Jumat, 06 Februari 2015

Kritik Sastra : Raning


"saat pikiran homer menciptakan dewa-dewa - nama nama tuhan yang dikampak ibrahim dulu, menurut kitab daud-musa, isa-muhammad"saat pikiran homer menciptakan dewa-dewa - nama nama tuhan yang dikampak ibrahim dulu, menurut kitab daud-musa, isa-muhammadRANING

  "Argument the redemption of the body of hector" 

     - The gods deliberate about the redemption of hector's body


   "Sayap Malam" 

"Tawa yang terasa pahit di lidah rasa".

   Kalimat di atas ini juga. ia bagian alinea ke-4 cerita raning, yang dramatis itu. oleh dramatisnya, maka aku menolak masuknya "rasa", karena kukira, ia lebih cepat sampai dan begitu menusuk saat berhenti dalam bentukan: di lidahku. kita mengerti permainan sang pengarang saat vokal a itu menariknya. tapi gema a ini membuyarkan efek dramatis yang memang ada di cerita ini. maafkan aku menghendaki pun ujung huruf harus sesuai denga maksud utama karangan. jadi rasa itu, aku kira musti menepi. biarkan saja ia berhenti pada: di lidahku.

   Di depan cerita raning, "cahaya di kejauhan", sebuah cerita yang memenuhi standar untuk dimuat di koran, panjang, dan jernih cara berceritanya. tapi kukira aku lebih suka sama "sayap malam" ini. mungkin karena sayap malam ini lebih menyerupai cerita yang mengorientasikan bahasa seandainya kita bandingkan dengan cahaya di kejauhan. sayap malam ini cerita yang bagus. tapi dua bagian terakhir menurutku tidak berimbang kekuatannya.

   "Diri masih bisa dihibur, hati tak lagi merajuk, dan nyeri menyurut. Tapi mata menolak mengerti. Lelah menahan perih, letih menanti dibuai mimpi, ia tumpahkan batu-batu apinya sendiri.

    "Telah kupecahkan batu-batu api dari mataku. Kupunguti, kuhamburkan ke wajah hujan. Makin kobar. Melepuh jemari, batu-batu api membakarku sampai pagi. Kemudian hujan pergi, angin tak peduli. Kau?"

   Sebenarnya tidak juga: pada "diri..." itu kita masih melihat kekuatan bahasa, di sini: "tapi mata menolak mengerti", tapi tidak pada: "diri... hati tak lagi merajuk", tapi mungkin "nyeri menyurut", masih bisa kita terima dalam pengertian puncak bahasa di sini. Juga: "lelah menahan perih", tapi kukira menurun saat di "letih menanti dibuai mimpi", kalah jauh ia dengan, "ia tumpahkan batu-batu apinya sendiri", ini puncak bahasa juga.

   Memuncak lagi pada, "telah ...", indah sekali, tapi "kau?", nah "kau" ini menghancurkan puncak yang telah diraih dua bagian dengan catatan ini. "kau", kukira tak lagi dibutuhkan: biarkan saja penghayatan personal si aku prosaik atau si aku pencerita saja yang ada. kau itu seolah mengajak orang lain tiba tiba masuk - pembaca, kukira, tak bisa diprovokasi lewat jalan memaksa seperti itu. pembaca sudah sejak dari awal melibatkan dirinya dengan cerita yang menarik ini.

   (Ingat cerita af - afrilia, maksudku, saat membaca cerita ini. hutan kayu, misalnya, atau puisi puncak afrilia: (di) hari kematian kita, di antaranya. itu bagian dari puncak puncak bahasa yang sungguh tak harus kalah dengan puncak puncak bahasa kita di mana pun.)

   Indah sayap malam ini - ia bukan, "sekerat kisah di sayap malam", terlalu ramai, lebih dramatis: sayap malam saja, kukira.


SEKERAT KISAH DI SAYAP MALAM


Malam kembali. Aku bertanya-tanya; sedang apa kau sekarang, apakah di antara ribuan detik yang kaulewati ada aku di dalamnya? Tanyaku dijawab tanya. Malam bungkam, enggan ditanya.

