erry amandaBAYANG-BAYANG MENUJU PULANGPada Awan Kita Bertahan
Wajahku Masih Tergambar Di Dinding Batu
MENGEMBANG
bayang bayang menuju pulang
erry Amanda
di lurung ini
wajahku masih tergambar di dinding batu dan tapak batu
menuju pulang
setelah lama menjaring waktu pada tiris air
seteguk saja di telapak tangan
dan sungai sungai telah meninggalkan arus
di lurung ini
masih tertinggal nyanyian anak gunung
mengibur sengat kemarau dan kelaparan panjang
kini aku buka lembaran foto
masih genap di ruang jiwa dan selaput otakku
selalu menjadi foto hidup
memenuhi ruang pameran di hotel hotel mewah
seperti menawarkan iklan
kering itu keindahan
di lurung ini persinggahan ingatan
sebelum aku dikuburkan
tangerang, 8 agustus 2012
lurung = jalan setapak seperti lorong dari sawah
atau ladang menuju perkampungan (rumah).
1
Sastra akan terus-menerus memaksa kita bertanya siapa dirinya - juga bahasa, meminta kita tak henti-henti merenunginya. Bentuk khusus bahasa ini telah dibingkai misal oleh sapir yang membuat kesimpulan, membedakannya dengan bahasa biasa. Sapir yang berkata, "when the expression is of unusual significance, we call it literature."
Inilah limpahan dari sebuah bingkai, bahasa, bergerak menjadi sastra saat telah melampaui dirinya. Orang memang akan terus membingkainya, oleh sifat dari "ada" yakni "pertanyaan", membuat orang bekerja untuk menyimpulkan. Bahasa diamati, dicari sifat dan cirinya yang khas.
Valery misalnya, berkata bahwa "literature is... a kind of extension and application of certain properties of language".
"extension", yang disebut valery dan dikutip Jonathan Culler (buku Culler, Structuralist Poetics), serta "properties", dapat kita pandangi sebagai sebuah kenyataan yang mengalami dua sisi. Sisi pertama ia adalah fakta luar (dunia), lainnya fakta dalam (bahasa).
Proses pemberian nama adalah tingkat awal di mana kata “extension” dapat kita terapkan. Bahasa kini meluas, dari benda yang belum bernama, kini telah diberi nama. Seirama benda itu meluas, terikut pula bahasa, meluas. Ia kini bukan semata benda diam, tak bergerak, tapi telah menjadi benda hidup, yang bergerak.
Jadi bahasa meluas dari luar, dari benda, ke dalam, ke bahasa, tapi belum dalam bentuknya yang baru adalah tulisan. Ia masih dalam bentuk lalu-lintas ujaran, berupa percakapan yang melibatkan orang lain atau diri sendiri, saat kita merenung. Di sini ia belum dituliskan, masih "dilukis" dalam pikiran. Di sini ia gaib. Maknanya, terlindung di balik tubuh, ke dalam tubuh. Ada saat ia berhenti sebagai fakta ujaran dan mulai diam sebagai fakta tulisan. Dan apa yang gaib, tak terlihat, tapi ada di "dalam" itu, kini bangkit, keluar untuk memperlihatkan dirinya. kini ia melewati fase-dalam untuk menjadi sisi kedua bahasa yakni tulisan.
Mula-mula kita berkata, melebarkan “extension”, adalah meluasnya benda ke namanya. Lalu berhenti di dalam pikiran. Menyempit ke tubuh. Tapi lalu “extension” itu bekerja lagi dan sekali ini ia “mengembang dari dalam tubuh”, menyempit ke kata, tapi mengembang di bahasa.
Dalam bahasa, ia mulai mengoperasikan sifat dan kita mulai melihat ciri dari sifat bahasa. kita pun melihat "properties" itu. Mengembang untuk menyempit kembali, itulah ciri dari sifat dunia ada ini. Kini kita mengembang untuk menyempit kembali ke bahasa kita sendiri. Benda-benda memperluas dirinya, lewat kesediaan mereka untuk diberi nama. saat nama ditemukan, itulah benda-benda yang meluas, kini bergerak menyempit sebagai bahasa, sebagai kata.
Mereka menyempit untuk meluas kembali, sebagai kata yang mengembang di bahasa. Ia adalah gejala yang datang dari luar, tapi kini masuk ke dalam, sebagai bahasa, dan saat di bahasa ia terlempar kembali ke luar. Dari dalam terdorong lagi ke luar.
Sebuah jalan setapak letaknya di luar - lanskap mengembangkannya, meluaskan apa yang kita terakan sebagai jalan setapak ini.
"jauh", menjadi salah satu keadaannya. "rumah", adalah ujung "lorong", dari "lurung" ini. sebelumnya, "sawah", "ladang", setelahnya, rumah tempat seseorang, atau kita, "pulang".
"bayang bayang menuju pulang", kata erry amanda, dan lurung, adalah pemerian di atas itu, dunia yang meluas, mengembang lewat lanskap, ditarik oleh nuansa, oleh bunyi, dan oleh "cakrawala" andai langit melukis dirinya. lurung yang diterakan erry dari penjelas puisinya ini.
apa yang aneh, itu kini wujud: lurung dengan lanskapnya, lurung yang menyempit dengan ciri sebagai puisi, dengan sifat sebagai puisi - mereka bahasa, dalam sifat dan cirinya. adalah baris yang meluas dari kata, adalah bahasa yang telah melampaui dirinya.
sempit betul mereka kini. sebab, apakah luasnya: "di lurung ini // wajahku masih tergambar di dinding batu dan tapak batu // menuju pulang".
