Jumat, 06 Februari 2015

5. KRITIK sastra


interteksinterteksNarasi
Nietzsche di Afrilia 
("in the space of given text, several utterances...")

Tehnik bercerita orang pertama dan orang kedua adalah pembeda. seakan-akan di orang pertama si aku langsung memimpin, sedang cerita yang memakaikan "dia", si aku berada di dalam cerita, tidak langsung menjadi cerita. Ada waktu untuk sampai kepada "Ketika zarathustra berumur tiga puluh tahun", waktu yang dipotong lewat si aku yang mengucapkan dirinya, "Sekarang, kita berdua pindah ke hutan. Sesuai apa yang kita inginkan, Yah." Ke sini Kristeva itu bisa dibawakan di antaranya ("in the space of given text, several utterances...").

Atau ruang di dalam, cerita itu, tidaklah, bukanlah ruang yang tunggal, ketidaktunggalan yang terbagi, dan pembaginya adalah salah satunya ialah tehnik yang dibawakan, dipakai pengarang. tehnik yang langsung memperlihatkan ada intertektualitas di dalam, dicara pengarang membagikan isi dari cara teks itu dipenuhi oleh pelbagai ucapan.

Kita belum mengeluarkan interteks ini sebagai gerak dari tiap teks yang sampai tertenun ke dalam, tapi dari dalam, saat si pengarang membagikan ruangnya. ruang yang berbeda antara si aku yang mengucapkan dirinya langsung dan si dia yang mewakili si aku. Dari pelbagai arah cerita itu datang, sebagai muasal, tapi kini arah itu tunggal adalah tehnik, dengan "di-dalam-nya" arah-arah yang datang itu kini mengendap dan kini juga, (musti) terbagi, dibagikan oleh sudut pandang si pencerita dari dalam cerita.

Maka teori interteks kini kita lebarkan - bukan semata teks yang saling berbutan masuk seperti kisah spermatozoa yang berlarian untuk menjadi penghuni pertama, diam di dalam ovum, tapi adalah si aku yang mengeluarkan apa yang akan dibagikan itu. pada sudut pandang orang kedua, kita melihat ada jarak karena cerita kini berbagi dua: satu milik zharatustra satu lagi milik si pencerita yang tak kelihatan itu.

Pembaca yang menderita akibat pembagian itu - ia mesti membagi fokus perhatian; atau derita di sini kita ubah: jadi kenikmatan. pembaca yang menikmati pembagian yang otomatis bekerja lewat sudut pandang si pencerita. fokus pembaca berbagi, dan ia melihatkan segenap keindahan, atau kemaknaan, dari dia yang menjadi bayang-bayang si aku yang diceritakan.

"Ketika zarathustra berumur tiga puluh tahun", nah si zarathustranya pasif, mengapung lewat bayangan penanda "ketika...", bersama dengan bayangan si pencerita yang kita ingin tahu: siapa dia yang mengayunkan penanda "ketika" ini, seperti kita ingin tahu bagaimana terbaginya si aku anak dan si aku ayah, ayah yang dipasifkan - ia menjadi zarathustra yang dipasifkan, si anak yang mengambil over orang tak kelihatan yang membagikan penanda "ketika zarathustra", adalah aku anak yang langsung terlihat karena ia yang mengucapkan cerita.

Kita adalah pembaca aktif, melawan teks dari dalam atau setuju dengan teks dari luar, sebelum atau keluar masuk diaktifkan-dipasifkan oleh cerita - dengan syarat cerita itu memikat, menggoda kita pembaca sehingga sudi mengaktifkan dirinya, seraya memasifkan dirinya juga. bacaan itu adalah air lautan untuk kita pembaca, setelah ia menempuh air lautan untuk pengarangnya - barangkali ada badai di sini, seperti diksi badai yang kerap dipakai oleh zarathustra lewat renungan renungannya, atau badai itu berupa gelombang hidup yang menderas di cerita cerita afrilia tanpa ia sebutkan,

   Gu, aku lagi mengayunkan badai di segenap cerita ceritaku.

     (Ayunkanlah af: itu baik bagimu).

Tidak begitu. tapi terayun sendiri sebagai spontanitas dari dalam jiwa sang aku yang lagi bermain bahasa.

0 komentar:

Posting Komentar