JSTH bersama Sastrawan Negara Malaysia, KemalaDi antara "bumbung" dan "R"Pastilah pembaca biasa akan tergoda untuk menimbang Gitanjali itu prosa bukan puisi, sebelum kita merenungi baik-baik apa arti limpahan yang kini tertahan ke kata puisi (lawannya prosa? kukira bukan), bahwa posisi "Bumbung" yang terpasang dengan "abadi", itu segera menimbulkan kepengertian bahwa ia bukan, walau tampaknya, kalimat yang lengkap itu (yang biasa disekat ke dalam novel atau cerpen - prosa itu).
Tapi baris baris yang terpasang sebagai puisi. ada tanda di sana adalah, sebuah gerak simbolik dari kata yang menjadi limpahan (Bumbung, abadi), gerak yang saling bertolak-tolakan. Bagaimana mungkin sesuatu yang abadi tapi seraya itu dikatakan, rapuh sekali.
"engkau membuatku abadi, begitulah kesenanganmu. bumbung yang rapuh ini", (engkau kosongi lagi dan lagi, lalu engkau isi dengan kehidupan yang baru).
sajak-sajak Kemala itu indah dan sangat dalamNah lihat ada pembalikan yang serentak bekerja pada bukan kalimat tapi baris baris Tagore. apakah yang hendak kita catat lewat gerak paradoksal abadi dan rapuh itu? suatu misteri perlahan-lahan terlah dibina di baris baris manusia yang diberi keindahan luar biasa dalam berbahasa ini.Tapi Kemala tak kalah luar biasanya. kita itu dalam hidup, yang peka dan melihat, alaf alaf dari abad abad bahasa berlangsung, terlimpah tercurah ke dalam genre manusia bersastra - khususnya ke puisi. pembinaan misteri, yang agak "terang" di puisi "di hadapan Al Quran" yang terpasang sebagai puisi pertama, segera dibawa Kemala ke arah misteri yang sama misteriusnya dengan gintanjali itu.
Pada Gitanjali kita segera bertanya: siapakah yang disebut "Engkau" itu? pada Kemala kita segera dibuat tercekat: R itu rindu, r yang meluncur lewat elaborasi enigmatik adalah batu. Batu ini batu pukau, kata Tardji dan kita mendapatkan sentuhan humor, tapi pada Kemala, kita diam di depan batu ini, kita hening: diam, di depan batu yang begitu jatuh lewat R tenggelam tanpa dasarnya.
" Paradoks Bentuk "
R itu Rindu, Bumbung yang Mati
Buku-buku banyak membawa warta kebersatuan mahluk dengan penciptanya, dan dengan teramat meyakinkan mereka memberi tahu kita akan kebersatuan itu. manusia fana, menghilang oleh telah bersatu kepada yang-tiada. usaha yang amat memayahkan, menghilangkan diri itu. Tapi lihatlah sehilang-hilang mereka, kebersatuan yang hilang itu diterakan dengan bahasa. Akhirnya bentuk juga, atau bentuk lagi. Kita mengakes bentuk, diakses bentuk. Bentuk ini yang membuat celah, dari ilustrasi setiap apa yang dikatakan bersatu itu,
Gitanjali dan 'Ayn melakukan penyatuan itu seperti sebuah buku yang menggambarkan dari mistis di mana, seseorang di dalam bahasa terus berusaha menggapai penyatuan dirinya. Apa yang jarang kita pandangi bahwa, proses itu terjadi lewat bahasa, atau sekurang-kurangnya, ia suatu pengalaman yang kita peroleh lewat bahasa. kita membaca bahasa, bukan melakukannya langsung. Tapi andai kita melakukannya langsung, mengeluarkan aku dalam bahasa dan menjadikan aku-fakta ini ke dalam upaya upaya bahasa itu, apakah yang terjadi? hilangkah bentuk itu?
Kita bisa menguji setiap bahasa lewat acuannya, pun kehendak untuk penyatuan itu, bisa kita cobakan kepada diri kita sendiri. Saya membawakan kutipan dari buku DR. Keith Foulcher dan mulai melihat apa yang jarang kita lihat ini, saat atau setiap kali bahasa diterakan mengarah ke fana.
"Dalam puisi Tagore", kata Foulcher, "Metafora dua orang kekasih amat dekat dengan bentuk dalam nyanyi sunyi. dalam Gitanjali, Tagore menulis puisi cinta sebagai perlambangan pengertian mistisisme. Ada pengaburan garis garis antara kekasih sebagai Tuhan atau sebagai manusia."
"Pengaburan" itulah yang kelak, diterakan oleh seperti yang disematkan kepada musyawarah burung Attar, akan kebersatuan mahluk dengan penciptanya.
Saya memang mengelilingi Tagore dan Kemala lewat Amir Hamzah, yang begitu khas upayanya hendak bersatu.
Kata Foulcher lagi,
"Keunikan puisi Amir yang matang nampak sepenuhnya seperti umpamanya dalam sajak 'barangkali'. Sajak ini menyajikan rangsangan persatuan mistik dengan Tuhan dalam Samadi, namun berakhir dengan tanggapan ironis tentang hubungan antara Samadi itu dengan perjuangan duniawi yang mendasarinya."
Saya menurunkan Amir Hamzah, tapi melepaskan bagian-bagian yang disebutkan Foulcher sebagai "ironis" itu, sebab hanya ingin memperlihatkan "kebersatuan", yang kelak kita pindahkan ke Tagore lagi dan Kemala.
"Engkau yang lena dalam hatiku
akasa swarga nipis-tipis
Yang besar terangkum dunia
kecil terlindung alis."
Inilah paradoks itu: seraya persatuan itu tercapai (engkau yang lena dalam hatiku), tapi seraya itu pula persatuan itu terlempar kembali ke luar. ia terlempar keluar karena upaya persatuan itu datang bersekat-sekat, melalui tingkatan kata, yakni sebelum "Lena" itu tercipta. Tingkatan atau sekatan itulah yang meruangkan kembali, apa yang hendak dipersatukan. Seolah-olah persatuan itu dibatalkan kembali, justru oleh kehendak lewat bahasa, tapi bahasa itu yang membuyarkannya lagi.
Apakah kita kini telah sampai, ke suatu keadaan di mana, sebenarnya bahasa itu tidak cukup kuat mewakili kepengalaman manusia yang "memang adakah, bersatu dengan tuhannya"? sebab saat bahasa ditarik ke sini, diminta menceritakan, pengalaman itu sendiri justru menarik bahasa itu keluar lagi. Tertariknya bahasa keluar, itu sekaligus membawa serta aku yang hendak tenggelam (dalam Lena) itu.
Pengalaman atau upaya hendak bersatu ini juga yang menjadi dasar perbandingan yang dilakukan oleh Dr. Lalita Sinha saat melihat Gitanjali dan 'Ayn, bahwa Lalita membawakan kedua karya itu di bawah pengelihatan mistisisme, untuk melihat perbedaan dan persamaan di antara kedua karya lewat keadaan objektif, akan keindahan dan kekuatan mereka.
