Minggu, 22 Februari 2015

2. Pena



Patahnya Penanda 

    Apa yang unik dari narasi kitab suci, ia tidak menguraikan dirinya lewat teori semisal teori Saussure atau Peirce, tapi menunjuknya, dan apa yang ia tunjuk itu diringkas saja dengan kata tanda. ia memang tanda, suatu manifestasi dari kuasa-Nya, yang diubah-ubah letak dan fungsinya sebagai dunia tanda. lauh mahfuz itu misalnya, kini diiringi oleh sidratil muntaha (nugroho memuat dalam bab-bab sendiri), atau saat kalam yang serta merta diiringi oleh pena. semua itu menunjukkan dunia tanda, dunia perlambangan di mana kita hidup di dalamnya. tanda yang begitu misterius, bahkan gaib.

    Pada kenyataannya, tanda, diuraikan lewat perincian Saussure atau Peirce, memang akan mengarah ke sana, ke pengertian bahwa, katakanlah langit sebagai, nah ini jasa Saussure, "penanda" dan gagasan yang dibawanya (petanda). dengan lain perkataan, tanpa perincian penanda dan petanda, langit sebagai tanda di dalam kesadaran kita yang menyentuhnya, akan mengimanenkan teori tanda Saussure. Sedang "tanda" itu sendiri, adalah sebuah kata yang netral, belum menunjuk ke teori linguistik, semiotik atau hermeneutik apa pun. Ia telah hadir saja sebagai warga dari sebuah kamus bahasa. Ke etimologi apa saja, "tanda", sebagai sebuah pengertian di ruang sadar, adalah pertemuan dari pikiran/perasaan manusia ke objeknya, walaupun pikiran dan perasaan manusia itu, tidak menyebut semiotis itu sebagai tanda.

    Etimologi itu memang kita perlukan untuk mengusut muasal sebuah kata, tapi keadaan batin dari kata itu sendiri, adalah sebuah ruang sadar manusia, kuno atau baru, saat bersentuhan dengan dunia. Mungkin saja bahasa kita belum mempunyai kata matahari-nya sendiri, tapi sebagai fenomena benda di langit, matahari itu telah terlihat oleh orang, di kurun waktu berapa pun ia itu hidup di bumi. Maka menjadi penting sebenarnya kamus bahasa daerah, dari orang-orang lama yang tersebar di kawasan negeri kita dulu, bahwa apakah yang ia namakan, misalnya, dengan realitas benda yang tergantung, di langit di saat siang hari itu.

   Tentu saja manusia berpikir dengan kata, suatu fenomena di mana kekayaan bahasa lalu jadi niscaya, untuk mengembangkan pemikiran. tetapi sekali lagi, seandainya kita belum mempunyai kata matahari untuk sebuah keadaan kata secara pasti - tegar seperti matahari atau sun, maka matahari itu menjadi percobaan untuk menamai. Bagaimana kita ingin, kita orang dulu, melakukan kegiatan paling sederhana semisal menjemur pakaian, andai tidak ada kata dari fungsi matahari yang kita inginkan. Kalimat dari keinginan seperti ini misalnya: "hari sudah siang, tolonglah jemur pakaian, agar pakaian kita kering, dan anak-anak bisa pergi ke rumah paman, bersama kau dan aku." inilah suara seorang ayah atau seorang ibu, suatu dialog di ruang domestik orang orang masa lalu, yang kita bayangkan, bagaimana mungkin terjadi andai ia tak punya kosakata menyebutkan siang sebagai akibat dari kata yang lain yakni matahari.

     "Tetapi penanda itu dua kali menyeberang", menyeberang sebagai penanda di awal yakni kitab suci dan menyeberang sebagai esai adalah buku esai ini, yang mengambil urutan dari 1) lauh mahfuz ke 2) pena, hal yang sama juga dikerjakan oleh nugroho dalam novel lauh mahfuz, misal dari gelisah ke catatan panji lalu ke menyusup kabut.

    Itulah penampilan dari hukum jiwa kalau dalam istilah Takdir atau keadaan "valensi" pada saussure, bahwa apa yang terikat itu selalu, adalah dunia petanda yang menukilkan siapa penandanya itu walau relasi ke keping tanda ini, kita memakai saussure dulu, untuk sementara, adalah semana, hal yang tak mungkin karena bagaimana mungkin hukum jiwa pencipta (Tuhan) adalah arbitrer. alangkah absurd alam semesta ini kalau segala rencanaNya disandarkan pada dunia semena alias arbitrer. kita dengan begitu sempurna mengalami suatu dunia yang saling tidak mengerti: akal pikiran tidak mengerti dirinya sendiri, sebab terkandung dalam arbitrer ini suatu gerak bahasa/kata semirip kredo sutardji itu: kata kuasa berlari ke arah tumpukan dari celah batu maknanya sendiri. Jadi Tuhan sendiri tak memahami lipatan hatiNya sendiri, hal yang tak mungkin dan saat ia mengajari adam nama-nama, pada saat itulah dunia arbitrer itu rasanya dengan sendirinya telah patah.

    Patahnya arbitrer ini dimainkan lewat tiap pengetahuan yang Ia julurkan sebelum apa yang mulur itu kelak diisapnya kembali, lewat pernyataan yang seolah datang dari dunia keilmuan, "aku yang tahu" (kata seorang profesor diam diam di dalam kampus), sedang "kamu tidak tahu" (kepada mahasiswanya di dalam kampus), dan dunia aku yang mengetahui ini yang segera ia bantah, bahwa yang alim itu ia bukan ciptaannya. ia yang tahu bukan kita. memang benar kita diberinya tahu tentang empat kawasan ilmu pengetahuan yakni awal (jenis jenis ilmu semisal antropologi, etnologi, astronomi dll itu), akhir (futuristik/futurisme bergaya misal fukuyama, atau teman kita dari eropa yang ternama, ke masa depan), atau segi ilmu pengetahuan fisik batin, dan semua itu yang di bagian lauh mahfuz telah kita proyeksikan dengan jalan menghamburkan kembali setiap kata di novel lauh mahfuz, sehingga keadaan itu adalah serupa dengan keadaan lauh mahfuz dan sidratil muntaha di langit itu. atau empat kategori ilmu pengetahuannya, aku yang awal, itu digelar tapi dimulurkan kembali ke asal. keadaan ini yang kita sebutkan sebagai dua bab di novel lauh mahfuz - bab lauh mahfuz dan sidratil muntaha.

   Ke sini mata kita melihat warna serta telinga mendengar bunyi, memikirkan kata yang membawa imajinasi ke dalam novel. Sebuah kata terdengar, atau kita baca, imajinasi membawa kita ke apa yang ditunjuk oleh kata yang imajinatif. Mula-mula kita mungkin akan menunjuk ke kata yang lain akibat imajinasi adalah "jarak". Bahwa imajinasi menimbulkan jarak, jarak yang mungkin dekat atau jauh. "Kata" mungkin "jauh" pada benda yang ditunjuknya. Ada jarak antara "kata" dan "bumi" sebagai isi langsung darinya. "Kata" itu netral, ia belum berisi, tapi "bumi" sudah tidak netral lagi - ia adalah "kata" yang kini sudah berisi. Misalnya kata “Tuhan” yang kuasa memproduksikan kata "Lauh Mahfuz".

