuah riwayat yang datang dari inner domestik dari kepengalaman kita sehari hari ini.
kalau begitu dari mana dia berasal? terasa oleh saya dunia fisik, lewat hia itu, sesegera mungkin hendak dibawa ke tempat lain. kita bersama, diangkat, ditransendirkan lewat kata "hia" - terngiang olehku sawung jabo berkata dulu, di panggung musik manis tapi dengan isi the rebel: hio hio hio kata mereka dan kita pun ikut masuk ke dalam kata mereka itu. hayo kata kita. tapi ini hia.
marah dan berontaklah sampai aku melihat sisi terasing dalam dirimu
yang tak sekalipun pernah aku bayangkan
muntahkan. dan biarkan aku melihat kebenaran darahmu
semasih di bumi aku meyakini kaupun masih, (manusia)
hia jangan lagi kau tahan. biarkan rumah api di bibirmu menyala
membakar segala apa yang telah menjadi sekam dalam hatimu
sebab aku membayangkan hia, di langit sana, di rumah kita yang lain
hati takkan lagi mungkin bisa berpaling
2013
"rumah api di bibir hia". Ingatan akan kemanusiaan mungkin membuat kita betah dalam dunia ini, walau kebetahan kita itu penuh cemas akan dugaan hari berhenti - setidaknya untuk kita, hari, meminjam ungkapan dari sebuah novel, tidak maju lagi. kita ada di pasir panas ini saja, dengan lembing dari bayangan pisau dan gerak panas yang datang dari langit, yang kita tak pernah tahu namanya.
"rumah api di bibir itu" lah kemanusiaan, sebuah riwayat yang kita akrabi oleh kita memang manusia. bahwa kau di sana aku di sini, tak mengurangi kemanusiaan oleh kita adalah mahluk domestik. tinggal di rumah, memasak dengan api, dan bercakap seraya menggerakkan bibirku dan bibirmu. tapi "hia" itu, setidaknya untuk aku dan tapi kuat dugaanku untuk kamu juga - untuk kita bersama yang terbiasa berkomunikasi, kukira hia itu bukanlah lagi sebuah riwayat yang datang dari inner domestik dari kepengalaman kita sehari hari ini.
kalau begitu dari mana dia berasal? terasa oleh saya dunia fisik, lewat hia itu, sesegera mungkin hendak dibawa ke tempat lain. kita bersama, diangkat, ditransendirkan lewat kata "hia" - terngiang olehku sawung jabo berkata dulu, di panggung musik manis tapi dengan isi the rebel: hio hio hio kata mereka dan kita pun ikut masuk ke dalam kata mereka itu. hayo kata kita. tapi ini hia.
kelihatannya saya sudah melebih lebihkan. hia itu rupanya nama kau kita juga - tampaknya ia nama dari manusia dan manusia itu bernama "hia". jadi, bukan langit itu. tapi bahasa ini sudah bergerak maju, dan oleh ia telah maju biarlah tak usah mundur lagi.
kita maju saja oleh insting kita yakin bahwa ini sebuah bahasa yang hendak menembus itu. menembus mungkin tidak memakai hia sebagai sebuah nama. tapi sebagai sebuah isi pesan mungkin bersama dirinya, bersama hia, mereka bersama sama memang hendak pergi ke suatu tempat. pergi dari kemanusiaan, ke mana lagi kita pergi, halo, hia - siapakah gerangan dirimu itu?
tetapi kalau dia nama alangkah pula baris paling atas itu? judul itu bagi saya adalah baris dari sebuah puisi, walau di antara kita atau banyak di kalangan kita tidak pernah melihatnya sebagai isi sehingga mereka tidak mendugakan saat membuat, atau saat menuliskan sebuah puisi, nama ini, judul itu, diabaikan.