"The basis of comparison discussed above may be applied to the titles of both poems. Therefore the following discussion attempts to explicate the link between these two works to consider the possibility that both convey a shared theme, namely the theme of mysticism. Broadly speaking, the application of thematology to the textual comparison hopes to highlight similarities and differences that exist between the two poets and their different cultures, and at the same time, the underlying truth, beauty, and strengths in the poems."
" R itu Rindu - Bumbung yang Rapuh "
maka siapakah Engkau itu?
Engkau itulah sang pencipta, yang dibawakan oleh para pujangga itu lewat jalan, upaya payah untuk bersatu dengannya. rasanya tak bisa, kita mengeluarkan suatu kesimpulan bahwa, dari karya "utuh" mereka itu keluar pula kebersatuan "utuh" yang menjadi kesimpulan, bahwa pola bersatu itu tunggal nadanya. Yang mungkin terjadi, adalah pada setiap momen puitik persatuan itu bergaya dalam rupa-rupa nadanya.
Tapi selalu, ia adalah suatu gerak simbolik, dengan benda-benda dunia, jadi tubuh lagi, bentuk lagi, yang diminta partisipasinya untuk membantu dia-tubuh agar menghilang ke dia-bukan-tubuh-lagi. Kalau bukan tubuh, lalu dia itu apa? pada Kemala kita melihat, bahwa ada yang tak terkatakan dan yang tak terkatakan, itu mendiversifikasi lewat gerak 'ayn (ke, bukan mim) tapi R, - R itu rindu. Jadi telah dibawa ke arah pindah, alfabetis Arab itu ke alfabetis bukan araf adalah lingkarang di mana r adalah anggota dari huruf-hurufnya.
r mungkin rahasia seperti mim dan 'ayn (Lalita memecah-mecah meaning 'ayn ini, dalam makalahnya). baiklah kita katakan di sini, akan gejala atau fenomena menghilang, yang menempuh atau ada, atau kita buat ada menghilang seperti pernah, dilakukan saat seorang lelaki dari perancis membuat menghilang pula seorang pierre oleh ia tak mengalami perjumpaan dengan dia yang tengah ditunggu seseorang yang lain.
Jadi aku bahasa itu kuasa menghilangkan aku bahasa yang lain. tapi ini adalah aku kata yang menghilangkan dirinya, lewat kata yang bergerak mundur, melucuti satu demi satu dirinya demi satu persamaan fananya diri dengan sang pencipta, tapi digerakkan ke arah lain, katakanlah arah perbedaan dan itu mungkin, apa bila kata itu bergerak mundur, melepaskan huruf demi hurufnya seperti upaya Kemala, melepaskan Mim dan 'Ayn untuk menyisakan saja r (r itu rindu, r itu rahasia kau dan aku, kita dan dia, alam semesta dan pencipta yang terus melakukan distingsi).
Mim itu tinggal r, kini, atau 'Ayn itu tinggal r, kini. tapi pada alfabatis aslinya, huruf Arab, barangkali Mim itu adalah hapalan yang dimintakan kepada kita akan satu huruf bukan "m-i-m atau 'a-y-n), tapi satu huruf Arab tapi terbaca lewat tiga huruf "kita" ini. Alhasil r itu tidak mundur dari tiga huruf, tapi ketiga huruf itu memang mundur, mengungsikan diri mereka ke sebuah cikal bakal pembuat huruf alias titik, yang ditarik menjadi garis agar "gambar" itu tercipta.
Kita mencuri gerak mundur ini semata untuk mengimbangi model dia yang menghilang dan kita (yang berusaha pula) menghilang saat mengejarnya - fana itu. maka kehilangan itu kini sempurna, atau, kita berada dalam keadaan paripurnanya misteri, keadaan total di mana dia yang tak kita pahami itu, bergerak lewat gerak mundur dari fasilitas kata ke suku kata dan akhirnya huruf ke titik dan sampailah, titik itu juga menghilang (ingatlah titik awal big bang dan titik sebelum big bang adalah, tiada, nothingness dalam bahasa eksitensi itu).
Sampailah kita ke sini, ketiada kepengetahuan kita lagi. (ingat sajak lia amalia: maka sampailah mereka kebagian mengejar matahari). Ajaib, ketidapengetahuan ini masih juga kita akses dengan kata bahasa - yang saat diminta mundur, bukan lagi hanya meninggalkan suku kata tapi huruf, bahkan menghilang lewat titik yang tiada lagi kita mengerti. Dengan demikian apakah lagi artinya "bumbung" itu, atau "batu", batu misterius sebagai perpanjangan dari r - r itu rindu, tapi menemui lapisan lapisan bentuknya sebagai, r itu rahasia, rahasia batu yang ditenggelamkan terus oleh Kemala ke dasarnya yang tak pernah ada jawabnya (di baris baris puisi Kemala ini).
Sebab baik bumbung atau batu, itu suatu peragaan belaka dari bentuk yang kita mengerti (seperti dunia ini), tapi terus menerus menyimpankan misteri dalam dirinya (seperti dunia ini), peragaan yang saat diminta mundur bukan saja telah menghilangkan bumbung dan batu, tapi telah meniadakan kedua benda dunia itu sama sekali.
Apakah ini gaya terbalik dari gerak maju mengejar - fana itu? inikah fana yang menemui awalnya kembali itu? huwalawwalu hualakhirku - dialah yang awal dan dialah yang akhir. Dia batu dia bumbung ini fisik (dialah yang zahir), tapi sekaligus batin, karena keduanya kini telah bermain sihir, sempurna menghilang dari pandangan. Menakjubkan, saya kira r itu rindu adalah bumbung yang abadi ini.
suara sayu Kemala
suara sayu Tagore
Saya tidak akan pernah ragu-ragu untuk berkata bahwa inti sastra adalah, bagaimana ide/pikiran itu mendapatkan bajunya adalah perasaan. pengetahuan kita tentang roh itu mini, tapi jejaknya, kalau ia itu adalah jejak dari roh, maka jiwa itu adalah jiwa berbelah dua: pikiran dan perasaan. Ide dan rasa. keampuhan karya sastra itu terletak di sini: di pikiran yang diolah oleh "rasa yang dalam" (baris Sutardji).
Apa yang didemonstasikan oleh Kemala lewat r itu rindu, bukan saja setanding dengan Tagore tapi juga ia itu sound yang unik. kesayuan Tagore (sastra yang tinggi dan dalam itu, tak mesti sastra yang digayuti oleh perasaan sayu. Tapi bisa juga sebuah satire yang mendatangkan humor, pun bahkan humor hitam yang getir). Tetapi rasa sayu itulah yang membuat kita telungkup dalam dunia ini.
Ia halus, ia samar, dan kesamaran serta kehalusan ini, tak pula mungkin tercipta manakala pemilihan diksi kata simbol gagal diatasi oleh para penyair. Sebaliknya batu itu, sungguh mensimbolik seperti bumbung itu: ia gelas, ia tabung yang diisikan. Maka bila Tagore mengisikan, sebaliknya Kemala bergerak, berenang mencemplung ke luar: batu jatuh tanpa dasarnya lagi.