“dua baris, dengan baris pertama tiga kata dijejerkan, menyempit dari keadaan lurung di luar itu. walau ia telah meluas menjadi 11 kata, terikat jadi dua baris bahasa - puisi, masih juga tak sepanjang mungkin ilalang di sepanjang jalan tempat erry amanda, berjalan pulang di masa kanaknya - erry berjalan dari lurung, untuk pulang ke rumahnya - mungkin menjenguk ibunya”.
mereka memang telah menyempit ke dalam bahasa. tepatnya, mengecil ke kata. sebab lurung itu bukan bahasa, sebab ia sempitan lorong tempat erry pulang ke rumahnya, kata - namanya, "lurung", bukan? saat ia menjadi kata, menyempit menjadi kata, di saat ini pula bahasa mengimanen di dalamnya.
bukankah kata erry: lurung adalah jalan setapak, melewati sawah, melewati ladang, sebelum sampai ke rumah - ke rumah erry amanda. apa yang aneh setiap isi lurung ini adalah kata semua. all language.
puisi adalah bangunan; kata yang menopangnya, struktur. seperti huruf yang menjadi tulangnya. apakah mungkin kata tanpa huruf-nya? seolah Tuhan: rasa tak mungkin, Pencipta tanpa ciptaanNya, sekali pun di depanNya, kita mengecil, tahu diri, runduk ke dalam penjajahanNya, bahwa kitalah yang memerlukan Dia bukan Dia yang memerlukan kita. kenyataan yang di satu arti bisa ditafsirkan, ketimpangan relasi dari suatu sebab sifat dan ciri, hubungan yang mengandaikan keseimbangan.
2
akbar juga pret melihat “langit” erry amanda dan ia ("merasa") berkata tentang warna. indahnya, katanya.
saya setuju langit yang merendah dan bunga yang menyeruak di foto erry itu indah, bunga yang seolah ingin merebut ruang, cakrawala.
membawakan sebuah opini akhmad taufiq yang berkata, "mana puisinya dari struktur kebahasaan dan kepusian yang terayun di sini" - maksudnya di "saat berakhirnya" puisi djazlam zainal itu, yang mengeluarkan irama dari warna pahit hidup modern masa kini lewat "kata", "tiada jawapan". sebab di sana, di esai panjang itu (baca esai jsth tentang penyair dari Malaysia djazlam zainal, tradisi dan konvensi, di facebook jsth), puisi terasa oleh akhmad taufiq dilipat oleh bahasa.
saya tertarik untuk membuat perhubungan dari "tiada jawapan" dengan "bayang-bayang menuju pulang", apakah "bayang-bayang menuju pulang" adalah sebuah jawapan akhir dari kehidupan sendiri, atau kehidupan bersama, kita yang ramai dalam dunia ini.
warna memang dipandangi erry, seolah ia berbeda dengan kata.
bayang-bayang menuju pulang adalah kombinasi dari kata yang terpilih - ia diseleksi erry amanda seperti tangan sang penyair, menyeleksi alat foto untuk mengambil keremangan tertentu. tapi kata yang terpilih, dan tangan yang memilihnya, mengambil darimana kata "keremangan" yang kita terakan sebagai akibat, yang kita rasakan dari warna kata yang tertulis.
lindap rasanya diri berdiam di "bayang-bayang menuju pulang" erry amanda, yang melepas dari keremangan tertentu kata-kata yang kita mengerti dengan baik. oleh warna itu, kita mengerti, dan oleh warna itu pula kita lindap di sana.
langit dekat, didekatkan oleh erry amanda, demi sebuah jalan bagi gerumbun bunga yang menyeruak ke langit. hasilnya bukan kecerahan, semacam harapan karena diri telah di depan penguasa, seolah ada telinga yang akan mendengar mulut kita itu. Tapi semacam kontras dari lindap itu. tak kita rasakan lain kecuali diri seakan menyorong ke cakrawala dan cakrawala itu mendekat, tapi tanpa kata kecuali warna, hendak kita sapakan sebagai kata.
seolah-olah kita semua ini ada dalam kawasan puisi terbaik ahmadun yosi herfanda, "sembayang rumputan", yang menceritakan dengan sedih kisah sebuah ilalang sunyi. di kota-kota aku di tepikan, katanya. dan aku pun tumbuh subur di hutan-hutan.
jadi masing-masing diri adalah ilalang sunyi itu, yang bergerak dari keramaian ke diri. sebab di hutan sunyi kau tumbuh sendiri.
apakah ada manusia di bawah rawannya sore erry, kecuali ilalang-rumput, gerumbun yang menyeruak seolah berkata kepada langit yang datang merendah.
ini aku sembahyang padamu. kubawa diriku seorang, gerumbun rumput, ilalang diri di senja hari. inilah warna diriku, kata yang membalur ke tubuhku.
3
di depan warna dan kata itu kini kita menghitung apakah yang disebut sebagai keindahan, atau, kepuisian. dapatkah kita mengatakan keindahan adalah saat dunia benda-benda dicopoti aspek komunikasinya seraya dengan itu sesegera mungkin memasangkan tanda ke tubuhnya. tapi benda itu kata, maka ke kata itulah kita memasang tubuh tanda, yang telah melepasi satu demi satu aspek komunikatif kata sebagai institusi manusia saling memanggil satu sama lain.
apakah tidak sedih diri ini - dan sedih adalah satu unsur paling penting dari kepuisian, itu efek yang keluar dari kombinasi tanda yang telah rekat jadi kata; saat erry melambaikan tubuhnya ke batu atau ke jalan tempat ia mungkin punya pengalaman langsung akan lurung, jalan setapak yang ia panggili kembali saat atau demi menjenguk wajahnya kini.
di lurung ini, katanya dan kata erry ini, ingin kita lihat sebagai sebuah bahasa yang berususun dari kombinasi kata. mengapa ia membawakan kesedihan sesaat ia terayun sebagai bahasa? apa penyebabnya? sekali lagi yang berharga pada sastra adalah kemampuan kata lewat bahasa menyusup memanggil kita untuk merenungi, untuk menerobos alam nyata dan sesegera mungkin masuk ke fase yang sifatnya adalah passi hidup kita itu.
"di lurung ini
wajahku tergambar di dinding batu dan tapak batu menuju pulang"
kita lalu melihat ada yang amat kontras di sini, sebuah warna yang begitu rupa dan rupa warna ini yang kita lihat dari kemampuan kata mengalienasi. apakah mungkin wajah itu berubah jadi batu atau, sebaliknya, batu itu melembut jadi kaca serupa wajah kita. ada yang diasingkan di sini; ada yang terasing di sini. tapi mengapa ia begitu akrab. apakah oleh jauh lalu ia terasa kita rindukan. atau, justru oleh dekatnya, ia kita ingin gapai tapi tak lagi tergapai tangan.
ada masa lalu yang jauh dan kini ia telah mengubah dirinya jadi batu. ada batu-batu yang rupanya berjatuhan dari saku dalam hidup kita itu. malin dikutuk jadi batu tapi erry bukan malin yang legenda, ia menyapa dirinya sendiri, membuka wajah dan batu itu jadi kombinasi yang memiliki segenap kemungkinan.