   Langit oposisi jarak dekat ke jauh. Langit sebagai sebuah kata, menimbulkan imajinasi yang begitu jauh jaraknya, jika kita bandingkan pada bumi yang kita kenal. Akhirnya bergulir lagi kata yang lain, atau akan selalu begitu: dari mana pun kita berdiri, melahirkan sebuah kata, kata akan diikuti (kata) ikutannya. Kalang kabut dibuat oleh kata yang kini kalibut, serentak masuk ke pusat kesadaran adalah diri, sebelum diri memutus dan menimbang kata mana yang akan kita pilih sebagai tempat kita berdiri. Saat ini juga apa yang simultan masuk: bumi dan langit tenggelam ke dalam badan. Masih adakah jarak tadi? Pengertian langit jauh dan bumi dekat, tapi jauh dan dekat ini, pada kenyataannya, menghilang dalam kesadaran yang kita tidak tahu di mana letaknya. Di dalam badan, meruang di segenap badan.

  Dalam kalibut pula kata "jarak" muncul lagi, lewat pengertian kita kepada fungsi mata serta telinga, dua instrumen yang membawakan apa yang "jauh" di dalam adalah kesadaran, melalui alatnya mengindera apa yang jauh dan sebaliknya. Seolah-olah langit begitu jauh dan langit itu memang jauh - dan ia yang jauh kini makin menjauh lagi saat langit belah lagi ke langit yang lain adalah "Lauh Mahfuz".
    Apakah kita tahu di mana letak Lauh Mahfuz? Apakah Lauh Mahfuz? Sedang letak dan apakah langit, yang kita kenali karena familiar, kita tidak tahu. Ia jauh dan muncul lagi kata jauh yang lain adalah abstrak, atau samar. Langit abstrak, samar, atau kita hendak terus biakkan kata ini menjadi “halus”, maka langit tampak halus dari bumi, tempat kita berdiri memandang ke langit sunyi.

   Pembiakan kata tak sudah-sudahnya andai ia tidak kita hentikan, menahannya dengan cara mengambil darinya satu kata, menjadi titik tempat kita melihat, walau ia tak kuasa kita hentikan oleh kata lain yang berbiak dari kata adalah "gerak-gerakan". Bahwa kata seolah tubuh, bergerak tak hendak diam. Sia-sia upaya menghentikannya, yang bisa kita lakukan hanyalah menahannya, membuat diri berhenti di sebuah kata dan, dari sini, setiap gerakan kata itu kita tahan, mengalurkannya, sehingga kata yang bersifat pokok di awal, kini seolah hulu sungai ke hilirnya.

     (QS 11 : 6):

Tiada suatu pun makhluk
Yang bergerak di muka bumi
Yang bukan Allah memberinya rejeki
Ia mengetahui kediamannnya
Dan tempat menyimpannya
Semuanya ada dalam Kitab
(Lauhul Mahfud) yang nyata.


    
    JEJAK


Kini kita mengerti jarak itu mengabur. Apa yang kita lihat dekat tadi rupanya begitu jauh - jejaknya, yang dekat itu, tenggelam ke dalam badan, begitu jauh ia kini. Yang tertinggal hanyalah bahasa: segenap jejak itu, adalah bahasa, yang kabur karena ia halus - langit tak terlihat atau jiwa yang sama tak terlihatnya. Kadang kita berpikir tentang sesuatu yang akrab, tapi saat kita mencoba melihatnya, tiba-tiba ia jadi asing. Siapakah yang berbicara di dalam tubuh kita ini? Adalah aku, aku yang berbicara, atau aku yang menulis. Saat kita ingin melihat aku ini, aku di dalam tubuh yakni kita sendiri, hanyalah jejaknya saja yang ada: suara, tanpa pernah kita tahu di mana ia berada. Ia ada di dalam badan, lewat larink ia terdengar. Tapi siapakah aku di dalam badan itu? Aku yang dekat itu kini menjadi jauh, begitu jauh seolah Lauh Mahfuz yang kita tidak tahu. Seorang pengarang mengambilnya sebagai sebuah jejak yang meninggalkan jejak.

    Kita tidak tahu di mana letak lauh mahfuz seperti kita tidak tahu letak jiwa di dalam badan. Badan ini lalu jadi seakan dunia, tempat lauh mahfuz itu berada. Sesuatu selalu akan berada di ruang dan waktunya, walau ruang dan waktu ini bukanlah ruang dan waktu yang kita kenali. Tetapi apakah kita mengenali ruang dan waktu dari jiwa kita kecuali tubuh luar yang bisa kita "pegang"? Ia jadi seakan benda langit andai kita naik ke langit - seperti astronot kemarin yang pergi ke Mars dan andai ia turun di Mars, ia bisa memegang objek-objek di sana seperti kita di sini, memegang benda-benda di luar tubuh itu. Tetapi tenaga Mars itu tak kelihatan seperti tenaga jiwa kita ini tak kelihatan, lagi-lagi kecuali jejaknya.

Adalah jejak ini yang kita lihat di bahasa, sebagai bahasa. Lauh mahfuz itu kita mengerti karena ia ada di bahasa bukan karena pengalaman empirik, seperti jiwa kita juga, oleh bahasa ia kita tahu bahwa ia adalah kesadaran, jiwa, roh, yang tidak kita kenali karena wujudnya yang bukan fisik. Soalnya, apa yang fisik itu tenggelam dan kita pun kita kehilangan kenyataan. Kenyataan itu kini tidak lagi kenyataan kecuali ia adalah bahasa.

    Jejak yang hanya ada pada bahasa, bukan ruang dan waktu fisik, eksis sebagai bahasa. Bahasa ini yang dipetik dan diletakkan sebagai bahasa, oleh seorang novelis yakni Nugroho Suksmanto. Dengan begitu ia telah memprovokasi tentang jejak yang tak terlacak, langit itu. Sebab Lauh Mahfuz adalah kosakata yang datang dari agama Islam lewat kitab suci Al Quran. Novel tebal 499 dan diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama tahun 2012, menurunkan apa yangtak terlacak itu, membuat gerak realis saat ia membuka bab pertamanya,


     GELISAH SEBAGAI TANDA


Kita berbicara tentang tanda karena pengarang akhirnya seperti Penulis kitab suci, yang memang telah menukilkan tanda ini lewat serangkaian keterangan tentang dirinya dalam kaitan dengan alam yang ia sebutkan sebagai tanda. Tak kaulihatkah tanda-tandaKu di alam? Itulah serangkaian bahasa kitab suci yang sedang kita utarakan dengan bahasa kita sendiri, sebuah tanda seperti novelis saat menghadapi gejala kehidupan, melepaskan tanda juga dalam novelnya. Adalah “gelisah” yang turun langsung menjadi tanda untuk mengimbangi tanda yang bukan main tak terpermanai: lauh mahfuz, sebuah tanda, bukan pengalaman nyata, tapi sebuah bahasa. Jejak dari setiap kisah dalam kisah-kisah di kitab suci itu, kini akhirnya berhenti sebagai bahasa yang merupakan sekumpulan tanda.