Maka kita kini menghadapi dua putik imaji. imaji tubuh yang mengecil ke batang bumbung, imaji tubuh yang melepaskan dirinya dari badan dan kini menjadi batu. tapi batu ini, tubuh aku lirik Kemalakah? jelas bumbung itu badan aku lirik Tagore yang telah melakukan permutasi, dari aku penyair ke aku bahasa, aku lirik itu.
Aku Kemalakah aku batu yang kini, diminta bergerak terus menerus, belum lagi kita sempat mengedipkan mata untuk melakukan identifikasi atasnya (bait ke bait dalam puisi itu), ia telah melejit lagi ke kedalaman yang lain. terus begitu sampai puisi Kemala berakhir, batu itu membalik ke r itu rindu dan sekali lagi membalik untuk kini menghilang, lenyap dari pandangan bersama r yang telah kita minta mundur jadi titik dan titik, di sini, fana jadi tiada.
Alangkah payahnya kita di depan kata-kata itu, payah yang penuh suka cita, bahwa para pujangga itu sungguh, telah membuat kita terlena dan kita tak kuasa, menarik diri mereka (diri kata itu), menyulapnya menjadi sekadar ikatan-ikatan di luar diri mereka, sebab kita, bersama kata-kata itu tenggelam ke dalam, di dalam - alangkah payahnya kita hendak keluar menemui-menemukan ikatan mereka, sebab ikatan-ikatan mereka itu terus menarik kita ke dasar, tapi dasar ini tiada sebab jauh di kedalamannya, kata itu mekar ke mana mana, seolah tiada sudah-sudahnya dan kita pun ikut mabuk lewat "mengenangMu" dalam nyanyian persembahan yang bergerak ke sana ke mari memekarkan diri. Inilah untuk sementara, kata para penarik dalam ke luar itu, bahwa para pujangga telah memegang bahasa paradoks dalam setiap nyanyiannya.
Benar-benar kita tak ikhlas pergi, sebab dari dalam diri - diri kata kata itu, menarik-narik lewat kaki dan tangannya (bahasa itu), membuat kita tak berdaya keluar untuk muncul lewat ikatan (bukan tidak mampu, tapi kita terpesona), bahwa daya kata para pujangga itu telah menyihir kita untuk, sudahlah berdiam di dalam kata ini saja, tak usah muncul keluar tapi bersamaku ikut mengenangNya menjadi batu yang bergerak ke bawah, makin ke bawah, batu yang ditarik oleh Gitanjali lewat gerak retak dalam bahasa. (apakah ini beda Gintajali dengan 'Ayn itu). bahwa ada suara yang mengiyakan tapi seraya itu pula dibatalkan. (apakah ini persamaan dengan 'Ayn itu), saat Mu- itu kini ditarik ke pembatalan pengertian tapi dalam gerak simbolik yang lain adalah R itu rindu, lalu meluncur lagi menjadi kecil, menjadi titik yang turun ke bawah lewat kata batu. (apakah ini isyarat bahwa di kitab itu, ada gerak simbolik dan kali ini langit yang bersyair untuk kita: sungguh di antara batu batu itu ada meluncur air tanda bahwa mereka patuh dan cinta pada Tuhannya).
Kualatkah saya andai menarik ke interpretasi bahwa batu itu adalah hati kita manusia, dalam hal ini hati Kemala, yang meluncur lewat air bahasanya yang bergerak dari bait satu ke bait lainnya, yang mengikuti atau similiaritas dengan gerakan Gitanjali. Sungguh diri kurang tertarik dari mana sebuah kata berasal atau persamaannya - seperti yang diilustrasikan oleh Prof. Abdul Hadi, saat sang penyair yang berkekuatan penuh dengan kata katanya ini juga berkata, bahwa penyatuan mistiko itu ada di bahasa apapun, kita lebih suka berdiam, dengan cara berendam. kita juga kurang gemar muncul lewat ikatan ke atas, tapi terus ikut ke bawah sebab atas ikatan itu, telah kita bentukkan lewat kata iman dan kata ingkar dalam bahasa dan atas dua kata ini pula, kita ikut tenggelam bersama batu misterius Kemala yang ditarik ke gerak meniadakan mengiyakan oleh Gitanjali berikut ini.
"Aku tak tahu bagaimana engkau berkidung, duhai tuanku. aku pernah mendengarnya dalam kediaman yang hening.
Cahaya kidungmu menerangi dunia. Nafas dari kidungmu berembus dari langit ke langit, alunan kidung kudusmu menembus segala penghalang kami dan engkau, dalam aliran serupa anak anak sungai.
Begitu rindunya hatiku ikut dalam kidungmu, namun aku gagal mengeluarkan suara. Aku hendak berkata, tapi kata kataku tidak mampu menembus kidungmu, aku menjerit pilu. Ah, engkau telah membuat hatiku terjerat jala-jala musik sucimu tuanku."
Otoritas kata yang mekar, yang datang dari pelimpahan tertahan ke dalam, tapi terlontar lagi ke luar - ke penyair dan ke kita pembaca, membuat saya telah mengabaikan saja kehendak teks terjemahan Gitanjali, bahkan di mana perlu, mengabaikan Tagore itu sendiri - oleh daya pukaunya telah memancing jiwa retak bahagia kita juga, untuk ikut berkidung dalam gelombang teks dari dalam. mekarnya diri pembaca ini, memang telah melampaui ilmu yang hendak mengurung, setia pada teks. Tapi apakah bentuk dari nama kesetiaan lagi kalau, bahasa itu, tengah berjuang sekuat tenaganya untuk membahasakan apa yang tak terbahasakan.
Kita melihat wajah polos lugu socrates di sini, aku tidak tahu, katanya, aku tidak tahu apa apa, katanya. sebuah ketidak tahuan yang kelak, dengan sama pilunya telah dipasang oleh Albert Camus sebagai pembuka novelnya. Bahwa orang asing itu simbolik diri, sehingga ibu bukanlah, atau kita bisa luaskan atas otoritas mekarnya kata, ibu fisik lagi tapi dunia alam semesta ini yang telah menjadi ibu dengan segala teka tekinya. Atas semua itu, di atas tubuh ibu yang telah mati, sang ateis teistik tanpa disadari ini berkata, aku tidak tahu - aku tidak tahu kapan ibu meninggal dunia. Mereka mengirimkan telegeram dan telegeram itu tidak jelas. langit mengirimkan kabar dan kabar langit pecah dalam dua kata yang saling mengoposisi: kata iman dan kata ingkar.
Kemala menarik ke arah luar biasa dari sebuah gerak batu yang jatuh ke dasar tanpa kedalamannya lagi. Itu juga bentuk dari, ketidaktahuan kita atas segalanya ini walau, langit telah menurunkan kabar dan tampak kadang kabar ini begitu benderangnya semisal godaan kata di setiap bahasa an nur itu, cahaya. Cahaya yang dibawakan ke gerak simbolik menuju ketidaktahuan oleh Kemala dari sebuah gerak batu yang meluncur lewat puisi nomor duanya itu.