bagaimana kita membayangkan segenap tubuh kini terrepresentasikan lewat kata wajahku dan kepayahan terpantul ke dinding batu, itulah yang secara cepat kita isap dari bahasa erry, yang melepas dari sudut kesunyian hidupnya, mengakrabi kembali masa lalunya lewat ucapan berkelas sastra dunia, lewat gerak pengasingan, yang berhasil sebagai sebuah bahasa puisi.
bunyi membuat kita menyimak dirinya, akhirnya mengantarkan diri kepada pertanyaan: di manakah posisi seseorang yang melepas bunyi yang kita dengar.
tiga kali ia mengucapkan "di lurung ini" dan kita belum tahu juga di mana orangnya. aneh sekali, saat kita mendengar bunyi tanpa orangnya. kita masih berpikir di mana dia, saat di ujung sebelum ujung ia melakukan kegiatan, yang agak menyimpang dengan "di lurung ini", saat tangannya bekerja bukan "ingatan"nya lagi.
"kini aku buka lembaran foto", katanya, dan kita ingin melihat orang yang berkata ini.
di mana dia sembunyi?
saya ada di sini, mengetik, terpisah tapi dapat melihat ada seseorang yang berkata, tapi yang saya lihat hanyalah jejaknya, bahasa, sedang orangnya masih juga tidak terlihat walau ia telah mengucapkan: kini aku buka lembaran foto. aku melihat kegiatan tanganku, saat ini sedang mengetik seperti tangan aku yang berkata "kini aku buka lembaran foto".
tangan kami sama, sama sama melakukan aktifitas.
bedanya dia membuka lembaran foto sedang saya mengetik.
saya melihat tangan saya mengetik, seperti saya melihat tangannya membuka foto. tapi saya tidak bisa memegang tangannya, sedang diriku bisa memegang tanganku. kini kupegang dan ia memang tanganku. saat aku berusaha masuk untuk memegang tangannya, terasa olehku ada dinding yang tak kuasa kita tembus.
agak sedih juga menyadari diri belum juga bertemu dengan dia yang ingin kita temui, sebelum saya tersadar bahwa kini saya juga tidak bisa memegang orang yang di atas tadi berkata : "aku melihat kegiatan tanganku".
sebab "aku ini" kini telah sama dengan "aku yang membuka lembaran foto".
sama sama telah terpisah dari saya saat ini. kami telah berjarak. mereka tidak bisa lagi masuk ke tubuhku, seperti tubuhku tak bisa masuk
ke tubuh mereka.
bukan hanya puisi tapi esai juga, yang kini terbang seakan burung, merdeka, lepas dari kontrol pemiliknya.
mereka kini punya kehidupan sendiri. kehidupan orang ini, orang yang sedang melihat orang yang lagi ia cari, berhenti di mana tanganku ini sedang mengetik. andai dua kata terakhir yang saya pakai jadi tapal, maka bahasa ini berhenti pada : "sedang mengetik".
inilah akhirnya seperti bahasa "bayang-bayang menuju pulang" itu, berhenti di penjelasnya. dia yang membuat tidak lagi bisa masuk ke bayang bayang menuju pulang, seperti saat ini, saya juga tidak bisa masuk ke bahasa : “lindap di bahasa erry Amanda”.
4
andai esai itu bangkit dan kini mempertahankan dirinya, esai jatuh ke seakan puisi yang juga kini bangkit untuk melakukan “defens” yang sama.
adalah koherensi mereka di dalam, itu yang kini menyeruak keluar menghadapi musuh yang menyerbu dan ingin menaklukkan.
bila mereka kokoh maka mereka, esai dan puisi ini, bukan saja kuasa bertahan tapi memiliki kemampuan untuk memukul balik.
kita tahu penyamaan esai = puisi atau ilmu pengetahuan (yang dituliskan) = puisi jarang sekali diperdengarkan di kawasan kita ini - kawasan ilmu humaniora yang seakan ilmu "fisika" juga, tempat di mana tuan einstein bisa bertempur, dengan cara menempuh, sebuah logika geometri dari orang yang telah lama pergi.
akan selalu begitu: bahasa masa lalu ditimbang oleh bahasa masa kini, seraya mungkin bahasa masa kini saling menimbang diri.
jarang atau tidak pernah, tentulah bukan serta merta ia tak memiliki kemungkinan peluang kebenaran. sebab pada dasarnya betapa sama sebuah bidang yang adalah tulisan, seperti samanya sebuah bidang yang adalah ujaran.
pada tulisan maka kata-kata erry amanda :
"di lurung ini // wajahku masih tergambar di dinding batu",
setanding nilainya dengan ucapan einstein :
diri ini ragu, sungguhkah hanya ada satu garis lurus yang meniti di dua titik?
lihatlah kedua ekspresi kebahasaan-kebudayaan ini: dua pernyataan itu, satu dari ranah puisi dan kedua dari ranah ilmu, kuat dan bangkit sendiri dari dalam, dari sifat logika dan ciri dari jenis logikanya.
ilmu dari logika kebenaran benda-kata, puisi dari logika kebenaran tanda-kata.
tetapi saat erry atau einstein, di ruang mana pun mereka mesti mempertahankan "ucapan"nya, maka setelah kokohnya isi-dalam adalah tulisan, kini tulisan itu mesti menempuh dunia barunya adalah isi-dalam adalah ujaran, di jiwa kedua ilmuwan dan penyair ini - einstein dalam mata bahasa saya serupa erry amanda, penyair, setidaknya dari jiwa jeninya sebagai ilmuwan, dari panggilan nuraninya saat menghadapi implikasi-implikasi ilmunya - sebelum dunia ujaran dalam jiwa itu, mungkin namanya kontemplasi, pertimbangan dari setiap jenis apa yang direnungi serta dihayati, diputuskan untuk keluar dari ujaran menjadi tulisan kembali - tulisan yang membela puisi(nya) serta tulisan yang membela ilmu(nya).
kini apa yang tadi mempertahankan diri di dalam, sebagai teks, keluar menemui penciptanya kembali untuk diadon jadi bukan roti baru tapi variasi dari roti utama - sebarisan puisi dan sekalimatan pernyataan ilmu.