    Menyadari yang kita hadapi adalah bahasa, membuat sastra yang bekerja lewat medium bahasa ini kuasa menjadi intens. Sehingga sesaat kata yang memiliki kualitas tanda kita temukan, kita pun akan melihatnya sebagai tali yang mengikat gejala kehidupan. Gelisah itu misalnya, kini kita hayati sebagai tanda bukan sebuah kata yang dipasang secara acak, masuk ke dalam novel. Sebagai sebuah tanda, hendak melambangkan apakah “gelisah” yang menjadi bab pertama Novel Lauh Mahfuz?

Berdiri di depan "Lauh Mahfuz" dan "Gelisah" artinya kita kini berada dalam dua karakteristik kata yang kita rujuk ke muasalnya. Muasal dari "lauh mahfuz" adalah kitab suci sedangkan awal dari "gelisah" adalah tubuh dan jiwa kita ini. Itulah konsekwensi pertama yang keluar manakala kita mencoba menghubung-hubungkan kedua kata dalam perspektif tanda, bahwa Nugroho Suksmanto sebagai novelis ia mengarang sebuah novel dan nama novelnya itu "lauh mahfuz". Ada tanda lagi di sini, sebagai isi-kata yang kini mengubah diri jadi isi-warna yakni cover novel lauh mahfuz, yang melambangkan kuasa-kekuasaan dalam dunia lewat kata yang kini digubah jadi tanda sebagai bentuk dan warna, etalase masuk ke dalam novel.

     Tubuh adalah manusia atau manusia itu adalah pecahan-pecahan tubuh dan jiwanya, dan kedua inilah yang diterakan lewat kata "gelisah", jadi seolah inilah produk dari kosakata melalui kebudayaan itu, adalah manusia dan manusia ini dalam keadaan "gelisah". Sedang lauh mahfuz bukanlah produk dari kebudayaan karena ia bersifat wahyu. Pada satu titik seolah-olah kedua kata ini terpisah dan jarak yang memisahkan mereka seakan terbaca lewat langit sebagai lambang kewahyuan, sedang bumi tempat manusia yang menerima dengan tengadah ke langit wahyu.

Dalam riwayat Rasul Muhammad gelisah dan ia menunggu, di Gua Hira, ia serasa-rasa ingin membunuh dirinya dengan jalan menerjunkan dirinya ke bawah dari atas Gua Hira. Sebabnya ia gelisah, menunggu wahyu tak datang lagi, terputus setelah jiwanya mekar oleh perasaan keilahian. Itulah riwayat Surat dari Ad-Duha, dan itulah jawabnya:

    Tuhanmu tak pernah meninggalkan dirimu.

Gelisah reda dan gelisah ini kita kembalikan lagi: ia produk bumi seperti nugroho yang memproduksikannya, menjadi kata seakan kumis tipis sebagai hiasan di bibir manusia. Ia produksi kita bukan produksi langit. Tapi rupanya Lauh Mahfuz juga yang rupanya meretas dirinya dan kini kita tahu, bahwa gelisah tak lain karya-Nya juga.

WahyuNya:

    Kami ciptakan manusia dalam keadaan fitriah:

ia itu bersifat gelisah.
 
   Kalau senang hatinya riang kalau dirundung duka ia berkeluh kesah.

Maka kini langit berbaur kepada bumi. Apa yang kita sangka produk dari orang bumi rupanya ada awalnya dan awalnya itu adalah sifat diri - gelisah. Jadi karakteristik mereka sebagai sebuah kata, lauh mahfuz dan gelisah, akhirnya kita kembalikan lagi ke langit bukan ke bumi. Itulah kesudahan mereka dibaca dalam perspektif tanda, karena novel adalah sekumpulan tanda.



    IMAJINASI


Pengalaman empirik menunjukkan bahwa kita tidak pernah berumah di langit. Langit oleh itu bukanlah kosakata pengalaman nyata dari tubuh nyata kita ini. Olehnya semua berita tentang langit hanyalah kita ketahui lewat jejaknya adalah bahasa. Bahasa ini pula, yang sedemikian menggoda oleh sifatnya tanda itu, bahwa ia melambangkan dan apa yang ia lambangkan adalah kebalikan dari cita rasa kita tentang bumi. Kalam itu bercampur dengan Pena dan keduanya adalah Tanda. Apakah lauh mahfuz yang menghasilkan kalam-pena atau pena-kalam ini yang menulis sehingga tulisannya menjadi sebuah abstraksi adalah lauh mahfuz.

     Inilah yang menggiurkan sebagai sebuah permainan tanda, bahwa sifat dunia menyeluruh kini terikat, diikat oleh sifat kata yang memiliki kualitas tanda. Dunia maha luas mukul dentur selama, kata penyair Chairil, dan keluasan dunia itulah yang mesti dihentikan, dengan instrumen penghentinya adalah kata yang bersifat tanda itu. Tapi tanda ini meluas lagi: yang ditimpanya kini adalah pikiran dan perasaan diri adalah imajinasi.

Sesaat keluasan dunia diikat oleh kata, sesaat itu juga ia terbuka karena sifat tanda begitu imajinatif. Seperti betapa imajinatifnya saat Nugroho meminta tokohnya Panji naik ke langit, atau ia sendiri sebagai penulis telah lebih dahulu memetik langit dan menaruhnya sebagai bahasa adalah novelnya. Kita mulai ditarik oleh setiap arah dari fasilitas yang disediakan oleh kata, hal yang hendak kita kurung agar diri tak kalang kabut karena sifat kata yang begitu simulatan masuk lewat segenap arah yang muncul.

    Kini kita tergoda kembali kepada Lauh Mahfuz yang misterius itu, mencobakannya dengan jalan mengapung, berayun-ayun dari kata ini dan melihat di setiap sisi-sisinya yang mungkin. Atau kita kembali ke lauh mahfuz sebagai novel dan gelisah sebagai satu kata yang terpasang sesudahnya. Atau ini: kita menghayati pengarangnya, bagaimana ia tiba-tiba memetik lauh mahfuz dan memasangnya sebagai nama dari karya sastra. Semua itu kita rasakan datang dengan serentak, apa pun yang kita pilih tampaknya oleh sifatnya sebagai tanda, akan terhubung kembali. Kita pun tahu bahwa sifat tanda itu saling melimpahi satu sama lain.

Tak terbayangkan, memikirkan kata lauh mahfuz dan makna lauh mahfuz dari jurusan ketiadaan, bahwa kata itu seolah setitik hujan masuk begitu saja ke dalam hati manusia dan mulailah ia berbiak di sini. Seandainya ia berbiak di tubuh pengarang, masih kita bisa bayangkan bahwa Nugroho Suksmanto, mengambilnya dari dalam bahasa skriptural dan kini merajutnya ke dalam ciptaan sastra. Ada muasalnya, lauh mahfuz itu. Sebaliknya langit yang tak terpermanai itu, menghasilkan kosakata lauh mahfuz, dengan apa kita hendak membayangkannya?