19 Januari 2014 pukul 15:25
R itu Rindu, Bumbung yang Mati
Apakah yang hendak kita katakan dengan puisi Kemala? barangkali kita mula-mula terpesona akan kelembutan yang mengalir tapi, tahukah kita kelembutan itu dibangun dari sebuah diksi adalah batu, batu konkret tempat di mana rindu yang abstrak itu berakhir. R itu rindu, seolah-olah batu yang tak juga kunjung kita mengerti hingga Kemala, seperti Tagore di atas itu - tapi tidak Sutardji dalam nadanya dan alangkah menarik, kalau kita diperkenankan untuk membandingkan tepuk menepuk di hati para penyair itu, misalnya bagaimana posisi aku lirik dalam batu Sutardji bekerja menangani dunia rindunya, saat kita perbandingan dengan bagaimana pula batu hati tagoe dan Kemala ini bekerja menangani dunia batu yang sama. bumbung yang mati itu batu juga, tapi dengan nama yang tengah mengubah dirinya lewat permainan halus tak terkatakan, kalau kita tidak masuk menghilang ke dalam permainan metamorfosa, sebelum tahu dan berakhir bahwa diri adalah, seolah batu yang bertanya tanya akan, ke mana induk batu bernama rindu ini pergi.
Yang saya tuliskan ini masih dalam wajah "Mengenang-Mu" - ke manakah Ia itu pergi atau ke manakah kita ini akan mencarinya? kucari dikau kucari kucari dikau kucari, kata Sutardji atau, kata Kemala, Firuzia Firuzia dan ataukah Firuzia atau kucari dikau kucari, adalah sebuah gerak dari lambaian di mana arah kuasa berbalik balik: kitakah yang tengah mencariNya atau Ia itu yang tengah masuk menyusup ke hati kita mahlukNya. Aku ini lebih dekat dari urat lehermu dan itulah, keadaan yang dikatakan oleh Abdul Hadi saat menggabung dengan sekali sontekan, bahwa Yunani itu seperti timur tengah juga, bahwa orang di sana berkata akan namanya, unio mistiko, penyatuan dari, bumi dan langit di mana bumi adalah tubuh kita yang dibulatkan dan dimampatkan. Naik memanjati langit untuk bersatu dengan langit. Tapi semua adalah kisah kepayahan. sehingga rindu yang telah dipisahkan dari tubuh induknya - r itu rindu, atau inilah kode bahwa badan itu memang tengah tercemplung ke dunia, tapi di sinilah pula paradoks besar itu mengemuka: Aku ini lebih dekat dari dirimu wahai dik Hudan, kata Tuhan. Kata Kemala: R itu rindu dan segera rindu ini terhubung ke arah batu yang tak terjelaskan. Agak mudah saya kira menghayati permainan mendatang dan menghilang ini.
Di depan r itu rindu, saya mencari cari kata yang paling putus di sana, yang paling mematikan dengan membawa getaran getaran oleh luluh lantaknya hati ini dengan kidung persembahan Kemala.
Agak susah saya mencarinya karena diri tengah, menghadapi batu sebagai kata iman sehingga bolehlah kita berkata inilah batu iman - pasti ia bukan batu ingkar. Batu iman. Susah karena alirannya begitu tiada putus, bergerak turun dengan kekuatan emosi yang begitu merata dalam pecahan pecahan yang berserakan dalam bait bait Kemala. Darimana kita akan mulai setelah mabuk dipukau batu iman Kemala ini? Dari aliran musiknya? Dari aliran di mana pergerakan tanda-batu-rindu-jarak satu ke jarak lainnya? Darimana? Saya kira terserah dari mana saja, hasilnya akan sama juga: Diri tengah berhadapan dengan misteri dari R itu rindu, yang mengikuti alur turunnya sebagai puisi, mengikuti tandanya.
Kita berkata lewat tanda, tak pernah, kita bisa mengabaikan tanda. tapi tahukah kita bahwa Ia telah membawa kabar akan tanda itu. tahukah kamu segenap ada ini adalah tanda kehadiran diriKu. Jadi pada pengelihatan dari bumi, saat kita berkata lewat tanda ( indu-batu pada Kemala, Bumbung yang Mati pada Tagore), maka itulah ajaran langit lewat bahasa genetik (daya bahasa, kata Prof. Chomsky dan kata kita juga) yang direndamkan ke dalam diri. Kutiupkan rohku dan roh yang ditiup ini seolah, memanggil langitnya kembali saat, lahir dan hadirnya seorang penyair - Kemala dan Tagore itu, yang kini membalas tanda yang dilepas dari langit dalam posisi, dia-kita benda jatuh yang ingin kembali ke langitnya lagi.
Tapi inilah tanda general, yang kini bernama puisi dan hitung hitungan tanda dalam term puisi pun dimulai: bagaimana cara tanda via kata ini mentransformasikan diri mereka, itulah yang kini kita baca dengan jalan, terus diam hening di depan bahasa para penyair, bahasa yang telah berlipat lipat akan langit misterius yang dikatakan lewat cara rahasia - rindu itu mula mula dipotong Kemala: r ia lepaskan oleh r itu kini menjelma bukan lagi polisemi kata tapi polisemi huruf dan arti pun berlipat lipat saat keadaan terpotong - tugas kita menautkannya kembali, seraya sesekali keluar dari ikatan ilmu untuk, ikut bergerak dari dalam terlontar bersama, kaum pujangga ini.
20 Januari 2014 pukul 3:59
* R itu Batu *
Aku bergerak menjadi "bumbung" dan kini menjadi "seruling bambu" dan inilah metafora Tagore bahwa dirinya - dirinya yang penyair itu, telah pindah menjadi diri aku-bahasa yang kuasa menciptakan aku-citra, aku-kita-manusia tapi persatuan walau, atau mesti, ia kita acukan ke aku-yang-mewakili - aku itu hidup dalam pikiran kita pembaca, mewakili diri kita pembaca juga. Aku-bumbung aku-seruling. Ada cukup alasan untuk mengatakan bahwa itulah unio-mystica, kebersatuan aku-mahluk dengan aku-penciptanya lewat jalan permainan mendekatkan seperti itu: Sang pencipta kini menjadi suaranya, melagukan dirinya sendiri tapi melalui institusi wakilNya di bumi. Kita boleh merapikan tingkatan-tingkatan yang kita mengerti lewat buku-buku akan keberadaan suatu agama di india, melalui Tagore yang "menjernihkannya" lewat suatu pemisahan aku-diri dan aku-Dia - "Engkau (yang) membuatku abadi" itu. Walau mungkin saja di tengah pergerakan Gitanjali ke depan - mekar di buku kidung Tagore, Engkau itu mengubah-ngubah wujudnya (suatu ketika ia jadi Engkau yang adalah nona, gadis yang disapa Tagore penuh kesenyapan hati).