5
diri termenung dengan pengelihatan itu, suatu tapal di mana batas tak lagi menjadi batas. kata mengaburkan, dari tapal ilmu dan batas puisi. lama kita terpesona dengan keajaiban dunia dari (sastra) maya, seperti tak putus-putusnya kita takjub pada dunia dari substansi maya yang tengah kita perbincangkan adalah sastra.
andai kita ikhlas saja dan putih keluar dari bayang-bayang nama - setidaknya nama dari sejarah yang dibentukkan orang, maka kita bisa melihat ucapan adalah puisi yang begitu tinggi dan mulia isinya. pada bahasa seperti ini jiwa kita lindap, mengendap dan terus lindap dalam posisinya - mengendap.
kita melata di bahasa itu, di puisi atau di ilmu yang kini telah kita perlihatkan, sama merdeka, sama otonomnya sebagai kegiatan kebahasaan.
di depan diri mereka netral - tak mula-mula membawa orangnya kecuali adalah nilainya sebagai bahasa. bahasa dari satuan kata yang mengubah dirinya jadi tanda.
migrasi makna, serupa itu, yang kita katakan tak mengenal nama serta melampaui wewenang sejarah. sehingga jiwa kita tenang menyapakan mereka satu dengan yang lain. misalnya membawa baris baris kontemplatif erry ini, menyeberang dari pernyataan puisi ke pernyataan keilmuan, tanpa harus dihadang oleh betapa menterengnya nama einstein - erry juga ilmuwan, yang sama menterengnya; sebab kata ini bukan mula mula pada nama, tapi pada kegiatan ilmu itu sendiri, saat mereka bangkit melihat dunia ada dan memperlihatkan jiwa mereka sebagai manusia yang tertarik dan menghayati dunia ada-benda-makna dari tepian seorang hamba yang terpesona pada Khalik.
di sini mereka bukan saja melakukan aktifitas otak tapi kerja batin: nurani mereka yang terpanggil dan jiwa mereka yang menjerit memperlihatkan kemungkinan dari kata benar yang mereka hayati.
di sini kedua manusia itu mentereng tanpa harus diacukan ke wewenang apa pun dari dalam sejarah.
baris puisi bekerja seperti itu juga, netral saling menjejerkan diri mereka satu dengan yang lain. melampaui satuan ruang dan satuan waktu, saling mendekat satu dengan yang lain, oleh kualitas dan oleh pesan yang dibawa baris-baris puisi itu.
6
terpesona pada mereka yang membentukkan "kata" menjadi "tanda", mengubah apa yang komunikatif jadi kiasan, dan komunikasi bergerak jadi komunikasi dari dunia tanda bukan semata (makna) kata lagi.
batu itu misalnya, atau air, yang dibawakan oleh erry dengan amat menarik, halus, dan apa yang tipikal di sana adalah kemampuan penyair-ilmuwan ini meredakan gejolak waktu pada dirinya.
waktu itu kini diubah jadi dunia benda-benda.
imajinasi kini menjadi imaji, dan apa yang diimajikan erry amatlah layak dibandingkan ke sejarah manapun.
mestilah kita hayati bahwa puisi bukanlah buku puisi atau puisi-puisi, sehingga, dalam pengelihatan saya, bukanlah sebuah kebajikan atas tanda andai kita bermain menghitung kehadiran seseorang lewat buku puisinya - lewat puisi-puisinya. tapi setiap kehadiran harus ditimbang lewat puisinya itu sendiri.
bahwa ada banyak puisi maka penjejeran tak kuasa melampaui satu puisi.
sebab satu puisi akan sama dengan segenap puisi dalam buku. ia mesti kita hidu pada kualitas dirinya sendiri. sehingga pemikiran seperti ini menafikan segala makam atau tingkat seorang penyair.
yang kini bekerja dengan sempurna: puisinya yang sedang dinilai dengan puisi(nya-nya) juga.
atau bukunya dengan buku pula - artinya kita menghitung puisi puisi bukan puisi lagi. saat menghitung puisi puisi, akhirnya atau kegiatan terdalam itu akan kembali ke kualitas atau nilai suatu puis.
membayangkan lalu lintas kata dalam struktur ujaran dan struktur tulisan: tiap kata punya nilai dan tiap kata menopang kestrukturan. alhasil tiap kata sama berartinya dengan lautan kata yang tengah kita pakai.
olehnya sekali lagi kita terus menerus mengatakan keyakinan ini: di dalam bahasa, bukanlah terutama nama yang telah dibentukkan yang penting, tapi bahasanya itu sendiri. satu puisi erry amanda dengan begitu, misalnya, sama dengan satu puisi abdul hadi atau sutardji calzoum bachri. boleh ambil yang muda muda kini: satu puisi erry sama dengan satu puisi joko pinurbo, saut situmorang atau nirwan dewanto. Sama juga dengan dunia prosa novel atau cerpen mariana amiruddin.
mereka ada dalam tataran demokrasi sebagai hak sebuah puisi untuk dinilai, tanpa pengacuan lagi pada apapun konteks dari sebuah penilaian yang mengandaikan.
7
tak jemu-jemu saya menghayati kemampuna bahasa itu mekar ke setiap tingkatannya, bahasa yang tak sudah-sudahnya dipakai oleh para pujangga itu, mengarifi hidup yang tak suatu pun darinya bisa kita buat.
saya teringat dalam suatu kesempatan, di fb ini juga, bagaimana erry setelah melakukan aktifitasnya yang khas, menghitung-hitung dunia benda lewat angka-angka, dalam suatu yang kita mengerti samar-samar karena bukan bidang diri, tapi logikanya tertangkap dengan jelas, berkata bahwa kita tak pernah bisa menciptakan bahan dari material "atom".
kita itu hanya bisa menukar-nukarkan, seperti di bahasa, benda ke benda lain, kata ke kata lain, demi pemenuhan fungsinya yang kini mungkin baru. saat mereka telah melakukan penukaran, baru itu kini terasa kepada kita, ke dalam fungsi yang bergema sebagai dunia makna.
tak jemu-jemunya juga saya melihat cara abdul hadi seperti cara erry amanda kini, mengubah tubuhnya jadi kiasan, yang dibawa ke langit. “Tuhan kita begitu dekat”. Langit telah memberikan segalanya kepada bumiNya, dan mereka membalas anugerah langit itu, dengan bahasa. dengan mengubah letak maksud diri, belajar seperti Langit yang mengajarkan letak-letak dari setiap ada-yang-terpisah, agar didekatkan.
di antaranya dekatnya tubuh kita sendiri, yang teramat jarang kita amati, apa lagi kita bawa sebagai kiasan untuk menjangkau Langit. tetapi yang "dekat" dan yang "jauh" itu kembali lagi, oleh pada sejatinya, ada suatu jarak antara kita-di-dalam dan hal-ihwal, "dia-di-luar". jarak dari "jauh" yang kita "dekatkan", tapi untuk di"jauh"kan kembali saat interaksi ini telah mengubah dirinya sebagai hasil, adalah bahasa.
