The Plaguetahu dan mengalami
Cerita adalah bahasa itu sendiri. inilah yang terjadi pada sastra, pun dalam novel. atau bahkan dalam novel? dalam puisi cerita itu adalah kata itu sendiri. tapi lalu bahasa dan kata ini bertemu: kini cerita itu adalah bahasa yang ditopang oleh kata yang dipakai, dalam novel atau dalam puisi. "kata"lah yang membentuk bahasa - cerita, atau kisah dalam karya seorang pengarang atau penyair.
Jadi yang menarik bukan mula-mula "apa yang diceritakan dan dikisahkan" oleh novel atau oleh puisi, tapi bagaimana "kata" dipakai di dalam "bahasa" di mana cerita itu terbentuk.
Sebagai sebuah kata kita bisa menguji cerita yang terkandung dalam kata sampar. apakah kata ini mengandung cerita dari riwayat bahasa yang menghidupi kita. Ia akan mengandung cerita andai kepengalaman kita terwakili oleh kata sampar. tapi persis di sini kita bisa membawakan pes sebagai pendampingan kata sampar. apakah di dalam kehidupan kita masa lalu lebih populer sampar atau pes - penyakit pes, penyakit sampar, yang dibawa oleh tikus itu. tentulah pengalaman kita dari sudut bahasa itu, lebih mengena lagi kalau ia bukan sebagai pengetahuan tapi sebagai pengalaman di hidup yang nyata. bahwa kita dulu, misalnya, pernah mengalami penyakit pes, wabah itu berjangkit di sini.
Itulah rasa bahasa, bahwa kehidupan nyata kita itu, berevolusi, membentuk perasaan kebahasaan. rasa bahasa ini yang mendadak mengingatkan saya, bahwa telah terjadi perubahan letak kata di novel sampar dari edisi yang saya baca malam ini. dulu rasanya tidak begitu. memang hanya perbedaan dua tiga kata di halaman awal, tapi sudah cukup untuk mengusik rasa bahasa. tadinya tidak ini yang dipakai, saat novel sampar di dalam bahasa kita terbit dengan cover hitam, kini covernya hitam dan merah. formatnya juga seakan buku saku.
Albert Camus menuliskan sampar dalam bahasa perancis, dan pernah kubaca versi inggrisnya dan kini, dalam bahasa kita, bahasa indonesia. apa pun bahasanya, kisahnya sama, tapi yang membedakan adalah katanya. ini juga dalam tanda petik. kata adalah benda - benda abstrak dan benda konkret, dalam bentuk sifat atau kerja, ia tetap ada - ada benda, ada benda abstrak dan ada benda konkret. pertanyaan yang menarik: adakah benda yang tidak ada di indonesia tapi ada di perancis. jawabnya: ada. misalnya salju. tapi musim dingin, apakah ada di indonesia? di perancis ada. jawabnya: tergantung daerahnya. di daerah saat saya kecil dulu, ada musim dingin tapi tidak ada salju. tapi di daerah kita mungkin pegunungan yang tinggi itu, ada juga salju.
Konon puncaknya ditutupi salju - saya belum pernah ke situ, baru sampai di, "inilah awal dari nol kilo meter di ujung aceh. di akhir dari perhitungan indonesia, di puncak gunungnya, kudengar ada salju. jadi ada salju dan ada musim dingin. agak sama rupanya. dan pasti: ada manusia dan ada tikus. pasti pula: ada hidup dan ada mati. ada pastor dan ada dokter. yang tak ada: kiai di dalam novel sampar - tapi ia mirip dengan santo atau pastor. jadi relatif sama adanya. hal ini penting oleh saat kita membaca, kita membaca lewat dua jalur: tahu tapi belum tentu pernah mengalami. tahu tapi telah mengalami. kita mengalami bertemu tikus, kita pernah melihat orang mati. tapi apakah kita pernah melihat wabah? kita mungkin baru tahu, ada wabah. jadi pengetahuan bukan pengalaman.