Posisi aku-lirik Tagore itu mula-mula aku yang bersatu dengan diriNya lewat musik nyanyian: Ia menyanyikan alam saat mengenang Aku-Engkau dan memang, Dia begitu abstraknya. Kita boleh membangun kuil, masjid, gereja, gapura, atau bahkan membuatkan patung bahwa itulah diriNya menurut angan-angan imajinasi kita. Tapi Dia sendiri tak ada dalam dunia ini. Tagore yang halus atau para penyair, atau para mistikawan, atau siapa pun jua yang hendak mencariNya akan terus menggapai-gapai lewat segenap indranya. Di dalam batin, permainan itu, tak terkomunikasikan, hanya di dalam pikiran dan perasaan manusia, yang tak kita ketahui dari luar. Di dalam pertanda itu sendiri petanda yang mabuk kebahagiaan. "Hatiku yang kecil mabuk kebahagiaan merasakan sentuhan abadi kedua tanganmu dan mulutku mengucapkan kata-kata ketakterhinggan", kata Tagore. Inilah dia kata-kata kitab langit itu: Dia yang tak terbahasakan. Citra diriNya di dalam dunia itu meliputi setiap sesuatu.
Olehnya tak terhingga, tak suatu kuasa ada pun yang menyerupai dirinya. Tapi toh kita berhadapan dengan ada-bentuk dan akhirnya, keadaan the beyond ini, adalah kata Tagore itu: ketakterhinggan. Manakala yang batin keluar dan kini menjadi yang bahasa, maka yang tak terkatakan, aku yang meliputi segala sesuatu, di atas segala sesuatu, tak terbahasakan, kini adalah, atau telah, menjadi kata kata Gitanjali: ketakterhinggan. Bahasa maju terus bernyanyi tapi sejauh atau ke mana pun ia maju, yang menunggunya adalah suatu ketakterhinggan. dia tetap menjadi misteri tapi aku pujangga itu terus mengejar dia yang misteri.
Jadi akar dan sumber kesayuan ini dari sini, dari kita yang terus memanggil-manggil dirinya tapi dia menghilang. Suatu hari dia itu ada, kata buku karen armstrong mengutip puak puak masa lalu, tapi akhirnya dia telah terlalu jauh dan akhirnya, dia pun menghilang.
Para pujangga memanggilinya kembali. lalu lahirlah nyanyian kidung kesayuan, sebuah upaya menembus misteri lalu lahirlah perasaan kebersatuan. Itulah pula yang dikerjakan oleh Kemala lewat 'ayn, suatu upaya bahasa yang mendayakan kata-kata kudus saat menyapanya. Bahasa Kemala itu penuh kesucian diri aku-kata saat menyapa Dia. Kalau Tagore menciptakan aku yang berelasi langsung dengan engkau dan itulah pembuka kitab kidung persembahannya, maka Kemala membuka kitab 'Ayn-nya lewat sebuah kitab kekasih hatiNya adalah Al Quran.
Di depan mukaddam ini, dan itulah dia: mengenangMu, dia yang adalah R (itu) rindu. dia yang dirindukan, tapi sekaligus dia yang merindukan. Tuhan itu keadaannya kini terbalik dari suatu visioner Amir Hamzah: bukan semata kita yang rindu rupa tapi, dia juga rindu manusia. bukankah suara dari dalam itu adalah suaraNya, rembesan dari bahasa iman, dalam bentukan ilhamNya kepada hati hambaNya - dalam hal ini, hati Kemala, atau hati Tagore, atau hati Sutardji Calzoum Bachri yang memberi bentuk unik terhadap batu Kemala (puisi diciptakan oleh Kemala dan Sutardji, di tahun 1970-an). Suatu tahun yang dikatakan mereka sendir, penuh upaya hendak melepaskan diri dari cita rasa Angkatan 45.
Versenya bukan versi Chairil Anwar lagi, kira kira kata dami n toda, atau kata Sutardji sendiri. Bergeraklah kata menemui segenap eksperimen diri: kata dibawa lepas dari keadaan denotatif pengertian, menjadi batu misteriusnya sendiri. Membentuk gelombang nyanyian juga - kadang bergerak begitu rupa, jadi "nakal" - seolah nothing, jadi kerinduan yang tak fitri, seolah kata ingkar sebelum kita tahu itulah ragam dari hati manusia yang, tak kunjung kuasa menyatukan diri dengan tuhan. Inilah pokok soal kita itu: manusia bahasa hendak bersatu dengannya. tapi dia terlalu jauh untuk kita raih. Kemala juga hendak bersatu dengannya. Tapi dia menghilang. yang tinggal hanyalah jejaknya.
Maka meletus terus r rindu itu. rindu hati, rindu rasa, rindu rupa. rupa tiada oleh itu, sang penyair memilih yang tiada itu adalah batu. Batu ini yang terus menerus, dijadikan nyanyian kata iman yang menenggelamkan dirinya serupa batu. rindu hati, jadi rindu batu. Kita lalu berbicara tentang lompatan, atau pergerakan, dari tuhan yang disapa lewat metafornya. dan semua itu melibatkan kata. Katalah yang menjadi partisipan penuh dalam kegiatan hati bahasa saat menyapa tuhannya, dalam kerangka, unio mystica itu.
Saya kini menjadi kata yang lain, ikut mengiring dari dalam, menyimak kata Kemala adalah r itu rindu, yang mekar menjadi r batu yang tenggelam ke dalam badan - ketiadaan. dunia.Aadalah bahasa.
R itu Rindu
*Pendekatan dan Penjauhan*
Selalu apa yang menarik di bahasa itu adalah kelembutan, suatu aliran kata kata yang menemui sekatnya sendiri, oleh ia itu pada dasarnya penampung yang menjadi penampang untuk menjadi penahan letusan kerinduan hati manusia. Boleh kita berbicara tentang linguistik sebagai kaidah dalam bahasa, tapi persis linguistik inilah yang bukan dijadikan kaidah oleh para pujangga itu, kecuali bahwa ia mesti ikut, mengalir, menjadi aliran rindu (Kemala) yang tak tertahankan ini. rindu yang tak berkesudahan, dan akibatnya kata pun menjadi kata yang berjatuhan dalam bahasa.
Kita kaum ilmuwan ini, atau kita kaum kritikus atau kita kaum apalah saja hendak disapakan kepada penikmat para pujangga ini, boleh memberikan suatu pengertian, sekat kita sendiri, katakanlah sekat dari suatu pengertian dengan dua nama: pendekatan dan penjauhan. Tapi semua itu bukanlah datang dari kita yang membaca, tapi dari bahasa itu sendiri yang mula mula meregang lewat penjauhan dan pendekatan. Apa bila meletus kata rindu maka itulah saat kata jauh mendekat sebagai, dia yang jauh yang tak teraih oleh mata fisik tapi tampaknya (ia-kah?) teraih oleh mata batin atau mata akal.
Lalita Sinha telah mengucapkan mata eye ini katanya di dalam makalahnya. itulah mata yang melihat bahwa r itu rindu artinya ia begitu jauh. tapi sekaligus terjadi gerak menarik ke dalam, ke hati manusia dan kini terlontar keluar, keluar dari dalaman, dari batin. Bolehlah kita di sini bermain interpretasi akan surat yang membawa kepenuhan ayat lengkap dari paripurnanya dunia ini. Akulah yang zhahir dan akulah yang batin.