Aku masih seperti kemarin, dan kemarin-kemarinnya lagi. Masih, aku bicara dengan siapa entah dalam tempurung kepala. Biasanya aku juga bicara dengan dinding kamarku. Sekarang sudah jarang. Kuperhatikan, dia makin dingin, semakin tua; penuh flek coklat kehitaman. Pun aku.

Waktu. Memberi banyak, sekaligus mengambil sebanyak yang ia beri.  Dia tambahkan jumlah hari di saku usiaku dengan rupa-rupa cerita di dalamnya. Tapi saat itu juga ia ambil sisa sempatku, dan apa-apa yang ada padaku; hitamku, terangku, tegakku, kuatku, …. Setiap bagianku.

Aku tidak tahu, sampai bila waktu mengisi saku-ku. Ketidaktahuan ini buncahkan gundah. Selimut tak cukup memberi tenang pada geliatnya. Mungkin semua itu  menggelikan. Aku pun kadang tertawa sendiri. Mentertawakan kenaifanku. Tawa yang terasa pahit di lidah rasa. Anehnya, tak hendak juga ia kuhentikan.

Aku melihat seseorang, tapi kupikir, justeru itu aku. Terkapar di tengah ruangan kosong, sendirian. Memanggil dan mengajak bicara seisi rumah. Berharap ada yang datang menolong, setidaknya menyahuti. Tak satu pun, kecuali deru yang memukuli dada. Bersahutan dinding ke dinding. Duhai, adakah yang lebih api dari tungku yang kehilangan api.

Di luar sana, hujan mendera. Merampas setiap percik api. Dan angin …. Ah, mereka bersekutu! Melemparkan batu-batu beku, membakar tungku: aku.

Kuhibur diri, kubujuk hati, kurayu nyeri; pada akhirnya semua akan berakhir, kini atau nanti--setiap napas akan berhenti bila tiba saatnya menepi, bersendiri.

Diri masih bisa dihibur, hati tak lagi merajuk, dan nyeri menyurut. Tapi mata menolak mengerti. Lelah menahan perih, letih menanti dibuai mimpi, ia tumpahkan batu-batu apinya sendiri.

Telah kupecahkan batu-batu api dari mataku. Kupunguti, kuhamburkan ke wajah hujan. Makin kobar. Melepuh jemari, batu-batu api membakarku sampai pagi. Kemudian hujan pergi, angin tak peduli. Kau?


Palembang ||18012014||
<d.ern> 



 Malam 

   Membaca cerita Raning atau setiap kita bertemu dengan karya sastra, kehidupan seolah menyeruak tanpa kendali, masuk ke dalam ruang kesadaran dan kita mulai mencobakan ke sana ke mari, bahwa kita akan mulai menuliskan penghayatan kita dari mana. Apakah saya telah beranjak dari opini saat membaca "hikayat keraguan" hendro susilo, bahwa kenyataan tampil selapis demi selapis dan pada setiap lapisan-lapisan itu kita memfokuskan diri. Lagi pula apakah mungkin di saat kita menikmatinya, yang berarti diri larut, di saat yang sama kita bisa keluar dan bergerak kian ke mari, inilah yang kadang saya pikirkan dan selalu, setiap kita memikirkan hal seperti ini, diri berdalih bahwa memang begitulah seni: kita dibawanya masuk sambil di tengah jalan dunia aktif kesadaran terus melakukan reaksi.

   Bahwa hal itu mungkin karena pada dasarnya, bahasa itu lewat ceritanya membentur kita dan setiap benturan, membuat ada yang terpantik dari dalam, adalah imajinasi. sesaat bahasa dikirimkan, katakanlah malam yang dikirimkan raning, sebagai objek pokok bahasanya, pada saat itu juga kita terlesak masuk ke dalam malam, sambil secepat itu juga kita keluar lagi. Keadaan keluar masuk ini yang membuat kita dengan cepat bisa mewacanakan, apakah puitika itu harus dikerjakan dengan jalan kalimat puitis, dan apakah puitis ini, tak juga diletakkan ke efektifitas serta efesiensi kalimat. terlalu panjang akan membuat kalimat, yang memang dibayangkan puitis dan telah dikerjakan puitis, malah menyulitkannya karena ia tampak berlebih. keindahannya seolah diberi rumbai-rumbai sehingga gagal bersinar dengan penuh.