    Bahwa suatu ketiadaan kini hadir, membawakan keadaan yang nyata adalah bahasa. untuk sementara sifat misteriusnya langit kini datang lagi, lewat bahasa sebelum kita menyimaknya sebagai permainan tanda dalam novel. Betapa misteri dunia ketiadaan, yang lain sekali dengan dunia manusia yang menghasilkan novel. Itulah wahyu dan salah satu isi wahyu adalah kosakata lauh mahfuz, yang oleh pujangga Iqbal disebut metafor akan kemelimpahan. Kita kembali ke iqbal sejenak agar kita bisa keluar dengan kemungkinan saat ia kini meregang sebagai wahyu dan sebagai wahyu yang telah diolah sebagai bahasa.

      Iqbal dalam "Rekonstruksi Pemikiran Agama Dalam Islam" menulis (hal 9), bahwa,

"Sungguhpun begitu, dalam geraknya yang lebih dalam, pikiran sanggup mencapai tahapan yang sempurna, yang tak terbatas, yang imanen, yang dalam gerakan pernyataan-dirinya pelbagai macam konsep yang serba terbatas itu hanyalah sementara. Jadi menurut sifatnya yang hakiki pikiran itu tidaklah statis; ia dinamis dan mengorek ketakterbatasan batiniah dalam waktu, seperti benih, yang sejak semula sudah mengandung kesatuan pohon yang organik sebagai suatu kenyataan yang ada. Jadi pikiran ialah keseluruhan dalam pernyataan-dirinya yang dinamis, yang oleh pengelihatan sementara tampak sebagai serangkaian spesifikasi tertentu, yang takkan dapat dipahami tanpa suatu petunjuk yang timbal balik. Artinya tidak terletak dalam bukti dirinya, melainkan dalam keseluruhan yang lebih besar, yang merupakan aspek-aspek tertentu. Keseluruhan yang lebih besar itu, untuk memakai metafora dalam al-quran ialah semacam ‘Lauh Mahfuz’ yang menyimpan semua kemungkinan-kemungkinan pengetahuan yang tidak menentu sebagai suatu kenyataan yang ada, menjelma dalam rangkaian waktu sebagai pengertian beberapa konsep, yang masih terbatas, yang tampaknya akan mencapai suatu kesatuan yang sudah ada di dalamnya.

    Dalam kenyataan, kehadiran yang maha tak terbatas dalam gerakan pengetahuan sangat memungkinkan adanya pikiran yang terbatas itu. Baik Kant maupun Al Ghazali telah gagal meninjau bahwa pikiran tepat pada saat mengetahui, telah melintasi keterbatasannya sendiri. Pembatasan-pembatasan atas alam sangat berbeda eksistensi geraknya dengan pikiran, yang menurut sifatnya yang asli, tak dapat dibatasi dan tak dapat pula tinggal terkungkung dalam lingkungan sempit dari individualitasnya sendiri. Dalam dunia yang terbentang luas di depannya itu, tak ada sesuatu yang asing baginya. Karena tindakannya yang progresif dalam menyertai kehidupan yang tampaknya asing itulah maka pikiran itu dapat menerobos dinding-dinding keterbatasannya dan memasuki ketakterbatasannya yang masih tersembunyi. Bekerjanya hanya dimungkinkan oleh kehadirannya yang implisit dalam individualitasnya yang terbatas dari yang tak terbatas, yang tetap menyimpan hasrat yang menyala-nyala, yang terus bertahan dalam usahanya yang tak berkesudahan itu. Salahlah jika orang menganggap pikiran itu tidak tegas, sebab menurut haluannya sendiri ia juga merupakan sambutan dari yang terbatas dan yang tak terbatas."



    MELAMPAUI TANDA


Kutipan agak panjang adalah sarana kita menguji lewat pertanyaan yang kita imajinasikan, akan "kalimat-kalimat” Iqbal, misalnya, "tentang pikiran dalam kaitan dengan dunia", yang membawakan pula bidang bidang pikiran dan intuisi, serta menghadap-hadapkan pikiran yang terbatas sedang yang akan ia jangkau tak terbatas, yang segera dihubungkan dengan pengatahuan manusia serta keyakinan-keyakinan yang melandasinya. Sungguhkah "Iqbal" "di luar" "Lauh Mahfuz" dalam pengertian ruang dan waktu dirinya tidak telah terlipat di dalam lauh mahfuz. Atau, dibuatnya semacam perenungan oleh penyair yang filsuf ini, akan arah "Yunani" serta "Islam" yang ia tinjau dalam kerangka kewahyuan, berada dalam ruang dan waktu lauh mahfuz, mengikat segenap ada di awal serta di akhirnya. Bahwa segala ada terdedah ke dalam dunia bukan saja metafor, menurut kitab suci, tapi adalah keadaan sebelum dan setelah atau totalitas dari setiap ada yang terjadi.

    Atau, ia adalah metafora, tempat di mana Tuhan bermain kiasan dunia melalui bahasa dan kalau begini, maka ia itu tidaklah operasional, hanya tanda dari betapa maha kuasanya sang Pencipta. Menerimanya sebagai semata kiasan, suatu tehnik berkomunikasi, tanpa potensial yang akan wujud, akan menciptakan ruang kosong dari serangkaian dunia yang membawa nasib dan takdirnya. Dari mana nasib dan takdir ini, di mana ia dimuatkan di ruang rencana dan kejadian di tanganNya.

    Tapi kita tahu bahwa Iqbal memakai kata "metafora" dalam tulisannya sebagai sebuah nama, dari arah penandaan akan apa yang akan ditandai, dan apa yang akan ditandai itu akan terjadi dan keterjadiannya mestilah disebutkan dan penyebutnya adalah sebuah kata yakni lauh mahfuz. Gemanya adalah kiasan, metafor. Selebihnya lauh mahfuz melampaui identitas dirinya sebagai metafor: ia adalah pra-rencana, rencana, dan pelaksanaannya. Kita bisa mendugakan bahwa di tahun kesekian ini di muka bumi, akan lahir lauh mahfuz lain adalah novel, dengan Nugroho telah menjadi bayangan-belum, jauh di saat novel itu kita imajinasikan mundur - belum terjadi, direncanakan akan terjadi, dan akhirnya memang terjadi.

Segera kita memasuki ruang absurd dari labirin yang berlorong-lorong sesaat kita mengakui bahwa segenap ihwal telah tersimpan di dalam lauh mahfuz, secara rinci tanpa suatu pun yang sanggup melepaskan diri. Novel Nugroho empat ratus halaman lebih dan setiap halaman yang tersimpan di dalam novel, cetak birunya sudah terdedah pada lauh mahfuz yang aneh itu. Inilah kemungkinan dari, meminjam bahasa iqbal, "semacam menyimpan semua kemungkinan-kemungkinan pengetahuan yang tidak menentu". Rupanya pengetahuan-pengetahuan yang saling sengkarut itu sedemikian tertatanya di sana. Ia bukanlah sebuah gelombang anomali dari sesuatu yang tak teramalkan, dan karenanya punya kehendak bebas untuk berlari ke arahnya sendiri.