Seperti "awan" itu, yang kini kita "dekat"kan ke "batu".
"awan" adalah arah - Langit". "batu" adalah bumi, "diri". Langit juga, arah bawah dari Langit atas.
suatu bahasa keluar dari buku mulia, bercerita tentang batu-batu - gunung-gunung, kataNya, suatu hari pernah diberi amanat untuk mengemban kehidupan, tapi mereka menyerah, tak kuasa karena rupanya, apa yang tipikal bagi guna itu adalah pikiran-pemikiran. tapi mereka datang suka rela, dan pada "datang" inilah "diri-penyair" seakan "Diri-Tuhan", bahwa mereka lamat-lamat meniru kegiatan Penciptaan, meminta dunia benda-benda agar mengucapkan diri mereka. seperti gunung-gunung yang diminta untuk mengucapkan diriNya, dalam posisinya menjadi khalifah.
8
abdul hadi memanggil "awan", tapi rupanya ia agak membelok, bukan meminta awan itu menjadi salah satu bagian pengucapnya, tapi mengambilnya untuk dunia pergantungan - sang penyair memakainya sebagai dunia tempat diri bertahan - bertahan di langit, seperti erry amanda, mengambil pula rupa dari dunia benda adalah batu, bertahan juga di sini, di batu, seperti abdul hadi yang bertahan di langit, di awan.
Bila kita renungi baik-baik, "awan-yang-bukan-langit-ini", bisa juga sebuah cara dari menimbang penyair yang tahu diri - itu tampaknya gema lain dari suara sutardji: walau alif ba ta ku habislah sudah, diri tak juga sebatas Allah.
jadi awan itu mengatakan Langit tapi dengan caranya yang terbatas, cara konvensional orang beragama, dalam sudut pandang lain.
Ia bukan seperti nugroho suksmanto yang berkibar, dalam diam, mendaki ke langit dan memetik putik dari sidrahil muntaha (novel nugroho suksmanto, lauh mahfuz). tapi abdul hadi cukup mendekatkan langit itu ke yang bisa dipandangi, adalah awan. tetapi dengan sudut pandangan lain nugroho telah berlari jauh sekali sendirian, ke depan sana di sastra kita ini. ia dengan begitu melampaui chairil anwar yang "bertahan" di tengah masjid.
merentak dari tubuh amir hamzah: tirai ia singkapkan, ia pergi ke lauh mahfuz, ia memetik dari sidratil muntaha - apa yang ia petik?
pada awan kita bertahan, kata abdul hadi, dari bumi yang mau menarik
kita kembali dan matahari yang ingin mematahkan.
apa yang menarik kini di hadapan kita, ada dua cara bertahan yang perlu diberi makna. adalah cara erry berpegung dengan batu oleh waktu - oleh masa kanak-kanaknya, oleh masa di mana usia aku lirik itu kelak berakhir.
di sini erry bertahan, di batu, seperti di awan abdul hadi bertahan, di langit. dan lihat apa yang menyongsong mereka dari depan sehingga mereka berpegut bertahan. adalah matahari - matahari yang ingin mematahkan, suatu perguliran dari rotasi, tanda di langit. yakni waktu. waktu jua yang ingin mengambil wajah erry amanda sehingga sang profesor, bertahan bersama batu agar waktu itu kekal di sana.
di lurung ini
wajahku masih tergambar di dinding batu dan tapak batu, menuju pulang.
seolah-olah kita melihat ada dua sifat dari ciri manusia di sini - erry amanda walau bertahan di batu tapi menyadari dirinya menuju pulang. sebaliknya abdul hadi dengan tegas mengatakan: bertahan dari dua keadaan yang serempak menusuknya, dari bumi yang mau menarik kita kembali dan matahari yang mematahkan.
dalam bahasa camus, inilah sampar dua jurusan yang mengusuk ke tubuh tarrow. tarrow yang ateis itu mati kena tusukan sampar dari dua jurusan ini.
saya teringat cara goenawan menusuk pula, lewat kedua tangannya yang memainkan waktu dalam kerangka kereta api, stasiun, kepergian, tempat di mana karcis ada di tangan penyair. karcis dua jurusan, kata goenawan, di tanganku ini. Tapi sutardji yang bergerak menjauhi ketiga penyair ini, lewat batu serupa awan atau mirip awan atau mirip kertas-karcis itu, dengan menyenandungkannya. “batu risau risau batu pukau batu kaukah itu yang tak menepati janji”.
9
segalanya adalah kata tapi seraya itu, segalanya adalah tanda, kiasan.
dari anak gunung ini, kata erry amanda atau kata sutardji, dari lokalitas riauku yang tengah berkabar melawan dunia modernmu.
pelan-pelan kita tahu bahwa "awan" itu tergantung pada "angin" (saya ingat esai jsth yang menghadap-hadapkan wajah helena dengan wajah sapardi dalam sebuah buku esai utuh yang kini lagi diedit, dalam kerangka memainkan nama buku esai teeuw dan dan buku puisi helena (adriany): tergantung pada kata di serangkaian tunggu), sifat awan yang akan dihalau angin ini.
halus betul nasib disapa oleh penyair abdul hadi di sini. sebab tergantung pada angin itu mengubah kualitas kata angin sebagai kata dalam kedudukannya yang baru: kualitas kata angin sebagai tanda.
sehalus batu yang diolah oleh tangan penyair erry amanda juga.
bagaimana sifat batu dan sifat air, semua itu mengelupas demi sang khafilah yang hendak datang dan memintanya berucap tentang tubuhnya.
tubuh inilah angin, yang menghalau nasib tubuh-diri sebagai awan. tubuh inilah batu, yang hendak mengekalkan ingatan pada batu yang menggambari nasib dari sebuah perjalanan.