   Itulah yang terjadi sambil kita meluncur ke dalam malam, menikmati malam dari dalam (bahasa) malam, mengikuti setiap pergerakan jiwa aku dengan malam yang diam-diam mulai menarik kita: apakah kita akan mewacanakan penghayatan atas tanda, atau malam sebagai bentuk dan konsekwensi bentuk dari malam adalah penopang penopangnya, semisal nama atau judul cerita raning. tapi ia toh tanda juga dan kita terus ditarik pikiran secara simultan: kokohkah "sekerat kisah di sayap malam", atau ia telah terlalu puitisisasi sehingga berlebih. kita mulai memikirkan daerah puitik seperti ini, karena sangat menyayangi isinya, yakni malam, yang telah berhasil membuat kita seolah-olah telah jadi aku yang sedang diceritakan oleh raning.

   Menguji "sekerat kisah" ke dalam pengertian ia adalah daerah bahasa yang mengajak kita untuk melebih-lebihkan, katakanlah janji yang terlalu manis di depan, sehingga bagian bagian dari misteri bahasa, yang tertanam juga di jiwa pembaca, seolah diusik dengan bahasa berlebih itu. (apakah kalian tidak percaya kepada kami?), sehingga kami harus disuguhi dengan setiap misteri dan dramatisnya malam, sampai mesti membawa "sekerat" yang akan mengingatkan kita pada "daging yang terpotong", alias derita bagi si daging, dengan kisah itu melengket ke daging yang sedang dikerat oleh pisau yang tak kelihatan.

   Kami memikirkan dari jurusan kami sendiri, akan bagian bagian yang disembunyikan dengan maksud penanda seperti itu, bahwa itu tanda tapi malam ini sendiri telah membawakan dirinya, atau kita bergerak dari dalam dan kini ada di luar, bertemu dengan lanjutan dari "sekerat kisah" yakni ("di) "sayap malam".

   Dilepaskan dari "di" karena malam itu sendiri telah membawakan ruang waktunya, maka yang tinggal kini kata yang begitu menunjuk langsung tanpa drama, karena drama itu adalah isinya - malam yang begitu menarik direnungi oleh tokoh aku raning. maka yang kini tinggal hanyalah "sayap malam". tak ada lagi puitisasi di sini, seperti di "sekerat kisah". tapi ia telah memotong ranting itu dengan langsung menghadapkan diri pada pembaca: "sayap malam". ia jadi daerah seakan sumur dalam yang kita pandangi dari luar. sumur. dalam. dan karena itu sisanya menjadi daerah misteri yang kita imajinasikan sendiri.

   Itulah bentuk - hadirnya penanda yang telah mengindahkan dirinya sendiri, karena telah memotong daerah berlebih yang, maaf, begitu suka digemari oleh sastra populer - bukan art-pop itu, tapi sastra yang sering dengan serta merta, kata budi darma, mengajak kita jatuh ke bawah tapi seraya jatuh kita sudah tahu jawabnya: ada happy ending di situ. saya kira itulah sesayat kisah, tapi tidak sayap malam. dan inilah bentuk tapi sekaligus tanda, bahwa sayap malam ini adalah lambang bagi fenomena burung aku yang terbang di waktu malam, ke sana ke mari. burung bahasa yang resah di waktu malam - jiwa manusia, tokoh aku ciptaan raning.



Mengapa Cerita Raning itu Indah 

*Tanda, Keindahan pendek dan Keindahan Panjang

  Keindahan itu ada hubungannya secara langsung dengan dunia serta kita yang merenungi dunia. Ia bergerak di antara kita yang mengerti dan tidak mengerti. Diri yang berusaha memberi makna dan terhempas ke dalam kehampaan pengertian. Pada tegangan semacam itu, bunga keindahan terpercik dan jejaknya, walaupun bukan tulisan, akan selalu bahasa. Keindahan alam yang bergerak ke arah keindahan sosial, atau tergelincir semata hanya keindahan individual.