    Sukar saya merumuskan perasaan manakala tahu atau saat menghayati, betapa novel berhenti di sebuah gedung yang tinggi, tidak atau belum serta merta turun ke bumi, tapi tertahan di sebuah menara dan dari menara (namanya menara Anugerah, letaknya di kawasan Mega Kuningan), diri membayangkan "bawah", seakan lauh mahfuz yang "tinggi", tak hendak turun ke bumi, kecuali mengapung dengan cara mengambang - dihentikan oleh novelis yang membuka bab gelisah-nya dari sebuah menara - tempat ia kelak, menembak ke arah Menara Kembar di Amerika yang luluh lantak - konon dihancurkan sendiri oleh Amerika dan kita terkenang di silam sejarah, pengawal Marcos atas perintah sang Presiden menembaki mobilnya sendiri demi muncuri simpati. Semua berita ini tak ada yang nyata dalam pengertian kita tak melihatnya. Tapi dengan begitu tiap keadaan “ada” lalu jadi seakan lauh mahfuz: tak terlacak oleh mata fisik dalam hidup kita ini.



     GELISAH


Kalibut itu datang lagi, atau ia seakan hujan dan apa yang jatuh itu adalah simultan: "gelisah" mula-mula kita perikan sebagai kemenangan novelis saat mengambil satu kata yang akan menghentikan dunia, dengan cara mengurungnya, meletakkan dunia itu ke dalam kurungan dan kita mulai melihat pergerakan di sini: sangkar besi jadi sangkar kata, tempat dunia maha luas itu kini berhenti, di sangkar besi berupa kenyataan kata "gelisah". Inilah sebuah kecerdasan, saat Nugroho mengambil ihwal yang paling prinsipil dari eksistensi yang rebak di antara manusia. Di dalam gelisah itu kalibut lain bersusun-susun, gunung es dari harapan dan impian serta kenyataannya yang menunggu di lorong dengan cahaya atau tanpa cahaya. Itulah keadaan manusia dengan motif yang menjadi gerak diri (baca: gerak jiwa). Tetapi "gelisah" itu tak juga bisa kita lepaskan dari silang bayangan antara pena dan kalam, serta lauh mahfuz yang menjadi kata untuk menghentikan bayangan-bayangan yang saling menyilang.

    Pena itu misalnya, kini menyilang ke dalam bentuk “pena” di tangan novelis Nugroho Suksmanto saat ia menulis, atau melakukan mutasi lagi dan bukan pena yang kini kita bayangkan tapi tuts-tuts komputer yang ditekan-tekan oleh novelis Nugroho saat menurunkan "Lauh Mahfuz" ke kuasinya adalah karya sastra novel - lauh mahfuz yang lain. Alam adalah bentangan kalam, dengan batang-batang dari air laut menjadi pena serta tintanya. Kristeva mengambilnya, meletakkannya sebagai karangan bunga dalam bahasa adalah, dunia ini sendiri tak lain adalah teks dan setiap teks akan selalu berguncang karena isinya sendiri, melakukan relasi konflik atau kerja-sama di antaranya. Darinya muncul bentangan lain ialah lauh mahfuz, dicatat di kalam oleh pena, dicatat oleh Tangan-Nya sendiri – “Tangan Yang Tak Kelihatan”.

Ketiganya kini menumpuk jadi satu dan memecah lagi jadi unit-unit nama (kalam, pena, lauh mahfuz), dengan buah yang menjadi dasarnya adalah sebuah hentian berupa kata, “gelisah”. Suatu aliran dari permainan yang datang dan muncul serentak, saling menyilang dan saling sejajar, melapis timbul tenggelam seakan aliran-aliran air yang dibawa angin, tapi kelak bersatu kembali, ke penyimpul adalah lauh mahfuz, tempat disimpannya segenap wajah ada.

    Tiap kata dalam novel adalah “benih-pikiran” dalam kosakata Iqbal, tapi benih ini terentang dan meregang di cakrawala berupa lauh mahfuz entah di langit mana. Langitnya langit, yang kini turun ke bumi bernama langitnya novel, tempat benih itu berbiak dan novel menempuh arah adalah bab-bab novel, alur penampung plot dalam novel. Jadi kini kita melihat dua benih dengan nama yang sama, satu benih yang diproduksikan oleh langit, lainnya benih yang lahir dari bumi. Satu benih kita ambil dan ialah "gelisah", yang dipasang Nugroho sebagai bab pertama. Tanda adalah simpulan dan jauh di dalamnya, ia mengikat sesuatu, dan kini kita digoda dari dua jurusan saat menghadapi bab pertama Novel Lauh Mahfuz ini. Yakni jurusan benih dari bumi dan jurusan benih dari langit.

Apakah yang diikat oleh benih dari langit kecuali tanda-tanda dalam besaran yang telah kita pegang, yang meluncur langsung turun ke bumi, hal yang memungkinkan Nugroho sebagai pengarang memakainya, untuk dibungkuskan ke tubuh depan novel - Lauh Mahfuz itu. Langit mengikat benih yang timbul tenggelam: ia muncul sebagai kalam tapi kalam membalik ke tangan tak kelihatan, yang memegang pena, yang menghiasi langit dari isi lauh mahfuz berupa, dan rupanya ini antara lain adalah “gelisah”. Jadi kita bisa menghayati dari langit, gelisah ini, seraya pada saat yang sama menghayati dari bumi, gelisah ini. Apakah bedanya? Awalnya kita mungkin bisa mempertanyakan tanda itu: mengapa harus gelisah? Apa dasarnya sehingga hipotesa dari bahasa skriptural itu menjulur menemui kebenaran, dalam tingkat kepastian seperti yang kita lihat sebagai kenyataan tiap diri yang bertemu dalam dua kata dalam hidup ini: baik dan buruk sebagai nasib dari dunia.



    ESENSI


Di depan mata batin kita kini terbuka dua pengertian, yang berbasis tahu, bahwa suatu pengetahuan kita ketahui karena ada potensi untuk itu, tahu. Artinya kita kenal karena di dalam diri telah tertanam tahu-pengetahuan, sehingga ia kuasa terhubung. Tidaklah mungkin kita terhubung kepada sesuatu kalau kita tidak memilikinya sebagai potensi dalam diri, dalam bentuk medium tubuh dan jiwa. Olehnya saat kita gelisah maka di dalam diri telah tertanam piranti-piranti mengapa. Bahwa ia membutuhkan sebab, itulah medium yang memediasi kegelisahan kita itu. Ia menjadi sarana, variabel dan kita pun menjadi tergantung yang pasif, tapi juga penyebab yang aktif.

    Gelisah seolah sumur yang tak ada dasarnya. Ia gelap dan kita tak kuasa menembus kegelapannya. Inilah diri dan kini kita membalikkan semua ini, ke arah langit tempat di mana gelisah itu bermula, langit yang memproduksikan kegelisahan. Kita pun sampai ke Pencipta itu, yang memiliki potensi gelisah, karena Ia tahu maka pengetahuan itu jadi wujud. Andai Ia tidak tahu, jenis dari segenap bentuk kegelisahan, tentulah Ia tak kuasa menciptakannya. Bagaimana Ia bisa menciptakan yang Ia sendiri tidak ketahui. Tapi justru Ia ketahui dan memproduksikan apa yang Ia ketahui.

Maka niscaya kini kegelisahan itu kita baca terbalik, belum manusia yang gelisah tapi Pencipta, yang gelisah dan begitu rupa mewujudkannya ke arah-arahnya. Selalu arah itu membutuhkan sin qua non agar ia kuasa wujud. Mengapa Ia gelisah dan mengapa Ia memindahkan kegelisahanNya kepada mahlukNya? Lauh Mahfuz sebagai novel memang memasang "gelisah" sebagai bab pembuka novel, tapi tak sesuatu terlihat dalam kerangka kegelisahan, kecuali bahwa kegelisahan itu sebagai tematik yang mengambang, sebagai rencana, benih di mana sifat-sifat langit yang merencanakan ada di sana.