sajak "empat" dan "dua" "seuntai", tergantung pada angin itu. ia dikonstruksikan sebagai puisi tempat aku lirik berjalan di empat baris di bait pertama, untuk meluncur lewat tanda tanya (kemana lagi kita akan menghindar dan mengambang?) serta sebuah penutup yang bukan main ikhlas-pasrahnya manusia melawan Langit-Nya (tergantung pada angin yang bertiup kencang atau pelahan).
tergantung pada Tuhan, kalau puisi ini hendak diprosakan - bukan diparafrasekan.
menarik kegelisahan seperti ini, atau cara berucap atau keadaan manusia penyair yang membawa dunia ke penandaan, kini diberi model lain oleh erry amanda: keresahannya begitu sublim - atau itu bukan keresahan tapi semata zikir model lain saat menyebut-nyebut tuhannya lewat nasib diri, di momen waktu hendak berjalan pulang?
tergantung pada varian varian baris pendukungnya - tapi tergantung latar belakang hidup kita saat varian varian itu sampai ke diri kita pembaca.
arah akhir dari suatu makna bukan apa yang terberi di/ke dalam puisi, tapi bagaimana setiap diri menjadi user memakai makna untuk dilarikan ke arah kita sendiri.
kata mengubah dirinya jadi tanda, dalam permainan selapis demi selapis dari atas ke bawah - tak pernah kata itu dari bawah mengalir ke atas, seolah dunia bahasa itu begitu tahu diri bahwa kita ini dari langit bukan sebagai kecambah yang tumbuh dari bumi.
huruf "pakis" atau huruf "paku" mengikuti hukum aliran kata seperti ini: mengalir dari "atas" ke "bawah".
Tapi apakah sifat dari palindrom adalah gerakan yang melawan pernyataan ini?
nah kita mulai menemukan banyak misteri dari setiap pernyataan yang modelnya dibuat lewat konsepsi kita akan dunia. implikasinya jadi begini: apakah kita-manusia yang menciptakan Tuhan lewat/dalam pikiran atau Tuhan yang menciptakan segenap adaNya termasuk adanya diri, kita kaum pebahasa ini.
apakah ini ciri dari sebuah kekafiran, sifat yang melekat dalam kabar ayat-ayat mustasyabihat?
siapa yang menggemari ayat ayat ini berhati-hatilah, sebab itu adalah sifat dari kekafiran yang cirinya sedang melekat kepada bahasa lewat tanda tanya.
10
penjelasan sastra membawa kita ke agama
memutar haluan agar tak kafir adalah kebajikan, karena tahu akal tak kuat meraih semua ada. turun lagi setelah sejenak over kepanasan, baling baling pikiran kita ini. bergerak lagi masuk ke puisi yang dikonstrusikan oleh erry amanda dan abdul hadi. kembali melihat sifat dan cirinya, bagaimana dua keping dari setiap kata yang mengubah-ngubah letak tempat dirinya di dalam bahasa, itu bekerja dan kita menamainya sebagai puisi.
"bayang-bayang menuju pulang"
"pada awan kita bertahan".
kini kita menjenguk, masuk ke sebuah kata adalah "pulang" serta "bertahan", satu ungkapan abdul hadi yang tampak hendak mengikat, gerak balik erry amanda. kedua orang pujangga ini kita ini adalah profesor, tapi sekaligus, mereka berdua itu penyair. seolah-olah ada perbedaan dari "matriks" kedua orang ini.
menjenguk ke kata "pulang" berarti merelakan waktu diri untuk melihat "pulang" dari jurusan "dalam" bukan "luar" - puisi tak dibuat oleh penyair agar setiap kata, setiap tanda baca ke/di tubuhnya, dilampaui begitu saja.
"pulang", lewat tiap tingkatan dari mana kata tua ini berasal. saat di jalan, apakah tiada rasa sayu dari anak atau istri, dari suami atau ayah dan ibu yang memanggil-manggil kita dari rumah, lewat tepukan dari setiap ingatan kita akan rumah.
go home, kata orang orang yang terkapar di perang vietnam dulu. atau ia kulit putih atau ia kulit hitam, bila tubuh telah bersimbah darah, kata pulang menjadi ulu hati dari kerinduan diri. pulang dari dunia hendak berakhir dan bergerak ke muasalnya lagi.
pulang dari bayang-bayang ke tubuhnya sendiri: waktu-nir-waktu; saat lesap oleh ia telah ke muasalnya lagi. pulang, merapat ke asal awalnya lagi. bayang-bayang menuju pulang tampak lalu sebuah gerakan bahasa yang mengharukan, oleh "jauh"nya tempat arah kita pulang itu - oleh samarnya (banyak orang tersesat di sini), atau ia jadi ateis atau setidaknya, agnostik, oleh rayuan kata pulang yang begitu jauhnya.
kenanglah lagi nona karen armstrong itu: tadinya kita berTuhan, tapi oleh Ia begitu jauhnya akhirnya orang putus asa.
11
akhirnya orang pulang, lewat gerak mendatar dan itu adalah bumi - mungkin ilmu pengetahuan, mungkin ideologi dan bisa jadi semata kasih. arah pulang kita yang ada di bawah tingkatan dari "bayang-bayang menuju pulang" erry amanda. tujuan akhir yang diam-diam diidamkan - "sebelum aku dikuburkan", kata baris paling bawah erry amanda, membuat kita melakukan konfirmasi dengan meminjam (mula-mula seolah nafsu dunia yang menarik kita, kata kata abdul hadi ini sebelum kelak kita bergerak meremat segenap isinya), "bertahan", yang tiada rela, dan mulai melihat segenap kata yang dipakai di puisi bayang-bayang menuju pulang. melihat kemungkinan kata dunia masih memanggilnya kembali.
kesenangan dunia yang halus dan paling samar, seperti kesenangan sang abid ahli ibadah yang diceritakan dalam kitab ihya' al ghazali (entah telah berapa kali kita mengatakan kitab ini di bulan ramadhan ini. mungkin semacam, katakanlah syiar betapa agama agama din itu harus dinyalakan kembali, karena pelitanya telah redup mengecil), bahwa rupanya keriangan semacam itu masuk ke dalam kategori "nafsu" bagi manusia, yang di"tahan" oleh dunia.
dunia tampak terus mengikat warganya - agar jangan pulang, agar terbenam saja terus dalam kubangannya. apakah irama sedih sayu dalam bayang bayang menuju pulang adalah cara badan/jiwa bertahan agar tetap di dalam dunia? seperti apa rupanya cinta dunia dengan diri yang enggan meninggalkan dunia? seperti apa rupa sifat dan cirinya? puisi mengajari kita akan hal ihwal seperti ini.