    Seorang pembicara di televisi, katakanlah pakar, atau bukan pakar, seandainya ia mampu mengonsolidasikan kehadiran tubuhnya, serta lisan yang keluar dengan irama kombinasi mata, gerak mulut, sosok tubuh serta materi yang ia bawakan, maka itulah keindahan fakta dari seni fiksi yang sedang hinggap di tubuh manusia. Ia jadi seni fakta dan tapi apakah fakta itu? akhirnya tangan menjadi kata - kata tangan, roman wajah menjadi kepercayaan - kata percayaaan; atau dusta alias kita tak percaya sedikit pun. dusta adalah kata, bagian langsung dari bahasa. maka apa yang sebenarnya bukan atau tak bahasa dari setiap ada ini? seluruhnya adalah ada-bahasa: kata.

   Dengan cara begitu kita kini membaca tubuh fakta yang mulai melakukan lompatan jadi tubuh bahasa, (tubuh raning ke bahasa raning), seraya mengenang misal plato - plato itu layak dikenang jauh lebih banyak porsinya dari para penulis terbaik eropa modern karena kandungan nilai langitnya itu - walau langit tak musti harus islam. pendek kata langit, dunia yang bukan semata benda ini di bawah ini. Keindahan yang kini bergerak jadi keadaan sosial saat socrates, seperti kita baca di dialog plato, saat hendak dihukum mati malah masih sempat menyebut-nyebut hutangnya kepada seseorang, yakni ayam.

   Bahwa mungkin ia berhutang ayam kepada seseorang dan ia minta agar temannya melunasi hutang ayamnya itu. gerak begini, gerak kecil dari seluruh "hikayat kematian socrates", kuasa menimbulkan letusan imajinatif dalam diri pembaca, bahwa gerak kecil begitu adalah keindahan, dan keindahan lalu bergerak jadi misteri: betapa misterius seseorang yang hendak pergi (socrates dipaksa minum racun hamloc oleh para penguasa: agak beda keadaan di zaman itu, bukan heroisme gaya televisi di masa kini, tempat orang orang mematut bukan subtansi tapi wajahnya, di layar kaca itu. ini juga bagi saya indah dalam satire modernnya yang paling getir).


"Malam sebagai tanda"


   Agak berbeda dengan puisi hendro susilo, di mana bait-baitnya seolah tidak maksimal mendukung "hikayat keraguan", (tapi beberapa bait itu indah, walau tidak kohesif mendukung hikayat keraguan), raning tampak begitu fokus kepada "malam", ia hidupi malam ini dengan sepenuh hati, dan kata yang membantunya, menjadikan malam itu figuratif. malam terbingkai di sini, sebaliknya pada saat yang sama, si aku dalam cerita, terkurung di dalam malam. Jadi ada gerak seolah cinta di situ: si aku bertepuk, aku yang lain membalas. si aku merintih dan malam menyediakan diri untuk dijadikan rintihan si aku. malam menyediakan telinga dan mata, bagi si aku agar ia memakai mata dan telinganya.

   Dari sudut perenungan, dan selalu perenungan itu, segila apa pun bahasa, akan bertolak bukan dari bahasa tapi dari apriori adalah hidup kita ini. Hidup kita, yang berarti di luar bukan di dalam bahasa, yang akan menghadapi "malam" itu. kita menarik malam itu keluar, artinya kita bertemu dengan seseorang yang merenungi malam.

   Kita membayangkan malam dan mulai bertanya dengan cara mengujinya; apakah malam di dalam bahasa? ia yang bermata dan bertelinga (bahasa itu), kini kita bujuk agar sudi keluar dan di luar ini kita menjumpai malam pertama bukan malam kedua (adalah bahasa).
Seperti pengarangnya kita bertemu dengan malam itu, suatu lanskap cakrawala, malam, dengan segala kesenyapan dan tanda tanya, misteri, yang rupanya inilah dijaikan ruang waktu bagi si aku pengarang untuk merenungi hidup ini. ruang waktu malam hari, sebuah sunyi, senyap yang sempurna untuk merenungi hidup, dan malam itulah yang kini bergerak ke arah dua arahnya. arah malam hari, arah malam hari sebagai tanda, dunia yang melambangkan segalanya telah larut - beranjak, (siang ditunggu malam hari; malam hari hendak berakhir ke pagi hari).

