-- KREDO SASTRA. Tuhan menubuh pada dunia. Ruh menubuh pada badan manusia. Kesadaran menubuh pada bahasa.Sungguhkah "tanda bahasa bersifat semena"?Kalau begitu kita akan kehilangan asal-usul.
Sebetulnya saat kita keluar dari dunia dan masuk ke dalam diri, masih juga dunia terikut karena kita telah dibentuk olehnya. Niat kita keluar dari dunia juga akibat dari dunia, katakanlah metode, untuk mengambil jarak dan barangkali dengan sedikit agak menjauh, kita memperoleh pengelihatan lain, yang mungkin lebih segar. Tetapi baiklah kita cobakan saja keluar dari dunia dan kini masuk ke dalam dunia lain yakni ruang kesadaran, tempat di mana dunia luar kini mulai kita lepaskan atribut khususnya, misalnya dunia yang dipandangi dari segi ilmu pengetahuan dengan segala prosedurnya. Kecuali hasil dari didikan ilmu yakni hubungan sebab-akibat sebagai metode berpikir, kini kita bebas memainkan kesadaran sebagai sebuah ruang. Ruang merdeka serta mandiri karena kita sudah tidak terikat lagi dengan dunia. Tetapi hendak kita isikan dengan apa ruang kesadaran yang telah kita buat steril ini? Apakah yang masih bisa kita pikirkan seandainya dunia luar kita tolak? Tidak ada lagi yang bisa kita masukkan sebagai input, karena itu tidak suatu pun yang masih bisa kita pikirkan.
Seolah-olah dengan gerak menolak dunia kita sedang memundurkan waktu, kembali ke awal lagi dan segala pengalaman menyusut bersama gerak mundur yang kita lakukan. Kita yang dewasa kini menyusutkan sendiri tubuh kita, sehingga mengecil, bersama dengan menyusutnya tubuh ikut pula terbawa kesadaran, yang kini mengerut, bahkan hilang sama sekali seiring tubuh kita yang telah sempurna menjadi bayi. Kita pun memasuki fase belum mengenal dunia, kecuali bahwa diri telah hadir dengan respon-respon alamiah yang begitu terbatas. Lebih banyak yang tidak kita ketahui daripada yang kita ketahui. Jadi dunia tetap ada di sana, di luar, sedang kita ada di sini, di dalam, dan dunia luar itu tidak ada karena kita memang belum pernah menyentuhnya. Dibaca dari sudut bahasa, inilah keadaan bahasa dalam taraf dini, belum berkembang karena memang belum ada yang memakainya untuk menghubungi dunia. Dibaca dari sudut ada yang tidak kita ketahui, inilah keadaan di mana ada tak muncul, sebab munculnya sebagai ada “di sana”, tapi tak muncul sebagai ada “di sini”.
0 komentar:
Posting Komentar