diri adalah benda jatuh yang turun ke bumi, melata hendak naik ke langitnya lagi - rumah primordial kita itu di sini.
di selanya, adakah tangan dunia yang masih hendak menahannya?
inikah yang bekerja di puisi erry amanda dan puisi abdul hadi?
puisi meminta kita untuk melihat ini. diubahnya kata ke tanda, adalah bayang-bayang dari kemungkinan bahwa jiwa manusia, lewat gerak halus dan samar, masih ingin bertahan dalam dunia. dan jejaknya adalah kata yang kini bermain tanda, kiasan. adakah gaya dan daya menahan serupa itu? kita berdebar ingin menjenguknya. sebab bahasa mengenal juga arah naik yang adalah bagian paling rumit dari diterapkannya bukan semacam dunia angan sebagai properties.
lewat prosa yang sama sayunya dengan dengan bayang bayang menuju pulang, erry amanda mengkonfirmasi bahwa tiada lagi "nafsu" di bayang-bayang menuju pulang. adalah saat diri berjalan di pagi hari dan seraya tersipu-sipu membersikan sampah dari sebuah kota yang idealnya mesti tertata, dengan bersih sebagai galibnya kota yang sehat. saat orang tersipu sedang kegiatannya itu baik, saat itulah kita tahu bahwa kesehatan memang telah menjadi bayang-bayang dari sesuatu yang kita idealkan. tapi esai ini tak hendak bergerak ke arah tata kota kecuali ke tata kata dalam bahasa - dalam puisi.
foto erry dan kegiatan di pagi buta bagi mereka yang sedang tertidur, tapi pagi bahagia yang cerita bagi mereka yang menyambutnya, lupa saya namanya tapi menjadi latar esai nomor empat, lindap di bahasa erry amanda. foto yang menunjukkan suatu tangan unik, membersihkan bekas bekas sampah dan gerakan seperti ini, apakah tak bisa kita kembalikan ke nama dari suatu gerak, manusia sedang membersihkan dunia; manusia dengan itu sedang membersihkan dirinya sendiri; manusia sedang terus-menerus melihat eksistensi yang paling ideal dalam dunia. rupanya nafsu itu, lewat jejaknya bercak bercak kotor di taman kota, atau kalau kita langsung pindah ke dalam bahasa, jejak-jejak kotor di dalam puisi.
12
kita kini beroleh pijakan yang agak nyata lewat dunia perbandingan, dan lewat pijakan ini kita kini ingin melihat kata yang menopang bayang bayang menuju pulang itu, dalam kerangka kotor - bukan obscure, tapi hasrat, nafsu-nafsu atas dunia, yang mengatasi jiwa naik dari esensi mahluk yang jatuh ke bumi, kini menuju rumah abadinya. rupanya di selanya bekerja jari jari bahasa ke tubuh bahasa, terus menerus membersihkan dirinya lewat kata. tetapi yang kita hadapi adalah tanda, gerak jiwa manusia penyair yang membentuk dunia perlambangan, menghalus dalam permainan kata yang menjadi dunia perlambangan.
kata "kotor" itu mungkin saja menjadi soal-soal di ketepatan diksi, seraya menghalus ke setelah diksi adalah dunia yang naik itu.
"di lurung ini" itu adalah suatu perlambangan bagi "dunia luas yang telah dibuat mengecil", menjadi pengalaman individual yang mungkin kaca bagi wajah orang ramai.
Ada kerelaan di sini, keikhlasan dari suatu diksi agama-iman yang bekerja lewat bahasa puisi. pada saat seperti ini abdul hadi atau erry amanda, otomatis telah dihitung lewat diksi dari kitab suci juga: penyair yang berjalan di lembah-lembah bahasa mana mereka itu. cepat kita menjawab bahwa mereka penyair yang diterakan oleh buku mulia itu: asyura yang sedang berjalan jalan di lembah kanan bahasa.
dari kata kita tahu, atau kalau ingin konfirmasi ke tubuh, sastra membutuhkan geraknya yang lain adalah biografi, tempat sang penyair berkiprah sehari-hari. meluaskan kata ke laku dan mengembalikan laku ke bahasa lagi.
dalam kerangka kata yang ikhlas, kata yang beriman pada langit bukan pada bumi, kita bisa melihat apakah kata yang telah bergerak, membentuk rantai adalah baris puisi, mengeluarkan perlambangan yang dapat kita pegang. apakah dalam perspektif memandang seperti ini jejak gambar dari suatu wajah yang tertinggal di batu sebagai dunia paling samar dari jiwa yang masih tak juga "ikhlas-rela" untuk pergi, meninggalkan dunia-nya demi gerak "pulang", dari suatu badan dan kaki terayun untuk naik ke langitnya lagi.
diri adalah benda jatuh ke dunia, kini diri adalah benda naik ke dunia.
apakah wajah yang tergambar di permukaan batu itu adalah diri yang semata meninggalkan bayangan atau jiwanya yang terlekat di sana. apakah ada keluh di tiga baris awal erry itu. atau itu hanyalah ingatan pada jejak sejarah tanpa mesti menghidukannya, ke arah jiwa tak sadar sedang mengatakan sesalnya. agak jelas adalah baris baris akhirnya: sifat jejak - tertinggal, itu ia hentakkan ke sini. ke arah dunia dari badan-nafsu yang menjadi sorotan erry amanda, atas dunia yang hendak ia tinggalkan ini.
halus, samar, baris empat baris awal erry itu, keadaannya berbeda dengan ketegasan bumi dan langit pada abdul hadi, sebelum kita mulai bertanya-tanya: apakah kehendak orang bertahan di atas awan? di atas awan, atau di awan, orang tak naik dan tak juga turun. orang bertahan di awan, dari bumi-dunia yang hendak memalingkan matanya. tapi ia di awan saja, karena langit di atas itu adalah bumi juga: matahari yang ingin mematahkan.
kita sadar bahwa kita sedang bergerak, membelah ide induk ke belahan belahan berupa baris puisi.