   Malam itu tiba tiba jadi (tanda) tubuh, dua tubuh, tubuh dunia lewat malam harinya, tubuh manusia lewat usianya, bahwa badan kita dimakan oleh waktu dan waktu akan pergi juga ke malam. bahwa tuhan tak pernah dimakan waktu dan malam adalah permainan Tuhan sebagai tanda bagi setiap adanya. malam, sebagai tanda, sebagai hari, lalu mengimbas ke mana mana dan selalu setiap imbas, akan terpercik ke sana ke mari dan bahasalah adalah jejaknya. pada bahasa itu kini kita berkaca, apakah arti malam bagi raning dan apakah arti malam bagi aku yang bukan raning lagi tapi bahasa.

   Saat "malam" dipilih jadi representasi, ia menjadi pengalur bagi setiap detik dalam hidup manusia. malam tiba-tiba jadi pengalih, semacam keranjang, tempat segenap peristiwa dalam hidup dialurkan ke malam. malam jadi unik seunik orang di dalam bahasa, karena relasi mereka adalah relasi berjarak, jarak dari representasi bukanlah objeknya langsung. Ada keindahan individual saat kita melihat si aku dalam bahasa itu, berdialog dengan malam yang ia ombang-ambingkan ke sana ke mari.

    Malam ikut terguling ke sana ke mari, seiring si aku yang menggulingkan dirinya ke sana ke mari. sebenarnya malam itu hanyalah cermin bagi si aku melihat hari-harinya, (seperti kita sehari-hari terus merenungi hidup ini, termasuk merenungi hidup kita sendiri), begitu juga di depan cermin itu si aku bertanya-tanya dan malam tiba-tiba jadi seolah manusia. inilah unik: sebab malam adalah satuan abstrak akan hari, akan ruang, akan waktu, akan bentuk dan warna dari cahaya yang kehitam-hitaman dari warna malam hari.

    Ia menulis dari kota palembang, kota di masa kecilku, dan saat itu aku belum mengenal bahasa, apalagi sastra, tapi hatiku telah terpaut dengan cakrawala: malam kerap kupandangi dan malam memang tetap ada di sana, di sini di waktu malam, di waktu masa laluku itu. malam itu diam, misterius, "enggan ditanya", kata raning seolah menyuarakan suara setiap manusia yang merenungi apakah hidup ini.

   Ada kitab suci, suara dari langit menjawab: hidup ini berbuat baik. mengapa orang jadi jahat? karena lingkungannya. hidup ini telah kugariskan. ada yang baik dan ada yang buruk. mengapa begitu? diamlah kau takkan pernah tahu. dan itulah malam, suatu kata yang memiliki kualitas tanda yang kita hidu hidu dari cerita raning yang menarik ini.

   "Malam kembali", kata raning mengawali ceritanya, atau perenungannya - raning yang kini mulai kita baca dari suara aku di dalam cerita malam. dua kata ini saja, kukira sampai tua kita bisa tak beranjak dari depannya, karena kombinasi dari kata "malam" dan kata "kembali", yang mengandung kualitas tanda seolah puisi. dua kata itu saja, adalah puisi karena daya ikatnya.

   "Malam kembali", artinya di ruang kombinasi kata ini kita melihat segenap pemikir dalam dunia ini, yang telah bergerak dari gelapnya dunia yang tak kita mengerti, (disebut tanda, karena tanda itu, ada atau berdiam dalam representasinya, misal tanda malam, atau malam sebagai tanda), malam yang remang seolah kenyataan hidup yang sukar dipegang; malam yang tak pasti seperti nasib yang tak pernah bisa kita stabilkan.

   Ya malam tiba tiba jadi wakil setiap manusia masa lalu, untuk membuntuti dunia kalau kalau ia berhenti, dan tangan kita bisa memegang ujung bajunya. itulah yang kini kembali, ke malam malam raning, atau ke malam malam tokoh ciptaan raning. malam kembali setara dengan masa lalu kembali. apakah kau sudah lupa gerak afrizal yang menarik itu?

   Sitti perempuan masa laluku, datang kau padaku kini dan berlari-lari kecillah sitti melampai melewati waktu dengan rambut panjangmu itu. sitti nurbaya kembali lagi, samalah dengan malam kembali dalam gerakan awal sayap malam ini.


