Lima Waktu Apakah kita di sajak putih itu adalah aku, seperti aku di sajak gurun yang begitu jelas, karena ia sedang bermain dengan waktu lewat bayangan. lima waktu terekat di sana, waktu pagi dan si aku yang jelas ketimbang kita di sajak putih - akukah kita ini? "kita dengarkan bumi menerima tanpa mengaduh", ujarnya. Kita bukan aku, dan akukah kita itu? kita sisihkan sementara soal aku-kita yang membawa akibat karena mereka adalah sudut pandang, yang membawa cerita ke kita pembaca.
Puisi menyimpan banyak hal pada dirinya, penyair berbicara seolah ia menjalar, mekar saja tanpa suatu pemerian latar, itulah puisi, bahkan cerita itu sendiri, ia lipat ke dalam baris dari setiap apa yang ingin ia sampaikan. Gurun itu misalnya, kita tak memperoleh informasi apakah gurun yang kita kenal - padang pasir. sajak putih itu juga, latar ia lipat ke dalam dirinya, sehingga kita mengalami kekaburan, andai harus merekonstruksikan di mana kedua puisi ini bermain.
Sajak putih itu bermain di bumi, "kita dengar bumi yang tua dalam setia", ujarnya, sebuah keterangan tempat, tapi terlalu lebar dan lagi-lagi, memang begitulah puisi - hal ihwal ia lipat untuk digelar kembali lewat jalan deduksi bukan induksi. akibatnya puisi menyerahkan kekuatan dirinya kepada sugesti, kepada asosiasi, kepada imaji imaji yang ia tebar dan imajinasi kita pun seolah sedang membaca novel: kita mengumpulkan sendiri apa yang disebar perlahan lahan oleh para penyair, membentukkannya kembali dan karena gerak ini pula, imajinasi begitu bebas di dalam puisi karena baris puisi begitu bebas tanpa batas menceritakan dirinya.
"gurun" itu juga, menggerakkan waktu seolah bumi: di mana? ya di bumi, artinya di mana kau dan aku sedang berada karena di mana pun kita berdiri, berbaring bahkan terayun misal tidur di atas pohon, karena pemukiman kita telah digusur umpamanya, tetap saja di atas pohon itu adalah di bumi juga. seperti tetapnya waktu yang bergerak dalam lima peristiwa yang dibangun oleh puisi gurun.
0 komentar:
Posting Komentar