Lengkapnya. akulah yang awal dan akulah yang akhir. Akulah yang zahir dan akulah yang batin. kesudahannya: aku inilah yang maha tahu. kesimpulannya kita tidak tahu apa apa. Oleh ia walau zahir batin di dalam jiwa, tapi rupanya begitu jauh karena itu, ia itu ada dalam keadaan sepenuh jiwa Kemala: r itu rindu. ia jauh. tapi paradoks telah terjadi disini: bagaimana mungkin kalau ia itu jauh tapi ia kuasa dikatakan lewat bahasa. Tak mungkin tanpa yang jauh itu ada dalam hati, sehingga kita menghayatinya dan akhirnya meletus sebagai bahasa penuh kerinduan diri.
Saat terayun dalam hati melihat dunia ini, segalanya samar, halus, abstrak, tapi sekaligus seolah segalanya ini ada dalam keadaan kata Amir Hamzah: tertangkap terlepas tangan. Itulah saat hati manusia mendayakan dalamnya adalah bahasa, begerak ke luar membentuk r itu rindu. Apakah r itu? rahasia. Rahasia luar alam semesta yang dibawa masuk menjadi r rahasia diri. Jadi r itu diri.
Tapi saat dari dalam ia terlontar keluar, r itu jadi rahasia alam semesta yang membisu saat kita bertanya - dulu orang bertanya dan kini kita bertanya. seolah segalanya telah jelas, sebelum kita tahu bahwa kita tak tahu apa apa.
Logika itu logis, kata saya bermain mencobakan parafrase dalam puisi akan bahasa Kemala yang misterius ini. sebelum kenyataan menumbuk kita lewat jalan absurditas. Sebelum kita tahu bahwa, apa yang kita anggap logis itu bukanlah keadaan yang tercerna, terang benderang di bawah akal.
Olehnya alangkah benar dan menarik satu kata yang mekar di hati pujangga dari Malaysia ini. ia seakan mengisap sebait atau seluruh bait Gitanjali, lewat kidung yang begerak pendek, menyimpulkan. Bahwa apa yang engkau nyanyikan itu, Tagore, adalah rahasia belaka dari apa yang tengah melanda kita berdua ini. r itu rindu kata Kemala bergerak makin misterius lewat permainan tingkatan atas keadaan yang ia wakilkan kepada batu untuk menjadi juru bicaranya. diri menjadi batu. Batu menjadi batu. Segalanya adalah demi suara yang meletus dalam hati, rindu, tapi dalam bentukan yang memang tak teraih - rahasia.
apakah kita tahu rupa Tuhan?
mengapa Tuhan.
apa dunia ini mengapa dunia ini.
Kitabnya terbentang jelas tapi apakah kita tahu apa dan mengapa kitab itu? pucaknya: apa tuhan itu. mengapa dia itu. Apakah tidak ajaib dia itu. Ada dan lalu bergerak dalam paradoks besar lewat kata yang mekar dari penjauhan dan pendekatan: baik buruk. Iman ingkar. Manusia belah ke kanan belah ke kiri. Semua itu tiba tiba diisap dan dihentikan oleh kata kata Kemala: Rahasia semua itu kita rindukan. Tapi jawabnya bergerak bukan main tak teramalkan: ia jadi batu yang mekar terus, menghilang saat hendak ditangkap, pun atau, oleh Kemala.
r itu rindu jadi menganga sepenuh langit dan bumi ini.
Saya kini pelan pelan keluar dari kesimpulan atau penjauhan yang kini mendekat ke dalam pendekatannya adalah bahasa, bahasa dari r itu rindu. Bagaimana kata di sini bisa bekerja, lewat level puisi, tapi sungguh kuasa mengisap alam raya seraya melontarkannya kembali. di depan baris baris Kemala yang kita ikuti dari diri penyair, yang membuat sekat sekat bernama bait, saya ikuti kata kata yang tak teramalkan apa maksudnya. bahasa itu seolah hati kita sendiri: ia bergerak gerak, bertanya dan melepaskan jawaban, untuk diisapnya lagi dan diolah ke dalam, dilepaskan lagi dan kata kata yang bekerja ini menjadi daerah sinyal bagi kita. ia seolah suar, kata itu.
R itu Rindu.
Inilah baris awal yang menjadi pengasingan sempurna: kita tak melihat sesiapun di sini, hanya r itu rindu. kita tak melihat wajahnya. Pengetahuan ktia bahwa di sini ada orang oleh pengetahuan pakem konvensi kita, bahwa di belakang r itu rindu ada aku lirik yang bersembunyi. Seolah ia itu melanjutkan warta alam ini belaka: di belakang alam yang kelihatan lewat visioner mata fisik ini, kita lamat lamat melihat ada sutradar besar yang mengaturnya.
Newton seolah telah menemukan siapa sutradara ini, dialah hukum alam yang dilepas oleh tuhan dan sekali hukum ini bekerja, maka jam dinding raksasa itu akan memutar dirinya dan r itu jadi mesin. tapi anomali anomali menjadi kata takdir dan nasib yang berguguran saban hari, yang di bawah menciptakan aktor politik, tangan tangan tak kelihatan seolah kata Prof. Smith: Ada tangan tak kelihatan yang kuasa mengatur pasar.
Ini ucapan Profan seolah semata diksi kaum ilmu kuasa pemodal kapitalistik. Tapi ia terangkat naik menjadi, ada tangan tangan tak keliahtan yang mengatur alam. Tangan dewa di satu tubuh tapi banyak tangannya. Tangan imajinasi manusia tapi telah dirapikan Tagore jadi engkau dan kini dilepaskan kembali sekatan gelapnya lewat r itu rindu. Ada rindu besar di balik rindu kecil lewat banyak wajahnya ini. kita itu rindu kebenaran. kaum ilmuwan rindu fakta. Para penyair indu keindahan. dan tuhan, rindu disibakkan dirinya sebagai dar di balik tirai.
Kemala menjadi pengamat yang termenung, lalu melepas sambil melenguh: r itu rindu. kita tahu ia Kemala oleh konvensi puisi itu. bahwa r itu diubah dari keadaan sebelum puisi. tapi kini ia sepenuhnya baris puisi, tempat kita melihat ke balik aku lirik yang sembunyi dalam sebaris puisi. r itu rindu, suatu kelipatan yang mendekatkan dirinya ke bumi adalah bahasa, tapi melipat lagi dirinya sendiri menjadi alam semesta yang mengasingkan penciptanya. akhirnya r itu rindu ini adalah baris penuh makna dengan makna, bergantung ke mana kita hendak melihatnya, dari suatu sudut keperluan kita sendiri.
ia asing, ia mengasing, r itu.
r itu rindu.