   "Malam kembali" membawa saya ke segenap arah, arah dari kitab langit bahwa turunlah kalian, tapi kelak kalian akan bermusuhan satu dengan yang lain. dibaca dari sebelum, sebelum adam dan hawa turun, maka kata kata ini bisa menjadi sebuah hipotesa, yang kelak kebenarannya terbukti. andai kitab suci kita lepaskan dahulu, untuk sementara waktu, adalah karya-Nya maka penulis kitab suci memiliki keunggulan sebab kata-kataNya terbukti ramalan yang benar, (bukan ramalan gaya marx yang meleset itu). benar yang dicatat oleh orang yunani dalam the iliad dan orang india dalam mahabharata.

   Kita tiba tiba bertanya: kalau antropologi benar, bahwa manusia indonesia asli sudah ada di tanah sunda sejuta tahun lalu, maka apakah yang dicatat oleh nenek moyang asli kita di daun lontar mereka tentang hipotesa yang direkatkan ke dalam kitab dunia ini? siapa penulis the iliad? pengarang telah mati man: tapi siapa penulis the liliad itu? homer? kapan homer ada di sana? tak pernah jelas dan pengarang telah mati man berlaku juga untuk mahabharata. atau kita lalu mulai tak tertarik siapa mengarang apa dalam pengertian mencari kebenaran yang tepat pasti, kecuali bahasa itu adalah bahasa dan dari film kita melihat priam suruhan dewa dewa dengan cara memberikan keberanian ke dalam hati sang raja untuk menemui archiles yang perkasa, itu juga bagian dari "malam", kisah kisah muram manusia seperti kini kisah itu kembali, dari cangkang sejarahnya hinggap di aku individual cerita raning, sayap malam.

   Kita dulu nulis apa? kita yang menulis "sekelas" the iliad dan the mahabaratha. atau semua itu memang sebuah rekayasa dunia dagang kapitalis, tapi memang ada kitab kitab itu: the iliad homer ada di tangan saya kini, (648 halaman). cerita cerita rakyat yang terpotong, ataukah ia dituliskan homer atau bukan, yang penting dia adalah bahasa dan kita menikmatinya. (tapi kita dulu nulis apa dalam kerangka hipotesa langit), yang rupanya segera diambil alih oleh "dua kitab besar dunia" ini.

   Pertanyaan seperti itu saya henyakkan saja ke dalam kesadaran diri, ia hanya menyisakan untuk kedua bahu kita ini saja: melecutnya bekerja terus menerus untuk membayar pertanyaan, semisal "kita dulu nulis apa". ada pun mutu kita tidak pernah tahu, kecuali semangat membabi buta untuk mengerjakan bahasa lewat versi yang kita angankan sendiri. "kita dulu nulis apa?" saya tidak tahu, yang kita mengerti adalah apa yang sedang kita kerjalan lewat bahu yang makin nyeri dari hari ke hari ini. nyeri yang indah untuk sebuah romantika dalam bahasa.

   Jadi "malam" itu adalah tanda yang kembali (lagi), dan karena itu saat awal kalimat cerita raning berbunyi "malam kembali", maka tanpa ia sadari dirinya telah mengisap sepenuh ruang dan sepenuh waktu dari segenap masa, karena "malam" sebagai tanda akan kembali, akan terus ada, sampai kapan pun. malam kelam remang yang bertukar dengan cahaya pagi yang putih, untuk jadi malam lagi setelah seharian lelah merangkak, masuk ke dalam remang lewat kata kata: takkah kalian tahu bahwa aku yang menarik bayang bayang sehingga siang berakhir dengan malam. maka dibaca seperti ini tak terasa pula bahwa raning sedang mengucapkan suara Tuhannya, bahwa kejayaan dan kejatuhan dipergilirkan seolah tubuh yang ditarik oleh bayang bayang. kemudaan akan ditarik ke kebinasaan, dari suatu putaran nasib yang akan terus menerus: malam kembali sebagai patah tumbuh hilang berganti: mati satu tumbuh seribu. kita muda lalu menua, kemudian mati.

   Tetapi malam sebagai tanda itu takkan kuat membentuk keindahan tanpa ditopang oleh yang lain, dalam hal ini adalah cerita karena ia prosa bukan puisi. nah tanda itu kini kita lihat cara ia mengoperasikan dirinya sebagai cerita, dan cerita ini pada akhirnya adalah bahasa. dan akhirnya pula, di atas cerita kita mula mula akan melihat bagaimana bahasa itu menopang ceritanya. di ujung bahasa ini adalah kata. pengelihatan kita berakhir di sini, di kata sebagai awal mula tanda itu mewujud dan dari sini pula pengelihatan awal tentang apa yang disebut dengan keindahan - atau kemaknaan, atau boleh bawa pengertian apa saja, akan kenikmatan membaca seni itu.