Letak Kata
Rasa bahasa saya telah terusik sejak alinea pertama, walau novel ini masih diterjemahkan oleh nh dini. apakah masih nh dini juga yang mengkoreksi terjemahan sampar ini, di edisi yang telah saya sebutkan tadi. secara umum ia masih rasa bahasa yang pernah saya baca dulu. tak mungkin bahasa perancis itu bisa dialih bahasakan setepatnya ke bahasa kita. seperti tak mungkin pula, bahasa indonesia setepatnya akan menjadi bahasa perancis. tak ada yang perlu diupayakan untuk itu. sebab itulah karunia: kita diciptakan lain lain, termasuk, dengan bahasa yang juga lain lain. tak ada yang lebih unggul dari terciptanya manusia dan bahasa ini. kedudukannya sama saja. tergantung dari apa yang kita buat itu sendiri.
Rasanya pula, dulu tak ada kata-kata mahasiwa, dan "atas' yang melibatkan sebuah universitas seperti edisi ini. terbaca di sana universitas parahayangan serta mahasiwanya. universitas padjadjaran. mereka kerja sama dengan institut perancis di indonesia. kukira merekalah yang mengedit apa yang dulu dituliskan oleh nh dini ke bahasa kita ini. atau bukan alias nh dini sendiri yang melakukan beberapa perubahan, saya kurang tahu.
Jelas mereka yang mengubah ini telah digoda oleh bahasa baru yang tak tepat dengan bahasa kita. edisi awal dulu tepat sekali dari rasa bunyi - penyair pasti mengerti akan apa yang saya katakan ini, kukira. untuk menghayati itu saya turunkan apa yang saya katakan itu. agar kita sama sama bisa menghayatinya. sambil diam diam kita belajar lagi cara menuliskan novel. (atau memberi cara orang bagaimana menulis novel? terserah saja yang mana jadinya, tergantung kita sendiri mau mengambilnya ke apa.
Saya ingat dengan baik, atau saya teringat lagi, bahwa "menurut pendapat umum", bukan "umum berpendapat", dari alinea awal yang membuka novel sampar ini.
"Peristiwa peristiwa aneh yang menjadi pokok berita itu muncul pada tahun 194..., di oran. umum berpendapat, bahwa kejadian tersebut tidak wajar."
Nah itu, walau novel edisi "awal" di bahasa kita itu belum di samping saya kini (saya telah mencarinya tapi lupa di mana), rasa bahasa saya agak sepuluh tahun lalu kembali lagi: bukan "umum berpendapat" tapi "menurut pendapat umum".
"Menurut pendapat umum, bahwa kejadian itu tidak wajar, menyimpang dari kebiasaan."
Kita tahu dengan baik bahwa sastra bukanlah bahasa indonesia yang baik dan benar itu, walau ada beberapa pengarang top kita (atau nyaris semuanya?) memuja bahasa baik dan benar dalam sastra. mereka inginkan kita itu berbahasa dengan perhitungan kaidah yang benar walau bahasa itu akan dibawa segila gilanya. kukira keinginan mereka ini agak paradoks, karena bertarikan satu sama lain. tapi mereka orang orang cerdas dengan kemampuan nalar yang tak perlu kita ragukan. karya mereka pun hebat hebat sehingga di soal ini, sebenarnya kita bisa berbicara tentang satu ihwal: paradigma kita saja yang agak berbeda di soal soal sastra itu.
Apakah dalam pengertian bahasa indonesia yang baik dan benar, bahwa "umum berpendapat", itu adalah benar atau salah? saya tak ingin ke sini: agak kurang perduli dengan apakah ia itu "frasa" yang benar atau salah. yang kita hitung bukan pertama atau mula mulai kaidah bahasa, tapi jalur maknanya. kini kita boleh memanggil lagi teks awal nh dini, sampar di alinea pertama itu.
"Menurut pendapat umum", bukan: "umum berpendapat", dan kita mengajak orang untuk merasakan rasa sastranya, dari penampilan kedua "kata-bahasa" itu. mari kita nikmati dan kita nilai kedua bahasa-kata itu.