Bukanlah para pujangga hendak menjadikan kita ini menjadi pelintas keluar, mendorong segalanya di dalam itu menjadi ikatan di luar. tapi para pujangga itu terlena, bergulat dengan bentuk bentuk lewat segenap kata di rantai mereka sendiri, untuk menjadikan kita menjadi diri mereka juga. Olehnya kata itu membius dari dalam, tak pernah mengijinkan kita ini untuk buru-buru membawa mereka keluar, ke ikatan ilmu dan lalu kita melihat dunia abstrak itu diabstrakkan lagi.
Seolah dunia konkret, teori konsep itu, sbelum kita tahu bahwa ilmu itu sendiri adalah citra lewat konsep teorinya yang puitik: ia meremas fakta menjadi citra.
Ambil apa saja konsep dan teori ilmu ia adalah kata, dan karena itu puitik seolah puisi. olehnya kita bergerak dan diam di dalam putik kata di dalam puisi. penyair meminta kita tinggal di dalam. Tapi akibatnya memang tak teramalkan: kita membutuhkan waktu sebanyak penyair itu sendiri yang memakai waktu untuk menulis isi jiwa mereka.
Terupam Bagai Pualam
25 Januari 2014 pukul 17:24
Tiga pergerakan batu rindu Kemala - kita mainkan dalam ruang Tagore, yang mengiringi Kemala lewat suling dari bumbung matinya yang kini hidup kembali.
Dunia sesama bahasa, kegiatan menulis puisi dengan kegiatan membaca puisi, dunia yang menarik karena kita diberi kesempatan melihat bagaimana kata itu bergerak, keluar dari lingkaran kata yang terpakai dan akhirnya, ia menjadi kata yang kita amati. Dalam hal Kemala, kata yang kita maksudkan itu adalah kata "batu".
Saya novelis bukan penyair, atau saya itu penulis cerita pendek bukan pujangga penggubah sajak. Tapi pun begitu mengerti bagaimana kita tiba-tiba digoda oleh sebuah kata, kata yang kita temukan dan kata ini yang mendadak memperlihatkan cahayanya yang lain. Diam di depan cahaya kata itulah, kita mengikuti kemungkinan arah-arah kata dan kata batu, saya kira yang membuat Kemala berpikir bagaimana cara ia melepaskan r itu rindu-nya.
Tapi batu itu sebuah paket, ia jadi semacam pelepasan dari jalan keluar yakni rindu. Rindu ini yang mula mula menjadi pokok soal sang penyair, rindu yang ia tangani lewat melepaskan r dari tubuh induknya: rindu. Sebab rindu itu adalah keadaan misterius: ia misteri, dan r itu menjadi wakil pertanda dari misteri itu: r itu rindu. rindu bergerak mundur sampai ke hulunya lagi adalah r. Suatu misteri, daerah yang tak terjelaskan tapi ada sebagai perasaan di dada.
Muncullah batu itu, suatu dunia perlambangan betapa rindu r itu rindu itu, tak terlukiskan dan batu itulah yang menjadi pertanda dari petandanya yang lain. batu, yang kita tahu adalah suatu keadaan benda diam yang membisu. Wahai batu tengah apakah dirimu itu, batu? Batu diam tak menjawab kita: Ia membisu. Wahai dunia tengah apakah kamu ini kini dunia? Dunia pun membisu tak menjawab kita. Maka imajinasi yang melebar dari batu kuasa menjadikan dunia pun seolah lingkaran batu yang diperbesar. Dunia adalah batu yang tak menjawab manusia. ia penuh dengan rindu jiwa manusia hendak ke baliknya - ke balik dunia. Tapi dunia membisu dan dunia yang membisu inilah, yang dikepal kepal Kemala, ia kecilkan, jadi batu. Tanda memang kuasa melar tapi seolah burung di tubuh kita: kuasa mengkerut, mengecil setelah kasmaran kena rindu hatinya sendiri
Waktu Beribu Batu
Kini saya benar-benar bergerak ke dalam, ke dalam puisi Kemala (r itu rindu). mengamati serta menghayati, bagaimana aku yang memecah-mecah dirinya dari aku pengucap meretak ke orang ketiga adalah mu - jauh darimu, kata aku yang mula mula mengatakan dengan cara, melukiskan rindu hatinya. Apa yang menarik bagi saya adalah dua posisi dalam r itu tindu. Pertama adalah posisi "dan ini tumbuh", yang berbagi keadaan dirinya kepada "sebelum" yakni:
"r itu rindu
tak terduga hadirnya
tak terselam maknanya"
Milik mereka bertiga inilah, "dan ini tumbuh", yakni rindu itu tumbuh di hati si aku, tanpa ia sangka-sangka. Keadaan yang menjadi suatu bukti pengakuan akan iman seseorang di dalam bahasa, bahwa kita itu, seperti kata Amir Hamzah atau kelak, kata Tagore yang memanggil sayu, rindu rupa, tapi yang ada pada Kemala adalah, "rindu rasa", sebab, "rupa" di sini tidak menjadi perhitungannya.
"Dan ini tumbuh" itu suatu kabar "dalam", bahwa rindu rahasia itu ada dalam hati kita ini. ia, "dan ini tumbuh" sebagai, "r itu rindu // tak terduga hadirnya // tak terselam maknanya. "dan ini tumbuh", dari dalam hati kita.
Jadi ia dekat sekali, rindu yang telah dipotong itu, diletakkan di dalam hati. atau ia itu ada di dalam hati, rindu kita kepadaNya, atau kepada suatu keadaan misteri dalam dunia ini. Tapi apa lagi kira kira di dalam dunia ini, kalau bukan yang misterius itu adalah, the beyond? Orang boleh membawa kata dewa, atau makna dalam ilmu pengetahuan. pun wajah seseorang - wajah kekasih misalnya, tapi itu hanya dunia bayang bayang dari langit yang menyamar - langit menyamar, mengambil rupa ke bawah, turun ke bumi, ke wajah wajah dari segenap penduduk ada dalam dunia bumi ini.
Tugas penyair mengangkatnya, membawanya naik kembali - ke muasalnya.
Tapi saya kira "dan ini tumbuh" itu meski berbagi. Ke belakang ia ditarik oleh dunia dalam, ke luar ia terlempar ke dunia belakang. "dan ini tumbuh" ditarik oleh depan adalah baris baris puisi (di) sesudah, tapi apa yang sesudah ini melemparkannya, jauh sekali ke belakang. Ia terlempar, "dan ini tumbuh" itu, bersama ucapan Kemala yang merenungi akan kehakikian dunia ini. Itulah dia:
"waktu beribu batu" yang ditarik oleh Kemala sedemikian jauh - "jauh darimu".
Kapan itu? kita tidak mengerti lagi: Angka beribu itu hanyalah suatu penyapaan nominal belaka. sebab beribu telah mendapatkan sentuhan makna yang lain, saat kata "batu yang membisu" andai kita tanya itu telah menjadi pengiringnya.