   "Gema keindahan dalam bentuk pendek dan panjang"
   Jadi kita kini berhenti di kata untuk melayani malam sebagai sebuah dunia, dunia di mana di dalam malam itu bersembunyi seluruh ruang waktu yang telah mengambil alih si aku, atau si aku yang telah berjalan di ruang dan waktu dan malam itu kini yang ia jadikan sebagai cermin tempat ia merenungi segalanya. Unik juga malam itu, begitu luas lebar tak bertepi, tapi kini terkurung hanya dalam lingkaran, penanda adalah "malam".

   Kita lalu menyadari bahwa malam juga bukankah adalah kata juga. sedang kini kita berhenti di kata untuk melayani malam itu, kita si aku dalam karangan raning, sehingga akhirnya kita mendapatkan kesimpulan bahwa sebenarnya yang sedang terlibat dalam permainan ini pada dasarnya kata, tapi saat kata itu keluar maka ia tak lain adalah jiwa, ruang ruang sadar berupa pikiran dan perasaan seseorang, seseorang yang kini, seolah malam begitu luas tak bertepi karena jiwanya telah menjadi bahasa, dengan kata sebagai penggerak utamanya. nah kata lagi, selalu begitu, kata, yang membuat ada ini melingkar.

   Kata itu menjadikan ada yang melingkar ini jadi indah, kata dengan rantai pendek dan menggemakan keindahan dari irama kependekannya (baca: kecepatannya), atau seperti yang sedang hendak kita kontraskan ini: kata dengan irama kepanjangannya sehingga gema keindahannya terasa memanjang, (kecepatannya agak tertahan). apakah irama pendek itu menambah keadaan makin mencekam, dan untuk apa kalau begitu mencobakan alternatif lawannya - membuat ia sebagai gema yang agak memanjang?



"Malam yang kembali lagi"

1.

"Malam kembali. Aku bertanya-tanya; sedang apa kau sekarang, apakah di antara ribuan detik yang kaulewati ada aku di dalamnya? Tanyaku dijawab tanya. Malam bungkam, enggan ditanya."

2.

"Malam kembali dalam hidupku dan aku bertanya-tanya: sedang apa kau sekarang? Apakah di antara ribuan detik yang kaulewati ada aku di dalammu? Pertanyaanku dijawab oleh ketiadaan; seakan aku merangkak di ruang dan di waktu tapi isinya adalah jurang yang diam. Kurasakan hidupku, pertanyaan yang mengubah dirinya, dari ketiadaan menjadi ketiadaan lagi, dan aku jatuh ke dalamnya. Malam selalu bungkam untukku. Ia seakan seseorang yang enggan menjawabku. Sedang aku selalu bertanya walau ia adalah malam untukku."


   Di depan kedua bentuk itu kini aku sungguh-sungguh memikirkan malam-nya raning. padahal tadi hanya berusaha mencobakan alternatif dari gema yang ditimbulkan oleh ujung tiap huruf yang dipakainya. tapi kini malam itu menyuruk ke dalam diriku, meminta aku ikut terlibat, aktif di dalamnya. aku telah mencobakannya, dan kini mulai melihat keduanya. ia bentuk tapi kedua bentuk itu terlihat pendek dan panjang. apakah keindahan itu dalam bentuk yang pendek atau dalam bentuk yang panjang. di bentuknya yang pendek aku terpesona oleh daya cekamnya. bentuk yang panjang itu caraku mengujinya saja, apakah keterpesonaanku kini berkurang atau tetap, andai ia dibentukkan secara lain.

   Aku tetap terpesona, menikmati malam yang seolah manusia di dalam kalimat pertama itu. karena terpesona, sesekali, aku belai pipi malam dengan usapan pelan-pelan. Kau, kataku, malam seakan malu dan ia menghindar dariku. Tak terasa malam itu telah berubah oleh cara raning menyapanya. Ia kini jadi manusia bayangan dan aku adalah tubuhnya. Jadi aku membelah diri dan menciptakan bayanganku sendiri. Malam jadi perempuan dan aku kembali memandangi wajah malam. wajahmu kataku. Ia tersipu ke balik malam, menyembunyikan dirinya ke balik malam. Muncul lagi dan seperti tadi: aku terpesona dengan keindahan tubuhnya yang menjadi bayang-bayang di dalam malam.