Level
Umum berpendapat tampaknya lebih praktis dengan menurut pendapat umum. lagi pula menurut itu telah dibawa saat umum itu berpendapat. siapakah yang berpendapat? umum. jadi berpendapat itu telah membawa serta menurut. benar, tak ada yang salah dengan itu. kalau demikian mengapa ia kurang nilai sastranya seandainya ia terpasang dalam "menurut pendapat umum", bukan "umum berpendapat".
Tetapi apakah jadinya umum berpendapat seandainya ia terpasang di antara alinea pertama itu? kita lalu menghadapi segala tetian bunyi di sana, juga arti serta maknanya. umum berpendapat terasa "memangkas" bahasa yang lewat kata sedang mengepakkan sayapnya. tapi menurut pendapat umum itu membukakan kembali apa yang dipangkas.
Sebenarnya diterjemahan awalnya, "bahwa" juga agak mengganggu bahasa. seandainya saya memasangkan, bukan "bahwa kejadian itu tidak wajar, menyimpang dari kebiasaan", tapi "kejadian itu tidak wajar, menyimpang dari kebiasaan", maka kini saya telah melakukan gerak terbalik dari "teks". tadi meminta ia dibiarkan menjalar, kini memangkas. lagi lagi semua itu harus kita baca dari satuan bunyi yang akan menghidupkan musik novel.
Ini adalah novel bukan puisi?
Tetapi ini adalah seni dalam bentukan novel bukan bahasa biasa. seni sastra itu hendak meraih ke puncak bahasa, sehingga letak kata menjadi pertimbangan yang luar biasa. pasti kita tidak sedang berbicara tentang selera seadanya saja, asal meletakkan kata dan asal menuliskan sastra novel atau sastra puisi. kita sedang berbicara ciptaan sastra dengan level yang tinggi. tampak cerewet? tidak juga. bayangkan ciptaan Tuhan: haluskah saat langit itu tidak rubuh? apakah kita akan enggan mengikuti gerak dari bagaimana cara Tuhan mencipta? halus, lembut - bukan lemah. sebaliknya kuat tak bisa dipatahkan.
Halus
Kalaulah aspects of the novel karangan tuan e.m. forster itu adalah teori tentang novel, atau teori dari ilmu sastra pada umumnya, maka ia menuliskan the story, seperti kelak the plot, saat ia berbeda pandangan dengan aristoteles; menggambarkan tiga orang yang, apakah ketiga orang ini datang dari penelitiannya atas tiga sampel manusia pembaca novel, atau semata hanya ia bayangkan saja.
Begitulah orang menuliskan bahasa akan bidang yang mereka minati.
tulisan ini juga begitu: menuliskan tanpa mesti tergantung dengan pandangan forster - baik dalam kerangka penelitian misalnya akan tiga respon manusia akan novel, karena ada bermilyar orang di dalam dunia ini, akan memberikan tekanannya sendiri walau tekanan atau tanggapan akan tiap bidang yang difokuskan itu, boleh jadi relatif sama. lebih baik kita memandangi gerak alam yang bergerak masuk ke dalam ruang kesadaran, untuk kelak, melimpah ke dalam bahasa. ("you can take your music, but give me a good story", suara orang dari orang dalam buku forster (hal 40).
Jadi cerita itu, tapi kini yang kita hela sebagai bahasa-kata, juga menimbulkan musik, adalah setiap nada keluar dari bunyi. alam raya mengeluarkan bunyinya lewat nada kehalusan hukum-hukumnya, seperti betapa halus nada langit tak runtuh di atas kita. nyaris tak terdengar bagaimana cara hukum itu bekerja. sebaliknya letak kata "bahwa" serta frasa "umum berpendapat", dalam bahasa indonesia, kurang halus - kita dengar sambungannya yang patah, saat ia kita letakkan bukan pada "plot" tapi pada bahasa - tempat kata mendukung plot itu.