   Dari sifat rencana maka novel Lauh Mahfuz telah menunaikan janjinya, bahwa ia memasang rencana dari keadaan-keadaan yang hendak diarungi novel dan keadaan-keadaan itu adalah suatu ilustrasi dunia yang bergerak ke permukaan kemungkinan konflik dan realisasi rencana konflik inilah yang berlari ke puncaknya adalah gelisah. Bab pertama lauh mahfuz bahkan cenderung bersifat "melaporkan", seolah news ia objektif dan subjektifitas adalah sugestinya kepada pembacanya, bahwa akan terjadi sesuatu yang besar dan oleh itu mari kita "berkemul" dengan sebuah kata adalah gelisah.

Keadaan yang kini kita balikkan dalam gerak "tegak lurus dengan langit" (nama buku cerita iwan simatupang), lewat tali halus samar kita naik ke langit, dan menemui bentuk bentuk rencana dari “tangan tak kelihatan” yang menulis dengan penanya di atas kalam adalah lautan lauh mahfuz. Suatu benih seakan hati manusia seniman yang mengandung benih tempat segenap kemungkinan-kemungkinan terduga dan tak terduga disimpan. Kita ingat lagi Rendra yang gelisah itu, katanya, “seniman adalah Tuhan yang tak terduga” dan “nugroho adalah ‘Tuhan’ yang tak terduga itu”. (Di bab dua ia menciptakan tabir bernama “Kabut”), sebuah tirai bergaya Amir Hamzah dulu: “engkau gadisku samar di balik tirai, sedang tanganku ingin menjamah wajahmu, engkau gadisku yang ganas, sembunyi di balik cadar”).



     IRONI


Tetapi apakah yang ada di balik bahasa? Mula pertama kita bertemu dengan kata yang melakukan kombinasi, lewat serangkaian seleksi, terpasang menjadi bahasa. Hadir dalam bentuk kalimat ia membawakan wancana dengan bentuknya adalah cerita. Cerita yang sambung menyambung, tempat "tanda" itu menjadi implisit, dan kitalah pembaca yang mengeluarkannya dari dalam cerita, menariknya untuk membuat alur dari sebuah kesimpulan. Sebuah puisi, Tuhanku, terpasang menjadi tanda yang mengidupi isi novel.

"Tuhanku Tuhan yang diam
Tidak lagi bicara atau bersabda"

    Jadi kalau tadi kita katakan tidak ada kegelisahan dalam bab "gelisah" novel lauh mahfuz, kecuali itu sebuah isyarat tanda dari serangkaian kata yang menjadi jalannya cerita, misalnya suatu peta dari dunia global di mana novelis menceritakan tentang kemungkinan hancurnya dunia ini oleh dihadap-hadapkannya "Barat" - Amerika yang diceritakan oleh Nugroho dan Arab (Timur) yang menjadi bagian dari kisah-kisah itu, maka itulah arah dari endapan (ke)gelisah(an) yang mungkin kita bayangkan.

Seseorang menghayati dunia global akan gelisah menyaksikan pelbagai kenyataan, gabungan politik ekonomi dan kebudayaan, yang memunculkan angan dan hasrat, dengan ujungnya adalah (realisasi) kenyataan yang wujud dan tak wujud. Di sinilah tempat gelisah itu berdiam - bukan di kalimat-kalimat Nugroho yang lain, yang disusun oleh aline ke alinea dalam novel. Atau di “Wirog” yang menjadi tanda penyimpul dari akhir bab gelisah novel. Tapi rasanya andai kita menghayati dua baris puisi Tuhanku, maka kita bisa mencium ada kegelisahan yang dipendam oleh dua baris puisi Tuhanku.

    "Tuhanku Tuhan yang diam", dan kita seakan disugestikan oleh sebuah olahan jiwa yang kini, karena begitu banyak memendam perasaan, seperti orang tua kita yang tak marah lagi, tapi "diam" tak berkata-kata, "gelisah" melihat laku kita yang tak tentu rimbanya itu. Rupanya gelisah itu melakukan mutasi, jadi diam.

"Bicara" dalam bentuk "tidak bicara" lagi memperkuat kemungkinan dari dihidunya gelisah yang kini telah mengubah strukturnya, jadi "diam". Sabda atau bersabda menjadi pecahannya, jadi bicara. Tuhan kini diam saja melihat perangai makhlukNya, Ia gelisah dalam hati, tak dikatakan ke luar, imanen dalam diri(Nya).

    Tentu saja nama (nama bab), adalah keabsahan bagi kita pembaca untuk kembali ke dirinya lagi (ke nama bab), dan nama itu mesti menyiapkan dirinya andai kita kembali. Kalau tidak, ia tak konsisten. Itulah hasil saat kita kembali: tak kita temukan kegelisahan itu, kecuali ia menyelinap sebagai suatu isyarat. Cerita dengan begitu menempuh keniscayaannya, jadi realis(me). Seolah Nugroho sadar bahwa dunia batin yang akan dilimpahkannya itu memang sebuah dunia yang begitu halus, abstrak, samar-samar, tempat dunia menyimpan serangkaian ketakterdugaan. Maka memerlukan keadaan konkret agar yang abstrak itu bisa kita mengerti. Seni memang begitu: adalah kejeniusan seniman untuk memberi bentuk agar dunia tanpa bentuk itu bisa kita kenali, kita rasakan kesamaran keindahan serta kemaknaan dari dunia yang begitu halus.

Novel ini tengah memasuki dunia yang teramat halus, tak ada jejaknya kecuali bahasa, justru dengan bahasa itu pula ia membuat jejak yang tak terlacak menjadi kasat mata, tampak dipandangan kita. Maka dunia konkret menjadi masuk akal, saat bentuk yang dipilih novelis kini hidup dalam dunia yang bisa kita rasakan. Kita merasakannya, seraya sesekali kita melintasi apa yang kita rasakan, naik bersama tokoh Nugroho adalah Panji, mengintip dan melintas lewat imajinasi ke lauh mahfuz, yang kita tidak tahu di mana letaknya.



    GELISAH 2


Kata "gelisah" itu menggoda kita dari tiga jurusan dan jurusan pertama adalah pengarangnya sendiri, jadi kita mundur dan kini memasuki fase sebelum-novel. Keindahan dalam novel kini masuk dan menjadi keindahan dalam tubuh pengarang. Bahwa cerita yang disusun lewat halaman-halaman novel kini kita mutasikan jadi tubuh pengarang yang kita imajinasikan. Dunia adalah teks dan pengarang adalah manusia dan manusia bagian langsung dari dunia sebagai teks itu, maka tubuh pun menjadi teks dengan imajinasi mengoperasikan dirinya membaca teks dunia-tubuh (pengarang) ini. Inilah kawasan seni-fakta seperti seni-fiksi adalah novel, saat isi novel kembali tenggelam ke dalam tubuh, imanen di sana. Sekilas kita membaca tubuh pengarang melalui matanya, dan tak kita lihat mata gelisah di mata Nugroho Suksmanto itu, bahkan mata yang tenang dan cenderung cool.