13
sifat-sifat kata dan cirinya, yang membuat kita tertarik pada puisi atau sastra,
dalam kerangka dunia yang luas dan penuh misteri ini. sifat dan ciri itu yang membuat kita berpikir tentang apakah kata yang telah dilepaskan mesti kita tarik kembali. menariknya lewat kenyataan bahwa kata itu adalah sekumpulan dan dari sekumpulan ini akan keluar makna pokoknya. tetapi kata itu telah terlanjur membelok, walau ia lurus kembali. apakah pembelokan ini dinafikan atau kita kembalikan ke alur pokok dari mengapa tanda itu dibentukkan para penyair.
betapa sukar kita hendak berdiam di suatu makna, pun saat misalnya kata itu baru bergerak sebarisan dan sebarisan ini yang kita timbang, sebelum penimbangan itu akan kita alurkan kembali ke induk dari irama pokoknya. sebab kata itu membawa lapisan yang tiada pasti. sebab ia telah bergerak menempuh jalurnya yang baru - tanda.
jelas kita digoda oleh imajinasi, yang memiliki sifat pengubah kenyataan saat abdul hadi melepas dunia fisik awan, kita-manusia, tapi kini telah menjadi bahasa, tempat hal ihwal yang tak mungkin itu jadi mungkin. kata di dalam dengan begini memiliki peluang untuk kembali ke acuannya lagi. sebelum ia kita bawa masuk lagi menjadi bahasa. apakah manusia mungkin bertahan di awan/pada awan?
"pada awan kita bertahan, dari bumi yang mau menarik".
mula mula kita berpikir akan ketidakmungkinan, lalu enyambemen "menarik" itu membuat kita memperhatikan "bumi" - bumi yang menarik. seperti pusat perhatian kita terfokus kepada "batu" - batu yang menyimpan wajah. kita menghitungnya. apakah arti dari bumi yang menarik, kembali itu?
kita menjawabnya: itulah rumah manusia, dengan segenap pasti dan mungkinnya. itulah tempat badan dan jiwa dipertaruhkan, dalam segenap suci dan kotornya.
kita mengembang dari sini: awan itu lalu memiliki sifat eskapis, orang hendak pergi, lari dari dunia. tapi dari atas ulu itu datang: langit mematahkan. jadilah tubuh itu terentang di awan. pada bayang bayang menuju pulang tak kita temukan ulu, dari arah mana pun ia tiba. orang hendak pulang dan ia meminta bantuan batu untuk merekam wajahnya. seolah Tuhan dulu, meminta gunung untuk mengemban amanahNya - jadi khafilah.
kecil saja bedanya, dalam fakta, tapi tidak dalam prinsip penciptaan. dalam penciptaan Tuhan dan manusia adalah Pengarang - p kecil milik manusia. mesti ada atomnya dulu kata erry baru kita kuasa mengadakan, mendekatkan apa yang jauh, jadi ciptaan. seperti didekatkannya ke awan langit dan bumi.
bumi mau menarik manusia kembali tapi langit mau mematahkannya. jadi bertemulah, dua daya itu. dan awanlah, tempat manusia, kita liliput ini, sembunyi.
apakah erry amanda menjadikan batu itu tempat ia mengungsikan wajahnya?
tak kita lihat gerakan paradoks seperti paradoksalnya gaya bahasa dua arah abdul hadi ini, pada erry amanda. ia bergerak lurus - aku ini hudan, seperti dirimu, berjalan ke kubur kita sendiri. tapi di selanya ia adalah pelukis warna dan batu itulah yang ia lukis: diberinya wajahnya, direkatkannya ke batu itu. wajah apa? wajah dari gerakan kata seperti apa? kita kembali ke abdul hadi lagi. sedih yo.
MENARIK
di depan sebuah enyambemen saya memikirkannya, betapa dunia istirah begitu menggoda, dari kekuatannya yang menahan, atau menghentikan limpahan. "menarik" sebagai ujung dari baris "Pada awan kita bertahan, dari bumi yang menarik", itu kini berhenti, tertunda untuk melimpah ke "kita kembali". ujung mengambang itu yang menahan kita - ia ibarat suapan dan kita mesti menyelesaikan suapan ini. jangan dulu mengunyah "kita kembali". tapi menahankan apa yang kini telah dihentikan. "menarik" ini segera mengantar kita kepada sifat dunia "yang menarik", manis, dan ‘kitab ihya' mengabarkan bahwa kemenarikan dunia itu seakan perempuan yang memikat. seseorang dari dalam teori sastra berkata bahwa puisi adalah sebuah bahasa yang paradoks. saya kira ia benar, dan kini kita mengalami dunia paradoks itu, pada "menarik", yang diberi abdul hadi kata "mau". ada gerak tarik menarik di sini: kita yang menarik dunia, dan dunia yang menarik kita. "bumi yang mau menarik", ke bumi itu lagi, dari suatu awan yang menjadi daerah persembunyian, eskapis di awan. kita berhenti “di” karena ditarik dunia - ditarik bumi. tak lagi maju, tertahan oleh sifat dari fungsi enyamben. tapi saat kita turun tenaga kontradiktif dari bahasa yang paradoksal itu segera hadir. "kita kembali" - kita kembali ke dunia itu lagi, kita kembali ke bumi dengan putih dan kotornya. pikiran mungkin bisa melakukan cegatan itu, sepanjang kita mengerti teori enyambemen. tapi mata kita seperti mata yang diceritakan aristoteles: gemar memandang-mandang, dan mungkin telah turun, menjemput baris "kita kembali", sehingga ia merembes ke dalam pikiran: "bumi yang mau menarik kita kembali", padahal ia dua belahan yang saling tarik-menarik. inilah keadaan bujang dan gadis yang saling tenipuk. bujang bertepuk dan gadis membalasnya. gadis bertepuk dan bujang menyiulinya. keadaan itu seimbang, tapi oleh mata ia jadi saling menumpuk dan subjek pun dikalahkan oleh objek - dunia itu. tapi erry terus melambai lewat kehalusan dari dunia batin yang amat tepi: bagaimana menjaring waktu? apakah abdul hadi menjaring awan? bagaimana menjaring diri? apakah waktu menjadi air yang telah ditiriskan? kini di genggaman. "seteguk saja di telapak awan", kata tokoh yang unik dan menarik ini. abdul hadi juga amat menarik saat mengubah awan menjadi “tiang gantungan”. kita tergantung di sana, di awan abdul hadi. diri menjadi "tiang bendera manusia di awan" abdul hadi. "setelah lama menjaring waktu pada tiris air", inilah muasal, mula dari gerakan yang amat mengharukan itu: "seteguk saja di telapak tangan".
0 komentar:
Posting Komentar