Kita tidak sedang berbicara tentang camus dalam bahasa perancis, tapi camus dalam bahasa indonesia, dua sosok yang berbeda. ciptaan akan sampai ke dalam bahasanya sendiri, lewat riwayat tumbuh dan berkembangnya, darimana tiap ciptaan itu sampai. Kita sedang berbicara tentang bahasa kita, seperti novel camus berbicara tentang nasib sebagai sebuah kenyataan yang halusnya sama dengan langit, adalah universal, dalam bahasa perancis. tapi sampai lokal sebagai sebuah bahasa.
Kalau tubuh memerlukan arah, ke mana ia melangkah dari arahnya, maka bahasa itu juga memerlukan acuan dari mana anggapannya. acuan kita adalah langit, yang halus, dengan realitas tak jatuh. merekayasa pertanyaan dari sini kita sampai juga ke dunia universal itu: apakah baik langit itu tak jatuh oleh hukum yang mengikat langit? atau ia lebih baik jatuh saja sehingga langit menimpa bumi. dalam arah lain lewat mekarnya hukum halusnya persambungan, kita sampai ke nasib dengan bahasa sebagai ikatannya. sampar adalah cerita tentang nasib manusia, yang serupa langit itu, begitu halus dan bahasa, yang kuasa menyokong kehalusannya sebagai ciptaan novel.
Alinia Kedua
Alinia kedua juga begitu: ada patahan yang membuat kehalusan "langit sampar" kurang sempurna. tak perlu kita sinis saat prof budi darma, akademisi yang juga menulis novel (olenka), berkata tapi kira-kira ia menunjuk kepada bagian seperti "plot" yang ia tekankan, bukan kata penyokong bahasa, yang awalnya menjadi fokus kita ini, sebelum kita menjangkau hal-hal lebar; bahwa pembaca bisa tertempeleng oleh lemahnya logika yang membuat robert kakak annelies mengapa tiba-tiba "mengembik".
Sebab bukan saja sarkasme sang profesor, bagian dari retorik gayanya dalam esai - bahkan dalam novel juga, gerak-gerik sarkastik itu menjadi diksi dari novel olenka tapi ia berhasil menjadi subversif. seperti kata diancuk yang terasa, seraya menusuk lalu melepaskan rasa bahasa dari sebuah humor. kita tergelak melihat kata itu, diancuk, yang "bersanding" dengan kata nausee dalam novel olenka.
Berpegang pada kebenaran-kesalahan adalah jamak dalam dunia ini, bahkan merupakan sifat dari dunia ini, seraya merasakan sebuah kepastian dari ingatan saya, karena novel sampar edisi sebelum ini belum juga saya temukan (di mana ia letaknya di belantara tumpukan buku kita itu?), saya mulai lagi memasang "satu bahasa" yang kehilangan kehalusan.
"Harus diakui bahwa kotanya sendiri tidak bagus, tapi kelihatan tenang. sebab itu dibutuhkan waktu cukup lama untuk menyadari apa yang membedakan dia dari begitu banyak kota bisnis di mana pun."
Apakah yang salah dari kalimat di atas ini? atau kita ganti agar tulisan ini jadi moderat: apakah yang membuat kalimat itu kurang punya nilai keindahan? atau kita ganti dengan bahasa apa lagi agar terjadi pengayaan pandangan? sementara kita berpegang saja pada "keindahan" sebagai acuan seni itu kembali.
Mula-mula saya ingin meletakkan kalimat awal hingga titik itu, ke dalam ingatan semula atas kalimat yang telah bergerak menjadi puisi di tangan albert camus dan nh dini. tapi bukan dalam bentukan:
"Harus diakui bahwa kotanya sendiri tidak bagus, tapi kelihatan tenang." melainkan saat kalimat ini terpasang dalam keadaan begini:
"harus diakui bahwa kotanya sendiri jelek, oran kelihatan tenang."
0 komentar:
Posting Komentar