     Inilah tubuh, yang memproduksikan gelisah sebagai sebuah kata, yang terpasang sebagai bab, dan kita telah melihatnya bahwa gelisah itu tak kita temui di sana, kecuali bahwa bab itu mensugestikan, dan telah kita lihat pula akan puisi Tuhanku yang rupanya tempat Nugroho menyimpan kegelisahan itu, di samping yang lain, wirog dan kisah seteru Amerika-Saddam-Khadafi, misalnya. Tapi apakah Tuhan itu bisa gelisah? Dunia paralel telah kita ilustrasikan bahwa kata gelisah mestinya dipunyai oleh yang memproduksikannya, dalam hal ini adalah milik Tuhan, yang membuat berita dari kitab suci tentang gelisah, dan kini kata ini terarah kepadaNya. Muncul soal di sini, bahwa Tuhan bukanlah seolah tubuh pengarang, yang nyata itu. Kita kini mulai memasuki dunia maha halus: bagaimana mengimajinasikan gelisah ini ke tubuh dan jiwa Tuhan yang "tiada", hal yang baru saja berhasil kita ilustrasikan ke tubuh pengarang lewat matanya.



    TANGAN TAK KELIHATAN


"Kami ciptakan dalam keadaan keluh kesah", katanya, "bila senang ia riang dan bila mengeluh tanda ia susah", katanya. Ini bukan kata-kata pengarang yang menarik itu: "Tuhanku Tuhan yang diam. Tidak lagi bicara atau bersabda." Ia bukan milik Nugroho seperti "Tuhanku Tuhan yang diam" adalah miliknya. Jiwa dan laring tubuhnya yang mengucapkan itu dalam batinnya, sebelum dialirkan ke pena atau tuts komputer. Ia datang dari ada-fisik. Tapi, "Kami ciptakan manusia dalam keadaan keluh kesah", bukanlah kreasi "tangan kelihatan", melainkan ciptaan "Tangan tak kelihatan". Ia adalah bagian dari lauh mahfuz dan kini kita memasuki godaan kedua dari gelisah itu. Adalah, suara tanpa orangnya. Bunyi tanpa mulutnya dan sinar tanpa matanya. Keadaannya absurd sekali, tapi ia berkorelasi langsung dengan pengarang novel, yang memetiknya dan menurunkannya dalam keadaan konkret, lauh mahfuz itu. Kita berkonsentrasi di sini, bagaimana bahasa itu tanpa asalnya atau asalnya itu tiada.

    Jelas saat nugroho mengambil tempat ia mengendap menceritakan, menaranya ada, ada fisik adalah menara anugerah. Tapi di mana menaranya Ia? Ia sendiri tiada berupa, batin. Tapi kreasinya itu bukan batin tapi zahir, bahasa, jejak dari suatu kebudayaan manusia di bumi.

Benar jejak itu meruah ke hati manusia di bumi, Rasul Muhammad, tapi asal suara ini, bukan jejak orang bumi, bukan jejak dari sekumpulan tanda adalah dunia, ada-fisik yakni ada-semesta, tapi ada-ketiadaan alias ada dalam pengertian ketiadaan sumber. Apa yang saya petikkan ini awal dari bab gelisah novel lauh mahfuz, jejak pengarang nugroho, anak batinnya, jejak yang tampak karena ia adalah sekumpulan huruf yang menari-nari itu. "Dari lantai 28, tingat tertinggi Menara Anugerah, tak hanya seantero kawasan antarbangsa Mega Kuningan yang terlihat." Inilah kata-kata dari tangan yang kelihatan itu. Kita boleh membuat persamaan lewat frasa ini, jadi dari bumi kita naik ke langit. Nugroho jadi begini dalam bentuknya yang baru, yang lain, kreasi "Tangan Tak Kelihatan" : "Dari lauh mahfuz tertinggi ini, alam semesta terlihat dengan jelas sekali."

    Saya telah membandingkan antara pandangan jauh-dekat langit dan pandangan jauh-dekat bumi, walau dari arah bumi pandangan itu isinya berupa serangkaian ketidaktahuan, sehingga kita dalam perspektif tahu-ketahuan seolah terjatuh ke jurang dalam dari ketidaktahuan. apa yang kita ketahui itu terbatas sekali, sebaliknya pandangan langit itu adalah pandangan yang maha tahu. Ini wajar karena Ialah yang membuat semua masa depan yang belum kita ketahui. kepengetahuan yang seolah lautan di mana tepi-tepi laut itu tidak ada, sambung menyambung dan tampak seakan centang prenang karena sifat langit yang bukanlah ruang dari jarak ke jarak yang pasti. Tapi cair seakan aliran udara, kuasa pelan atau cepat melimpah ke mana mana. tak ada dinding di langit itu, seperti cakrawala nirdinding yang memungkinkan angin bergerak ke mana ia suka.

Bukan oleh novel Nugroho ia namai lauh mahfuz sehingga kita memasuki alam pikiran ini, bahwa ada juga mungkinnya membuat persamaan yang lain bahwa novel sama dengan lauh mahfuz, kitab tempat di mana segenap kejadian itu ditulis, tapi di langit yang cair bukan padat, dengan batas-batasnya kita tidak ketahui. Begitu juga novel. kita mesti membayangkan juga kepenulisan selama novel, saat novel belum jadi, masih membentukkan dirinya dan apa yang ia bentukkan itu memiliki sifat-sifat ketidaktahuan. novelisnya meraba apa yang akan ia tuliskan. Novel belum jadi dalam pikiran, masih diolah dalam pikiran, menemui kanalnya dalam pikiran. ia ditulis dan jatuh bangun penulis novel menulis novelnya. ia berada di dalam jurang ketidaktahuan, tapi saat ia maju maka apa yang cair berupa kisah novel kini memadat, menjadi kisah yang tertulis.

    Jadi sifat lauh mahfuz novel bahwa pengetahuan itu mengambang, mesti dipanggil oleh pengarangnya, dibentukkan pengarangnya sehingga ia wujud. Sebaliknya walau ia cair di langit, batas batas dari isi lauh mahfuz di langit itu suatu kepastian, bernama nasib dan takdir diri, termasuk nasib dan takdir di tangan Nugroho, bahwa ia akan menuliskan novel Lauh Mahfuz.



    PENANDA YANG MELAYANG


Seolah-olah kita melihat dunia melayang dan yang melayang itu turun ke bawah, minta dikenali agar keberadaannya tak lagi tersembunyi, eksis sebagai ada, walau kita tidak tahu darimana Ia bermula. pengarang akan selalu bermula, fisik ia turunan, batin yakni karyanya dari dunia - semua orang memanggil masuk dunia ke dalam karangannya, juga Nugroho suksmanto, membawa ke dalam novelnya adalah isi dunia, sehingga seandainya dunia itu kita persamakan dengan bahasa, maka isinya adalah segenap kata yang dipakai sang pengarang. Tidak bisa tidak ia akan membawa masuk kata ke dalam bahasa, adalah dunia itu. Ia menghitung dengan angka, ia menyebutkan benda-benda dengan kata, itulah yang kemudian tersusun menjadi bahasa, atau dari arah langit, lewat kreasi tangan tak kelihatan itulah pula yang tersusun sebagai dunia dengan isi-isinya.