tapi saya tidak pernah mengabaikannya sebab lihatlah, ada unik di nama itu. ujungnya hia dan sebelumnya dunia yang sangat simbolik: rumah api di bibir hia. jadi rumah besar itu kini mengecil, api yang membakar dan indah bernyata itu juga ikut mengecil, masuk semua ke terowongan kecil dan kini berdiam di bibir sesorang. adalah bibir hia. wah kataku, bibir apakah ini sampai muat meletakkan rumah dan api. indah, rasanya bibir ini. indah pula kukira kalau kita berdiam di bibir ini.
tapi saya tidak pernah mengabaikannya sebab lihatlah, ada unik di nama itu. ujungnya hia dan sebelumnya dunia yang sangat simbolik: rumah api di bibir hia. jadi rumah besar itu kini mengecil, api yang membakar dan indah bernyata itu juga ikut mengecil, masuk semua ke terowongan kecil dan kini berdiam di bibir sesorang. adalah bibir hia. wah kataku, bibir apakah ini sampai muat meletakkan rumah dan api. indah, rasanya bibir ini. indah pula kukira kalau kita berdiam di bibir ini.
aku suka puisis ini dan sejenak kutinggalkan lalu linta persatuan kata pembentuk bahasa puisi. kuperhatikan gerak jiwanya dan kutemukan sebuah suara tangis yang dianggapnya tidak pernah dikenalnya. hia diminta memuntahkan dan dia ingin mendengarkan: keluarkan sampai yang paling asing dari kesedihanmu itu - tangis itu.
jadi ada kesedihan yang mungkin tidak kita kenali. ada keasingan yang mungkin tidak kita kenali. adalah kesedihan itu, timbunan peristiwa yang mengeluarkan kesedihan dan asing adalah identitasnya. tapi tak kita kenali. dan yang tidak dikenali inilah yang hendak dilihatnya. jadi rupanya demikian rupa hidup dua orang ini sampai ia tak pernah melihat apa yang kini hendak dilihatnya, yang asing itu katanya dan semua itu adalah sebuah kesedihan. jadi kesedihan yang tak bernama, yang tak pernah ada sebelumnya dan inilah dunia yang menggodaku itu.
kita ingin tahu juga, kesedihan semacam apakah itu, sampai ia tak lagi terdeteksi pun oleh orang yang paling dekatnya sendiri - aku itu, atau jangan jangan aku ini sedang meretorikan. jadi hia itu adalah dirinya sendiri. kita suka bermain solitaire dan jangan jangan aku ini dengan keterampilan bahasa yang tinggi tengah bermain solitaire. tapi ia tergelincir juga, atau ia terlalu masuk sehingga akhirnya ia tergoda: terpana oleh ingin melihat, setelah memajang semua penderitaan yang harus kita bayangkan sembunyi dari nada bahasanya, adalah keasingan dari sesuatu yang tak ia kenali. apa itu, rabu?
langit juga akhirnya tempat mata kita itu berhenti. aku membayangkan langit hia katanya, rumah kita yang lain alias dunia yang telah meluluhlantakkan ini ditolaknya, dengan cara membuat escape masih di sini juga. tubuh masih di sini tapi langit telah menjulur ke dalam jiwa. itu langit harapan dari kenangan purba kita kepada dunia yang katanya lebih lembut dari belaian ibu kita dulu. langit tempat kita kembali. langit tempat dari mana puisi ini mengintip justru dari kakinya saat ini.
apakah ini alamat kekalahan manusia terhadap kehidupan keras yang ia simpan di dalam puisi? puisi yang baik memang bukan warta: ia demokratis mengajak kita bermimajinasi. kamu bayangkan saja apa derita yang telah menimpa dalam hidupku dengan hia-ku ini kata rabu, seraya bergerak menjenguk langit dari lubang sempit di dadanya. langit, sekali ini, bukanlah alamat sebuah peluru tajam yang meletus menembak ke udara kosong. tapi penuh isi. dari penyair yang bernama rabu pagisyahbana.
oh, rabu. pecahlah kamisku dan meletuslah pecahlah jumat kau dan aku, rabu.
0 komentar:
Posting Komentar