Adalah paradoks apa yang "dekat" itu (sekaligus) "jauh", dunia "jauh-dekat" yang secara konsisten bermain di puisi " r intu rindu" ini. Seolah dalam musik, kita menemukan empat ketukan dari "jauh darimu", di sepanjang dari usainya bait. Bait berakhir lewat jalan, "jauh darimu". Seolah itu adalah, kabar dari betapa intens pergulatan dari suatu kehendak, untuk men-"dekat" yang dilakukan oleh penyair. ia membawa tanda kepada kita: dan ini tumbuh, tapi apa yang tumbuh, segera ditarik lagi oleh nama yang terpasang sebagai judul puisi: r itu rindu, tapi ia tak terjelaskan, tak terkatakan, tak ternamai kecuali, satu nama yang paling kuasa menjadi wakil dirinya. Adalah batu. Suatu penyapaan bahwa kita jauh dari mengerti akan hal ihwal dalam dunia ini, yang mewarta ke dalam nama universal dari suatu keadaan hati manusia: rindu. Tapi ia adalah batu. Rindu tapi batu tak pernah terjelaskan darimana asalnya. Ia jauh darimu.rahasia dari "waktu beribu batu"
Tak akan ada bedanya andai saya mengemas sejumlah puisi Kemala di buku 'Ayn ini, keluar lewat tema dan gaya orang berpuisi seraya, meminjam kata kata Adi Wicaksono dulu, menggapai gapai referensial ke sana ke mari demi menjadi obor bagi rindu hati sang pujangga dari Malaysia akan tuhannya ini. Sebab akhirnya saya akan ditumbuk oleh pertanyaan: bagaimana perangai kata di dalam itu bekerja. Maka bolehlah r itu rindu ini menjadi suatu sample, untuk memperlihatkan keindahan serta kedalaman penyair sastrawan negara Malaysia ke-11 Ahmad Khamal Abudullah - Dato Kemala.
Apakah kita bisa mengatakan bahwa r itu rindu adalah kisah di mana seorang manusia, sekali pun ia itu adalah manusia dalam bahasa, adalah kisah penyatuan bahwa Dia dengan mahluk itu tak mungkin. Dan batu yang "makin jauh" itulah tandanya. Pastilah buku ini merujukkan R itu adalah sebuah dunia atas, iluminasi dari Dia yang menampakkan diri dari dalam, dari dalam hatinya sendiri, dari dunia, dari dunia yang ia pandangi. Ada sesuatu yang tak terjelaskan di sini, tapi melekat, seraya, tercerai oleh jarak yang paradoksal:
Ia itu digambarkan sebagai lebih dekat dari urat lehermu.
Tapi sifatnya yang batin, dalam, tak terlihat oleh mata fisik membuat ia itu jauh, walau mata hati kuasa menariknya kembali, ke dekat, bahkan ke persatuan tak terpisahkan dan bahasa skriptural ini membuat semua itu jadi jelas untuk kita: Kutiupkan rohku ke dalam tubuhmu itu. Jadi roh dia yang ada dalam tubuh kita ini. Roh kita ini adalah dia dan masuk akallah kata katanya: Jarak ku dengan dirimu itu, lebih dekat dari urat lehermu. Kita mengalami tanda, atau kita disuguhi tanda, olehNya. Artinya kita hidup dan menghidupi, dunia perlambangan karena soalnya memang, Dia bukanlah Kemala yang tampak dan kelihatan - tapi toh roh pujangga besar ini juga tak kelihatan. Maka apa yang dekat itu tercerai kembali. kata puisi r itu rindu:
"waktu beribu batu
jauh darimu"
Kita seolah mengalami, puzzle-puzzle di mana bukan kata tapi huruf dan itulah r yang harus kita tautkan kembali menjadi rahasia - r itu harus kembali ke induknya lagi. dan rahasia ini adalah rindu, puzzle yang lain yang harus kita baca sebagai, puisi puisi, di buku 'ayn ini adalah keping keping yang kuasa kita tautkan. tak lain, saat bertaut, ia itu Dia. dalam suatu puisi Kemala, atau aku dalam bahasa ini, berkata "parasmu wahai". Tapi parasmu wahai ini masih, bercerainya diri dengan Dia, belum, menyatu. Tapi dalam Ada, ada persatuan itu.
"ada rohku terupam bagai pualam di piala-Mu
ada Aku-Ku dalam Aku-Mu."
Maka jelaslah bagi kita bahwa, bukanlah dunia spekulasi, akan sang pujangga yang sedang menggerakkan tema ketuhanan, dari suatu gerak dekat ke jauh. Jauh, dalam bentuk r itu rindu, atau parasmu wahai. tapi dalam (puisi) "ada" ini, maka penyatuan itu telah kita lihat. tapi penyatuan itu bukanlah dunia permanen. Segera dunia menarik kita kembali, setelah zikir dan sholat, atau sesaat kita mulai memikirkan kehidupan bumi kembali, kecuali segalanya, setiap ada ini, boleh kita sebut sebagai dia yang tengah memancarkan diri ke dalam dunia.
Langit turun sebagai kebenaran lewat segenap adanya. salah satu kebenaran berita langit itu bahwa, kita tak diizinkan untuk berbuat yang sia-sia, sebab semuanya ada dalam hitungan pada simpul waktu. Bahasa pun terkena perintah seperti ini: tak sia sia, yang boleh dibaca sebagai kata yang penuh fungsi dalam puisi. Dan kata kata Kemala itu penuh arti, di setiap tarikan nafas katanya.
malam ini saya terpukau dengan paduan bahasa Kemala itu
"terupam bagai pualam".
Seolah-olah "terupam bagai pualam" ini adalah kegiatan sia-sia dalam bahasa, saat kita, setidaknya saya, tak mengerti arti kata "terupam" tapi mengerti dengan baik arti kata "pualam". diluaskan maka seakan-akan segenap bahasa yang kita tidak mengerti adalah hirupan dan keluaran yang tiada guna. mereka tahu, seperti kita tahu, akan bahasanya. tapi saat kata asing bahasa asing masuk, berlakukan seakan akan sia sia itu.
Kita lalu mengerti kebenaran dan keindahan, serta kepenuhmaknaan, rupanya adalah pembelajaran. untuk tahu terupam kita harus belajar mengertinya. tetapi andai kita tidak mengerti (hal yang mungkin) nasibnya akan sama dengan nasib yang digariskan dari kiri: ia jadi sia-sia. Setidaknya kesia-siaan kita untuk mengertinya. saat kemengertian itu dibawa masuk, kesia-siaan itu menghilang. apakah artinya ini, kalau bukan kesia-siaan itu tiada sebenarnya. Bahwa kita belum atau tidak tahu, itu suatu kabar belaka dari massage yang begitu halus dan samar.
Dengan cara seperti ini "terupam" menjadi daerah miteri yang lain; kita pun, harus belajar yang lain.
Lagi lagi ini adalah iluminasi. Bahwa saat ketidakmengertian kita akan bahasa atau ada dalam dunia, jadi mendatar untuk melengkung lalu melingkar, maka lingkaran itu membawa kita di suatu busurnya dan kita pun terlempar - bukan ke bumi lagi tapi ke langit.
----------------- oOo -----------------
0 komentar:
Posting Komentar