   Rambutnya hitam dan kadang kubelai rambutnya yang hitam. wajahnya putih dan kadang kubelai wajahnya yang putih. matanya sunyi. seperti tadi ia menghindar lagi: mundur ke dalam malam. aku ingin melangkah mengikutinya. tapi bagaimana cara aku mengejar bayanganku sendiri. sadar bahwa itu adalah bayanganku, aku diam putus asa di tempatku. kau, malam, kataku, mengapa begitu jauh dari hidupku.

   Rupanya "malam kembali" itu telah membuat sugesti, tempat kita bisa mengisikan apa saja, dari kisah sosial ke kisah individual adalah harapan dan kenyataan diri kita sendiri. Jadi itulah khasiat dari sebuah prosa atau puisi: ia sanggup membuat jiwa kita bangkit bergerak, menolaknya dengan cara menjemputkan dirinya secara lain. Tapi basisnya tetap: kekaguman kita kepada prosa di awalnya itu, dalam hal ini, di awal kisah yang dibentukkan oleh raning adalah malam kembali (lagi) itu.

   Seperti membuat penegas atau penyimpulan, kini aku tahu bahwa sifat malam yang diubah raning itu membuat ia seolah manusia, bahwa diri tiba-tiba menjatuhkan badannya ke ruang dan waktu yang tiada terkira. apakah malam? malam adalah seluruhnya: ia langit, ia bumi, ia apa saja di antara keduanya. tak mungkin kita bisa menggapainya, dan justru atau dari ketidakmungkinan seperti ini, saat ia dipaksa juga untuk dijangkau dengan cara mengubahnya jadi seakan manusia, kalimat kalimat awal itu tampil mengharukan. kita melihat aku di sana sudah tidak lagi berdaya, tapi masih juga dan akhirnya ia menghidupkan malam itu, jadi seseorang yang diajaknya bercakap-cakap. malam itu jadi mengecil, ke wajahnya sendiri, pindah ke dalam ruang, ke rumahnya sendiri. sekali lagi bergerak dan kini sempurna ada di kamarnya - di kamar aku, tempat ia mulai melihat wajah malam ke dalam kamarnya.

   Kini diriku pindah dan mulai kembali menyimak kalimat kedua raning dan kuhayati kata "masih", seolah kita mendengar suara orangnya atau suara orangnya itu telah jadi suara kita sendiri, tempat kata "masih" itu seakan memanjang, menimbulkan rupa rupa perasaan oleh "masih" terasa waktu yang tak berkesudahan, bahwa hidup tidak berubah di dalam "masih" sebagai penanda ruang dan waktu untuk kita. kuletakkan kalimat bagus ini sambil terus memandanginya. kukira mulai ada airmata tanpa suara di sini, di kata "masih" ini. airmataku dan airmatamu - airmata dalam kehidupan kita bersama ini.

   "Aku masih seperti kemarin, dan kemarin-kemarinnya lagi. Masih, aku bicara dengan siapa entah dalam tempurung kepala. Biasanya aku juga bicara dengan dinding kamarku. Sekarang sudah jarang. Kuperhatikan, dia makin dingin, semakin tua; penuh flek coklat kehitaman. Pun aku."

   Kubiarkan saja bagian ini di tempatnya. Menyadari ada kalimat yang mungkin bisa diubah, seperti ada kalimat yang biarlah ia begitu, karena ia indah dan karena kita tidak ingin menyentuh keindahannya. Biarkan saja ia mekar sebagai bunga di tamannya sendiri, dan, inilah yang kita lakukan pada kalimat kedua raning ini.

   Hanya menikmatnya, dengan cara terdiam memandangi seseorang di dalam bahasa ini, begitu rupa ucapannya, apakah kita akan melihat struktur kalimatnya? begitu rupa kata terpasang sebagai sintaktis yang mengirimkan semantis maknanya. kita ingin melihat apa lagi di bentukan bahasa seperti itu? 

0 komentar:

Posting Komentar