   Lauh Mahfuz itu melayang, turun ke bawah berupa kitab langit yang kini menjadi kitab bumi adalah bahasa, kitab suci yang dibaca oleh Nugroho tempat ia menemukan kenyataan di langit yang aneh: pena menulis di kalam dan itulah suatu bentangan halus bernama lauh mahfuz. Seolah-olah tangan tak kelihatan itu kini menjadi tangan pengarang dan pengarangnya juga tak turun ke bumi, membawa terus lauh mahfuz melata di bumi, tapi menahannya, dengan menciptakan seseorang yang ada di gedung yang tinggi - puncak tertinggi, bernama menara anugerah itu. Lauh Mahfuz itu tetap saja tinggi, halus dan samar sebagai sebuah pemandangan rupanya, walau ia telah diturunkan dari langit ke bumi.

Atau dalam isi bab gelisah yang kita baca, "ia" menyerupai seorang panji yang diciptakan latarnya oleh pengarangnya, agar bisa melihat yang jauh dan yang dekat dan untuk melihat ini ia memerlukan mata seperti Tuhan melihat dengan mata bashirnya yang sangat awas itu. mata bashir ini diubah menjadi teropong adalah teleskop, bahkan binocular, semua agar apa yang jauh itu kini menjadi dekat - dekat di mata tokoh Nugroho, Panji, dekat di mata kita pembaca nugroho dan tokoh-tokoh novelnya.

    Lauh Mahfuz sebagai novel memuatkan dirinya sebagai berikut, kita turunkan beberapa bagian darinya.

"Pasti bukan dengan mata telanjang jika ingin mengamati pergerakan arus kendaraan yang melaju bagaikan luapan lumpur menggenangi selokan. melainkan menggunakan teleskop atau paling tidak binocular yang dapat memperbesar sekian ratus kali dari segala benda yang terlihat seperti lebah sedang merambat berdesakan."

   "Itulah pemandangan kehidupan yang mengitari gedung-gedung pencakar langit. Semua itu bermunculan untuk mengantisipasi kebutuhan ruang pemukiman Ibu Kota, yang semakin menjadi megalopolis dengan segunung permasalahan dan segudang persoalan. Terutama masalah dan persoalan transportasi yang menyeruak tak terkendali."

"Dari teleskop yang dapat dipindah-pindahkan, Panji sering tergugah mengamati peristiwa seperti itu, yang merupakan bagian dari kebebasan yang diberikan oleh era Reformasi. Kebebasan yang kemudian lebih banyak menampilkan kabar kerusuhan, bentrokan, tindak kekerasan menghiasi pemberitaan media cetak dan tayangan berita-berita di layar kaca, yang jauh lebih banyak daripada yang membawa ketenangan dan kesejukan."

    Di tahannya "cerita" ke sebuah "menara" membuat simulasi penciptaan kedua itu kini sungguh-sungguh menjadi terusan dari "lauh mahfuz" - novelis dengan begitu meniru Tuhan lewat tangannya yang kelihatan, mengambang dan membentuk dua lautan yakni lautan peristiwa dari suatu medan tempat jauh dekat yang ia ciptakan - jakarta seputarnya, tapi terterobos oleh narasi bahwa dunia juga yang hendak ia kait lewat pandangan mata "lauh mahfuz" sebagai novel, yang matanya terus mengintip naik ke langit, menciptakan hal kedua yakni kejadian demi kejadian yang menjadi isi novel. Gelisahlah tiang utamanya, ataukah ia saat mendeskripsikan lewat narasi tanda, yang mengabarkan nasib dari hidup manusia yang penuh teka-teki.

Tapi bukan hanya gelisah ini yang menjadi tiang bagi segenap peristiwa melainkan, tesis utama novel adalah "kasih", lewat penyatuan dari rangkaian perbedaan. Inilah perjuangan utama dalam lauh mahfuz sebagai novel, kabar dari lauh mahfuz di langit bahwa manusia, mestilah membawakan "kasih" dalam hidupnya. Tapi lauh mahfuz sebagai kitab garis nasib itu telah telanjur dibawakan sehingga kita bisa memikirkan "nasib yang telah pasti karena digariskan dalam lauh mahfuz", itu membawakan gerak nasib ke arah lain - bukan ke arah kisah walau novelis ngotot hendak merawatnya. Seraya itu pula ia langsung membawakan paradoks bahwa "kasih" itu akan ditangkal, lewat gerak dari silamnya sendiri, sebuah tanda adalah "wirog besar" yang ia benci, karena aspeknya yang destruktif.

    Bab "gelisah" itu membawa kita berpikir tentang "mata kedua" lewat instrumen yang dilekatkan ke diri, adalah teleskop, yang mampu membuat kita kini berpikir bahwa sebenarnya "jauh" itu "dekat", kuasa kita pandangi dan karena itu jarak adalah relatif: ia jauh andai kita tidak memiliki alatnya. sebaliknya bila diri memiliki alatnya, apa yang jauh itu rupanya dekat. Mata kedua yang memerlukan sebuah ruang ketinggian agar ia operasional, dan itulah menara anugerah tempat pengarangnya kini berimpit dengan tokoh ciptaannya, bahwa kini terbuka peluang untuk mengira-ngira atau mendempetkan, peluang dari seni-fiksi-novel ke seni-fiksi-tubuh pengarangnya sendiri. Atau kita berkata seperti ini: buah batin, novel itu, adalah buah batin dari jiwa pengarangnya sendiri. Di antaranya memang fisik pengarang yang ada di menara anugerah itu, seraya ia melipatgandakan dirinya, seolah dengan sadar ia meminjam diksi kaca yang melipatgandakan manusia lewat bayangan, kini ia lipatgandakan lewat buah ciptaan, adalah novel. kaca jiwa pengarang rupanya kuasa memantulkan manusia lain walau hanya sebagai bayangan.

Teleskop itulah yang membantunya, ia membawa dunia yang maha lebar di luar, mengecil ke dalam lorong sepanjang teleskop, membesar di sana, begitu besar seolah dunia yang membesar dari titik titik yang begitu abstrak, nyaris absurd, di langit ketinggian bernama lauh mahfuz itu. maka bila Tuhan menghidupkan lauh mahfuznya adalah alam semesta, pengarang membantu Tuhan dengan melipatgandakan semesta ke dalam ciptaan - di antaranya novel yang kini memainkan bukan paradi tapi terompet dari kasih tuhan serta nasibnya yang buruk kepada manusia. Kita itu diikat oleh lauh mahfuz lewat dua tali, seperti tali dari sisi kanan dan tali dari sisi kiri yang mengikat tubuh Agi penyair dari malaysia, tempat tubuh tertarik ke kiri dan ke kanan. Gelombang tubuh itu yang kini dirapikan lewat teleskop oleh nugroho sebagai novelis - ia menciptakan amerika yang jauh serta lawannya, arab yang "di sini": mereka lewat teleskop dipandangi sebagai dunia yang sedang memainkan konflik bukan kerja sama - pandangan nasib buruk dari setiap akibat sebagai sisinya.

0 komentar:

Posting Komentar